Received: November 21, 2024 – Revised: Desember 22, 2024- Accepted: January 19, 2024 - Published https://jim.usk.ac.i
d/sejarah
Original Article
Perjuangan Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan dalam Perang Melawi Tahun 1867-1875
Alpi Wahyu Tiningsih1🖂, Andang Firmansyah2, Mohammad Rikaz Prabowo3
Abstract:
Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan is a National Hero from West Kalimantan. Abdul Kadir was the leader in the events of the Melawi War in the fight between the Dutch Army. This research aims to find out the history of the struggle of National Hero figures as well as the causes and impacts in the Melawi War of 1867-1875. The research method used in this study is a historical research method consisting of Topic Selection, Heuristic, Verification, Interpretation, and Historiography. In addition, this study also uses the library research data collection method.
The approach used by the author is the Sociological and Political approach.
The results of this study show that Abdul Kadir was one of the fighters who did not want the Dutch to interfere in his territory. The resistance that occurred in Melawi is recorded in the Encyclopedia Nederlandsch-Indie.
The initial cause of the war was based on the policies contained in the Sintang Sultanate in the Melawi Region which slowly changed along with the involvement of the Dutch. This finally brought a lasting impact that was felt by the people and the Sultanate in terms of social, political, and economic.
Keywords: Resistance, Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan, Melawi War
Pendahuluan
K
alimantan Barat merupakan salah satu dari banyaknya daerah di Indonesia yang tidak luput dari incaran Belanda. Incaran tersebut berakhir dengan terjadinya perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial. Perlawanan yang terjadi tidak hanya dilakukan oleh satu kelompok tertentu saja, tetapi melibatkan berbagai golongan dan suku masyarakat yang ada, seperti sebagian besar adalah suku Dayak dan Melayu di Indonesia kala itu. Dalam melancarkan perlawanan, mereka bersatu dan melakukanOriginal ArticOriginal ArOriginal Ar
berbagai strategi serta taktik perang agar mampu memukul mundur pasukan Kolonial yang menjadi lawan. Perlawanan rakyat di berbagai tempat di tanah air itu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perjuangan membela tanah air. Meskipun tidak selalu berhasil, namun perlawanan ini menunjukkan semangat pantang menyerah dan tekad kuat rakyat untuk menuju kearah bangsa.
Salah satu daerah di Kalimantan Barat, tepatnya daerah Melawi yang dulunya masih tergabung menjadi daerah kawasan Kesultanan Sintang pernah terjadi perlawanan terhadap Kolonial Belanda dengan rentang waktu cukup lama. Awalnya, kehadiran Belanda cenderung banyak terjadi penolakan oleh para penguasa tradisional (lokal). Namun, setelah dilakukan perjanjian antara pihak Kesultanan dan Belanda, akhirnya Sintang dan Melawi yang masih wilayah kekuasaanya berhasil dikuasai Belanda (Nurcahyani, 2013). Perlawanan tersebut dipimpin oleh Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan. Latar belakang terjadinya perlawanan akibat adanya keinginan Belanda untuk menguasai wilayah Melawi. Hal tersebut terjadi atas dasar keberhasilan Abdul Kadir mempersatukan suku Dayak dan Melayu, serta meningkatkan perekonomian pada masa kepemimpinannya (Hadi & Sustianingsih, 2015).
Abdul Kadir merupakan keturunan berdarah Jawa yang ia dapatkan dari sang Ayah yang berasal dari Kesultanan Mataram Yogyakarta (Hamdani, 1995). Berdasarkan garis keturunan sang Ayah, Perang Melawi yang dipimpin Abdul Kadir dalam melawan Belanda ini merupakan perang dengan suku yang terbilang heterogen, karena didalamnya tidak hanya berasal dari Suku Dayak dan Melayu, tetapi juga terdapat suku Jawa yang bersama-sama memperjuangkan wilayah tempat tinggalnya. Abdul Kadir tetap berusaha menghimpun kedua suku tersebut agar dapat bersatu melawan Kolonial Belanda yang mulai memasuki dan menguasai wilayah Melawi. Pada saat itu, Abdul Kadir berada diposisi sebagai Kepala Pemerintahan Melawi, yang merupakan wilayah Kesultanan Sintang dan bekerja sama dengan Belanda. Hal tersebut membuat Abdul Kadir secara diam-diam menghimpun rakyat Melawi untuk melawan Belanda dengan strategi yang membuat tentara Belanda kesulitan menguasai Melawi. Hingga pada tahun 1868, Belanda memberi hadiah uang dan gelar Setia Pahlawan kepada Abdul Kadir agar sikapnya melunak dan mau bekerjasama dengan Belanda. Tetapi, ia tidak mengubah sikap dan pendiriannya sehingga tetap melakukan persiapan untuk melawan pemerintahan Belanda (Hadi & Sustianingsih, 2015). Kemudian, pasukan yang berada di daerah Melawi sering melakukan gangguan keamanan terhadap Belanda yang dilakukan oleh pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Belanda segera melancarkan operasi militer ke daerah Melawi.
Dalam menghadapi Belanda, Abdul Kadir tidak memimpin perlawanan secara langsung, melainkan mengatur strategi perlawanan. Sebagai kepala pemerintahan Melawi, ia dapat memperoleh berbagai informasi mengenai rencana-rencana operasi militer pemerintah Belanda (Hadi & Sustianingsih, 2015). Atas informasi yang ia dapatkan tersebut akhirnya terjadi perlawanan dengan tujuan agar dapat mengacaukan operasi militer Belanda. Setelah melakukan perlawanan selama 8 tahun (1867-1875), Abdul Kadir berakhir ditangkap setelah peran ganda yang ia lakukan selama ini diketahui oleh Belanda. Ia ditahan dan disiksa dalam Benteng Saka Dua hingga akhirnya tewas dalam pangkuan anaknya Jigut Abdul Kahar dan menantunya Mas Sepuwangsa (Hamdani, 1995).
Sebagai pejuang bangsa, melalui Keppres No. 114/TK/TH.1999 pada tanggal 13 Oktober 1999, Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan resmi masuk ke
dalam jajaran Pahlawan Nasional Indonesia, 124 tahun setelah kematiannya (Sugiharto
& Toto, 2016). Berdasarkan riwayat pejuangannya melakukan perlawanan di usianya yang sudah mencapai 104 tahun, nama Raden Temenggung Setia Pahlawan diabadikan menjadi nama stadion di Nanga Pinoh, Melawi Kalimantan Barat untuk mengingat jasa perjuangannya. Meskipun sudah berada dalam jajaran pahlawan nasional, sebagian besar orang-orang di Kalimantan Barat belum mengetahui sejarah perjuangan Abdul Kadir.
Penelitian sejarah ini merupakan salah satu langkah untuk memperkenalkan tokoh pejuang Melawi, Kalimantan Barat dalam perjuangannya melawan Kolonialisme Belanda pada Perang Melawi. Penelitian ini akan mengulas beberapa kisah pejuangan dan pertempuran pada Perang Melawi pada masa kepemimpinan Abdul Kadir tahun 1867-1875. Adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi pengetahuan bahwa Abdul Kadir merupakan seorang yang berjiwa nasionalisme dengan tindakan yang ia lakukan pada saat wilayah kepemimpinannya ingin dikuasai oleh Belanda.
Metode
Metode penelitian sejarah merupakan metode penelitian tentang ilmu sejarah dan dikenal pula dengan istilah historiografi (Sukmana, 2021). Metode sejarah digunakan sebagai proses untuk menganalisis secara kritis terhadap peninggalan- peninggalan maupun rekaman yang memiliki nilai sejarah melalui data yang didapat (Gottschalk, 2008). Dalam melakukan penelitian sejarah, perlu adanya metode penulisan historis untuk mencapai hasil penelitian yang sesuai.
Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan metode yang bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa masa lampau yang beracuan pada lima tahapan menurut Kuntowijoyo, yaitu pemilihan topik, heuristik, verifikasi sumber (kritik sumber), interpretasi, dan historiografi. Pemilihan topik pada penelitian ini, peneliti mengambil judul “Perjuangan Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan dalam Perang Melawi Tahun 1867-1875. Heuristik adalah tahap di mana peneliti mengumpulkan data baik secara lisan maupun tulisan, termasuk melalui wawancara serta dokumen, buku, dan jurnal. Pada tahap verifikasi sumber, peneliti menguji dan memilah sumber untuk menentukan mana yang dapat dipercaya.
Selanjutnya, dalam tahap interpretasi, peneliti mengintegrasikan sumber yang telah diuji dan menyusunnya secara teratur. Terakhir, pada tahap historiografi, peneliti menulis sejarah berdasarkan data yang telah disusun dan diorganisir menjadi sebuah narasi yang mudah dipahami.
Hasil dan Pembahasan
Profil dan Perjuangan Abdul Kadir
Abdul Kadir atau yang dikenal oleh sebagai masyarakat dengan sebutan Raden Temenggung lahir di Sintang tahun 1771. Beliau lahir dari seorang ibu bernama Siti Syafiah yang berasal dari keluarga Kesultanan Sintang. Sedangkan Ayahnya bernama Urip Abdul Aziz Kartiko Aryo Utomo (Urip) yang memiliki darah Jawa. Ayah Abdul Kadir tidak lain merupakan seorang Perwira Tinggi Kesultanan Mataram Yogyakarta yang dikenal anti terhadap kolonialisme atau penjajah Belanda. Hidup dengan latar belakang berada di lingkungan keraton, mengharuskan Urip melakukan perjalanan hijrah ke Kesultanan Sintang pada tahun 1767 setelah seluruh keluarganya dihabisi oleh Belanda. Urip mendapatkan amanah sebagai pemimpin di kawasan Melawi dibawah
Original Article
tahta Pangeran Adipati Surya Negara Gusti Adi Muhammad Yasin. Posisi tersebut didapat setelah Urip berhasil mengemban tugas pertamanya untuk mengatasi pertikaian antar suku yang marak terjadi di kawasan Melawi (Hamdani, 1995).
Sejak remaja, Abdul Kadir Kadir telah menunjukkan jiwa nasionalisme. Hal tersebut dilihat dari timbulnya sifat tegas, berani, dan patriotik. Selain itu, dalam diri Abdul Kadir terlihat bakat kepemimpinan, dimana ia tertarik pada masalah-masalah politik, pemerintahan, keamanan, dan lain sebagainya. Sikap juang Abdul Kadir tersebut dibuktikan pada keterlibatannya yang turut serta ikut menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kesultanan Sintang saat menginjak usia remaja hingga akhirnya menggantikan posisi kepemimpinan ayahnya yang sudah wafat di wilayah Melawi (Hadi
& Sustianingsih, 2015).
Source: Dokumentasi Pribadi
Gambar 1. Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan.
Pendidikan Abdul Kadir pada saat itu belum diketahui secara persis mengingat pada rentang abad ke-19 di Kesultanan Sintang sendiri belum terdapat pendidikan formal yang dilakukan di sekolah atau lain sebagainya. Tetapi, pendidikan seperti pendidikan moral dan agama yang sifatnya nonformal sudah ada dan lazim dilakukan oleh para bangsawan Kesultanan. Pendidikan moral yang dipelajari Abdul Kadir didapat dari Ayah dan Ibunya. Pendidikan agama yang dipelajarinya didapat dari ibunya dan beberapa guru agama. Urip mendidik dan membina Abdul Kadir serta adik-adiknya menjadi pribadi yang disiplin dan berhasil diterapkan oleh anak-anak beliau dalam kehidupan sehari-hari (Hamdani, 1995). Dengan adanya ulama besar bernama Haji Muhammad Yusuf yang ditunjuk khusus untuk mengajar putra-putri keluarga bangsawan Kesultanan Sintang menjadikan orang-orang yang tinggal di wilayah kesultanan memiliki budaya kepribadian yang religius (Suparno & Budimansyah, 2016).
Abdul Kadir menikahi seorang perempuan dari keluarga Kesultanan Sintang.
Pernikahannya dengan Siti Zainap pada saat itu, dianugerahi lima orang anak, diantaranya Abdul Kahar, Siti Saadah, Siti Daimah, Siti Radiah, dan Abdul Kahar (Hamdani, 1995).
Berdasarkan dokumen Usul Pengangkatan Sebagai Pahlawan Nasional Atas Nama Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan (1997), setelah sang ayah wafat pada tahun 1845, Abdul Kadir memegang penuh pekerjaan yang diemban ayahnya sebagai pejabat Kesultanan di daerah Onderafdeling Melawi. Tugas Abdul Kadir sebagai kepala pemerintahan, dijalankan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya mempersatukan masyarakat suku Dayak dan Melayu. Selain itu, Abdul
Original ArticleOriginal Article
Kadir juga berhasil mengembangkan perekonomian di wilayah Melawi. Keberhasilannya dalam memimpin serta atas jabatan yang ia terima itu akhirnya membuat Abdul Kadir mendapat gelar “Raden Temenggung” yang diberikan oleh Gusti Adi Muhammad Yasin pada tahun 1845. Selama memegang jabatan di wilayah Melawi, Abdul Kadir menjalankan tugas-tugasnya dengah baik dan menunjukkan sikap patuh terhadap Sultan Sintang. Atas pencapaiannya tersebut, pada tahun 1866, Abdul Kadir mendapat panggilan untuk beraudiensi di Kesultanan. Audiensi tersebut tidak hanya dihadiri oleh Panembahan Adi Gusti Abdulrasyid saja, tetapi dihadiri pula oleh Asisstent Resident H.
Van Kefron. Dalam audiensi tersebut, Belanda memuji dan merasa berhutang budi pada Abdul Kadir karena telah membuat wilayah Melawi aman dari berbagai pertikaian antar- suku yang sering kali terjadi. Berdasarkan Besluit Gouvernour Generaal Van Nederlandsch pada tahun 1866, atas jasanya tersebut Belanda menghadiahi Abdul Kadir uang sebesar 2500 Gulden dan tambahan gelar “Setia Pahlawan”. Akan tetapi, Abdul Kadir menolak pemberian tersebut dengan alasan beliau hanya seorang Hulubalang yang tidak diperkenankan menerima pemberian gelar tersebut. Meskipun terjadi penolakan, sesuai perintah Sultan maka Abdul Kadir dianggap menyandingi gelar
“Raden Temenggung Setia Pahlawan” (Hamdani, 1995).
Source: Buku Raden Temenggung Setia Pahlawan dalam Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, 1995
Gambar 2. Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda atas pemberian gelar “Setia Pahlawan”
Abdul Kadir sebagai pemimpin pasukan melakukan strategi peran ganda mengingat posisinya yang saat itu diamanahkan sebagai Menteri Hulubalang Kesultanan Sintang dan sebagai Kepala Pemerintahan di wilayah Melawi. Peran ganda yang ia gunakan adalah saat Belanda meminta bantuan kepada Sultan Sintang untuk meminta Abdul Kadir berkenan menjaga instalasi militer berupa timbunan senjata, perbekalan, dan peralatan lain yang dibantu oleh pasukan kecil Belanda. Sebagai Hulubalang Kesultanan Sintang yang tidak ingin wilayahnya dikuasai Belanda sepenuhnya. Abdul
Kadir melakukan perlawanan tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sultan Sintang. Sementara itu, di posisinya yang juga sebagai pemimpin wilayah Melawi, Abdul Kadir tidak ingin menyaksikan rakyatnya berada dibawah kebijakan-kebijakan Belanda yang menyebabkan penderitaan (Wijayanto, 2013).
Adapun Abdul Kadir memilih melakukan perlawanan secara diam-diam dikarenakan posisinya yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Sintang. Mengingat pada masa tersebut Kesultanan Sintang telah menyepakati untuk bekerja sama dengan pihak Belanda, membuat Abdul Kadir turut memposisikan dirinya atas nama Kesultanan. Hal tersebut membuat Abdul Kadir tidak ingin pihak Belanda bersitegang dengan Kesultanan atas beberapa kontrak yang sudah disetujui bersama. Langkah yang dilakukannya tidak lain untuk tetap menjaga reputasi Kesultanan Sintang dan wilayah yang ia pimpin. Faktor- faktor tersebut menjadi salah satu alasan Abdul Kadir menolak kehadiran Belanda di Melawi. Langkah yang ia ambil merupakan bentuk antisipasi setelah Belanda datang ke Tanjung Saka Dua (sekarang menjadi Nanga Pinoh) yang merupakan pusat pemerintahan wilayah Melawi. Abdul Kadir beranggapan bahwa kedatangan belanda tersebut nantinya akan menjadi awal yang buruk bagi tanah kekuasaannya.
Latar Belakang Terjadinya Perang Melawi Tahun 1867-1875
Perang Melawi merupakan salah satu dari beberapa perlawanan yang terjadi antara Kesultanan Sintang dan Pemerintah Kolonial Belanda. Perlawanan yang terjadi di Melawi dikenal dengan istilah Melawi Onlusten oleh Belanda (Sjamsuddin, 2013).
Perlawanan-perlawanan yang terjadi di Kesultanan Sintang terhadap Pemerintahan Kolonial tersebut terjadi akibat kerugian yang semakin dirasakan dari perjanjian Kontrak Panjang tahun 1855 (Syamtasiyah et al., 2017). Perang ini terjadi di daerah Melawi pada rentang tahun 1867-1875, yang kemudian diteruskan oleh pengikut- pengikut Abdul Kadir hingga tahun 1913. Terjadinya perlawanan didasari oleh adanya pertentangan yang dilakukan oleh Abdul Kadir terhadap keinginan Belanda untuk memperluas wilayah kekuasaannya pada wilayah Kesultanan Sintang hingga ke daerah Melawi. Belanda mengakui adanya perlawanan yang terjadi di wilayah Melawi.
Pengakuan tersebut tertulis dalam Ensiklopedi Nederlandsch-Indie yang ditulis oleh S.
De Graaff dan D.G. Stibbe terbitan tahun 1918. Adanya pengakuan Belanda menjadi bukti tertulis mengenai keberadaan perang perlawanan yang ditujukan pada Pemerintahan Kolonial di kawasan Melawi.
Perlawanan yang terjadi Melawi mendapatkan tanggapan dari pihak Kesultanan Sintang melalui Panembahan Adi Gusti Abdulrasyid. Panembahan Adi Gusti Abdulrasyid mewakili pihak Kesultanan dalam hal ini turut berpihak pada gerakan perlawanan Abdul Kadir dan pengikutnya. Tindakan tersebut dibuktikan dengan mengirimkan pasukan guna membantu para pejuang di Melawi (G. Sumarman, wawancara, Februari 18, 2025). Adapun 2 faktor utama pemicu perlawanan adalah sebagai berikut:
1. Faktor Sosial dan Ekonomi
Faktor sosial yang menimbulkan perlawanan di Melawi dikarenakan ketidakbiasaan yang muncul akibat pergantian kekuasaan. Wilayah Melawi Hulu yang menjadi kekuasaan Gubernurment Belanda membuat perubahan baik di bidang sosial maupun ekonomi yang sangat signifikan. Wilayah Melawi yang terbagi menjadi dua dimana salah satunya dikelola langsung oleh Gubernurment Belanda. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya beberapa gesekan-gesekan antara pihak
bangsawan Kesultanan Sintang dan Pemerintah Kolonial.
Menjadi wilayah yang memiliki kondisi tanah subur menjadikan Melawi sebagai wilayah penghasil padi. Menurut laporan Gaffron seorang Asisstent Resident di Sintang (dalam Nurcahyani, 2013) mengatakan bahwa Pinoh merupakan negeri subur dan merupakan lumbung padi seluruh Kapuas. Selain itu, Pinoh yang merupakan wilayah pusat Melawi juga menghasilkan kopi dan tembakau serta hasil hutan seperti getah, rotan saga, damar, kayu gaharu, tengkawang, madu, dan lain-lain dengan kualitas terbaik. Kemudian, di Melawi bagian hulu, masyarakat Dayak maupun Melayu kaya akan ternak sapi dan kerbau.
Banyaknya kekayaan yang ada di wilayah Melawi, membuat Belanda berkeinginan untuk menguasai secara perlahan wilayah tersebut mengingat sudah adanya kerjasama berupa kontrak yang juga sudah ditandatangani oleh pihak Kesultanan Sintang selaku pemegang kekuasaan tertinggi. Keberhasilan Belanda membuat petinggi Sintang untuk menandatangani kontrak merupakan salah satu strategi agar Belanda memiliki kuasa di wilayah Kesultanan Sintang. Pembagian wilayah Melawi menjadi dua merupakan salah satu faktor sosial ekonomi yang menyebabkan perlawanan. Hal tersebut dikarenakan para bangsawan dari Kesultanan yang dulunya berkuasa atas seluruh wilayah Melawi merasa mulai tergeserkan posisi dan jabatannya. Situasi tersebut menyebabkan para rakyat di wilayah Melawi Hulu tidak lagi membayar pajak dan menyerahkan hasil bumi secara penuh kepada pihak Kesultanan, melainkan kepada Gubernurment Belanda yang memegang wilayah tersebut.
2. Faktor Politik
Adanya penandatanganan kontrak kerjasama, antara pihak Belanda dan Kesultanan Sintang merupakan awal munculnya perlawanan-perlawanan di sekitar wilayah Kesultanan. Sultan yang awalnya mempunyai kedudukan sebagai penguasa tertinggi, berubah kedudukan menjadi dibawah kendali Belanda. Belanda yang awalnya menumpang untuk usaha perdagangan mulai mencampuri urusan Pemerintahan Kesultanan (Aspar, 2005).
Pemicu lain yang menyebabkan terjadinya perlawanan diantaranya adalah perluasan wilayah yang dilakukan para serdadu Belanda di barak tinggal hingga menjadi sebuah benteng. Personil rombongan yang semakin bertambah mengakibatkan aktivitas angkutan yang membawa peralatan seperti senjata, amunisi, dan perlengkapan militer lain. Dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pihak Belanda tersebut, dianggap menjadi sebuah tanda bahwa telah diindikasi akan mempersiapkan aksi militer yang dilakukan di wilayah Melawi sebagai penguasaan wilayah secara efektif (Hamdani, 1995).
Upaya Belanda untuk memperluas wilayah kekuasaan di Sintang dilanjutkan dengan mengadakan kontrak lanjutan. Kontrak tersebut disepakati pada 31 Maret 1855 oleh Panembahan Panembahan Adipati Muhammad Jamaludin. Dalam perjanjian tersebut berisi hak pemerintah Belanda atas kekuasaan penuh kehidupan Kesultanan Sintang di bidang politik, ekonomi, hukum, hingga sosial (Aspar, 2005).
Akibat kontrak tersebut, timbul pergolakkan politik yang mengakibatkan perlawanan bersenjata di berbagai kawasan Sintang dengan tujuan untuk menyuarakan ketidaksetujuan terhadap perlakuan Belanda yang semakin semena-mena.
Dampak Perang Melawi
Adanya perlawanan di daerah Melawi, membawa penderitaan dan kerugian bagi
rakyat di sekitarnya, baik secara materil maupun non-materil. Akan tetapi, perlawanan tersebut juga membangkitkan kesadaran dan rasa persatuan para pejuang Melawi untuk mempertahankan hak-hak wilayahnya. Adapun dampak Perang Melawi yang berlangsung dibawah kepemimpinan Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan memunculkan dampak-dampak seperti berikut:
1. Dampak Sosial
Dampak sosial yang terjadi akibat perlawanan ini adalah kondisi psikis para pengikut Abdul Kadir. Setelah Abdul Kadir wafat pada tahun 1987, berbagai reaksi muncul dari para pemimpin kelompok, kepala adat, hingga para pejuang di Melawi.
Mereka merasa kehilangan sosok pemimpin yang dijadikan sebagai sandaran atas perlakuan Belanda terhadap rakyat Melawi. Hal tersebut terjadi mengingat elama masa kepemimpinan Abdul Kadir, Melawi menjadi wilayah yang memiliki tangka kesejahteraan dan mampu membangun perlawanan terhadap Belanda (Hamdani, 1995).
Dampak sosial lain yang dirasakan adalah berkurang atau hilangnya wewenang tradisional panembahan dan pembesarnya. Atas adanya dampak tersebut, membuat stratifikasi sosial perlahan mulai ditinggalkan. Struktur pemerintahan tradisional diganti dengan jabatan pengangkatan Belanda dari tingkat Afdeling hingga kepala desa dan gelar yang diberikan harus mendapat pengesahan dari Gubernur Jenderal terlebih dulu (Sjamsuddin, 2013).
2. Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi yang dirasakan akibat Perang Melawi terjadi pada sektor pertanian dan perdagangan. Hal tersebut mengingat Melawi merupakan daerah yang bergantung pada sektor agraris (Nurcahyani, 2013). Terjadinya peristiwa perang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi yang mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat suku Dayak dan Melayu di Melawi. Perang ini menyebabkan kerusakan pada infrastruktur pertanian yang merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Selain itu, ketidakstabilan kondisi perdagangan juga berakibat pada aktivitas berdagang masyarakat. Akibatnya, timbul dampak jangka panjang, seperti pola produksi dan pergeseran hubungan sosial ekonomi dalam masyarakat lokal. Perlawanan ini memperburuk kerugian ekonomi yang semakin sulit di tengah penguasaan Belanda. Selain itu, Belanda memberlakukan ketentuan mata uang yang berlaku di Pontianak untuk berlaku pula di wilayah Kesultanan Sintang. Pemberlakuan mata uang Belanda (Gulden) ini menggantikan berbagai mata uang lokal yang berlaku sebelumnya. Dalam segi perdagangan jumlah besar, penggunaan Gulden cukup menguntungkan. Tetapi, dilihat dari segi rakyat yang menggunakan uang dalam jumlah kecil, pemberlakuan mata uang tersebut dirasa cukup sulit (Sjamsuddin, 2013).
3. Dampak Politik
Berdasarkan pemberitaan surat kabar Java-Bode, tanggal 19 September 1888, dalam bidang politik, disebutkan banyak pejuang yang menderita akibat serangan yang terjadi tahun 1868. Pada peristiwa perlawanan tersebut, terdapat juga beberapa tokoh penting perlawanan yang masih belum bisa ditundukkan oleh pihak Belanda.
Salah satu tokoh perlawanan tersebut adalah Raden Paku Jaya yang merupakan kepala suku Dayak di Sungai Serawai tepi kanan Sungai Melawi Hulu. Perlawanan lanjutan tersebut terjadi pada tahun 1895-1896 melibatkan anggota keluarganya dan sejumlah suku Dayak yang berdiam di Sungai Melawi Hulu. Raden Paku Jaya dan
pengikutnya berakhir menjadi tahanan di Pontianak dan dibuang ke Betawi (Lontaan, 1975). Perlawanan tersebut menjadi bukti adanya kelanjutan dari perlawanan yang sebelumnya dilakukan oleh Abdul Kadir terhadap pemerintah Belanda di Melawi.
Source: Delpher.nl
Gambar 3. Surat Kabar Java-Bode Edisi Terbit 19 September 1888
Dampak politik lainnya akibat kependudukan Belanda juga mempengaruhi struktur pemerintahan hingga kekuasaan lokal. Pemerintahan kolonial Belanda mengganti sistem pemerintahan tradisional dengan administrasi yang lebih terpusat dengan mengangkat para bupati dan Sultan sebagai alat kekuasaan kolonial.
Keikutsertaan Belanda dalam urusan Kesultanan adalah dengan mengatur pergantian tahta dan kebijakan pemerintahan.
Kesimpulan
Berdasarkan tulisan diatas, terdapat berapa kesimpulan, yaitu Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan merupakan pahlawan nasional sekaligus pemimpin daerah Melawi yang merupakan bagian dari Kesultanan Sintang. Ia merupakan keturunan bangsawan yang peka dengan keadaan yang dialami masyarakatnya, sehingga ia tidak segan untuk memperjuangkan daerahnya. Bersama dengan para pasukannya, Abdul Kadir memanfaatkan kedudukannya sebagai Kepala Pemerintahan untuk mengatur strategi melawan Belanda tanpa menggunakan senjata.
Sejarah perjuangan memiliki kedudukan yang sangat tinggi nilainya dalam usaha menurunkan jiwa patriotisme kepada generasi penerus supaya terus memelihara persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Perjuangan rakyat di Melawi pada masanya telah melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang banyak dipertaruhkan untuk mempertahankan tanah asalnya dari para penjajah.
Perang Melawi merupakan satu dari beberapa perang yang terjadi di masa Kesultanan Sintang. Perang ini berlangsung dalam rentang tahun yang cukup lama.
Adanya campur tangan belanda dalam sistem pemerintahan berujung dengan timbulnya perlawanan yang terjadi beberapa pihak merasa tertindas dengan kehadiran Belanda yang dianggap semena-mena. Hal tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor yang terjadi. Kepemimpinan Abdul Kadir dalam Perang Melawi selama 7 tahun (1867 – 1875) berhasil membuat generasi dibawahnya melanjutkan perlawanan terhadap Pemerintahan Kolonial di Tanah Melawi.
Perlawanan yang terjadi tentunya memberikan dampak yang dapat dirasakan
baik saat maupun setelah peperangan itu berlangsung. Dampak yang berdampak adalah bidang sosial, ekonomi, dan politik. Ketiga bidang tersebut merupakan satu kesatuan yang secara alami akan merasakan akibat dari terjadinya segala perubahan.
Dampak sosial dan ekonomi menjadi dampak yang sangat terasa perubahannya, dimana dampak ini bersentuhan langsung dengan rakyat yang turut terlibat dalam perlawanan. Adaptasi kehidupan dari pemerintahan tradisional ke pemerintahan Kolonial tentunya perlu penyesuaian yang baru. Terlebih lagi setelah berakhirnya pemerintahan Kolonial, kekuasaan kembali jatuh pada pemerintah tradisional. Hal tersebut menjadikan seluruh elemen beradaptasi kembali dengan gaya sistem kepemimpinan yang berbeda.
Saran
Berkenaan dengan hasil dari penelitian yang telah disampaikan, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Penulis berharap pada seluruh para pihak yang bersinggungan langsung dengan sumber-sumber sejarah yang tersedia mengenai Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan untuk dapat dikenalkan kepada masyarakat luas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan terjalinnya kolaborasi antara penyuka sejarah dengan berbagai pihak terkait.
2. Peran para guru sejarah sangat diperlukan agar para pelajar khususnya di Kabupaten Melawi agar mengetahui lebih mendalam mengenai sejarah daerah tinggalnya, sosok pahlawan nasional, dan perjuangan-perjuangan yang dilakukan di masa lampau.
3. Dengan adanya penulisan ini, diharapkan pihak-pihak terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Melawi lebih memperkenalkan berbagai bangunan, situs, maupun sejarah dari wilayah Melawi yang memiliki arti penting pada masanya.
4. Penulis juga berharap agar pembaca dapat menjadikan tulisan ini sebagai referensi atau rujukan mengingat Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan adalah tokoh yang harus dikenang atas perjuangannya memperjuangan wilayah Melawi.
Daftar Pustaka
Aspar. (2005). Sejarah Perjuangan Rakyat Melawi-Sintang Kalimantan Barat.
Fahruna Bahagia Pontianak.
Azis, A., & Nurasiah, N. (2024). Development of History Problems Based on Higher Order Thinking Skills (HOTS) Using Anderson Krathwohl Taxonomy. Riwayat:
Educational Journal of History and Humanities, 7(1), 111-118.
Badan Pembina Pahlawan Daerah Tingkat II Sintang. (1997). Usul Pengangkatan Sebagai Pahlawan Nasional Atas Nama Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan, Sintang. BPP DT II Sintang.
Besluit Gouvernour Generaal Van Nederlandsch. (1866).
Gottschalk, L. (2008). Mengerti Sejarah. UI-Press.
Hadi, K., & Sustianingsih. (2015). Ensiklopedia Pahlawan Nasional. Istana Media.
Hamdani, M. (1995). Raden Temenggung Setia Pahlawan dalam Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia.
Java-Bode. (1888, September 19). Aangekomen Passagiers te Batavia. 5.
Lontaan, J. U. (1975). Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat.
Pemda Tingkat I Kalbar.
Nurcahyani, L. (2013). Sejarah Sosial Melawi (Suatu Tinjauan Sosial dan Ekonomi).
BPNB Pontianak.
Romulo, C. S., & Dalimunthe, Z. (2024). Effect of related party transaction and tax
haven utilization on tax avoidance moderated by Country-by-Country reporting. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 7(1), 26- 40.
Sjamsuddin, H. (2013). Perlawanan dan Perubahan di Kalimantan Barat, Kerajaan Sintang 1822-1942. Ombak.
Sugiharto, & Toto, R. (2016). Ensiklopedi Pahlawan 1: Semangat Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia. SM Publising.
Sukmana, W. J. (2021). Metode Penelitian Sejarah. Jakarta. Seri Publikasi Pembelajaran, http://jurnal.uinbanten.ac.id
Sumarman, G. (2025). Wawancara.
Suparno, S., & Budimansyah, D. (2016). Peran Nilai-Nilai Religius Kerajaan Sintang Dalam Membina Karakter Generasi Muda. JURNAL PEKAN: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan. https://doi.org/10.31932/jpk.v1i1.166
Syamtasiyah, I., Zainuddin, & Jabbar, L. (2017). Sejarah Kesultanan Sintang di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Wijayanto, A. (2013). Peranan Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan Sebagai Pimpinan Laskar Perlawanan Kawasan Melawi Pada Masa Kolonialisme dan Imperialisme Belanda Tahun 1845-1875 Di Melawi.
Wulandari, D. (2024). The Effectiveness of Youtube Channel as Learning Media at Conversation Class. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 7(1), 67-69.