• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Bahasa Indonesia

N/A
N/A
Orion Geinara

Academic year: 2025

Membagikan "Perkembangan Bahasa Indonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan bahasa Indonesia

Seperti yang kita tahu bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan oleh seluruh rakyat Indonesia dalam berkomunikasi. Tetapi bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang bukanlah bahasa Indonesia yang pertama kali diresmikan. Sudah banyak perubahan dan penyempurnaan terhadap bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang ini. Ki Hadjar Dewantara yang merupakan tokoh pendidikan asal Perguruan Tamansiswa, Yogyakarta, mengungkapkan bahwa pada dasarnya bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, bahasa Indonesia akan berubah seirama dengan perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa. Salah satu contohnya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang masih menggunakan ejaan van Ophuijsen saat diikrarkan melalui peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Setelah Indonesia merdeka, atau tepatnya tahun 1947, bahasa Indonesia menggunakan ejaan Republik atau ejaan Suwandi.

Jika dicermati dengan saksama, perubahan yang terjadi pada sistem ejaan van Opuijsen menjadi sistem ejaan Republik atau Suwandi, sebenarnya telah menunjukkan adanya perkembangan fase bahasa Indonesia. Pada awalnya, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan (language of unity), dan kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara (country language). Setelah itu lahirlah Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Aturan hukum ini menjadi patokan bagi fase ketiga, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional (lihat Pasal 44 ayat (1), (2), dan (3) UU No. 24 Tahun 2009). Dengan demikian, ada tiga fase penting dalam perkembangan bahasa Indonesia, yaitu fase bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, fase bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, dan fase bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan

Diawali dengan ikrar pada butir ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” dengan menggunakan ejaan van Ophuijsen.

Kemudian dilanjutkan dengan diselenggarakannya Kongres Bahasa Indonesia (KBI) di Solo pada tanggal 25-28 Juni 1938. Dalam suratnya kepada redaksi Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia pada tanggal 12 Oktober 1983, Mr. Soemanang mengatakan, pencetus KBI ialah Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo, seorang wartawan harian Soeara Oemoem Surabaya, yang pada waktu itu rajin sekali menciptakan istilah-istilah baru, dan sangat tidak puas dengan pemakaian bahasa dalam surat-surat kabar Cina (Kridalaksana, 1991).

Salah satu hasilnya ialah bahwa setelah selesai KBI I ini fraksi nasional dalam Volksraad yang dipimpin oleh M. Hoesni Thamrin memutuskan untuk memakai bahasa Indonesia dalam pandangan umum dewan tersebut—suatu hal yang menimbulkan reaksi negatif dari penjajah (Belanda).

Surat kabar Kebangoenan yang dipimpin oleh Sanoesi Pane dalam terbitannya pada tanggal 22 Juni 1938 menyatakan bahwa penyelenggaraan KBI menandai bahwa “... Bahasa Indonesia soedah sadar akan persatoeannja, boekan sadja dalam artian politik, akan tetapi dalam artian keboedajaan jang seloeasloeasnja.” Topik-topik KBI I, seperti pengindonesiaan kata asing, penyusunan tata bahasa, pembaruan ejaan, pemakaian bahasa dalam pers, dan pemakaian bahasa dalam undang-undang dipandang sangat relevan dengan perkembangan bahasa Indonesia saat itu dan masa-masa setelahnya.

 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Resmi Negara

(2)

Diawali dengan peristiwa pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan oleh Ir. Soekarno dan Drs.

Moh. Hatta, bahasa Indonesia kemudian ditetapkan sebagai bahasa resmi negara pada keesokan harinya melalui Pasal 36 UUD 1945.

Selanjutnya muncul ejaan baru yang bernama ejaan Suwandi pada tahun 1947. Ejaan ini merupakan penyederhanaan atas ejaan van Ophuijsen yang dimana salah satu contohnya adalah perubahan oe menjadi u.

Kemudian diadakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober—2 November 1954. Keputusan KBI II membentuk Panitia Pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia dan meresmikan embrio Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Terkait EYD, Sudaryanto (2017) menjelaskan bahwa sistem ejaan bahasa Indonesia yang sebagian besar sama dengan sistem ejaan Malaysia, yang termuat dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tanggal 16 Agustus 1972 dan menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia sampai tahun 2015. Perbedaannya dengan Ejaan Suwandi, antara lain, adalah huruf j menjadi y, dj menjadi j, nj menjadi ny, ch menjadi kh, tj menjadi c, dan sj menjadi sy.

 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional

Ditandai adanya Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, pada tanggal 28 Oktober

—1 November 2008.

Lalu diciptakanlah UU Nomor 24 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan yang mendukung peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional (Pasal 44 ayat (1).

Kemudian dilanjutkan dengan upaya meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional melalui pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) serta dibentuknya suatu unit yang dinamakan Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK).

Fase bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional sekurangnya sudah terwujud dengan fakta 45 negara telah mengajarkan bahasa Indonesia (Sudaryanto, 2015).

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 2 Nomor 1, Juni 2018

http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/aksis/article/download/7346/5257/#:~:text=Bahasa

%20Indonesia%20mengalami%20tiga%20fase%20perkembangan%20selama%2081%20tahun

%20(1928,1945%20(Pasal%2036)%2C%20Kongres

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. • BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA

Seperti yang dilansir dari ungkapan Pamungkas bahasa Indonesia difungsikan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara berdasarkan ikrar ketiga Sumpah Pemuda

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang penting bagi bangsa Indonesia karena berfungsi sebagai pemersatu antarsuku yang ada di wilayah Indonesia. Dalam ikrar Sumpah

Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para

Perkembangan bahasa Melayu di wilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia oleh karena itu para

Keadaan ini berbalik 180 derajat dari keadaan 78 tahun yang lalu, di saat para pelajar dan pemuda dengan semangat cinta tanah air menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa

Bunyi ketiga dari Sumpah Pemuda yang sedikit berbeda dengan bunyi pertama dan kedua, yaitu tidak dinyatakan dengan kalimat “mengaku berbahasa yang satu, bahasa Indonesia”, tetapi

Kongres Pemuda Indonesia tahun 1928 menghasilkan keputusan tentang Sumpah Pemuda yang berisi pengakuan satu tanah air, bangsa, dan bahasa