TUGAS TERSTRUKTUR DOSEN PENGAMPU
Integrasi Ilmu Sulaiman Kurdi,S.Ag, M.S.I
PENGEMBANGAN ILMU ILMU KEISLAMAN
OLEH KELOMPOK 8
Siti Salihah :240102030055
Nurhana
Rizqiyala mehra
:240102030192
M. Aulia Azhar :240102030194
Disna Mushaffa Akhmad
:240102030045
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI FAKULTAS SYARIAH
PRPGRAM STUDI HUKUM TATANEGARA BANJARMASIN
2024
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era modern membawa dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Di tengah arus globalisasi yang kuat, umat Islam dituntut untuk mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, agar dapat menjawab berbagai tantangan zaman dan memperkuat identitas serta peran Islam dalam kehidupan masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu-ilmu keislaman
2. Apa saja faktor-faktor yang mendorong pengembangan ilmu ilmu keislaman?
3. Tantangan ilmu ilmu keislaman di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern?
C. METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian makalah ini adalah metode literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber seperti artikel ilmiah, jurnal, dan sumber daring.
PEMBAHASAN
A. Sejarah Pengembangan Ilmu Ilmu Keislaman 1. Periode Awal Islam
Dalam periode ini, perkembangan ilmu pengetahuan Islam lebih cenderung kearah ilmu-ilmu syari’at (ulûm naqliyyah, ulûm syar’iyyah) dibanding ilmu-ilmu logika (ulûm aqliyyah). Ilmu syari’at yang bertumpu paada sumber primer Islam, Al-Qur’an dan Hadis, mampu menjawab permasalahan-permasalahn seputar ibadah (‘ubudiyyah) paska sepeninggal Rasulullah Alaihisalam.
Termasuk juga munculnya ilmu qirâ’at yang erat kaitannya dengan cara membaca dan memahami kandungan Al-Qur’an. Dalam rangka penyebaran ilmu qirâ’at ini, khalifah Umar mengirim beberapa delegasi untuk menyebarkan bacaan yang benar. Antara lain, Muadz Ibn Jabal ke Palestina, Ubadah Ibn Shamit ke kota Hims, Abu Darda’ ke Damaskus, sementara Ubay Ibn Ka’b dan Abu Ayub tetap di Madinah.
Tokoh-tokoh besar di atas, di samping memeliki keahlian dibidang ilmu Al-Qur’an, mereka juga ahli di bidang fikih (faqîh) ulung pada masanya. Sebab ilmu fikih merupakan suatu ilmu yang mengupas tentang permasalaahn sehari-hari yang bersumber utama dari Al- Qur’an dan Hadis. Makanya tidak heran ketika para ahli Al- Qur’an tersebut juga ahli dalam ilmu fikih. Di samping perkembangan kajian ilmu naqliyyah pada abad ini berkembang pesat, pemahaman ilmu aqliyya juga sudah mulai dipandang serius oleh masyarakat pada masa itu.
Ilmu Nahwu (Arabic grammar) lahir dan berkembang pesat di dua kota besar, yaitu Kufah dan Basrah. Sebab kota tersebut banyak di tempati orang-orang yang berbahasa Persia serta kekayaan dialektika (lahjat) setempat. Dari sini, Ali Ibn Abi Thalib melakukan pembinaan- pembinaan terhadap penduduk setempat
tentang kaidah-kaidah dasar Ilmu Nahwu. Kemudian lahirlah sosok pengumpul kaidah-kaidah dasar ilmu Nahwu pertama, yaitu Abul Aswad Addu’ali yang termasuk generasi pada masa kepemimpinan umayah. Tidak cukup perkembanagan Nahwu saja, namun kemampuan orang Arab berotorika dengan apik yang dibungkus dengan karya-karya sastra juga berkembang pesat pada masa ini.
Kemampuan para penyair pra Islam dan awal Islam (mukhadzram) ikut mewarnai dunia sastra pada periode ini. Seperti, Hasan Ibn Tsabit, Ka’b Ibn Zuhair Ibn Abi Sulma, dan Hasan Ibn Tsabit.
Serta pidato-pidato (khithâbah) Ali Ibn Abi Tholib ikut serta memperkaya khazanah sastra pada masa itu. Kemudian kumpulan pidato ini, belakangan dikemas menjadi sebuah karya sastra agung yang berjudul Nahjul Balaghah.
Selain karya satra yang berkembang pesat di masa ini, kemajuan pembangunan juga mengalami konstruksi yang amat pesat. Arsitektur dalam Islam dimulai dengan berdirinya masjid- masjid yang dibangun sejak Rasulullah. Seperti masjid Quba yang didirikan oleh Rasulullah ketika melakukan perjalanan hijrah sebelum sampai di Madinah. Disamping itu juga terdapat Majid al- Haram yang merupakan masjid besar yang dimiliki umat muslim sepanjang masa.
2. Masa Umawiyah
Pada masa kepemimpinan Bani Umayyah, banyak sekali kemajuan-kemajuan kekuasaan yang di bawah kepemimpinan mengalami kemajuan yang amat pesat. Seperti peran Ali al- Qali yang berhasil membumikan bahasa Arab di Andalusi, Cordova.
Pada tahun 330 H/ 941 M. ia memenuhi undangan Al-Nashir untuk menetap di Cordova dan mengembangkan ajaran Nahwu sampai akhir hayatnya (358 H/ 969 M). Ali Al-Qali banyak sekali meninggalkan karya-karyanya yang sanagt bermanfaat di Cordova
dan yang menjadi cikal bakal berkembangnya Bahasa Arab di sana. Karangannya antara lain, al-Amâli dan al-Nawâdlir.
Tokoh lain di bidang Fikih yang tidak kalah terkenal di Andalusia antara lain, Abu Bakar Muhammad Ibn Marwan Ibn Zuhr (w. 422 H). Ia merupakan sosok sastrawan besar pada masanya yang pernah ada di Andalusia. Selain itu, Abu Muhammad Ali Ibn Hazm (w. 455 H). yang memiliki karya al- Fashl; fi al-Milâl wa al-Ahwâ’ wa al-Nihal yang merupakan masterpiece yang fenomenal hingga saat ini. Semula Ibn Hazm menganut mazhab Syafi’I, namun seiringnya waktu ia talfiq pada mazhab Daud Azzahiri. Kemudian pengalaman dalam kedua mazhab ini mampu menginspirasi penduduk Andalusia secara khusus daan pada masyarakat sekitar secara umum. Ibn Hazm merupakan ulama yang sangat produktif sekali dalam menulis karya-karya ilmiah. Karyanya yang berhasil tercatat, terdapat sekitar 400 judul buku. Baik dalam bidang sejarah, teologi, fikih, sastra, Hadis dan lain-lain.
Selain maju di bidang agama, ilmu filsafat juga sudah mulai dijamah di kota Andulisia. Luthfi Abdul Badi’ mengemukakan, bahwa Muhammad Ibn Abdillah Ibn Missarah al-Bathini, ialah orang pertama kali yang menekuni bidang filsafat di Andulisia. Hal ini berarti, ilmu filsafat sudah dikenal sebelum al-Jabali. Dan ilmu itu berkembang pesat pada masa al-Nashir dan sampai pada puncaknya di masa al-Mustanshir.
Seiring berkembangnya filsafat, berkembang juga ilmu-ilmu pasti. Ilmu pasti yang digemari bangsa Arab bersumber pada buku India Sinbad yang di-Arab-kan oleh Ibrahim al- Fazari pada tahun 771 M. dengan perantara ini bangsa Arab lebih mengenal dan menggunakan angka-anagka India yang di Eropa angka itu dikenal dengan angka Arab. Pembesar Andalusia pada periode ini antara lain, Abu Ubaidah Muslim Ibn Ubaidah al-Balansi. Ia seorang astrolog dan pakaar di bidang ilmu hitung. Untuk kalangan
masyarakat waktu itu, ia dikenal dengan sebutan shâhib al-Qiblat (ahli mendirikan sholat).
Di samping maju di di bidang ilmu pasti, Andalusia juga diperkaya dengan sarjana-sarjana pribumi yang pakar di bidang ilmu kedokteran. Seperti, Ahmad Ibn Ilyas al-Qurthubi dan al- Harrani yang hidup pada masa kekuasaan Muhammad I Ibn Abdurrahman II al-Ausath, Yahya Ibn Ishaq yang hidup pada masa Abdullah Ibn Mundzir, yang kemudian diangkat menteri oleh al- Nashir. Selain tokoh di atas, Andalusia juga memeliki dokter ahli bedah, yaitu Abu Qasim al-Zahrawi yang dikenal dengan sebutan Abulcasis. Kemahirananya selain di bidang bedah, ia juga mahir di bidang penyakit telinga dan spesialis kulit. Karya fenomalnya yang berjudul, al-Tashrîf li Man ‘Ajaza ‘An Ta’lîf pada abad XII M.
yang kemudian diinggriskan oleh Gerard of Cremona dan dicetak ulang di Genoa (1497), Basle (1541), dan di Oxford (1778).1
3. Masa Bani Abbasiyah
Pada fase pertama Bani Abbasiyah terkenal dengan masa kejayaan yang mana pada masa ini para khalifah yang memerintah juga memiliki sikap yang tegas, adil, dan memiliki jabatan yang kuat. Pada fase ini Bani Abbasiyah mengalami perkembangan yang pesat dan menjadi pusat pengetahuan dengan menerjemahkan buku- buku Yunani dan Persia kedalam bahasa Arab. Upaya menerjemahkan bahasa asing kedalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada saat pemerintahan Bani Abbasiyah. Dimana para ilmuwan melakukan penelusuran kedaerah-daerah Byzantium untuk mencari naskah-naskah Yunani dalam berbagai ilmu terutama ilmu filsafat dan kedokteran. Penerjemahan ini dipelopori oleh Al Mansyur yang telah melakukan penerjemahan pada bidang astrologi, kimia, dan kedokteran.
1 AL ANANG, Arif. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, 2019, 3.2: 98-108.
Empat fase pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan pergantian kekuasaan yang silih berganti namun dalam ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan yang di dukung oleh sikap pemerintah yang memberikan dukungan pada gerakan intelektual sehingga muncul para ahli atau ilmuwan dari berbagai bidang.
Proses perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah tidak terjadi secara instan. Perkembangan ilmu pengetahuan ini terjadi melalui tahapan-tahapan yang dilakukan.
Adapun tahapan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:
a. Pendirian perpustakaan dan pusat pusat ilmu pengetahuan Dalam pendirian perpustakaan ini dilakukan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid yang mendirikan Baitul Hikmah. Baitul Hikmah merupakan perpustakaan terbesar dengan koleksi kurang lebih 100.000 buku.
b. Kegiatan menyusun buku ilmiah Terdapat tiga tahap menyusun buku ilmiah yaitu:
a) Tahap pertama, mencatat ide atau percakapan dalam sebuah lembaran kertas.
b) Tahap kedua, pembukuan ide-ide atau hadits-hadits Rasulullah dalam satu buku.
c) Tahap ketiga, penyusunan sesuai bab per bab.
d) Menerjemahkan buku-buku bahasa asing
e) Penerjemahan buku-buku bahasa asing kedalam bahasa Arab dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menerjemahkan karya-karya dalam bidang astronomi.
Tahap kedua menerjemahkan karya-karya dalam bidang filsafat dan kedokteran. Tahap ketiga yaitu penerjemahan karya-karya dalam bidang yang luas.
Hal-hal diatas menjadikan berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan yang ditunjang oleh penerjemahan buku-buku,
berdirinya perpustakaan dan diskusi ilmiah sehingga berkembang pula ilmu-ilmu seperti:
a) Ilmu Aqli
Ilmu Aqli adalah ilmu yang didasarkan pada sebuah pemikiran manusia dan dikemukakan oleh para ahli atau ilmuwan yang sesuai dalam bidangnya. Penerjemahan buku- buku dilakukan dengan menerjemahkan karya-karya dari Aristoteles, Plato, Galen dan ilmuwan Yunani lainnya sehingga para ahli dari kalangan muslim melakukan pengembangan penelitian dan melakukan uji coba dan terbentuklah ilmu aqli seperti dibawah ini:
b) Ilmu Kedokteran
Ilmu kedokteran pada masa Rasulullah sudah nampak berkembang dengan adanya seorang dokter yang terkenal yaitu Al-Harits bin Al-Kananah. Namun ilmu kedokteran pada masa Rasulullah tidak begitu mengalami perkembangan yang pesat. Ilmu kedokteran mulai berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah yang mendapatkan pengaruh dari perguruan tinggi yang berada di Persia dan Yunani Timur. Perguruan tinggi yang berada di Persia adalah Judhisafur dengan melakukan
penerjemahan buku-buku kedokteran berbahasa Persia, Yunani dan India kedalam bahasa Arab. Penerjemah buku-buku kedokteran berbahasa Persia ke bahasa Arab adalah Al-Muqaffa dan penerjemah yang baling terkenal adalah Hunain bin Ishak. Dengan adanya
penerjemahan buku-buku kedokteran kedalam bahasa Arab sehingga lahirlah tokoh-tokoh besar dalam bidang kedokteran islam. Tokoh-tokoh tersebut meliputi Ali bin Rabba Al-Thabari, Al-Razi dengan penemuan cacar dan campak, dan Ibn Sina dengan buku
c) Ilmu Matematika
Ilmu matematika mengalami perkembangan pada masa Dinasti Abbasiyah pada kepemimpinan Al-Mansyur.
Perkembangan ilmu matematika terjadi karena adanya perencanaan pembangunan kota Baghdad yang didasarkan pada perhitungan matematis yang dilakukan oleh kumpulan matematikawan. Pada hal ini muncul penemuan dan penggunaan angka 0 (nol) yang di sebut sifir. Tokoh matematikawan yang terkenal adalah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi yang memperkenalkan angka-angka hitung dan aljabar.
d) Ilmu Geografi
Dalam perkembangan ilmu geografi pada masa Dinasti Abbasiyah diterapkan dengan melakukan kegiatan perdagangan antar wilayah dan benua. Tokoh ilmu geografi yang terkenal pada masa Dinasti Abbasiyah yaitu:
1) Abul Hasan Al-Mashudi yang merupakan seorang penjelajah dan telah melakukan perjalanan ke Persia, India, Sri Lanka dan Tiongkok.
2) Ibnu Khurdazabah yang merupakan seorang ahli geografi tertua dari persia. Ahmed El Yakubi yang merupakan seorang penjelajah dan pernah melakukan perjalanan ke Armenia, Iran, India, Mesir, dan Maghribi.
3) Abu Muhammad Al-Hasan Al-Hamdani e) Ilmu astronomi
Pada masa Dinasti Abbasiyah berkembang ilmu astronomi yang mengkaji dari ilmuwan-ilmuwan dari berbagai negara seperti Yunani, Persia, India, dan Khaldan. Ahli dalam bidang ilmu astronomi meliputi, Abu Mansyur Al- Falaki, Jabir Al-Batani dan Raihan Al-Bairun
f) Ilmu sejarah
Pada masa Abbasiyah pada bidang ilmu sejarah Ibn Muqaffa menerjemahkan sebuah Kitab Khuday Nameh (Kitab Al Muluk) yang berbahasa Pahlevi ke dalam bahasa Arab. Kemudian kitab ini diberi nama Siyar Muluk Al Ajm yang menjadi buku sejarah orang Arab.
g) Ilmu sastra
Tokoh-tokoh ilmu sastra pada masa Bani Abbasiyah meliputi Abu Nuwas dan An- Nasyai.
h) Ilmu farmasi
Tokoh-tokoh ahli farmasi pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar dengan karya terkenalnya tentang obat- obatan dan mengkaji mengenai makanan yang bergizi i) Ilmu filsafat
Ilmu filsafat merupakan bidang ilmu pengetahuan mengenai kebenaran yang nyata yang dapat diterima oleh akal manusia dan menjadi dasar dari ilmu-imu pengetahuan. Kaum muslimin baru mengenal filsafat setelah mendapatkan terjemahan dari buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India. Para ahli filsafat meliputi, Al Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali
j) Ilmu naqli
Ilmu naqli merupakan ilmu yag bersumber dari Al Quran dan hadits. Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah terdapat perkembangan dalam ilmu naqli seperti:
1) Ilmu Fiqih
Ilmu fiqih adalah bidang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai hukum dan syariat islam yang mengatur mengenai kehidupan umat muslim. Yang melahirkan tokoh- tokoh besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal.
2) Ilmu Tafsir
Ilmu tafsir adalah ilmu yang menjelaskan tentang makna dan kandungan yang terdapat pada Al Quran.
Pada masa Dinasti Abbasiyah berkembang ilmu tafsir yang dilakukan dengan dua cara yaitu :
Tafsir bil ma’tsur yaitu penafsiran Al Quran dengan Hadits Nabi dengan tokoh Ibnu Jarir at Thabari, Ibnu Athiyah Al- Andalusi, As Suda.
Tafsir bir Rayi yaitu penafsiran Al Quran dengan menggunakan akal dengan tokoh yaitu Abu Bakar Asma, Abu Muslim Muhammad bin Nashral Isfahany.
Ilmu Hadits
Ilmu hadits adala ilmu yang mempelajari hadits- hadits dari Al Quran. Kemajuan ilmu hadits pada masa Bani Abbasiyah terjadi pada fase pemerintahan kelima dan keenam. Pada masa pemerintahan kelima, terjadi penyehatan, pemurnian, dan penyempurnaan ilmu hadits.
Pada masa pemerintahan keenam, terjadi pemeliharaan, penelitian, penambahan, dan penghimpunan ilmu hadits.
Ilmu kalam
Ilmu kalam merupakan bidang ilmu yang membahas mengenai dosa, pahala, surga, dan neraka. Ilmu kalam juga dapat diartikan sebagai ilmu dasar ajaran islam tentang ketuhanna dan segala ajaran agama islam.
Ilmu bahasa
Ilmu bahasa yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah meliputi ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badi’ dan arudl.2
B. Faktor yang mendorong pengembangan ilmu ilmu keislaman Pengembangan ilmu-ilmu keislaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam tradisi Islam itu sendiri maupun melalui interaksi dengan kebudayaan dan ilmu pengetahuan lainnya. Salah satu faktor utama adalah penekanan terhadap pendidikan dan pencarian ilmu yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Al-Qur'an dan Hadis mendorong umat Muslim untuk mengejar pengetahuan dan memahami dunia di sekitar mereka. Dalam konteks sejarah, peristiwa seperti era keemasan Islam dari abad ke-8 hingga ke-14 menjadi tonggak penting di mana para ilmuwan Muslim, seperti Al-Khwarizmi dan Ibn Sina, melakukan inovasi di bidang matematika, kedokteran, dan filosofi. Di sinilah ilmu pengetahuan keislaman mulai berkembang, sebagai hasil dari interaksi antara nilai-nilai Islami dan kemajuan ilmiah yang ada pada saat itu.
Selain itu, faktor lain yang berkontribusi adalah adanya lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren yang berperan penting dalam menyebarluaskan dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Di lembaga-lembaga ini, para santri tidak hanya mempelajari syariat Islam tetapi juga berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti sains, matematika, dan bahasa, yang mendukung penguasaan ilmu keislaman secara holistik.
Dalam konteks modern, reformasi pendidikan di negara-negara dengan populasi Muslim tinggi, seperti Iran, juga berperan dalam bentuk pengembangan ilmu keislaman. Perubahan dalam kurikulum pendidikan yang lebih inklusif, mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pengetahuan umum merupakan langkah penting dalam memajukan pemikiran Islam di era modern. Ini menunjukkan bahwa
2 Amalia, A. R. (2022). Sejarah Peradaban Islam: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah. Rihlah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan, 10(01).
pengembangan ilmu keislaman tidak terlepas dari dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang berlangsung di masyarakat.
Lebih penting lagi, pengaruh interaksi antarbudaya menambah warna pada perkembangan ilmu keislaman. Dalam masa lalu, dengan adanya pertukaran pengetahuan antara umat Islam dan kebudayaan lain, banyak gagasan baru muncul yang memperkaya pemahaman dan pendekatan dalam ilmu keislaman. Keterbukaan dan adaptasi terhadap ide-ide baru selama berbagai periode sejarah menjadi kunci dalam mempertahankan relevansi dan perkembangan ilmu keislaman di tengah perubahan zaman.
Secara keseluruhan, faktor pendorong pengembangan ilmu keislaman meliputi dorongan intrinsik dalam ajaran Islam untuk mencari pengetahuan, dukungan dari institusi pendidikan, respon terhadap reformasi pendidikan, serta interaksi dengan budaya lain, menjadikan ilmu keislaman kaya dan dinamis.
C. Tantangan ilmu ilmu keislaman di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern
1. Masih banyak menggunakan logika deduktif, maksudnya dalam hal mengembangkan ilmu pengetahuan masih bertolah pada pengetahuan fakta-fakta yang bersifat umum kemudian ditarik ke dalam kesimpulan-kesimpulan yang bersifat khusus.
Sehingga ilmu pengetahuan yang dihasilkan kebanyakan masih bersifat teoritism abstrak dan masih bersifat idealis. Hal itu sangat berbeda dengan pengembangan ilmu pengetahuan dimasa keemasan Islam abad ke IX sampai dengan abad ke- XI, yang mana Jabir Ibn Hayyan (721-815) misalnya, menurut pengakuan barat adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah secara induktif dalam penelitiannya di bidang al- kemi yang oleh ilmuan barat disebut ilmu kimia. Jabir dengan nama latinnya menjadi Geber, adalah orang pertama yang mendirikan bengkel denan menggunakan tungku pemanas
dan mengektradisi mineral-mineral itu menjadi zat kimiawi kemudian mengklasifikasikannya. Demikian juga Mahmud Ibn Zakaria ar-Razi (865-925) yang namanya dilatinkan menjadi Razes, adalah orang pertama yang menggunakan alat khusus untuk melakukan proses penelitian kimia sebagaimana lazimnya dilakukan oleh para ahli kimia, seperti adanya destilasi, kristalisasi, kalsinasi dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya buku-buku al-Razi tentang ilmu kimia dianggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia yang pertama di dunia yangbanyak dipergunakan oleh sarjana- sarjana barat setelah menyelesaikan studinya di Universitas- Universitas Islam Toledo maupun Cordova.
2. Dikalangan Islam masih banyak yang menekankan studi pustaka daripada studi atas realitas sosio-kultural. Akibatnya terjadi kurang berkembangnya literatur-literatur tentang ilmu- ilmu empiris Islam, seperti : sosiologi Islam, antropologi Islam, psikologi Islam, ekonomi Islam dan sebagainya. Hal ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan empiris Islam yang pernah dikembangkan oleh ilmuan Muslim di abad renaissans Islam, dimana hasil karya ilmuan muslim banyak yang dijadikan sumber rujukan dalam studi pustaka, hal ini dapat dilihat seperti pada buku Al-Fihrist (index of the science) karya besar Ibn Ya‟qub an-Nadim, berisi tentang ensiklopedis monumental yang masih signifikan hingga abad ini. Termasuk bidang Zoologi oleh ad-Dinawari, Book of Animals oleh al-Jahiz, book of roads and provinces oleh Ibn Khurdadbih dan dalam Book of the countries oleh al-ya'qubi dan masih banyak yang lainnya.
3. Belum adanya paradigma yang jelas tentang posisi nilai normatif, eksistensi dan struktur keilmuan Islam. Sebagai misal dalam menyikapi problematika tantangan modernisasi yang ditandai oleh pesatnya perkembangan industrialisasi,
transformasi, canggihnya alat-alat informasi, dan kuatnya paham rasionalisme yang apabila dihadapkan kepada agama, di kalangan muslim belum mampu menyelesaikan dengan cara dialektis tetapi masih bersifat normatif.29 Dan para peneliti muslim masih kurang siap menghadapi atau menolak gagasan asing, karena tidak adanya persiapan secara memadai untuk melawan mereka melalui telaah mendalam dan penolakan terhadap promis-promis palsu.30 Akibat yang ditimbulkan tentang posisi nilai normative, eksistensi dan struktur keilmuan Islam menjadi tidak jelas. Ada yang datang dari Barat, seperti westernisasi, rasionalisme, sekularisme, gagasan filsafat Barat dan semua yang berbau ke barat-baratan ditolak bahkan dikafirkannya.3
3 ARMIN, Rizka Amelia. TANTANGAN ILMU-ILMU KEISLAMAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MODERN. Jurnal Commercium: Kajian Masyarakat Kontemporer, 2019, 2.1.
Kesimpulan
1. Pada periode awal Islam, fokus perkembangan ilmu lebih pada ilmu-ilmu syari’at yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Ilmu fikih dan qirâ’at berkembang pesat, sementara ilmu Nahwu lahir di kota Kufah dan Basrah. Di Masa Umawiyah, terjadi kemajuan dalam bahasa Arab di Cordova dan bidang fikih di Andalusia.
Ilmu filsafat, ilmu pasti, kedokteran, matematika, geografi, astronomi, sejarah, sastra, farmasi, filsafat, dan ilmu naqli juga berkembang pesat. Pada masa Bani Abbasiyah, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat di berbagai bidang.
Khalifah Harun Ar-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah sebagai perpustakaan terbesar dengan koleksi
100.000 buku. Penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke Arab berkembang pesat, termasuk dalam ilmu aqli, kedokteran, matematika, geografi, astronomi, sejarah, sastra, farmasi, filsafat, dan ilmu naqli seperti fiqih, tafsir, hadits, kalam, dan ilmu bahasa. Selama Bani Abbasiyah, ilmu pengetahuan berkembang melalui tahapan seperti pendirian perpustakaan, kegiatan menyusun buku ilmiah, dan penerjemahan buku-buku dari berbagai bidang ke dalam bahasa Arab. Hal ini menghasilkan kemajuan signifikan dalam berbagai bidang ilmu dan menciptakan tokoh-tokoh besar yang berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu.
2. Pengembangan ilmu keislaman didorong oleh penekanan pada pendidikan dan pencarian ilmu dalam ajaran Islam, era keemasan Islam, peran lembaga pendidikan, reformasi pendidikan modern, dan interaksi antarbudaya. Faktor-faktor ini membentuk keragaman dan dinamika ilmu keislaman, mencerminkan respons terhadap perkembangan zaman dan interaksi antara Islam dengan budaya lain.
3. Tantangan ilmu keislaman di era modern meliputi dominasi logika deduktif, kurangnya penekanan pada studi realitas sosio- kultural, dan ketidakjelasan paradigma nilai normatif dan struktur keilmuan Islam. Diperlukan penyesuaian agar ilmu-ilmu keislaman dapat bersaing dan relevan dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern.