• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkenalkan Wayang Sukuraga

N/A
N/A
Rafidah Nur Azizah

Academic year: 2024

Membagikan "Perkenalkan Wayang Sukuraga"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1. Pengertian

Wayang Sukuraga merupakan kesenian khas Sukabumi yang memadukan seni rupa, musik, teater wayang dan sastra sehingga bercita rasa khas. Seni wayang ini tidak mengacu pada literasi wayang tradisi Ramayana dan Mahabarata. Melainkan sesuai dengan arti sukuraga yakni memainkan wayang tokoh yang diambil dari nama bagian tubuh manusia seperti mata, hidung, telinga, mulut, tangan, dan kaki. Pertunjukan wayang Sukuraga pada dasarnya adalah seni pertunjukan sebagai sarana hiburan dan biasanya ditampilkan untuk mengisi acara-acara kedinasan di Kota Sukabumi, atau acara-acara komunitas, namun Sukuraga juga sering mempertunjukan karyanya dalam kegiatan-kegiatan wayang seperti dalam kegiatan Gunungan Internasional Wayang & Pupet Festival 2013 di kota Baru Parahyangan Bandung pada tahun 2013. Wayang Sukuraga biasanya berkisah tentang kehidupan nyata yang terjadi pada masa kini, menyinggung pada masalah sosial, seperti korupsi, gaya hidup masyarakat dan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat sebagai apresiatornya. Durasi pertunjukan wayang sukuraga biasanya berkisar dari satu sampai dua jam, dengan didominasi musik yang kuat dalam pertunjukannya, dalang menjadi sutradara sekaligus pelakon tunggal dalam pertunjukan wayang sukurga seperti dalam pertunjukan wayang kulit atau wayang golek biasanya.

2. Sejarah

Wayang sukuraga diciptakan oleh seorang seniman yang bernama Fendi Sukuraga yang lahir di Sukabumi, wayang ini sudah dikembangkan sejak tahun 1995, dan mulai di pertunjukan pada khalayak umum sejak tahun 1997. Bermula dari pameran lukisannya di Institut Teknologi Mara Malaysia, lukisannya yang bertema Sukuraga berjudul “Peran-peran”

diartikan pelakon oleh apresiastor disana. Semenjak saat itu Fendi berpikiran bahwa sukuraga manusia adalah wayang, maka dalam proses kreatifnya Fendi mengalihkan lukisan sukuraganya yang biasa tergambar dalam kanvas ke media kulit dan dibentuk menjadi wayang, wayang-wayang ini bergambarkan anggota tubuh manusia (Sukuraga) seperti kaki, tangan, mata, hidung dan telinga. Kesenian ini telah mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Kota Sukabumi sejak 2016 lalu. Hal ini dituangkan dalam surat keputusan Wali Kota Sukabumi Nomor 55 Tahun 2016 tentang Wayang Sukuraga sebagai Kesenian Asli Daerah Kota Sukabumi.

Sejak November 2001, seluruh karya seni Sukuraga bernaung Yayasan Karya Cipta Sukuraga. Yayasan ini dibetuk sebagai upaya memberi payung hukum atas karya-karya penciptaan yang berkaitan erat dengan kesenian Sukuraga, khususnya proses penggalian dan pengembangan kesenian Sukuraga yang diciptakan Fendi Sukuraga Selain wayang. Sukuraga juga mengembangkan kesenian Kudu Leumpang yang pertama kali dipublikasikan pada 2008 dalam rangka Imelengkapi seni pertunjukkan Wayang Sukuraga pada Festival Seni Guru.

Internasional di Yogyakarta (The Teachers Performing Arts Festival of International Arts Festival) yang diselenggarakan oleh ERDEC Departemen Pendidikan Nasional Kemudian, Fendi bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kota Sukabumi menyajikan karya seni kriya dalam bentuk wayang Sukuraga, kaos oblong batik painting Sukuraga, dan Kudu Leumpang pada perhelatan Investment, Trade, & Tourism Expo 2013 di Semarang pada 5-8 September 2013. Wayang Sukuraga dan Kudu Leumpang menjadi sorotan berbagai pihak karena keunikannya serta makna filosofis yang mencakup aspek religiusitas mendalam Baru- baru ini Wayang Sukuraga dipentaskan di Taman Ismail Marzuki pada Hari Puisi Nasional 2014 Fendi juga melakukan pertunjukkan solo dalam video pembukaan audisi X Factor 2015, sebuah ajang pencarian bakat di televisi.

(2)

3. Tokoh Pewayangan Sukuraga

Menurut Fendi sebagai pencipta Wayang Sukuraga, Nama tokoh pewayangan Sukuraga diambil dari bahasa sunda, Panon berarti mata, Ceuli berarti telinga, Mulutna berarti mulut, Leungka merupakan singkatan dari Leungeun katuhu yang berarti tangan kanan dan Leungke singkatan dari Leungen kenca yang berarti tangan kiri. Tokoh - tokoh dalam wayang Sukuraga adalah bagian dari tubuh manusia seperti hidung, mata, telinga dan kaki di tambah dengan gunungan seperti dalam pertunjukan biasanya. Gunungan ini menjadi penafsiran sang Sukuraga atau Manusia, setiap bagian dalam tubuh adalah cerminan manusia kelak, seperti dalam ajaran agama Islam, suatu hari nanti tangan, mulut, mata, dan kaki akan mempertanggung jawabkan segala tingkahnya, kemana kaki melangkah, apa yang dilakukan tangan, apa yang diucapkan mulut, apa yang dilihat mata, suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa setelah manusia meninggal dunia dan rohnya menghadap yang Kuasa.

Adapun Si Kaki yang merupakan salah satu tokoh Wayang Sukuraga dapat menjadi kesenian mandiri dan disebut dengan Kudu Leumpang. Kudu Leumpang memiliki sedikit kemiripan dengan Kuda Lumping Tapi seni pertunjukkan ini tidak menggunakan gambaran kudu sebaga tunggangan, melainkan kudu yang berbentuk kaki manusia Kudu. Leumpang tidak selalu harus bermain bersama dalam pertunjukkan Wayang Sukuraga. Pada 2011 diciptakan lagu yang syaimya khusus untuk kesenian Kudu Leumpang yang bisa menjadi kesenian mandiri yang juga dapat berkolaborasi dengan seni pertunjukkan lainnya. Kaki adalah untuk mencapai sebuah harapan atau cita-cita Seni pertunjukkan Kudu Leumpang menyimbolkan bahwa manusia dihadapkan pada pilihan persaingan serta perjuangan untuk mencapai proses keberhasilan manusia menggunakan kaki sebagai tumpuan utama menghadapi kehidupan

4. Alat musik

Dalam pertunjukan wayang Sukuraga diiringi oleh musik tradisi dan modern seperti alat karawitan kendang, saron, suling, karinding dan alat modern seperti gitar, keyboard, drum, biola. Wayang Sukuraga sering menceritakan tentang keadaan hidup masyarakat yang dirasa selalu merasakan kekurangan dalam segi apapun, sehingga sangat jelas bahwa wayang Sukuraga ingin mengutarakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu saja ini sesuai dengan Implementasi Sila ke lima yaitu bersama - sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

5. Cara Bermain

Cara bermain permainan ini sama seperti wayang-wayang lain pada umumnya, yaitu menggunakan kedua tangan yang dimainkan oleh dalang. Kedua tangan tersebut memiliki cara kerja yang berbeda, satu tangan memegang tongkat bagian bawah wayang tersebut dan satu tangan memegang Penggerak tangan wayang tersebut lalu digerakkan dengan cara digoyang. Namun, Wayang Sukuraga tidak perlu dipentaskan dalam durasi panjang. Dengan gaya bercerita yang singkat, satu menit pun bisa menyampaikan satu cerita. Wayang Sukuraga juga bisa dituangkan dalam bentuk poster atau kaos. Dengan demikian, tanpa pertunjukkan pun Wayang Sukuraga sudah bisa menyampaikan cerita atau pesan

6. Makna

Wayang Sukuraga ingin menyampaikan pemahaman tentang makna dari tubuh yang memilik fungsi serta sifat masing-masing. Filosofi yang mendalam dari Wayang Sukuraga ini setiap anggota tubuh harus bergerak memerangi hawa nafsu dan menghasilkan hal yang

(3)

positif untuk dunia dan akhirat. Wayang Sukuraga merupakan suatu kesenian yang terlahir dari sebuah lukisan atas dasar perjalan kreatif seorang seniman yang memusatkan konsep lukisannya mengenai anggota badan manusia bernama “Langkah langkah”, berikut tafsiran- tafsiran yang direpresentasikan ke dalam pertunjukan wayang. Tafsiran tersebut berupa simbolsimbol yang terkandung dalam cerita atau lakon, tokoh wayang dan lain-lain. Pada tahap transformasi dapat dilihat dari struktur luar dan dalam pada Wayang Sukuraga yang dijelaskan pada pertunjukan wayang dan simbol estetik Wayang Sukuraga. Effendy kreator yang multi tafsir terhadap tokoh-tokoh yang terdapat dalam Wayang Sukuraga. Tafsiran- tafsiran tersebut merupakan sebuah argumentasi atas dasar fenomena yang beliau tangkap di kehidupan sehari-hari. Berupa tafsiran yang mudah dipahami oleh masyarakat mengenai hakekatnya manusia yang memiliki anggota badan. Dituangkan ke dalam sebuah pertunjukan wayang terbentuklah satu kesatuan agar mudah disampaikan kepada masyarakat umum.

Referensi

Dokumen terkait

Wayang Orang merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang tokoh- tokohnya diperankan oleh manusia.Wayang orang sebagai seni pertunjukan khasSasak menggunakan Serat

Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari..

Makna wayang kulit bagi masyarakat yang mengundang pertunjukan wayang kulit Raras Irama di Kota Bagan Batu Kabupaten Rokan Hilir sebagai hiburan, pendidikan dan interaksi dan juga

Wayang Golek adalah suatu seni tradisional sunda pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan , Daerah

Sebagai media hiburan yang dapat menarik perhatian masyarakat, dalam pertunjukan wayang golek bahwa manusia (dalang) ketika memainkan wayang yang ditonton masyarakat luas

Wayang orang sriwedari ini sejak dibawah pimpinan Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta pada kala itu mencanangkan, bahwa seni pertunjukan Wayang Orang

‘’Inovatif ‘’ yang berarti penggabungan antara seni tradisi dan moderen maupun perkembangan pertunjukan wayang dari jaman ke jaman, untuk mempertahankan ketertarikan

Masa perkembangan seni pertunjukan di Jawa khususnya sinden, mulai menjadi hiburan rakyat, seperti wayang kulit, wayang orang, lengger Banyumas atau ronggeng telah