BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kebudayaan yang beranekaragam. Kesenian adalah salah satu penyangga

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dimana sebuah negara yang terdiri atas berbagai macam suku dan budaya. Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam. Kesenian adalah salah satu penyangga kebudayaan, dan berkembang menurut kondisi dari kebudayaan tersebut. Dari budaya-budaya itulah lahir seniman-seniman yang selalu berperan dalam mempertahankan dan melestarikan seni dan budaya. Seniman adalah sebuah istilah subjektif yang mengarah kepada seseorang yang kreatif, inovatif, atau mahir dalam bidang seni.1

Kesenian tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian merupakan kreativitas dari kebudayaan dan pada dasarnya semua bentuk kesenian dianggap berasal dari ritual (kesukuan) kuna.2 Kesenian meliputi berbagai macam, diantaranya seni tari, seni lukis, seni pahat, seni peran, seni sastra, film, dan musik.

Pada dasarnya semua aktivitas yang dilakukan manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan yang erat hubungannya dengan pemenuhan estetis adalah melalui kegiatan berkesenian. Dalam kegiatan berkesenian ini, seni dipandang dapat memberikan konstribusi bagi kehidupan

1

Emiliana Sadilah., “Seniman Tari Indonesia Didik Nini Thowok”, dalam Jantra VI/ Juni 2011, (Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2011), hlm. 10.

2

Imam Sutadjo., Kajian Budaya Jawa, (Surakarta: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, 2008), hlm. 54.

(2)

masyarakat, karena melegakan, menghibur, mendukung aktivitas harian, melegitimasi acara, dan membuat romantik manusia.3

Kesenian secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yakni kesenian modern dan kesenian tradisional. Kesenian modern atau non-tradisional yaitu suatu bentuk seni yang penggarapannya didasarkan pada cita rasa baru di kalangan masyarakat pendukungnya, akibat pengaruh dari luar dan bahkan sering pula ada yang bersumber dari cita rasa “Barat”. Sedangkan kesenian tradisional lahir pada masa Indonesia belum merdeka, menggunakan dialek atau bahasa daerah, dan mempunyai identitas regional yang kuat, dan mempunyai pola dramatik tertentu yang dapat diduga sebelumnya.

Kesenian tradisional adalah suatu bentuk seni yang bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya. Pengolahannya didasarkan atas cita-cita masyarakat pendukungnya. Cita rasa disini mempunyai pengertian yang luas, termasuk “nilai kehidupan tradisi”, pandangan hidup, pendekatan falsafah, rasa etis dan estetis serta ungkapan budaya lingkungan. Hasil kesenian tradisional biasanya diterima sebagai tradisi, pewaris yang dilimpahkan dari angkatan tua kepada angkatan muda.4

Seni pertunjukkan tradisional di Indonesia sangat beragam, termasuk di dalamnya seni karawitan Jawa, yang diisi dengan suara sinden. Sinden yaitu swarawati atau penyanyi dalam musik tradisional (Karawitan Jawa). Keberadaan seorang penyanyi dalam sebuah pergelaran musik akan berarti dibandingkan tanpa

3

Dr. Sutiyono, “Mengenal Dan Memahami Seni Tradisional Jhatilan Di Era Global”, Makalah disampaikan dalam kegiatan Workshop dan Festival Seni Tradisi dengan tema “Eksistensi Seni Tradisi di Era Globalisasi”. Di museum Benteng Vredeburg 5-6 Agustus 2009, (Yogyakarta : BPSNT 2009), hlm. 1.

4

(3)

penyanyi.5 Keberadaan sinden sangat penting dan sentral karena mengiringi dan menghibur pada saat pagelaran berlangsung. Pada sebuah pagelaran, sinden biasanya duduk di belakang dalang dan tukang gender serta tukang kendang. Jika hanya seorang diri, biasanya sinden merupakan istri dalang tersebut atau salah satu pengrawit dalam pagelaran tersebut. Seiring dengan perkembangannya, sinden pun dialihkan tempatnya menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan dalang.

Tradisi sinden memang tidak serta merta hilang dimakan arus globalisasi. Namun keberadaan dan animo masyarakat tidak sebesar pada masa keemasannya. Pada umumnya sinden tampil sendiri sebagai penyanyi. Namun terkadang juga terdapat beberapa sinden dalam satu pagelaran, terutama saat pagelaran besar dilaksanakan. Setiap sinden mempunyai ciri khas suara masing-masing. Pada masa emasnya, sinden merupakan profesi yang banyak digemari para wanita. Sinden dianggap bintang panggung karena memiliki pesona dan daya tarik sendiri. Dahulu, sinden dapat menjadi penentu sukses atau tidaknya sebuah pagelaran. Sebuah pagelaran yang diiringi sinden cantik dan bersuara merdu akan menarik banyaknya penonton yang hadir.

Sebagai salah satu bagian dari kebudayaan dan kesenian Indonesia, sinden memang menjadi daya tarik tersendiri. Keberadaannya yang sangat sentral dalam sebuah pagelaran menjadi kunci eksistensi sinden yang masih ada hingga saat ini. Para sinden juga menjadi pewaris kebudayaan dengan segala atribut yang mengiringinya. Tidak hanya sekedar melantunkan lagu, sinden juga harus mengerti dan memahami tentang akar budaya serta kesenian yang ia lantunkan.

5

Samrotul Ilmi Albiladiyah., “Sinden”, dalam Jantra II/ Desember 2007, (Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2007), hlm. 225.

(4)

Tidak heran profesi sinden tidaklah mudah dan penuh tanggung jawab terhadap kelestarian dan kelangsungan budaya Indonesia.

Yogyakarta sebagai daerah istimewa tidak lepas dari kebudayaan yang telah berakar dari zaman dahulu. Kebudayaan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi berdasar cerita dari mulut ke mulut. Pelajaran tentang kehidupan disampaikan melalui cerita-cerita wayang yang pada akhirnya menumbuhkan kesenian pertunjukkan wayang kulit maupun wayang jenis lain. Selain itu,

wejangan dan nasihat tentang pandangan hidup dan sistem kepercayaan juga

ditransmisikan dalam bentuk tembang (lagu) maupun bentuk sastra lainnya. Era modern saat ini, keberadaan sinden memang semakin bergeser seiring dengan meredupnya pagelaran wayang kulit maupun seni tradisional yang menyertakan sinden dalam pementasannya. Perkembangan dan perubahan zaman, membuat profesi sinden semakin ditinggalkan. Namun, di Yogyakarta terdapat seorang seniman tua yang masih tetap menjaga kelestarian seni budaya Jawa khususnya sinden. Ia bernama Maria Magdalena Rubinem yang merupakan pesinden kondang di Yogyakarta pada tahun 1960-an.

Peminat menjadi sinden dalam masyarakat sekarang ini masih sangat sedikit. Tidak jarang pula profesi ini juga mengalami pasang surut popularitasnya, hal inilah yang membuat persaingan profesi sinden juga menumbuhkan perjuangan dalam mempertahankan eksistensi demi mendapatkan citra baik di mata masyarakat. Hingga saat ini, Rubinem tetap mempertahankan kesenian tradisional, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Rubinem telah banyak berjasa di dunia seni Indonesia, salah satunya adalah pada tahun 2008 ia mendapat

(5)

penghargaan dari Persatuan Dalang Indonesia (PEPADI) Pusat Jakarta, dengan gelar Anindya Karya Waranggana.

Bertolak dari latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti permasalahan ini. Alasan dipilihnya permasalahan ini ialah karena masih minimnya pembahasan mengenai biografi tokoh seni tradisi dan penulis ingin menggali lebih dalam mengenai peran Maria Magdalena Rubinem terkait dengan pengabdian dalam melestarikan kesenian tradisi, khususnya di Yogyakarta. Maria Magdalena Rubinem dalam hal ini akan dikaji secara khusus pada segi peran personal yang dikaitkan dengan kesenian tradisi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai beikut:

1. Bagaimana latar belakang kehidupan Pesinden Maria Magdalena Rubinem?

2. Bagaimana kiprah Pesinden Maria Magdalena Rubinem dalam pengembangan dan pelestarian seni tradisi di Yogyakarta tahun 1943-2014?

C. Tujuan Penelitian

Suatu penelitian mempunyai arah dan tujuan yang telah ditetapkan agar dapat bermanfaat dalam penyelesaian. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui latar belakang kehidupan Pesinden Maria Magdalena Rubinem.

(6)

2. Untuk mengetahui kiprah Pesinden Maria Magdalena Rubinem dalam melestarikan seni tradisi tahun 1943-2014.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara akademis dan praktis.

1. Manfaat Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangan yang bermanfaat diantaranya adalah, berguna bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan, dapat digunakan sebagai bahan kajian bagi peneliti lain. Serta diharapkan penelitian ini dapat menambah referensi historiografis sejarah biografi dan budaya.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi pembaca mengenai peran Pesinden khususnya Maria Magdalena Rubinem di Yogyakarta dalam melestarikan kesenian tradisi pada tahun 1943-2014.

E. Tinjauan Pustaka

Buku Sejarah Karawitan yang ditulis oleh R.Soetrisno tahun 1976.6 Buku ini menjelaskan mengenai masa perkembangan sejarah karawitan di Jawa yaitu berupa alat gamelan yang di dalamnya mencakup awal mula munculnya karawitan pada abad XIII masa Kerajaan Demak Bintoro masih berkuasa, terdapat gamelan

Sekati Kyai Guntur Madu yang kemudian diboyong ke Yogyakarta sesudah tahun

1755, yaitu pada masa Raja Hamengku Buwono I dan membuat Kyai Sekati

6

Sutrisno., Sejarah Karawitan, (Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia, 1976).

(7)

Nagawilaga yang anggotanya adalah beberapa niyaga. Pada masa Raden Patah

membuat gamelan yaitu Gamelan Sekaten sebagai alat penyebar ajaran Islam. Dan pada abad XIX setelah mengalami beberapa tahapan. Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV dan Paku Buwono X perkembangan gamelan terdiri dari niyaga dan para penari. Oleh R.Ng. Djayakusuma yaitu pada masa 40 tahun Sri Sunan naik tahta. Karawitan keraton mulai memakai pesinden, taledhek dan wiraswara yang mempunyai tugas mengiringi upacara ritual dan pergelaran Tari Bedhaya

Ketawang dan Srimpi. Buku ini membantu penulis dalam memahami tentang

sejarah munculnya sinden.

R.M Soedarsono dalam bukunya Seni Pertunjukan Indonesia di Era

Globalisasi.7 Berisi tentang sejarah perkembangan seni di Indonesia, yaitu adanya

Bedhaya Ketawang dan Lengger Banyumas pada masa Sunan Paku Buwana XII.

Pada masa kemerdekaan, seni pertunjukkan yang berawal dari seni pertunjukkan istana mengalami pergeseran. Pada masa sebelum kemerdekaan, seni pertunjukan hanya ada di dalam istana dan setelah masa kemerdekaan seni pertunjukan sudah menjadi seni pertunjukan yang dapat dinikmati rakyat umum.

Masa perkembangan seni pertunjukan di Jawa khususnya sinden, mulai menjadi hiburan rakyat, seperti wayang kulit, wayang orang, lengger Banyumas atau ronggeng telah menjadi objek hiburan masyarakat di luar istana, dan perkembangan teknologi yang ada, mewarnai kembang kempisnya hiburan tradisional berkaitan dengan pengaruh budaya dari Barat, sehingga menjadi budaya dan kesenian yang bersifat nasional. Pada masa Orde Baru dan globalisasi oleh para seniman telah memilih kebebasan dalam menampilkan gaya pada

7

R.M Soedarsono., Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, (Jakarta: Dirjen P dan K, 1999).

(8)

sebuah pertunjukan yang disebut multikulturalisme, sehingga membentuk perubahan sosial budaya baru antara lain: perkembangan teknologi, komunikasi, sistem nilai, dan sistem sosial. Buku ini membantu penulis dalam memahami tentang perkembangan seni pertunjukan khusunya sinden di Jawa.

Buku lain dengan judul, Kedudukan Dan Fungsi Pesinden Wayang

Malangan Di Keluarga, Komunitas Seni Pertunjukan Dan Masyarakatnya yang

ditulis oleh Henricus Supriyanto.8 Menjelaskan mengenai, kedudukan pesinden di keluarga memiliki hak untuk memilih suami, memiliki hak untuk menuntut perceraian dengan suaminya, bila terjadi ketidakharmonisan di dalam keluarganya. Kedudukan sinden di komunitas seni pertunjukan, sinden memiliki hak imbalan jasa sama dengan kaum laki-laki, dalam rangking A atau sejajar dengan niyaga (penabuh gamelan) kelas utama. Terakhir kedudukan sinden di masyarakatnya termasuk warga masyarakat yang berhak untuk menggunakan hak bersuara dalam kegiatan politik, tetapi mereka kurang berminat terjun dibidang politik praktis (partai politik).

Buku ini pula menjelaskan mengenai fungsi pesinden yakni, a) Fungsi pesinden di keluarga sebagai ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Bila mereka menuntut perceraian, mereka siap menjadi kepala keluarga, dalam arti mengasuh anak yang dilahirkannya. b) Fungsi pesinden di komunitas seni pertunjukan amat besar, dalam arti pendukung kualitas seni pertunjukan wayang di depan penontonnya. c) Fungsi pesinden dibidang sosial politik tidak menonjol, mereka mempersiapkan mengintegrasikan dirinya di

8

Henricus Supriyanto., “Kedudukan Dan Fungsi Pesinden Wayang Malangan Di Keluarga, Komunitas Seni Pertunjukan Dan Masyarakatnya”, dalam

Studia Philosophia et Theologica Volume 6 Nomer 2 2006, (Surabaya: Lembaga

(9)

tengah masyarakat, dan membantu dibidang pelayanan orang sakit, atau pelayanan warga masyarakat yang terkena musibah.

Isnin Sholihin, Kehidupan Pesindhen Di Kecamatan Gondang Kabupaten

Sragen (Suatu Kajian Sejarah Kebuadayaan/Kesenian).9 Isnin Sholihin dalam penelitian skripsinya, menjelaskan mengenai proses masuknya sinden dalam seni pertunjukan wayang kulit di Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen melalui beberapa proses antara lain berdasarkan keturunan, pewarisan ilmu, dan pembelajaran secara alami. Dijelaskan pula tentang stratifikasi yang terjadi pada kelas sinden adalah berdasarkan kedudukan yang diukur dari materi, sarana kesenian dan kemampuan secara individu dalam menghadapi pasar (pilihan masyarakat), antara lain: Sinden Wayang Kulit menduduki kelas tertinggi, Sinden Campursari menduduki kelas kedua (menegah keatas), Sinden Tayub menduduki kelas ketiga (menengah ke bawah) dan, Sinden Ambharang menduduki kelas paling bawah.

Yuana Budi Listiyowati, Peran Waranggana dalam Pagelaran Seni

Pertunjukan di Keraton Yogyakarta 1950-1970.10 Dalam penelitian skripsinya,

Yuana Budi Listiyowati menjelaskan mengenai kehidupan sehari-hari seorang wanita yang memiliki profesi sebagai waranggana. Dijelaskan pula adanya peran sinden baik di lingkungan keraton dan di dalam masyarakat. Diungkap juga perkembangan seni pertunjukan di Keraton Yogyakarta yang mampu dikenal oleh

9

Isnin Sholihin., Kehidupan Pesinden Di Kecamatan Gondang Kabupaten

Sragen: Suatu Kajian Sejarah Kebudayaaan/Kesenian, (Surakarta: Skripsi

Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, 2005).

10

Yuana Budi Listiyowati., Peran Waranggana dalam Pagelaran Seni

Pertunjukan di Keraton Yogyakarta 1950-1970, (Yogyakarta: Skripsi Program

(10)

bangsa lain, hal ini menjadi apresiasi tentang seniman di Yogyakarta, salah satunya adalah Maria Magdalena Rubinem. Dalam keraton terdapat sekolah bagi

waranggana yang sifatnya boleh diikuti oleh siapapun, sekolah ini menjadi peran

penting bagi seorang waranggana untuk tetap melestarikan ilmunya.

F. Metode Penelitian

Penelitian sejarah dalam studi ini menggunakan pandangan sejarah kritis yang didasarkan kepada metode hirtoris. Metode historis merupakan metode kegiatan mengumpulkan, menguji, menganalisis secara rekaman dan peninggalan masa lampau, dan kemudian diadakan rekonstruksi dari data yang diperoleh sehingga menghasilkan historiografi (penulisan sejarah).11

Penelitian mengenai Peinden Maria Magdalena Rubinem Dalam Upaya Pelestarian Kesenian Tradisi Di Yogyakarta (1943-2014) menggunakan metode historis atau metode sejarah. Pendekatan historis adalah sekumpulan prinsip dan aturan yang sistematis yang dimaksud untuk memberi bantuan secara efektif dalam usaha mengumpulkan bahan-bahan bagi sejarah, menilai secara kritis, dan kemudian menyajikan suatu sintesa hasil dalam bentuk tertulis.12 Metode sejarah terbagi dalam empat tahap kegiatan yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi.

11

Louis Gottschalk., Mengerti Sejarah, (Jakarta: University Indonesia Press, 1986), hlm. 32.

12

Nugroho Notosusanto., Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer:

(11)

1. Heuristik

Heuristik adalah tahap pengumpulan data atau sumber-sumber sejarah. Dalam penulisan ini teknik yang digunakan untuk mendapatkan sumber adalah dengan studi dokumen, studi pustaka dan wawancara.

a). Studi Dokumen

Studi dokumen dimaksudkan untuk memperoleh data primer yang berupa dokumen atau arsip mengenai Pesinden Maria Magdalena Rubinem dalam upaya pelestariaan kesenian tradisi karawitan di Yogyakarta dan sebagainya. Dokumen-dokumen yang dijadikan sumber berasal dari Reksapustaka Mangkunegaran, Monumen Pers, Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, Arsip Daerah Kabupaten Sleman dan koleksi keluarga, berupa arsip visual foto-foto Maria Magdalena Rubinem dan beberapa gambar yang berkaitan dengan pelaku sejarah yang penulis peroleh dari keluarga Maria Magdalena Rubinem.

b). Studi Pustaka

Studi pustaka ini digunakan sebagai bahan pendukung untuk memperkuat sumber dokumen yang digunakan. Riset kepustakaan dengan membaca buku-buku dan sumber sekunder lainnya seperti koran, majalah yang berkaitan dengan topik pembahasan yang sejaman. Adapun buku, koran dan majalah tersebut diperoleh dari Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Monumen Pers, Perpustakaan Balai Pelstarian Nilai Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

(12)

c). Wawancara

Sebagian besar data untuk menulis tugas ini berupa sumber lisan maka dalam pengumpulan data menggunakan teknik wawancara. Wawancara dilakukan dalam rangka untuk memperoleh informasi dan melengkapi data tertulis yang kurang. Dalam wawancara ini digunakan teknik wawancara yang berstruktur, artinya wawancara yang dilakukan akan mengalami perkembangan setelah di lapangan. Wawancara dilakukan terhadap pelaku sejarah langsung yakni, Maria Magdalena Rubinem, dan ditambah dengan keterangan lisan dari beberapa informan sebagai sumber sekunder. Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi. Pemilihan informan dilakukan untuk mandapatkan keterangan tentang diri pribadi, pandangan dari individu yang diwawancarai.13

2. Kritik Sumber

Tahap kedua adalah kritik sumber, yaitu usaha pencarian keaslian data yang diperoleh melalui kritik intern maupun ekstren.14 Apabila kritik atau pengujian telah dilakukan maka sumber-sumber yang dianggap benar atau valid dijadikan dasar untuk membangun fakta. Untuk analisa terhadap data-data dilakukan secara deskriptif kualitatif, karena data-data yang dikumpulkan pada dasarnya adalah data-data kualitatif. Analisa dilakukan setelah data-data yang terkumpul, kemudian diinterpretasikan, ditafsirkan, dan dianalisis dengan mencari

13

Koentjaraningrat., Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: PT Gramedia, 1981), hlm. 127.

14

Dudung Abdurrahman., Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), Hlm. 58.

(13)

hubungan sebab akibat dari suatu fenomena sosial pada cakupan waktu dan tempat tertentu.15

3. Interpretasi

Intrepretasi diartikan sebagai memahami makna yang sebenarnya dari sumber-sumber atau bukti-bukti sejarah. Fakta sebagai hasil “kebenaran” dari sumber sejarah setelah melalui pengujian yang kritis tidak akan bermakna tanpa dirangkaikan dengan fakta lain. Proses perangkaian itu disebut eksplanasi. Hasil eksplanai tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tertulis yang disebut rekontruksi, yaitu dengan menyusun fakta-fakta kemudian menjadi sebuah kisah sejarah. Tujuan kegiatan ini adalah merangkaikan fakta-fakta menjadi kisah sejarah dari bahan sumber-sumber yang belum merupakan suatu kisah sejarah. 4. Historiografi

Historiografi yang merupakan penyajian hasil penelitian dalam bentuk tulisan baru berdasarkan bukti-bukti yang telah diuji. Sumber-sumber bahan dokumen dan studi kepustakaan, selanjutnya dianalisis, diintrepretasikan dan ditafsirkan isinya. Data-data yang telah dikaji kebenarannya itu merupakan fakta-fakta yang dirangkai menjadi kisah sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

15

Nasution., Metode Reseach Penelitian Ilmiah, (Bandung: Jemaars, 1982), hlm. 10.

(14)

G. Sistematika Penulisan

Penulisan ini akan lebih mudah dipahami apabila disusun secara sistematis, oleh karena itu penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I berisi tentang pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian serta sistematika penulisan.

Bab II membahas mengenai perkembangan sinden di wilayah Yogyakarta, berisi tentang sejarah kesenian tradisional, pengertian sinden, dan sinden di Yogyakarta dari masa ke masa.

Bab III membahas mengenai latar belakang kehidupan Pesinden Maria Magdalena Rubinem, berisi tentang masa kecil, karier dan Maria Magdalena Rubinem sebagai sinden tiga zaman.

Bab IV membahas mengenai Pesinden Maria Magdalena Rubinem dalam upaya pelestarian kesenian tradisi di Yogyakarta tahun 1943-2014, berisi tentang pengertian peran dan pelestarian, peran dalam pengembangan pelestarian kesenian tradisi di Yogyakarta, perubahan kehidupan sosial ekonomi, hasil karya dan penghargaan, terakhir mengenai tangapan masyarakat terhadap Pesinden Maria Magdalena Rubinem.

Bab V Kesimpulan, berisi inti dari empat bab sebelumnya sekaligus sebagai jawaban dari permasalahan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :