PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) merupakan lembaga keuangan mikro syariah yang berbadan hukum koperasi jasa keuangan syariah. Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) muncul sebagai lembaga keuangan mikro berbasis syariah dan berupaya memberikan solusi bagi masyarakat kelas bawah.
Pertanyaan Penelitian
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian Relevan
Senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Lenny Putri Sulistyaningrum, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang berjudul Perlindungan Nasabah BMT Batik Mataram Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.10 Yang memuat tentang perlindungan hukum nasabah sebagai konsumen pada BMT Batik Mataram sudah sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. menjaga kepercayaan pelanggan. Dan terdapat perbedaan mendasar yang terlihat dari tesis Lenny Putri Sulistyaningrum tentang perlindungan hukum berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999, sedangkan peneliti berdasarkan kumpulan hukum dagang syariah dan penelitian yang dilakukannya berdasarkan tinjauan pustaka dan Lenny Putri Sulistyaningrum pada penelitian lapangan.
Metode Penelitian
- Jenis dan Sifat Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tentang Kedudukan Badan Hukum dan Pengawasan Baitul Maal Wat Tamwil (Bmt), Jurnal Economica, Vol. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tentang Kedudukan Badan Hukum dan Pengawasan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT), 18.
BAITUL MAAL WA TAMWIL
Pengertian Baitul Maal Wa Tamwil
BMT merupakan lembaga ekonomi atau lembaga keuangan syariah non perbankan yang bersifat informal karena lembaga ini didirikan oleh kelompok swadaya masyarakat 2 Menurut Hosen dan Hasan Ali, BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) merupakan lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil, pertumbuhan bisnis.Usaha mikro untuk meningkatkan derajat dan martabat serta melindungi kepentingan masyarakat miskin tumbuh di atas. Jadi BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang mempunyai fungsi sosial yang tinggi di masyarakat. BMT merupakan singkatan dari Balai Usaha Mandiri Terpadu atau Baitul Mal wat Tamwil yang merupakan lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah.
BMT merupakan lembaga ekonomi atau keuangan syariah non bank yang bersifat informal karena lembaga ini didirikan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang berbeda dengan lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan formal lainnya.
Dasar Hukum BMT
Secara teknis pelaksanaan Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) tunduk pada ketentuan Fatwa DSN MUI No. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah 35.2/Per/M.KUKM/X/2007 tentang Pedoman Standar Operasional Pengelolaan Koperasi Jasa Keuangan Syariah, dan. Dari ketentuan di atas mengenai dasar hukum BMT masih dalam lingkup koperasi, berdiri kokoh dengan payung hukum yang ada untuk melindungi keuangan mikro.
BMT yang merupakan lembaga keuangan mikro syariah berbeda dengan koperasi pada umumnya yang merupakan kegiatan keuangan mikro yang bersifat konvensional, dalam hal ini BMT merupakan lembaga keuangan syariah yang berbeda dengan konvensional.
Peran dan Fungsi BMT
BMT harus aktif menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan mikro, misalnya dengan melakukan pendampingan, pembinaan, pendampingan dan pengawasan usaha nasabah. Jadi BMT harus bisa melayani masyarakat dengan lebih baik, misalnya selalu tersedia dana setiap saat, birokrasi yang sederhana dan lain sebagainya. Dari ketentuan di atas mengenai peran dan fungsi BMT sebagai lembaga keuangan mikro syariah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berdasarkan prinsip syariah mempunyai peran dalam menjalankan aktivitasnya.
Selain memberikan kesempatan memperoleh kekayaan, BMT juga menjembatani proses simpan pinjam dengan tujuan berdasarkan prinsip syariah dengan ketentuan bahwa proses simpan pinjam.
Dasar Operasional BMT
Pendirian lembaga keuangan mikro mempunyai persyaratan berbeda sebagaimana tercantum dalam UU No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro : 11. 10Rana Ayu Azizah, Noven Suprayogi, Analisis Fungsi Optimal Baitul Maal pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus Bmt Nurul di Gresik dan Bmt Muda di Surabaya), Jurnal JESTT, Vol. Pada Pasal 5 ayat 1 dijelaskan bahwa bentuk badan hukum yang dapat digunakan oleh lembaga keuangan mikro adalah Koperasi atau Perseroan Terbatas.
Dari berbagai ketentuan di atas terlihat jelas bahwa BMT merupakan lembaga keuangan non perbankan yang masih kurang jelas mengenai ketentuan hukum yang berlaku terhadap ketentuannya, sehingga BMT masih berada di bawah naungan undang-undang yang mengatur berbagai kegiatan Lembaga Keuangan Mikro lainnya.
Kekuatan Hukum BMT Sebagai Lembaga Non Bank
Dalam kaitan ini, perlindungan hukum terhadap anggota BMT menggunakan payung hukum Undang-Undang Lembaga Keuangan Mikro No. Namun aturan dalam Undang-Undang Lembaga Keuangan Mikro No 1 Tahun 2013 bukan merupakan ketentuan hukum bagi anggota BMT, melainkan perlindungan bagi pengguna jasa. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro LKM tentang Status Badan Hukum dan Pengawasan Baitul Maal Wat Tamwil Bmt.
1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro LKM untuk Status Badan Hukum dan Pengawasan Baitul Maal Wat Tamwil Bmt.
PERLINDUNGAN HUKUM
Pengertian Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum menurut Satjipto Raharjo adalah memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan oleh orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati seluruh hak yang diberikan undang-undang.1 Masih menurut Satjipto Rahardjo, hukum adalah untuk melindungi kepentingan seseorang dengan cara memberikan waktu kekuasaan kepadanya untuk bertindak sehubungan dengan kepentingan tersebut.2 Dari uraian di atas mengenai penjelasan perlindungan hukum, dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum mempunyai peranan yang sangat penting seperti penegak hak-hak masyarakat, dimana hukum berfungsi melindungi masyarakat dari ketidakadilan, karena tidak ada pihak yang menjadi korban akibat ditegakkannya hukum. Walaupun BMT belum memiliki payung hukum sendiri, namun disinilah peran perlindungan hukum sangat dinantikan oleh para anggota yang menjadi korban akibat dari suatu kegiatan yang merugikan anggota BMT.
Macam-macam Perlindungan Hukum
Dalam pelaksanaan berbagai jenis perlindungan hukum, perjalanan hukum dapat dikaitkan dengan fungsi hakiki hukum, yaitu menjaga stabilitas dan kepastian, kedua hal inilah yang menjadi tujuan utama hukum. 4 Rudolf van Lhering mengatakan bahwa hukum adalah hanya satu. cara untuk mencapai tujuan masyarakat yaitu dengan melaksanakan kontrol sosial, selanjutnya menurut Rudolf van Lhering hukum merupakan suatu instrumen untuk melayani kebutuhan masyarakat di suatu tempat dimana terjadi konflik yang tidak dapat dihindari antara kebutuhan sosial setiap orang dan masyarakat. kepentingan pribadi masing-masing.5. Perlindungan hukum merupakan gambaran berjalannya fungsi hukum untuk mewujudkan tujuan hukum, yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Perlindungan hukum adalah perlindungan yang diberikan kepada subjek hukum sesuai dengan peraturan hukum, baik yang bersifat menindas, baik tertulis maupun tidak, guna menegakkan peraturan hukum.
Urgensi Perlindungan Hukum
Kepatuhan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Dasar, serta keputusan yang disepakati dalam Rapat Anggota; Urgensi UU BMT dengan demikian mengacu pada struktur sistem hukum yang berhubungan langsung dengan pelaku korporasi BMT dengan mengacu pada UU Lembaga Keuangan Mikro dan UU Koperasi.
Lembaga Penjamin Simpanan
Berdasarkan UU LPS, fungsi penjaminan simpanan juga mencakup simpanan pada bank syariah, baik bank umum, unit usaha syariah, dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Menunjuk memberi kuasa dan/atau menugaskan pihak lain untuk bertindak demi kepentingan LPS dan/atau atas nama LPS untuk melaksanakan tugas tertentu. Peninjauan kembali, pembatalan, pengakhiran dan/atau perubahan kontrak yang mengikat bank yang diselamatkan dalam keadaan tertekan dengan pihak ketiga yang merugikan bank, dan.
Menjual dan/atau memindahtangankan harta kekayaan bank tanpa izin debitur dan/atau kewajiban tanpa izin kreditur.
Perlindungan Hukum Nasabah Penyimpan Dana Jika BMT
Karena BMT pada hakikatnya menghimpun simpanan anggota, maka ketentuan mengenai perlindungan anggota BMT terikat pada ketentuan Undang-Undang Lembaga Keuangan Mikro sebagai payung hukum BMT. Selain dibawah naungan hukum lembaga keuangan mikro, BMT juga dibawah naungan hukum koperasi. Meskipun BMT belum memiliki payung hukum sendiri, namun BMT dapat menggunakan payung hukum seperti lembaga keuangan mikro dan koperasi.
Asas keseimbangan juga diperlukan dalam perlindungan hukum nasabah BMT, yaitu adanya keseimbangan antara pelaku usaha, nasabah dan pemerintah sehingga sistem lembaga keuangan mikro dapat terwujud.
PERLINDUNGAN BAGI ANGGOTA BMT
BMT Bermasalah
Saat ini banyak lembaga keuangan mikro yang menghadapi permasalahan seperti pembekuan dana, penggelapan dana nasabah, yang akan berdampak pada nasabah dan anggota lembaga keuangan tersebut. Pasalnya, uang yang ditransfer ke BMT Insan Bina seharusnya dibelanjakan secara pribadi dan banyak nasabah yang mengalami kerugian.1 Permasalahan ini berdampak buruk bagi lembaga keuangan mikro serta reputasi dan kinerja BMT sebagai lembaga keuangan yang hadir untuk memberikan sinergi investasi dan pinjaman. dana Bagi setiap lapisan masyarakat terdapat nilai-nilai yang kurang baik untuk menjalankan aktivitas seperti lembaga keuangan sebagaimana mestinya. Selain itu, permasalahan perizinan juga dapat memberikan dampak buruk bagi lembaga keuangan BMT, karena perizinan merupakan suatu legalitas yang harus dipenuhi untuk menjamin perlindungan terhadap anggota dan nasabah BMT.
Seperti yang terjadi pada BMT Dana Mulya Syariah Lampung Selatan yang masih belum diketahui legalitasnya, dan dana simpanan yang diberikan nasabah tidak jelas, serta BMT saat ini tutup dan anggota atau pengelolanya menghilang.2 Dari kasus ini terlihat jelas legalitasnya. Badan hukum BMT merupakan suatu hal yang penting untuk diketahui karena akan mempengaruhi aktivitas lembaga keuangan tersebut.
Perlindungan Hukum Anggota BMT dalam Hukum Positif
POJK Nomor 62/POJK.05/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13/POJK.05/2014 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Lembaga Keuangan Mikro. POJK Nomor 61/POJK.05/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.05/2014 tentang Perizinan Usaha Lembaga Keuangan Mikro. POJK Nomor 14/POJK.05/2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.05/2014 tentang Pembinaan dan Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro.
Dalam lembaga BMT dibentuk DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang bertugas memastikan seluruh produk dan aktivitas lembaga keuangan syariah sesuai dengan prinsip syariah.
Perlindungan Hukum Bagi Anggota BMT
Lembaga Keuangan Mikro, dan dalam undang-undang ini perlindungan terhadap pengguna dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat mengenai tabungan pada lembaga keuangan mikro tersebut. Selain itu, lembaga keuangan mikro dalam undang-undang ini memberikan perlindungan dengan merahasiakan simpanan dan simpanannya, dan apabila anggota BMT memberikan informasi kepada pihak lain mengenai keadaan simpanan dan simpanan pada lembaga keuangan mikro tersebut maka akan dikenakan sanksi. administratif. Oleh karena itu, diperlukan adanya komunikasi yang baik serta materi hukum, struktur hukum dan kesadaran hukum bagi para pelaku lembaga keuangan mikro seperti BMT.
Analisis Fungsi Optimal Baitul Maal pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah Studi Kasus Bmt Nurul Jannah di Gresik dan Bmt Muda di Surabaya.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum terhadap anggota BMT dikaji dengan bantuan ketentuan hukum positif. Walaupun BMT belum mempunyai payung hukum sendiri, namun BMT menggunakan payung hukum seperti lembaga keuangan mikro dan koperasi, namun dalam perlindungan anggota BMT payung hukum ini tidak banyak dibahas, sehingga BMT dapat menggunakan payung hukum perlindungan konsumen. untuk memberikan perlindungan kepada anggotanya. Prinsip yang terkandung dalam perlindungan BMT juga menggunakan asas manfaat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999. Asas manfaat ini adalah menempatkan para pihak, produsen dan konsumen pada posisi yang sama, sehingga tidak ada kerugian bagi salah satu pihak. baik nasabah maupun BMT, dan masing-masing pihak dapat memperoleh haknya.
Asas penting lainnya adalah asas kepastian hukum, yaitu asas yang memperbolehkan badan usaha dan konsumen untuk menaati peraturan yang berlaku sehingga tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang telah diatur.
Saran
Keputusan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Nomor: 91/Kep/M.KUMK/IX/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Koperasi Di Bidang Jasa Keuangan Syariah. Menggagas organisasi payung hukum BMT Baitul Maal Wat Tamwil sebagai koperasi syariah dalam kerangka Ius Constituendum. Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Pengawasan Lembaga BMT Baitul Maal wa Tamwil: Studi Kasus BMT Global Insani.
Rmlojateng Republik Merdeka menggelapkan Miliaran Rupiah Pegawai Koperasi BMT yang ditangkap Polres Banyumas https://www.rmoljateng.com/.