• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Pendidikan dan Tantangan Pembangunan Pendidikan Nasional

N/A
N/A
Marwah Hidayah

Academic year: 2024

Membagikan " Permasalahan Pendidikan dan Tantangan Pembangunan Pendidikan Nasional"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

viii, 186 hlm, Tab, 16 cm

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Hak Cipta @ Husamah, Arina Restian, Rohmad Widodo Hak Terbit pada UMM Press

Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang 65144 Telpon (0341) 464318 Psw. 140,

Fax (0341) 460435

E-mail: [email protected] http://ummpress.umm.ac.id Cetakan Pertama September, 2015

ISBN : 978-979-796-360-6

Setting, Layout & Cover : Andi Firmansah

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit. Pengutipan harap menyebutkan sumbernya.

PENGANTAR PENDIDIKAN

(3)

B. Permasalahn Pendidikan dan Tantangan Pembangunan Pendidikan Nasional

1. Permasalahan Pendidikan

Sementara itu, menurut Wahab (2007) dan DITNAGA-DIKTI (2010), hambatan atau permasalahan dalam rangka menegakkan sistem pendidikan nasional, dapat diidentifikasi ada beberapa hambatan dan tantangan yang perlu dihadapi.

a. Personalia Pengelolaan dan Pengawasan Pendidikan

Profesionalisme pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan masih rendah (termasuk dalam permasalahan efisiensi pendidikan).

Pengelolaan atau birokrasi pendidikan masih menunjukkan efektivitas dan efisiensi yang belum menggembirakan yang diindikasikan dengan beberapa hal, di antaranya: penentuan pejabat di lingkungan pendidikan tidak selalu ber-track record baik di bidang pendidikan; penentuan kepala sekolah dan penempatannya masih kurang transparan, sehingga tidak selalu diperoleh the right man on the right place. Setelah penyelenggaraan pendidikan diotonomikan, ada kecenderungan bahwa penentuan para pejabat di lingkungan dinas pendidikan kurang begitu mempertimbangkan track-record-nya. Demikian pula dalam penentuan Kepala sekolah tidak jarang muatan politisnya lebih menonjol, sehingga berkonsekuensi logis terhadap rendahnya kemandirian kerja mereka.

Hal yang juga sangat penting disadari, bahwa masih banyak pendidik belum memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagaimana yang diharapkan dalam Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD).

Sementara itu, sistem pengawasan penyelenggaraan pendidikan cenderung dilakukan oleh pengawas yang belum membanggakan.

Penentuan pengawas seringkali tidak didasarkan pada kompetensi, melainkan karena usia. Sering kali penentuan pengawas hanya ditentukan oleh kepentingan untuk memperpanjang masa pensiun.

b. Kualifikasi dan Kompetensi Guru

Kualifikasi dan kompetensi guru masih under-qualified. Jika mengacu pada tuntutan undang-undang dan kualitas pendidikan yang diharapkan, mayoritas kualifikasi dan kompetensi guru masih jauh dari yang

(4)

seharusnya. Guru yang profesional harus memiliki kualifikasi dan ciri- ciri tertentu, sebagaimana diamanahkan oleh UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, dan PP Standar Nasional Pendidikan (SNP). Menurut Suyanto (2007) dari ciri-ciri profesionalisme yang dikemukakan di atas jelaslah bahwa guru tidak bisa datang dari mana saja tanpa melalui sistem pendidikan profesi dan seleksi yang baik. Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter (usaha objekan). Namun kenyataan dilapangan menunjukkan adanya guru, yang tidak berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa melalui sistem seleksi profesi.

Rendahnya kualitas guru Indonesia ditunjukkan dengan Hasil Uji Kompetensi Guru pada tahun 2012 terhadap 460.000 guru, dimana nilai rata-rata uji kompetensi guru adalah 44,5, jauh di bawah Standar yang diharapkan yaitu 70 (Baswedan, 2014). Kualifikasi dan kompetensi guru yang rendah menyebabkan proses pembelajaran dan pendidikan yang ada cenderung masih di bawah standar. Proses pembelajaran cenderung hanya menuntut low level thinking skills, misalnya lebih banyak menuntut hafalan. Proses pembelajaran lebih cenderung one-way trafic system dan kurang melibatkan peserta didik. Selain itu, dinamika sosial dan budaya yang terjadi dewasa ini berpengaruh secara berarti terhadap kemampuan, kesiapan dan komitmen peserta didik dalam belajar. Permasalahannya, kondisi ini belum sepenuhnya dijadikan landasan pijak guru dalam mengembangkan program dan proses pendidikan dan pembelajarannya, sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas pendidikan belum sepenuhnya menggembirakan, karena belum dapat menjamin kepuasan stakeholders utamanya.

c. Sertifikasi guru dan dosen

Program sertifikasi guru dan dosen juga menyisakan problem yang tidak sedikit. Bagi guru program ini mengakibatkan kesenjangan yang jelas antara guru yang sudah mendapatkan sertifikasi dengan yang belum. Di samping karena masalah gaji yang berbeda, ternyata prestis di antara guru yang professional dengan yang belum juga berbeda.

Akibatnya adalah terjadi kinerja yang kurang maksimal di kalangan para guru yang belum profesional dengan alasan kurangnya gaji yang diterima dibanding dengan guru yang sudah profesional. Hal yang sama juga terjadi di kalangan dosen. Bahkan problem besar di kalangan dosen terkait dengan kebijakan ini adalah banyaknya dosen yang

(5)

profesional ini tidak mau melanjutkan studi ke jenjang berikutnya (Strata 3/program doktor) karena jika melanjutkan studi tunjangan sertifikasinya akan dihentikan. Namun demikian, tidak sedikit juga dosen yang mengambil keputusan tetap harus melanjutkan studi karena ada harapan untuk meraih kesejahteraan yang lebih baik lagi, yakni ketika pada akhirnya memperoleh jabatan guru besar yang mendapatkan tunjangan kehormatan di samping juga mendapatkan tunjangan sertifikasi (Marzuki, 2010).

d. Anggaran Pendidikan

Anggaran pendidikan yang ditetapkan dengan ukuran minimal 20% baik untuk APBN maupun APBD pada hakekatnya berpotensi bagi tingkat kelancaran penyelenggaraan pendidikan. Dana yang dialokasikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi relatif tinggi, jika dikaitkan dengan kewenangan yang diberikan. Sebaliknya dana yang dialokasikan oleh pemerintah kabupaten/kota relatif sedikit jika dikaitkan dengan kewenangan tanggung jawab yang harus dipikul, terutama sebagai penyelenggara pendidikan dasar dan menengah. Hal ini cenderung dan rentan menimbulkan masalah. Seharusnya daerah mengalokasikan dana lebih besar untuk pendidikan, karena Laporan Bank Dunia pada tahun 2013 menunjukkan keterkaitan antara keberpihakan kepemimpinan lokal dengan kinerja pendidikan.

Temuannya adalah bahwa daerah yang memprioritaskan pendidikan dan menyisihkan anggaran lebih besar cenderung mendapatkan hasil kinerja pendidikan yang lebih baik (Baswedan, 2014). Keterbatasan anggaran karena kemampuan pemerintah yang terbatas dan rendahnya partisipasi masyarakat termasuk permasalahan efisiensi pendidikan (Sauri, 2009).

Sementara itu menurut Marzuki (2010) kebijakan pendidikan berupa praktik pelaksanaan wajib belajar yang kemudian memunculkan jargon “Sekolah Gratis” belum semuanya ditanggapi dengan baik dan diterima secara penuh oleh semua warga sekolah. Masih ada pihak- pihak yang merasa dirugikan dengan adanya kebijakan ini, sehingga melakukan hal-hal yang merugikan sekolah, yang akhirnya merugikan siswa dan orang tua siswa. Ketika terjadi pengetatan dana dengan dalih kebijakan “sekolah gratis”, program-program yang sudah berjalan dengan baik mulai sedikit demi sedikit terabaikan. Sebagai konsekuensi adanya “sekolah gratis” bagi sekolah negeri menjadikan sebagian dari sekolah-sekolah yang dikelola oleh swasta menjadi “mati”.

(6)

e. Fasilitas

Keterbatasan dalam hal sarana, prasarana, aksesibilitas, tenaga guru, dan fasilitas pendidikan lainnya merupakan permasalahan terkait aspek pemerataan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia masih belum mencukupi, terlebih-lebih untuk sekolah dasar yang sebagian besarnya merupakan bangunan inpres (Instruksi Presiden).

Banyak sekolah yang bagunannya sudah tidak layak pakai dan rusak.

Demikian pula sarana-prasarana sekolah yang ada di daerah pedesaan, apalagi sekolah-sekolah yang tersedia di pedesaan jauh lebih banyak.

Kalau sekiranya sudah tersedia, masih dijumpai cukup banyak yang belum diptimalkan penggunaannya.

Sarana dan prasarana pendidikan yang jauh memadai dari ukuran standar secara potensial dapat menghambat proses pendidikan, apalagi jika dikaitkan dengan dinamika masyarakat dan kemajuan IPTEKS dewasa ini. Fasilitas untuk akses informasi melalui teknologi informasi dan komunikasi yang sudah mendesak tidak dapat dihindarkan. Jika kondisi ini tidak segera dapat diwujudkan, sangat mungkin ketertinggalan bangsa Indonesia dalam mencapai pendidikan bermutu menjadi problem yang serius.

Kondisi sekolah yang tidak mendukung ini dibuktikan dengan data bahwa 75% sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. Hal ini berdasarkan pemetaan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap 40.000 sekolah pada tahun 2012 (Baswedan, 2014).

f. Standardisasi Pendidikan

Kebijakan adanya standardisasi pendidikan juga menyisakan beberapa problem, terutama bagi sekolah-sekolah swasta. Tidak banyak sekolah swasta yang mampu membenahi kelembagaannya sehingga dapat mewujudkan sekolah yang berstandar nasional. Kebijakan ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi para pengelola sekolah, sebab jika tidak bisa mewujudkan sekolah yang berstandar akan berakibat berkurangnya minat masyarakat bersekolah di sekolah tersebut. Jika hal ini terjadi akan mengurangi pemasukan dana yang menjadi tulang punggung sekolah untuk menjalankan program-program sekolahnya.

g. Evaluasi Pendidikan

Sistem evaluasi pendidikan yang digunakan belum komprehensif.

Sistem evaluasi pendidikan lebih cenderung mengandalkan penilaian

(7)

akademik untuk menentukan keberhasilan pendidikan peserta didik, misalanya hanya melalui keberhasilan mengikuti Ujian Nasional atau sejenisnya, di samping belum melibatkan aspek-aspek lainnya, sehingga terjadi ketidak-ajegan dalam proses pendidikan, karena tidak sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

Menurut Yusuf (2012) sistem evaluasi pendidikan melahirkan anomali reformasi yang besar. Sistem evaluasi pendidikan, misalnya Ujian Nasional, hingga sekarang belum menunjukkan signifikansi pengaruh terhadap perbaikan mutu belajar. Efeknya malah memalingkan siswa dari kepercayaan terhadap sekolah formal. Peserta didik berbondong ikut bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan informal seperti kursus dan privat. Motivasinya jelas adalah kecemasan menyambut ujian akhir atau ujian nasional.

h. Relevansi Pendidikan dan Dukungan Masyarakat

Permasalahan relevansi pendidikan bisa dilihat dari tiga indikator yakni kemitraan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang belum optimal, kurikulum yang belum berbasis masyarakat dan potensi daerah, serta kecakapan hidup (life skill) yang dihasilkan belum optimal. Jika dicermati sungguh-sungguh bahwa dukungan masyarakat, terutama masyarakat dunia usaha dan dunia industri (DUDI) terhadap penyelenggaraan semua jenjang pendidikan masih terbatas. Padahal tanggung jawab pendidikan ada di pundak pemerintah, sekolah, dan masyarakat. DUDI cenderung menanti lulusan untuk rekruitmen tenaga barunya, tanpa ada sharing yang cukup dalam proses pendidikannya.

i. Arus Globalisasi

Globalisasi memungkinkan adanya akses yang terbuka terutama dalam kehidupan ekonomi, dengan begitu transaksi ekonomi tidak ada pembatasan yang mutlak, sejak terhitung saat konvensi telah disepakati.

Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif (comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ketidaksiapan setiap warga negara Indonesia dalam berkompetisi dapat menyebabkan bangsa Indonesia akan menjadi tamu di negara sendiri.

(8)

Globalisasi jika tidak diantisipasi dapat mengancam eksistensi Indonesia sebagai suatu negara. Globalisasi justru melahirkan semangat cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih sekolah-sekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika kondisi sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality (berkualitas rendah).

j. Arus informasi dan Kemajuan IPTEK

Arus informasi yang begitu deras seiring dengan globalisasi tidak dapat dibendung dengan mudah. Lebih membahayakan lagi jika arus informasi itu memiliki muatan nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Pengendalian dan filterisasi pengaruh budaya luar yang tidak dapat dilakukan secara efektif dan mantap, cenderung dapat merusak sendi-sendi nilai bangsa, bahkan bisa mengancam disintegrasi.

Kemajuan IPTEKS di samping mendatangkan kesejahteraan, juga dapat berdampak negatif terhadap kesehatan lingkungan dan polusi- polusi lain yang membahayakan kesehatan manusia. Untuk dapat memanfaatkan kehadiran kemajuan IPTEKS, sangat dituntut bangunan masyarakat yang berbasis pengetahuan.

k. Persoalan Karakter

Menurut DITNAGA-DIKTI (2010) di kalangan pelajar dan mahasiswa dekadensi moral ini tidak kalah memprihatinkan. Perilaku menabrak etika, moral dan hukum dari yang ringan sampai yang berat masih kerap diperlihatkan oleh pelajar dan mahasiswa. Kebiasaan

“mencontek” pada saat ulangan atau ujian masih dilakukan. Keinginan lulus dengan cara mudah dan tanpa kerja keras pada saat ujian nasional menyebabkan mereka berusaha mencari jawaban dengan cara tidak beretika. Mereka mencari bocoran jawaban dari berbagai sumber yang tidak jelas. Apalagi jika keinginan lulus dengan mudah ini bersifat institusional karena direkayasa atau dikondisikan oleh pimpinan sekolah dan guru secara sistemik. Pada mereka yang tidak lulus, ada di antaranya yang melakukan tindakan nekat dengan menyakiti diri atau bahkan bunuh diri. Perilaku tidak beretika juga ditunjukkan oleh mahasiswa.

Plagiarisme atau penjiplakan karya ilmiah di kalangan mahasiswa juga masih bersifat massif. Bahkan ada yang dilakukan oleh mahasiswa program doktor. Semuanya ini menunjukkan kerapuhan karakter di kalangan pelajar dan mahasiswa.

(9)

2. Tantangan Pembangunan Pendidikan Nasional

Menurut Kemendiknas (2010) berdasarkan analisis faktor eksternal, Internal, potensi, dan permasalahan pendidikan dapat diidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam melaksanakan pembangunan pendidikan lima tahun ke depan. Tantangan-tantangan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Melengkapi peraturan turunan yang diamanatkan undang-undang di bidang pendidikan;

b. Memenuhi komitmen global untuk pencapaian sasaran-sasaran Millenium Development Goals (MDGs), Education For All (EFA), dan Education for Sustainable Development (EfSD). Saat ini juga telah diterapkan Sustainable Development Goals (SDGs)

c. Menjamin tingkat kesejahteraan tenaga pendidik dan kependidikan di daerah terdepan, terpencil, dan rawan bencana;

d. Menjamin keberpihakan terhadap masyarakat miskin untuk memperoleh akses pendidikan bermutu seluas-luasnya pada semua satuan pendidikan;

e. Menerapkan Standar Nasional Pendidikan dengan menekankan keseimbangan antara olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olahraga;

f. Mengembangkan kebijakan pemberdayaan tenaga pendidik dan kependidikan dengan memperhatikan profesionalisme;

g. Mempertahankan peningkatan kualitas pendidikan dalam upaya pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) antargender dan antarwilayah;

h. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan kejuruan/vokasi untuk memenuhi kebutuhan lokal dan nasional serta mampu bersaing secara global;

i. Menghasilkan SDM kreatif melalui pendidikan yang diperlukan dalam pengembangan ekonomi kreatif;

j. Menyusun struktur biaya total pendidikan setiap satuan pendidikan dengan mempertimbangkan indeks daya beli masyarakat;

k. Mengembangkan kebijakan-kebijakan untuk memperkuat dan memperluas penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja dan kerangka pengeluaran jangka menengah;

l. Meningkatkan kemitraan yang sinergis dengan dunia usaha dan industri, organisasi masyarakat, dan organisasi profesi;

(10)

m. Meningkatkan koordinasi yang efektif dengan kementerian/lembaga lain dan pemerintah daerah;

n. Mengembangkan kebijakan yang mengintegrasikan muatan budi pekerti, kebanggaan warga negara, peduli kebersihan, peduli lingkungan, dan peduli ketertiban dalam penyelenggaraan pendidikan;

o. Menjamin efektivitas pelaksanaan otonomisasi satuan pendidikan termasuk penyelenggaraan Badan Hukum Pendidikan (BHP);

p. Memperbaiki dan meningkatkan kredibilitas sistem Ujian Nasional;

q. Mengembangkan kebijakan dalam penyelenggaraan parenting education dan homeschooling;

r. Mengembangkan kebijakan dalam penyelenggaraan PAUD;

s. Mengembangkan kebijakan yang kondusif untuk menghasilkan perguruan tinggi berdaya saing global (World Class University/

WCU);

t. Mengembangkan kebijakan-kebijakan untuk memperkuat dan memperluas pemanfaatan TIK di bidang pendidikan.

C. Inovasi dan Pembaharuan Pendidikan Indonesia

Pembaruan pendidikan merupakan suatu keharusan karena faktor sosial-budaya masyarakat selalu mengalami perubahan, terutama disebabkan oleh perkemba-ngan teknologi informasi yang kian cepat (Baharuddin, 2013). Sebagaimana telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, secara umum bangsa Indonesia menghadapi berbagai permasalahan menyangkut kualitas pendidikan yang masih rendah, yang mengakibatkan daya saing bangsa, baik di tingkat regional ASEAN, terlebih lagi di tingkat dunia, kalah bersaing dengan negara lain. Hal tersebut perlu direspon dengan cepat melalui pembenahan di sektor pendidikan, mengingat saat ini perubahan semakin dinamis, sehingga setiap permasalahan yang muncul akan berpengaruh pada berbagai sektor lainnya.

Word Education Forum (2010) menegaskan bahwa kunci utama dan majunya pembangunan pendidikan di suatu negara adalah karena adanya kepedulian pemerintah yang begitu serius dalam menangani sektor pendidikan. Soemarto (2002) menambahkan, keberhasilan suatu bangsa dalam membangun pendidikan menjadi barometer tingkat kemajuan bangsa yang bersangkutan. Hal ini patut dicermati mengingat pembangunan pendidikan di Indonesia relatif masih tertinggal

(11)

dibandingkan negara-negara lain, bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun, kecuali dengan negara baru Timor Leste.

1. Paradigma Pendidikan Nasional Abad 21

Badan Standar Nasional Pendidikan (2010) telah mempublikasikan buku tentang “Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI”. Beberapa ketentuan yang tertuang dalam buku tersebut akan disampaikan secara sekilas.

a. Tujuan Pendidikan Nasional Abad 21

Tujuan pendidikan nasional abad 21 dapat dirumuskan sebagai berikut: “Pendidikan Nasional abad XXI bertujuan untuk mewujudkan cita- cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya”. Dengan kata kesejahteraan tercakup kesejahteraan spiritual yang mungkin lebih tepat dikatakan sebagai kebahagiaaan dalam kehidupan, dan kesejahteraan fisik yang dapat pula dikatakan sebagai hidup yang berkecukupan.

b. Paradigma Pendidikan Nasional Abad 21

Paradigma pendidikan nasional abad XXI dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Untuk menghadapi abad XXI yang makin syarat dengan teknologi dan sains dalam masyarakat global di dunia ini, maka pendidikan kita haruslah berorientasi pada ilmu pengetahuan matematika dan sains alam disertai dengan sains sosial dan kemanusiaan (humaniora) dengan keseimbangan yang wajar.

2) Pendidikan ilmu pengetahuan, bukan hanya membuat seorang peserta didik berpengetahuan, melainkan juga menganut sikap kelilmuan dan terhadap ilmu pengetahuan, yaitu kritis, logis, inventif dan inovatif, serta konsisten, namun disertai pula dengan kemampuan beradaptasi.

Di samping memberikan ilmu pengetahuan, pendidikan ini harus disertai dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan menumbuh kembangkan sikap terpuji untuk hidup dalam masyarakat yang sejahtera dan bahagia di lingkup nasional maupun di lingkup antarbangsa dengan saling menghormati dan saling dihormati.

3) Untuk mencapai ini mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi haruslah merupakan suatu sistem yang tersambung erat tanpa celah, setiap jenjang menunjang

(12)

penuh jenjang berikutnya, menuju ke frontier ilmu. Namun demikian, penting pula pada akhir setiap jenjang, di samping jenjang untuk ke pendidikan berikutnya, terbuka pula jenjang untuk langsung terjun ke masyarakat.

4) Bagaimanapun juga, pada setiap jenjang pendidikan perlu ditanamkan jiwa kemandirian, karena kemandirian pribadi mendasari kemandirian bangsa, kemandirian dalam melakukan kerjasama yang saling menghargai dan menghormati, untuk kepentingan bangsa.

5) Khusus di perguruan tinggi, dalam menghadapi konvergensi berbagai bidang ilmu pengetahuan, maka perlu dihindarkan spesialisasi yang terlalu awal dan terlalu tajam.

6) Dalam pelaksanaan pendidikan perlu diperhatikan kebhinnekaan etnis, budaya, agama dan sosial, terutama di jenjang pendidikan awal.

Namun demikian, pelaksanaan pendidikan yang berbeda ini diarahkan menuju ke satu pola pendidikan nasional yang bermutu.

7) Untuk memungkinkan seluruh warganegara mengenyam pendidikan sampai ke jenjang pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya, pada dasarnya pendidikan harus dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat dengan mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah (pusat dan daerah).

8) Untuk menjamin terlaksananya pendidikan yang berkualitas, sistem monitoring yang benar dan evaluasi yang berkesinambungan perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan konsisten. Lembaga pendidikan yang tudak menunjukkan kinerja yang baik harus dihentikan.

2. Berbabagai Inovasi/Pembaruan Pendidikan di Indonesia

Pelaksanaan inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum dan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Kemendiknas atau Kemendikbud yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing cenderung merupakan “Top-Down Inovation”. Inovasi ini sengaja diciptakan sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efesiensi dan sebagainya.

Perkembangan terkini sistem pendidikan dan pembelajaran sebagai manifestasi dari pembaruan dan inovasi pendidikan mempunyai implikasi yang banyak, jauh dan menyeluruh dalam penyelenggaraan pendidikan di semua jejang, pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Banyak contoh inovasi atau pembaruan yang dilakukan oleh

(13)

Kemendiknas atau Kemendikbud selama beberapa dekade terakhir ini, seperti Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), guru pamong, sekolah persiapan pembangunan, Sekolah kecil, Sistem Pengajaran Modul, Sekolah terbuka, Sistem Belajar Jarak Jauh, dan lain-lain.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menetapkan pemberlakuan kembali Kurikulum 2013 setelah sebelumnya dievalusi oleh para ahli yang ditunjuk. Sebelum ditarik dan akhirnya diberlakukan kembali, Kurikulum 2013 diberlakukan untuk mengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sebelum adanya KTSP pemerintah pernah mengimplementasikan Kurikulum 2013. Sementara itu di level perguruan tinggi saat ini diberlakukan Kurikulum Perguruan Tinggi merujuk Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan TInggi.

Sehubungan dengan itu dalam hal inovasi dan pembaruan pembelajaran di Indonesia dikenal istilah-istilah pembelajaran tematik, pembelajaran bermakna, inovasi pembelajaran kontekstual, pembelajaran kompetensi, inovasi pembelajaran menggunakan multimedia dan internet, pembelajaran terpadu dan PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan). Sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran maka pemerintah telah memperkenalkan konsep studi pembelajaran (Lesson Study) dengan mengadopsi dari Jepang. Terkait pembaruan pendidikan di level sekolah dasar telah diimplementasikan sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

Menurut undang-undang republik indonesia no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 ayat 1, evaluasi dilakukan dalam rangka mengendalikan mutu

Solusi Permasalahan Investasi Nasional dan Relevansinya dengan Kesejahteraan Sosial Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, permasalahan investasi nasional yang menjadi

hambatan-hambatan guna mencapai efektivitas penggunaan informasi dalam proses perencanaan di Sub Bagian Bina Program Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, khususnya yang menyangkut:

FUNGSI DAN TUJUAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SNP Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka

Dokumen ini berisi hasil survey tentang dekonsentrasi sistem informasi kepariwisataan nasional di Kabupaten

Dokumen tersebut berisi standar operating procedure (SOP) untuk pengajuan ujian kolokium di Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN”

Pengantar dan sambutan acara Gebyar Pendidikan Hari Pendidikan Nasional 2025 di Kabupaten Indragiri Hilir oleh Dinas