• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permata Kearifan dari Naskah Kuno Kesultanan Bima

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Permata Kearifan dari Naskah Kuno Kesultanan Bima"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

Dalam genre ini, naskah JM bisa disejajarkan dengan naskah lain yang sangat populer di dunia filologi, yakni Taj al-Salatin dan Bustan al-Salatin. Di antara teks-teks tersebut banyak terdapat teks-teks yang bernuansa Islam, yaitu teks-teks yang mencatat berbagai pemikiran, pemahaman, dan praktik umat Islam terhadap ajaran Islam. Sayangnya, sejauh ini penelitian mendalam terhadap teks-teks Islam kuno di NTB, khususnya yang memuat tiga permasalahan di atas, masih sangat jarang dilakukan.

Keterkaitan dan pola keterhubungan antara isi naskah JM dengan nilai-nilai tradisional masyarakat Bima, seperti nggusu waru dan maya labo dahu. Menemukan keterhubungan dan pola keterhubungan antara isi naskah JM dengan nilai-nilai tradisional masyarakat Bima, seperti nggusu waru dan maya labo dahu. JM dalam konteks penelitian naskah-naskah Islam Museum Samparaja Bima mempunyai koleksi naskah-naskah kuno yang cukup kaya, baik yang berilham Islam maupun yang tidak berilham Islam.

Khusus naskah bernuansa Islam, masih ada tiga koleksi Museum Samparaja selain naskah JM. Merekonstruksi pemikiran politik Islam melalui teks-teks kuno sebagai data primer bukanlah tugas yang mudah. Penelitian ini memilih perlakuan kedua, dimana naskah JM diperlakukan sebagai teks tunggal (codex unicus).

Langkah pertama dalam pengumpulan data adalah pencarian katalog manuskrip untuk menyeleksi manuskrip yang diteliti, dan terpilihlah manuskrip JM.

ASPEK PERNASKAHAN

Setelah dibaca dengan teliti, diketahuilah judul naskah ini adalah Jawharah al-Ma'ârif. Salahuddin atau lebih dikenal dengan nama Ruma Mari,8 Naskah JM merupakan salah satu khazanah sastra di istana Kesultanan Bima. Saat ini, naskah JM perlu segera dilaminasi dan dipetakan agar dapat dilestarikan.

Beberapa teks diterjemahkan menggunakan sistem dagu, karena beberapa halaman tidak diterjemahkan, seperti halaman 67–77 dan 82–. Kasus ini terjadi pada halaman 2 yang teksnya berbunyi Lithâ'ifi, yang seharusnya Lathâ'ifi. Kasus ini terjadi satu kali pada halaman 36; Kata silangnya adalah “segalanya”, karena ada pengulangan.

Bagian teks yang berupa catatan samping diintegrasikan ke dalam teks dengan cara menyisipkannya pada tempat yang tepat sesuai alur teks pada halaman utama. Ayat, hadits, atau teks berbahasa Arab lainnya yang tidak diterjemahkan dalam teks diterjemahkan oleh penyunting di aparat kritis.

SUNTINGAN TEKS JAWHARAH AL-MA‘ÂRIF

Bab [Pertama] menyatakan bahawa dari segala amalan /3/ sultan wajib ke atasnya memelihara tanah dan rakyatnya serta menetapkan hukum-hukum Allah Ta'ala dan adat-istiadat semua raja yang telah mati. Oleh itu, apabila hukum-hukum syariat Allah Ta'ala dilanggar, dunia dan akhirat tidak akan masuk neraka lagi. Dan apabila sultan þÿþĈþÿ /16/ dla'îf menjadi kerajaannya dan seluruh rakyatnya menjadi miskin, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam [al]-Qur'an wamâ kunnâ muhlikî9 al-qurâ illâ wa ahluhâ zhâlimûn.10 Maksudnya. : "Dan tidak

Maka apabila sultan menyayangi budi pekerti orang yang demikian itu, niscaya bertambahlah rahmat Allah Ta'ala ke atasnya dan ke atas negerinya. Bermula dengan setiap sultan yang menzalimi syariat Allah Ta'ala atau undang-undang raja-raja yang telah meninggal dunia yang adil dan memusnahkan perjanjian raja-raja tua dan mengubah kata-katanya yang sebenar iaitu tidak menyaman sultan. zhill itu al-Lâh cuma dia zhillu al-Iblis yang digelar sultan itu syaitan kerana patuh kepada undang-undang dan adat serta perbuatan syaitan itu juga wujud. Allah Ta'âlâ khususnya akan memberkati semua manusia pada hari [kiamat] dan lebih-lebih lagi akan mengiringi kehadiran sultan-sultan Allah Ta'âlâ yang beribadat dengan soleh.".

Kerana semua raja tidak menjadi kerajaan melainkan dengan bernaung di bawah kehadirat Allah Ta'âlâ, melakukan yang terbaik dari segala perintah Allah Ta'âlâ dan menjauhkan segala maksiat daripada kelebihan ilmu, akal dan keadilan. Jika /41/ ada kebenaran di dalamnya ketika tidak ada kesopanan, [maka] itu bukan tempat yang didudukinya, yang berarti tidak benar menurut hukum Tuhan Yang Maha Kuasa, [itu] hanya benar pada dirinya sendiri, sebaliknya. daripada mempunyai kesopanan.' terhadapnya. Menurut hukamâ', seseorang yang di antara semua ta[k]-raja tidak mempunyai enam belas perkara dalam dirinya hendaklah membawa nama zhillu al-Lâhi ta'âlâ fi al-ardli.

Maka tidak ada faedah dari nasihat ulama sekalian melainkan baginda itu beriman dan bertakwa kepada Allah Ta'âlâ serta malu kepada Rasulullah kerana raja itu adalah pokok /50/. Maka takutlah baginda kepada Allah Ta'âlâ dan berlaku adillah terhadap segala rakyatnya dan segala /51/ perkataan dan perbuatannya itu amat kasih kepada rakyatnya dan memberi nasihat kepada segala menterinya dan hulubalangnya serta segala rakyatnya. Maka hendaklah baginda itu berserah diri kepada Allah Ta'âlâ, tiada kekuatan baginda sendiri [dan] tiada kemenangan terhadap musuhnya melainkan dengan pertolongan Allah Ta'âlâ.

Telah dikatakan oleh setengah ulama besar bahawa raja-raja hendaklah menepati janji mereka atau semua janji raja-raja yang terdahulu dan menepati /56/ janji Allah Ta'ala dan Rasulullah yang memerintahkan raja-raja [dalam supaya ] Islam kaum mereka yang kafir dan memerintahkan sembahyang, puasa dan zakat bagi kaumnya yang telah masuk Islam, sehingga dia membunuh mereka jika mereka tidak mahu taat, [dan] raja-raja terpaksa berperang dengan senjata untuk masuk /57 / syariah. daripada raja. Maka jika dikerjakan selama-lamanya nescaya dimakbulkan Allah Ta'âlâ, maka doa itu dimakbulkan Allah Ta'âlâ. Bab keempat menekankan ilmu hikmah apabila seseorang itu ingin mengalahkan orang kafir atau seorang Muslim inshâ'a al-Lâh Ta'âlâ dia tidak dapat melakukan apa yang dia kehendaki [melainkan] dengan pertolongan Tuhan Wahid al-kahâr.

Kemudian apabila telah sampai bilangannya, kamu menyebut perkara yang kamu hajatkan, maka ia adalah fa qadlâ bi idzni al-Lâhi Ta'âlâ [maksudnya:] diterima Allah dengan izin Allah Ta'âlâ. 54. Demikianlah kehendak semua ulama [yang] mempunyai ilmu ini dan tidak menyuruh mereka melihat atau mendengar atau mengajar orang jahil dan fasik /87/ menderhaka kepada Allah Ta'ala dan tidak mahu menolong Nabi Muhammad. . salam sejahtera.

ANALISIS KANDUNGAN TEKS JAWHARAH AL-MA‘ÂRIF

Apalagi, hadirnya kata “dipindahkan” pada kutipan tersebut seolah menandakan bahwa JM hanyalah hasil pengalihan isi buku SM. Untuk uraian singkat tentang kaum sufi lihat Harun Nasution, “Sufisme”, dalam Budhy Munawar Rahman (redaksi), Kontekstualisasi Ajaran Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995), cet. 5 Informasi lebih lanjut mengenai magisme agama dalam Islam dapat ditemukan dalam Nurcholish Madjid, “Apresiasi Keagamaan Populer dan Permasalahan Agama-Magisme”, dalam Budhy Munawar Rahman (editor).

Seperti nggusu waru yang diuraikan di atas, maja labo dahu merupakan ekspresi nilai-nilai tradisional budaya Bima. Mengetahui arti harfiah dari istilah tersebut dan menghubungkannya dengan istilah “malu dan takut” dalam JM, maka langsung timbul pemikiran bahwa keduanya berkaitan erat dan mempunyai arti yang sama, hanya diungkapkan dalam bahasa yang berbeda. Atau sebaliknya, inilah pertanyaan kedua, “Apakah ungkapan maja labo dahu merupakan turunan dan sekedar pengelolaan Bima terhadap ungkapan “malu dan takut” dalam JM?”.

Jika pertanyaan pertama dijawab afirmatif (ya), maka uraian makna “malu dan takut” dalam JM muncul belakangan dan dipahami sebagai tafsir tertulis yang otoritatif atas ungkapan maja labo dahu. Untuk pertanyaan kedua, apabila yang diberikan jawaban afirmatif (ya), maka ungkapan maja labo dahu pasti akan muncul kemudian, dan uraian makna “malu dan takut” dalam JM tidak hanya menjadi acuan otoritatif belaka. Ungkapan maja labo dahu merupakan derivasi dan implikasi dari ungkapan Bima “malu dan takut”.

Jadi ungkapan maja labo dahu merupakan ungkapan bijak bestari nenek moyang orang Bima yang mengacu pada ajaran Islam. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa “malu dan takut” dalam JM merupakan terjemahan dari haya’ dan taqwa. Haya' yang dalam JM diartikan sebagai “malu”, dijelaskan dari segi keadilan, seperti dalam kutipan berikut:

Gambar: Integrasi ungkapan “taqwa dan haya”, “malu dan takut”, “maja labo dahu”, “nggusu ini”, “nggusu waru” dan. Sebab ungkapan “malu dan takut” dan maya labo dahu berasal dari konsep takwa dan haya’. Dua kutipan di atas cukup memberikan gambaran sebenarnya tentang makna ungkapan kearifan asli penduduk Bima maja labo dahu atau “rasa malu dan takut”.

Nilai-nilai adat Bima yang terangkum dalam ungkapan nggusu waru dan maja labo dahu mempunyai keselarasan, bahkan hubungan turunan dengan nggusu ini dan “rasa malu dan takut (taqwa dan haya’) dalam teks JM. Nurcholish Madjid, “Apresiasi Keagamaan Rakyat dan Permasalahan Religio-Magisme”, dalam Budhy Munawar Rahman (redaksi), Kontekstualisasi Ajaran Islam dalam Sejarah (Jakarta: . Paramadina, 1995), dan sebagainya.

Referensi

Dokumen terkait

Hambatan koneksi jaringan yang tidak stabi yang dimaksud yakni ketika mahasiswa melakukan perkuliahan secara online menggunakan media sebagai sarana pembelajaran kerap