• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persembahan karya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Persembahan karya"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui etika berbahasa pada tingkat remaja usia 16-19 tahun di Dusun Dangarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses sapaan remaja usia 16 hingga 19 tahun di Dusun Dangarehang umumnya tidak memperhatikan etika berbahasa ketika berbicara kepada teman sebaya atau sesama remaja dengan menggunakan kata-kata kasar seperti kata ko, kau , tailacco, kurang ajar, dongo,-dongo, yang menyebut nama orang tuanya hanya Cokkong, pongoro, sundala, pasilollongannu dan laso. Dengan segala hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya, Muh Jafar dan Naha, serta kakak laki-lakinya Ilyas, yang telah berjuang, mendoakan, merawat, membesarkan, mendidik dan membiayai penulis dalam proses mencari ilmu.

Demikian pula penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga yang tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada saya dan selalu menemani saya dengan canda tawanya, kepada Dr. Munirah, M.Pd., ketua program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta seluruh dosen dan staf di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan penulis berbagai ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Oleh karena itu, etika berbahasa di lingkungan remaja sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang rukun dan nyaman. Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti bertujuan untuk mengkaji etika berbahasa pada tingkat remaja dalam interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat Dusun Denggarehang. Dusun Denggarehang merupakan salah satu desa di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba yang mempunyai sosial budaya yang beragam seperti aksen atau pilihan kata (diksi) yang digunakan oleh remaja di masyarakat dan sebagian besar masyarakat khususnya remaja terkadang mengabaikan atau melanggar. . aturan etiket linguistik secara umum.

Setelah peneliti melihat remaja dan sempat berinteraksi dengan remaja, masih banyak remaja yang kurang memperhatikan etika dalam berbahasa, oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti Dusun Danggarehang sehingga dapat memberikan wawasan mengenai tindak tutur karena remaja di Danggarehang Hamlet, tepatnya, terkadang etis. Bahasa seseorang seringkali dikaitkan dengan jiwa dan perilakunya. Hal ini disebabkan penutur dan bahasa dapat menimbulkan penilaian tertentu. Seseorang dapat dikatakan mempunyai akhlak yang tinggi apabila mempunyai etika yang selalu dijunjung tinggi. Begitu pula dengan berbahasa, seseorang dapat dikatakan pandai berbahasa apabila selalu memperhatikan etika dalam berbahasa. Berdasarkan pengamatan penulis, jarang sekali ada yang meneliti dengan judul etika berbahasa, oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitian.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian 1.Manfaat Teoritis

  • Manfaat Praktis

Penelitian ini merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan meneliti dan kreativitas dalam kajian bahasa, khususnya dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan etika dalam berbahasa. Kami berharap penelitian ini dapat membantu untuk memahami etika berbahasa. Lebih lanjut, kami berharap penelitian ini dapat dijadikan bahan pemikiran untuk memotivasi ide-ide baru yang lebih kreatif dan inovatif di masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah jumlah keluaran penelitian di Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Oleh karena itu, penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dengan penelitian sebelumnya.

Kajian Pustaka 1. Penelitian Relevan

  • Sosiolinguistik
  • Etika
  • Remaja

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik tidak hanya mempelajari bahasa saja, tetapi juga mempelajari aspek-aspek bahasa yang digunakan masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik merupakan suatu bidang ilmu interdisipliner yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa yang bersangkutan dalam masyarakat (Chaer dan Agustina 2014: 2) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah suatu bidang interdisipliner, yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan bahasa yang digunakan di lingkungan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik berarti mempelajari bahasa yang digunakan dalam suatu daerah atau dialek tertentu.

Sosio adalah masyarakat dan linguistik adalah studi tentang bahasa. Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa yang dikaitkan dengan kondisi sosial (Sumarsono 2004:1) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik berarti ilmu yang mempelajari bahasa yang dikaitkan dengan kondisi sosial tertentu. . Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa yang menitikberatkan pada kelompok sosial dan variabel kebahasaan. Misalnya, orang mungkin melihat terlebih dahulu ada dua ragam bahasa yang berbeda dalam satu bahasa, lalu mengaitkannya dengan fenomena sosial seperti perbedaan gender, sehingga dapat disimpulkan, misalnya ragam (a) didukung oleh perempuan, ragam (b) didukung oleh laki-laki dalam masyarakat tersebut.

Misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Melayu hampir sama, namun secara politis bahasa yang digunakan di Malaysia adalah bahasa Melayu dan bahasa yang digunakan di Indonesia adalah bahasa Indonesia. Apabila suatu masyarakat mempunyai khasanah verbal yang relatif sama dan mempunyai penghayatan yang sama terhadap norma-norma penggunaan bahasa yang digunakan dalam masyarakat tersebut, maka masyarakat tersebut dapat dikatakan sebagai masyarakat tutur. Jadi masyarakat tutur bukan sekedar sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan sekelompok orang yang mempunyai norma-norma yang sama dalam penggunaan bentuk-bentuk kebahasaan.

Menurut Bloomfield (dalam Chaer & Agustina 2014:37), komunitas linguistik dibentuk oleh mereka (sekelompok orang) yang bersama-sama mempunyai kaidah linguistik yang sama. Labov (dalam Chaer & Agustina 2014:37) lebih menekankan pada kriteria norma-norma yang dimiliki bersama dibandingkan pada karakteristik bahasa yang dimiliki bersama. Pertama, dari sudut pandang bentuk-bentuk linguistik umum; kedua, dari segi aturan.

Kata ini dapat digunakan untuk merujuk pada komunitas kecil atau sekelompok orang yang menggunakan bentuk linguistik yang relatif sama dan memiliki penilaian yang sama dalam bahasa mereka. Wujud hubungan bahasa dengan masyarakat adalah adanya hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang kita sebut varian atau dialek, dan kegunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat, misalnya kita menggunakan versi baku dalam kegiatan pendidikan, untuk kegiatan yang bersifat santai (tidak resmi). ) kami menggunakan bahasa yang tidak standar, kami menggunakan literatur yang berbeda dalam kegiatan seni kami dan. Inilah yang disebut dengan menggunakan bahasa yang benar, yaitu menggunakan bahasa tersebut pada situasi yang tepat atau sesuai dengan konteks di mana kita menggunakan bahasa itu untuk kegiatan komunikatif.

Kerangka Pikir

Remaja berada di antara anak-anak dan orang dewasa, oleh karena itu remaja sering disebut dengan fase “pencarian jati diri”. Emosi yang menggebu-gebu ini terkadang menyulitkan baik remaja maupun orang tua/orang dewasa di sekitarnya. Namun emosi yang menggebu-gebu tersebut juga bermanfaat bagi remaja dalam upaya menemukan jati dirinya.

Reaksi orang-orang disekitarnya akan menjadi pengalaman bagi remaja tersebut untuk menentukan tindakan apa yang akan diambilnya di masa depan. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari dan membahas bahasa, khususnya unsur-unsur bahasa dan antar unsur-unsur tersebut.Jadi, sosiolinguistik adalah ilmu yang mengembangkan teori-teori tentang hubungan masyarakat dan bahasa. Etiket berbahasa merupakan suatu subsistem kebudayaan, hal ini dibuktikan dengan kemampuan seseorang dalam berbahasa, yang diukur melalui pengetahuannya terhadap suatu budaya yang ada di masyarakat tempat ia tinggal. Pada tataran remaja, penggunaan bahasa yang mereka gunakan dapat mencerminkan ciri-cirinya, oleh karena itu penggunaan bahasa remaja dapat menentukan label bahasanya, yaitu baik atau buruk.

Untuk mengetahui etika berbahasa di kalangan remaja, peneliti menganalisis bahasa yang mereka gunakan sehari-hari dalam interaksi sosial di masyarakat. Maka dari situlah peneliti dapat mengetahui dan mengetahui seperti apa etika berbahasa pada tingkat remaja di Dusun Dangarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba.

Kerangka Pikir

  • Desain Penelitian
  • Data dan Sumber Data 1. Data
    • Sumber Data
  • Subjek Penelitian
  • Definisi Istilah
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Hasil Penelitian
    • Sesama Remaja
    • Remaja dengan orang tua Percakapan Imang rekaman 052
  • Pembahasan
    • Sesama remaja
    • Remaja dengan orang tua
  • Simpulan
  • Saran

Data dalam penelitian ini adalah tuturan masyarakat tingkat remaja 16 – 19 tahun yang memuat label bahasa Dusun Denggarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Investigasi/analisis seluruh data yang diperoleh berupa etika berbahasa pada tingkat remaja usia 16 – 19 tahun di Dusun Denggarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Mendeskripsikan data atau tuturan berupa label bahasa yang terdapat di Dusun Denggarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba.

Pada uraian kata di atas, nampaknya kata-kata yang diucapkan remaja Haseng kepada sesama remajanya sedikit membuat kesal teman-temannya, sehingga mereka mengucapkan kata laso dan menggunakan kata ko yang mengandung unsur etika berbahasa yang tidak baik. Berdasarkan hasil penelitian di atas terdapat kata-kata kasar yang umumnya melanggar etika berbahasa, seperti kata sundalaka. Pada percakapan di atas terdapat etika berbahasa yang baik yang diucapkan oleh remaja laki-laki Imang. Dengan penggunaan kata kiyang dapat dikatakan adanya rasa hormat terhadap orang tua.

Pada percakapan di atas, etika berbahasa yang baik dibicarakan oleh remaja ketika berbicara dengan orang tuanya dengan menggunakan kata ki yang menunjukkan kesantunan atau tata krama yang baik. Berdasarkan hasil penelitian di atas, terdapat etika berbahasa yang bercirikan kata Yaitu. Dari hasil percakapan di atas ditemukan beberapa kata yang sesuai dengan etika berbahasa yang baik yang didengar oleh remaja Dandi, yaitu penggunaan kata Puang saat menyebut nama orang tuanya, gitte, dan penggunaan kata ki. .

Dalam hasil penelitian terdapat etika berbahasa yang baik yang diucapkan remaja Imang dengan menggunakan kata ki yang menunjukkan rasa hormat kepada orang tua. Pada percakapan-percakapan di atas hasil survey percakapan antara remaja dengan orang tuanya, etika berbahasa yang baik yang diucapkan remaja dalam melakukan tindak tutur ditunjukkan dengan kata ki yang digunakan oleh remaja Isra. Berdasarkan penelitian dan analisis data mengenai etika berbahasa pada remaja usia 16 hingga 19 tahun di Dusun Danggarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, penulis menyimpulkan.

Dalam berbicara dengan remaja lain, remaja usia 16 – 19 tahun cenderung tidak memperhatikan etika berbicara, sehingga dapat dianggap tidak sopan terhadap remaja lain dan melanggar etika berbahasa secara umum. Remaja usia 16 – 19 tahun dalam berbicara dengan orang tuanya dapat dianggap telah mematuhi etika berbahasa berdasarkan banyaknya pidato atau hasil penelitian yang telah dianalisis dan dilakukan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan beberapa bentuk etika berbahasa berdasarkan dua variabel yang digunakan oleh remaja usia 16-19 tahun di Dusun Dangarehang Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba.

Referensi

Dokumen terkait

Narcotics Law and Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 4 of 2021 concerning changes to the classification of narcotics which is