PERSOALAN PENCEMARAN AIR SUNGAI DI INDONESIA
Masalah pencemaran lingkungan di Indonesia sudah bukan hal baru lagi, mengingat Indonesia yang merupakan salah satu Negara dengan penduduk terbesar di dunia dan banyak sector industry didalamnya karena pembangunan ekonomi yang semakin massif. Salah satu dampak dari kondisi sosial ini adalah pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, pencemaran lingkungan yang cukup berat ini terjadi pada air sungai. Pencemaran air menurut PP No 82 tahun 2001 dapat diartikan sebagai masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Banyaknya aliran air sungai yang tercemar di Indonesia tentunya membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat maupun makhluk hidup yang membutuhkan air.
Kita dapat ambil contoh dari sungai Citarum di Jawa Barat yang hingga saat ini menyandang predikat salah satu sungai paling tercemar didunia. Sungai Citarum tidak sendirian, menurut Direktur Forest and Freshwater dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Irwan Gunawan tahun 2019 yang dikutip dari republika.co.id Sebanyak 82 persen sungai yang tercemar di Indonesia dari 550 sungai yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingginya tingkat pencemaran membuat airnya tidak layak untuk dikonsumsi.
Kondisi memprihatinkan terhadap pencemaran air di Indonesia ini dapat terjadi karena berbagai sebab, secara garis besar diantaranya limbah industry, limbah rumah tangga hingga limbah pertanian. Jika dikaji menurut sudut pandang sosiologi lingkungan, hal ini masuk dalam paradigma teori kritis dimana kritik terhadap perkembangan tekonologi dan pengetahuan yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan masyarakat resiko. Masyarakat risiko disini merupakan masyarakat yang memiliki kerentanan atas dampak pencemaran air.
Banyaknya kasus pencemaran air di Indonesia, khususnya sungai, tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan yang cukup klasik tentang bagaimana hal tersebut dapat terjadi padahal Undang-Undang di Indonesia tentang lingkungan, pengelolaan air sungai dan hunian sebenarnya sudah banyak. Tinggal melihat bagaimana ketegasan pemerintah untuk melaksanakan dan menegakkan aturan yang tersebut. Ketegasan pemerintah patut dipertanyakan dengan melihat longgarnya pengawasan terhadap kasus-kasus besar pencemaaran air sungai akibat banyak perusahaan industry yang masih membuang limbah berbahaya tanpa proses
pengelolaan terlebih dahulu. Padahal seharusnya dalam pembuangan air limbah produksi harus diolah sedemikian rupa menggunakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sehingga pada saat di buang ke sungai tidak menyebabkan pencemaran karena telah sesuai dengan standar baku mutu yang ada, undang-undang mengenai pembuangan limbah ini sudah tertera jelas dalam UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada pasal 100 dapat pidana penjara 3 tahun dan denda 3 miliar.
Selain peran pemerintah dan kesadaran perusahaan industry yang bertanggung jawab terhadap pencemaran air sungai di Indonesia. Sektor rumah tangga ternyata tak kalah dalam menyumbang limbah yang membuat sungai tercemar. Contohnya di Jakarta pada tahun 2018, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Ali Maulana menuturkan sebanyak 72,7% sumber pencemaran sungai di Ibu Kota berasal dari limbah permukiman/rumah tangga. sebesar 17,3%, dari limbah perkantoran dan komersial dan 9,9%.dari limbah industri (sumber: mediaindonesia.com)
Limbah rumah tangga ini dapat berupa limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia. Sungai pada daerah perkotaan yang banyak mendapatkan masalah mengenai limbah rumah tangga ini, mengingat daerah perkotaan yang padat penduduk tidak dibarengi dengan banyaknya sumur resapan untuk mengelola kembali air limbah dari aktivitas manusia. Selain limbah cair, banyaknya limbah plastic yang dibuang di sungai adalah masalah serius. Sungai di Indonesia masih jadi tempat pembuangan sampah, salah satu contohnya di Jawa Timur. Dikutip dari mongabay.co.id Sejumlah pesisir di utara Jawa Timur ditutupi sampah plastik. Seperti Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang. masuk dalam kategori 20 sungai penyumbang sampah plastik ke laut dunia Tidak hanya perkotaan, persoalan limbah pada air sungai juga dihadapi masyarakat desa, selain karena limbah industry dan rumah tangga juga adanya limbah yang dihasilkan dari pertanian. Limbah pertanian dapat diartikan sebagai semua bentuk sisa dari proses produksi, seperti bagian pohon ataupun sisa racun hama dan pupuk yang digunakan. Tapi limbah pertanian ini jarang sekali menyebabkan pencemaran lingkungan, sebab dijelaskan dalam kumparan.com dengan pengawasan dari Penanggung Jawab Operasional Pengolahan Air Limbah (POPAL), para petani dapat menjalankan proses produksi secara aman dan berkelanjutan.
Dari persoalan yang telah dijabarkan diatas, pencemaran air sungai akibat limbah yang dibuang disungai sembarangan bukan hanya masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah saja maupun perusahaan industry, dan dalam mengatasi masalah ini tidak cukup tentang pencegahan pembuangan limbah ke sungai, karena sudah sangat kadaluarsa jika kita masih membahas mengenai peraturan pembuangan saja, sebab sungai di Indonesia sudah banyak yang tercemar berat, diperlukan juga upaya pemulihan sungai yang massif diadakan dibanyak wilayah yang sungainya tercemar untuk mengembalikan ekosistem air dan kualitas air agar mencegah dampak-dampak lain semakin memburuk seperti dampak pada masyarakat risiko disekitar yang menggunakan air sungai yang sebenarnya tidak layak pakai untuk keperluan mereka sehari-hari.
Pemulihan air sungai ini selain komitmen pemerintah dan kementerian lingkungan hidup untuk menjalankan UU yang mengatur tentang limbah yang menyebabkan pencemaran air.
Kesadaran masyarakat juga dapat dimulai dari hal-hal kecil yaitu tidak membuang sampah sembarangan, daur ulang sampah serta kegiatan positif untuk mengurangi sampah domestic.
Bagi perusahaan industry juga harus adanya kepedulian terhadap masyarakat sekitar dengan tidak berbuat curang membuang limbah pabrik tanpa pengelolaan terlebih dahulu padahal setiap perusahaan pasti paham mengenai aturan soal limbah industry.
Daftar Rujukan
Ristian, P. N. (2019). PENCEMARAN SUNGAI CITARUM AKIBAT LIMBAH HASIL PENGOLAHAN EMAS YANG DILAKUKAN OLEH PT. MT GROUP DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS EKOREGION DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (Doctoral dissertation, FAKULTAS HUKUM UNPAS).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air
https://www.mongabay.co.id/2016/03/30/mengapa-indonesia-masuk-salah-satu-daftar-pembuang- sampah-plastik-terbanyak-ke-laut/
https://megapolitan.antaranews.com/berita/36747/ini-biasanya-alasan-perusahaan-buang-limbah-ke- citarum
https://www.mongabay.co.id/2021/02/21/sungai-masih-jadi-tempat-buang-sampah-plastik-belajar-dari- pengelolaan-di-australia/
https://kumparan.com/indonesiago-digital/jenis-jenis-limbah-pertanian-dan-cara-pengelolaannya- 1ujZQhHGsu1/full
https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/porsc1383/82-persen-sungai-di-indonesia-tercemar- dan-kritis
https://mediaindonesia.com/megapolitan/184273/727-persen-sumber-pencemaran-sungai-dari- limbah-permukiman