HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pandangan Kaum Modernis dan Dependensia Terhadap Aspek Gender dalam Kasus Ini
a. Perspektif Modernis
Dalam pendekatan Perspektif Modernis, modernisasi dipandang sebagai kekuatan yang memicu perubahan sosial dan mengintegrasikan seluruh masyarakat, termasuk perempuan, ke dalam proses pembangunan. Dalam kasus proyek pemberian kerbau, pendekatan ini menekankan Women in Development (WID), yang bertujuan melibatkan perempuan dalam kegiatan produktif seperti pemeliharaan ternak. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan taraf ekonomi melalui aktivitas produktif, tetapi kerap dikritik karena beban tambahan yang ditimpakan pada perempuan tanpa memperhitungkan peran domestik mereka yang sudah berat.
Proyek ini menunjukkan bahwa meski ada potensi ekonomi dari pemberian kerbau, implementasi yang kurang peka terhadap kondisi lokal dan isu gender justru menambah beban bagi perempuan. Ketidakseimbangan muncul karena perempuan diberi tanggung jawab memelihara ternak, sementara laki-laki mengendalikan penjualan dan menyimpan hasil pendapatan. Akibatnya, alokasi hasil pendapatan tidak adil, lebih banyak ditujukan untuk anak laki-laki, sementara anak perempuan tetap harus membantu pekerjaan rumah.
Kegagalan proyek ini, menurut Perspektif Modernis, disebabkan oleh metode implementasi yang tidak memperhitungkan ketidaksetaraan peran dan kebutuhan lokal.
Untuk menghindari hal ini, modernisasi harus disertai pendekatan yang adaptif dengan mempertimbangkan peran produktif dan reproduktif perempuan. Dengan kata lain, program perlu disesuaikan agar dapat mengintegrasikan perempuan secara setara dan berkelanjutan tanpa memperburuk beban mereka.
b. Teori Dependensia
Teori Dependensia menyoroti bagaimana proyek yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan dapat memperkuat ketidaksetaraan gender yang sudah ada, khususnya melalui struktur ketergantungan ekonomi dan patriarki di tingkat lokal. Dalam kasus ini, pemberian kerbau kepada keluarga miskin di desa Nepal mengabaikan dinamika sosial dan ketergantungan gender. Meskipun proyek ini dirancang untuk meningkatkan kesehatan anak-anak dan memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi keluarga, hasil yang dicapai tidak sesuai harapan, khususnya terkait gizi anak dan pendidikan anak perempuan.
Teori Dependensia mengkritik bahwa proyek ini gagal mempertimbangkan struktur patriarki yang mapan, di mana perempuan dibebani dengan peran sebagai pemelihara kerbau, sementara laki-laki mengendalikan akses ke pasar dan pendapatan dari penjualan susu. Alokasi tanggung jawab seperti ini menciptakan ketergantungan perempuan pada laki-laki dalam aspek ekonomi. Kondisi ini tidak hanya memperburuk ketergantungan perempuan, tetapi juga menghalangi anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan karena mereka harus membantu pekerjaan domestik dan pemeliharaan kerbau, akibat dari bertambahnya beban pekerjaan ibu mereka.
Teori ini juga menyoroti ketimpangan dalam distribusi keuntungan yang dihasilkan dari program tersebut, yang banyak digunakan untuk kepentingan pendidikan anak laki-laki, sedangkan anak perempuan tidak mendapat akses yang sama. Ketergantungan ekonomi yang terjadi membuat perempuan sulit mandiri secara finansial karena mereka tidak memiliki kontrol atas hasil ekonomi dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Dari sudut pandang Dependensia, proyek ini seharusnya mempertimbangkan konteks sosial dan budaya setempat yang mempengaruhi dinamika gender. Alih-alih hanya memberikan kerbau, program ini seharusnya juga memberikan pelatihan kepada perempuan untuk mengakses pasar atau menciptakan mekanisme distribusi keuntungan yang adil agar tidak hanya laki-laki yang memiliki kendali. Program tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dengan memastikan bahwa perempuan memiliki peran dalam pengambilan keputusan atas pendapatan yang dihasilkan, sehingga ketergantungan pada laki-laki bisa diminimalisir dan anak perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan.
Selain itu, pendekatan proyek juga bisa diubah dengan mengurangi beban kerja perempuan, misalnya dengan menyediakan bantuan tenaga atau teknologi sederhana yang bisa memudahkan mereka dalam perawatan ternak. Ini sesuai dengan pendekatan Gender and Development (GAD), yang lebih berfokus pada kesetaraan gender dalam pembangunan, sehingga proyek tersebut tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga mendukung perubahan struktural yang menguntungkan perempuan secara lebih menyeluruh,
2. Pandangan Berbagai Kaum Feminisme terhadap Proyek Tersebut a. Feminisme Liberal
Teori feminisme liberal akan mengkritik proyek pemberian kerbau rawa di desa kecil di Nepal karena tidak memberi perempuan akses yang setara dalam pengelolaan dan manfaat ekonomi dari kerbau tersebut. Feminisme liberal menekankan pentingnya kesetaraan kesempatan dan mengupayakan agar perempuan mendapatkan hak yang sama dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya ekonomi. Dalam kasus ini, kesetaraan kesempatan berarti perempuan harus diberi akses setara terhadap pendapatan dari penjualan susu kerbau serta dilibatkan dalam keputusan penting yang memengaruhi peningkatan taraf hidup mereka.
Proyek ini ternyata memiliki beberapa kekurangan yang merugikan perempuan. Meski perempuan berperan dalam memelihara kerbau dan memerah susu, mereka tidak terlibat dalam pengelolaan hasil penjualan susu. Hal ini memperkuat ketidakadilan gender, karena laki-laki mengambil peran untuk menjual susu dan menyimpan penghasilannya, yang seharusnya dapat diakses oleh perempuan. Feminisme liberal akan mengkritik pengaturan ini sebagai ketidakadilan struktural yang menghambat perempuan untuk memperoleh manfaat ekonomi secara langsung dan meningkatkan status sosialnya.
Lebih lanjut, proyek ini gagal meningkatkan status gizi anak-anak dan partisipasi sekolah anak perempuan karena beban kerja perempuan yang semakin berat. Anak perempuan harus membantu pekerjaan rumah tangga, termasuk memelihara kerbau, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk sekolah. Dalam konteks feminisme liberal, ini menunjukkan bahwa tanpa akses yang setara terhadap hasil ekonomi dan tanpa perubahan pada peran domestik, perempuan tetap berada dalam posisi subordinat yang tidak mampu meningkatkan kesejahteraannya.
b. Feminisme Sosialis
Dalam pandangan feminisme sosialis, proyek pemberian kerbau di Nepal menyoroti bagaimana kapitalisme dan struktur kerja yang ada memperkuat eksploitasi terhadap perempuan. Berikut adalah beberapa aspek penting yang relevan untuk memperluas pembahasan:
1) Eksploitasi Kerja Perempuan dalam Struktur Kapitalis
Dalam proyek ini, perempuan diberi tanggung jawab tambahan, yaitu memelihara kerbau dan memerah susu, yang menambah beban di atas pekerjaan domestik yang sudah ada. Perempuan tidak memiliki kendali atas hasil penjualan, dan hal ini memperlihatkan distribusi kerja yang eksploitatif. Pembagian peran ini memanfaatkan
tenaga perempuan untuk pekerjaan tanpa imbalan atau kontrol atas hasil yang mereka ciptakan.
2) Keterikatan Ekonomi dan Ketergantungan pada Laki-laki
Laki-laki mengambil alih tanggung jawab menjual susu ke pasar dan menyimpan hasil penjualan. Hal ini memperkuat posisi laki-laki sebagai pengendali ekonomi, sementara perempuan tetap berada dalam peran subordinat yang hanya terlibat dalam proses produksi tanpa akses ekonomi langsung. Ini menciptakan ketergantungan ekonomi perempuan pada laki-laki, yang merupakan manifestasi dari penindasan struktural di masyarakat kapitalis dan patriarkal.
3) Beban Ganda pada Perempuan dan Dampaknya pada Generasi Berikutnya
Perempuan tidak hanya mengalami peningkatan beban kerja, tetapi anak perempuan mereka juga ditarik untuk membantu pekerjaan domestik. Akibatnya, partisipasi anak perempuan dalam pendidikan tidak meningkat, karena mereka diminta membantu ibu mereka alih-alih bersekolah. Sementara itu, anak laki-laki lebih diprioritaskan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Ini menunjukkan bagaimana struktur kapitalis yang melekat pada proyek ini mempertahankan ketidaksetaraan gender dan mengorbankan generasi perempuan berikutnya.
4) Ketidakadilan dalam Pembagian Manfaat Ekonomi
Hasil ekonomi dari proyek ini tidak digunakan untuk meningkatkan status gizi anak- anak, terutama anak perempuan, sesuai dengan tujuan awal. Sebaliknya, sebagian besar pendapatan diarahkan untuk pendidikan anak laki-laki, sehingga memperkuat siklus ketidakadilan gender yang ada. Feminisme sosialis melihat ini sebagai hasil dari sistem kapitalis yang mengutamakan distribusi keuntungan kepada mereka yang sudah memiliki posisi dominan dalam hierarki sosial.
c. Feminisme Radikal
Pendekatan feminisme radikal dalam konteks proyek pemberian kerbau di desa Nepal akan menyoroti bagaimana program ini, yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan dan ekonomi, justru memperburuk ketidakadilan gender. Dari perspektif ini, patriarki yang melekat dalam struktur masyarakat menciptakan pembagian kerja yang lebih memberatkan perempuan dan mendukung dominasi laki-laki dalam akses ekonomi.
Proyek ini telah meningkatkan beban kerja perempuan dengan menambah tugas merawat dan memerah susu kerbau di samping pekerjaan domestik mereka. Feminisme radikal melihat bahwa beban kerja tambahan ini adalah hasil dari patriarki yang secara
sistematis menganggap perempuan sebagai pekerja domestik. Alih-alih diberdayakan, perempuan malah dipaksa menanggung lebih banyak pekerjaan tanpa kontrol terhadap hasil ekonomi.
Laki-laki dalam keluarga yang bertugas menjual susu ke pasar memiliki kontrol penuh atas pendapatan yang dihasilkan. Feminisme radikal mengidentifikasi dominasi laki-laki dalam kendali ekonomi sebagai bentuk kekuasaan patriarkal yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Karena penghasilan tidak dikontrol oleh perempuan, mereka tidak memiliki kuasa untuk menggunakan uang tersebut demi kepentingan kesehatan anak atau pendidikan anak perempuan.
Anak perempuan terpaksa tetap di rumah untuk membantu pekerjaan domestik dan merawat kerbau karena ibu mereka juga terbebani. Hal ini menunjukkan bagaimana patriarki tidak hanya memengaruhi perempuan dewasa tetapi juga memperkuat subordinasi anak perempuan, yang tidak memiliki kesempatan pendidikan setara dengan anak laki-laki.
d. Feminisme Post-Modern Feminisme Post-Modern
Pendekatan feminisme post-modern dalam menganalisis proyek pemberian kerbau di desa Nepal ini akan melihat aspek-aspek budaya lokal dan relasi gender yang spesifik, mengkritisi bagaimana proyek tersebut gagal dalam memperhatikan dinamika lokal dan peran perempuan dalam konteks setempat. Berikut adalah beberapa poin pengembangan berdasarkan teori feminisme post-modern:
1) Kontekstualisasi Peran Gender
Feminisme post-modern menekankan bahwa identitas gender tidak universal dan dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, dan lokal. Dalam kasus ini, perempuan di Nepal sudah memiliki tanggung jawab besar dalam ranah domestik. Dengan menambahkan tugas memelihara dan memerah susu kerbau, proyek ini justru meningkatkan beban kerja perempuan tanpa menawarkan peran yang setara dalam pengelolaan hasil ekonomi.
2) 2Kritik terhadap Pendekatan Pembangunan yang Homogen
Feminisme post-modern akan mengkritik pendekatan yang menganggap bahwa semua proyek pemberdayaan ekonomi dapat diterapkan dengan cara yang sama di berbagai masyarakat tanpa mempertimbangkan perbedaan budaya dan kebutuhan. Dalam konteks ini, proyek yang hanya berfokus pada pemberian ternak tanpa mempertimbangkan siapa yang akan memelihara dan mengelola hasilnya menunjukkan pendekatan yang kurang sensitif terhadap struktur sosial lokal. Seharusnya, proyek ini
bisa didesain lebih fleksibel agar bisa menyesuaikan dengan kebutuhan perempuan, terutama dalam pengelolaan keuntungan.
3) Pemahaman Tentang Relasi Kuasa Lokal
Feminisme post-modern menyoroti pentingnya analisis atas relasi kuasa yang rumit antara laki-laki dan perempuan di dalam keluarga dan masyarakat. Dalam proyek ini, meskipun perempuan mengurus ternak, laki-laki tetap memiliki peran dominan dalam aspek ekonomi melalui kendali atas penjualan susu dan distribusi hasilnya. Situasi ini menunjukkan bagaimana proyek yang tidak mempertimbangkan dinamika kekuasaan lokal dapat memperparah subordinasi perempuan dan membatasi manfaat yang seharusnya bisa diterima oleh mereka.
4) Pengabaian terhadap Identitas Perempuan yang Beragam
Pendekatan feminisme post-modern juga mempertanyakan pengkotakan peran yang diberikan kepada perempuan sebagai "pengasuh" ternak. Identitas perempuan yang beragam dan kebutuhan spesifik mereka tidak diakomodasi dalam proyek ini, yang hanya melihat perempuan sebagai tenaga kerja domestik tambahan tanpa akses ke pengambilan keputusan ekonomi.
5) Implikasi terhadap Anak Perempuan
Ketidaksetaraan dalam proyek ini juga berdampak pada anak perempuan yang harus membantu pekerjaan rumah tangga, sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan. Feminisme post-modern akan menyoroti bahwa proyek ini seharusnya dapat lebih responsif terhadap dampak pada generasi perempuan berikutnya. Karena anak perempuan tidak mendapatkan keuntungan yang setara dari hasil proyek, mereka malah semakin terjebak dalam peran tradisional yang membatasi akses mereka ke pendidikan dan pengembangan diri.
3. Implementasi Program Berdasarkan Konsep Pembangunan Berorientasi Gender:
WID, WAD, dan GAD
a. WID (Women in Development)
Teori Women in Development (WID) menekankan pentingnya melibatkan perempuan dalam peran yang lebih produktif dalam pembangunan, bukan hanya sebagai pekerja pemelihara atau penerima manfaat. Penerapan teori ini dapat mengubah struktur sosial dan ekonomi dalam masyarakat, dengan tujuan agar perempuan dapat meraih manfaat langsung dari program-program pembangunan dan memiliki akses terhadap pengelolaan serta
distribusi keuntungan secara adil. Program-program yang sesuai dengan pendekatan WID dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan, meningkatkan pemberdayaan mereka, serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih merata.
Berdasarkan kasus yang dijelaskan mengenai proyek pemberian kerbau di Nepal, beberapa hal dapat dikembangkan dan dianalisis lebih lanjut dalam konteks WID:
1) Peran Perempuan dalam
Pembangunan Dalam pendekatan WID, perempuan seharusnya diberi pelatihan dan akses untuk berperan aktif dalam pengelolaan dan penjualan produk yang dihasilkan.
Pada kasus ini, pemberian kerbau kepada keluarga miskin dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan dan gizi anak-anak, namun hanya memberikan beban kerja tambahan kepada perempuan. Mereka diharapkan untuk memelihara kerbau, memerah susu, dan mengurus pekerjaan domestik, yang memperburuk beban kerja yang sudah ada.
2) Partisipasi Perempuan dalam Keputusan
Ekonomi Dari temuan bahwa laki-laki (ayah dan anak laki-lakinya) bertanggung jawab menjual susu dan mengelola hasilnya, dapat disimpulkan bahwa kontrol ekonomi dan keuntungan tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. Hal ini mencerminkan ketimpangan dalam distribusi kekuasaan di dalam rumah tangga. Dalam teori WID, pemberdayaan ekonomi perempuan dapat dicapai dengan memberikan mereka peran lebih besar dalam pengambilan Keputusan,
3) Distribusi Manfaat yang Adil
Salah satu temuan penting dari proyek ini adalah ketimpangan dalam distribusi manfaat. Anak laki-laki mendapatkan prioritas untuk pendidikan, sementara anak perempuan tetap terjebak dalam pekerjaan domestik dan perawatan kerbau. Hal ini menunjukkan adanya diskriminasi berbasis gender dalam alokasi sumber daya dan kesempatan, yang menghambat kemajuan dalam pemberdayaan perempuan dan pengentasan kemiskinan.
4) Keseimbangan Beban Kerja
Proyek ini meningkatkan beban kerja perempuan tanpa memberikan dukungan yang memadai, seperti pelatihan atau perubahan dalam pembagian kerja domestik. Dalam pendekatan WID, penting untuk menyeimbangkan beban kerja agar perempuan tidak terjebak dalam rutinitas yang tidak menguntungkan mereka. Oleh karena itu, perlu ada
program pendampingan yang dapat membantu perempuan dalam memanage waktu antara pekerjaan domestik dan pekerjaan produktif.
b. WAD (Women and Development)
Pendekatan WAD (Women and Development) dalam konteks proyek pengentasan kemiskinan di desa Nepal dapat dikembangkan lebih lanjut dengan memahami beberapa aspek yang mempengaruhi hasil dari program tersebut. Dalam teori WAD, fokusnya adalah pada pemberdayaan perempuan dalam pembangunan tanpa mengabaikan aspek domestik dan reproduktif mereka. Meskipun proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan pendapatan keluarga, kenyataannya justru memperburuk beban kerja perempuan dalam hal domestik. Berdasarkan kasus ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan teori WAD lebih lanjut.
1) Distribusi Tugas dalam Rumah Tangga
Proyek ini menunjukkan ketidakseimbangan dalam pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan perempuan mengalami beban ganda. Dalam konteks WAD, ini mengarah pada pemikiran bahwa jika perempuan diberikan tanggung jawab tambahan tanpa mengurangi beban domestik mereka, maka hal itu akan menghambat pemberdayaan mereka. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah pembagian tugas yang lebih adil, di mana laki-laki juga dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga selain hanya fokus pada aspek pemasaran atau penyimpanan hasil penjualan susu.
2) Pengaruh terhadap Kesejahteraan Anak
Tujuan dari pemberian kerbau adalah untuk meningkatkan gizi anak, namun kenyataannya status gizi anak tidak meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun susu dihasilkan, akses anak-anak, terutama perempuan, terhadap susu dan manfaat gizi dari susu tersebut tidak optimal. Dalam WAD, ini mencerminkan pentingnya akses dan kontrol perempuan terhadap sumber daya ekonomi yang mereka hasilkan. Jika perempuan tidak memiliki kendali penuh atas hasil produksi susu, maka manfaat tersebut tidak akan maksimal untuk kesejahteraan anak-anak.
3) Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan
Salah satu masalah yang dihadapi adalah peran perempuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan mengenai penggunaan hasil penjualan susu. Hasil penjualan susu lebih banyak diberikan kepada anak laki-laki untuk keperluan sekolah, sementara anak perempuan tetap terjebak dalam rutinitas domestik. Dalam pendekatan WAD,
seharusnya perempuan diberdayakan untuk memiliki suara dalam keputusan-keputusan ekonomi keluarga, termasuk dalam menentukan alokasi pendapatan dan peran perempuan dalam pendidikan anak-anak.
4) Teknologi yang Ramah Perempuan
Proyek ini tidak menyebutkan adanya dukungan teknologi atau alat yang dapat mengurangi beban kerja perempuan. Dalam kerangka WAD, salah satu pendekatan penting adalah mengembangkan teknologi yang bisa mempermudah pekerjaan domestik perempuan, sehingga mereka bisa lebih terlibat dalam kegiatan ekonomi tanpa mengorbankan tugas-tugas rumah tangga mereka. Misalnya, mesin pemerah susu sederhana atau sistem pembagian tugas yang lebih terorganisir bisa mengurangi beban fisik perempuan dan memberi mereka waktu lebih untuk fokus pada kesejahteraan keluarga.
5) Keseimbangan Antara Kesejahteraan Ekonomi dan Sosial
Proyek ini juga menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan pendapatan dari hasil penjualan susu, manfaat ekonomi tersebut tidak secara langsung berdampak pada peningkatan partisipasi pendidikan anak perempuan atau kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Dalam teori WAD, kesejahteraan ekonomi dan sosial perempuan harus berjalan beriringan. Oleh karena itu, program yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi harus juga memperhatikan aspek sosial, seperti pemberdayaan perempuan dalam pendidikan dan pengambilan keputusan rumah tangga.
6) Perubahan Sosial dan Kultural
Masalah yang muncul dalam proyek ini juga berkaitan dengan norma sosial dan budaya yang ada, yang cenderung menempatkan perempuan pada peran tradisional. Dalam pendekatan WAD, penting untuk tidak hanya mengimplementasikan program pembangunan ekonomi, tetapi juga melakukan perubahan sosial dan kultural.
Pemberdayaan perempuan harus disertai dengan perubahan pola pikir masyarakat mengenai peran perempuan dalam ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial secara lebih luas.
c. GAD (Gender and Development)
Teori Gender and Development (GAD) berfokus pada bagaimana kebijakan dan program pembangunan dapat meningkatkan kesetaraan gender dengan mengatasi ketidaksetaraan dalam pengambilan keputusan dan pembagian sumber daya antara laki-laki dan perempuan. Pendekatan ini menekankan pentingnya peran serta perempuan dalam
proses pengambilan keputusan serta pemberian akses yang setara terhadap sumber daya ekonomi, sosial, dan politik.
Dalam konteks proyek pemberian 20 ekor kerbau rawa kepada keluarga miskin di Nepal, penerapan prinsip GAD seharusnya mempertimbangkan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya, akses terhadap keuntungan, dan pembagian tugas yang adil di dalam keluarga. Program semacam ini berpotensi membawa perubahan positif dalam meningkatkan status gizi, pendapatan, dan pendidikan, tetapi hasil yang tidak sesuai harapan menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam pembagian tugas dan kontrol sumber daya di dalam rumah tangga.
Berdasarkan kasus tersebut, kita dapat mengembangkan teori GAD dengan memperhatikan beberapa aspek berikut:
1) Distribusi Tugas yang Tidak Setara
Dalam kasus ini, perempuan diberikan tanggung jawab tambahan untuk merawat dan memerah susu kerbau, yang justru menambah beban kerja mereka yang sudah berat dalam urusan domestik. Hal ini menandakan bahwa distribusi tugas yang tidak adil di dalam rumah tangga memperburuk keadaan, alih-alih meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak-anak. Sebuah implementasi program berbasis GAD harus mendorong distribusi tugas yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan, memastikan bahwa perempuan tidak dibebani dengan beban ganda (domestik dan ekonomi) yang menghalangi mereka untuk berkembang secara pribadi dan profesional.
2) Akses yang Tidak Setara terhadap Sumber Daya
Sumber daya yang diperoleh dari kerbau, yaitu susu, tidak dibagi secara merata dalam keluarga. Laki-laki, baik orang tua maupun anak laki-laki, mengontrol hasil penjualan susu dan memutuskan bagaimana uang tersebut digunakan, dengan lebih mengutamakan anak laki-laki untuk pendidikan, sementara anak perempuan tetap dipaksa untuk membantu ibu mereka di rumah. Dalam perspektif GAD, kesetaraan akses terhadap sumber daya dan kontrol atas pendapatan adalah kunci. Program- program yang lebih sensitif terhadap gender seharusnya mengutamakan pendidikan untuk semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, serta memberikan perempuan kontrol langsung atas pendapatan yang dihasilkan dari proyek ini. Dengan demikian, perempuan bisa memiliki lebih banyak kebebasan untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka dan anak-anak mereka.
3) Pertimbangan Kebutuhan Strategis
Perempuan Perempuan seringkali memiliki kebutuhan strategis yang berbeda dengan laki-laki, seperti kebutuhan untuk pendidikan dan kesehatan anak-anak. Dalam konteks proyek ini, seharusnya ada perhatian lebih terhadap kesehatan ibu dan anak perempuan, serta upaya untuk mengurangi beban kerja perempuan. GAD mengajarkan pentingnya memperhatikan kebutuhan strategis perempuan dalam program pembangunan, dan memberikan mereka akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, serta akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Jika perempuan diberi peluang untuk meningkatkan keterampilan dan pendidikannya, mereka akan lebih mampu untuk berkontribusi dalam perekonomian keluarga tanpa harus mengorbankan kesehatan atau perkembangan pribadi mereka.
4) Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Pengambilan Keputusan
Proyek ini kurang memberikan ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, baik dalam hal penggunaan hasil penjualan susu maupun dalam perencanaan penggunaan sumber daya lainnya. Salah satu prinsip dasar dari GAD adalah partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan, yang dalam hal ini sangat penting untuk meningkatkan hasil program. Perempuan perlu dilibatkan dalam keputusan-keputusan terkait bagaimana keuntungan digunakan dan bagaimana program dikelola, sehingga mereka bisa menentukan prioritas sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri, seperti pendidikan anak perempuan, pengeluaran kesehatan, dan perbaikan kondisi kehidupan secara umum.