Rumusan masalah
Faedah penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis, yaitu: Secara teoritis, dengan adanya penelitian ini diharapkan kita dapat memperoleh pengetahuan mengenai dasar, sumber, tanggung jawab dan pertimbangan dewan pengawas yang melakukan subsidi silang antar program penyelenggara jaminan sosial. badan (BPJS). Tidak melalui putusan pengadilan yang dijelaskan dengan pemikiran-pemikiran teoritis yang diharapkan setidak-tidaknya menjadi rujukan keilmuan/sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam perkembangan ilmu hukum serta sumbangan pemikiran di dunia. pendidikan. Secara teoritis, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang dasar, sumber, tanggung jawab dan pertimbangan dewan pengawas yang melakukan subsidi silang antar program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tanpa melalui putusan pengadilan yang dijelaskan dengan pemikiran-pemikiran teoritis yang diharapkan sekurang-kurangnya dapat menjadi rujukan ilmiah/sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam pengembangan ilmu fiqih serta sumbangan pemikiran dalam dunia pendidikan. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk kepentingan negara, bangsa, masyarakat, dan para praktisi hukum, serta berkontribusi terhadap literatur yang membahas permasalahan pengangkatan anak tanpa penetapan pengadilan.
Tujuan penelitian
Yang dimaksud dengan “subsidi silang” adalah subsidi silang yang dilakukan Dewan sehubungan dengan antar program di lingkungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sesuai UU BPJS tahun 2011, subsidi silang antar program tidak diperbolehkan oleh Dewan Pengawas dan anggota Direksi. Mekanisme subsidi silang langsung atau dana hibah dengan demikian tidak dapat dilaksanakan dari BPJS Ketenagakerjaan ke BPJS Kesehatan.
Sesuai UU BPJS tahun 2011, subsidi silang antar program tidak boleh dilakukan oleh dewan pengawas dan anggota BPJS. Namun undang-undang mewajibkan seluruh warga negara menjadi peserta BPJS Kesehatan dan membayar iuran agar mekanisme subsidi silang dapat dilaksanakan. Misalnya, BPJS Ketenagakerjaan tidak boleh melakukan subsidi silang BPJS Kesehatan dan tidak boleh melakukan subsidi silang antar program di BPJS Ketenagakerjaan.
Pendanaan subsidi silang untuk program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang skema pendanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program JKP menyebutkan dana JKP sebesar 0,46 persen dari upah pekerja. . Skema subsidi silang antar program jaminan sosial yang tidak melanggar aturan dalam proses badan penyelenggara jaminan sosial, yaitu subsidi silang pendanaan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), yang skema pendanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan merupakan peraturan turunan dari Undang-Undang 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Omnibus Law). SANKSI PIDANA BAGI DEWAN PENGAWAS YANG LINTAS SUBSIDI ANTAR LEMBAGA SUBSIDI SILANG ANTAR PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS).
Berdasarkan hasil penelusuran, belum ada informasi spesifik mengenai sanksi bagi Dewan Pengawas yang melakukan subsidi silang. Dijelaskan, mekanisme subsidi silang langsung atau dana hibah tidak dapat dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan di. Sebagai pelengkap penelitian mengenai subsidi silang, sebagai tambahan data dalam penelitian skripsi yang berjudul.
Pendanaan subsidi silang Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang skema pendanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program JKP menyebutkan dana JKP sebesar 0,46 persen dari upah pekerja. . . Subsidi silang yang terjadi di BPJS Ketenagakerjaan Lhoksmawe adalah kasus persilangan dana Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dengan menggunakan dana Program Jaminan Hari Tua (JHT. Subsidi silang terbagi menjadi dua jenis, yaitu subsidi silang langsung dan subsidi silang. subsidi silang tidak langsung.
Subsidi silang yang diperbolehkan antara lain subsidi silang bagi masyarakat mampu, subsidi bagi peserta kurang mampu, dimana sistem ini juga harus memastikan masyarakat patuh membayar iuran meskipun menjadi peserta JKN.
Definisi operasional
Keaslian penelitian
JURNAL Ira Natalia Wibowo, Mahasiswa NIM Fakultas Hukum Unsrat Tahun 2018 dengan judul “PENALTI BAGI ANGGOTA DEWAN DAN ANGGOTA DEWAN JAMINAN SOSIAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG 214 TATA USAHA NOMOR 210C BIRO ADMINISTRASI KEAMANAN SOSIAL”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja larangan bagi anggota dewan pengawas dan anggota direksi yang diatur dalam undang-undang nomor 24 tahun 2011, dan apa saja sanksi pidana bagi anggota dewan pengawas dan anggota dewan. direksi berdasarkan undang-undang nomor 25 tahun 2011 dengan menggunakan metode penelitian hukum. DENDA BAGI ANGGOTA DEWAN DAN ANGGOTA DEWAN JAMINAN SOSIAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 24 TAHUN 2011 TENTANG TATA KELOLA SOSIAL.
Dengan adanya penelitian tersebut, kami ingin mengetahui apa saja sanksi pidana bagi anggota dewan pengawas dan anggota direksi badan penyelenggara jaminan sosial serta apa saja larangan bagi anggota dewan pengawas dan anggota dewan penyelenggara jaminan sosial. direktur Badan Pengelola Jaminan Sosial.
Metode penelitian
- Jenis dan pendekatan penelitian
- Sifat penelitian
- Sumber data
- Alat pengumpulan data
- Analisis data
Sifat penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah deskriptif, yaitu penelitian yang hanya menggambarkan keadaan suatu objek atau peristiwa, tanpa ada maksud untuk menerima kesimpulan yang berlaku umum dengan pendekatan hukum normatif yang menggambarkan data secara sistematis. masalah yang perlu diatasi. Offline yaitu pengumpulan data studi kepustakaan secara langsung dengan mengunjungi toko buku dan perpustakaan (baik di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) untuk mengumpulkan data sekunder yang diperlukan untuk penelitian. Online yaitu penelitian kepustakaan yang dilakukan dengan cara mencari di internet untuk mengumpulkan data sekunder yang diperlukan untuk penelitian yang bersangkutan. 5) Analisis data.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif karena sesuai dengan jenis dan tujuan penelitian. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif, pengumpulan data yaitu pemilihan teori, asas, norma, doktrin dan pasal-pasal undang-undang yang relevan dengan permasalahan, membuat sistematisasi data-data tersebut sehingga menghasilkan kualifikasi. sejalan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan umum tentang dewan pengawas
Tinjauan umum tentang subsidi silang
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sanksi pidana bagi dewan pengawas yang melakukan subsidi silang
Namun terdapat ketentuan dalam Peraturan BPJS Ketenagakerjaan Nomor 1 Tahun 2021 tentang formulir kartu, sertifikat kepesertaan, dan formulir program jaminan sosial ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa BPJS Ketenagakerjaan dapat memberikan sanksi administratif kepada perusahaan yang melanggar peraturan, termasuk terkait pembayaran. premi. Dalam peraturan BPK tersebut terdapat ketentuan yang melarang penggunaan tarif yang dibedakan melalui subsidi silang antar kelompok pelanggan. Dan aturan mengenai BPJS tercantum dalam Undang-Undang 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Bentuk pertanggungjawaban sanksi pidana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, yang mengatur mengenai penjatuhan sanksi pidana terhadap anggota Dewan Pengawas dan anggota pengurus Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang melanggar larangan. .
Disini penulis menambahkan data tambahan dengan melakukan survei langsung dengan beberapa pertanyaan yang akan penulis gunakan sebagai bahan tambahan atau studi kasus terkait subsidi silang. Ada beberapa pengertian mengenai subsidi silang atau yang biasa kita sebut dengan subsidi keuangan, yang mana subsidi silang ini ada dua macam, yaitu subsidi silang langsung dan subsidi silang tidak langsung.Subsidi silang tidak langsung ini dilarang oleh undang-undang yang mengatur BPJS. dan subsidi silang. Ketidaklangsungan diperbolehkan karena ada banyak kebutuhan dan tuntutan yang bekerja sama. Sebagaimana dijelaskan terkait subsidi silang, terdapat dua jenis subsidi silang, yaitu subsidi silang langsung dan subsidi silang tidak langsung.
Subsidi silang, disebutkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 56 Tahun 2016, merupakan paket santunan kecelakaan kerja yang pertama, termasuk biaya pelayanan kesehatan. Jika kita menanyakan alasan mengapa terjadi subsidi silang ini, alasannya mungkin ada 2 hal, yaitu yang pertama adalah kepentingan pribadi dari pelaku yang melakukan subsidi silang tersebut, seperti penggunaan dana anggaran untuk kecelakaan tersebut. program asuransi di tempat kerja (JKK) untuk keperluan pribadi, yaitu apabila terjadi sesuatu yang memerlukan penggunaan dana anggaran untuk program tersebut, pelaku tidak dapat mengganti dan membelanjakan dana yang diperlukan, sehingga pelaku menggunakan dana anggaran lain untuk menutupinya, yakni dana dari Jaminan Hari Tua (JHT) dan oleh karena itu sering terjadi kasus subsidi silang. Jadi, ketika peluang sudah di depan mata dan pelaku melihat adanya peluang besar untuk mengambil dana anggaran, maka timbullah keadaan dimana dana yang diambil pelaku sangat diperlukan dan pelaku tidak dapat menggantikannya, sehingga terjadilah kasus subsidi silang. .
Berdasarkan uraian temuan penelitian di atas, penulis menyimpulkan bahwa sebelum kasus subsidi silang ini dapat dikenakan sanksi pidana terhadap dewan pengawas yang melakukannya, terlebih dahulu harus ada kesepakatan di luar pengadilan untuk menyelesaikannya, seperti pada Contoh. dari kasus tersebut yang telah penulis selidiki di BPJS KETENAGAKERJAAN LHOKSMAWE, namun apabila pelaku tidak mempunyai itikad baik dan rasa tanggung jawab untuk menyelesaikannya maka dalam hal ini pihak perusahaan dapat membawa ke pihak yang berwajib dan menyelesaikannya berdasarkan sanksi yang telah ditetapkan. dalam hukum yang berlaku. KIS tidak sedang cuti sakit dan tetap membayar iuran setiap bulannya, namun dapat membantu peserta lain yang sakit, sehingga keuntungan dari pembayaran iuran tersebut dapat membantu peserta lain yang memang membutuhkan pelayanan kesehatan, dan seiring dengan mengedepankan gotong royong dari BPJS Kesehatan. atau sistem subsidi silang. Mekanisme subsidi silang langsung atau hibah pendanaan tidak bisa dibiarkan dari BPJS Ketenagakerjaan ke BPJS Kesehatan dan juga ada tanggung jawab yang ditetapkan bagi dewan yang melanggar hal ini, seperti tanggung jawab administratif dan juga sanksi pidana.
Bentuk pertanggungjawaban sanksi pidana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang mengatur mengenai penjatuhan sanksi pidana terhadap anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Badan pengatur yang melanggar larangan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54: Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi yang melanggar ketentuan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf g, huruf h, huruf i, huruf j, huruf k, huruf l, atau huruf m dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun. Yang harus lebih diperhatikan pemerintah adalah sistem pengawasan terhadap badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) secara berkala dan hati-hati, baik itu BPJS ketenagakerjaan maupun BPJS kesehatan.
Bentuk – bentuk dewan pengawas yang melakukan subsidi silang