LAPORAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) 1
PENERAPAN IRIGASI TETES DI BPTP JAWA TIMUR KECAMATAN KARANGPLOSO KAB MALANG
Oleh
MOH AZIS NUSBITUL H NIM. 07.15.20. 039
PROGRAM STUDI TATA AIR PERTANIAN POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN
2022
i HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PRAKTIK KERJA
LAPANGAN (PKL) 1
NAMA : MOH AZIS NUSBITUL
NIM : 07.15.20.039
PROGRAM STUDI : TATA AIR PERTANIAN
JUDUL LAPORAN : PENERAPAN IRIGASI TETES DI BPTP JAWA TIMUR KECAMATAN KARANGPLOSO KAB MALANG
Menyetujui : Pembimbing 1
Rahmat, S.ST,M.T NIP. 196910071998021000
Pembimbing 2
Dr. Ir. Rahmat Hanif Anasiru,M.Eng NIP. 196407251992031002
Mengetahui Ketua Program Studi
Dr. Ir. Rahmat Hanif Anasiru,M.Eng NIP. 196407251992031002
ii KATA PENGANTAR
Puji syukur terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas nikmat dan karunia-Nya Penulis dapat Menyusun proposal Praktik Kerja Lapang (PKL) dengan judul “Penerapan irigasi tetes pada budidaya tanaman cabai di BPTP Jawa Timur Kecamatan Karangploso Kab Malang”.
Proposal ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi tugas Praktik Kerja Lapangan 1 Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia Tahun Akademik 2021/2022.
Penulis menyadari bahwa proposal ini tidak mungkin berjalan lancar tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang terkait. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Dr. Muharfiza,S.TP, M.Si selaku Direktur Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia.
2. Dr. Ir. Rahmat Hanif Anasiru,M.Eng selaku Ketua Program Studi Tata Air Pertanian
3. Rahmat, S.ST,M.T selaku Pembimbing I
4. Dr. Ir. Rahmat Hanif Anasiru,M.Eng selaku pembimbing II
5. Semua pihak yang tidak dapat Saya sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan proposal
Dalam penyusunan proposal ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan baik dari penyusunan kalimat, data maupun tatacara penulisannya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi menghasilkan proposal yang lebih baik dikemudian hari.
Tangerang, 30 Juni 2022
Penulis
iii DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) 1 i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR GAMBAR ...v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB 1 PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 3
1.3 Manfaat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Irigasi ... 4
2.2 Sistem Irigasi Tetes ... 5
2.3 Keuntungan dan Kelemahan Irigasi Tetes ... 6
2.4 Metode Pemberian Air pada Irigasi Tetes ... 7
2.5 Komponen-Komponen Irigasi Tetes ... 9
2.6 Tipe Emitter ... 11
BAB III METODE PELAKSANAAN ... 14
3.1 Waktu dan Tempat Praktik Kerja Lapangan ... 14
3.2 Materi Kegiatan ... 14
3.3 Matriks Rencana Kegiatan... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16
4.1 Deskripsi Umum Lokasi PKL ... 16
4.1.1 Profil Balai Pengkajian Teknologi Pertanaian Jawa Timur ... 16
4.1.2 Klasifikasi SDM ... 18
4.1.3 Inovasi teknologi komoditi pertanian... 18
4.1.4 Informasi identifikasi tanah di jatim timur... 21
4.1.5 Data Alasintan BPTP JATIM ... 22
4.2 Identifikasi pompa irigasi tetes ... 23
iv
4.2.1 Layout irigasi tetes ... 24
4.2.2 Komponen irigasi tetes... 25
4.2.3 Spesifikasi jaringan irigasi tetes diBPTP JATIM... 29
4.2.4 Pemeliharaan irigasi tetes ... 29
BAB V PENUTUP... 32
5.1 Kesimpulan ... 32
5.2 Saran ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 34
LAMPIRAN ... 35
iv DAFTAR TABEL
Tabel 1. Cakupan materi kegiatan pelaksanaan PKL . ... 14
Tabel 2. Matriks Rencana Kegiatan... 15
Tabel 3.daftar data alsintan ... 22
Tabel 4.Spesifikasi irigasi tetes... 29
v DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. viaflo(1), alat aplikasi yang dipasang dipipa lateral (2), dan pipa
berlubang (3). ... 8
Gambar 2. Komponen Irigasi Tetes. ... 9
Gambar 3. Penyambungan pipa pembagi – pipa utama ... 10
Gambar 4. Pipa polyethylene (PE). ... 10
Gambar 5. Berbagai jenis-jenis emitter. ... 11
Gambar 6.Skema beberapa tipe emitter: (a) orifice emitter, (b) orifice- vortex emitter, (c) emitter using flexible orifice in series, (d) continuous flow principle for multiple flexible orifice, (e) ball and slotted seat, (f) long-path emitter small tube, (g) long-path emitter, (h) compensating long-path emitter, (i) long-path multiple outlet emitter, (j) groove and flop shortpath emitter, (k) groove and disk shorth-path emitter, (l) twin wall emitter lateral. ... 12
Gambar 7. in line emitter (a), dan on line emitter (b). ... 13
Gambar 8. peta sumber daya lahan jawa timur ... 21
Gambar 9.sketsa irigasi tetes ... 24
Gambar 10.pompa ... 25
Gambar 11.Tandon air ... 25
Gambar 12.pipa pvc. ... 26
Gambar 13.pipa pembagi. ... 26
Gambar 14.pipa PE... 27
Gambar 15.stick drip ... 27
Gambar 16.Vinyl couplers... 28
Gambar 17.selang hdpe... 28
Gambar 18.Perawatan emitter... 31
vi DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Jurnal Harian (Logbook) kegiatan PKL 1 ... 35
Lampiran 2. Format Lembar Konsultasi. ... 39
Lampiran 3. Blanko Penilaian Proposal PKL 1... 40
Lampiran 4. Penilaian Pelaksanaan PKL 1 Pembimbing Eksternal. ... 41
Lampiran 5. Penilaian Laporan PKL 1. ... 42
Lampiran 6. Penilaian Laporan PKL 1. ... 43
Lampiran 7. Blanko Nilai Akhir PKL 1... 44
Lampiran 8. data personalia ... 45
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu komponen terpenting dalam pertanian. Di Indonesia, penggunaan air untuk pertanian menduduki peringkat pertama sebesar 75% (Indonesian Climate Change Sectoral Roadmap, 2010). Kebutuhan akan sumber daya air yang semakin meningkat menyebabkan adanya persaingan dalam pemanfaatannya, baik antara sektor pertanian dengan sektor non pertanian, maupun antar pengguna di sektor pertanian itu sendiri. Persaingan dalam penggunaan air menyebabkan perlunya efisiensi dalam penggunaan air.
Saat ini penggunaan air untuk sektor pertanian merupakan yang tertinggi dan mencapai sekitar 80% dari total kebutuhan air dunia (Seckler, 2000). Di Indonesia, penggunaan air untuk pembangunan pertanian menempati urutan pertama sekitar 75%, diikuti 13,5% untuk kebutuhan rumah tangga dan 11,5%
untuk kebutuhan industri (Gani, 2001). Kebutuhan air yang sangat besar ini sebagian besar berasal dari air irigasi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian tanaman padi, sedangkan air irigasi yang digunakan untuk pertanian di lahan kering sangat sedikit.
Irigasi merupakan salah satu komponen penting dalam mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan produksi pertanian. Dengan merancang sistem irigasi yang memperhatikan aspek kondisi tanah, kebutuhan air tanaman dan iklim mikro, efisiensi penggunaan air dapat ditingkatkan, yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi dan produktivitas untuk kegiatan pertanian secara keseluruhan. Penerapan sistem irigasi mikro bagi tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yaitu tanaman yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi, dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi.
Hal ini dikarenakan dalam penerapan irigasi mikro, jaringan pipa digunakan untuk menyediakan air irigasi yang memiliki nilai efisiensi yang sangat tinggi, sehingga dapat mengoptimalkan penggunaan air irigasi dan mendukung peningkatan keamanan pangan dan air.
Salah satu cara irigasi yang memungkinkan untuk menyesuaikan jumlah air dengan kebutuhan tanaman adalah irigasi tetes. Irigasi tetes adalah metode penyediaan air yang digambarkan sebagai pasokan air terus menerus dengan laju aliran rendah. Secara mekanis, air disalurkan melalui jaringan pipa, yang kemudian diberikan ke daerah akar dalam jumlah yang mendekati kebutuhan
2
tanaman melalui emitter, yaitu lubang-lubang kecil tertentu yang panjangnya sama di sepanjang pipa saluran. Sistem irigasi tetes dapat menghemat penggunaan air, karena dapat meminimalkan kehilangan air yang dapat terjadi seperti perkolasi, evaporasi dan drainase, sehingga cocok digunakan pada daerah pertanian yang sumber airnya terbatas.Irigasi tetes pada umumnya digunakan untuk tanaman- tanaman bernilai ekonomi tinggi, termasuk tanaman cabai. Hal ini sejalan dengan diperlukannya biaya awal yang cukup tinggi, akan tetapi untuk biaya produksi selanjutnya akan lebih kecil karena sistem irigasi tetes dapat menghemat biaya pengadaan peralatan yang biasanya dapat digunakan untuk beberapa kali musim tanam serta menghemat biaya tenaga kerja untuk penyiraman, pemupukan dan penyiangan.
Hasil percobaan Sumarna dan Stallen (1991) menghasilkan kebutuhan air pengairan untuk pertanaman cabai dalam satu musim tanam pada tanah Latosol di daerah Subang adalah sekitar 12,620 mm per hektar, bila dilakukan dengan sistem irigasi tetes, sedangkan dengan cara petani setempat, yaitu menggunakan alat embrat (“water can”) dapat mencapai 27,428 mm per hektar. Hal ini membuktikan, bahwa dengan sistem irigasi tetes dapat menghemat pemakaian air.
Di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian yang berlokasi di Jl. Raya Karangploso No.Km.04, Turi Rejo, Kepuharjo, Kec. Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65152 melaksanakan pengkajian dan perakitan teknologi tepat guna spesifik lokasi bagi semua komoditas pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan dengan teknologi yang bersifat terapan (siap pakai) dengan mempertimbangkan optimasi produksi serta pendapatan petani.
3 1.2 Tujuan
1. Mengetahui penerapan sistem pengarian irigasi tetes di BPTP Jawa timur.
2. Mahasiswa mampu meningkatkan kompetensi dan keterampilan (skill) untuk menjadi teknisi yang ahli dibidang tata air pertaniaan
3. Mahasiswa mampu mengoperasikan alat-alat yang menunjang pertanian.
4. Mahasiswa mampu mengimplemantasikan ilmu yang didapat selama belajar diperkuliahan.
1.3 Manfaat
1. Manfaat Praktik Kerja Lapangan bagi mahasiswa adalah :
a. Mampu mengerjakan pekerjaan lapangan dan sekaligus melaksanakan serangkaian keterampilan yang sesuai dengan bidang keahliannya.
b. Teratih untuk berfikir kritis dan menggunakan daya nalarnya dengan cara memberi komentar logis terhadap kegiatan yang dikerjakan .
c. Menumbuhkan jiwa wirausaha dan sikap kerja yang berkarakter.
d. Dapat mewujudkan jiwa kemandirian beradaptasi, bersosialisasi dengan keadaan sosiokultur di lapangan.
2. Manfaat bagi pihak terkait seperti Instansi Pemerintah/Swasta, pelaku utama dan pelaku usaha serta Stakeholder lain adalah :
a. Mengenalkan PEPI sebagai penyelenggara Pendidikan vokasi di bidang Enjiniring Pertanian.
b. Menciptakan Kerjasama yang baik dengan Dinas Pertanian kabupaten/kota dan tingkat kecamatan.
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Irigasi
Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pengembangan air irigasi untuk menunjang pertanian. System irigasi meliputi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi, dan sumber daya manusia.
Penyediaan air irigasi adalah penentuan volume air per satuan waktu yang dialokasikan dari sumber air untuk suatu daerah irigasi yang didasarkan waktu, jumlah, dan mutu sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang pertanian dan keperluan lainnya.(Kejuruan, D.P., 2013)
Secara umum irigasi dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan untuk pemberian air ke tanah yang bertujuan untuk memberikan kelembaban tanah dan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, irigasi dibuat untuk melengkapi kebutuhan air untuk penganti air hujan dan air tanah (Sapei, 2006). Menurut Ginting (2014) irigasi ialah kegiatan-kegiatan dalam bidang pertanian yang bertujuan untuk menyediakan air melalui sarana dan prasarana yang dapar menyalurkan air dari badan air ke tanaman yang ada dilahan pertanian selama masa pertumbuhan tanaman, untuk dapat melakukan pengendalian kelebihan air pada tanaman yang ada dilahan pertanian, dan juga untuk melakukan pengendalian lingkungan maka diperlukan adanya rekayasa irigasi.
Irigasi bertekanan menurut Direktorat Pengendalian Air (2010) ialah salah satu cara alternatif dalam teknologi sistem irigasi, yang memiliki nilai efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan irigasi permukaan, teknologi sistem ini dapat diterapkan pada lahan-lahan kering yang memiliki air terbatas sehingga penghematan dalam penggunaan air, irigasi bertekanan ini akan memiliki efisiensi yang tinggi apabila dalam perancangan dengan baik dan benar serta cara mengoperasikannya dengan benar, contoh dari irigasi bertekanan ini yaitu irigasi curah (sprinkler) dan irigasi tetes (drip irrigation).
Ditinjau dari proses penyediaan, pemberian, pengelolaan, dan pengaturan air, sistem irigasi dapat dikelompokkan menjadi:
1. Sistem irigasi permukaan (surface irrigation system).
2. Sistem irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation system).
3. Sistem irigasi dengan pancaran (Sprinkler irrigation system)
4. Sistem irigasi dengan tetesan (Trickle irrigation/drip irrigation system)
5
Pemilihan jenis sistem irigasi sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologis, klimatologis, topografi, fisik dan kimiawi lahan, biologis tanaman, pendistribusian air, sosial ekonomi dan budaya, teknologi (sebagai masukan sistem irigasi) serta keluaran atau hasil yang diharapkan. Menurut Bustomi (2000) representasi sistem irigasi sebagai suatu kesatuan hubungan masukan (input), proses, dan keluaran (output) Adapun manfaat suatu sistem irigasi :
a. Untuk membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah pada daerah yang curah hujannya kurang atau tidak menentu
b. Untuk mengatur pembasahan tanah supaya daerah pertanian dapat diairi sepanjang waktu, baik pada musim kemarau maupun pada musim penghujan.
c. Untuk menyuburkan tanah, dengan mengalirkan air yang mengandung lumpur & zat – zat hara penyubur tanaman pada daerah pertanian tersebut, sehingga tanah menjadi subur.
d. Untuk kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang rendah / rawa dengan pengendapan lumpur yang dikandung oleh air irigasi (Rachmad, 2009).
2.2 Sistem Irigasi Tetes
Irigasi tetes merupakan sistem pemberian air ke tanaman menggunakan alat aplikasi (applicator, emission device) yang dapat menyuplai air dengan debit yang rendah dan dalam frekuensi secara terus–menerus pada zona perakaran tanaman, irigasi tetes merupakan salah satu jenis dari sistem irigasi bertekanan rendah (Sapei, 2006).
Irigasi tetes/drip merupakan sistem irigasi yang lebih efisien penggunaan airnya dibandingkan dengan sistem saluran terbuka. Sistem ini juga lebih ekonomis dalam operasional dan perawatan peralatannya, mengingat upah tenaga kerja dan air menjadi barang yang mahal. Irigasi tetes cukup baik digunakan untuk usaha agroindustri tanaman hortikultura (Tribowo, 1997).
Irigasi tetes sangat potensial diterapkan untuk usaha tani lahan kering dengan ketersediaan air yang sangat terbatas. Sistem pengairannya menggunakan pipa-pipa plastik, kemudian air dikeluarkan dari pipa menggunakan emitter/penetes yang memiliki spesifikasi debit aliran tertentu, lalu diteteskan di dekat tanaman.
Pemberian air yang berupa tetesan akan meminimalisasi kehilangan air karena evaporasi. Laju dan waktu pemberian air dapat diatur untuk meniadakan run-off dan meminimalisasi kehilangan air yang diakibatkan oleh perkolasi (Meijer,1989).
6
Menurut Banks (2012), irigasi tetes merupakan salah satu metode pemberian air tanaman yang mengurangi kelebihan penggunaan airdengan cara membiarkan air mengalir secara menetes perlahan menuju ke akar tanaman yang dapat melalui permukaan tanah atau pun langsung ke zona perakaran, irigasi tetes ini menyalurkan air ke tanaman melalui katup, pipa dan juga penetes (emitter), ada banyak keuntungan dari irigasi tetes ini anatara lain menghemat air, mengurangi limpasan dan evaporasi, mengurangi petumbuhan gulma dan dapat dirancang untuk semua kondisi lahan.
Irigasi tetes dapat diterapkan pada daerah-daerah dimana : a. Air tersedia sangat terbatas atau sangat mahal.
b. Tanah berpasir, berbatu atau sukar didatarkan.
c. Tanaman dengan nilai ekonomis tinggi.
Irigasi tetes pertama kali diterapkan di Jerman pada tahun 1869 dengan menggunakan pipa tanah liat. Di Amerika, metoda irigasi ini berkembang mulai tahun 1913 dengan menggunakan pipa berperforasi. Pada tahun 1940-an irigasi tetes banyak digunakan di rumah-rumah kaca di Inggris. Penerapan irigasi tetes di lapangan kemudian berkembang di Israel pada tahun 1960-an.
2.3 Keuntungan dan Kelemahan Irigasi Tetes
Beberapa keuntungan dari irigasi tetes yang dikemukakan oleh Keller dan Karmeli (1975) serta Jensen (1980) antara lain adalah :
1. Meningkatkan nilai guna air secara umum air yang digunakan pada irigasi tetes relatif sedikit, penghemat air ini dapat terjadi karena pemberian air yang bersifat lokal dengan debit yang kecil, sehingga dapat menekan evaporasi, aliran permukaan dan perlokasi.
2. Meningkatkan keseragaman pertumbuhan dan hasil tanaman; aerasi dan fluktuasi kadar air tanah relatif konstan karena pemberian air dilakukan secara sedikit demi sedikit, hal ini sangat menunjang untuk pertumbuhan dan produksi tanaman.
3. Dapat mencegah erosi dan memperbaiki drainase tanah; penyimpanan air di dalam tanah sangat efektif karena pemberian air disesuaikan dengan kedalaman yang dibutuhkan.
4. Dapat menekan pertumbuhan gulma; pada permukaan tanah yang kering gulma tidak dapat tumbuh, sehingga dapat menekan kerja penyiangan.
5. Pemupukan dapat dilakukan melalui irigasi (fertigasi).
7
6. Dapat menghemat tenaga kerja.Adapun kelemahan menurut Asep Sapei. (2006) yang mungkin terjadi pada sistem irigasi tetes ini antara lain menurut asep spai adalah :
1. Memerlukan perawatan yang intensif, penyumbatan pada penetes merupakan masalah yang sering terjadi pada irigasi tetes, karena akan mempengaruhi debit dan keseragaman pemberian air. Untuk itu diperlukan perawatan yang intesif dari jaringan irigasi tetes agar resiko penyumbatan dapat diperkecil.
2. Penumpakan garam bila air yang digunakan mengandung garam yang tinggi dan pada dearah yang kering, resiko penumpukan garam menjadi tinggi.
3. Membatasi pertumbuhan tanaman pemberian air yang terbatas pada irigasi tetes menimbulkan resiko kekurangan air bila perhitungan kebutuhan air kurang cermat.
4. Keterbatasan biaya dan teknik, sistem irigasi tetes memerlukan investasi yang tinggi dalam pembangunannya. Selain itu, diperlukan teknik yang tinggi untuk merancang, mengoperasikan dan memeliharanya.
2.4 Metode Pemberian Air pada Irigasi Tetes
Pemberian air irigasi pada irigasi tetes meliputi beberapa metode pemberian, yaitu sebagai berikut menurut Asep Sapei. (2006) :
a. Irigasi tetes (drip irrigation). Pada metode ini, air irigasi diberikan dalam bentuk tetesan yang hampir terus menerus di permukaan tanah sekitar daerah perakaran dengan menggunakan emitter. Debit pemberian sangat rendah, biasanya kurang dari 12 l/jam untuk point source emitter atau kurang dari 12 l/jam per m untuk line source emitter.
b. Irigasi bawah permukaan (sub-surface irrigation). Pada metoda ini air irigasi diberikan menggunakan emitter di bawah permukaan tanah. Debit pemberian pada metoda irigasi ini sama dengan yang dilakukan pada irigasi tetes.
8
c. Bubbler irrigation. Pada metoda ini air irigasi diberikan ke permukaan tanah seperti aliran kecil menggunakan pipa kecil (small tube) dengan debit sampai dengan 225 l/jam. Untuk mengontrol aliran permukaan (run off) dan erosi, seringkali dikombinasikan dengan cara penggenangan (basin) dan alur (furrow).
d. Irigasi percik (spray irrigation). Pada metoda ini, air irigasi diberikan dengan menggunakan penyemprot kecil (micro sprinkler) ke permukaan tanah. Debit pemberian irigasi percik sampai dengan 115 l/jam. Pada metoda ini, kehilangan air karena evaporasi lebih besar dibandingkan dengan metoda irigasi tetes lainnya.
Irigasi tetes juga dapat dibedakan berdasarkan jenis cucuran air menjadi : 1. Air merebes sepanjang pipa lateral (viaflo).
2. Air menetes atau memancar melalui alat aplikasi yang di pasang pada pipa lateral.
3. Air menetes atau memancar melalui lubang-lubang pada pipa lateral.
1 1 q q q a a a 1 1 j s
(1) (2)
(3)
Gambar 1. viaflo(1), alat aplikasi yang dipasang dipipa lateral (2), dan pipa berlubang (3).
9 2.5 Komponen-Komponen Irigasi Tetes
Irigasi tetes menurut Ridwan (2013) memiliki beberapa unit komponen untuk dapat menyalurkan air ke tanaman. Unit komponen tersebut terdiri dari unit utama (head unit), pipa utama, pipa pembagi (manifold), pipa lateral dan alat aplikasi yang terdiri dari emitter. Sapei (2006) menjelaskan bahwa komponen-komponen irigasi tetes terdiri dari :
1. Unit utama (head unit)
Unit utama terdiri dari pompa, tangki injeksi, filter (saringan) utama dan komponen pengendali ( pengukur tekanan, pengukur debit dan katup).
2. Pipa utama (main line)
Pipa utama umumnya terbuat dari pipa polyvinylchlorida (PVC), galvanized steel atau besi cor dan berdiameter antara 7.5 – 25 cm. Pipa utama dapat dipasang di atas atau di bawah permukaan tanah.
3. Pipa pembagi (sub-main, manifold)
Pipa pembagi dilengkapi dengan filter kedua yang lebih halus (80-100 μm), katup selenoid, regulator tekanan, pengukur tekanan dan katup pembuang.
Gambar 2. Komponen Irigasi Tetes.
10
Pipa subutama terbuat dari pipa PVC atau pipa HDPE (high density polyethylene) dan berdiameter antara 50 – 75 mm.
4. Pipa Lateral
Pipa lateral merupakan pipa tempat dipasangnya alat aplikasi, umumnya dari pipa polyethylene (PE).
5. Alat aplikasi (applicator, emission device)
Alat aplikasi terdiri dari penetes (emitter), pipa kecil (small tube, bubbler) dan penyemprot kecil (micro sprinkler) yang dipasang pada pipa lateral.
Gambar 3. . Penyambungan pipa pembagi – pipa utama .
Gambar 4. Pipa polyethylene (PE).
11
Alat aplikasi yang baik harus mempunyai karakteristik :1) Debit yang rendah dan konstan.
2) Toleransi yang tinggi terhadap tekanan operasi, 3) Tidak terpengaruhi oleh perubahan suhu.
4) Umur pemakaian cukup lama.
2.6 Tipe Emitter
Dikutip dari buku Asep Sapei. (2006). Irigasi Tetes, tipe emitter yang utama antara lain adalah long path, short orifice, vortex, pressure compensating dan porous pipe.
Berdasarkan pemasangan di pipa lateral, penetes dapat dibedakan menjadi :
a. On-line emitter
On-line emitter di pasang pada lubang yang dibuat di pipa lateral.
b. In-line emitter
In-line emitter di pasang pada pipa lateral dengan cara memotong pipa lateral.
Gambar 5. Berbagai jenis-jenis emitter.
12
Emitter juga dapat dibedakan berdasarkan jarak spasi atau debitnya :a. Point source emitter.
Point source emitter di pasang dengan spasi yang renggang dan mempunyai debit yang relatif besar. Point source emitter dapat dipasang dengan pengeluaran (outlet) tunggal, ganda maupun multi.
b. Line source emitter
Line source emitter dipasang dengan spasi yang lebih rapat dan mempunyai debit yang kecil. Pipa porous dan pipa berlubang juga dimasukkan pada katagori ini.
Gambar 6. Skema beberapa tipe emitter: (a) orifice emitter, (b) orifice-vortex emitter, (c) emitter using flexible orifice in series, (d) continuous flow principle for multiple flexible orifice, (e) ball and slotted seat, (f) long-path emitter small tube, (g) long-path emitter, (h) compensating long-path emitter, (i) long-path multiple outlet emitter, (j) groove and flop shortpath emitter, (k) groove and disk shorth-path emitter, (l) twin wall emitter lateral.
13
Emitter berpengeluaran tunggal dapat untuk mengairi areal yang sempit atau di pasang disekitar tanaman yang lebih besar seperti emitter berpengeluaran ganda atau multi. Emitter berpengeluaran ganda umumnya digunakan untuk tanaman perdu dan emitter berpengeluaran multi untuk tanaman buah-buahan. Tanaman dalam baris seperti sayuran lebih sesuai menggunakan line source emitter.
Gambar 7. in line emitter (a), dan on line emitter (b).
(a) (b)
14 BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan Tempat Praktik Kerja Lapangan
Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Program Studi Tata Air Pertanian, Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia akan dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur Waktu pelaksanaan PKL dilaksanakan pada tanggal 11 Juli sampai dengan tanggal 5 Agustus 2022.
3.2 Materi Kegiatan
Tabel 1. Cakupan materi kegiatan pelaksanaan PKL .
No. Materi Kegiatan Rincian Kegiatan Output Kegiatan 1 Identifikasi
Keadaan dan informasi umum BPTP Kecamatan Karangploso
- Profil, Sejarah dan perkembangan - Posisi dan denah - Tata letak (Layout) - Struktur organisasi
- Personalia, tenaga kerja dan kualifikasi
- Tata kerja pegawai (jam kerja,shift)
Deskripsi profil BPTP Kecamatan Karangploso
2 Identifikasi jumlah dan jenis alsintan yang ada di BPTP Kecamatan Karangploso
- Mengidentifikasi jenis Alsintan yang ada
- Menghitung jumlah Alsintan yang ada
- Menghitung jumlah Alsintan yang layak pakai
Informasi dan Jumlah jenis alsintan
3 pemanfaatan alsintan di lapangan
- Koordinasi dengan lokasi PKL I untuk memobilisasi alsintan untuk mengolah lahan.
- pemanfaatan alsintan secara maksimal
- Menetapkan target harian pemanfaatan alsintan
Optimalisasi pemanfaatan alsintan di lapangan
15
No. Materi Kegiatan Rincian Kegiatan Output Kegiatan4 Mengoperasikan alsintan di lokasi PKL I
- Mengoperasikan alsintan sesuai dengan SOP yang terstandar
Pengalaman dalam
mengoperasikan alsintan
5 Analisis kondisi lahan dan
penerapan irigasi tetes
- Identifikasi lahan irigasi tetes - Obeservasi penerapan
irigasi tetes
Pengalaman dalam penerapan budidaya system irigasi tetes
3.3 Matriks Rencana Kegiatan
Tabel 2. Matriks Rencana Kegiatan.
Ke giatan
Bulan Juli 2022
Bulan Agustus 2022
Minggu ke -1 Minggu ke -2 Minggu ke -3 Minggu 4
11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5
Penerimaan di lokasi
Penempatan tinggal
Perizinan kegiatan
Mencari informasi umum
BPT P Kecamatan
Karangploso
Pendataan jumlah
Alsintan
pemanfaatan dan mengoperasikan
alsintan di lapangan
Analisis kondisi lahan dan penerapan irigasi
tetes
Penyusunan dan
penyelesaian laporan
16 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Umum Lokasi PKL
4.1.1 Profil Balai Pengkajian Teknologi Pertanaian Jawa Timur
BPTP Balitbangtan Jawa Timur merupakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dibawah koordinasi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Balitbangtan. Kantor Balai beralamatkan di jalan Raya Karangploso Km 4 Malang. Jarak nya sekitar 92 km dari ibu kota Propinsi Jawa Timur (Surabaya). Keberadaan BPTP sejak tahun 1995 yang sebelum periode tahun tersebut yaitu tahun 1931 bernama Instansi Igemene Proefstation voor Landbouw.
Sejalan dengan berjalannya waktu, maka mengalami reorganisasi dengan perubahan nama-nama instansi. BPTP Balitbangtan Jawa Timur dipimpin oleh seorang Kepala Balai setaraf Eselon III dan didukung 142 pegawai yang terdiri dari jabatan fungsional tertentu dan fungsional umum. Adapun tugas pokoknya adalah melaksanakan pengkajian dan perakitan teknologi tepat guna specifik lokasi untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura,perkebunan dan peternakan yang bersifat teknologi terapan. Selain sumber daya manusia juga didukung sarana prasarana kebun percobaan, lahan dan laboratorium yang bisa dimanfaatkan oleh umum.
Sehubungan dengan tugas pokoknya maka telah banyak yang dihasilkan BPTP tentang pengkajian , rakitan teknologi speksifik lokasi dan diseminasi.
Kegiatan yang sifatnya in house maupun mandatory diantaranya pendampingan kawasan pertanian, UPSUS, TTP, Bioindustri, UPBS, SDG dan diseminasi. Dari hasil-hasil kegiatan tersebut telah banyak yang dimanfaatkan oleh petani maupun pengguna yang lain.
17
Sejarah nama instansi BPTP Balibangtan Jatim 1931 : Igemene Proefstaion voor Landbouw, Bogor.
1936 – 1953 : Proeftuinen voor Tuinbow, Oost Java Malang.
1953 – 1957 : Kebun-kebun Percobaan Jawa Timur Malang.
1957 – 1961 : Tjabang Bagian Perkebunan Rakyat Malang.
1961 – 1981 : Tjabang Lembaga Penelitian Tanaman Sajur Majur, Buah-buahan dan Bunga-bungaan (Hortikultura) Malang.
1981 – 1984 : Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balitan) Malang.
1984 – 1995 : Sub Balai Penelitian Hortikultura Malang.
1995 – 2001 :
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Karangploso.
2001 – 2017 :
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur.
2017 :
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Jawa Timur.
Struktur Organisasi BPTP Balitbangtan Jawa Timur.
Dr.Atekan,SP.M.Si Kepala BPTP JATIM
Putu Bagus Daroini,SP,M.SI Ka.Subbag Tata Usaha
Sub Koordinator Program
Sub Koordinator Seksi Kerjasama dan Pelayanan
Pengkajian
Laboratorium Kebun Percobaan
Kelti Budidaya Kelti
Mekanisasi &
Teknologi Pasca Panen Kelti
Sumberdaya Kelti Sosial
Ekonomi &
inovasi teknologi
18 4.1.2 Klasifikasi SDM
BPTP Balitbangtan Jawa Timur didukung oleh 95 pegawai yang terdiri dari Jabatan fungsional dan jabatan fungsional umum. Jabatan fungsional terdiri dari kelompok peneliti, penyuluh dan teknisi sedangkan jabatan fungsional umum meliputi tenaga administrasi dan penunjang lainnya. Klasifikasi sumberdaya manusia BPTP Balitbangtan Jawa Timur sebagai berikut: Keahlian peneliti meliputi, ahli dalam bidang budidaya tanaman, budidaya ternak, bidang pemuliaan tanaman, bidang sumberdaya, bidang pasca panen dan olahan hasil pertanian/ternak, bidang hama penyakit tanaman, bidang ilmu tanah, bidang penyakit hewan ternak, bidang sosial ekonomi pertanian.
4.1.3 Inovasi teknologi komoditi pertanian
1. PadiVarietas-varietas padi yang telah banyak berkembang di Jawa Timur adalah Ciherang, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 42 dan Inpari 30. Selama pendampingan pengembangan kawasan tanaman pangan varietas yang paling banyak dibudidayakan adalah varietas ciherang dan Inpari.
Varietas-varietas Inpari potensi untuk ditanam pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m d.p.l.
Potensi hasil untuk Inpari 30 sekitar 9,6 t/ha/GKG, Inpari 32 potensi hasil sekitar 8,42 t/ha GKG, sedangkan Inpari 42 potensi potensi hasil 10,58 t/ha/GKG.
2. Kedelai
Varietas-varietas kedelai Anjasmoro, Argomulyo, Kaba, Dering 1, Dena 1, Grobogan merupakan varietas kedelai yang banyak berkembang di Jawa Timur. Varietas Anjasmoro, Argomulyo, Kaba, Grobogan telah umum petani membudidayakan karena varietas tersebut merupakan varietas kedelai yang unggul dan memberikan potensi hasil yang tinggi.
Untuk varietas Dering 1 merupakan varietas unggul yang memberi potensi hasil sekitar 2,8 t/ha. Varietas Dering 1 memiliki ketahanan terhadap hama penggerek polong tetapi rentan ulat grayak, tahan penyakit karat daun. Varietas Dering 1 toleran terhadap kekeringan selama fase reproduktif. Varietas Dering 1
19
tersebut dilepas sebagai varietas unggul oleh peneliti Balitkabi pada tahun 2012.3. Bawang merah
Varietas-varietas bawang merah yang banyak berkembang di Jawa Timur adalah Monjung, Batu Ijo, Bauji, Super Philip. Varietas ini daya adaptasinya sudah cukup luas dan banyak petani bawang di Jawa Timur yang menggunakan varietas tersebut untuk dibudidayakan. Petani menyukai menanam varietas tersebut karena memiliki potensi hasil yang cukup tinggi.
4. Cabe
Varietas cabe yang telah banyak berkembang dan selama pelaksanaan pendampingan pengembangan kawasan banyak digunakan diantaranya adalah Ciko, Tanjung, Kencana, Lingga (Cabai besar), Prima Agrihorti dan Rabani agrihorti (cabai rawit).
Selama dekade terakhir ini BPTP mendampingi pengembangan kawasan di Jawa Timur dengan luas tanam 1255 ha untuk cabe rawit yang berlokasi di 16 kabupaten sedangkan 420 ha untuk cabe besar yang berlokasi di 6 kabupaten.
5. Kentang
Kentang varietas Granola hasil produksi benih dari laboratorium laboratorium kultur biak. Varietas ini telah dilepas sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian dengan surat keputusan Kpts/SR.120/3/2005 tanggal 15 Maret 2005, dan peneliti yang melepas varietas tersebut berasal dari BPTP Jawa Timur.
Keunggulan kentang Granola adalah produktivitas tinggi dan potensi hasil 35-50 ton/ha. Benih yang dihasilkan berupa benih inti (planlet), rata-rata setiap tahun dapat menghasilkan sekitar 10.000 – 20.000 planlet. Penyebaran benih inti (planlet) meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedangkan Sedangkan penyebaran dalam bentuk umbi meliputi provinsi Sulawesi Sulawesi Utara, Jambi dan NTB.
20
6. PisangPisang varietas Mas Kirana telah dilepas sebagai varietas unggul berdasarkan SK Mentan No. 516/KPTS/SR.120/12/2005 dan peneliti BPTP Jawa Timur yang melepas varietas tersebut.
Keunggulannya ukuran buah kecil sampai sedang (panjang (panjang 10 cm diameter diameter ± 3 cm), warna kulit buah kuning cerah, rasa daging buah manis, segar dan tekstur buah lembut.
Sentra produksi pisang Mas Kirana di kabupaten Lumajang dan potensi pengembangan baru di kabupaten Malang, Trenggalek dan Banyuwangi. Pisang Mas Kirana cocok untuk ditanam pada dataran tinggi dengan ketinggian tempat 650 mdpl Komoditas ini telah masuk sebagai sebagai Global GAP serta menjadi komoditas ekspor sedangkan negara tujuan ekspor adalah Hongkong, Singapura dan Malaysia.
21
Gambar 8. peta sumber daya lahan jawa timur
4.1.4 Informasi identifikasi tanah di jatim timur
Untuk mengetahui potensi sumber daya lahan di Jawa Timur telah dipetakan yang sesuai dengan karateristik lahan. Informasi sumber daya lahan penting diperlukan karena tanaman membutuhkan lahan yang sesuai untuk pertumbuhannya, adanya keragaman sumber daya lahan menyebabkan keragaman tanaman, sering terjadi kegagalan dalam budidaya karena tidak ada atau kurangnya informasi tentang sumber daya lahan, untuk menentukan dosis pupuk yang tepat dan mengurangi degradasi lahan, karena penggunaannya tidak sesuai dengan daya dukung lahan.
Keterangan gambar :
Warna hijau : sedimentasi dari sungai Warna coklat : tanah letusan gunung berapi Warna coklat orange : tanah tektonik
Warna abu-abu : tanah perbukitan kapur
22 4.1.5 Data Alasintan BPTP JATIM
Tabel 3.daftar data alsintan
No .
Jenis Barang Tgl/Th.Perolehan jumlah kondisi Pemakai 1. Tractor Tangan
Dengan
Perlengkapannya
21-01-2014 2 Baik BPTP
JATIM 2. Mesin Power
Thresser
09-10-2010 3 Baik BPTP
JATIM 3. Alat Pengering
(Dryer)
01-01-2002 3 Baik BPTP
JATIM 4. Alat Penggiling
Kopi
01-01-2002 3 Baik BPTP
JATIM 5. Alat Pengolah
Tepung
01-01-2002 5 Baik BPTP
JATIM
6. Alat Pengasapan 09-12-2010 1 Baik BPTP
JATIM 7. Alat Penggiling
Padi
21-12-2006 2 Baik BPTP
JATIM 8. Alat Pencacah
Hijauan
17-09-2009 2 Baik BPTP
JATIM 9. Alat Pemecah
Tapioka
17-09-2009 1 Baik BPTP
JATIM 10. Mesin Pemotong
Rumput
16-12-2013 2 Baik BPTP
JATIM
11. Mesin Penumbuk 09-12-2010 2 Baik BPTP
JATIM 12. Alat Perontokan
Thresser Pedal
21-01-2014 1 Baik BPTP
JATIM 13. Reaper/Mesin
Panen
21-01-2014 2 Baik BPTP
JATIM 14. Mesin Tanam
Padi (Rice Transplanter)
20-12-2014 1 Baik BPTP
JATIM 15. Mesin penyiang
padi (power weeder)
20-12-2014 1 Baik BPTP
JATIM 16. Mesin panen padi
(rice harvester)
20-12-2014 1 Rusak
ringan
BPTP JATIM
17. Cultivator 28-07-2015 1 Baik BPTP
JATIM 18. Combine
harvester
16-12-2015 1 Baik BPTP
JATIM
23 4.2 Identifikasi pompa irigasi tetes
Speksifikasi pompa
Merk pompa : Sanyo P-WH137C
Jenis pompa : Sentrifugal
Tipe pompa : Dangkal
Tegangan : 220 V
Daya komsumsi : 125 Watt
Daya hisap : 9 Meter
Daya pancar : 30 Meter
Pipa inlet : 1 inch
Pipa outlet : 1 inch
Debit aliran : 30 liter/menit
Float switch : Non Automatic
Dimensi : 210 x 170 x 225 mm
Berat bersih : 5,3 kg
24 4.2.1 Layout irigasi tetes
Sistem irigsi di bptp jatim yang ditempatkan didalam greenhouse yang berukuran 8x4 meter dengan komoditas tanaman sawi dengan populasi tanaman sejumlah 65. Sistem irigasi tetes bersumber dari sumur bor yang ditampung ditangki air berkapasitas 1100 liter , jaringan sistem irigasi tetes ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu : jaringan primer , sekunder dan tersier , jaringan primer dan sekunder terbuat dari pipa pvc sedangkan jaringan tersier dari bahan pipa polyethylene (PE) . Penyiraman dilakukan dua kali sehari diwaktu pagi dan sore dengan durasi penyiraman 10menit. Berikut layout sistem irigasi tetes yang diterapkan dibptp jatim.
Gambar 9.sketsa irigasi tetes
25 4.2.2 Komponen irigasi tetes
1. Head unit pompa
Pompa air yang diaplikasi disistem irigasi tetes ini bertipe pompa sumur air dangkal Sanyo tipe P-W137C. Pompa ini memiliki daya pancar hingga 30 meter dan daya hisapnya maksimal 9 meter dan mampu memompa air 30liter per menit. Untuk tipe ini non-otomatis yang hanya akan mensuplai air pada saat mesin pompa dinyalakan.
2. Bak penampungan/ reservoir
Bak penampungan untuk irigasi tetes ini dipasang dengan ketinggian 10m berkapasitas 1100 liter air .
Gambar 11. Tandon air Gambar 10. pompa
26 3.
Pipa utamaPipa utama merupakan komponen yang menyalurkan air dari sumber air ke pipa-pipa distribusi dalam jaringan, Pipa yang digunakan berjenis PVC ukuran 1” pipa utama dapat dipasang di atas atau di bawah permukaan tanah.
4.
Pipa pembagiPipa pembagi merupakan pipa yang mendistribusikan air ke pipa- pipa lateral, disistem ini yang terpasang berupa pipa pvc, reducer, stop kran, pipa sambungan pvc tee, dan knee.
Gambar 12.pipa pvc.
Gambar 13.pipa pembagi.
27
5. Pipa letaralPipa lateral merupakan pipa dimana emitter ditempatkan biasa berbahan pipa polyethylene (PE), pipa lateral digreenhouse yang dipasang memiliki ukuran panjang 7.7 meter.
6. Alat aplikasi
Emitter atau penetes yang dipasang bertipe stick dripper yang diaplikasikan langsung ke dalam media tanam diarea perakaran tanaman.
Gambar 14.pipa PE
Gambar 15.stick drip
28
Vinyl couplers adalah soket penghubung/penyambung antara pipa lateral, vinyl couplers berdiameter ¼ inci cara pemasangan ditancapkan sampai menembus bagian dalam pipa lateral dengan jarak lubang 38cm.
Selang fertigasi HDPE berukuran 7mm disambungkan ke vinly couplers distributor.
Gambar 16. Vinyl couplers
Gambar 17.selang hdpe
29 4.2.3 Spesifikasi jaringan irigasi tetes diBPTP JATIM
Tabel 4.Spesifikasi irigasi tetes
komponen ukuran bahan jumlah spesifikasi
Pompa 1 Sanyo P-WH137C
non otomatis , Teganngan 220 V, daya komsumsi 125 Watt, Daya Hisap 9 M, Daya pancar 30 M, debit aliran 30liter/menit.
Reservoir 1 1100 liter
Pipa utama 1” (inch) PVC Pipa
pembagi
PVC
Pipa ¾” (inch) PVC
Pipa ½” (inch) PVC
Stop kran ¾” (inch) PVC 1
Stop kran ½” (inch) PVC 2
Knee ¾” (inch) PVC
Knee ½” (inch) PVC
Reducer ¾” to ½” (inch) PVC
Tee ¾” (inch) PVC
Tee ½” (inch) PVC
Pipa lateral 7.7 meter polyethylene (PE)
Alat apklikasi
Emitter Plastik
pressure
65
Vinyl couplers
1/4” (inci) 65
Selang fertigasi
7 milimeter HDPE
4.2.4 Pemeliharaan irigasi tetes
Pada umumnya, perawatan sistem irigasi tetes dibagi menjadi dua, yang dilakukan secara mingguan dan dilakukan secara bulanan. Yang dilakukan secara mingguan adalah pembersihan filter atau saringan air dan pengecekan aliran air dalam alat dripper. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyumbatan pada filter karena residu maupun kebocoran pada dripper.
Untuk pengecekan bulanan dilakukan pemeriksaan tekanan instalasi pada selang irigasi.
30
Perawatan jaringan irigasi tetes
Jaringan irigasi tetes yang baik akan menjamin terpenuhinya suplai air bagi tanaman, oleh karena itu diperlukan pemeliharaan. Periksa jaringan perpipaan sistem irigasi dari kebocoran dan perhatikan banyaknya area basah atau terciprat pada areal tanam, hal ini dapat mengindikasikan jika terjadi kebocoran pada jaringan atau kerusakan pada aplikasi penetes. Jika perlu dilakukan pembilasan pipa lateral dan pipa pembagi secara berkala untuk menghilangkan endapan yang dapat menyebabkan emiter tersumbat.
Perawatan alat aplikasi penates
Masalah yang paling umum dalam sistem irigasi tetes adalah komponen aplikasi tetes. Masalahnya biasanya nozel tersumbat, hal ini disebabkan oleh kondisi air yang buruk. Untuk mengecek emitter perlu diperhatikan kinerja kerjanya terutama daya tetesnya jika tidak sesuai dengan desain yang diinginkan, jika hal ini terjadi lakukan sebagai berikut :
1. Lepaskan emitter dari selang HDPE
2. Bersihkan kotoran yang ada pada nozel alat aplikasi penates.
3. Pasang kembali pada selang HDPE.
4. Hidupkan jaringan kembali dan cek performasi alat aplikasi jika performasinya tidak maksimal ganti alat penates/emitter.
31
Perawatan filter penyaring
Perawatan baik media filter biasa maupun media filter media dalam sistem irigasi tetes harus selalu diperiksa selama atau setelah masa penggunaan dan harus bersih. Penyumbatan filter dapat dihilangkan dengan sikat kaku atau semprotan air. Untuk membersihkan media filter, pasir harus dibilas dengan air bertekanan. Jika kondisi filter sudah tidak berfungsi, ganti dengan yang baru.
Gambar 18.Perawatan emitter
32 BAB V
PENUTUP 5.1 Kesimpulan
1. BPTP Balitbangtan Jawa Timur merupakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dibawah koordinasi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Balitbangtan. Kantor Balai beralamatkan di jalan Raya Karangploso Km 4 Malang. Jarak nya sekitar 92 km dari ibu kota Propinsi Jawa Timur (Surabaya).
2. tugas pokok BPTP adalah melaksanakan pengkajian dan perakitan teknologi tepat guna spesifik lokasi untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura,perkebunan dan peternakan yang bersifat teknologi terapan. Selain sumber daya manusia juga didukung sarana prasarana kebun percobaan, lahan dan laboratorium yang bisa dimanfaatkan oleh umum.
3.
Sistem irigsi di bptp jatim yang ditempatkan didalam greenhouse yang berukuran 8x4 meter dengan komoditas tanaman sawi dengan populasi tanaman sejumlah 65. Penyiraman dilakukan dua kali sehari diwaktu pagi dan sore dengan durasi penyiraman 10menit.4. Komponen irigasi tetes diBPTP JATIM terdiri dari :
Unit pompa : bertipe pompa sumur air dangkal Sanyo tipe P-W137C pompa ini memiliki daya pancar hingga 30 meter dan daya hisapnya maksimal 9 meter dan mampu memompa air 30liter per menit. Untuk tipe ini non-otomatis yang hanya akan mensuplai air pada saat mesin pompa dinyalakan.
Reservoir berkapasitas 1100liter
Pipa utama berbahan PVC ukuran 1”
Pipa pembagi berbahan pipa PVC 1” , ¾ “ dan ½ inch , reducer ukuran ¾ - ½ inch, stop kran ukuran ¾ dan ½ inch dan ½ dan pipa sambungan PVC TEE ¾ dan ½ , knee ¾ dan ½.
Pipa lateral berbahan pipa polyethylene (PE) dengan panjang 7.7 meter.
Alat aplikasi berupa : emitter stick dripper, vinyl couplers ¼ inci dan selang hdpe.
33
5.
perawatan sistem irigasi tetes dibagi menjadi dua, yang dilakukan secara mingguan dan dilakukan secara bulanan. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyumbatan pada filter karena residu maupun kebocoran pada dripper.5.2 Saran
Perlunya peningkatan perhatian mengenai perawatan sistem
irigasi di BPTP Jatim agar sistem irigasi di BPTP Jatim dapat berfungsi
dengan baik dan perlu adanya pelatihan SDM di BPTP Jatim dalam
pengoprasian sistem irigasi, baik irigasi bertekanan sprinkler maupun
tetes agar sistem irigasi tersebut dapat difungsikan dengan optimal.
34 DAFTAR PUSTAKA
Agus Sumarna. (1998).
Irigasi Tetes pada Budidaya Tanaman Cabai. Bandung : Balai Penelitian Tanaman Sayuran.Asep Sapei. (2006). Irigasi Tetes. Bogor : Institute Pertanian Bogor.
Budi Kartiwa, N. H. (2013). Pengelolaan Sumberdaya Air. In B. P. Pertanian,
Kalender Tanam Terpadu (p. 280). Jakarta: Badan Penelitian danPengembangan Pertanian.
Gunadarma, U. (n.d.).
Irigasi dan Bangunan Air. Jakarta: Gunadarma.Lili Arianto. (2019). Rancangan Irigasi Tetes untuk Tanaman Bawang Merah Sistem Vertical Agriculture. Skripsi. Sumatera Utara : Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
R ismu Tribowo. (2017). Perancangan Irigasi Tetes untuk Tanaman Hortikultura.
Jakarta : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Wildan H dan Aditya P. (2013). Irigasi Kajian Desain dan Kinerja Jaringan Irigasi Mikro Berbasis Multi Komoditas di Sumedang. Jurnal Irigasi – Vol.8, No.1. Bekasi : Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.
35 LAMPIRAN
Lampiran 1. Jurnal Harian (Logbook) kegiatan PKL 1
JURNAL HARIAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) I
POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H NIM : 07.15.20.039
Lokasi PKL I : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kec. Karangploso Kab. Malang Provinsi Jawa Timur
No. Hari/
Tanggal Kegiatan Paraf Pembimbing
Eksternal Keterangan
1. Senin/11-07- 22
Berangkat menuju tempat pkl di BPTP JATIM dan registrasi sebagai tamu untuk praktik kerja lapang serta bertemu dengan bagian koordinator BPTP JATIM.
2. Selasa/12-07- 22
Mencari informasi untuk kegiatan dan penempatan praktik kerja lapang serta pengenalan lingkungan BPTP JATIM.
3. Rabu/13-07- 22
Mengikuti kegiatan pengujian
penggunaan pupuk
untuk budidaya
tanaman jagung
manis.
36 4. Kamis/14-07-
22
Membersihkan
screenhouse depan kantor BPTP JATIM.
5. Jum’at/15-07- 22
Menaman bibit sawi manis dilahan BPTP JATIM.
6. Senin/18-07- 22
Mengikuti kegiatan upacara setiap hari senin diBPTP JATIM.
7. Selasa/19-07- 22
Pemasang pipa irigasi untuk lahan pertanian diBPTP JATIM.
8. Rabu/20-07- 22
Penimbunan pipa irigasi yang sudah terpasang semua.
9. Kamis/21-07- 22
Pembuatan bak
kontrol untuk pompa
irigasi.
37 10. Jum’at/22-07-
22
Penyambungan dan memasang pipa ke pompa yang berada di bak control.
11. Senin/25-07- 22
Membantu
pengambilan data bobot jagung sampel untuk penelitian.
12. Selasa/26-07- 22
Pembuatan bak kontrol untuk rumah pompa.
13. Rabu/27-07- 22
Memperbaiki irigasi tetes yang sudah lama tidak digunakan,
14. Kamis/28-07- 22
Mengoperasikan traktor cultivator untuk
menggemburkan lahan.
15. Jum’at/29-07- 22
Membuka stopkran
untuk saluran irigasi
tetes.
38 16. Senin/01-08-
22
Pengecekan aliran air pada stick drip irigasi tetes disetiap polybag.
17. Selasa/02-08- 22
Memperbaiki saluran irigasi tetes yang mengalami
kebocoran.
18. Rabu/03-08- 22
Pengecekan emitter berjalan normal.
19. Kamis/04-08- 22
Mengerjakan laporan pkl.
20. Jum’at/05-08- 22
Hari terakhir pkl monev bersama pak direktur muharfiza dan sekaligus berpamitan.
Malang, 05 Agustus 2022
Moh Azis Nusbitul H
NIM. 07.15.20.039
39
Lampiran 2. Format Lembar Konsultasi.
Malang, ……….. 2022
Moh Azis Nusbitul H NIM. 07.15.20.039 LEMBAR KONSULTASI PKL 1
PROGRAM STUDI TATA AIR PERTANIAN POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H
NIM : 07.15.20.039
Lokasi PKL I : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kec. Karangploso Kab. Malang Provinsi Jawa Timur
Pembimbing Internal : 1. Rahmat , S.ST,M.T
2. Dr. Ir. Rahmat Hanif Anasiru,M.Eng Pembimbing Eksternal :
No. Hari/
Tanggal Materi Konsultasi Koreksi Pembimbing Paraf Pembimbing
1. 12-07-2022
Pengarahan bimbingan bersama bapak rahmat anasiru selaku kaprodi TAP tentang praktek kerja dibptp jatim.
2. 18-07-2022
Pertemuan rutin bimbingan pkl semua mahasiswa TAP bersama bapak rahmat anasiru selaku kaprodi.
3. 19-07-2022
Pengarahan bimbingan pkl bersama bapak rahmat anasiru tentangn penyusunan laporan pkl.
4. 26-07-2022
Pertemuan rutin bimbingan pkl semua mahasiswa TAP bersama bapak rahmat anasiru selaku kaprodi.
40
Lampiran 3. Blanko Penilaian Proposal PKL 1
PENILAIAN PROPOSAL PKL 1
POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H
NIM : 07.15.20.039
Program Studi : Tata Air Pertanian
Lokasi PKL I : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kec.
Karangploso Kab. Malang Provinsi Jawa Timur No. Unsur Nilai (60-100) Bobot Nilai Terlimbang
1. Usulan kegiatan (proposal) ……… 20% ………..
2. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (Nilai pembimbing internal) ……… 20% ………..
3. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (Nilai pembimbing eksternal) ……… 10% ………..
4. Laporan ……… 25% ………..
5. Ujian PKL ……… 25% ………..
Total ……… 100% ………..
Nilai mutu ……… ……….. Tangerang, ……….. 2022 Dosen Pembimbing ……….
(……….) NIP. ……….
.
41
Lampiran 4. Penilaian Pelaksanaan PKL 1 Pembimbing Eksternal.
PENILAIAN PELAKSANAAN PKL 1
POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H
NIM : 07.15.20.039
Program Studi : Tata Air Pertanian
Lokasi PKL I : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kec.
Karangploso Kab. Malang Provinsi Jawa Timur
No
. Unsur Yang Dinilai Nilai
1. Kedisiplinan*) 2. Kreatifitas*)
3. Kemampuan Profesional*)
4. Hubungan dengan rekan kerja/Kerjasama*) 5. Tanggung Jawab*)
Total Rata – Rata
Malang, 09-08-2022 Pembimbing Eksternal,
(YUWOKO SP) NIP. 196505292006041002 Keterangan :
*) Nilai dari materi yang ditempuh sesuai dengan materi PKL
80 – 100 = Sempurna76 – 79 = Sangat Baik 70 – 75 = Baik 66 – 69 = Cukup Baik 60 – 65 = Cukup 45 – 59 = Kurang
<45 = Sangat Kurang
42
Lampiran 5. Penilaian Laporan PKL 1.
PENILAIAN LAPORAN PKL 1
POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H
NIM : 07.15.20.039
Program Studi : Tata Air Pertanian
Lokasi PKL I : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kec.
Karangploso Kab. Malang Provinsi Jawa Timur
No. Nama Pembimbing
Nilai Laporan PKL 1 Nilai Jadi (100%) Isi Materi
(40%)
Sistematika (20%)
Kelengkapa n (20%)
Tampilan (20%)
Tangerang, ……….. 2021 Dosen Pembimbing ………..
(……….)
NIP. ………
43
Lampiran 6. Penilaian Laporan PKL 1.
PENILAIAN UJIAN PKL 1
POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H
NIM : 07.15.20.039
Program Studi : Tata Air Pertanian
Ruang :
Tanggal :
No
. Nama Penguji
Nilai Ujian PKL 1
Nilai Jadi (100%) Media
(20%)
Sikap (20%)
Penguasaan Materi (60%)
Tangerang, ……….. 2022 Dosen Pembimbing ………..
(……….)
NIP. ………
44
Lampiran 7. Blanko Nilai Akhir PKL 1.
Tangerang, ……….……….. 2022 Ketua Panitia PKL 1.
(……….) NIP. ………
NILAI AKHIR PKL 1
POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Nama : Moh Azis Nusbitul H
NIM : 07.15.20.039
Program Studi : Tata Air Pertanian
Lokasi PKL I : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kec.
Karangploso Kab. Malang Provinsi Jawa Timur
No. Nama
Pembimbing
Nilai Akhir
Nilai Jadi (100%) Proposal
(10%)
Praktik Lapangan
(40%)
Laporan PKL I (30%)
Ujian PKL I (30%)