Alfin Komaru Zaman P17333122405 III – A
D4 Sanitasi Lingkkungan Sistem Manajemen Lingkungan
PT Dirgantara Indonesia (Persero), juga dikenal sebagai Indonesian Aerospace, didirikan pada tanggal 26 April 1976. Awalnya perusahaan ini bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (Persero) dan kemudian diubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (Persero) sebelum akhirnya menjadi PT Dirgantara Indonesia (Persero) pada tahun 2000.
Perusahaan ini didirikan untuk mendukung industri penerbangan Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada pesawat asing. Tujuannya adalah untuk memproduksi pesawat komersial dan militer, helikopter, komponen pesawat, serta menyediakan layanan pemeliharaan dan perbaikan. PT Dirgantara Indonesia juga bekerja sama dengan produsen pesawat terkemuka dunia seperti Boeing dan Airbus sebagai subkontraktor.
PT Dirgantara Indonesia Persero, dengan penekanan khusus pada pengelolaan limbah pesawat yang melibatkan bahan kimia (penetrant dan coolant), efisiensi energi sumber daya, pengendalian emisi dan polusi, kepatuhan regulasi, pelatihan karyawan, serta pengembangan berkelanjutanImplementasi SML di PT Dirgantara Indonesia Persero: Pendekatan Terpadu dan Spesifik
• Pengelolaan Limbah
a. Identifikasi dan Klasifikasi Limbah
Limbah yang dihasilkan dari proses perawatan dan perbaikan pesawat, terutama yang mengandung bahan kimia seperti penetrant (digunakan untuk mendeteksi retak atau cacat pada material) dan coolant (digunakan untuk pendinginan mesin dan sistem .Limbah berbahaya dan tidak berbahaya dipisahkan secara sistematis, dengan pengenalan label dan dokumentasi khusus untuk bahan kimia berpotensi mencemari lingkungan.
b. Prosedur Pengumpulan dan Penyimpan
Limbah kimia dikumpulkan secara terpisah dari limbah non-kimia untuk mencegah kontaminasi silang.Fasilitas penyimpanan dilengkapi dengan sistem ventilasi dan kontrol suhu untuk menjaga kestabilan bahan kimia serta mencegah reaksi yang tidak diinginkan.
c. Teknologi Pengolahan dan Daur Ulang
Limbah cair yang mengandung bahan kimia diproses melalui teknologi netralisasi, sehingga kadar keasaman atau kebasaan dapat disesuaikan sebelum dibuang. Penggunaan sistem daur ulang memungkinkan pemulihan bahan kimia yang masih dapat dimanfaatkan, mengurangi volume limbah yang harus diolah secara konvensional.
d. Monitoring dan Evaluasi Kualitas Limbah Pengujian Berkala:
Setiap batch limbah diuji secara berkala untuk memastikan bahwa proses pengolahan telah mengurangi kontaminan hingga mencapai standar lingkungan yang ditetapkan.
• Kebijakan dan Standar Lingkungan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 dan perlindungan terhadap lingkungan adalah dua hal penting untuk diterapkan di perusahaan. Pada PT Dirgantara Indonesia, perusahaan menggunakan acuan ISO 45001 sebagai pedoman standarisasi pada K3 dan ISO 14001 sebagai pedoman standarisasi perlindungan lingkungan. Untuk mengoptimalkan dan efisiensi, oleh karenanya PTDI menggabungkan keduanya menjadi departemen K3LH (Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup).
• Efisiensi Energi Sumber Daya Optimalisasi Penggunaan Energi
Evaluasi dan audit energi secara berkala untuk mengidentifikasi area pemborosan serta peluang untuk efisiensi operasional.Mesin produksi dan sistem pendukung lainnya diupgrade dengan teknologi hemat energi, yang mencakup penggunaan sensor otomatis untuk mengoptimalkan proses operasionalEksplorasi penggunaan sumber energi alternatif (seperti panel surya) untuk mendukung operasional fasilitas, mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, dan menurunkan emisi karbon.
• Pengendalian Emisi dan Polusi
Pemasangan alat monitoring kualitas udara yang dapat mengukur emisi gas buang secara real- time. Hal ini memungkinkan deteksi dini terhadap peningkatan emisi yang berpotensi melanggar batas yang ditetapkan.Teknologi Penyaringan Gas Buang Filter dan Scrubber: Penggunaan sistem filter dan scrubber pada instalasi pembuangan gas untuk menangkap partikel dan gas berbahaya sebelum dilepaskan ke atmosfer.Penerapan SOP yang ketat dalam setiap tahap produksi untuk memastikan bahwa seluruh proses berjalan dengan kontrol emisi yang optimal.
• Kepatuhan terhadap Regulasi
Integrasi Standar InternasionalISO 14001:
Seluruh kegiatan SML diintegrasikan dengan standar ISO 14001, memastikan keselarasan antara praktik internal dan regulasi lingkungan global Pelaksanaan audit internal dan eksternal secara rutin untuk menilai kinerja lingkungan, serta menindaklanjuti rekomendasi yang diberikan oleh lembaga pengawas.Kerjasama dengan Menjalin komunikasi yang erat dengan pemerintah dan lembaga lingkungan untuk memastikan setiap proses pengelolaan lingkungan mematuhi peraturan nasional.
• Pelatihan dan Pengembangan Karyawan
Karyawan dilatih untuk memahami karakteristik limbah pesawat, terutama yang mengandung bahan kimia penetrant dan coolant, serta cara penanganannya yang aman.Modul pelatihan tidak hanya mencakup aspek teknis pengelolaan limbah dan energi, tetapi juga prosedur darurat dan penanggulangan kecelakaan lingkunganMengadakan program sertifikasi bagi karyawan dalam bidang pengelolaan lingkungan untuk memastikan bahwa mereka selalu up-to-date dengan praktik terbaik dan teknologi terbaru.
• Pengembangan Berkelanjutan
a. Evaluasi Kinerja Lingkungan b. Inovasi Teknologi.
c. Kolaborasi dan Kemitraan d. Transparansi dan Pelaporan
Kesimpulan
Implementasi Sistem Manajemen Lingkungan di PT Dirgantara Indonesia Persero menunjukkan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi, tidak hanya dalam pengelolaan limbah pesawat yang melibatkan bahan kimia seperti penetrant dan coolant, tetapi juga dalam meningkatkan efisiensi energi, mengendalikan emisi dan polusi, memastikan kepatuhan regulasi, serta mengedepankan pelatihan karyawan dan pengembangan berkelanjutan. Melalui langkah-langkah tersebut, perusahaan tidak hanya memenuhi standar lingkungan yang ketat tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap keberlanjutan operasional dan perlindungan lingkungan.
Resume ini menggambarkan bagaimana PT Dirgantara Indonesia Persero berhasil mengimplementasikan SML secara menyeluruh, menjadikannya contoh bagi industri lain dalam menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.