PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Menambah wawasan keilmuan dalam bidang pendidikan agama Islam khususnya mengenai pesan-pesan moral dalam rangka pembentukan akhlak bagi siswa remaja. Berkontribusi positif terhadap maksimalisasi pendidikan agama Islam khususnya dalam pembentukan akhlak bagi generasi muda. Sedangkan secara praktis diharapkan hasil penelitian cerita dalam Al-Qur’an ini dapat menjadikan media pembelajaran edukatif yang menarik dan sebagai referensi teladan bagi para guru.
Kajian Pustaka
Hasil penelitian skripsi ini menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai pendidikan akhlak dalam komik Al-Quran yang dapat diajarkan kepada peserta didik, meskipun komik Al-Quran ini bukan merupakan buku teks. Komik Al-Qur'an dapat dijadikan sebagai media pengajaran yang lebih menarik dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan akhlak11. Tesis Eskandhit Nur Inayah jurusan pendidikan agama Islam yang berjudul “Nilai pendidikan akhlak dalam kisah Nabi Luth dan pentingnya bagi pendidikan agama Islam (kajian deskriptif Tafsir Ibnu Katsir).
Latar belakang permasalahan disertasi ini adalah pendidikan agama Islam harus mampu menanamkan moral yang terkandung dalam masyarakat, negara dan agama. Hasil penelitian wisuda ini menunjukkan bahwa terdapat 2 nilai akhlak dalam kisah Nabi Luth yaitu nilai akhlak terpuji dan nilai akhlak tercela. Nilai akhlak yang terpuji ada 3 yaitu, nilai akhlak yang terpuji bagi Allah SWT, nilai akhlak yang terpuji bagi orang lain, dan nilai akhlak yang terpuji bagi diri sendiri.
11 Shofiyan Yusron Prasetyo, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Komik Al-Qur’an Karya Sabaruddi Tain, dkk dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam”. Disertasi Muhammad Ridwan Ashadi berjudul “Iman dan Ajaran Islam dalam Surah Ad-Duha (kajian tafsir Ibnu Katsir dan Al Utsaimin). Latar belakang permasalahan skripsi ini adalah masih banyak pendidikan Islam di Indonesia yang belum menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam Surat Ad-Duha terdapat nilai-nilai pendidikan Islam yaitu nilai keimanan terhadap Al-Qur'an, malaikat, hari akhir dan takdir. Secara umum penelitian yang diajukan peneliti mempunyai kemiripan dengan beberapa penelitian tersebut dalam hal mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan menggunakan referensi yang sama pada kitab Tafsir Al Misbah Ibnu Katsir. Beberapa penelitian tersebut menekankan pada nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat-ayat tertentu dan karya sastra yang berbentuk kartun, sedangkan penelitian peneliti lebih fokus pada pesan moral dari kisah Qabil dan Habel yang diceritakan dalam Q.S.
Landasan Teori
19 Thomas Lickona, Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Cerdas dan Baik, penerjemah: Lita S, (Bandung:Nusa Media, 2013), hal.21 Hamdani Hamid dan Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: CV .Pustaka Setia, 2013), hal. Akhlak merupakan ruh pendidikan Islam, mencapai akhlak yang luhur adalah tujuan pendidikan.
Cara alamiah adalah suatu cara yang mana akhlak yang baik tidak diperoleh melalui pendidikan, pengalaman atau latihan, melainkan melalui naluri alamiah, karena manusia pada dasarnya cenderung mempunyai akhlak yang baik. Namun setidaknya jika cara ini terus dipertahankan dan dipertahankan, akan cukup efektif untuk menanamkan akhlak yang baik pada anak karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk memiliki akhlak yang baik. Dalam bukunya Doni Koesoema yang berjudul Pendidikan Karakter, ia menyebutkan lima unsur yang dapat diperhatikan dalam metode pendidikan karakter, yaitu realistis, konsisten, dan berkarakter.
Oleh karena itu, salah satu unsur penting dalam pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai tersebut, agar siswa mempunyai gagasan konseptual tentang nilai-nilai tersebut, sehingga siswa mempunyai gagasan untuk mengembangkan karakter pribadinya. Guru yang dalam bahasa Jawa berarti digugu dan ditiru, merupakan jiwa dari pendidikan karakter itu sendiri. Konsistensi pengajaran dalam pendidikan karakter tidak hanya melalui apa yang disampaikan melalui pembelajaran di kelas, namun juga pada diri guru, dalam kehidupan nyata di luar kelas.
Tanpa adanya prioritas yang jelas maka proses penilaian sukses atau tidaknya pembentukan karakter akan menjadi tidak jelas. Oleh karena itu, prioritas nilai pembentukan karakter harus dinyatakan secara jelas dan tegas, serta diketahui oleh setiap pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Maka, setelah aksi dan prisma pendidikan karakter tersebut berlangsung, maka perlu diadakan semacam pendalaman, refleksi, untuk melihat sejauh mana lembaga pendidikan berhasil atau gagal dalam menyelenggarakan pendidikan karakter.
Kelima hal di atas merupakan unsur-unsur yang dapat menjadi pedoman dan standar dalam menjalani dan berusaha menghayati pembentukan karakter di lembaga pendidikan mana pun. Akhlak yang dimaksud adalah pembentukan akhlak berdasarkan pesan-pesan moral yang terkandung dalam Q.S.
Metode Penelitian
Pendidikan moral pada anak remaja inilah yang akan menjadi fokus penelitian ini. Peneliti menggunakan studi kepustakaan karena pesan moral yang diteliti tertuang dalam sebuah teks berupa Tafsir Ibnu Katsir. 45 mengacu pada kitab Tafsir Ibnu Katsir dan relevansi pesan akhlak tersebut dengan pendidikan akhlak remaja dalam konteks kekinian.
Sumber data primer adalah sumber data yang dijadikan sumber rujukan utama yaitu buku berjudul Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 terjemahan H. Data sekunder berupa buku-buku terkait antara lain : Tafsir al Qur’an al . Adzim Karya Abi al-Fida 'Isma'il Ibnu Amar Ibnu Katsir al-Qarshiy al-Dimashqiy (Ibnu Katsir) Buku Jilid 2 Berjudul Kemudahan dari Allah Rangkuman Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 Karya Muhammad Nasib ar-Rifa'I terbitan Gema Insani pada tahun 2012 dan buku berjudul Qabil & Habel Kisah Kaum Zalim karya penulis.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi, yaitu teknik yang digunakan untuk menarik kesimpulan dengan mencoba menemukan ciri-ciri pesan yang diolah secara objektif dan sistematis. Dalam sebuah karya sastra, isi yang dimaksud adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya sastra yang ada. Analisis isi didasarkan pada asumsi bahwa karya sastra atau buku yang berkualitas adalah karya sastra yang mampu mencerminkan pesan positif kepada pembacanya.
Yang utama adalah pesan-pesan dalam isi karya sastra dapat dipahami secara utuh. Identifikasi dilakukan dengan membaca dan mengamati secara cermat ayat-ayat serta tafsir yang mengandung pesan moral. Menyusun klasifikasi secara umum, sehingga mendapatkan gambaran tentang isi dan isi pesan moral dalam Q.S Al Maidah ayat 27-3168.
Sistematika Pembahasan
Ibnu Katsir dalam tafsir surat Al Maidah ayat 27-31, beliau menafsirkan ayat tersebut dilanjutkan dengan terjemahannya kemudian dilengkapi dengan pendapat para ulama dan penafsir lainnya, sehingga memberikan penjelasan dan kajian yang mudah dipahami. Tafsir Ibnu Katsir dalam surat Al Maidah ayat 27-31 adalah tentang waktu kedatangan Allah. Al Maidah ayat 27-31 dalam kisah Qabil dan Habil menurut tafsir Ibnu Katsir dibedakan menjadi dua, yaitu pesan akhlak terpuji dan pesan akhlak tercela.
Pesan akhlak terpuji, yang terkandung dalam bentuk: Amar ma'ruf nahi munkar, Iffah, tawakal, sabar, ikhlas dan takwa. Dalam kisah Qabil dan Habil, terdapat matlamat pendidikan moral, yang merangkumi dunia dan agama. Habil mengajarkan kepada saudaranya Qabil pesan-pesan akhlak yang baik yang bertujuan untuk kesejahteraan saudaranya di dunia dan akhirat, serta menghindarkan saudaranya Qabil dari azab Allah.
Oleh karena itu, tujuan dalam cerita Qabil dan Habil relevan dengan tujuan pembentukan akhlak anak usia dini, yaitu mengubah tingkah laku atau akhlak untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pesan moral dari kisah Qabil dan Habil adalah ajakan untuk bertakwa hanya kepada Allah, melarang Qabil melakukan perbuatan keji, nasehat agar selalu berada di jalan yang benar. Pesan moral tersebut dapat dikatakan relevan dengan komponen materi pembentukan akhlak anak remaja, yaitu materi yang meliputi keyakinan dan perilaku.
Kisah dalam Al-Qur'an khususnya pada ayat Q.S Al Maidah 27-31 dapat diambil hikmahnya dan sarat akan pesan moral yang dapat menjadi acuan untuk menanamkan nilai-nilai moral pada diri anak. 101 Masih terdapat berbagai kisah tentang Nabi dan kisah teladan lainnya dalam Al-Qur'an yang dapat dijadikan referensi dalam penanaman nilai-nilai moral. Demikian hasil pembahasan skripsi pesan moral pada baris 27-31 Q.S. Al Maidah dan pentingnya pembentukan akhlak generasi muda yang masih banyak kekurangannya.
Abdurrahman ar Rumi, Fahid, Ulumul Qur’an, Kajian Kompleksitas Al-Qur’an, Yogyakarta: Titian Divine Press, 1996. Prasetyo, Shofiyan Yusron, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Komik Al-Qur’an oleh Sabaruddi Tain, dkk dan Relevansinya dengan pendidikan agama Islam”.
GAMBARAN UMUM TAFSIR IBNU KATSIR DAN KISAH QABIL
Karakteristik Tafsir Ibnu Katsir
Penafsiran Ibnu Katsir dalam Q.S. Al Maidah ayat 27-31
Sumber akhlak, ukuran baik atau buruknya perbuatan, didasarkan pada ajaran Allah SWT (Al-Qur'an) dan ajaran Rasul-Nya (Sunnah). 28 Dawam Rahardjo, Ensiklopedia Al-Qur'an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Utama, (Jakarta Selatan: PARAMADINA, 2002), hal.
Pesan-pesan moral dalam Q.S. Al Maidah ayat 27-31
Relevansi pesan-pesan moral dalam Q.S. Al Maidah ayat 27-31
PENUTUP
Saran-saran
Para pendidik dan orang tua diharapkan senantiasa menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai akhlak pada anak dan peserta didik sejak dini agar menjadi individu muslim yang berakhlak atau berakhlak mulia. Pendidik senantiasa diharapkan konsisten dalam memberikan keteladanan agar perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak dapat berkembang secara sempurna dan sesuai dengan moralitas yang berlaku di masyarakat.
Kata penutup
Al Ghazali, Mutiara Ihya' 'Ulumuddi: ringkasan yang ditulis oleh Hujjatul Islam sendiri, Bandung: Mizan, 1997. Khalil Khatan Qattan, Manna, "Studi Ilmiah Islam", ter. Drs Mudzakir As, Bogor: Lentera Antar Nusa, 1987 Lickona, Thomas, Panduan pendidikan karakter lengkap untuk mendidik siswa cerdas dan baik, penerjemah: Lita S, Bandung: Nusa Media, 2013.
Nur Inayah, Eskandhita, “Nilai pendidikan akhlak dalam kisah Nabi Luth dan relevansinya dengan pendidikan agama Islam (Studi Deskriptif Tafsir Ibnu Katsir). Ridwan Eshadi, Muhammad “Nilai-nilai keimanan dan pendidikan Islam dalam Surah Ad -Duha (Kajian Tafsir Ibnu Katsir dan Al Utsaimin). Suwadi, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga, 2012.
Tim Penulis Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989.