KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) Perencanaan Konsolidasi Tanah (KT) Tahun 2020 ini dapat diselesaikan. Juknis ini berisi acuan dan kriteria-kriteria teknis yang memuat: dasar hukum, pengertian-pengertian, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, hasil kegiatan, dan tahapan pelaksanaan Perencanaan KT serta dilengkapi dengan lampiran-lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Juknis.
TCK Penyusunan Potensi Objek Konsolidasi Tanah (POKT) Tahun 2019 pada dasarnya sudah menyesuaikan nomenklatur dan tahapan kegiatan perencanaan KT yang diatur dalam Peraturan Menteri Agraria Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12 Tahun 2019 tentang Konsolidasi Tanah. Sehingga penyusunan Juknis Perencanaan Konsolidasi Tanah Tahun 2020 merupakan penyempurnaan dari TCK Penyusunan Potensi Objek Konsolidasi Tanah (POKT) Tahun 2019.
Juknis Perencanaan KT ini diharapkan menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan yang mudah dipahami oleh pelaksana di daerah sehingga hasil kegiatan ini dapat langsung ditindaklanjuti dengan Pelaksanaan Konsolidasi Tanah di tahun berikutnya yang pada akhirnya bermanfaat dan berkontribusi terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
Kritik, saran dan masukan dari berbagai pihak diharapkan untuk dapat menyempurnakan Juknis Perencanaan KT, mengingat bahwa selalu ada keterbatasan dalam setiap penulisan. Semoga Juknis Perencanaan KT ini dari waktu ke waktu dapat disempurnakan dengan kualitas yang lebih baik. Demikian Juknis Perencanaan KT ini disusun, untuk dapat dipedomani dalam pelaksanaan tugas.
Jakarta, 31 Januari 2019
DIREKTUR JENDERAL PENATAAN AGRARIA,
H.S. MUHAMMAD IKHSAN NIP. 19620209 198703 1 002
20 Januari 2020
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR FORM ... iii
DAFTAR LAMPIRAN... iii
BAB I. PENDAHULUAN ... 3
A. Latar Belakang ... 3
B. Dasar Hukum ... 4
C. Definisi ... 4
D. Tujuan dan Sasaran ... 5
E. Lingkup Kegiatan ... 6
F. Keluaran ... 6
BAB II. KETENTUAN UMUM ... 8
A. Ruang Lingkup Konsolidasi Tanah ... 8
A.1. Konsolidasi Tanah berdasarkan Fungsi dan Peruntukan Kawasan... 8
A.2. Konsolidasi Tanah berdasarkan Dimensi Pemanfaatan Tanah... 8
A.3. Konsolidasi Tanah berdasarkan Skala Luasan ... 8
A.4. Konsolidasi Tanah berdasarkan Keperluannya ... 8
B. Kriteria Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah ... 9
B.1. Kriteria Objek Konsolidasi Tanah ... 9
B.2. Kriteria Subjek Konsolidasi Tanah ... 9
C. Kelembagaan Konsolidasi Tanah ... 9
C.1. Tim Koordinasi ... 10
C.2. Tim Perencana/Pelaksana ... 11
D. Pembiayaan ... 12
E. Integrasi dengan Sektor ... 12
BAB III. TAHAPAN PERENCANAAN KONSOLIDASI TANAH ... 14
A. Pembentukan Tim (Persiapan)... 14
A.1. Pembentukan Tim Koordinasi dan Tim Perencana/Pelaksana... 14
A.2. Penyiapan Data Awal ... 14
B. Kajian Tata Ruang dan Kebijakan Sektor (Pembuatan Peta Kerja dan Penjajakan Kebijakan)... 15
B.1. Kajian Tata Ruang ... 15
B.2. Kajian Kebijakan, Rencana dan Program Sektor ... 19
B.3. Pemilihan Lokasi (Koordinasi dengan Pemda) ... 21
C. Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan (Peninjauan Lapang dan Pengolahan Data) ... 24
C.1. Sosialisasi Konsolidasi Tanah ke Masyarakat ... 24
C.2. Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan ... 25
C.3. Pengolahan Data Lapang ... 26
ii
D. Pembuatan Desain Awal/Visioning dan Penyepakatan (Penjajakan Kesepakatan)
... 33
D.1. Pembuatan Desain Awal/Visioning (Sketch Block Plan) ... 33
D.2. Sosialisasi Rencana Konsolidasi Tanah ke Masyarakat dan Penyepakatan... 34
D.3. Pemaparan ke Pusat ... 35
E. Penetapan Lokasi ... 35
E.1. Persetujuan dan Dukungan Pemda. ... ...35
E.2. Pengajuan SK Penetapan Lokasi...35
E.3. Penyusunan Laporan...36
BAB IV. PERENCANAAN KONSOLIDASI TANAH UNTUK KEPENTINGAN TERTENTU ... 39
A. Konsolidasi Tanah Swadaya ... 39
B. Konsolidasi Tanah dalam Rangka Relokasi... 39
C. Konsolidasi Tanah SP-Pugar ... 40
D. Konsolidasi Tanah dalam Rangka Redistribusi Non Pertanian ... 41
E. Konsolidasi Tanah Vertikal ...42
BAB V. PENUTUP ... 43
iii
DAFTAR FORM
FORM KT-101. Format SK Tim Koordinasi Konsolidasi Tanah ... 45
FORM KT-102. Format SK Tim Perencana Konsolidasi Tanah ... 50
FORM KT-103. Format Berita Acara Hasil Sosialisasi Konsolidasi Tanah kepada Pemda ... 54
FORM KT-104. Format Berita Acara Pemilihan Lokasi... 55
FORM KT-105. Format Berita Acara Hasil Sosialisasi Konsolidasi Tanah kepada Masyarakat ... 56
FORM KT-106. Form Kuesioner Pemetaan Sosial dan Potensi Kawasan ... 57
FORM KT-107. Format Berita Acara Persetujuan dari Pemegang Hak dan/atau Penggarap Tanah atas Rencana Konsolidasi Tanah ... 62
FORM KT-108. Format Berita Acara Komitmen Pemda terhadap Rencana Konsolidasi Tanah .... 65
FORM KT-109. Formar Rencana Umum Kegiatan Konsolidasi Tanah (Executive Summary) ... 66
FORM KT-110. Format Formulir Verifikasi Dokumen Perencanaan Konsolidasi Tanah ... 69
FORM KT-111. Format Surat Usulan Penetapan Lokasi kepada Bupati/Walikota ... 74
FORM KT-112. Format Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Penetapan Lokasi Konsolidasi Tanah ... 75
FORM KT-305. Format Laporan Bulanan Perencanaan Konsolidasi Tanah ... 78
FORM KT-312. Sistematika Laporan Perencanaan Konsolidasi Tanah ... 79
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Format Peta ... 80
Lampiran 2. Format Desain Awal (Sketch Block Plan) ... 81
Lampiran 3. Format Peta Zoom In Lokasi ... 82
Lampiran 4. Pewarnaan Peta ... 83
1
Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12 Tahun 2019 tentang Konsolidasi Tanah
2
PEMBENTUKAN TIM KAJIAN TATA RUANG DAN KEBIJAKAN SEKTOR
PEMETAAN SOSIAL DAN ANALISIS POTENSI KAWASAN
PEMBUATAN DESAIN AWAL
(VISIONING) DAN PENYEPAKATAN PENETAPAN LOKASI
Pembentukan Tim Koordinasi
dan Tim Perencana/
Pelaksana
1. SK Tim Koordinasi;
2. SK Tim Perencana/
Pelaksana.
Penyiapan Data Awal
1. Peta;
2. Data Tata Ruang (RTRW/
RDTR);
3. Rencana Sektor.
Kajian Tata Ruang
1. Peta Indikasi Potensi Lokasi KT;
2. Kesesuaian Tata Ruang.
Kajian Kebijakan, Rencana dan
Program Sektor
1. BA Hasil Sosialisasi kepada Pemda;
2. Data Potensi Dukungan Sektor.
Pemilihan Lokasi
1. BA Pemilihan Lokasi;
2. Peta Peninjauan Lapang.
Sosialisasi KT kepada Masyarakat
BA Hasil Sosialisasi KT
Pemetaan Sosial dan Analisis
Potensi Kawasan
1. Peta Hasil Peninjauan Lapang;
2. Hasil Analisa Kuesioner.
Pembuatan Desain Awal (Visioning)
Desain Awal
Sosialisasi Rencana KT dan
Penyepakatan ke Masyarakat
BA Persetujuan dari Pemegang Hak
dan/atau Penggarap Tanah
atas Rencana KT
Persetujuan dan Dukungan
Pemda
BA Komitmen Pemda terhadap
Rencana KT
= Hasil Kegiatan Keterangan :
Pengolahan Data Lapang
1. Pemetaan stakeholder;
2. Peta Potensi Subjek KT;
3. Hasil Analisa SWOT spasial.
Pembuatan SK Penetapan
Lokasi
Pengajuan SK Penetapan Lokasi
A B C D E
Pemaparan ke Pusat
Resume Hasil Pemaparan
Penyusunan Laporan
Dokumen Perencanaan KT
BAGAN ALIR PERENCANAAN KONSOLIDASI TANAH
= Tahapan Perencanaan KT
= Kegiatan Perencanaan KT
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsolidasi Tanah adalah kebijakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai rencana tata ruang, serta usaha penyediaan tanah untuk kepentingan umum, dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumberdaya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Penyelenggaraan konsolidasi tanah selama ini tidak luput dari beberapa kendala sehingga penyelesaian tidak sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan atau bahkan tidak terlaksana. Dari hasil monitoring dan evaluasi selama ini diketahui bahwa kendala atau terhambatnya pelaksanaan konsolidasi tanah antara lain adalah kurangnya pemahaman masyarakat, ketidaktepatan pemilihan lokasi, waktu pelaksanaan yang hanya satu tahun anggaran, serta kurangnya dukungan pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur di lokasi konsolidasi tanah, yang merupakan hasil koordinasi dengan pengambil kebijakan di daerah.
Di dalam Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 12 Tahun 2019 tentang Konsolidasi Tanah, kegiatan Penyusunan Potensi Objek Konsolidasi Tanah (POKT) saat ini menjadi salah satu bagian dari proses Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah yaitu Perencanaan Konsolidasi Tanah (KT). Dengan menjadi bagian dari proses Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah maka Perencanaan KT menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Konsolidasi Tanah. Perbedaan esensial dalam Juknis Perencanaan KT dengan Penyusunan POKT, antara lain :
1. Simplifikasi jumlah tahapan yang sebelumnya terdiri dari 8 (delapan) tahapan yaitu persiapan, pembuatan peta kerja, penjajakan kebijakan, peninjauan lapang, pengolahan data, penjajakan kesepakatan, penetapan lokasi, dan laporan berubah menjadi 5 (lima) tahapan yaitu pembentukan tim, kajian tata ruang dan kebijakan sektor, pemetaan sosial dan potensi kawasan, pembuatan desain awal (visioning) dan penyepakatan serta penetapan lokasi;
2. Penyesuaian tim koordinasi dan tim perencana/pelaksana dengan Petunjuk Teknis Konsolidasi Tanah mengingat bahwa perencanaan konsolidasi tanah telah menjadi bagian awal proses penyelenggaraan konsolidasi tanah;
3. Penambahan analisis SWOT spasial pada proses pengolahan data lapangan;
4. Perubahan nomenklatur penyusunan Sket Rencana Awal (Sketch Block Plan) menjadi Desain Awal (Visioning) yang memuat rencana penataan bidang disertai dengan hasil analisis kewilayahan;
5. Penyelenggara perencanaan KT dapat dilaksanakan oleh pemangku kepentingan lainnya. Dokumen perencanaan KT yang dihasilkan kemudian diverifikasi oleh Kantor Pertanahan setempat.
Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah tersebut, perlu disusun Juknis Perencanaan Konsolidasi Tanah sebagai arahan atau pedoman
4
operasional pelaksanaan kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, terutama bagi pelaksana yang langsung terlibat maupun pihak-pihak yang membutuhkan.
B. Dasar Hukum
1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;
3. Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
4. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;
5. Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun;
6. Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
7. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah;
8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang;
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan Pertanahan Nasional;
10. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 1 Tahun 1997 tentang Pemetaan Penggunaan Tanah Pedesaan, Penggunaan Tanah Perkotaan, Kemampuan Tanah dan Penggunaan Simbol/Warna Untuk Penyajian dalam Peta;
11. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;
12. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 38 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan;
13. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria;
14. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahahan Nasional Nomor 12 Tahun 2019 tentang Konsolidasi Tanah.
C. Definisi
1. Konsolidasi Tanah adalah kebijakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai rencana tata ruang serta usaha penyediaan tanah untuk kepentingan umum dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumberdaya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat;
2. Perencanaan Konsolidasi Tanah adalah proses pemilihan lokasi untuk diusulkan dan ditetapkan sebagai lokasi yang memenuhi kriteria Konsolidasi Tanah;
3. Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah adalah wilayah yang secara fisik berpotensi sebagai objek konsolidasi tanah berdasarkan penggunaan tanah, rencana tata ruang (RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP) dan Gambaran Umum Penguasaan Tanah (GUPT);
5
4. Peta Potensi Subjek Konsolidasi Tanah adalah peta yang menunjukkan lokasi yang telah diidentifikasi, dianalisa dan disepakati oleh calon Peserta dan pemangku kepentingan untuk diusulkan dan ditetapkan sebagai lokasi Konsolidasi Tanah;
5. Objek Konsolidasi Tanah Pertanian adalah jenis penggunaan tanah yang peruntukan dan pemanfaatannya sebagai sawah, tegalan/ladang, perkebunan, tambak, rawa yang jenis arahan rencana pola ruangnya di dalam rencana tata ruang wilayah adalah perikanan, pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, dan tanaman tahunan;
6. Objek Konsolidasi Tanah Non Pertanian adalah jenis penggunaan tanah yang peruntukan dan pemanfaatannya sebagai perkampungan/perumahan yang jenis arahan rencana pola ruangnya didalam rencana tata ruang wilayah adalah permukiman;
7. Penggunaan Tanah adalah wujud tutupan permukaan bumi baik yang merupakan bentukan alami maupun buatan manusia;
8. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) adalah hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional yang telah ditetapkan;
9. Status Tanah adalah hubungan hukum antara orang per orang, kelompok orang, atau badan hukum dengan tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;
10. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional (Pasal 1 Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang);
11. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya (Pasal 1 Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang);
12. Desain Awal (Visioning) merupakan gambaran kasar mengenai tema dan arah pengembangan lokasi konsolidasi tanah;
13. Penetapan Lokasi adalah lokasi potensi subjek konsolidasi tanah terpilih yang ditetapkan menjadi lokasi konsolidasi tanah melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota.
D. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
Mendapatkan lokasi rencana Konsolidasi Tanah yang didasarkan pada hasil kajian dan analisis kewilayahan, sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan serta koordinasi dengan pemerintah daerah atau pemangku kepentingan lainnya. Adapun keluaran dari kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah, antara lain :
a. Memberikan arahan dan panduan dalam melaksanakan Perencanaan Konsolidasi Tanah;
b. Tersedianya data tekstual dan spasial dalam rangka pemilihan lokasi sebagai objek konsolidasi tanah;
6
c. Tersedianya SK Tim Koordinasi dan Tim Perencana/Pelaksana;
d. Tersedianya Kajian Tata Ruang dan Peta Indikasi Potensi Lokasi Objek KT;
e. Tersedianya Berita Acara Pemilihan Lokasi;
f. Tersedianya Peta Peninjauan Lapang;
g. Tersedianya Peta Hasil Peninjauan Lapang;
h. Tersedianya Berita Acara Sosialisasi KT kepada Masyarakat;
i. Tersedianya Peta Potensi Subjek KT;
j. Tersedianya Hasil Analisa SWOT;
k. Tersedianya Peta Desain Awal (Visioning);
l. Tersedianya Surat Persetujuan Pemegang Hak dan/atau Penggarap Tanah terhadap Rencana Konsolidasi Tanah;
m. Tersedianya Berita Acara Komitmen Pemda terhadap Rencana Konsolidasi Tanah;
n. Tersedianya SK Penetapan Lokasi.
2. Sasaran
a. Standardisasi pelaksanaan Perencanaan Konsolidasi Tanah;
b. Standardisasi data dan peta hasil Perencanaan Konsolidasi Tanah.
E. Lingkup Kegiatan
1. Ruang Lingkup wilayah kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah adalah wilayah administrasi kecamatan;
2. Petunjuk Teknis Perencanaan Konsolidasi Tanah meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pembentukan Tim;
b. Kajian Tata Ruang dan Kebijakan Sektor;
c. Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan;
d. Pembuatan Desain Awal (Visioning) dan Penyepakatan Konsolidasi Tanah;
e. Penetapan Lokasi Konsolidasi Tanah.
F. Keluaran
Kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah diantaranya menghasilkan:
1. Laporan Monitoring Bulanan, untuk melaporkan progress perencanaan Konsolidasi Tanah yang disampaikan ke Direktorat Konsolodasi Tanah setiap bulan. Format laporan bulanan dapat dilihat pada Form KT-305.
2. Dokumen Perencanaan Konsolidasi Tanah yang memuat :
1) Rencana Umum Kegiatan Konsolidasi Tanah (Executive Summary);
2) SK Tim Koordinasi dan Tim Perencana;
3) Kajian Tata Ruang dan Peta Indikasi Potensi Lokasi KT;
4) Berita Acara Pemilihan Lokasi;
5) Peta Hasil Peninjauan Lapang;
6) Berita Acara Sosialisasi KT kepada Masyarakat;
7) Peta Potensi Subjek KT;
8) Hasil Analisa SWOT;
9) Peta Desain Awal (Visioning);
7
10) Berita Acara Persetujuan dan Pemegang Hak dan/atau Penggarap Tanah atas Rencana Konsolidasi Tanah;
11) Berita Acara Komitmen Pemda terhadap Rencana Konsolidasi Tanah;
12) SK Penetapan Lokasi.
Dokumen Perencanaan Konsolidasi Tanah seperti tersebut di atas dibuat dalam bentuk softcopy dan hardcopy. Data softcopy berupa :
a. Dokumen perencanaan dalam format .PDF dan .doc (MS Word);
b. Peta-peta dalam format .JPEG, .PDF dan .shp.
8
BAB II
KETENTUAN UMUM
A. Ruang Penyelenggaraan Lingkup Konsolidasi Tanah
Sesuai dengan Rancangan Peraturan Menteri tentang Konsolidasi Tanah yang sedang disusun, ruang lingkup penyelenggaraan konsolidasi tanah meliputi:
a. Perencanaan Konsolidasi Tanah;
b. Pelaksanaan konsolidasi tanah;
c. Pembangunan Hasil Konsolidasi Tanah (Pembangunan prasarana, sarana, utilitas dan Pemberdayaan Masyarakat);
d. Pengawasan Konsolidasi Tanah (Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Konsolidasi Tanah).
Konsolidasi Tanah dapat diklasifikasikan berdasarkan Fungsi dan Peruntukan Kawasan, Dimensi Pemanfaatan Tanah, Skala Luasan, dan Keperluannya.
A.1. Konsolidasi Tanah berdasarkan Fungsi dan Peruntukan Kawasan Berdasarkan fungsi dan peruntukan kawasan, Konsolidasi Tanah terdiri dari:
a) Konsolidasi Tanah Pertanian b) Konsolidasi Tanah Non Pertanian
A.2. Konsolidasi Tanah berdasarkan Dimensi Pemanfaatan Tanah
Berdasarkan dimensi pemanfaatan tanah, pelaksanaan konsolidasi tanah terdiri dari:
a) Konsolidasi Tanah Horizontal b) Konsolidasi Tanah Vertikal
A.3. Konsolidasi Tanah berdasarkan Skala Luasan Berdasarkan skala luasan, Konsolidasi Tanah terdiri dari:
a) Konsolidasi Tanah Skala Kecil, adalah konsolidasi tanah yang dilaksanakan pada lokasi yang berada dalam lingkup Kabupaten/Kota. Penyelenggaraan KT Skala Kecil dilakukan oleh Kantor Pertanahan.
b) Konsolidasi Tanah Skala Besar dan/atau Strategis, adalah konsolidasi tanah yang dilaksanakan pada lokasi lintas Kabupaten/Kota atau untuk lokasi yang memiliki nilai strategis nasional. Penyelenggaraan KT Skala Besar dan/Strategis dilakukan oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional atau dalam kondisi tertentu oleh Menteri.
A.4. Konsolidasi Tanah berdasarkan Keperluannya Berdasarkan keperluannya, konsolidasi tanah terdiri dari:
a) Konsolidasi Tanah Sederhana, yang ditujukan untuk pelayanan KT Swadaya dan penyediaan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum sehingga tidak mencakup seluruh proses Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah melainkan hanya pada Pelaksanaan Konsolidasi Tanah.
b) Konsolidasi Tanah Lengkap, yang mencakup seluruh proses Penyelenggaran Konsolidasi Tanah untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
9
B. Kriteria Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah
Berdasarkan Rancangan Peraturan Menteri tentang Konsolidasi Tanah yang sedang disusun, kriteria konsolidasi tanah terdiri dari kriteria objek dan kriteria subjek.
B.1. Kriteria Objek Konsolidasi Tanah
a) Objek Konsolidasi Tanah dapat berasal dari:
▪ tanah yang sudah terdaftar;
▪ tanah hak yang belum terdaftar;
▪ tanah Negara yang sudah dikuasai/digarap; dan/atau;
▪ tanah aset BUMN/BUMD/Badan Hukum lainnya yang dikuasai masyarakat.
Tanah aset yang dimaksud merupakan upaya penyelesaian sengketa dan/atau konflik pertanahan.
b) Objek Konsolidasi tanah dapat terdiri dari satu atau lebih bidang tanah yang ditata dengan mengedepankan peningkatan nilai tambah kawasan dan kepentingan sosial. Kepentingan sosial yang dimaksud berupa penataan kawasan bencana, penyediaan perumahan MBR, penataan kawasan kumuh, LP2B, dan program strategis Nasional lainnya.
B.2. Kriteria Subjek Konsolidasi Tanah
a) Subjek Konsolidasi Tanah merupakan peserta yang memenuhi syarat yaitu Perorangan Warga Negara Indonesia dan/atau Badan Hukum, yang berkedudukan selaku:
▪ Pemegang hak;
▪ Penggarap Tanah Negara;
b) Badan Hukum yang dimaksud adalah Badan Hukum yang dapat menjadi subjek hak sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.
c) Konsolidasi tanah dapat diselenggarakan apabila disepakati oleh paling sedikit 60
% (enam puluh persen) dari peserta KT dan/atau luas tanahnya meliputi paling sedikit 60 % (enam puluh persen) dari luas seluruh areal tanah yang akan di konsolidasi.
d) Dalam hal terdapat pemegang hak/penggarap tanah yang tidak bersedia menjadi peserta Konsolidasi Tanah, hak/penguasaan/garapan tanahnya dapat dialihkan kepada pihak lain yang bersedia menjadi peserta.
e) Dalam hal tidak terjadi kesepakatan, maka proses Konsolidasi Tanah dilakukan melalui mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.
C. Kelembagaan Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah
Dalam penyelenggaraan Konsolidasi Tanah, dibentuk Tim Koordinasi dan Tim Perencana Konsolidasi Tanah sejak tahap perencanaan. Dengan demikian diharapkan penyelenggaraan Konsolidasi Tanah berkesinambungan sejak Perencanaan hingga Pelaksanaan dan Pembangunannya. Susunan Tim Koordinasi dan Tim Perencana menyesuaikan dengan klasifikasi Konsolidasi Tanah berdasarkan luasan lokasi yaitu Konsolidasi Tanah Skala Kecil dan Konsolidasi Tanah Skala Besar dan/Strategis.
10
C.1. Tim Koordinasi
Tim Koordinasi Konsolidasi Tanah mempunyai fungsi mengkoordinasikan penyelenggaraan dan penanganan permasalahan Konsolidasi Tanah. Penetapan Tim Koordinasi disesuaikan dengan skala luasan Konsolidasi Tanah yang akan dilaksanakan yaitu :
a) Konsolidasi Tanah Skala Kecil
Tim Koordinasi ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota.
b) Konsolidasi Tanah Skala Besar dan/atau Strategis
Tim Koordinasi ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur atau Menteri.
Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah di wilayah DKI Jakarta termasuk dalam kategori Konsolidasi Tanah Skala Besar/Strategis.
SUSUNAN TIM KOORDINASI
KT SKALA KECIL KT SKALA BESAR/STRATEGIS
a. Ketua : Bupati/Walikota; a. Ketua : Gubernur;
b. Ketua Harian
: Kepala Kantor Pertanahan;
b. Ketua Harian
: Kepala Kantor Wilayah BPN;
c. Sekretaris : Kepala Seksi Penataan Pertanahan pada Kantor Pertanahan;
c. Sekretaris : Kepala Bidang Penataan Pertanahan pada Kanwil BPN
d. Anggota : d. Anggota :
(1) Kepala Bidang Penataan Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk;
(1) Bupati/Walikota (2) Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah yang membidangi Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk;
(2) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah atau pejabat yang ditunjuk;
(3) Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk;
(3) Sekretaris Daerah atau pejabat yang ditunjuk;
(4) Kepala Organisasi Pemerintah Daerah yang membidangi Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang atau pejabat yang ditunjuk;
(4) Kepala Organisasi Pemerintah Daerah yang membidangi Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang atau pejabat yang ditunjuk;
(5) Kepala Organisasi Pemerintah Daerah yang membidangi Pertanian (dalam hal Konsolidasi Tanah Pertanian) atau pejabat yang ditunjuk;
(5) Kepala Organisasi Pemerintah Daerah yang membidangi Pertanian (dalam hal
Konsolidasi Tanah Pertanian) atau pejabat yang ditunjuk;
(6) Kepala Organisasi Pemerintah Daerah yang membidangi perumahan rakyat dan kawasan permukiman (dalam hal Konsolidasi Tanah Non Pertanian)atau pejabat yang ditunjuk ;
(6) Kepala Organisasi Pemerintah Daerah yang membidangi perumahan rakyat dan
kawasan permukiman (dalam hal Konsolidasi Tanah Non Pertanian) atau pejabat yang ditunjuk;
(7) Perwakilan Instansi terkait dan/atau pihak lain yang berkompeten sesuai kebutuhan penataan.
(7) Kepala Kantor Pertanahan pada lokasi Konsolidasi Tanah.
11
Anggota Tim Koordinasi dapat dilengkapi unsur akademisi, praktisi, kelompok masyarakat, dan unsur pemangku kepentingan lainnya yang terlibat dalam penyelenggaraan Konsolidasi Tanah disesuaikan dengan kebutuhan.
Tugas Tim Koordinasi Konsolidasi Tanah antara lain untuk:
1) mengoordinasikan kebijakan antar pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan konsolidasi tanah;
2) memberikan pertimbangan dalam penetapan lokasi Konsolidasi Tanah;
3) mengarahkan dan mengevaluasi penyusunan Desain Konsolidasi Tanah;
4) mengoordinasikan sumber pembiayaan dan bentuk kerjasama penyelenggaraan Konsolidasi Tanah;
5) melakukan sinkronisasi dan koordinasi rencana aksi pembangunan Konsolidasi Tanah dengan seluruh pemangku kepentingan;
6) melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Konsolidasi Tanah;
7) melakukan penanganan masalah yang timbul dalam penyelenggaraan Konsolidasi Tanah; dan
8) mengevaluasi dan menetapkan kebijakan peremajaan/pembangunan kembali kawasan dalam hal Konsolidasi Tanah Vertikal.
Format SK Tim Koordinasi dapat dilihat di Form KT-101.
C.2. Tim Perencana
Tim Perencana Konsolidasi Tanah mempunyai fungsi menyelenggarakan Konsolidasi Tanah.
Tim Perencana Konsolidasi Tanah dalam Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah Skala Kecil ditetapkan oleh Kepala Kantor Pertanahan dan Konsolidasi Tanah Skala Besar oleh Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional.
Tim Perencana Konsolidasi Tanah Skala Kecil setidaknya terdiri dari:
a. Ketua : Kepala Kantor Pertanahan;
b. Sekretaris : Kepala Seksi Penataan Pertanahan c. Anggota :
1) Perwakilan instansi terkait dan pihak lain yang berkompeten sesuai kebutuhan penataan;
2) Kepala Seksi Landreform dan Konsolidasi Tanah;
3) Kepala Subbagian Tata Usaha atau pejabat yang ditunjuk;
4) Kepala Seksi Infrastruktur Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk;
5) Kepala Seksi Hubungan Hukum Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk;
6) Kepala Seksi Pengadaan Tanah atau pejabat yang ditunjuk;
7) Kepala Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk;
8) Kepala Subseksi Landreform dan Konsolidasi Tanah;
9) Perwakilan instansi terkait dana tau pihak lain yang berkompeten sesuai kebutuhan penataan;
10) Camat dan Lurah/Kepala Desa setempat;
11) Perwakilan peserta Konsolidasi Tanah sebanyak 3 (tiga) orang.
12
Anggota Tim Perencana dapat dilengkapi unsur akademisi, praktisi, kelompok masyarakat, dan unsur pemangku kepentingan lainnya yang terlibat dalam penyelenggaraan Konsolidasi Tanah.
Tim Perencana mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Membuat SK Tim Koordinasi dan menyiapkan data tekstual dan spasial;
b. Melaksanakan Kajian Tata Ruang dan Kebijakan Sektor;
c. Melaksanakan Analisis Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan;
d. Membuat Desain Awal (Visioning) dan Penyepakatan Konsolidasi Tanah;
e. Menyusun pengajuan SK Penetapan Lokasi;
f. Menyusun Dokumen Perencanaan Konsolidasi Tanah.
Dalam hal penyelenggaraan Konsolidasi Tanah yang bersifat strategis dan/atau berskala nasional maka susunan tim perencana dapat disesuaikan dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
Format SK Tim Perencana dapat dilihat di Form KT-102.
D. Pembiayaan
a) Pembiayaan penyelenggaraan Konsolidasi Tanah berasal dari salah satu atau beberapa sumber berikut:
1) Partisipasi Masyarakat;
2) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);
3) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan atau;
4) Sumber pembiayaan lainnya yang sah.
b) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif lainnya dalam penyelenggaraan Konsolidasi Tanah untuk meningkatkan nilai tambah kawasan.
c) Dalam hal kegiatan Konsolidasi Tanah dibiayai oleh APBN atau APBD, tahapan kegiatan Konsolidasi Tanah dapat dilaksanakan pada tahun anggaran yang berbeda.
d) Pembiayaan penyelenggaraan Konsolidasi Tanah diperuntukkan bagi : 1) biaya perencanaan;
2) biaya administrasi pertanahan melalui mekanisme PNBP;
3) biaya kompensasi dan ganti rugi;
4) biaya relokasi sementara dan tunjangan kehilangan penghasilan;
5) biaya administrasi perizinan;
6) biaya pembangunan fisik bangunan dan Prasarana Sarana dan Utilitas (PSU);
7) biaya pemeliharaan bangunan/gedung;
8) biaya peremajaan bangunan/gedung; dan 9) biaya lain-lain.
E. Integrasi dengan sektor
Konsolidasi Tanah merupakan instrumen penataan yang dapat memberikan manfaat diantaranya untuk:
1. Meningkatkan produktivitas lahan pertanian;
2. Relokasi dan/atau Rekonstruksi Pertanahan Pasca Bencana;
3. Penyediaan Tanah untuk Permukiman;
4. Peningkatan Kualitas Lingkungan;
5. Penataan Lokasi Pasca Konflik;
13
6. Dan lain lain.
Guna memperoleh manfaat tersebut, identifikasi lokasi Perencanaan Konsolidasi Tanah dapat dikoordinasikan dengan instansi/sektor terkait. Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah dalam Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 12 Tahun 2019 tentang Konsolidasi Tanah dapat dilakukan melalui bentuk-bentuk kerjasama dan dilaksanakan oleh pemangku kepentingan lainnya meliputi:
b. Kementerian/lembaga lainnya;
c. Pemerintah Daerah;
d. Koperasi, BUMN, BUMD, BUMDes, badan hukum swasta;
e. Akademisi/praktisi dan/atau;
f. Masyarakat; dan g. Pihak terkait lainnya.
14
BAB III
TAHAPAN PERENCANAAN KONSOLIDASI TANAH
A. Pembentukan Tim (Persiapan)
A.1. Pembentukan Tim Koordinasi dan Tim Perencana
Tim Koordinasi dan Tim Perencana menyesuaikan dengan klasifikasi Konsolidasi Tanah berdasarkan luasan lokasi yaitu Konsolidasi Tanah Skala Kecil dan Konsolidasi Tanah Skala Besar dan/Strategis. Susunan Tim Koordinasi dan Tim Perencana selengkapnya dapat dilihat pada Bab II Huruf (C).
A.2. Penyiapan Data Awal
Data Awal yang dimaksud adalah data terkait karakteristik sosial masyarakat dan fisik (pertanahan dan kewilayahan) lokasi perencanaan konsolidasi tanah. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data awal dan penyiapan peralatan, diperoleh dengan berkoordinasi dengan unit teknis terkait yang meliputi kegiatan sbb:
a) Penyusunan rencana kerja, penganggaran, bahan dan peralatan berkoordinasi dengan Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah BPN dan Kantor Pertanahan setempat;
b) Penyiapan Peta berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota, Bidang Infrastruktur Keagrariaan Kantor Wilayah BPN dan/atau Seksi Infrastruktur Keagrariaan Kantor Pertanahan yang bersangkutan, antara lain :
1) Peta Administrasi Wilayah;
2) Peta Penggunaan Tanah;
3) Citra satelit resolusi tinggi/ menengah atau peta jaringan jalan eksisting;
4) Peta RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP dari Pemerintah Daerah, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP yang dapat digunakan adalah RTRW/RDTR Kabupaten/Kota yang berlaku (telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah);
b. Apabila RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP sedang direvisi, dapat digunakan RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP lama yang masih berlaku. Selain itu dapat digunakan RTRW Kawasan yang meliputi wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan, misalnya RTRW Kawasan Jabodetabekpunjur (Perpres No.
54 Tahun 2008) untuk Kabupaten/Kota di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur;
c. Untuk kabupaten/kota hasil pemekaran wilayah dan belum mempunyai RTRW tersendiri, dapat digunakan RTRW kabupaten/kota induk;
d. Apabila RTRW sebagaimana dimaksud pada butir (b) dan (c) tidak tersedia, dapat digunakan RTRW provinsi yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah;
e. Peta RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP yang digunakan, antara lain Peta Rencana Pola Ruang, Peta Rencana Struktur Ruang, Peta Jaringan Jalan Eksisting, Peta Rencana Kawasan Strategis.
15
5) Daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta perlindungan terhadap sumber daya alam, keanekaragaman hayati, lanskap (pusaka saujana/heritage) dan situs budaya;
6) Data Bidang Tanah dan peta Gambaran Umum Penguasaan Tanah (GUPT)/Peta Geo KKP/Peta IP4T;
7) Data Zona Nilai Tanah (ZNT);
8) Data dan peta lokasi Konsolidasi Tanah yang telah dilaksanakan;
9) Peta tematik lainnya yang dibutuhkan.
c) Penyiapan Data terkait Sosial dan Wilayah,
Data sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat antara lain meliputi data kependudukan, mata pencaharian, tingkat ekonomi, kearifan lokal, serta kemungkinan adanya masalah sosial. Data potensi kawasan diperoleh dari data- data statistik wilayah;
d) Identifikasi kebijakan, rencana, dan program sektor terkait penataan kawasan pada wilayah kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah;
e) Usulan masyarakat di lokasi Konsolidasi Tanah;
f) Kebutuhan prasarana, sarana dan utilitas;
g) Program Pemberdayaan masyarakat; dan h) Penyiapan peralatan yang dibutuhkan:
1) Perangkat keras (hardware) yang mendukung pengolahan data spasial;
2) Perangkat lunak (software) pengolahan data spasial.
B. Kajian Tata Ruang dan Kebijakan Sektor (Pembuatan Peta Kerja dan Penjajakan Kebijakan)
Dalam mencari lokasi konsolidasi tanah yang berasal Perencanaan Konsolidasi Tanah, kajian yang pertama dilakukan adalah kajian tata ruang dan kebijakan sektoral yang akan menghasilkan prioritas lokasi konsolidasi tanah dalam persiapan pelaksanaan konsolidasi tanah. Tahapan Kajian Tata Ruang Dan Kebijakan Sektor meliputi kegiatan :
a. Kajian Tata Ruang meliputi : (1) Pembuatan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah dan (2) Kajian Kesesuaian Tata Ruang;
b. Kajian Kebijakan, Rencana dan Program Sektor, meliputi : (1) Sosialisasi dengan Pemda dan (2) Kajian Kebijakan, Rencana dan Program;
c. Pemilihan Lokasi, terdiri : (1) Koordinasi dan Sosialisasi dengan Pemda; (2) Penyusunan peta peninjauan lapang.
B.1. Kajian Tata Ruang
Kajian Tata Ruang bertujuan untuk mendapatkan lokasi-lokasi potensi Konsolidasi Tanah dengan melakukan analisis overlay peta dan mengkaji kesesuaian potensi lokasi konsolidasi tanah berdasarkan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku.
16
B.1.1. Pembuatan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah
Pembuatan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:
a. Membuat Matriks Kesesuaian Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah dengan cara overlay peta penggunaan tanah dengan rencana pola ruang dalam RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP) dan menentukan kesesuaiannya berdasarkan klasifikasi yang ada. Hasil yang didapatkan dari proses ini adalah Peta Kesesuaian Potensi. Sebagai acuan pembuatan matriks kesesuaian potensi dilihat di Tabel 1.
Tabel 1. Matriks Kesesuaian Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah
(Penggunaan Tanah dan Rencana Pola Ruang dalam RTRW/RDTR/RTBL/RP3KP)
No. Penggunaan Tanah
Arahan Rencana Pola Ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah*
Permukima n
Industr i
Jas a
Pariwisat a
Perikana n
Pertam - bangan
Pertania n Lahan Basah
Pertania n Lahan Kering
Tanama n Tahunan
Kawasa n Lindung
Hutan Produks
i Caga
r Alam 1. Perkampungan/perumaha
n P/NT TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
2. Industri TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
3. Jasa TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
4. Perdagangan TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
5. Sawah 2x setahun TP TP TP TP TP TP P/T TP TP TP TP TP
6. Sawah tadah hujan P/NT TP TP TP P/T TP P/T P/T P/T TP TP TP
7. Tegalan/ladang P/NT TP TP TP P/T TP P/T P/T P/T TP TP TP
8. Kebun campuran P/NT TP TP TP P/T TP P/T P/T P/T TP TP TP
9. Perkebunan rakyat P/NT TP TP TP TP TP TP P/T P/T TP TP TP
10. Perkebunan P/NT TP TP TP TP TP TP P/T P/T TP TP TP
11. Hutan lebat TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
12. Hutan belukar TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
13. Hutan sejenis
(contoh:bakau) TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
14. Hutan Tanaman Industri
(HTI) TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP TP
15. Tambak P/NT TP TP TP P/T TP P/T TP TP TP TP TP
16. Rawa P/NT TP TP TP P/T TP P/T TP TP TP TP TP
17. Semak belukar/ alang-
alang P/NT TP TP TP P/T TP P/T P/T P/T TP TP TP
Sumber : Direktorat Konsolidasi Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN (2012).
Keterangan : Kesesuaian potensi lokasi Konsolidasi Tanah :
P/T = Potensial Pertanian, P/NT = Potensial Non Pertanian, TP = Tidak potensial
Catatan : - Klasifikasi penggunaan tanah dan pola ruangmenyesuaikan klasifikasi yang terdapat di masing-masing SP.
- Interpretasi kesesuaian potensi lokasi KT di masing-masing SP dapat menyesuaikan peruntukan kawasan dalam rencana tata ruang dengan kondisi setempat.
17
b. Membuat Matriks Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah dengan cara overlay kesesuaian potensi lokasi konsolidasi tanah dan GUPT. Sebagai acuan menganalisa indikasi potensi lokasi konsolidasi tanah, gunakan matriks pada Tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Matriks Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah (Kesesuaian Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah dan GUPT)
N
o Status Penguasaan Tanah Keterangan
Kesesuaian Indikasi Potensi Lokasi KT Pertanian
(P/T)
Non Pertanian (P/NT) 1. Kelompok Tanah Negara (TN) (yang sudah digarap oleh
perorangan)
P/T P/NT
2. Kelompok Tanah Hak:
1. Hak Milik (HM) Perorangan P/T P/NT
2. Hak Guna Usaha (HGU) Perorangan & Badan Hukum TP TP
3. Hak Guna Bangunan (HGB) Induk
Perorangan & Badan Hukum TP TP
4. Hak Guna Bangunan (HGB) Perorangan TP P/NT
5. Hak Pengelolaan (HPL) Badan Hukum & Pemerintah TP TP
6. Hak Pakai (HP) Perorangan & Badan Hukum P/T P/NT
3. Kelompok Tanah Adat
1. Tanah Milik Adat Perorangan P/T P/NT
2. Tanah Ulayat P/T P/NT
Sumber : Direktorat Konsolidasi Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN(2012).
Keterangan : Indikasi potensi lokasi Konsolidasi Tanah :
P/T = Potensial Pertanian, P/NT = Potensial Non Pertanian, TP = Tidak potensial
c. Analisis overlay Peta dilakukan dengan cara :
1. Tumpang susun (overlay) peta administrasi, peta penggunaan tanah dan peta RTRW/RDTR rencana pola ruang yang menghasilkan Peta Kesesuaian Potensi;
2. Membuat Matriks Kesesuaian Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah sesuai klasifikasi yang tersedia di dalam tabel atribut data pola ruang dan penggunaan tanah;
3. Memasukkan atribut matriks kesesuaian Potensi lokasi Konsolidasi Tanah ke dalam peta kesesuaian potensi lokasi konsolidasi tanah;
4. Tumpang susun (overlay) peta kesesuaian potensi dan peta GUPT yang menghasilkan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah;
5. Membuat matriks Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah sesuai klasifikasi yang tersedia di dalam tabel atribut data kesesuaian potensi lokasi konsolidasi tanah dan GUPT;
6. Memasukkan atribut matriks indikasi potensi lokasi konsolidasi tanah ke dalam peta indikasi potensi lokasi konsolidasi tanah.
18
Proses pengolahan data spasial untuk mendapatkan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah diilustrasikan dalam Gambar 1.
Gambar 1. Ilustrasi Proses Pembuatan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah
Gambar 2. Contoh Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah
Peta Administrasi
Hasil Overlay Peta Administrasi, Peta Penggunaan Tanah, dan Peta RTRW/RDTR Rencana Pola Ruang :
Peta Kesesuaian Potensi Peta
RTRW/RDTR : rencana pola ruang
Peta Indikasi Potensi Lokasi KT ANALISIS OVERLAY
Peta Penggunaan Tanah
Gambaran Umum Penguasaan Tanah (GUPT) ANALISIS OVERLAY
19
B.1.2. Kajian Kesesuaian Tata Ruang
Kajian kesesuaian tata ruang berisi identifikasi terhadap arahan peruntukan kawasan yang termuat dalam Peraturan Daerah tentang tata ruang maupun peraturan zonasi yang berlaku. Hasil identifikasi ini akan memberikan informasi alternatif pilihan arah pengembangan lokasi rencana Konsolidasi Tanah.
Sebagai contoh apabila pada lokasi indikasi potensi konsolidasi tanah termasuk dalam pola ruang pertanian, kemudian dilakukan kajian terhadap Perda tentang Tata Ruang yang berlaku. Arahan peruntukan yang diperbolehkan pada pola ruang pertanian diantaranya untuk pembangunan pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, dan pariwisata. Maka hasil kajian untuk rencana konsolidasi tanah di lokasi tersebut tidak hanya untuk pertanian namun juga dimungkinkan untuk pengembangan pariwisata dengan tetap mengikuti batasan yang berlaku pada pola ruang pertanian.
Hasil kajian kesesuaian tata ruang ini dapat menjadi arahan referensi dinas atau instansi yang selanjutnya dapat menjadi mitra dalam Pelaksanaan Konsolidasi Tanah. Berikut contoh peta RTRW/RDTR dapat dilihat di Gambar 3.
Sumber: Kanwil BPN Provinsi Kalimantan Barat (2018)
Gambar 3. Contoh Peta RTRW
B.2. Kajian Kebijakan, Rencana dan Program Sektor
Kajian terhadap Kebijakan, Rencana dan Program Sektor bertujuan untuk menginventarisir potensi dukungan program sektor daerah beserta lokasinya yang dapat memanfaatkan kegiatan Konsolidasi Tanah. Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan sosialisasi konsolidasi tanah kepada Pemda dan melakukan kajian, rencana dan program sektor.
20
B.2.1. Sosialisasi Konsolidasi Tanah kepada Pemda
Sosialisasi Konsolidasi Tanah kepada Pemda dilaksanakan untuk memberikan pemahaman mengenai Konsolidasi Tanah serta memaparkan Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah dan hasil kajian tata ruang yang telah dilakukan. Materi yang disampaikan dalam sosialisasi antara lain mengenai :
- Definisi dan tujuan Konsolidasi Tanah;
- Dasar Hukum Konsolidasi Tanah;
- Azas atau prinsip Konsolidasi Tanah;
- Tanah Objek Konsolidasi Tanah;
- Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah (Perencanaan, Pelaksanaan, Pembangunan, dan Pengawasan);
- Dimensi Konsolidasi Tanah (secara Horizontal dan Vertikal);
- Prioritas lokasi Konsolidasi Tanah;
- Integrasi program Konsolidasi Tanah dengan Program Sektoral (misal : Program KOTAKU, SP PUGAR, Replanting tanaman perkebunan, dll);
- Manfaat Konsolidasi Tanah bagi Masyarakat dan Pemda.
Hasil sosialisasi kepada Pemda dituangkan dalam bentuk Berita Acara sesuai dengan format Form KT-103.
B.2.2. Kajian Kebijakan, Rencana dan Program Sektor
Sosialisasi dilanjutkan dengan diskusi dan koordinasi untuk memperoleh lokasi-lokasi yang berpotensi untuk ditata melalui konsolidasi tanah yang sejalan dengan kebijakan/rencana/program Pemerintah Daerah. Dari koordinasi diharapkan mendapatkan masukan alternatif lokasi yang tepat untuk kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah. Koordinasi berupa konsultasi pada pemerintah kabupaten/kota setempat (Bupati/Walikota, Sekda/Asisten I dan Asisten II atau Bappeda) mengenai kemungkinan-kemungkinan terjalinnya sinkronisasi kebijakan dan kesepakatan awal penyatuan program antara program konsolidasi tanah dengan program-program pembangunan di daerah.
Beberapa program pembangunan daerah yang membutuhkan dukungan penataan konsolidasi tanah, antara lain :
1. Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
2. Program SP PUGAR dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi;
3. Program Sawit Rakyat (replanting) dari Kementerian Pertanian;
4. Penanganan Kawasan Pasca Bencana;
5. Dan program-program pemerintah lainnya.
Data dan informasi yang komprehensif terkait kebijakan/rencana/program yang dapat memanfaatkan kegiatan konsolidasi tanah, dapat diperoleh dengan menjalin networking yang baik dengan instansi terkait di daerah. Dari tahapan ini dihasilkan data (tekstual maupun peta) dan
21
informasi terkait program sektor yang berpotensi untuk mendukung Penyelenggaraan Konsolidasi Tanah. Hasil Kajian Kebijakan, Rencana dan Program Sektor di rekapitulasi dalam bentuk tabel seperti Tabel 3, yang akan menjadi bahan pertimbangan pemilihan lokasi.
Tabel 3. Potensi Dukungan Sektor Terkait Konsolidasi Tanah
No Instansi/Pihak Lokasi
Kebijakan/
Rencana/
Program
Jadwal Penganggaran 1. Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang
2. Dinas Perumahan
3. Dinas Pertanian dan Perkebunan
4. Dinas / Kementerian lainnya yang terkait dengan pembangunan/penataan lokasi
5. ………
(instansi lain yang terkait dengan kegiatan Konsolidasi Tanah)
Sumber : Hasil Kajian dan Koordinasi Kebijakan, Rencana, dan Program Sektor.
B.3. Pemilihan Lokasi (Koordinasi dengan Pemda)
Pemilihan Lokasi ini meliputi kegiatan : (1) Penyusunan Berita Acara Pemilihan Lokasi; (2) Penyusunan peta peninjauan lapang.
B.3.1. Penyusunan Berita Acara Pemilihan Lokasi
Pada tahap ini lokasi yang memiliki potensi menjadi objek konsolidasi tanah sebagai hasil dari Kajian Tata Ruang dan Kajian Kebijakan rencana, dan program sektor, disampaikan dan didiskusikan kepada Tim Koordinasi untuk menentukan lokasi yang akan ditinjau ke lapangan.
Dalam menentukan lokasi yang akan ditinjau ke lapangan terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan pemilihan lokasi peninjauan lapang, antara lain:
1. Peta Indikasi Potensi Lokasi Konsolidasi Tanah;
2. Kajian tata ruang dan kajian kebijakan sektor termasuk dari hasil penjajakan kebijakan dengan pemerintah daerah.
Apabila saran/masukan dari pemda berada di luar indikasi potensi, maka harus diperhatikan kesesuaian dengan Tata Ruang. Kesesuaian tata ruang dan dukungan sektor menjadi prioritas utama dalam pemilihan lokasi. Pemilihan lokasi dengan mengutamakan kesesuaian tata ruang, dukungan sektor serta potensi kawasan tersebut dituangkan dalam Matriks Pemilihan Lokasi. Adapun contoh penyusunan Matriks Pemilihan Lokasi sebagai berikut :
22
Tabel 4. Contoh Matriks Pemilihan Lokasi
No. Kajian/Analisis Alternatif Lokasi
A B C D E F
1. Kesesuaian Tata
Ruang Sesuai Tidak
Sesuai Sesuai Tidak
Sesuai Sesuai Tidak Sesuai 2. Dukungan Sektor Tidak
Ada Tidak Ada Ada Ada Ada Tidak Ada
3. Potensi Kawasan
Ada Tidak Ada Ada Tidak
Ada
Tidak
Ada Ada
Kesimpulan :
− Lokasi yang dapat dipilih adalah Lokasi C dan D karena memiliki kesesuaian dengan tata ruang dan dukungan sektor. Keduanya dapat dipilih sebagai lokasi yang ditinjau ke lapangan.
− Lokasi C memiliki nilai tambah dibanding D karena memiliki potensi kawasan, yang kemudian dapat dikembangkan dalam arahan pengembangan apabila mendapatkan kesepakatan masyarakat.
Sumber : Hasil Analisis Pemilihan Lokasi
Hasil analisis menggunakan Matriks Pemilihan Lokasi dituangkan dalam Berita Acara Pemilihan Lokasi yang ditandatangani oleh Tim Koordinasi sesuai contoh pada Form KT-104. Selanjutnya lokasi-lokasi yang disepakati tersebut digambarkan dalam Peta Peninjauan Lapang.
B.3.2. Penyusunan Peta Peninjauan Lapang
Pada lokasi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemilihan Lokasi, selanjutnya ditentukan jumlah dan luas lokasi peninjauan lapang dengan mengikuti Kriteria Penentuan Lokasi untuk Peninjauan Lapang yang dijabarkan dalam Tabel 5 di bawah ini :
Tabel 5. Kriteria Penentuan Lokasi Peninjauan Lapang
Kriteria Non Pertanian/Pertanian
Jumlah lokasi Minimal 2 lokasi indikasi potensi pada 2 desa/kelurahan yang berbeda dalam 1 kecamatan
Luas lokasi Minimal 100 bidang atau luas minimal 5 Ha.
Sumber : Direktorat Konsolidasi Tanah
Lokasi-lokasi yang telah ditentukan untuk ditinjau lapang berdasarkan kriteria dalam Tabel 5 tersebut, kemudian digambarkan dalam Peta Peninjauan Lapang.
Kecamatan yang telah ditetapkan sebagai lokasi kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah di tahun berjalan, dapat kembali dijadikan sebagai lokasi kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah di tahun berikutnya dengan catatan lokasi berada pada 2 desa/kelurahan yang berbeda.
Lokasi peninjauan lapang yang telah ditentukan tersebut (dalam bentuk shapefile poligon) dilakukan merge dengan GeoKKP/Peta IP4T menghasilkan peta peninjauan
23
lapang dalam bentuk bidang. Shapefile peta peninjauan lapang tersebut di input atribut dengan kategori sebagai berikut:
Tabel 6. Input Atribut Peta Peninjauan Lapang
No Name Type Keterangan
1 ID_BIDANG Long Integer
2 STATUS_TNH Text Length 50
3 LUAS_BDG Long Integer
4 PEMILIK Text Length 50
5 PENGGUNAAN TANAH Text Length 50
6 KESEPAKATAN Text Length 50
Sumber : Direktorat Konsolidasi Tanah
Peta shapefile tersebut kemudian di overlay dengan citra resolusi tinggi sehingga bidang-bidang tanahnya terlihat pada kondisi eksisting di lapangan. Peta peninjauan lapang dibuat dalam 2 (dua) format cakupan, yaitu:
1. Satu wilayah adminitrasi kecamatan yang menampilkan seluruh lokasi peninjauan lapang yang telah dipilih (skala menyesuaikan); dan
2. Per lokasi peninjauan lapang yang dicetak di atas kertas ukuran A0 atau lebih kecil menyesuaikan dengan kebutuhan, skala 1:25.000 atau lebih besar, jika memungkinkan dicetak dalam skala 1:5.000 (dizoom/diperbesar pada masing- masing lokasi yang akan digroundcheck). Untuk peta per lokasi peninjauan lapang tampilkan layer citra satelit untuk memudahkan kegiatan observasi homogenitas fisik topografi dan penggunaan tanah di lapangan.
Gambar 4. Contoh Peta Peninjauan Lapang dengan Cakupan Kecamatan
24
Gambar 5. Contoh Peta Peninjauan Lapang per Lokasi
C. Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan (Peninjauan Lapang dan Pengolahan Data)
Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi yang terkait pertanahan, sosial ekonomi budaya masyarakat serta potensi wilayah, langsung di lokasi potensi konsolidasi tanah (Peninjauan Lapang). Data sosial dan fisik wilayah yang belum diperoleh pada pengumpulan data awal, diambil pada saat peninjauan lapang (Identifikasi/Inventarisasi/Validasi Kondisi Fisik, Sosial, Ekonomi, dan Budaya).
Pada tahapan ini terdiri dari 3 kegiatan yang harus dilaksanakan, yaitu : (1) Sosialisasi ke Masyarakat, (2) Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan (Peninjauan Lapang), (3) Pengolahan Data Lapang.
Peninjauan Lapang dilaksanakan oleh petugas yang terdiri dari :
1) Petugas dari Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional 2 (dua) orang;
2) Petugas dari pemerintah kabupaten/kota 3 (tiga) orang terdiri dari aparat pemerintah kabupaten/kota, camat dan lurah setempat; dan
3) Petugas dari Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota 3 (tiga) orang.
C.1. Sosialisasi Konsolidasi Tanah kepada Masyarakat
Sosialisasi kepada masyarakat dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan dari Tim Perencana bersama Pemerintah Daerah tentang konsolidasi tanah dalam rangka kegiatan Perencanaan Konsolidasi Tanah pada masyarakat maupun pada tokoh-tokoh masyarakat. Dengan penyuluhan dan sosialisasi ini diharapkan
25
masyarakat dapat memahami tentang maksud, tujuan, dan manfaat serta hak dan kewajiban calon peserta Konsolidasi Tanah, sehingga masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan konsolidasi tanah.
Metode yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi yaitu dengan mengumpulkan masyarakat pemilik tanah sebagai calon peserta konsolidasi tanah dan tokoh/pemuka masyarakat, tokoh-tokoh informal masyarakat, secara bersama-sama melalui penyuluhan langsung ataupun dengan mendatangi satu-persatu calon peserta konsolidasi tanah untuk memberikan penjelasan dengan lebih mendalam.
Hal-hal yang perlu disampaikan kepada calon peserta adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan konsolidasi tanah secara umum baik manfaat langsung, prosedur maupun persyaratannya;
2. Rencana Umum Pelaksanaan Konsolidasi Tanah;
3. Tanah untuk Pembangunan (TP) dalam rangka penyediaan prasarana sarana dan utilitas serta pembangunan lainnya;
4. Pembentukan perhimpunan peserta konsolidasi tanah guna menampung segala aspirasi sekaligus untuk menumbuh kembangkan motivasi, potensi dan peran aktif peserta dalam mencapai manfaat yang optimal atas tanah milik mereka yang akan ditata;
5. Hak dan Kewajiban peserta Konsolidasi Tanah;
6. Hal-hal lain terkait pelaksanaan konsolidasi tanah.
Hasil dari tahapan ini dituangkan dalam Berita Acara Hasil Sosialisasi Konsolidasi Tanah kepada Masyarakat yang di dalamnya berisi tentang pemahaman, respon, dan gambaran minat masyarakat mengenai konsolidasi tanah. Format Berita Acara Sosialisasi kepada Masyarakat dapat dilihat pada Form KT-105.
C.2. Pemetaan Sosial dan Analisis Potensi Kawasan (Peninjauan Lapang) Pemetaan Sosial merupakan kegiatan menginventarisasi dan identifikasi data sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di lokasi. Analisis Potensi Kawasan merupakan kegiatan menginventarisasi dan identifikasi data terkait fisik bidang tanah dan kondisi lingkungan.
Pemetaan sosial penting dilaksanakan dalam Perencanaan Konsolidasi Tanah mengingat masyarakat merupakan subjek kunci keberhasilan dari konsolidasi tanah.
Hasil konsolidasi tanah yang mampu memenuhi aspirasi dan kebutuhan peserta konsolidasi tanah diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan kegiatan ini.
Kegiatan pemetaan sosial dan analisis potensi kawasan dilakukan dengan cara peninjauan ke lapangan dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat sebagai calon peserta untuk mengidentifikasi kondisi fisik lokasi (penggunaan dan status tanah) dan lingkungan serta sosial ekonomi budaya masyarakat. Jenis data dan hasil kegiatan yang dilakukan saat peninjauan lapang terdapat pada Tabel 7 dan Kuesioner pada Form KT-106.