Pidana Bukan Solusi
Perkembangan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia setelah reformasi begitu besar dan sangat dirasakan oleh setiap warganegara di Indonesia, ketika hak-hak asasi manusia itu baik menurut Universal Declaration Of Human Right maupun hukum Indonesia, yakni di dalam Pasal 28 UUD NRI Tahun 1945 dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Persoalannya adalah aktualisasi hak tersebut dilaksanakan atas dasar keputusan-keputusan pengambil kebijakan yang kerap kali mengakibatkan suasana hati nurani masyarakat yang lagi terfokus mengatasi krisis ekonomi yang tidak menentu sebagai akibat korupsi yang berkepanjangan menjadi kian rapuh. Suatu misal terjadi degradasi mental generasi muda melalui sarana teknologi informatika (facebook, internet) yang mudah terjangkau sampai pelosok pedesaan; tentunya dampak berikutnya dengan mudahnya pula penyelenggara Negara legislatif dan Eksekutif ataupun bisa juga Yudikatif menyusun dan mengusulkan untuk adanya kebijakan “hukum sebagai kekuasaan” berupa mengkriminalisasi nilai-nilai untuk dikaedahkan dari setiap perbuatan pertama perbuatan campur tangan urusan peradilan di luar kekuasaan kehakiman sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (3) UU No, 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman, yang kedua meskipun baru draft Undang –undang peradilan agama, adanya kriminalisasi nikah siri dan kawin kontrak.
Sebagai bagian dari positivisme hukum hal ini sangat menjunjung adanya negara hukum yang dicita-citakan berupa legalitas dalam segala bentuknya, serta pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Namun dalam tataran sosiologis nilia-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat sebenarnya telah terjadi kontrak yakni bila dilihat dalam kacamat keadilan dam kemanfaatan antara pencari keadilan (masyarakat dengan pihak pelaksana keadilan/hukum, bahwa nikah siri ataupun kawin kontrak bukanlah sebagai perbuatan yang melanggar hukum. Kajian terhadap substansi hukum pun pada dasarnya penting untuk dilakukan. Bisa jadi perlindungan kepada mereka yang telah melakukan nikah siri, dan diketahui nikah siri dalam hak-hak pembatasan kekuasaan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh bekerjanya hukum tentunya perlu untuk diperhatikan. Substansti hukum melalui kebijakan formulasi, lebih restriksi hukum pidana secara umum bertujuan untuk welfare policy bukan unwelfare policy yang menjaga keseimbangan masyarakat dan individu.sebagai satu kesatuan, dimana pendekatan pada nilai-nilai patut dihormati sepanjang nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan hak masyarakat dan individu.
Tidak tebalnya garis pembatas persoalan nikah siri antara nilai agama dan hukum hal ini dikarenakan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang mematuhi nilai-nilai agama yang telah dinashkan dengan dukungan berbagai corak, karakter, serta perilaku yang berbeda-beda. Salah satu contoh kasus yang bersinggungan dengan masalah agama (kepatuhan terhadap Agama) dimana kebebasan dalam menjalankan agama muncul maka minim sekali sepanjang sejarah hukum di Indonesia kebebasan yang
”nyleneh” keluar dari ajaran agama mendapatkan angin segar. Oleh
karenanya telah menjadi kelaziman dalam lapangan kebijakan pemidanaan, bahwa pidana melalui sanksinya bukan lebih menderitakan meskipun tersirat terdapatnya faktor untuk membuat jera dan menakut-nakuti, akan lebih baik pidana bukan solusi satu-satunya masih terdapatnya solusi-solusi lain guna menjaga keseimbangan hak individu dan masyarakat demi kesejahteraan masyarakat.