• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pilihan Hukum dalam Kontrak Bisnis Internasional

N/A
N/A
Agustina Sihol

Academic year: 2024

Membagikan "Pilihan Hukum dalam Kontrak Bisnis Internasional"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak:

Perbedaan sistem hukum nasional dan ketentuan hukum kontrak masing- masing negara membuka peluang terjadinya konflik dan sengketa. Selain itu, perbedaan hukum nasional yang menjadi acuan normatif bagi para pelaku transaksi perdagangan internasional juga dapat menimbulkan keraguan dan ketidakpastian bagi pihak asing. Dengan demikian pilihan hukum dapat disebut sebagai kebebasan para pihak dalam suatu kontrak untuk memilih hukum mana yang akan digunakan dan berlaku bagi para pihak dalam suatu perjanjian internasional mengingat hukum kontrak nasional masing-masing negara sangat beragam. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pilihan hukum dalam kontrak bisnis internasional. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian tentang data sekunder. Prinsip-prinsip hukum yang diatur dalam transaksi bisnis internasional mengacu pada prinsip-prinsip hukum perjanjian/kontrak internasional yang disepakati oleh para pihak, dan konvensi perdagangan internasional. Pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak bisnis internasional memiliki kebebasan untuk menentukan dengan siapa dan apa pokok perjanjian yang ingin mereka masukkan ke dalam kontrak selama tidak melanggar hukum dan peraturan. Kemudian dengan memasukkan pilihan hukum, para pihak dapat dengan mudah menentukan isi kontrak bisnis karena masing-masing pihak sudah bisa mendapatkan kejelasan tentang hukum yang akan digunakan dan interpretasi isi kontrak sehingga pelaksanaan kontrak akan berjalan lebih optimal.

Kata kunci: Pilihan Hukum; Klausul Kontrak; Kontrak Bisnis Internasional.

Analisis:

Pengaruh Formalitas Kontrak Terhadap Keabsahan Suatu Kontrak Transaksi Bisnis Internasional

Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara yang terdampak pandemi Covid-19 yang berdampak pada perekonomian negara.

Konsumsi pemerintah menurun dari 3,25 persen menjadi 1,94 persen. Hal ini dikarenakan Pemerintah akan mengurangi alokasi di sektor infrastruktur pada tahun 2020 sedangkan pemerintah akan meningkatkan anggaran untuk kesehatan sesuai dengan fokus Pemerintah dalam menangani pandemi di Indonesia. Tak hanya konsumsi, investasi juga mengalami penurunan dari 3,25 persen menjadi 1,94 persen. Penurunan ini berdampak pada perekonomian di Indonesia. Penurunan investasi lebih besar karena efek berkurangnya lapangan kerja. Aktivitas perdagangan, yaitu ekspor dan impor dengan pihak asing, juga mengalami penurunan dari -0,87 persen menjadi -7,70 persen pada ekspor dan

(2)

-7,69 persen menjadi -17,71 persen pada impor.1 Dengan demikian, perlu dikembangkan investasi baik dalam skala nasional maupun internasional untuk mendukung perekonomian negara.

Pemahaman pelaku usaha terhadap hukum kontrak, khususnya kontrak bisnis internasional, menjadi semakin penting Hal ini terkait dengan meningkatnya investasi asing dan pelaku usaha yang masuk ke pasar internasional. Dengan memahami pelaku usaha yang terlibat sebagai pihak dalam perjanjian bisnis internasional, maka akan berdampak pada proses penyusunan kontrak sekaligus implementasi isi kontrak.

Sudargo Gautama berpendapat bahwa hukum kontrak internasional adalah kontrak nasional yang memiliki unsur asing di dalamnya, yaitu pihak- pihak yang melakukan transaksi bisnis berasal dari kebangsaan yang berbeda dan secara otomatis para pihak juga tunduk pada hukum yang berbeda. Dengan demikian, dalam transaksi bisnis internasional, terdapat dua sistem hukum yang berbeda satu sama lain dan masing-masing memiliki peluang yang sama untuk diterapkan pada transaksi bisnis internasional yang diselenggarakan.

Perbedaan sistem hukum nasional dan ketentuan hukum kontrak masing-masing negara membuka peluang terjadinya konflik dan sengketa.

Selain itu, perbedaan hukum nasional yang menjadi acuan normatif bagi para pelaku transaksi perdagangan internasional juga dapat menimbulkan keraguan dan ketidakpastian bagi pihak asing. Bahkan dapat menimbulkan kekecewaan tersendiri karena apa yang awalnya dipahami sebagai hak dan kewajiban masing-masing pihak ternyata ditafsirkan berbeda dalam sistem hukum nasional yang ada. Ini bukan kondisi ideal yang diharapkan dari kontrak bisnis yang dibuat untuk kepentingan para pihak.

Pilihan hukum merupakan salah satu ajaran tersendiri dalam bidang teori umum Hukum Perdata Internasional atau biasa disebut partij autonomie Dengan demikian pilihan hukum dapat disebut sebagai kebebasan para pihak dalam suatu kontrak untuk memilih hukum mana yang akan digunakan dan berlaku bagi para pihak dalam suatu perjanjian internasional mengingat hukum kontrak nasional masing-masing negara sangat beragam. Pilihan hukum inilah yang kemudian lebih akrab dikenal dengan istilah choice of law. Berdasarkan penjelasan ini, penulis akan membahas isu-isu seperti apa pilihan hukum dalam kontrak bisnis internasional.

1. Pengaturan Hukum Kontrak Bisnis Internasional

Bisnis internasional adalah bisnis di mana kegiatan bisnis terdiri dari transaksi bisnis antara pihak-pihak yang berasal dari lebih dari satu negara6.

(3)

Pemasaran internasional juga disebut sebagai transaksi bisnis yang dilakukan oleh perusahaan di satu negara dengan perusahaan lain atau individu di negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dapat antara individu atau badan hukum dengan orang atau badan hukum dari kebangsaan yang berbeda.

Kontrak bisnis internasional berada dalam ranah hukum privat meskipun ada unsur asing yang terlibat di dalamnya sehingga harus memperhatikan aturan hukum kontrak internasional yang biasanya digunakan dalam bisnis internasional. Namun, kontrak bisnis internasional ini yang melibatkan subjek hukum dari berbagai negara, tetap memperhatikan aturan hukum kontrak yang berlaku di masing-masing negara para pihak.

Prinsip-prinsip hukum yang diatur dalam transaksi bisnis internasional mengacu pada prinsip-prinsip hukum perjanjian/kontrak internasional yang disepakati oleh para pihak, dan konvensi perdagangan internasional. Prinsip- prinsip hukum bisnis internasional tersebut dapat dilihat dari penerapan/sumber hukum kontrak internasional, Huala Adolf dalam bukunya menjelaskan bahwa terdapat 7 (tujuh) bentuk hukum yang dapat menjadi sumber hukum kontrak internasional, yaitu:

1) Hukum Nasional 2) Dokumen Kontrak

3) Bea cukai di bidang perdagangan internasional terkait kontrak 4) Prinsip hukum umum mengenai kontrak

5) Putusan pengadilan 6) Doktrin

7) Perjanjian internasional mengenai kontrak.

Dengan demikian, berdasarkan sumber-sumber hukum kontrak internasional, dapat disimpulkan bahwa meskipun kontrak bisnis internasional masih dalam ranah hukum privat, mereka harus memperhatikan aturan-aturan hukum internasional. Di Indonesia sendiri, pengaturan kontrak bisnis masih didasarkan pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUH Perdata) dalam Buku III tentang Perikatan.

Suatu kontrak yang dibuat, harus memenuhi persyaratan hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1230 KUHPerdata, yaitu perjanjian, kompetensi, hal-hal tertentu dan sebab-sebab yang diperbolehkan. Perjanjian

(4)

yang sah harus mengandung unsur kesesuaian, kompatibilitas, memenuhi kehendak pihak yang menandatangani perjanjian atau pernyataan kehendak yang disepakati antara pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian. Perjanjian antara para pihak dalam bisnis internasional adalah awal dari kontrak itu sendiri. Selanjutnya, menurut pasal 1321 KUHPerdata, perjanjian tersebut harus diberikan secara bebas, dalam arti tidak ada paksaan, penipuan, dan pengawasan, yang selanjutnya disebut cacat kehendak (wasiat yang timbul tidak murni dari yang bersangkutan). Kemudian dalam perkembangannya muncul cacat kehendak keempat, yaitu penyalahgunaan keadaan

Kompetensi adalah mereka yang berusia di atas 21 tahun atau sudah menikah. Orang-orang ini secara hukum dianggap mampu melakukan tindakan hukum. Sehubungan dengan kontrak bisnis internasional yang dibuat oleh badan hukum, ketentuan otoritas juga berlaku. Dalam suatu badan hukum, tidak semua orang dalam badan hukum memiliki wewenang untuk bertindak membuat dan menandatangani kontrak bisnis. Hanya orang yang memiliki wewenang yang dapat membuat perjanjian dengan pihak lain. Misalnya, dalam perseroan terbatas berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, hanya direktur yang memiliki wewenang untuk mewakili perusahaan baik di dalam maupun di luar pengadilan seperti mengadakan perjanjian dengan pihak lain. Sehingga orang selain direktur tidak dapat mengadakan perjanjian dengan pihak lain, termasuk untuk membuat kontrak bisnis internasional.

Syarat ketiga ini ditentukan bahwa suatu perjanjian harus mengenai suatu hal tertentu, artinya yang disepakati adalah hak dan kewajiban kedua belah pihak atau bisa juga disebut objek perjanjian. Objek perjanjian yang dimaksud di sini adalah yang diatur dalam Pasal 1332 sampai dengan 1334 KUHPerdata.

Objek perjanjian yang dapat dikategorikan dalam artikel:

1. Objek yang akan ada (kecuali warisan), selama mereka dapat didefinisikan tipe dan dapat dihitung.

2. Objek yang dapat diperdagangkan (barang yang digunakan untuk kepentingan umum tidak dapat menjadi objek perjanjian).

Kondisi terakhir adalah penyebab yang diizinkan. Hal ini menyiratkan bahwa suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang ada di masyarakat seperti norma hukum, norma moral dan ketertiban umum. Syarat perjanjian dan kompetensi merupakan syarat subjektif, jika salah satunya tidak dipenuhi, maka kontrak bisnis internasional yang dibuat dapat dibatalkan.

Kemudian, syarat-syarat suatu hal tertentu dan syarat-syarat sebab-sebab yang

(5)

diperbolehkan adalah syarat-syarat obyektif yang jika tidak dipenuhi maka kontrak bisnis internasional batal demi hukum menurut undang-undang.

2. Pilihan Hukum dalam Kontrak Bisnis Internasional

Dalam dunia bisnis internasional, pilihan lembaga hukum diterima secara luas berdasarkan prinsip kebebasan berkontrak. Kebebasan memilih hukum ini lebih didasarkan pada kepentingan para pihak yang melakukan bisnis untuk memilih hukum mana yang lebih menguntungkan bagi bisnis mereka.

Pemilihan hukum akan memberikan rasa damai bagi para pihak, karena hukum yang berlaku adalah hukum yang dipilih dan disepakati bersama.

Pilihan klausul hukum dibuat oleh banyak pihak yang terlibat dalam kontrak bisnis internasional dan memang vital untuk kontrak bisnis internasional ini. Ada beberapa alasan mengapa pilihan hukum termasuk dalam kontrak bisnis internasional, termasuk:

1) Memenuhi prinsip kebebasan berkontrak;

2) Praktis;

3) Alasan kepastian hukum;

4) Menentukan hukum yang akan digunakan (lex causa)

Pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak bisnis internasional memiliki kebebasan untuk menentukan dengan siapa dan apa pokok perjanjian yang ingin mereka masukkan ke dalam kontrak selama tidak melanggar hukum dan peraturan. Kemudian dengan memasukkan pilihan hukum, para pihak dapat dengan mudah menentukan isi kontrak bisnis karena masing-masing pihak sudah bisa mendapatkan kejelasan tentang hukum yang akan digunakan dan interpretasi isi kontrak sehingga pelaksanaan kontrak akan berjalan lebih optimal.

Pilihan hukum memberikan kepastian hukum bagi para pihak karena apa yang telah disepakati oleh para pihak, berlaku sebagai hukum. Hal ini akan memberikan gambaran bagi masing-masing pihak, langkah hukum apa yang harus diambil jika terjadi sengketa. Kontrak bisnis internasional melibatkan dua atau lebih subjek hukum dari kebangsaan yang berbeda. Dengan pilihan hukum, para pihak sejak awal perjanjian ini sudah tahu hukum mana yang harus digunakan. Hal ini sangat erat kaitannya jika terjadi perselisihan di kemudian hari. Lex causa (hukum yang harus digunakan) harus ditentukan terlebih dahulu jika ada perselisihan atas kontrak bisnis internasional. Tanpa pilihan hukum,

(6)

hakim harus memutuskan lex causa melalui doktrin atau teori hukum, yang tentu saja akan membutuhkan proses yang panjang.

Apabila para pihak tidak menentukan pilihan hukum sebagai lex causa dalam hal terjadi sengketa, maka ada beberapa doktrin atau teori yang digunakan oleh hakim, antara lain:

1. Menurut teori Lex Loci Contractus, hukum yang digunakan adalah hukum di mana kontrak dibuat. Teori ini merupakan teori klasik yang sering digunakan dalam kontrak bisnis internasional. Masalah dengan teori ini adalah jika kontrak tidak dilakukan secara tatap muka tetapi melalui internet, para pihak dapat berada di mana saja, termasuk di negara masing-masing pada saat kontrak dibuat.

2. Menurut teori ini, jika tidak ada pilihan hukum, pengadilan akan menentukan hukum yang berlaku berdasarkan tempat di mana perjanjian dieksekusi. Penggunaan teori ini tidak selalu tepat karena pelaksanaan kontrak dapat terjadi di beberapa tempat.

3. Teori Lex Fori Theory Lex fori adalah pendekatan tradisional untuk menentukan hukum mana yang berlaku. Keuntungan dari teori ini adalah dengan menerapkan hukum dari pengadilan (hakim), penyelesaian perkara menjadi lebih singkat dan murah8. Menurut teori ini, ketika para pihak tidak membuat pilihan hukum dalam kontrak yang mereka buat, maka hukum yang berlaku adalah hukum di mana hakim memutuskan kasus tersebut.

4. Menurut teori ini, hukum yang digunakan adalah hukum yang paling logis atau tepat dan sesuai dengan kontrak dengan mencari pusat gravitasi kontrak atau titik penghubung terdekat dengan kontrak bisnis internasional.

Perbedaan Persyaratan Formalitas Kontrak Antara Common Law Dan Sistem Civil Law

Banyak aturan kontrak bersumber selama era di mana doktrin kebebasan berkontrak berlaku. Tentu saja, seiring waktu, beberapa aturan ini telah diperbaiki dalam beberapa konsekuensi kerasnya dengan prinsip-prinsip keadilan, prinsip-prinsip lain dari hukum umum, dan / atau undang-undang.

Meskipun demikian, aspek-aspek penting dari hukum kontrak, termasuk relevansi khusus di sini interpretasi kontraktual, berasal dari era revolusi industri abad kesembilan belas. Ini termasuk aturan umum tradisional bahwa, dalam menafsirkan ketentuan kontrak, bukti tentang bagaimana kontrak dilakukan tidak relevan dengan interpretasinya, menerapkan aturan bukti parol, meskipun pandangan kontekstual yang lebih bernuansa kemudian

(7)

dikembangkan. Dalam dua keputusan Pengadilan Tinggi Australia baru-baru ini, pembagian terbukti dalam masalah ini, dengan mayoritas hakim mengadopsi aturan tradisional, dan minoritas menunjukkan bukti kinerja selanjutnya dapat atau harus diperhitungkan dalam menafsirkan perjanjian tertulis para pihak.

Pada akhir abad kedua puluh, beberapa sarjana hukum kontrak mengembangkan teori kontrak relasional. Teori ini sangat kritis terhadap filosofi kebebasan kontrak tradisional, dan manifestasinya dalam aturan kontrak tertentu. Teori ini berpendapat bahwa gagasan kebebasan kontrak tidak realistis dan tidak mencerminkan bagaimana sebagian besar pihak benar-benar berperilaku dalam kontrak, betapa pentingnya persyaratan tertulis, bagaimana mereka memandang hubungan kontrak mereka dan bagaimana mereka menyelesaikan perselisihan kontrak. Seperti yang akan dilihat, penerimaan teori ini akan mengarah pada pemikiran ulang dalam hal bagaimana hukum kontrak Australia menangani masalah kinerja selanjutnya dan interpretasi kontrak.

Pemikiran ulang ini telah terjadi di negara-negara komparatif, meskipun diakui yurisdiksi ini tidak selalu secara tegas menghubungkan reformasi hukum mereka di bidang ini dengan teori kontrak relasional. Teori ini sejauh ini memiliki dampak minimal pada hukum kontrak Australia, dan telah mendapat perhatian terbatas dari para sarjana Australia. Artikel ini akan menyarankan itu menjamin pertimbangan serius. Untuk alasan ruang, artikel tersebut tidak akan mempertimbangkan doktrin lain yang mungkin berlaku untuk situasi seperti itu, termasuk estoppel, pengabaian atau pengayaan yang tidak adil. Juga tidak akan mempertimbangkan kesesuaian prinsip-prinsip umum hukum kontrak dengan konteks ketenagakerjaan.

Bagian II dari artikel ini akan menjelaskan secara singkat filosofi kebebasan kontrak tradisional, dan menjelaskan bagaimana teori kontrak relasional secara fundamental berbeda darinya. Diskusi akan fokus terutama pada apa yang mungkin dikatakan teori kontrak relasional tentang interpretasi kontraktual, dan relevansi kinerja selanjutnya dengan proses itu. Bagian III akan mempertimbangkan hukum kasus di Inggris dan Australia mengenai penggunaan kinerja selanjutnya dalam menafsirkan kontrak, dan mencatat posisi di Amerika Serikat, Kanada dan Selandia Baru dan dalam materi perdagangan internasional. Masing-masing yurisdiksi ini (selain Australia) telah menerima bukti kinerja selanjutnya sebagai bantuan untuk interpretasi kontrak. Bagian IV mempertimbangkan keputusan Pengadilan Tinggi baru-baru ini yang melibatkan situasi ketenagakerjaan, di mana dua hakim mengadopsi posisi yang serupa dengan yang berkaitan dengan yurisdiksi lain ini, tetapi mayoritas mempertahankan pandangan tradisional bahwa materi semacam itu

(8)

umumnya tidak relevan dan tidak boleh dipertimbangkan. Bagian V akan berpendapat bahwa hukum Australia harus bersedia menerima bukti semacam itu, setidaknya dalam beberapa kasus. Teori kontrak relasional dapat digunakan untuk mendukung dan membenarkan posisi ini. Penerimaan posisi ini tidak selalu merusak prinsip-prinsip dasar hukum kontrak lainnya, seperti teori kontrak objektif. Bagian VI menyimpulkan. Artikel ini dianggap memberikan kontribusi pada literatur dengan memeriksa dua keputusan ketenagakerjaan Pengadilan Tinggi Australia baru-baru ini yang penting melalui prisma teori kontrak relasional, dengan implikasi yang lebih luas untuk interpretasi kontrak secara umum.

Teori kontrak relasional dan kebebasan berkontrak

Sebelum membahas perkembangan prinsip-prinsip kebebasan kontrak dan teori kontrak relasional, perlu ditunjukkan bahwa hukum kontrak sampai akhir abad kedelapan belas terutama didasarkan pada kontrak yang dieksekusi (apa yang sudah dilakukan dan telah dilakukan para pihak, yang melibatkan konsep manfaat dan / atau ketergantungan), bukan kontrak eksekusi (janji mengenai aktivitas masa depan). Dalam beberapa hal, pergeseran ke kontrak eksekusi memberi makan munculnya gagasan kebebasan berkontrak, dengan fokus pada ketentuan perikatan, daripada bukti faktual tentang apa yang telah terjadi atau sedang terjadi.

Kebebasan berkontrak

Prinsip-prinsip kebebasan berkontrak yang mempertahankan perjanjian yang dibuat secara sukarela oleh para pihak harus dihormati dan diberlakukan oleh pengadilan. Aspek sukarela sangat penting karena fakta bahwa kontrak dan ketentuan-ketentuannya mencerminkan pilihan bebas melegitimasi pelaksanaan kekuasaan negara terhadap seorang individu, melalui penegakan hukum atas janji-janji kontraktual. Pengadilan tidak, dan tidak seharusnya, dalam bisnis membuat kembali kesepakatan para pihak menjadi sesuatu yang mungkin diyakini hakim secara individual akan membuat kontrak 'lebih baik', namun itu mungkin didefinisikan. Dikatakan bahwa peran pengadilan adalah untuk memberikan efek pada kesepakatan para pihak, dan bukti terbaik dari apa yang disepakati para pihak adalah persyaratan tertulis dari keterlibatan mereka. Ini adalah posisi formalis. Peran peninjauan pengadilan di sini terbatas – berkaitan untuk memastikan persyaratan prosedural untuk masuk ke dalam kontrak telah dipenuhi, bukan keadilan substantif dari klausul. Para pihak, bukan orang luar, adalah hakim terbaik dari apa yang menjadi kepentingan terbaik mereka.

Pendekatan ini mengasumsikan para pihak rasional, utilitas-maximisers,9 yang berada dalam posisi untuk menentukan apa yang menjadi kepentingan terbaik

(9)

mereka, dan memilikinya tercermin dalam persyaratan kontrak. Ini mengasumsikan para pihak memiliki akses ke informasi yang memadai untuk membuat penilaian berdasarkan informasi tentang hal itu, dan kekuatan tawar- menawar yang cukup untuk mengamankan kesepakatan yang mencerminkan keinginan optimal mereka. Kontrak melibatkan pertukaran janji, dan melakukan fungsi alokasi risiko. Pendekatan ini mengasumsikan fungibilitas, dapat dipertukarkan, barang dan jasa,10 sehingga meminimalkan pentingnya identitas pihak-pihak yang berkontrak, dan khususnya hubungan yang mereka miliki satu sama lain.

Kebebasan berkontrak dikatakan mendukung ekonomi pasar bebas (relatif), di mana kontrak didorong untuk menyediakan pertukaran sumber daya langka yang efisien. Ini adalah model hukum kontrak 'klasik', yang mencerminkan teori tangan tak terlihat dari ekonomi klasik Adam Smith yang lazim pada saat itu. Ini adalah kebijakan publik. Pada puncak pendekatan kebebasan berkontrak, pengadilan sering menghindari pertimbangan matriks faktual di mana perselisihan muncul, lebih memilih untuk menyelesaikan perselisihan murni atas dasar hukum, yang melibatkan formalisme. Atiyah mencatat salah satu alasan untuk ini adalah karena pengadilan sangat sibuk dengan volume sengketa komersial yang tinggi, dan fokus pada prinsip-prinsip hukum, tanpa menyelidiki skenario faktual yang terkadang rumit, memungkinkan mereka untuk memutuskan kasus dengan cepat. Mengingat diskusi selanjutnya dalam artikel, mengenai implikasi (jika ada) untuk interpretasi kontraktual kinerja aktual (yaitu fakta), ini dianggap sangat penting.

Kecenderungan pengadilan di masa lalu untuk terpaku pada kata-kata tertulis dari kontrak, kadang-kadang dalam menghadapi kenyataan aktual yang sangat bertentangan, dapat dijelaskan atas dasar seperti itu. Tentu saja, itu hampir tidak tampak seperti pembenaran yang masuk akal hari ini untuk pendekatan semacam itu.

Beberapa memuji pendekatan formalis ini atas dasar mengurangi biaya transaksi – salah satu tujuan memfokuskan pada ketentuan tertulis kontrak adalah untuk mengurangi ambisi ketidaksepakatan antara para pihak mengenai apa perjanjian mereka. Jika kemungkinan perselisihan ini diminimalkan, demikian juga risiko, dan biaya yang terkait dengan, menyelesaikan perselisihan itu. Kebebasan berkontrak juga sering dipuji atas dasar bahwa hal itu memberikan mereka yang melakukan bisnis dengan jenis kepastian dan prediktabilitas yang mereka butuhkan dari sistem hukum. Prinsip-prinsip kebebasan kontrak tercermin dalam keputusan Pengadilan Tinggi Australia baru-baru ini dalam Operasi CFMMEU dan ZG, dengan fokus pada ketentuan

(10)

kontrak yang tegas dengan mengesampingkan pertimbangan kinerja selanjutnya. Kasus-kasus ini akan dibahas di bawah ini.

Kritik terhadap pendekatan kebebasan berkontrak

Atiyah mendokumentasikan penurunan prinsip-prinsip kebebasan berkontrak dari sekitar tahun 1870. Dia membahas banyak alasan untuk ini, termasuk meningkatnya pengakuan ketidaksetaraan kekayaan dan kekuasaan dalam masyarakat. Perubahan politik yang mendukung perluasan hak untuk memilih kepada lebih banyak orang mencerminkan peningkatan penerimaan bahwa individu telah dan harus diperlakukan setara. Ini bertentangan dengan prinsip- prinsip kontrak yang menguntungkan orang kaya dan berkuasa. Atiyah menyimpulkan bahwa pada akhir 1880-an, kebebasan berkontrak sebagai slogan politik telah selesai. Dia lebih lanjut mengklaim bahwa model ini adalah 'kegagalan ... terlepas dari pengabadian formalnya hingga hari ini sebagai badan prinsip umum'.

Sepuluh tahun yang lalu, Pengadilan Tinggi membahas prinsip-prinsip kebebasan berkontrak. Dalam ANZ Group Ltd v Andrews, meskipun dalam konteks kontrak yang berbeda, semua anggota Pengadilan menolak saran bahwa kebebasan berkontrak yang 'tidak terkekang' memberikan nilai hukum universal dalam hukum umum. Jelas, pengembangan prinsip keadilan, pengembangan doktrin-doktrin lain dalam hukum umum, termasuk ketidakwajaran, persyaratan tersirat, frustrasi, estoppel dan pengembangan restitusi (untuk mengatakan tidak ada reformasi hukum) telah mencerminkan kesadaran bahwa prinsip-prinsip kebebasan kontrak fundamentalis, dari diri mereka sendiri, (kadang-kadang) tidak cukup untuk mengarah pada hasil yang sebagian besar akan dilihat sebagai dapat diterima dan masuk akal. Ada yang mengatakan bahwa perkembangan 'tambahan' kebebasan berkontrak ini mengancam untuk 'merusak integritas' wacana klasik.

Sebagian besar sarjana saat ini menerima asumsi yang mendasari sentimen kebebasan kontrak sangat dipertanyakan. Kami memahami kenyataan bahwa dalam banyak kasus, kontrak bukanlah produk negosiasi antara dua pihak dengan daya tawar yang kira-kira sama. Dalam praktiknya, sering ada perbedaan besar dalam kekuatan tawar-menawar antara para pihak, dan pihak yang lebih kuat berada dalam posisi untuk, dan memang, secara harfiah mendikte ketentuan perjanjian. Pihak itu (lebih mungkin, perwakilan hukum mereka) biasanya akan menyusun persyaratan perikatan, dengan sedikit atau tanpa masukan dari atau negosiasi dengan pihak lain. Hal ini sering terjadi dalam konteks organisasi saat ini yang melibatkan pekerja untuk melakukan layanan atau tugas tertentu. Seperti yang telah tercermin dalam kasus-kasus,

(11)

seringkali organisasi itu berada dalam posisi untuk menyusun ketentuan keterlibatan antara para pihak. Klausul dapat diambil dari bank template standar. Kontrak akan sering, polos atau sengaja, mengandung kesenjangan yang signifikan. Individu dan organisasi tidak selalu rasional utilitas- maximisers. Janji kepastian mungkin ilusi, dan mungkin bertentangan dengan apa yang paling dianggap sebagai keadilan. Fokus rabun pada persyaratan kontrak dapat meningkatkan biaya transaksi, dengan mendorong dan menghargai upaya untuk memasukkan ketentuan untuk setiap kemungkinan ex ante dalam kontrak. Kepentingan pribadi mungkin bukan zero-sum, permainan saya-menang-Anda-kalah, tetapi mungkin termasuk unsur kerja sama yang mungkin diperlukan agar kedua belah pihak menang.

Kenyataan ini penting untuk tujuan saat ini. Ini bisa berarti kata-kata yang digunakan dalam kontrak sebenarnya tidak mencerminkan niat aktual para pihak, dan pandangan obyektif kontrak, sejauh mengasumsikan bahwa kata- kata yang digunakan mencerminkan niat aktual para pihak, gagal dalam melakukannya. Bukti empiris menunjukkan sering ada kesenjangan yang lebar antara persyaratan kontrak para pihak dan kinerja aktual mereka. Ini mungkin karena istilah teknis asli tidak pernah secara akurat mencerminkan niat aktual para pihak (untuk alasan yang diuraikan dalam paragraf sebelumnya) atau karena dirancang oleh pengacara yang mungkin tidak sepenuhnya menghargai niat para pihak; Ini mungkin berarti bahwa niat para pihak bersifat dinamis, bukan statis, atau bahwa karena alasan lain, sulit untuk mengalokasikan semua risiko yang terkait dengan kontrak pada saat perjanjian. Ini mungkin kombinasi dari ini. Ini mungkin mencerminkan sifat relasional kontrak, seperti yang dijelaskan di bawah ini, di mana para pihak menghargai hubungan yang sedang berlangsung antara para pihak, daripada menegakkan ketentuan kontrak pada surat itu pada kesempatan tertentu. Para pihak dalam situasi seperti itu mungkin tidak melihat perlunya kontrak terperinci, atau jika hal itu dipaksakan kepada mereka oleh perwakilan hukum, mungkin tidak bermaksud untuk mencerminkan keseluruhan, atau bahkan substansi, dari perjanjian para pihak.

Asumsi bahwa pihak-pihak yang berkontrak sebenarnya adalah pemaksimal utilitas rasional telah dipertanyakan.

John Stuart Mill dengan bijak mengamati keterbatasan kebebasan berkontrak:

(An) pengecualian terhadap doktrin bahwa individu adalah hakim terbaik untuk kepentingan mereka sendiri, adalah ketika seseorang mencoba untuk memutuskan secara tidak dapat ditarik kembali sekarang apa yang terbaik untuk kepentingannya di masa depan dan waktu yang jauh. Anggapan yang mendukung penilaian individu hanya sah, di mana penilaian didasarkan pada pengalaman pribadi yang sebenarnya, dan terutama pada saat ini; tidak di mana

(12)

ia terbentuk sebelum pengalaman, dan tidak menderita untuk dibalik bahkan setelah pengalaman mengutuknya. Ketika orang telah mengikat diri mereka dengan kontrak, tidak hanya untuk melakukan satu hal, tetapi untuk terus melakukan sesuatu ... untuk jangka waktu yang lama, tanpa kekuatan mencabut pertunangan ... (apa pun) anggapan yang dapat didasarkan pada mereka yang secara sukarela menandatangani kontrak ... biasanya di sebelah null.

Telah dicatat di atas bahwa hukum kontrak klasik kadang-kadang dipuji atas dasar efisiensi ekonominya. Namun, manfaat formalitas kontrak ini terkadang dikritik atas dasar janji mereka adalah ilusi. Mitchell menyarankan bahwa dalam hal efisiensi tidak jelas bahwa semua pihak harus diarahkan untuk mencoba menyusun kontrak yang lengkap, sepenuhnya kontingen dan interpretasi-bukti, mengingat kemungkinan biaya. Penggunaan standar yang fleksibel, kesenjangan dalam perjanjian, mulai bekerja dan membiarkan kinerja perusahaan atas kewajiban mungkin sebenarnya merupakan cara yang paling efisien untuk mengelola hubungan komersial.

Formalisme terus memiliki penganut dalam literatur.

Teori kontrak relasional

Ketidakpuasan yang mendalam terhadap prinsip-prinsip kebebasan berkontrak, dan hasil yang kadang-kadang keras yang ditimbulkannya, jelas mengarah pada pengembangan prinsip-prinsip hukum baru. Namun, itu juga dimanifestasikan dalam teori hukum kontrak baru. Salah satu teori tersebut adalah teori kontrak relasional. Teori kontrak relasional diperjuangkan oleh para sarjana seperti Ian Macneil dan Stewart Macaulay. Teori ini menunjukkan bahwa model kebebasan berkontrak dari hukum kontrak didasarkan pada gambaran yang tidak akurat tentang hubungan antara pihak-pihak yang berkontrak. Ini mungkin tidak mencerminkan harapan para pihak. Jika ini benar, ini dianggap sebagai cacat besar. Dari semua bidang hukum, hukum komersial, termasuk hukum kontrak, memiliki sejarah yang mendalam dipengaruhi oleh praktik komersial. Posisi Lord Mansfield sebagai tokoh hukum sebagian didasarkan pada pekerjaan yang dia lakukan untuk memasukkan prinsip-prinsip praktik komersial yang mapan ke dalam hukum komersial (lex mercatoria). Dengan demikian, saran bahwa aspek fundamental dari hukum komersial tidak mencerminkan realitas komersial memiliki gigitan untuk itu yang tidak akan ada dalam konteks lain. Setelah ini diterima, biasanya, meskipun jelas tidak dapat dihindari, untuk mengarah pada argumen bahwa hukum komersial harus direformasi sehingga konsisten, atau lebih konsisten, dengan perilaku komersial yang khas, termasuk standar transaksi dan kerjasama yang adil.

(13)

Bukti perilaku komersial tipikal tersedia dalam kontrak templat model. Di Inggris, Klausul 10.11 dari Kontrak Teknik Baru (2005, edisi ke-3) dan Klausul 10.22 dari edisi ke-4 (2017) secara tegas mengharuskan para pihak untuk bekerja sama dalam semangat saling percaya dan kerja sama; di Australia, klausul 2 rancangan AS11000 Ketentuan Umum Kontrak mengharuskan para pihak untuk berperilaku dengan itikad baik, tetapi belum (belum) diadopsi secara resmi. Ada juga peningkatan dalam penggunaan kontrak aliansi / kemitraan dan kontrak perusahaan. Rasa kerja sama dalam perjanjian ini dapat tampak bertentangan dengan hukum kontrak tradisional, yang dipandang sebagai permusuhan. Kontrak-kontrak ini mungkin mencerminkan pendekatan proyek-sentris, bukan partai-sentris, konsisten dengan teori kontrak relasional.

Seorang advokat yudisial terkemuka telah mencatat peningkatan penggunaan klausul itikad baik dalam kontrak yang diatur oleh hukum Inggris.

Hakim Leggatt mengungkapkan pandangan ini secara ringkas:

Kadang-kadang ada kecenderungan pengacara komersial Inggris untuk memandang perdagangan seolah-olah itu adalah semacam perjuangan Darwin di mana setiap orang berusaha untuk mendapatkan dengan mengorbankan orang-orang dengan siapa mereka melakukan bisnis dan di mana, bahkan ketika para pihak telah membuat kontrak, yang tidak lebih dari menetapkan batasan pada pengejaran keuntungan dengan biaya pihak lain ... Model perdagangan dan kontrak ini ... tidak dalam pandangan saya sesuai dengan realitas komersial (berdasarkan pengalaman saya menasihati klien komersial) ... Adalah suatu kesalahan untuk melihat kontrak sebagai permainan zero sum yang pada dasarnya adalah keuntungan satu pihak secara otomatis merupakan kerugian pihak lain. Inti dari perdagangan dan perdagangan adalah timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak dan membuat masing-masing pihak menjadi lebih baik. Untuk mencapai keuntungan bersama seperti itu, para pihak setuju untuk bekerja sama satu sama lain ... Jika hukum kontrak ingin menjalankan fungsi itu secara efektif, ia (harus) mengakui bahwa tidak semua pemahaman dan harapan bersama yang dimiliki oleh para pihak dan yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan bersama mereka pernah dijabarkan ... dalam kontrak mereka.

Kontrak diskrit dan kontrak relasional

Kata sifat 'relasional' digunakan untuk menggambarkan banyak kontrak, berbeda dengan model kontrak 'diskrit' yang dikatakan mendukung hukum kontrak klasik. Kontrak diskrit mengasumsikan transaksi satu kali antara pihak- pihak yang tidak saling mengenal. Masing-masing adalah pemaksimal utilitas rasional yang tahu apa yang menjadi kepentingan terbaik mereka dan memiliki

(14)

pengetahuan dan daya tawar untuk memastikan bahwa persyaratan kontrak mencerminkan kepentingan ini. Dalam model kontrak diskrit, kata-kata kontrak mengasumsikan signifikansi besar. Dengan demikian, upaya besar diambil untuk menyusunnya, terutama mengingat persyaratan hukum dan kemungkinan non-kinerja. Model diskrit cenderung mengabaikan aspek-aspek lain dari hubungan para pihak, termasuk apa yang terjadi (jika ada) antara pihak-pihak ini sebelum pelaksanaan kontrak saat ini, dan apa yang terjadi setelah pelaksanaannya. Diasumsikan pihak-pihak berada dalam hubungan permusuhan.

Dalam pandangan sarjana kontrak relasional, model kebebasan kontrak klasik didasarkan pada fiksi, yang berdampak pada kegunaannya. Kebebasan kontrak klasik mengasumsikan transaksi diskrit, satu kali, dan doktrinnya berusaha menyelesaikan perselisihan yang melibatkan transaksi tersebut.

Sebenarnya, sebagian besar kontrak adalah antara pihak-pihak yang saling mengenal. Hubungan mereka yang berkelanjutan memiliki nilai bagi mereka, yang diabaikan oleh model hukum kontrak diskrit. Nilai ini mungkin tidak berwujud, yang mungkin mengapa hukum kontrak diskrit mengabaikannya, tetapi tidak boleh diabaikan, karena menjelaskan bagaimana para pihak sebenarnya berperilaku dalam praktik. Untuk seorang sarjana kontrak relasional, penting untuk melihat melampaui ketentuan tertulis dari perjanjian antara para pihak, untuk memahami ruang lingkup penuh dari hubungan para pihak. Justru karena mereka mungkin memiliki hubungan yang berkelanjutan, dengan sejarah yang mendalam dan masa depan yang panjang diharapkan, perjanjian tertulis para pihak mungkin jarang, tidak mencerminkan semua yang telah disepakati atau akan disepakati jika para pihak ingin menyelesaikan kontrak tertulis yang komprehensif. Macneil mengatakan "sejumlah besar kegiatan ekonomi dilakukan setidaknya sebagian atas dasar ini". Macaulay mencatat dalam kaitannya dengan pendekatan 'diskrit' hukum kontrak klasik sering kali kurang sesuai dengan fakta. Catatan kontrak para pihak secara rinci rencana mereka untuk semua kontinjensi yang dapat diperkirakan dalam catatan tertulis. Kinerja dipandu oleh rencana ini, dan setiap perselisihan yang tidak dapat dihindari dengan mengacu padanya dapat diselesaikan dengan menafsirkannya. Namun, cerita ini lebih cocok dengan situasi di mana kepercayaan terbatas .. lebih umum .. Orang-orang menyetujui beberapa persyaratan tetapi tidak semuanya, dan baru mulai tampil ... Dalam kontrak relasional, seringkali sulit untuk mengatakan kapan kontrak terbentuk. Selain itu, tidak mungkin terbentuk sekali dan untuk selamanya. Alih-alih adegan yang dibekukan dalam foto diam, kontrak relasional lebih seperti film yang sedang berlangsung.

(15)

Pandangan MacNeil adalah bahwa

Kebutuhan akan sistem hukum kontrak yang meningkatkan diskrititas dan presentiasi tidak akan pernah hilang ... Sistem seperti itu, bagaimanapun, akan terus menggosok dengan cara abrasif yang tidak perlu terhadap realitas koeksistensi dengan kebutuhan relasional untuk fleksibilitas dan perubahan.

Hanya ketika bagian-bagian dari sistem hukum kontrak yang menerapkan diskrititas dan presentiasi dirasakan ... Bukan sebagai sistem independen tetapi hanya sebagai bagian integral dari sistem yang jauh lebih besar, abrasi yang tidak perlu akan hilang. Tidak berarti semua abrasi akan hilang ... Karena konflik nyata ada antara kebutuhan akan keandalan perencanaan dan kebutuhan akan fleksibilitas dalam hubungan ekonomi. Apa yang akan hilang adalah abrasi yang dihasilkan dari hukum kontrak yang didasarkan pada asumsi bahwa semua hubungan kontraktual tercakup dalam beberapa persetujuan asli terhadapnya, di mana asumsi itu secara nyata salah.

Terkait, sarjana hukum kontrak terkemuka Hugh Collins berbicara tentang pandangan tiga dimensi tentang perilaku kontrak, termasuk hubungan bisnis, kesepakatan ekonomi, dan kontrak. Dia mengatakan bahwa hukum klasik biasanya mengabaikan yang pertama, terlepas dari kepentingannya yang signifikan. Aspek 'hubungan bisnis' konsisten dengan teori kontrak relasional, menjelaskan mengapa para pihak tidak begitu peduli dengan persyaratan kontrak ekspres seperti hukum, dan mengapa para pihak akan sering menghindari pelaksanaan hak kontraktual tersurat demi menjaga hubungan baik dll.

Karya teori kontrak relasional Macaulay khususnya sebagian empiris.

Dia melakukan penelitian kualitatif dengan bisnis dan penasihat hukum mereka untuk memastikan praktik kontrak mereka. Penelitian ini menemukan bahwa persyaratan kontrak yang tegas seringkali tidak lengkap, terutama seputar masalah kinerja. Namun, ini tidak masalah secara khusus, karena pada hampir semua kesempatan di mana perselisihan muncul di antara para pihak, mereka menyelesaikannya secara informal, tanpa bantuan kontrak atau tindakan hukum.

Mekanisme internal dalam bisnis biasanya bekerja untuk memastikan kinerja para pihak sesuai dengan harapan. Bisnis berkaitan dengan menjaga hubungan kontraktual yang baik dengan orang-orang dengan siapa mereka berurusan, dan bahwa mereka mempertahankan reputasi yang baik di pasar dalam hal praktik bisnis mereka. Kekuatan-kekuatan ini, daripada ketentuan kontraktual, cenderung mendikte kinerja kontraktual. Beberapa orang yang diwawancarai melaporkan bahwa mereka tidak menyukai tingkat kekhususan yang sangat tinggi dalam kontrak, karena itu mungkin mendorong pihak kontraktor lainnya untuk melakukan surat, daripada semangat, kontrak, dan karena itu mungkin

(16)

mencerminkan tingkat kepercayaan yang rendah di antara para pihak. Dalam konteks lain, misalnya kontrak yang dimaksudkan untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama, mungkin tidak mungkin atau diinginkan untuk secara tegas mengalokasikan semua risiko pada saat perjanjian. Dalam konteks seperti itu, para pihak mungkin secara sah dan wajar mengharapkan semangat kerja sama timbal balik antara para pihak.

Ada beberapa dukungan yudisial untuk teori semacam itu. Dalam GEC Marconi Systems Pty Ltd v BHP Information Technology Pty Ltd, Finn J dari Pengadilan Federal, menerima bahwa sub-kontrak adalah 'hubungan jangka panjang', di mana kewajiban saling percaya dan keyakinan diterapkan. Itu secara singkat dijelaskan oleh tiga anggota Pengadilan Tinggi di Commonwealth Bank v Barker sebagai salah satu 'aplikasi yang tidak pasti', dan tidak diperdebatkan dalam kasus itu. Anggota Mahkamah Agung Inggris menyebut pekerjaan sebagai 'kontrak relasional', dan anggota Pengadilan Banding telah merujuk dengan persetujuan yang jelas terhadap konsep tersebut – Jackson LJ di Amey v Dewan Kota Birmingham merujuk pada sifat 'relasional' dari kontrak yang sedang dipertimbangkan, dengan implikasi untuk bagaimana hal itu harus ditafsirkan.

Ada beberapa bukti penerimaan teori kontrak relasional dalam kasus- kasus yang melibatkan dugaan pengaruh yang tidak semestinya dan / atau ketidakwajaran, meskipun pengadilan biasanya tidak menggunakan bahasa kontrak relasional. Misalnya, kasus yang relatif baru melibatkan pihak yang ingin membatalkan perjanjian pra-nikah dan pasca-nikah berdasarkan kedua doktrin. Pengadilan menjelaskan bahwa pengaruh yang tidak semestinya dianggap ada sehubungan dengan transaksi yang melibatkan hubungan tertentu.

Dalam kasus lain, pengaruh yang tidak semestinya tidak diasumsikan, tetapi terbuka bagi satu pihak untuk menunjukkan bahwa keinginan mereka ditanggung oleh pihak lain. Ini mungkin sering terjadi karena hubungan yang dimiliki para pihak. Sehubungan dengan perilaku yang tidak berbudi, salah satu persyaratannya adalah bahwa pihak yang mengklaim keberadaannya diharuskan untuk menunjukkan bahwa mereka berada pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan yang lain. Sekali lagi, salah satu cara di mana kerugian khusus mungkin ada adalah bahwa para pihak memiliki hubungan yang ada, misalnya hubungan keluarga (seperti yang terjadi dalam salah satu kasus Australia terkemuka tentang perilaku yang tidak masuk akal).

Meskipun kategori kasus ini dapat dijelaskan sebagai aplikasi teori kontrak relasional, harus ditekankan lagi bahwa Pengadilan Tinggi tidak menyatakan keputusannya dalam bahasa seperti itu.

Pendekatan kontrak diskrit mengasumsikan 'presentiation' mudah dicapai

(17)

Pada model kontrak diskrit, tingkat 'presentiasi' yang tinggi dimungkinkan. Macneil mendefinisikan 'presentiation' berarti membuat sesuatu hadir dalam waktu atau tempat. Dalam model kontrak diskrit, presentasi mudah dicapai – tidak sulit untuk mengartikulasikan janji hari ini untuk melakukan hal-hal yang akan terjadi besok. Diakui bahwa, dengan beberapa kontrak, presentasi dimungkinkan – jika saya membuat kontrak untuk membeli sebotol air, akan relatif mudah untuk menyelesaikan persyaratan kinerja di masa depan, sebagian karena kinerja mudah dan sederhana, persyaratan untuk melakukan dapat dengan mudah diartikulasikan dan kinerja akan terjadi sesaat setelah kontrak ditandatangani. Macneil mengatakan bahwa 'penyajian transaksi melibatkan pembatasan efek masa depan yang diharapkan untuk yang didefinisikan di masa sekarang'. Hukum kontrak klasik mencerminkan presentiasi - dengan reifikasi persyaratan tertulis di atas segalanya, dan cara di mana ia berusaha untuk secara umum mengecualikan bukti lain seperti sejarah hubungan para pihak, negosiasi pra-kontrak, atau kinerja aktual setelah pelaksanaan kontrak.

Namun, Macneil mengatakan bahwa sebagian besar kontrak tidak seperti ini. Secara khusus, kontrak relasional (termasuk kontrak kerja) tidak seperti ini, karena beberapa alasan. Pertama, mereka biasanya terjadi dalam periode yang lebih lama, sehingga lebih sulit untuk 'menyajikan'. Kedua, kinerja tidak selalu mudah dan sederhana. Ketiga, jauh lebih sulit untuk mengartikulasikan persyaratan untuk melakukan. Macneil memandang kontrak sebagai sebuah kontinum, dengan kontrak diskrit di satu ujung dan kontrak relasional di ujung lainnya. Ketika situasi tertentu bergerak lebih dekat ke akhir 'relasional', presentiasi memainkan peran yang kurang penting. Dia mengatakan bahwa lebih banyak aspek hubungan antara para pihak harus, karena kebutuhan, diserahkan kepada penentuan di masa depan. Leggatt J menerima poin ini di Yam Seng Pty Ltd v International Trade Corp Ltd, menyimpulkan bahwa 'kontrak tidak akan pernah lengkap dalam arti secara tegas menyediakan untuk setiap peristiwa yang mungkin terjadi'. Bertahun-tahun sebelumnya, Atiyah telah membuat poin serupa: 'kita tahu terlalu banyak tentang perilaku sosial untuk percaya bahwa orang-orang pada umumnya dapat menghitung peluang masa depan dan memaksimalkan kepuasan mereka selama periode waktu apa pun'. Dia berpendapat bahwa orang-orang bisnis Inggris 'tidak memiliki keinginan besar untuk menggunakan kontrak sebagai instrumen alokasi risiko mengenai peristiwa masa depan yang tidak diketahui', dan orang-orang bisnis 'sering dibatasi untuk menyetujui penyesuaian persyaratan kontrak di mana peristiwa berikutnya membuat kontrak asli tidak lagi mampu kinerja secara adil '. Dia menyatakan bahwa kontrak eksekutorial menurun, mendukung pendekatan yang lebih fleksibel berdasarkan gagasan ketergantungan dan

(18)

manfaat, kemunduran ke era pra-Hubungan Industrial yang berfokus pada apa yang sebenarnya telah terjadi atau sedang terjadi, daripada fiksasi pada persyaratan kontrak. Demikian pula, Macaulay menyimpulkan bahwa 'objek kontrak tidak terutama untuk mengalokasikan risiko, tetapi untuk menandakan komitmen untuk bekerja sama'.

Diakui bahwa tidak setiap jenis kontrak, sifatnya, relasional. Pembelian barang secara kasual dari outlet makanan selama perjalanan darat akan menjadi salah satu contohnya. Tidak ada perencanaan sebelumnya; Para pihak adalah orang asing satu sama lain, dan tidak mungkin bertemu satu sama lain lagi.

Namun, banyak jenis kontrak lainnya akan bersifat relasional. Goetz dan Scott mencoba mendefinisikan kontrak semacam itu, yang menyatakan bahwa 'kontrak bersifat relasional sejauh para pihak tidak mampu mengurangi persyaratan penting dari pengaturan menjadi kewajiban yang terdefinisi dengan baik'. Mereka mengutip kontrak kerja sebagai berada dalam definisi ini, karena tidak mungkin untuk menentukan secara rinci terlebih dahulu sifat yang tepat dari kewajiban pekerja mengenai kinerja, dan karena ketidakmungkinan mengetahui sebelumnya kemungkinan tak terduga yang dapat berdampak pada kinerja setelah pelaksanaan kontrak. Hukum kasus mendukung pandangan kontrak kerja sebagai bersifat relasional.

Dalam Yam Seng Pte Ltd v International Trade Corp Ltd, Leggatt J (seperti saat itu) menunjukkan bahwa contoh lain dari kontrak relasional mungkin termasuk usaha patungan, pengaturan waralaba dan distributor jangka panjang.

Dia menyarankan hubungan seperti itu ditandai dengan tingkat saling percaya dan keyakinan yang tinggi. Sarjana hukum kontrak terkemuka Hugh Collins menyarankan fitur-fitur berikut menunjukkan kontrak mungkin relasional:

1. Harapan hubungan bisnis jangka panjang;

2. Investasi sumber daya substansial oleh kedua belah pihak;

3. Harapan implisit kerjasama dan loyalitas yang membentuk kewajiban kinerja untuk memberikan efektivitas bisnis untuk pengaturan; dan 4. Harapan implisit akan rasa saling percaya dan percaya diri, bukan hanya

menghindari ketidakjujuran.

Collins mengatakan daftar ini adalah panduan yang bermanfaat, tetapi tidak lebih dari itu.

Dalam GEC Marconi Systems Pty Ltd v BHP Information Technology Pty Ltd, Finn J mengakui bahwa dalam situasi kontrak relasional, ada kebutuhan untuk menyesuaikan persyaratan untuk memperhitungkan peristiwa dan keadaan yang tidak terduga. Keadilan dan kewajaran komersial akan membantu dalam memandu variasi tersebut. Dalam Bates v Post Office Ltd (No3), Fraser J

(19)

mengartikulasikan daftar delapan faktor untuk membantu menentukan apakah suatu hubungan kontraktual bersifat relasional atau tidak:

1. Tidak ada istilah tegas yang menyatakan sebaliknya;

2. Kontrak akan bersifat jangka panjang, mencerminkan niat para pihak;

3. Para pihak bermaksud tawar-menawar mereka akan dilakukan dengan integritas, setia pada tawar-menawar;

4. Para pihak berkomitmen untuk berkolaborasi satu sama lain dalam pelaksanaan kontrak mereka;

5. Semangat dan tujuan kontrak mungkin tidak dapat secara eksklusif dinyatakan dalam kontrak;

6. Para pihak saling menaruh kepercayaan dan keyakinan satu sama lain (tetapi tidak dalam arti hubungan fidusia);

7. Kontak diharapkan melibatkan komunikasi tingkat tinggi, kerja sama dan kinerja yang dapat diprediksi antara para pihak, berdasarkan rasa saling percaya dan keyakinan dan harapan kesetiaan;

8. Masing-masing pihak telah melakukan investasi besar dalam pokok kontrak; dan

9. Hubungan para pihak mungkin bersifat eksklusif.

Daftar itu dinyatakan tidak lengkap. Tidak perlu bahwa semua elemen hadir agar kontrak dipandang sebagai relasional di alam.

Macneil juga dengan jelas memandang kontrak yang melibatkan keterlibatan pekerja bersifat relasional, mengklasifikasikannya sebagai 'kontrak adhesi', di mana biasanya ada sedikit atau tidak ada negosiasi mengenai ketentuan perikatan. Ini menempatkan mereka jauh dari asumsi yang mendasari pandangan 'diskrit' kontrak.

Beberapa ahli teori kontrak relasional membedakan antara kontrak diskrit dan kontrak relasional, terutama atas dasar bahwa yang pertama mewakili transaksi satu kali antara orang asing, sedangkan yang kedua mencerminkan kontrak antara pihak-pihak dalam hubungan yang sudah ada sebelumnya. Jelas, kadang- kadang bisa sulit untuk menentukan kapan kontrak yang awalnya diskrit telah berubah menjadi kontrak relasional. Apakah ini kesempatan kedua di mana para pihak mengontrak bahwa pengaturan mereka berubah dari yang diskrit menjadi yang relasional? Upaya telah dilakukan untuk mendefinisikan kontrak relasional, apakah berdasarkan lamanya hubungan para pihak, sifat kewajiban kontraktual (misalnya, apakah kontrak menyangkut pembelian komoditas sederhana, di satu sisi, atau melibatkan pengiriman tenaga kerja yang sangat terampil, di sisi lain), dan apakah mungkin bagi para pihak untuk mengurangi ruang lingkup penuh kontrak mereka menjadi tertulis. Beberapa telah

(20)

mencemooh upaya semacam itu atas dasar bahwa semua, atau hampir semua, kontrak bersifat relasional. Dapat diakui bahwa kadang-kadang sulit untuk menentukan apakah hubungan tertentu bersifat relasional atau tidak, dan ini adalah kelemahan dalam teori ini.

Sarjana kontrak relasional berpendapat untuk mengurangi kepentingan dan penekanan pada persyaratan tertulis dari perjanjian antara para pihak. Jika kontrak bersifat relasional, mereka melibatkan pihak-pihak dalam suatu hubungan yang biasanya ditandai dengan tingkat kepercayaan dan kerja sama yang tinggi, di mana para pihak menghargai hubungan yang telah dibuat, dan umumnya bekerja untuk mempertahankan hubungan ini, bahkan dengan biaya.

Di dunia seperti itu, kata-kata yang ketat dari masalah kontrak jauh lebih sedikit daripada hukum kontrak klasik yang ingin kita percayai. Kepercayaan yang melekat dalam hubungan berarti pihak-pihak dalam situasi seperti itu tidak mungkin mengurangi semua ketentuan perjanjian mereka untuk menulis. Ini mendukung argumen yang mendukung pengadilan menyelesaikan masalah interpretasi kontrak dengan mempertimbangkan konteks sekitarnya. Ini melibatkan perilaku setelah pelaksanaan kontrak, termasuk kinerja aktual. Ini karena

Peran Prinsip Umum untuk Interpretasi CISG

Kebutuhan untuk mengisi kesenjangan untuk hukum seragam internasional pada umumnya dan untuk CISG pada khususnya

Hukum seragam internasional selalu menghadapi kesulitan bahwa tidak semua hal dapat dipertimbangkan selama proses penyusunan. Tidak peduli seberapa baik persiapan sebuah konvensi, kesenjangan akan selalu ada. Hal ini dapat disebabkan oleh kompleksitas materi pelajaran, sistem ekonomi yang berbeda, berbagai struktur hukum atau bahkan latar belakang politik. Yang juga sangat penting adalah kenyataan bahwa hukum seragam internasional dalam beberapa hal selalu merupakan hasil kompromi yang dapat disepakati. Selain itu, perbaikan teknis sulit diprediksi ketika menyusun ketentuan sehingga langkah-langkah harus diambil untuk memastikan bahwa kodifikasi juga akan berlaku di masa depan. Untuk alasan ini diperlukan ketentuan yang mengatur bagaimana kesenjangan harus ditangani. Ini berlaku tidak hanya untuk CISG, tetapi juga untuk kode sipil, Prinsip UNIDROIT Kontrak Komersial Internasional8 atau, misalnya, untuk Konvensi UNIDROIT tentang Anjak Piutang Internasional. Prinsip-prinsip Hukum Kontrak Eropa (PECL) juga mengatur dalam Art. 1: 106 (2) PECL bahwa kesenjangan harus diisi dengan ide-ide yang mendasari PECL. Demikian juga Draft of Common Frame of Reference (DCFR)10 yang baru terdapat dalam Art. I.-1:102(4) DCFR

(21)

ketentuan yang hampir identik dengan Art. 7(2) CISG, Art. 1.6(2) UNIDROIT Principles dan Art. 1:106(2) PECL. Mengingat kebutuhan yang disebutkan di atas untuk mengisi kesenjangan dan pengaruh timbal balik yang dimiliki berbagai kodifikasi terhadap yang lain, 11 ini sama sekali tidak mengejutkan.

Terminologi

Menyadari terminologi yang digunakan - dan perbedaan dari hukum nasional yang terkait dengannya - umumnya sangat penting untuk interpretasi dan penerapan Konvensi yang seragam. Karena itu, sebelum menjelaskan bagaimana Art. 7 (2) CISG harus diterapkan, pertama-tama perlu untuk menarik perhatian pada terminologi yang berbeda yang ditemui seseorang ketika membaca artikel, komentar atau keputusan untuk ketentuan ini. Biasanya ungkapan "lacuna intra legem" digunakan untuk mengklarifikasi bahwa suatu masalah berada di luar ruang lingkup Konvensi. Konsekuensi dari "lacuna intra legem" adalah bahwa masalah tersebut diselesaikan dengan jalan langsung ke hukum domestik sebagaimana ditentukan oleh aturan hukum privat internasional (forum) dan prinsip-prinsip umum tidak dikembalikan sama sekali. Sinonim untuk "lacuna intra legem" adalah "celah eksternal" atau "celah yang jelas / jelas". Kebalikan dari "lacuna intra legem" adalah apa yang disebut

"lacuna praeter legem", "celah internal" atau "celah tersembunyi / tersembunyi". Sinonim lebih lanjut untuk "kesenjangan internal" adalah

"kesenjangan sejati". Berbagai istilah ini mempersulit penerapan yang benar dari Art. 7(2) CISG. Selain itu, terminologi yang dijelaskan diperdebatkan karena beberapa penulis kritis tentang ungkapan "kesenjangan eksternal", karena jika suatu masalah termasuk dalam pengecualian dalam Art. 4 CISG dan Art. 5 CISG dan oleh karena itu berada di luar ruang lingkup Konvensi, ini

"tidak dapat merupakan celah Konvensi". Ini menjelaskan mengapa kata "gap"

juga digunakan untuk ungkapan "gap internal". Tidak dapat disangkal fakta bahwa terminologi yang berbeda mempersulit penerapan Art. 7(2) CISG.

Namun, ungkapan "kesenjangan eksternal" dan "kesenjangan internal" juga cukup umum dan karenanya harus dipertahankan agar tidak memperumit masalah lebih banyak lagi.

Berikut ini, ungkapan "kesenjangan eksternal" digunakan untuk mengklarifikasi bahwa suatu masalah berada di luar ruang lingkup Konvensi.

Untuk hal-hal yang diatur oleh Konvensi, tetapi yang tidak secara tegas diselesaikan di dalamnya, ungkapan "celah" digunakan.

Mengisi celah dengan Penggunaan Prinsip Umum

Pembukaan CISG menentukan tujuan Konvensi: adopsi aturan seragam untuk penjualan barang internasional untuk mempromosikan pengembangan

(22)

perdagangan internasional. Tujuan ini harus selalu diingat ketika menafsirkan dan menerapkan CISG. Untuk mempromosikan penerapan CISG yang seragam dan untuk mencapai tujuan Konvensi sebagaimana ditetapkan dalam pembukaan, Art. 7CISG memberikan hakim dengan beberapa pedoman:

"Perhatian harus diberikan pada karakter internasionalnya" dan "pertanyaan mengenai hal-hal yang diatur oleh Konvensi ini yang tidak secara tegas diselesaikan di dalamnya harus diselesaikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang menjadi dasarnya (...)." Kata-kata dari Art. 7(2) CISG dengan jelas menunjukkan bahwa prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar CISG hanya menjadi penting ketika hal-hal diatur oleh CISG tetapi di mana mereka tidak secara tegas diselesaikan di dalamnya. Sebagai langkah pertama, seseorang harus memastikan apakah suatu masalah tertentu diatur oleh CISG atau tidak.

Jika suatu masalah secara tegas berada di luar lingkup penerapan CISG, Pasal 7(2) CISG dan prinsip-prinsip umum Konvensi tidak boleh dirujuk. Ini berarti bahwa pertanyaan mengenai properti barang yang dijual atau pertanyaan mengenai validitas kontrak atau ketentuannya tidak boleh dijawab dengan bantuan prinsip-prinsip umum karena pertanyaan-pertanyaan ini – sebagaimana Pasal 4 dikirim 2 CISG secara tegas menyediakan – di luar ruang lingkup Konvensi. Berdasarkan Art. 5 CISG, hal yang sama berlaku untuk tanggung jawab penjual atas kematian atau cedera pribadi yang disebabkan oleh barang kepada siapa pun. Art. 2 CISG dan Art. 3(b) CISG juga secara tegas mengecualikan hal-hal lebih lanjut dari ruang lingkup Konvensi.

Selain itu, menurut Art. 4 sent. 1 CISG hanya pembentukan kontrak penjualan dan hak dan kewajiban penjual dan pembeli yang timbul dari kontrak semacam itu yang diatur. Jadi setelah melihat sekilas Art. 4 CISG, orang mungkin mendapat kesan bahwa perbedaannya mudah ditarik antara hal-hal yang diatur oleh Konvensi dan yang tidak. Tetapi pandangan yang lebih menyeluruh mengungkapkan kesulitan yang dihasilkan dari ruang lingkup aplikasi sebagaimana ditetapkan dalam Art. 4 sent. 1 CISG: hak dan kewajiban pembeli dan penjual yang timbul dari kontrak penjualan tidak terdaftar secara komprehensif, karena jika ya, tidak akan ada celah untuk diisi dan Art. 7(2) CISG akan berlebihan.

Untuk memahami dan menerapkan Art. 7(2) CISG dengan benar, oleh karena itu penting untuk menentukan apakah suatu masalah tertentu diatur oleh Konvensi atau tidak. Ini sebagai imbalannya membuatnya pertama-tama perlu untuk menafsirkan suatu ketentuan dan untuk memastikan ruang lingkup penerapannya, karena interpretasi (luas) dari suatu ketentuan dapat mengarah pada kesimpulan bahwa masalah tertentu diatur oleh CISG meskipun ini tidak secara tegas diatur dalam ketentuan. Dengan kata lain: tidak mungkin untuk

(23)

membedakan dengan jelas antara interpretasi dan pengisian celah CISG, karena pada saat yang sama klarifikasi ketentuan memperbaiki ruang lingkup penerapannya dan oleh karena itu menjawab pertanyaan utama apakah ada celah yang perlu diisi.

Tentu saja, setiap kasus harus diperiksa secara individual untuk memastikan apakah Art. 7(2) CISG dapat diterapkan atau tidak. Sebagai panduan kasar, orang dapat mengingat bahwa pengisian kesenjangan hanya mungkin untuk pertanyaan yang sangat terkait erat dengan ketentuan CISG sehingga jalan lain ke hukum domestik melalui hukum perdata internasional akan membawa pertanyaan di luar konteks. Ini harus menjadi masalah transaksi penjualan, di mana Konvensi diam. Harus dicatat bahwa setelah mendeteksi kesenjangan (n) (internal), sangat diperlukan untuk terlebih dahulu menganalisis niat dan kesepakatan para pihak sebelum beralih ke prinsip- prinsip umum CISG atau bahkan hukum domestik melalui aturan hukum internasional privat. Ini - setidaknya nosional - hasil langkah utama dari Art. 6 CISG, yang menurutnya para pihak dapat mengecualikan penerapan Konvensi atau mengurangi atau memvariasikan efek dari salah satu ketentuannya. Jika analisis niat para pihak mengungkapkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan tentang masalah yang dimaksud, prinsip-prinsip umum atau bahkan hukum domestik tidak boleh digunakan. Sebaliknya, masalahnya harus diselesaikan sesuai dengan kesepakatan mereka.

Kesimpulan

Pilihan hukum atau dikenal juga dengan choice of law adalah kebebasan para pihak untuk menentukan hukum mana yang berlaku untuk kontrak bisnis internasional. Pilihan hukum sangat berguna untuk digunakan jika terjadi perselisihan. Hal ini dilakukan agar para pihak dapat segera mengetahui lex causa atau hukum yang seharusnya digunakan. Dengan demikian, pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa bisnis internasional tidak perlu melalui proses panjang untuk sekedar menentukan lex causa. Aspek metodis mengenai Art.

7(2) CISG secara teoritis relatif mudah dipahami. Selain itu, seperti yang ditunjukkan di atas banyak prinsip umum Konvensi telah diidentifikasi dan kurang lebih diakui secara luas. Daftar prinsip-prinsip umum Konvensi dengan demikian memfasilitasi aplikasi yang sempurna. Untuk pemahaman yang benar tentang prinsip-prinsip umum ini, seseorang harus tetap menyadari bagaimana mereka dapat diidentifikasi dan dikembangkan. Selain itu, sangat penting untuk memperjelas apakah interpretasi suatu ketentuan benar-benar berasal dari fungsi pengisian celah Art. 7 (2) CISG dengan bantuan prinsip-prinsip umum. Hal ini terutama diperlukan dalam hal itikad baik karena ketaatannya dapat dihasilkan dari Art. 7(1) CISG dan dari Art. 7(2) CISG. Keputusan dari pengadilan Jerman

(24)

yang dikutip di atas dapat dilihat sebagai contoh yang masuk akal untuk kebutuhan ini. Akhirnya, penggunaan prinsip-prinsip umum untuk memecahkan kontroversi juga harus diingat. Fungsi ini menyimpang dari tujuan utama mereka untuk mengisi kesenjangan dalam Konvensi. Dalam aspek-aspek metodis tetap mungkin untuk menggunakan prinsip-prinsip umum karena penggunaannya untuk menyelesaikan perselisihan dapat dilihat sebagai semacam interpretasi sistematis.

DAFTAR PUSTAKA Perundang-Undangan

Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Indonesia, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar

Indonesia, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2021

Internasional Chamber of Commerce, Uniform Customs and Practices for Documentary Credit

UNCITRAL, Digest of Case Law on the United Nations Convention on Contracts for the International Sales of Goods, 2012 Edition

UNIDROIT (the international institute for the unification of private law ) Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif

Penyelesaian Sengketa.

Buku

Kusumaatmadja, Mochtar et al.. Pengantar hukum internasional, Bandung:

Penerbit Alumni, 2021

Latipulhayat, Atip. Hukum internasional: Sumber-Sumber Hukum. Sinar Grafika, 2021

Hasan, Muhammad et al., “Pembangunan Ekonomi & Pemberdayaan Masyarakat: Strategi Pembangunan Manusia dalam Perspektif Ekonomi Lokal.” Makassar: CV. Nur Lina Bekerjasama dengan Pustaka Taman Ilmu, 2018

(25)

Skripsi

Ni Luh Ketut Isma Yunita Dewi. Skripsi: Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Bagi Eksportir Dalam Penggunaan Metode Pembayaran Document Againts Payment Pada Transaksi Ekspor Impor Dalam Perdagangan Internasional. (Denpasar: Universitas Mahasaraswati, 2022)

Purba, Evi Lestari: Skripsi: PERLINDUNGAN HUKUM TRANSAKSI BISNIS INTERNASIONAL DALAM PERDAGANGAN IKAN KEMASAN DALAM PROSES PEMBAYARAN LETTER OF CREDIT (Studi pada PT. Medan Tropical Canning & Frozen Industries) (Medan: Universitas Medan area, 2023)

Jurnal

Gijoh, Lileys Glorydei Gratia. "IMPLEMENTASI HUKUM DALAM KONTRAK BISNIS INTERNASIONAL." LEX ET SOCIETATIS 9 (1): IX/No. 1/Jan-Mar/2021, 2021.

Happy, Merry P., et al. "Prinsip-prinsip Hukum dalam Kontak Internasional."

Privat Law 2 (4): 9, 2014.

Jenorika Christy Rori. "Aspek Hukum Perjanjian Internasional Dalam Ekspor Impor Barang." Lex Et Societati 8 (44): 6, 2020.

Mayaut, Felix, Lucia Charlota Octovina Tahamata, and Wilshen Leatemia.

"Perlindungan Hukum Internasional Bagi Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa." TATOHI: Jurnal Ilmu Hukum 2 (10):

1004-1017, 2022.

Ratna, Wiwin D., and Zulvia Makka. "Perlindungan Hukum Transaksi Bisnis Internasional Pada Era Perdagangan Bebas." Jurnal Akta Yudisia 3 (1):

4, 2018.

Ros Angesti Anas Kapindha, Salvatia Dwi M, and Winda Rizky Febrina.

“Efektivitas dan Efisiensi Alternative Dispute Resolution (ADR) Sebagai Salah Satu Penyelesaian Sengketa Bisnis Di Indonesia.” Privat Law 1 (2), No. 4: 7, 2014.

Syahrin, Muhammad Alvi. "Penentuan Forum Yang Berwenang Dan Model Penyelesaian Sengketa Transaksi Bisnis Internasional Menggunakan E-

(26)

Commerce: Studi Kepastian Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional." Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional 7 (2): 207-228, 2018.

Ni Kadek Srimasih Ristiyati. "Kedudukan Hukum Perdagangan Internasional Terhadap Perekonomian di Indonesia." Jurnal Komunikasi Hukum 8 (2):

7, 2022.

Adolf Huala. 2006. Hukum Perdagangan Internasional. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

---. 2007. Dasar-dasar Hukum Kontrak Internasional. Refika Aditama.

Bandung.

---. 2006. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional. Sinar Grafika.

Jakarta.

AK Syahmin 2006. Hukum Kontrak Internasional. PT. RajaGrafindo Persada.

Jakarta.

Anwar Chairul , Hukum Perdagangan Internasional, Novindo Pustaka Mandiri, Jakarta 1999

Anak Agung Banyu Perwita, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (Bandung: Rosdakarya, 2011

Bayu Seto Hardjowahono, Kontrak-Kontrak Bisnis Transnasional dan UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts, Sebuah Pembuka Wawasan, Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 2006

Bryan Welch, “The Cape Town Convention”, makalah yang dipresentasikan pada Colloqium on Preliminary Draft of Space Protocol, diselenggarakan oleh UNIDROIT

Budi Rustandi Kartawinata dkk, Bisnis Internasional, PT. Karya Manunggal Lithomas, Bandung, 2014

Cavusgil, S. Tamer., Knight, Gary., Riesenberger, John, Yaprak, Attila. 2008.

Conducting Market Research for International Business. New York:

Business Expert Press.

Dellisa A. Ridgway dan Mariya A. Thalib, “ Globalization and Development : Free Trade, Foreign Aid, Investment and The Rule of Law”, California Western International Law Journal, Vol. 33, Spring 2003

(27)

Fred B.G. Tumbuan, “ Kekuatan Mengikat Perjanjian dan Batas-Batasnya, Makalah, Jakarta, Juli 1998

Fuady Munir. 2003. Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis). PT Citra Aditya Bakti. Bandung.

---, Arbitrase Nasional (Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis), Citra Aditya Bakti,Bandung,sebagaimana dikutip oleh Talib, Idris.“Bentuk Putusan Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Mediasi.”

Lex Et Societatis (2013).

Gautama Sudargo. 1976. Kontrak Dagang Internasional Himpunan Ceramah dan Prasaran. Alumni. Bandung.

---. 1987. Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia.

Binacipta. Bandung.s

Gabriel Henry, “The UNIDROIT Principles 2010: An American Perspectives”, Makalah disampaikan pada Symposium the 2010 UNIDROIT Principles of International Commercial Contract: University Law Center, Center for transnational Business and the Law

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Seri Hukum Bisnis: Transaksi Bisnis Internasional (Ekspor Impor dan Imbal Beli), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001

Harahap, M. Y. 2001. Arbitrase. Sinar Grafika. Jakarta.

I H Ph Diederiks-Verschoor, An Introduction to Air Law, Edisi Revisi ke 9 oleh Pablo Mendes De Leon, Penerbit Walter Kluwers, The Netherlands, 2012

Jacqueline M. Nolan-Haley, “Alternative Dispute Resolution”, West Publishing Company, 1991, sebagaimana dikutip oleh Marwah Diah M. “Prinsip dan Bentuk-Bentuk Alternatif Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan”, Hukum Dan Dinamika Masyarakat (2016)

Artikel Online

Wahyuni, Willa. 2022. "Formalities of Contract dalam Transaksi Bisnis

Internasional." Hukum Online.

https://www.hukumonline.com/berita/a/formalities-of-contract-dalam-

(28)

transaksi-bisnis-internasional-lt635bc7a27757e/ diakses pada 25 April 2024

Afifah, Yuni. 2022. "nya Memperhatikan Formalities of Contract Dalam Transaksi Bisnis Internasional." https://fh.unair.ac.id/nya- memperhatikan-formalities-of-contract-dalam-transaksi-bisnis-

internasional/ diakses pada 25 April 2024

Simanjuntak, Timoty Ezra. 2023. "3 Klausul dalam Kontrak Bisnis Internasional." https://www.hukumonline.com/klinik/a/klausul--dalam- kontrak-bisnis-internasional-lt6552173c6d9c4/ diakses pada 25 April 2024

Referensi

Dokumen terkait

4. Pelanggaran serius terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam situasi sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional. Konflik internasional antara Israel dan

Ada waktu mengadakan transaksi bisnis internasional para pihak dapat memilih forum tertentu sebagai tempat penyelesaian sengketa yang mungkin timbul dikemudian hari sehubungan

Urgensi Pembaruan Hukum Kontrak/Perjanjian di Indonesia sebagai Upaya untuk Mendukung dan Meningkatkan Perdagangan dan Transaksi Bisnis Internasional..

Argumen Hukum Kontrak Internasional, ml.scribd.com/doc/.../Argumen-Hukum- Kontrak-Internasional-1, diakses Hari Senin, Tanggal 5 November 2012.. Batista, Luiz Olavo., “The

Penentuan pilihan hukum yang dipakai dalam suatu kasus tentang kontrak internasional yang salah satunya mengenai perjanjian lisensi yang para pihaknya berbeda

dalam kontrak E-Commerce diperlukan unifikasi hukum internet diseluruh dunia dengan membuat konvensi internasional untuk menyelesaikan sengketa yang timbul akibat

Perkembangan hukum kontrak internasional tak terlepaskan dari perkembangan manusia dengan aktivita perdagangannya. Demikian pula perKembangan perdagangan internasional

Secara umum, batasan-batasan pilihan hukum dan/atau pilihan forum adalah batasan yang ditentukan dalam Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu tidak boleh bertentangan dengan