No
. Masalah
Tujuan Program/Kegiata
n
Program/Kegiatan
Indikator/
Target Keberhasilan
Penanggung Jawab
Waktu Pelaksanaa
n
Implementasi Rencana tindak lanjut
1. - Penerapan MPKP yang belum terlaksana optimal - Pelaksanaan
timbang terima masih belum optimal - Dokumentasi
asuhan keperawatan belum terlaksana secara efisien karena tertunda setelah tindakan
Mampu
menerapkan MPKP di ruang perawatan Baji Ati
- Melakukan diskusi terkait hambatan dalam penerapan MPKP
- Menentukan
deskripsi tugas dan tanggung jawab perawat
- Membantu
penerapan model MPKP sebagaimana mestinya
- Mendiskusikan metode pembagian pasien berdasarkan tingkat
ketergantungan pasien
- Menerapkan
komunikasi yang efektif dengan metode SBAR dalam melakukan timbang
MPKP dapat diterapkan secara baik
CCM bayangan,
kepala ruangan bayangan,
perawat primer bayangan,
perawat pelaksana bayangan
17-30 Juni 2025
- Diskusi dilakukan bersama kepala ruangan, perawat primer, dan perawat pelaksana.
Hasil:
Teridentifikasi hambatan utama penerapan MPKP, hambatan utama yang ditemukan antara lain kurangnya pemahaman staf terhadap model MPKP, beban kerja tinggi, dan rotasi staf yang sering berubah.
- Menyusun dan membagikan dokumen tertulis mengenai deskripsi
- Melaksanakan in-house training rutin terkait MPKP dan peran perawat setiap bulan untuk meningkatkan pemahaman staf.
- Koordinasi dengan manajemen keperawatan untuk perencanaan jadwal kerja yang adil dan rotasi berbasis kompetensi dan pengalaman.
- Menjadikan deskripsi tugas tertulis sebagai dokumen wajib
terima - Pelaksanaan
dokumentasi pasien terlaksana segera dengan
menggunakan metode SOAP
tugas setiap peran dalam MPKP:
Perawat Primer, Associate, Kepala Ruangan, dan CCM.
Hasil: Perawat memahami peran dan tanggung jawab masing- masing secara lebih jelas.
- Melibatkan perawat primer dalam perencanaan dan evaluasi asuhan
keperawatan dan memantau
pelaksanaan sistem tim berdasarkan struktur MPKP.
Hasil: Penerapan model MPKP berjalan lebih terstruktur. Peran
saat operan dan briefing serta diperbarui bila ada perubahan peran.
- Membuat form evaluasi berkala mingguan oleh perawat primer untuk memantau kesesuaian pelaksanaan asuhan.
- Menyusun format standar pembagian pasien berdasarkan skala
ketergantungan dan integrasikan dalam pre conference.
- Melakukan pelatihan penyegaran
perawat primer dan associate menjadi lebih aktif dan terkoordinasi.
- Pasien dibagi secara adil dengan mempertimbangka n beban kerja dan kompetensi perawat.
Hasil: Distribusi pasien lebih seimbang.
- Mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan SBAR dalam operan dinas.
Hasil: Komunikasi antar shift menjadi lebih jelas dan terarah. Risiko kesalahan informasi antar perawat berkurang.
- Melakukan audit
SBAR setiap 2 bulan dan audit komunikasi operan menggunakan lembar observasi standar.
- Menyediakan template SOAP di setiap nurse station dan mengadakan audit dokumentasi minimal 1x/minggu oleh perawat senior.
dokumentasi secara berkala bersama perawat
penanggung jawab.
Hasil: Data perkembangan pasien lebih mudah ditelusuri dan dipahami oleh semua tim keperawatan.
2. Pre-post confrence belum terlaksana secara optimal
Pre-post confrence terlaksana secara rutin setiap shift
- Menentukan
penanggung jawab pre dan post confrence
- Melaksanakan pre dan post confrence setiap shift
Pre dan post confrence keperawatan dapat terlaksan bersama perawat
Perawat primer bayangan,
perawat pelaksana bayangan
17-30 Juni 2025
- Menyusun jadwal penanggung jawab pre dan post conference setiap shift (pagi, sore, malam) secara bergilir.
Hasil: Setiap shift memiliki
penanggung jawab pre dan post conference yang jelas.
- Penanggung jawab ditentukan dari
- Memasukkan jadwal penanggung jawab pre/post conference ke dalam jadwal dinas bulanan secara bergilir.
- Membuat checklist evaluasi pelaksanaan pre/post conference dan dievaluasi oleh
perawat yang memiliki
pengalaman lebih atau yang bertugas sebagai perawat primer atau associate.
Hasil: Pelaksanaan conference menjadi lebih terstruktur dan terarah.
- Pre conference dilakukan sebelum pelayanan dimulai, membahas kondisi pasien, prioritas tindakan, dan pembagian tugas.
Post conference dilaksanakan setelah pelayanan selesai, membahas evaluasi tindakan, kendala selama shift, dan rencana
kepala ruangan tiap minggu.
tindak lanjut.
Hasil: Pre dan post conference terlaksana secara rutin setiap shift.
- Format komunikasi menggunakan metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) untuk menjaga kejelasan.
Hasil: Informasi kondisi pasien dan tindakan
keperawatan lebih terpantau dan terdokumentasi dengan baik.
3. Supervisi tidak rutin
dilaksanakan dan berkala
Supervisi dapat dilakukan secara optimal setiap bulan
- Menerapkan alur pelaksanaan supervisi, menjadwalkan waktu untuk
Supervisi dilaksanakan sesuai jadwal yang
ditetapkan,
Kepala ruangan bayangan,
perawat primer
17-30 Juni 2025
- Menyusun dan mensosialisasikan alur pelaksanaan supervisi ke seluruh tim
- Menetapkan jadwal supervisi tetap setiap minggu dan laporan hasil
melaksanakan supervisi secara berkala
- Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi
keperawatan dalam format supervisi
terdapat feedback atau umpan balik
bayangan keperawatan (mulai
dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi, hingga tindak lanjut), serta membuat jadwal supervisi berkala (mingguan atau sesuai kebutuhan ruangan), yang mencakup waktu, area fokus
supervisi (misalnya dokumentas, komunikasi, kebersihan tangan), dan penanggung jawab.
Hasil: Alur supervisi terlaksana dengan sistematis dan terstruktur, seluruh perawat memahami proses dan waktu supervisi,
supervisi disampaikan dalam rapat mutu ruangan.
- Menyimpan arsip lembar supervisi dalam map khusus di nurse station dan dijadikan acuan evaluasi mutu triwulanan.
pelaksanaan supervisi menjadi lebih terarah dan berkesinambungan, bukan insidental.
- Dilakukan supervisi langsung di lapangan untuk memantau kinerja, prosedur, dan kepatuhan terhadap standar
operasional.
Hasil: Terjadi peningkatan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap prosedur
keperawatan.
- Menggunakan format lembar supervisi standar yang mencakup:
aspek yang diawasi, temuan, analisis masalah,
rekomendasi, dan rencana tindak lanjut.
Hasil: Temuan supervisi menjadi data penting untuk perbaikan mutu dan bahan evaluasi kinerja staf.
4. Pemantauan indikator mutu belum optimal
Mencegah dan mengurangi angka kejadian flebitis
Mencegah dan mengurangi kejadian jatuh pada pasien di KRIS
- Menuliskan tanggal pemasangan infus terakhir kali di area pemasangan infus pasien
- Melakukan
pemantauan terkait lama pemasangan infus pasien
- Mengidentifikasi pasien yang beresiko jatuh
- Memasangkan penanda resiko jatuh di bed atau gelang pasien
Tidak ada
kejadian flebitis
Tidak ada kejadian jatuh pada pasien
Perawat primer bayangan, perawat pelaksana bayangan
17-30 Juni 2025
- Perawat
menuliskan tanggal dan waktu
pemasangan infus terakhir pada plester infus atau label identitas infus di dekat area pemasangan.
- Hasil: Semua pasien yang dipasang infus memiliki penanda tanggal
pemasangan, memudahkan pemantauan durasi
- Menambahkan kolom “tanggal pasang infus”
pada format observasi harian dan diganti setiap 72 jam atau sesuai indikasi klinis.
- Menjadikan skor risiko jatuh sebagai syarat wajib dalam pengkajian awal pasien baru dan dievaluasi ulang
- Melakukan edukasi pada keluarga untuk selalu memasang handrail dan mengunci roda bed
penggunaan infus dan mencegah penggunaan kateter infus terlalu lama, Menurunkan risiko infeksi terkait infus (misalnya flebitis).
- Perawat melakukan skrining risiko jatuh saat masuk ruang rawat menggunakan format standar (misalnya skala Morse), pasien dengan usia lanjut, gangguan
keseimbangan, atau penurunan
kesadaran langsung dicatat sebagai berisiko jatuh, hasil identifikasi dilaporkan saat pre/post
tiap 3 hari.
- Membuat leaflet edukasi singkat mengenai risiko jatuh yang dibagikan kepada keluarga saat pasien masuk.
conference.
Hasil: Seluruh pasien berisiko jatuh teridentifikasi sejak awal, tindakan
pencegahan dapat segera
direncanakan, meningkatkan keselamatan pasien di ruangan.
- Perawat memberikan edukasi lisan kepada keluarga pasien tentang pentingnya menutup handrail (pengaman tempat tidur) dan
mengunci roda bed.
Hasil: Risiko jatuh pasien dapat ditekan secara signifikan melalui
keterlibatan keluarga.
5. Sarana dan prasarana
Mengusulkan adanya bel bantuan di toilet, pengadaan handrub serta sampiran disetiap kamar pasien
- Mengusulkan pengadaan bel bantuan disetiap toilet pasien serta pengadaan handrub di tiap kamar pasien pada bagian saran dan prasarana kepada kepala ruangan
Adanya pengadaan saran dan prasarana yang diajukan
Kepala ruangan bayangan
17-30 Juni 2025
- Melakukan identifikasi kebutuhan di lapangan, ditemukan bahwa toilet pasien belum dilengkapi bel bantuan darurat, dan tidak semua kamar pasien memiliki handrub.
Hasil: Terdapat peningkatan perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan pasien, serta komitmen ruangan terhadap standar mutu pelayanan.
- Menindaklanjuti usulan kepada manajemen rumah sakit melalui berita acara
permintaan sarana dan prasarana, serta mengawal realisasi.