Dengan mengaucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa maka Jurnal Kesehatan Kusuma Husada (Jurnal KesMaDaSka) STIKes Kusuma Husada Surakarta yang memuat publikasi ilmiah ilmu-ilmu kesehatan khususnya bidang Keperawatan dan Kebidanan telah selesai dicetak.
Perkembangan ilmu pengetahuan di lingkup kesehatan meliputi keperawatan, kebidanan maupun bidang kesehatan lainnya berupa informasi ilmiah melalui kajian kepustakaan maupun ulasan ilmiah berdasarkan hasil penelitian sangat diperlukan.
Berdasarkan hal tersebut maka STIKes Kusuma Husada Surakarta melalui Jurnal KesMaDaSka memberikan wadah bagi para Dosen ataupun Peneliti sesuai bidang kompetensinya untuk mempublikasikan artikel ilmiahnya. Penerbitan Jurnal Ilmiah KesMaDaSka ini, diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang kesehatan khususnya bidang keperawatan dan kebidanan serta kesehatan lainnya serta meningkatkan motivasi bagi para Dosen ataupun Peneliti.
Atas nama civitas akademika STIKes Kusuma Husada Surakarta, kami mengucapkan selamat atas terbitnya Jurnal Ilmiah Kesehatan Kusuma Husada Surakarta. Semoga Jurnal ini bermanfaat bagi kita semua.
Surakarta, 02 Januari 2016 Ketua Dewan Redaksi
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iii
STUDI AKTIVITAS HEPATOPROTEKTIF FRAKSI ETIL ASETAT KENIKIR (Cosmos caudatus) PADA TIKUS YANG DIINDUKSI PARASETAMOL KAJIAN STRESS OSIDATIF (LIPID PEROSIDASE)
Agil Novianto1), Hartono2) 1
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEMAMPUAN MAHASISWA TINGKAT IV DIV KEPERAWATAN DALAM MELAKUKAN PRAKTEK PEMASANGAN PIPA ENDO TRAKEAL DI LABORATORIUM KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
Sunarto1) 6
PERBANDINGAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TULANG IKAN TUNA DENGAN SUPLEMEN KALK TERHADAP KADAR KALSIUM DARAH IBU HAMIL PASIEN
PUSKESMAS
Wijayanti1), Supriyana2), Bahiyatun3) 12
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DAN LOGOTERAPI UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA DAHLIA PUSKESMAS MOJOSONGO SURAKARTA
Joko Kismanto1), Diyah Ekarini2), Nurul Devi Ardiani3) 17
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN KADER DENGAN SIKAP KADER TENTANG POSYANDU BALITA DI DESA PENGKOK KEDAWUNG SRAGEN
Kartika Dian Listyaningsih 1), Deny Eka Widyastuti 2), Megayana Yessy Mareta3) 23
EFEKTIVITAS HBsAg – RAPID SCREENING TEST UNTUK DETEKSI DINI HEPATITIS B
Ika Budi Wijayanti 1) 29
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG MANFAAT MUSIK KLASIK DENGAN MOTIVASI MENDENGARKAN MUSIK KLASIK PADA IBU HAMIL DI SURAKARTA JAWA TENGAH
Arista Apriani 1), Deny Eka Widyastuti 2), Yunia Renny Andhikatias3) 35
HUBUNGAN PERSEPSI TENTANG KOMUNIKASI KEPALA BIDANG PELAYANAN KEPERAWATAN DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA
:DK\XQLQJVLK6D¿WUL1) 40
EFEKTIFITAS RELAKSASI AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN DI POSYANDU LANSIA DESA PLESUNGAN KARANGANYAR
Ika Subekti Wulandari 1):DK\XQLQJVLK6D¿WUL2) 45
HUBUNGAN ANTARA METAKOGNISI DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH PELAYANAN KB PADA MAHASISWA PRODI D III KEBIDANAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
ANALISIS GENDER DENGAN PERSPEKTIF SOSIAL EKONOMI MENGENAI KELUARGA BERENCANA DI DESA BOLON KECAMATAN COLOMADU KABUPATEN KARANGANYAR
Yunia Renny Andhikatias 1), Arista Apriani2) 53
PERBANDINGAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAYAM HIJAU DENGAN PREPARAT Fe TERHADAP PERUBAHAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL PASIEN PUSKESMAS
Dheny Rohmatika 1), Supriyana2), Djamaluddin Ramlan 3) 60
PEDOMAN PENULISAN NASKAH 69
-oo0oo-STUDI AKTIVITAS HEPATOPROTEKTIF FRAKSI
ETIL ASETAT KENIKIR (Cosmos caudatus) PADA
TIKUS YANG DIINDUKSI PARASETAMOL KAJIAN
STRESS OSIDATIF (LIPID PEROSIDASE)
Agil Novianto
1), Hartono
2)1,2Akademi Farmasi Nasional Surakarta
ABSTRAK
Hati memainkan peran penting dalam metabolisme dan ekskresi. Parasetamol dosis tinggi dapat membuat gagal hati akut (ALF) dan nekrosis di hepar dari penanda enzim serta meningkatkan parameter oksidatif stres untuk peroksidasi lipid. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas etyl asetat fraksi kenikir pada tikus yang diinduksi oleh parasetamol. Desain penelitian aktivitas hepatoprotektif menggunakan hewan uji yang terbagi enam kelompok. Kelompok I (normal) diberi asupan aquades, kelompok II (kontrol negatif) diberi CMC 1 %, kelompok III (kontrol positif) diberi kurkuminoid 100mg/ kg BB dalam CMC 1 %, kelompok IV-VI (kelompok perlakuan) diberi fraksi etil asetat kenikir dengan dosis 281,25 mg/kg BB, 562,5 mg/kg BB, dan 1.125 mg/kg BB. Perlakuan sediaan uji selama 7 hari, pada hari ke-7, 30 menit setelah pemberian sampel uji dilanjutkan dengan induksi parasetamol dosis 2,5 g/kg BB secara peroral. Setelah 48 jam induksi, selanjutnya dilakukan pembedahan hewan uji untuk pengambilan sampel liver. Sampel jaringan liver digunakan untuk analisis parameter stres oksidatif yaitu lipid peroxidation (LPO). Fraksi etil asetat kenikir dosis 1125 mg/kg BB mampu menghambat WHUMDGLQ\D OLSLG SHURNVLGDVL VHFDUD VLJQL¿NDQ \DLWX PHPEHULNDQ HIHN RSWLPDO KHSDWRSURWHNWLI GDQ indikasi penurunan peroksidasi lipid (p <0,05). Mekanisme hepatoprotektor fraksi etil asetat kenikir didasarkan atas kemampuan sebagai antioksidan (in vitro dan in vivo) sehingga terjadinya kerusakan liver (nekrosis) dapat diminimalisir.
Kata kunci: etylaccetate kenikir fraksi, hepatoprotektif, peroksidasi lipid, parasetamol
ABSTRACT
The liver plays an important role in the metabolism and excretion. High doses of paracetamol could create acute liver failure (ALF) to show necrosis at high liverby of marker enzymes and increases oxidative stress parameters for example lipid peroxidation. The aim of research to determine the effectiveness etyl acetate fraction of marigolds in rats induced by paractamol. The study design hepatoprotective activity using test animals were divided into six groups. Group I (normal) fed a diet of distilled water, group II (negative control) were given CMC 1%, group III (positive control) were given kurkuminoid 100mg / kg in CMC 1%, group IV-VI (the treatment group) were given a fraction of ethyl acetate kenikir with a dose of 281.25 mg / kg, 562.5 mg / kg, and 1,125 mg / kg. Test preparation treatment for 7 days, on the 7th day, 30 minutes after administration of the test sample followed by induction of paracetamol dose of 2.5 g / kg is orally. After 48 hours of induction, then performed surgery for sampling test animal liver. Liver tissue samples used for the analysis of oxidative stress parameters, namely lipid peroxidation (LPO). Ethyl acetate fraction kenikir dose 1125 mg / kg is capable of preventing the occurrence of lipid SHUR[LGDWLRQVLJQL¿FDQWO\RSWLPDOHIIHFWKHSDWRSURWHFWLYHLQGLFDWHGE\DGHFUHDVHOLSLGSHUR[LGDWLRQS
<0.05). Hepatoprotective mechanism kenikir ethyl acetate fraction is based on the ability of antioxidants (in vitro and in vivo) so that the occurrence of liver damage (necrosis) can be minimized.
Keywords: etylaccetate fractions of kenikir, hepatoprotective, lipid peroxidation, paracetamol
1. PENDAHULUAN
Hati merupakan organ vital yang memiliki SHUDQ SHQWLQJ GDODP SURVHV GHWRVL¿NDVL Penggunaan obat dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan hati (Singh, 2012). Hepatotoksin merupakan bahan kimia dengan efek toksik terhadap sel hati. Pada dosis yang berlebihan (dosis toksik) atau pemaparan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati akut, sub akut maupun kronis. Contoh senyawa hepatotoksin antara lain karbon tetraklorida (CCl4), kloroform, etionin parasetamol, galaktosamin dan lipopolisakarida.
Parasetamol merupakan obat dengan efek analgetik dan antipiretik yang aman digunakan dalam pemakaian pada dosis di bawah 4,0 g/hari (Clark et al., 2012). Penggunaan parasetamol dalam jumlah yang berlebih (15 gram/hari) mampu menyebakan kerusakan pada hati (Gestanovia 2007; Clark et al., 2012). Parasetamol mengalami proses metabolisme oleh enzim sitokrom P450 menjadi metabolit reaktif yang dikenal dengan N-acetyl-p-benzoquinonemine (NAPQI). NAPQI mampu berinteraksi secara kovalen dengan makromolekul hati pada bagian sistein dan mengakibatkan terjadinya oksidasi lipid dan menyebabkan kerusakan pada liver (Setty, 2007). Terjadinya kerusakan hati akibat pemberian parasetamol mampu memicu naiknya kadar serum glutamate pyruvate transaminase (SGPT), serum glutamate oxaloacetat transaminase (SGOT), serum alkaline phosphatase (ALP), billirubin, total protein (Hinson et al., 2010). Kerusakan hati akibat parasetamol ini juga ditandai dengan naiknya parameter stress oksidatif yang ditunjukkan dengan tingginya kadar lipid peroksidase (LPO) (Singh, 2011; Datta et al., 2013).
Kenikir (Cosmos caudatus K.) telah lama
Abas et al., (2003) menyebutkan bahwa ekstrak PHWDQROLN GDXQ NHQLNLU PHQJDQGXQJ ÀDYRQRLG dan glikosida kuersetin. Ekstrak etanol kenikir dosis 2.250 mg/kgBB, memiliki efektivitas menurunkan kadar SGPT pada tikus yang diinduksi parasetamol (Setyawati, 2011).
Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat PHQJDQGXQJ VHQ\DZD ÀDYRQRLG SDOLQJ VHGLNLW dua komponen. Uji aktivitas antioksidan dengan metode penangkapan radikal DPPH (2,2’-difenil-1-pikril-hidrazil) menunjukkan ekstrak etanol memiliki IC50 19,43±0,317 ìg/mL (Nurhaeni, 2012) dan fraksi etil asetat memiliki IC50 14,229 ìg/mL (Kurniasih, 2008).
Tujuan penelitian untuk mengetahui aktivitas hepatoprotektor dari fraksi etil asetat herba kenikir berdasarkan kajian stress oksidatif lipid peroxidation (LPO).
2. METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Daun kenikir, tablet parasetamol 500 mg (Kimia Farma), kurkuminoid, CMC Na (Brataco), aquadest, etanol 70 % hexane, ethyl acetat (Brataco). Hewan uji tikus jantan galur wistar berat 150-200g. Spuit oral (Terumo), setrifuge Sigma, water bath, trichloroacetic acid (TCA), TBA (Thiobarbituric acid), SDS, asam asetat, Tris HCl pH 7,4.
Cara Kerja
a. Preparasi sampel
Daun kenikir dimaserasi etanol 70 % untuk mendapatkan ekstrak etanol. Ekstrak etanol selanjutnya difraksinasi bertingkat dengan hexane, etil asetat dan air untuk mendapatkan fraksi etil asetat kenikir.
b. Uji kualitiatif fraksi etil asetat kenikir $QDOLVLV .URPDWRJUD¿ /DSLV 7LSLV ./7
menggunakan sinar UV pada panjang gelombang 366 nm.
c. Uji aktivitas hepatoprotektor
Uji hepatoprotektor dilakukan mengikuti rancangan Hurkadale et al., 2012 dan Paramaguru et al., 2011. Hewan uji dibagi enam kelompok. Kelompok I (normal) diberi asupan aquades, Kelompok II (kontrol negatif) diberi CMC 1 %, Kelompok III (kontrol positif) diberi kurkuminoid 100mg/ kg BB dalam CMC 1 %, Kelompok IV-VI (kelompok perlakukan) diberi fraksi etil asetat kenikir dengan dosis 281,25 mg/kg BB, 562,5 mg/kg BB, dan 1.125 mg/kg BB. Perlakukan sediaan uji selama 7 hari, pada hari ke-7, 30 menit setelah pemberian sampel uji dilanjutkan dengan induksi parasetamol dosis 2,5 g/kg BB secara peroral (Hurkadale et al., 2012; Paramaguru et al., 2011). Setelah 48 jam induksi, selanjutnya hewan uji dikorbankan dan dilakukan pembedahan untuk mengambil liver. Sampel jaringan liver digunakan untuk analisis parameter stres oksidatif yaitu lipid peroxidation (LPO) . d. Analisa stress oksidatif lipid peroxidation
(LPO)
Pengukuran kadar LPO mengikuti metode yang dikembangkan oleh Ohkawa et al.(1979). Organ liver selanjutnya di-keringkan dan ditimbang, sebesar 10 % dari jaringan ini selanjutnya dihomogenkan dan dilakukan preparasi dengan larutan 0,15 M Tris HCl (pH 7,4). Kadar lipid peroksi-dase dalam campuran ditentukan berdasar-kan jumlah terbentuknya malonilaldehyde (MDA). Sejumlah 0,2 ml liver yang telah dihomogenkan ditambah dengan 0,2 ml So-dium dodecyl sulfate (SDS) 8,1 %, 1,5 ml asam asetat 20 %, dan 1,5 ml TBA 0,8 %. Campuran dibuat sejumlah 4 ml ditambah aquadest, dan dihangatkan pada suhu 950C
selama 60 menit. Setelah diinkubasi, didi-amkan dalam suhu kamar. Dengan volume yang sama ditambahkan TCA 10 %. Selan-jutnya disentrifugasi selama 10 menit pada 3000 rpm. Lapisan atas yang terbentuk di-ambil dan diukur nilai OD pada panjang gelombang 532 nm terhadap blanko yang
ti-dak diberikan sampel. Jumlah lipid peroksi-dase (LPO) dinyatakan dengan sejumlah mol thiobarbituric acid reactive substance (TBARS)/mg protein dengan menggunakan NRH¿VLHQHNVWLQJVL[0-1 cm-1(Bose
et al., 2007).
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis KLT dilakukan untuk mengetahui keberadaan senyawa maupun marker (senyawa identitas) dari sampel yang digunakan. KLT XQWXN LGHQWL¿NDVL ÀDYRQRLG PHQJJXQDNDQ IDVH diam selulosa yang memiliki sifat lebih baik un-WXNLGHQWL¿NDVLPHWDEROLWÀDYRQRLGGLEDQGLQJNDQ dengan jenis silika gel. Selain itu digunakan fase gerak kombinasi butanol asam asetat air (sistem BAW) dengan perbandingan 4 : 1 : 5 sebagai pembanding digunakan rutin dan quercetin de-ngan pemeriksaaan pada UV 366 nm dan penam-pak bercak uap NH3. Hasil KLT terhadap sam-pel ekstrak maupun fraksi, diketahui keberadaan fraksi etil asetat memiliki spot yang memiliki ni-lai HRf yang mirip dengan nini-lai quercetin dengan ZDUQD\DQJPLULSNHWLNDGLLGHQWL¿NDVLGDODP89 366 nm dan uap NH3.
Analisa stress oksidatif dalam penelitian un-tuk mencari mekanisme hepatoprotektif dilihat dari kajian stress oksidatif dengan pengamatan terhadap parameter lipid peroksidase. Lipid peroksidase merupakan suatu proses terjadinya oksidasi lipid oleh radikal bebas yang menye-babkan terjadinya kerusakan membrane yang mengandung lipid. Terjadinya lipid perosidasi memicu terjadinya peroksil radical yang diikuti dengan terbentuknya lipid peroksida. Lipid-peroksida yang terbentuk dapat terfragmentasi menjadi malondialdehyde (MDA) dan 4-hy-droxyalkena (4-HDA). Terbentuknya malondial-dehyde (MDA) merupakan indikator utama yang dapat digunakan untuk analisis terjadinya lipid peroksidasi. Hasil uji terhadap parameter stress oksidatif meliputi kadar lipid peroksida teru-kur berdasarkan terbentuknya malondialdehide yang bereaksi dengan thiobarbituric acid sebagai bentuk Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS). Hasil analisa lipid perosidasi seb-agaimana tercantum dalam Tabel 1.
Dari gambar 1 menunjukkan bahwa pemberian parasetamol 2,5 g/kg BB mampu menyebabkan kerusakan liver yang ditandai dengan naiknya kadar lipid peroksidase secara VLJQL¿NDQ S GLEDQGLQJNDQ NHORPSRN tanpa induksi. Kurkuminoid sebagai kontrol positif dalam penelitian ini mampu mencegah kerusakan liver yang ditandai dengan kadar lipid perosidase yang lebih rendah dibandingkan NRQWUROQHJDWLYHS
Pemberian fraksi etil asetat kenikir selama 7 hari mampu mencegah kerusakan liver akibat pemberian parasetamol. Hal ini ditandai dengan penurunan kadar lipid peroksidase dibandingkan dengan kelompok induksi. Fraksi etil asetat kenikir dengan dosis 1125 mg/kg BB memberikan aktivitas hepatoprotektif optimal yang ditunjukkan dengan kemampuanya dalam menghambat terjadinya lipid peroksidasi secara VLJQL¿NDQS
Kemampuan fraksi etil asetat sebagai hepatoprotektif melalui efek terhadap lipid perosidase; didukung penelitian Novianto & Hartono (2013) bahwa fraksi etil asetat mampu
KLT menunjukkan senyawa yang terdapat dalam fraksi etil asetat kenikir adalah quercetin. Flavonoid berperan penting terhadap aktivitasnya sebagai hepatoprotektor. Quercetin memiliki efek hepatoprotektor pada hewan uji yang diinduksi hepatotoksin seperti parasetamol (Jashita et al., 2011; Ali et al. 2013).
Hasil uji aktiviitas antioksidan fraksi etil asetat kenikir secara in vitro dengan menggunakan DPPH diperoleh IC50 14,229 ìg/ mL (Kurniasih, 2008). Dari hasil uji dengan parameter stress oksidatif dapat diketahui bahwa aktivitas hepatoprotektor fraksi etil asetat kenikir melalui mekanisme antioksidan. Hal ini didukung dengan beberapa penelitian lain yang mengkorelasikan efek hepatoprotektor dengan aktivitas antioksidan (Singh et al., 2011; Tanwar, 2011; Sasidharan, 2010).
Antioksidan menjadi salah satu target me-kanisme hepatoprotektif didasarkan pada peng-gunaan parasetamol dalam dosis berlebih me-micu terbentuknya metabolit reaktif NAPQI. Tingginya NAPQI memicu terjadinya deplesi gluthathione (GSH) dan berdampak terhadap nekrosis liver yang memicu naiknya jumlah ROS (Hinson et al., 2010). Keberadaan kenikir mence-gah dampak buruk dari ROS terhadap proses ok-sidasi (lipid perokok-sidasi) serta meminimalisir ter-jadinya kerusakan liver (nekrosis).
5. KESIMPULAN
Fraksi etil asetat kenikir mampu memberi-kan efek hepatoprotektor pada tikus yang di-induksi parasetamol. Fraksi etil asetat kenikir dosis 1125 mg/kg BB mampu menghambat ter- MDGLQ\DOLSLGSHURNVLGDVLVHFDUDVLJQL¿NDQ0H-kanisme hepatoprotektor fraksi etil asetat kenikir didasarkan atas kemampuan sebagai antioksidan (in vitro dan in vivo) yang mampu menghambat ROS sehingga terjadinya kerusakan liver (nek-rosis) dapat diminimalisir
6. REFERENSI
potential of Convolvulus arvensis against parasetamol-induced hepatotoxicity, Bangladesh J Pharmacol; 8: 300-304
Bose, P., Gupta, M., Mazumder, U.K., Kumar, R.S., Sivakumar, T., and Kumar., R.Suresh. 2007, Hepatoprotective and Antioxidant Effect of Eupatorium ayapana against Carbon tetracloride Induced Hepatotoxicity in Rats, Iranian Journal of Pharmacology and Therapeutics, 6:27-33.
Clark, R., Fisher, J.E., Sketris, I.S., and Johnston, G.M. 2012, Population prevalence of high dose parasetamol in dispensed parasetamol/ opioid prescription combinations: an observational study, BMC Pharmacology and Toxicology, I:1-8.
Datta, S., Dhar, S, Nayak, S.S., and Dinda, S. C.. 2013, Hepatoprotective activity of Cyperus articulatus Linn. against parasetamol induced hepatotoxicity in rats, Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 5(1):314-319.
Gestanovia, 2007, Hepatotoksis Parasetamol, Undip, Semarang.
Hinson, J.A., Roberts, D.W., and James, L.P. 2010, Mechanisms of Acetaminophen-Induced Liver Necrosis, Handb Exp Pharmacol.196: 369–405.
Hurkadale, P.J., Shelar, P.A., Palled, S.G., Mandavkar, Y.D., and Khedkar, A.S. 2012, Hepatoprotective activity of Amorphophallus paeoniifolius tubers against parasetamol-induced liver damage in rats, Asian 3DFL¿F -RXUQDO RI 7URSLFDO %LRPHGLFLQH 1:S238-S242
Jashita, M., Chakraborty, M., and Kamath, J.V. 2013, Effect Of Quercetin On Hepatoprotective Activity Of Silymarin Against Thioacetamide Intoxicated Rats, Int. Res. J. Pharm, 4 (7).
Kurniasih, 2008, Daya Antioksidan Fraksi Etil Asetat Ekstrak Herba Kenikir (Cosmos caudatus+%.GDQ3UR¿O./7Skripsi, Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia
Novianto & Hartono., 2013, Aktivitas Hepatoprotektor Fraksi Etil Asetat Kenikir Pada Tikus yang Diinduksi Parasetamol, Penelitian Dosen Pemula.
Nurhaeni, F., 2012, Skrining Aktivitas dan Isolasi Senyawa Penangkap Radikal 2,2-Difenil-1-Pikril Hidrazil dari Daun Kenikir (Cosmos caudatus, H.B.K), Tesis, Farmasi UGM, Yogyakarta.
Ohkawa, H., Onishi, N., Yagi, K., 1979. Assay for lipid peroxidation in animal tissue by thiobarbituric acid reaction. Analyze Biochemia. 95:351–358.
Paramaguru, R., Singh, S.K., Rajasekar, N., and Raj, A.V. 2011,Hepatoprotective And Antioxidant Effects of Amorphophallus campanulatus Against Acetaminophen Induced Hepatotoxicity in Rats, International Journal Pharmacy Science, 3(2):202-205. Sabate, M., Ibanez, L., Perez, E., Vidal, X., Buti,
M., and Xiol, X., et al. 2011, Parasetamol in therapeutic dosages and acute liver injury: causality assessment in a prospective case series, BMC Gastroenterology, I:1-7.
Sasidharan, S., Aravindran, S., Latha, L.Y., Vijenthi, R., Saravanan, D., 4 and Amutha, S. 2010, In Vitro Antioxidant Activity and Hepatoprotective Effects of Lentinula edodes against Parasetamol-Induced Hepatotoxicity, Molecules, 15:4478-4489.
Setty, S. R., Quereshi, A.A., Swamy, A.H.M.V., Patil, T., Prakash, T., Prabhu, K., and Gouda, A.V.. 2007, Hepatoprotective activity RI &DORWURSLV SURFHUD ÀRZHUV DJDLQVW parasetamol-induced hepatic injury in rats, Fitoterapia,78:451–454.
Singh, I., Vetriselvan, S., Shankar, J., Gayathiri, S., Hemah, C., Shereenjeet, G., and Yaashini, A.2012, Hepatoprotective Activity of Aqueous Extract of Curcuma longa in Etanol Induced Hepatotoxicity in Albino Wistar Rats, International Journal of Phytopharmacology. 3(3):226-233.
-oo0oo-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEMAMPUAN MAHASISWA TINGKAT IV DIV
KEPERAWATAN DALAM MELAKUKAN PRAKTEK
PEMASANGAN PIPA ENDO TRAKEAL DI
LABORATORIUM KEPERAWATAN POLITEKNIK
KESEHATAN SURAKARTA
Sunarto1)
1
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta [email protected]
ABSTRAK
Keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang perawat profesional dalam menangani pasien pada kondisi kegawatan dan kekritisan salah satunya adalah kemampuan melakukan pemasangan pipa endo trakeal yang tepat dan benar. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kemampuan mahasiswa tingkat IV DIV keperawatan dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal di laboratorium keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta. Desain penelitian merupakan penelitian kuantitatif metode non eksperimental dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel penelitian adalah 30 mahasiswa tingkat IV D IV Keperawatan Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta. Adapun penentuan responden penelitian dengan simple random sampling. Uji statistik menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi jenis kelamin dengan kemampuan mahasiswa melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal hasil uji korelasi yaitu r hitung > r tabel (0,396 > 0,306). Kontribusi latihan mandiri dengan kemampuan mahasiswa melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal; hasil uji korelasi yaitu r hitung > r tabel (0,463 > 0,306). Kontribusi kedisiplinan dengan kemampuan mahasiswa; hasil uji korelasi yaitu r hitung > r tabel (0,365 > 0,306). Kontribusi pengetahuan dengan kemampuan mahasiswa hasil uji korelasi yaitu r hitung > r tabel (0,444 > 0,306). Simpulan penelitian adalah secara simultan terdapat banyak faktor yang berhubungan dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal antara lain faktor pengetahuan, latihan mandiri, kedisiplinan dan jenis kelamin.
Kata kunci : pengetahuan, latihan mandiri, kedisiplinan, jenis kelamin,pemasangan pipa endo trakeal
ABSTRACT
The skill that must be mastered by a professional nurse in treating patients in urgency and criticality conditions one of which is the ability to perform endo tracheal pipe fitting right and true. Many factors are interrelated and affect the relation to the student's ability to perform an action. The aim of research to identify factors related to the student's ability level IV DIV nursing in practice endo tracheal pipe installation in Surakarta Health Polytechnic. The research design is non-experimental quantitative research method with cross sectional approach. The sample was 30 students Level IV D IV Nursing Department of Health Polytechnic Surakarta. The determination of survey respondents with simple random sampling. Statistical test using Pearson Product Moment Correlation. Results showed that the contribution of sex with a student's ability to practice plumbing endo tracheal correlation with test results that count r> r table (0.396> 0.306). Contributions practice independently with the ability of
students to practice plumbing endo tracheal correlation with test results that count r> r table (0.463> 0.306). Contributions discipline with the students’ ability with test results that count r> r table (0.365> 0.306). Contributions knowledge with the students’ ability with test results that count r> r table (0.444> 0.306). The conclusions of this research is simultaneously there are many factors associated with the ability of students to practice the installation of pipes among other factors endo tracheal knowledge, independent of exercise, discipline and gender.
Keywords: factor knowledge, self exercise, discipline, gender, practice endo tracheal pipe installation
1. PENDAHULUAN
Mahasiswa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ialah pelajar perguruan tinggi. Di dalam struktur pendidikan Indonesia, mahasiswa menduduki jenjang satuan pendidikan tertinggi di antara yang lain. Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas.
Salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang mahasiswa jurusan keperawatan adalah mampu memberikan asuhan keperawatan kegawatdaruratan dan pada masa-masa kritis yang di dalamnya terdapat keterampilan kemampuan memasang pipa endotrakeal pada pasien yang membutuhkannya. Mahasiswa sebagai penerus ujung tombak pelayanan utama dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat khususnya di bidang keperawatan perlu memiliki peran penting karena terkait langsung dengan pemberi asuhan keperawatan kepada klien sesuai dengan keterampilan yang dimiliki.
Tindakan pemasangan pipa endotracheal sebagai salah satu usaha untuk menjaga jalan napas pasien yakni dengan memasukkan suatu pipa ke dalam saluran pernapasan bagian atas. Menurut Halliday (2002) penggunaan intubasi endotrakheal juga direkomendasikan untuk neonatus dengan faktor penyulit yang dapat mengganggu jalan napas.
Keterampilan setiap mahasiswa harus diasah melalui pembelajan yang intensif program training atau bimbingan lain. Training dan sebagainya perlu didukung oleh kemampuan dasar yang sudah dimiliki seseorang dalam dirinya. Jika kemampuan dasar digabung dengan bimbingan secara intensif tentu akan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
dan bernilai bagi diri sendiri dan orang lain. Namun demikian banyak faktor yang saling berhubungan dan mempengaruhi kemampuan mahasiswa dalam melaksa-nakan pemasangan pipa endotracheal.
Studi pendahuluan menunjukkan pada pembelajaran di laboratorium saat melaksanakan praktek pemasangan pipa endo trakeal dengan media manikin didapatkan banyak kendala dan sampai mencoba berkali-kali.
Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kemampuan mahasiswa tingkat IV DIV keperawatan dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal di laboratorium keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta.
2. PELAKSANAAN
a. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Jurusan Kepe-rawatan Politeknik Kesehatan Surakarta pada bulan Nopember 2014 sampai dengan bulan Pebruari 2015.
b. Populasi dan sampel penelitian
Populasi penelitian yaitu mahasiswa Kepe-rawatan tingkat IV program studi D-IV Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakar-ta. Jumlah sampel 30 responden.
Teknik pengambilan subyek dalam penelitian ini dengan menggunakan simple random sampling.
3. METODE PENELITIAN
Desain penelitian merupakan penelitian kuantitatif metode non eksperimental dengan pendekatan Cross Sectional. Analisis data meng-gunakan uji statistik korelasi Product Moment Pearson.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran umum responden didapatkan data bahwa mayoritas responden adalah perempuan yaitu 25 orang (83,3%), Sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki adalah 5 orang (16,7%) sebagaimana tercantum dalam tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden
No. Jenis Kelamin Nominal Persentase (%)
1 Laki-laki 5 16,7
2 Perempuan 25 83,3
Total 30 100
Sumber: Data Primer (Diolah SPSS for Windows versi 17,0, September 2015)
Jenis kelamin mempunyai hubungan dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal; hal tersebut dimungkinkan perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkinkan karena faktor hormonal, struktur ¿VLN PDXSXQ QRUPD SHPEDJLDQ WXJDV :DQLWD seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
Sebagian besar responden latihan mandiri sebanyak satu sampai tiga kali yaitu ada 21 responden (70,0 %), sedangkan 4 responden (13,3%) tidak pernah melakukan latihan mandiri dan 5 responden (16,7%) latihan mandiri lebih dari 3 kali sebagaimana tercantum dalam tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Latihan Mandiri Responden
No. Jenis Latihan Nominal Persentase (%)
1 Belum pernah 4 13,3
2 1-3 kali 21 70
2 Lebih dari 3 kali 5 16,7
30 100
Sumber: Data Primer (Diolah SPSS for Windows versi 17,0, September 2015)
Latihan mandiri mempunyai kontribusi yang nyata dengan kemampuan mahasiswa
dan merupakan cara memperolah informasi yang baik. Dengan peningkatan pengetahuan diharapkan terjadinya peningkatan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu.
Kedisiplinan dalam pembelajaran dengan kategori tinggi sejumlah 12 orang (40,0%). Responden dengan keaktifan kategori sedang sejumlah 16 orang (43,3%). Responden dengan keaktifan kategori rendah sejumlah 2 orang (6,7%), sebagaimana tercantum dalam tabel 3.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kedisiplinan dalam Pembelajaran No. Tingkat Kedisiplinan Nominal Persentase (%) 1 Tinggi 12 40,0 2 Sedang 16 43,3 3 Rendah 2 6,7 Total 30 100
Sumber: Data Primer (Diolah SPSS for Windows versi 17,0, September 2015)
Kedisiplinan mempunyai andil dalam kaitannya dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endotrakeal. Kedisiplinan merupakan kepribadian segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya; digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya. Kedisiplinan dapat dilakukan dengan latihan antara lain bekerja menghargai waktu dan biaya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap produktivitas kerja pegawai. Perilaku disiplin seperti tepat waktu, tertib, jujur, tepat janji dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari (Muhamad, 2003).
Responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sejumlah 16 orang (53,3 %), responden mempunyai tingkat pengetahuan sedang sejumlah 11 responden (36,7 %) dan responden dengan tingkat pengetahuan rendah
Tabel 5. Distribusi Tingkat Kemampuan Responden dalam Praktek Pemasangan Pipa
Endo Trakeal
No. Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 17 56,7
2 Cukup 9 30,0
3 Kurang 4 13,0
Jumlah 30 100
Sumber: Data Primer (Diolah SPSS for Windows versi 17,0, September 2015)
Dari hasil uji korelasi dengan menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson didapatkan
Variabel r hitung r tabel 6LJQL¿NDQVL (95%) Jenis kelamin dengan
kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal
0,396 0,306 0,030
Latihan mandiri dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo traeal
0,463 0,306 0,010
Kedisiplinan dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal
0,365 0,306 0,048
Pengetahuan dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal
0,444 0,306 0,014
Dari hasil uji korelasi Product Moment Pearson variable jenis kelamin dengan NHPDPSXDQ PDKDVLVZD GLGDSDWNDQ NRH¿VLHQ korelasi sebesar 0,396. Oleh karena r hitung > r tabel (0,306) dan p (0,030) maka Ho atau hipotesis ditolak yang menyatakan ada hubungan \DQJ VLJQL¿NDQ DQWDUD MHQLV NHODPLQ GHQJDQ kemampuan mahasiswa melakukan praktek pemasangan pipa endotrakeal .
Dari hasil uji korelasi Product Moment Pearson variable latihan mandiri dengan NHPDPSXDQ PDKDVLVZD GLGDSDWNDQ NRH¿VLHQ korelasi sebesar 0,463. Oleh karena r hitung > r tabel (0,306) dan p (0,010) maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ho atau hipotesis ditolak yang PHQ\DWDNDQDGDKXEXQJDQ\DQJVLJQL¿NDQDQWDUD latihan mandiri dengan kemampuan mahasiswa melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Responden
No. Kategori Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 16 53,3
2 Cukup 11 36,7
3 Kurang 3 10,0
Jumlah 30 100
Sumber: Data Primer (Diolah SPSS for Windows versi 17,0, September 2015)
Pengetahuan memegang peranan sangat besar kaitannya dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endotrakeal. Menurut Notoadmojo (2007) kemampuan mahasiswa memasang pipa endotrakeal termasuk ranah psikomotor yang didasari pengetahuan. Dalam tingkatan ranah kognitif terdapat 2 tahap yang perlu dilewati sebelum tahap penerapan. Tahap pertama adalah pengetahuan dan tahap yang kedua adalah tahap penerapan sehingga dapat menerapkan ilmu tersebut dalam kegiatan. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan tingkat kemampuan seseorang. Apabila didasari dengan pengetahuan dan kesadaran maka kemampuan individu akan suatu hal akan bersifat langgeng. Kemampuan perawat dalam memasang pipa endotrakeal akan baik jika didukung oleh pengetahuan yang baik pula, dan pengetahuan merupakan hal yang mendasar untuk melakukan hal tersebut. Hal ini menjadi landasan teori mengapa ada hubungan pengetahuan dengan kemampuan perawat dalam melakukan memasang pipa endotrakeal. Pihak institusi dapat membantu meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam memasang pipa endotrakeal dengan melakukan pelatihan, penyegaran, belajar mandiri bagi mahasiswa.
Responden mempunyai tingkat kemampuan tinggi dalam praktek pemasangan pipa endotrakeal sejumlah 17 responden (56,7 %). Responden mempunyai tingkat kemampuan sedang sejumlah 9 responden (30,0 %) dan responden dengan tingkat kemampuan rendah sejumlah 4 responden (13,3 %); sebagaimana tercantum tabel 5.
Dari hasil uji korelasi Product Moment Pearson variable kedisiplinan dengan kemampuan PDKDVLVZDGLGDSDNDQNRH¿VLHQNRUHODVLVHEHVDU 0,365. Dengan demikian karena r hitung > r tabel (0,306) dan p (0,048) maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ho atau hipotesis ditolak yang PHQ\DWDNDQDGDKXEXQJDQ\DQJVLJQL¿NDQDQWDUD kedisiplinan dengan kemampuan mahasiswa melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal
Dari hasil uji korelasi variable pengetahuan dengan kemampuan mahasiswa; didapakan NRH¿VLHQ NRUHODVL VHEHVDU 'HQJDQ demikian karena r hitung > r tabel (0,306) dan p (0,014) maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ho atau hipotesis ditolak yang menyatakan ada KXEXQJDQ \DQJ VLJQL¿NDQ DQWDUD SHQJHWDKXDQ dengan kemampuan mahasiswa melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal
5. KESIMPULAN
Secara simultan terdapat banyak faktor yang berhubungan dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek pemasangan pipa endo trakeal antara lain faktor pengetahuan, latihan mandiri, kedisiplinan dan jenis kelamin.
SARAN
Saran bagi mahasiswa jurusan Keperawatan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai rujukan bahwa kemampuan sangat berhubungan berbagai macam faktor sehingga sangatlah perlu untuk memperhatikan.
6. REFERENSI
Anonim, 2002, Endotracheal Intubation,http ://www.medicinet.com/script/main/ art asp?li=mni&articlekey=7035 Akses tanggal 11 Desember 2014
Arikunto, S. 2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Cetakan Ketiga belas. Jakarta: Rineka Cipta.
Asih,Yasmin. 1996. Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta: EGC.
Gail Hendrickson, RN, BS., 2002, Intubation, http://www.health.discovery.com / diseasesandcond/encyclopedia/1219.html Akses tanggal 11 Desember 2014
Gisele de Azevedo Prazeres, MD., 2002, Orotracheal Intubation, http://www. medstudents. com/orotrachealintubation/ medicalprocedures.html Akses tanggal 12 Desember 2014
Halliday HL., 2002, Endotracheal Intubation at Birth for Preventing Morbidity and Mortality in Vigorous, Meconium-stained Infants Bord at Term, http://www.update-software .com/ ceweb/cochrane/revabstr/ ab000500.html Akses tanggal 11 Desember 2014
Kariyoso. 1994. Pengantar Komunikasi Bagi Siswa Perawat. Jakarta: Penerbit EGC Kusmiati, Sri. 1990. Dasar-dasar Perilaku.
Jakarta: Penerbit Depkes RI
Mandey,FC. 2004. Pengetahuan. http: www. hayati.leb. com, rudy et/manday, htm, Alk. Akses tanggal 11 Desember 2014.
Notoatmodjo.1997. Prinsip-prinsip Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo,S.2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo.2005. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta:Rineka Cipta.
Nursalam.2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Nursalam.2008. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Perry, Peterson and Potter. 2005. Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar Edisi 5. Jakarta: EGC.
Purwanto, Heri. 1999. Pengantar Perilaku Manusia, Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit EGC
Sugiono.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Suliha, U. 2002. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta:EGC.
Suryabrata. 2005. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi.
Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta PT. Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Thoha, M. 2007. Perilaku Organisasi, Konsep Dasar, dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Raja *UD¿QGR3HUVDGD
Wasis. 2008. Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta: EGC.
-oo0oo-PERBANDINGAN PENGARUH PEMBERIAN
EKSTRAK TULANG IKAN TUNA DENGAN
SUPLEMEN KALK TERHADAP KADAR KALSIUM
DARAH IBU HAMIL PASIEN PUSKESMAS
Wijayanti
1), Supriyana
2), Bahiyatun
3)1,2,3 Magister Epidemiologi Universitas Diponegoro Semarang
ABSTRAK
Kebutuhan Kalsium pada ibu hamil berfungsi dalam menjaga kestabilan kondisi ibu hamil yaitu untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin. Kekurangan Kalsium pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus, pengeroposan tulang dan pertumbuhan tulang yang tidak sempurna sampai kecacatan. Salah satu bahan alternatif sumber Kalsium yang alami dan mudah di dapat serta dapat mengatasi limbah pengolahan hasil perikanan adalah tulang ikan tuna. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan pengaruh pemberian ekstrak tulang ikan tuna dengan suplemen kalk tehadap kadar kalsium darah ibu hamil pasien Puskesmas. Metode penelitian meliputi jenis penelitian quasi eksperiment. Instrumen penelitian menggunakan alat otomatis Roche Modular D (ACN 726), yaitu pemeriksaan kadar kalsium darah pada 34 ibu hamil terdiri dari 17 subyek ibu hamil yang diberikan ekstrak tulang ikan tuna dan 17 subyek ibu hamil yang diberikan suplemen kalk. Analisa data secara kuantitatif menggunakan uji t-test independent dengan CI 95%. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar Kalsium sebelum diberikan ekstrak tulang ikan tuna sebesar 8,682 mg/dL, setelah diberikan ekstrak tulang ikan tuna sebesar 8,929 mg/dL. Rata-rata kadar Kalsium sebelum diberikan suplemen kalk sebesar 8,906 mg/dL, setelah diberikan suplemen kalk sebesar 8,871 mg/dL. Ada perbedaan sebelum dan setelah diberikan ekstrak tulang ikan tuna (p-value: 0,009). Tidak ada perbedaan sebelum dan setelah diberikan suplemen kalk (p-value: 0,647). Ada perbedaan pengaruh ekstrak tulang ikan tuna dengan suplemen kalk (p-value: 0,018).
Kata kunci: Ekstrak tulang ikan tuna, kadar kalsium darah, ibu hamil
.
ABSTRACT
The needs of calcium for pregnant mothers function in maintaining the stability of pregnant mothers, that was for the growth of bone and teeth of the fetus. The lack of calcium of pregnant mother causing abortion, porous and imperfect of bones growth till disability. One of the alternative sources of natural FDOFLXPDQGHDV\REWDLQHGDQGRYHUFRPHZDVWHSURFHVVLQJ¿VKHULHVZDVWKHWXQD2EMHFWLYH proving FRPSDULVRQLQÀXHQFHGLVWULEXWHH[WUDFWERQHVRIWXQDZLWKFDOFVXSSOHPHQWWRZDUGEORRGFDOFLXPOHYHO of pregnant mothers in public health centre. The research method is quasi experiment. The research instrument using automatic equipment of Roche Modular D (ACN 726), that is checking blood calcium level on 34 pregnant mothers, consisted of 17 respondents for the group of using extract bone of tuna and 17 respondents using calc supplement. The analysis of the data is qualitative using t-test independent with CI 95%. The average level of calcium before given extract bone of tuna was 8,682 mg/ dL, after given extract bone of tuna was 8,929 mg/dL. The average level of calcium before given calc
Keywords: extract bone of tuna, the level of blood
calcium, pregnant mother
1. PENDAHULUAN
.HKDPLODQ WHUMDGL SURVHV SHUXEDKDQ ¿VLN GDQ mental yang bersifat alami. Ibu hamil harus sehat dan membutuhkan asupan gizi yang optimal. Seiring pertumbuhan usia kandungan, maka kebutuhan gizi ibu hamil akan meningkat selama masa kehamilannya. Asupan kalsium selama kehamilan berfungsi menjaga kestabilan kondisi ibu hamil yaitu untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin yang dikandung (Ettinger A S., 2009).
Kebutuhan kalsium maternal meningkat pada masa awal kehamilan dan akan tetap meningkat sampai melahirkan. Jumlah asupan kalsium yang dianjurkan untuk wanita hamil/menyusui adalah 1200 mg karena meningkatnya absorbsi kalsium di saluran pencernaan seiring dengan meningkatnya kebutuhan kalsium bagi ibu dan janin, dan bila hal tersebut tidak terpenuhi akan mengakibatkan hipokalsemia yaitu kekurangan kalsium pada ibu hamil terjadi resorpsi tulang yang berlebihan sehingga bisa menyebabkan kram pada perut yang mengakibatkan abortus, pertumbuhan tulang janin yang tidak sempurna yang mengakibatkan terjadi kecacatan, pengeroposan tulang pada ibu hamil dan perkembangan bayi menjadi terlambat (Almatsier, 2010).
Salah satu bahan alternatif sumber kalsium alami dan murah yang berasal dari tulang ikan, yaitu dengan cara diolah menjadi ekstrak tulang LNDQ +DO LQL PHUXSDNDQ XSD\D GLYHUVL¿NDVL produk dari tulang ikan, salah satu bahan alternatif VHEDJDLXSD\DXQWXNPHQJDWDVLGH¿VLHQVLNDOVLXP dan usaha mengatasi limbah pengolahan hasil perikanan (Riewpassa, 2007).
Ikan tuna (Thunnus sp.) adalah salah satu jenis ikan banyak mengandung protein dan kal-sium. Berdasarkan penelitian Wahyuni (2011) menyatakan kandungan kalsium pada tulang ikan tuna sebesar 39-40%. Tulang ikan tuna ti-dak mengandung zat-zat penghambat penyerapan NDOVLXPVHSHUWLVHUDW¿WDWGDQRNVDODWVHKLQJJD kalsium pada tulang ikan tuna dapat lebih mudah diserap oleh tubuh yang mempunyai efek samp-ing sedikit, murah dan mudah didapat (Winarno,
Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian ekstrak tulang ikan tuna dengan suplemen kalk tehadap kadar kalsium darah ibu hamil pasien Puskesmas.
2. PELAKSANAAN
a. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di UPT Puskesmas Ma-tesih Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabu-paten Karanganyar, pembuatan ekstrak tu-lang ikan tuna di Laboratorium Pangan dan Gizi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Surakarta (UNS); evaluasi analisa kand-ungan kalsium hasil ekstraksi tulang ikan tuna dilakukan di Laboratorium Kimia Ta-nah Fakultas Pertanian UNS, penimbangan dan pengemasan ekstrak tulang ikan tuna ke dalam kapsul dilakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Muhammadiyah Sura-karta (UMS). Pemeriksaan kadar kalsium dalam darah dilaksanakan di Laboratorium Klinik Swasta di Surakarta.
Waktu penelitian selama 3 bulan yaitu bulan Oktober – Desember 2015.
b. Alat dan Bahan Penelitian
Alat untuk pembuatan ekstrak tulang ikan tuna yaitu panci, kompor, sikat, nampan, NaOH 1 N, aquadest, tabung, kertas pH, corong, kertas saring whattman, kain blacu, oven, penggiling disc mill, pengayak ukuran 100 mesh, autoklaf dan botol kapsul. Alat untuk pengambilan darah yaitu tabung vac-cutainer, rak tabung, kapas alkohol, plester, spuit, gunting, label, handscoon, bolpoint dan sample box. Alat untuk pemeriksaaan kadar kalsium darah yaitu centrifuge dan alat otomatis Roche Modular D (ACN 726). Ba-han yang digunakan adalah ikan tuna segar 20 kg dan suplemen kalk.
3. METODE PENELITIAN
a. Desain Penelitian
Desain penelitian menggunakan metode Quasy eksperiment. Rancangan pretest and postest with control group design.
b. Populasi
Populasi penelitian adalah ibu hamil trimester II-III di Wilayah Kerja UPT
Puskesmas Matesih sejumlah 56 orang yang mengikuti kelas ibu hamil
c. Sampel
Sampel dalam penelitian ini menggnakan Simple Random Sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dalam penelitian sejumlah 34 responden.
Tahapan Penelitian
4. HASIL
Analisis data melalui pentahapan yang berurutan yaitu dimulai dengan uji homogenitas dengan uji chi square; hasilnya bahwa 2 kelompok dalam penelitian berada pada kondisi awal yang sama (p>0,05). Pada semua variabel tergantung dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji Saphiro Wilk dan didapatkan bahwa semua variabel tergantung terdistribusi normal (p>0,05). Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa data yang didapat dari penelitian ini memenuhi syarat untuk dilakukan uji statistik parametrik.
Tabel 1 Hasil pengukuran kadar Ca sebelum dan setelah pemberian ekstrak tulang ikan tuna
selama 7 hari
*DPEDUDQJUD¿NVHOHQJNDSQ\DGDSDWGLOLKDW jelas pada gambar dibawah ini:
Hasil uji paired sample t test menunjukkan DGD SHUEHGDDQ VLJQL¿NDQ VHEHOXP GDQ VHWHODK pemberian ekstrak tulang ikan tuna (Tabel 2)
Tabel 2 Hasil uji paired sample t test kadar Ca sebelum dan setelah pemberian ekstrak tulang
Tabel 3 Hasil pengukuran kadar Ca sebelum dan setelah pemberian suplemen kalk selama 7
hari
*DPEDUDQJUD¿NVHOHQJNDSQ\DGDSDWGLOLKDW jelas pada gambar dibawah ini :
Hasil uji paired sample t test menunjukkan WLGDN DGD SHUEHGDDQ VLJQL¿NDQ VHEHOXP GDQ setelah pemberian ekstrak suplemen kalk (Tabel 4).
Tabel 4 Hasil uji paired sample t test kadar Ca sebelum dan setelah pemberian suplemen kalk
selama 7 hari
Tabel 5 Hasil uji homogenitas (Leven’s test) dan uji T test independent kadar Ca pada kelompok
yang diberikan ekstrak tulang ikan tuna dan suplemen kalk.
Hasil uji menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna kadar kalsium darah pada kelompok yang diberikan ekstrak tulang ikan tuna dengan VXSOHPHQNDONGHQJDQQLODLVLJQL¿NDQVL
5. PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada perbedaan kadar kalsium darah sebelum dan setelah pemberian ekstrak tulang ikan tuna pada ibu hamil pasien Puskesmas dengan dosis 500 mg selama 7 hari dan berdasarkan uji shapiro wilk GLGDSDWNDQ QLODL S KLSRWHVLV QRO ditolak). Hal ini disebabkan bahwa pada tulang ikan tuna terdapat kalsium fosfat yang kaya akan asam amino lisin dan arginin yang berperan dalam proses penyerapan kalsium ke mukosa usus secara difusi menggunakan protein pengikat kalsium yang berfungsi mengantarkan sitoplasma eritrosit ke membran basal sehingga kalsium mudah diabsorbsi dan mempercepat peningkatan kadar kalsium pada ibu hamil pasien Puskesmas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Paura Rangga Zobda dkk bahwa dengan pemberian tepung tulang ikan tuna dalam dosis yang berbeda berpengaruh terhadap peningkatan kadar kalsium dalam darah. (Paura dkk, 2010).
Tidak ada perbedaan kadar kalsium darah sebelum dan setelah pemberian suplemen kalk pada ibu hamil pasien Puskesmas dengan dosis 500 mg selama 7 hari dan berdasarkan uji Shapiro Wilk didapatkan nilai p > 0,05 (hipotesis nol diterima). Hal ini disebabkan bahwa pada suplemen kalk hanya terdapat kalsium laktat sehingga proses penyerapan kalsium memerlukan waktu yang lama untuk menunjukkan peningkatan kadar kalsium darah pada ibu hamil. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Saifuddin Ali Anwar bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada kadar kalsium diantara 5 kelompok penelitian (Saifuddin, 2010).
Pemberian ekstrak tulang ikan tuna dengan dosis 500 mg selama 7 hari dalam meningkatkan kadar kalsium darah lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan kalsium pada ibu hamil dibandingkan pemberian suplemen kalk dosis 500 mg selkama 7 hari, sehingga ekstrak tulang ikan tuna bisa digunakan sebagai salah satu sumber Evidence Based Practice yaitu sebagai salah satu alternatif sumber kalsium alami non farmakologis. Hal ini dibuktikan dengan menggunakan uji Independent Sample Test GLGDSDWNDQ QLODL VLJQL¿NDQVL S \DQJ EHUDUWL EDKZD DGD SHUEHGDDQ pengaruh pemberian ekstrak tulang ikan tuna dengan suplemen kalk.
6. KESIMPULAN
Pemberian ekstrak tulang ikan tuna dosis 500 mg selama 7 hari lebih efektif dibandingkan suplemen kalk dosis 500 mg selama 7 hari dalam meningkatkan kadar kalsium darah pada ibu hamil pasien puskesmas.
SARAN
Perlunya penelitian lebih lanjut dengan memperhitungkan faktor-faktor perancu seperti kadar hormon paratiroid, kalsitonin, asam klorida dan vitamin D.
7. REFERENSI
Almatsier Sunita, 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Amru Sofyan. Rustam Mochtar, 2012. Sinopsis
Obstetri. Penerbit EGC. Jakarta.
Ettinger A S, 2009. Effect of Calcium Supplementation on Blood Lead Levels in Pregnancy: A Randomized Placebo-Controlled Trail, Environmental Health
Prospectives. Volume 117. Number I. Januari 2009.
Orias A, 2008. Pemanfaatan Tepung Tulang Ikan Patin (Pangasius Sp) Sebagai Sumber Kalsium dan Fosfor Dalam Pembuatan Biskuit. Thesis. Pascasarjana IPB. Bogor. Paura Rangga Zabda dkk 2010. Pengaruh Tepung
Tulang Ikan Tuna Mandidihang (Thunnus albacares) Terhadap Kadar Kalsium dan Fosfor Dalam darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Model Ovariektomi. Universitas Brawijaya Malang.
Power ML, Heaney RP, Kalkwarf HJ, et al., 2009. The role of calcium in health and disease. Am J Obstet Gynecology.
Prentice A. 2010. Maternal Calcium Metabolism and Bone Mineral Status. Am. J. Clin. Nutr. 71(5): 1312-1316.
Putra TR, 2006. Metabolisme tulang. Dalam: Noer S, Waspadji S, Rachman AM, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Balai penerbit FKUI
Ranakusuma B, Soewondo P, 2006.. Gangguan Metabolisme Kalsium. Dalam: Noer S, Waspadji S, Rachman AM, et al (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Riewpassa F. J Salampessy, 2007. Pemanfaatan Limbah Industri Perikanan. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Vol 2, Universitas Pattimura.
Saifuddin Ali Anwar, 2010. Pengaruh Kalsium dan Vitamin D3 Terhadap Stabilitas Tulang Alveolar. Studi Pada Tikus Jantan Putih. Disertasi. Doktor Ilmu Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Winarno, F. G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Edisi terbaru. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
-oo0oo-PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN
DAN LOGOTERAPI UNTUK MENURUNKAN
KECEMASAN PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA
DAHLIA PUSKESMAS MOJOSONGO SURAKARTA
Joko Kismanto
1), Diyah Ekarini
2), Nurul Devi Ardiani
3)1,2,3 Prodi D-III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
ABSTRAK
Lansia atau usia lanjut merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada aspek kesehatan, peningkatan jumlah tersebut akan menimbulkan masalah fungsional maupun psikologi. Masalah psikologi yang lazim dan praktis ada pada lansia adalah kecemasan. Pemberian pendidikan kesehatan dan logoterapi pada lansia diharapkan dapat memaknai hidup dengan perubahan yang dialami sehingga ia dapat produktif dalam keterbatasan yang dimilikinya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dan logoterapi untuk menurunkan kecemasan pada lansia di posyandu lansia dahlia puskemas mojosongo surakarta. Metode penelitian adalah quasi experiment dengan desain pre-post test design with control group. Data diambil sebelum dan sesudah pemberian intervensi pendidian kesehatan dan logoterapi pada lansia yang mengalami kecemasan di kelompok intervensi. Cara pengambilan sampel adalah total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 klien dibagi 2 yaitu 30 responden untuk kelompok intervensi dan 30 responden untuk kelompok kontrol. Instrumen menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang berjumlah 14 pertanyaan. Analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Paired t-tes serta uji independen sample t-tes. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kondisi kecemasan secara bermakna pada kelompok intervensi maupun kontrol (p value< 0,05). Penurunan kondisi kecemasan pada kelompok lansia yang mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi menurun lebih rendah secara bermakna dibanding dengan kelompok lansia yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi (p value< 0,05). Pendidikan kesehatan dan logoterapi direkomendasikan sebagai terapi dalam mendampingi lansia dengan kondisi cemas.
Kata kunci: lansia, logoterapi, kecemasan, pendidikan kesehatan
ABSTRACT
Elderly is part of the process of life that can not be avoided and will be experienced by each individual. On the health aspect, the increase in the amount will cause problems, both functional and psychological problems. Psychological problems and practical common in the elderly there is anxiety. The provision of health education and logotherapy in the elderly is expected to make sense of life with the changes experienced so that he can be productive within its limitations. The purpose of this study to determine the effect of health education and Logotherapy to reduce anxiety in the elderly in the neighborhood health center clinics elderly Dahlia Mojosongo Surakarta. The research method was quasi experiment with pre - post test design with control group. Data were taken before and after the administration of health and logotherapy pendidian intervention in the elderly who experience anxiety in the intervention group. Total sampling with a sample of 60 clients divided by 2 group is 30 respondents to the intervention group and 30 respondents to the control group. The research instrument to determine anxiety questionnaire
Hamilton Anxiety Rating Scale (Hars) which amounts to 14 questions, were analyzed using univariate and bivariate Paired t - test and independent sample t - test test. The results of this study showed a VLJQL¿FDQWGHFUHDVHLQDQ[LHW\FRQGLWLRQVERWKLQWKHLQWHUYHQWLRQDQGFRQWUROJURXSVSYDOXH The declining state of anxiety in the elderly group who received health education and logotherapy GHFOLQHG VLJQL¿FDQWO\ ORZHU FRPSDUHG ZLWK HOGHUO\ SHRSOH ZKR GR QRW JHW KHDOWK HGXFDWLRQ DQG logotherapy (p value < 0.05). Health education and logotherapy recommended as therapy in assisting the elderly with anxiety conditions .
Keywords: elderly, anxiety, health education, logotherapy
1. PENDAHULUAN
Lanjut usia adalah proses alami yang disertai DGDQ\D SHQXUXQDQ NRQGLVL ¿VLN SVLNRORJLV maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Masalah kesehatan jiwa SDGDODQVLDGDSDWEHUDVDOGDULDVSHN\DLWX¿VLN psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi labil, mudah tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami kecemasan (Rajawana,2008 dalam Dewi, 2008).
Kecemasan merupakan respon dasar setiap orang yang diperlukan apabila dalam batas ringan dan sifatnya normal. Videbeck (2008) berpendapat bahwa kecemasan adalah alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu. Kaplan dan Saddock (2005) menjelaskan kecemasan sebagai ‘kesulitan’ atau ‘kesusahan’ dan merupakan konsekuensi normal dari pertumbuhan, perubahan, pengalaman baru, penemuan identitas, dan arti hidup atau makna hidup. Makna hidup merupakan sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan memberi nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan
yang dilakukan dan dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran (Bastaman, 2007). Sukses tidaknya seseorang lanjut usia melewati tahap pertumbuhan perkembangan dipengaruhi oleh maturitas kepribadian pada fase sebelumnya, tekanan hidup yang dihadapinya, dukungan dari lingkungan terdekatnya diperoleh serta aktivitas yang dilakukannya (Kaplan dan Saddock, 2005). Dukungan lingkungan dapat dilakukan dengan memberikan intervensi keperawatan yang berbentuk pendidikan kesehatan dan logoterapi yang dapat diberikan kepada lansia yang mengalami kecemasan diantaranya bertujuan untuk membantu menemukan makna hidup bagi setiap manusia yang ingin mengembangkan kehidupan bermakna dengan menerapkan metode-metode self evaluation: action as if, encounter, searching for meaningful values sehingga kebermaknaan hidup, berfungsi sebagai pedoman terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan, dengan demikian makna hidup seakan-akan menantang dan mengundang seseorang untuk memenuhinya (Djumhana, 2003).
Saat ini jumlah lansia semakin meningkat, dan tentu saja masalah yang berhubungan dengan lansia juga semakin banyak dan bervariasi. Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan, di wilayah kerja Puskesmas Mojosongo sampai dengan bulan Mei tahun 2013 ada 1.798 orang lansia. Di wilayah Puskesmas Mojosongo Surakarta terdapat 15 Posyandu lansia dengan
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dan logoterapi terhadap penurunan kecemasan pada lansia di Pos yandu Dahlia Puskesmas Mojosongo Surakarta
2. PELAKSANAAN
a. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di Posyandu Lansia Dahlia Puskesmas Mojosongo Surakarta Surakarta. Waktu penelitian pada tanggal Maret sampai dengan Oktober 2014.
b. Populasi dan sampel penelitian
Sampel penelitian ini adalah seluruh lansia yang ada di Posyandu Lansia Dahlia Puskesmas Mojosongo Surakarta.
Sampel berjumlah 60 orang, yang diambil dengan metode “Total Sampling”. Lansia yang terdiri dari 30 lansia tidak mendapatkan terapi dan 30 lansia mendapat terapi kognitif.
3. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode “quasi experiment pre-post test with control group” (Sugiyono,2010) dengan intervensi pendidikan kesehatan dan logoterapi.
Penelitian dilakukan untuk menganalisa perubahan penurunan cemas sebelum dan sesudah perlakuan pendidikan kesehatan dan logoterapi. Pada kelompok yang mendapat pendidikan kesehatan dan logoterapi dilakukan pertemuan sebanyak 4 sesi dalam rentang waktu 1 bulan. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada pasien dapat dilakukan penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 (Hamilton Anxiety Rating Scale dalam Nursalam, 2003)
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis usia lansia dari total 60 lansia yang dilakukan dalam penelitian ini rata-rata berusia 68 tahun dengan usia termuda 50 tahun dan tertua 85 tahun.
Hasil analisis terhadap karakteristik jenis kelamin lansia didapatkan dari 60 lansia sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang (30%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 42 lansia (70 %).
Perubahan kondisi cemas lansia sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dan logoterapi pada kelompok intervensi dan kelom-pok kontrol dilakukan dengan uji dependen sam-ple t-Test (Paired t Test) yang hasil analisisnya dijelaskan pada tabel 1.
Hasil uji statistik pada tabel 1. menunjukkan bahwa kondisi cemas lansia yang mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi (kelompok intervensi) menurun secara bermakna sebesar (- 9.35) dengan p value D 0.05. Demikian juga kondisi cemas lansia yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi (kelompok kontrol) mengalami penurunan secara bermakna sebesar (- 2.50) dengan p value D 0.05.
Berdasarkan hasil uji statistik tersebut menunjukkan D 5% sehingga ada perubahan yang bermakna rata-rata kondisi cemas pada lansia se-belum dengan sesudah pendidikan kesehatan dan logoterapi diberikan pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p value D 0.05).
Berdasarkan hasil uji statistik diatas diperoleh hasil D 5% sehingga ada perubahan yang bermakna (perubahan yang lebih baik) terhadap rata-rata kondisi cemas lansia baik yang mendapatkan maupun yang tidak mendapatkan terapi kognitif (p value D 0.05). Perbedaan kondisi cemas lansia sesudah dilakukan terapi kognitif pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, didahului dengan penjelasan distribusi karakteristik kondisi cemas lansia sesudah dilakukan terapi kognitif pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol; selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji t test independen dan hasil analisisnya disajikan pada tabel 2.
Hasil uji statistik pada tabel 2. menunjukkan bahwa meskipun kondisi cemas pada kelompok lansia yang mendapatkan terapi kognitif (kelompok intervensi) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan terapi kognitif (kelompok kontrol). namun sudah mengalami penurunan kondisi cemas (dibandingkan kondisi awal / pre test) yang bermakna dengan p value D 0.05.
Perbedaan selisih kondisi cemas lansia sebelum dan sesudah dilakukan terapi kognitif pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, didahului dengan penjelasan distribusi karakteristik kondisi cemas lansia sesudah dilakukan terapi kognitif pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dianalisis dengan menggunakan uji t test independen dan hasil analisisnya disajikan pada tabel 3.
Hasil uji statistik pada tabel 3. menunjukkan bahwa hasil perbedaaan selisih kondisi cemas
kelompok yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi /kelompok kontrol (0.80) yang bermakna dengan p value D 0.05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi cemas lansia sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol menurun secara untuk kelompok intervensi sebesar 9.35 dengan p value D 0.05 dan kelompok kontrol sebesar 2.50 dengan p value = D 0.05.
Hal ini didukung oleh Beck and Butler (1995) yang menyatakan dengan terapi kognitif pasien dibantu untuk mengadaptasikan pemikiran atau keyakinan sehingga akan berpengaruh positif terhadap motivasi dan perilakunya. Hal tersebut yang membedakan kondisi cemas lansia yang mendapat pendidikan kesehatan dan logoterapi dengan yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi.
Perbedaan kondisi cemas lansia antara kelompok intervesi (6.35) dan kontrol (14.45) sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dan logoterapi menunjukkan bahwa meskipun kondisi cemas pada kelompok lansia yang mendapatkan terapi kognitif (kelompok intervensi) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi (kelompok kontrol). namun sudah mengalami penurunan kondisi cemas (dibandingkan kondisi awal / pre test) yang bermakna dengan p value D 0.05. Demikian juga hasil perbedaaan selisih kondisi cemas sebelum dan sesudah pelaksa-naan pendidikan kesehatan dan logoterapi yang menunjukkan bahwa kondisi cemas pada ke-lompok lansia yang mendapatkan pendidikan kesehatan dan logoterapi / kelompok intervensi (-9.35) lebih tinggi dibandingkan dengan kelom-pok yang tidak mendapatkan pendidikan kesehat-an dkesehat-an logoterapi /kelompok kontrol (-2.50) ykesehat-ang bermakna dengan p value D 0.05.