KEBIJAKAN BLUE TOURISM
PEKAN KE 3
Indonesia adalah negara kepulauan
99.083 km
GARIS PANTAI
TERPANJANG KEDUA
3.257.357
KM PERSEGI
Peluang sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari pengembangan
ekonomi dan geopolitik masa depan Indonesia
PP NO.16 Tahun 2017 tentang kebijakan kelautan indonesia. dijelaskan bahwa Indonesia memiliki
wilayah air yang luas dengan potensi sumber daya laut yang melimpah, sehingga perlu dikelola secara optimal dan berkelanjutan, dan pengelolaan
sumber daya laut dilakukan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia dan memberikan manfaat maksimal bagi
kemakmuran rakyat
Seharusnya dengan peraturan-peraturan ini, kita dapat melakukan pengelolaan laut secara lebih optimal namun tetap memperhatikan aspek-
aspek wilayah laut, termasuk penggunaan ruang untuk aktivitas pariwisata dan elemen-elemen lainnya.
lalu, bagaimana kondisi eksisting terkait pengelolaan laut sekarang ?
apakah sudah sudah berjalan secara optimal?
Cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia juga belum digunakan sebagai dasar kebijakan
paradigma kebijakan kita telah berputar di sekitar daratan dalam beberapa
dekade terakhir, sehingga terdapat kesenjangan perkembangan alamiah antara daratan dan laut
Pemerintah perlu menyusun kembali berbagai kebijakan terkait urusan maritim untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia
memanfaatkan sumber daya laut yang melimpah seperti perikanan tangkap,
budidaya perairan, dan perikanan tambak, serta potensi terumbu karang untuk meningkatkan pendapatan dari pariwisata bawah air (Hyytiäinen et al., 2022).
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Nomor 14 mengenai Ekosistem Laut, di mana setiap negara harus melestarikan dan menggunakan sumber daya akuatik dan laut secara berkelanjutan untuk pembangunan berkelanjutan (Hampton &
Jeyacheya, 2020).
Target pemerintah indonesia 2025 untuk
mencegah secara signifikan mengurangi semua jenis polusi laut, terutama dari aktivitas berbasis darat, termasuk sampah laut dan polusi nutrisi Blue Tourism dapat diimplementasikan dalam kegiatan akuatik, berujung pada pengembangan Blue ekonomi (Tiku et al., 2022).
Blue tourism merupakan bagian dari ekonomi biru yang memanfaatkan setiap potensi dan aspek dari pesisir untuk menjadi potensi pariwisata yang dapat
dieksplorasi untuk memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi (Pauli, 2010).
Wisatawan di seluruh dunia sangat tertarik pada lingkungan pesisir dan laut, dan pariwisata pesisir dan maritim telah menjadi sektor ekonomi penting bagi
negara-negara dengan pantai yang menarik dan mudah diakses. Namun, aktivitas dan subsektor yang terkait dengan pariwisata pesisir dan maritim menunjukkan adanya kerusakan lingkungan yang serius
Tantangan utama adalah mempromosikan praktik pariwisata berkelanjutan di daerah pesisir dan laut, memastikan dampak positif bagi lingkungan, pekerja, dan komunitas lokal (Louey, 2022
MINAT
WISATAWAN
TERHADAP PANTAI
Ibiza, Spanyol, Hawaii, AS, Pattaya, Thailand, Bali, Indonesia, dan Brasil telah lama mengandalkan pantai sebagai destinasi pariwisata
65%
780 JT
KEDATANGAN WISATAWAN INTERNASIONAL (KWIT)
KWIT meningkat 2030 di kawasan Asia dan Pasifik PENGUNJUNG SETIAP
TAHUN DI EROPA 20230
150%
mencapai 1,8 miliar setiap tahun pada tahun 2030, , menurut Organisasi Pariwisata Dunia
Perserikatan Bangsa-Bangsa (Kenawy, 2015)
Solusi konvergensi harus mampu menggabungkan beberapa ide yang mencakup inovasi bisnis, kreativitas masyarakat, dan regulasi pemerintah secara nasional serta Pemerintah Daerah secara lokal (Lukman et al., 2021)
Pemerintah harus segera merumuskan skema bisnis dan manajemen yang terintegrasi dengan sumber daya lokal dan karakteristik regional sebagai kerangka untuk
pengembangan wilayah laut dan perairan regional.
Skema ini harus memperhitungkan 5Es:
EKOLOGI 1.
ENERGI 2.
EFISIENSI 3.
EFEKTIVITAS 4.
EKONOMI 5.
TOURISM
Ada tiga kategori utama pariwisata yang perlu dipertimbangkan saat mengamati tren saat ini dari perjalanan pesisir dan lautEKOWISATA PERJALANAN KAPAL PESIAR PERJALANAN RESORT PANTAI
Salah satu aspek pariwisata massal adalah pertumbuhan jumlah hotel dan resor murah berkualitas rendah, dengan konsentrasi toko-toko, pusat hiburan, dan tur yang lebih besar
ekowisata merupakan pariwisata yang secara sepenuhnya memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan, dan masyarakat tempat tinggalnya (UNWTO dan UNEP, 2005; Yoeti dan Gunadi, 2013)
PERUBAHAN IKLIM & KONDISI GEOGRAFIS
banjir, kebakaran hutan, kekeringan yang memanjang, gempa bumi, letusan gunung berapi, dll. keadaaan kondisi geografis membuatnya rentan terhadap bencana
KONEKTIVITAS DAN INFRASTRUKTUR PARIWISATA
kurangnya kesiapan fasilitas dan infrastruktur destinasi, keamanan, kebersihan, keteraturan destinasi, keterbatasan aksesibilitas, dan hambatan konektivitas, yang membuat jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia tidak optimal.
TATA KELOLA INVESTASI, YANG MASIH BELUM OPTIMAL
Kompleksitas birokrasi dan proses yang rumit yang masih terjadi di beberapa daerah merupakan catatan terpisah yang membuat investor enggan untuk berinvestasi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah melakukan studi terkait masalah pengembangan destinasi wisata yang pasti akan berdampak pada pengembangan pariwisata biru, termasuk perubahan iklim dan
bencana alam, karena masalah-masalah ini merupakan isu global yang disebabkan oleh tindakan kerusakan yang dilakukan oleh manusia seperti illegal logging pohon, gunung, penggalian gunung, dan daerah pesisir yang tidak tertangan
KESIAPAN MASYARAKAT DI SEKITAR DESTINASI WISATA
mengakibatkan kurangnya pemeliharaan destinasi wisata, kurangnya manajemen profesional, dan eksploitasi berlebihan dari destinasi wisata
Dalam prinsip pariwisata biru, tema keberlanjutan konservasi menjadi hal utama. Selain itu,
prinsip-prinsip ekonomi biru yang mengacu pada pembangunan kepulauan harus berorientasi pada pertumbuhan inovasi, penguatan partisipasi masyarakat, optimalisasi sumber daya
sekitar, dan penggunaan teknologi berbasis budaya dan kearifan lokal. Teknologi yang
memanfaatkan potensi alam (matahari, angin, arus laut/sungai, dan ombak laut) dan bahkan sampah atau limbah dikembangkan dengan sentuhan inovasi agar tidak merusak lingkungan tetapi justru memicu antusiasme dan kreativitas yang memiliki nilai ekonomi dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal
BIODIVESITAS
Indonesia menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang krusial, penurunan BiodivesitasBiodivesitas adalah keseluruhan gen, spesies, dan ekosistem di suatu kawasan
20⁰C
PARIS AGREEMENT Indonesia telah kehilangan hampir 50% kawasan mangrove dan saat ini hanya 20% saja terumbu karang memiliki kondisi yang baik di perairan.
kawasan utama keanekaragaman hayati telah banyak terdegradasi akibat adanya konversi lahan menjadi lahan industri atau deforestasi Indonesia hingga mencapai 74,4% dari total wilayah hutan.
kehilangan biodiversitas secara terus menerus akan menimbulkan dampak sosial dan ekologi yang cukup serius. Keragaman adalah dasar stabiltas sosial dan ekologi, sehingga tanpa keragaman tersebut, sistem sosial dan ekonomi akan mudah rusak dan runtuh
idealnya di bawah 1,5⁰C
Terjadinya kerusakan lingkungan dan pencemaran terhadap seni budaya akibat kebijakan yang tidak tepat.
Pengembangan pariwisata yang salah urus. Jika suatu pariwisata telah terbangun, pengelola harus bisa lebih profesional dalam mengimplementasikan kebijakan yang berlaku dan harus melakukan fungsi pengawasan dengan baik
Adanya pembangunan yang berpotensi mengganggu proses pelestarian situs warisan budaya.
Banyaknya izin pertambangan di kawasan hutan lindung. Izin pertambahan dapat menyebabkan perkembangan special interest tourism mengalami gangguan karena dapat menguras sumber-sumber hayati, flora, dan fauna yang juga akan menimbulkan kerugian pengembangan pariwisata berkelanjutan
Yoeti dan Gunadi (2013) menyebutkan bahwa ada beberapa dampak negatif yang timbul pada hampir semua destinasi pariwisata yang sedang melakukan pengembangan karena kurangnya perencanaan yang baik
KESIMPULAN
Dinamika layanan dan kebutuhan yang meningkat dari penduduk pulau, serta keterbatasan yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam mengelola pembangunan wilayah yang ditandai oleh pulau, dalam hal ini, pengembangan pariwisata, ditangani oleh pariwisata biru, yang merupakan bagian dari ekonomi biru
Setiap lokasi di Indonesia memiliki akses ke sumber daya laut yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pariwisata dan meningkatkan pendapatan lokal.
Upaya untuk menjaga ekosistem laut adalah suatu keharusan karena laut Indonesia adalah masa depan pembangunan Indonesia
Pariwisata biru memiliki dampak positif pada pembangunan ekonomi,
terutama di sekitar destinasi wisata.