6487
Potensi Ekonomi Energi Terbarukan Biomassa: Permasalahan dan Kendala Pengembangannya
Nelly1, Syaifuddin Yana2*, Radhiana3, Filia Hanum4, Fitriliana5, Juwita6, Kasmaniar7
1,2,3,4,5,6,7Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 6 Juli 2023 Disetujui: 20 Juli 2023
Abstract
The government’s top priority in the remaining time until 2025 is to attain the energy mix goal, which is 23% renewable energy. The government’s implementation of this mixture is still hampered by a number of constraints and obstacles. The objective of this study is to evaluate the economic potential of managing renewable energy sources derived from biomass sources. Several cross-sector conflict of interest issues, such as the conversion of CPO to stearin from palm oil for biofuel production. On the other hand, this product is still required in oleochemicals, food, and cosmetics industries. This has a significant impact on the future development of biomass-based renewable energy. Consequently, it is the responsibility of the government to regulate and modify the overlapping interests of various sectors, such as food sources and their derivatives, the industrial sector, chemical processing, and others. In addition, the government must prioritize the development and utilization of biomass as a renewable energy source and contributor to sustainable development. To preserve sustainability, it is essential to have a plan for the development of renewable energy. Future government initiatives to develop the concept of renewable energy will be greatly aided by the renewable energy development road map.
Keywords: energy mix, economic potential, government strategic steps, biomass energy Abstrak
Target bauran energi menjadi prioritas pemerintah dalam mengejar sisa waktu sampai dengan tahun 2025, yaitu capaian energi terbarukan sebesar 23%. Berbagai kendala dan hambatan masih menjadi perhatian khusus pemerintah dalam implementasi bauran tersebut. Kajian ini bertujuan untuk mereview potensi ekonomi pengelolaan sumber energi terbarukan dari sumber biomassa. Beberapa persoalan konflik kepentingan lintas sektor seperti pengolahan biofuel dari CPO menjadi stearin dari kelapa sawit. Disisi lain, produk ini juga masih dibutuhkan pada industri lainnya seperti oleokimia, makanan, dan kosmetik. Hal ini sangat berpengaruh pada pengembangan energi terbarukan dari biomassa kedepannya. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam mengatur dan menyesuaikan kepentingan berbagai sektor yang tumpang tindih, seperti sumber pangan dan turunannya, sektor industri, olahan kimia dan lainnya. Disamping itu, pemerintah sebaiknya fokus pada prioritas pengembangan dan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan dan pengembangan yang berkelanjutan. Agar dapat menjaga keberlanjutan pentingnya roadmap pengembangan energi terbarukan. Roadmap pengembangan energi terbarukan sangat membantu langkah pemerintah dalam mengembangkan konsep energi terbarukan dimasa yang akan datang.
Kata kunci: bauran energi, potensi ekonomi, langkah strategis pemerintah, energi biomassa 1. Pendahuluan
Indonesia dianugerahi oleh kekayaan alam yang sangat luar biasa, baik dalam jenis maupun jumlahnya [1]. Sumber kekayaan hayati tersebut tersebar luas terhampar hampir di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Berbagai jenis tanaman dan tumbuhan yang dapat tumbuh secara liar maupun dikelola pada lahan pertanian, perkebunan dan hutan. Sumber kekayaan hayati dan sumber kekayaan alam tersebut merupakan berkah yang luar biasa yang dapat memberikan nilai ekonomi jika dikelola dengan baik [2].
Saat ini sebagian besar hasil pertanian, perkebunan maupun hutan umumnya langsung dijual oleh pengelolanya tanpa melalui proses pengolahan tertentu, seperti menjadi produk yang lebih bernilai ekonomi [3]. Demikian juga, hasil ataupun sisa hasil pertanian, perkebunan dan hutan dibuang saja atau ditinggalkan dilahan-lahan terbuka [4. Dengan demikian, nilai dan potensi nilai ekonominya menjadi tidak termanfaatkan atau terbengkalai begitu saja [5]. Ada beberapa sisa limbah seperti ampas padi, biasanya digunakan oleh petani menjadi dedak yang merupakan bahan utama pakan ternak seperti ayam dan bebek.
Sebagian sisa limbah tersebut akan terbuang saja dan terdegradasi secara alami di alam terbuka. Sebaliknya, andaikata dimanfaatkan melalui proses tertentu akan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Demikian
6488
juga halnya, apabila limbah hasil pertanian, perkebunan dan hutan dapat dimanfaatkan, sehingga menjadi sumber utama biomassa yang dapat diolah menjadi energi terbarukan [6]. Tentu saja, hal ini dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik. Disamping itu, dapat bermanfaat dan memberikan keuntungan bagi pengelolanya. Demikian juga dengan pengelolaan yang baik akan memberikan nilai sosial bagi masyarakat dan memberikan kebaikan serta lebih ramah terhadap lingkungan [7][8].
Berbagai jenis sumber biomassa yang dapat ditemukan baik dari hasil pertanian, perkebunan, dan hutan di berbagai provinsi di Indonesia. Sebagai contoh ragam limbah biomassa yang berasal dari berbagai tanaman, antara lain tebu (ampas tebu, daun dan pucuk tebu), kelapa sawit (tandan buah kosong, cangkang, serat, dan limbah cair), kelapa (cangkang dan serat), karet (kayu karet), kayu (limbah kayu), beras (sekam padi), singkong (limbah singkong), tongkol jagung, daun jagung dan banyak lagi dari sumber biomassa lainnya [9].
Menghasilkan energi dari berbagai sumber biomassa menjadi energi terbarukan masih banyak menghadapi kendala. Beberapa kendalanya seperti konflik kepentingan bahan baku biomassa menjadi kebutuhan utamanya yaitu sebagai bahan pangan dan turunannya. Disamping itu, kendala lainnya seperti hambatan teknologi, pendanaan, dan ketersediaan bahan baku biomassa [10]. Hambatan ini dianggap sebagai hambatan utama dalam pengembangan energi terbarukan. Namun demikian, sedikit sekali penelitian yang mengkaji dampak ekonomi pemanfaatan biomassa menjadi energi terbarukan [11].
2. Metode Kajian Literatur
Studi ini dimaksudkan sebagai kajian literatur untuk mengkaji potensi ekonomi energi terbarukan biomassa. Pendekatan yang digunakan pada kajian ini yaitu studi literatur dari berbagai sumber utamanya terkait energi terbarukan dari sumber biomassa. Kajian ini juga memaparkan beberapa kendala pengembangan energi terbarukan dari biomassa dalam rangka mengejar target bauran energi terbarukan tahun 2025. Data-data yang digunakan pada kajian ini mengacu pada beberapa data Kementerian PPN- Bappenas, LIPI, jurnal-jurnal terkait yang membahas pengembangan energi baru terbarukan dari sumber biomassa. Selain itu, kajian ini menelaah literatur yang diperoleh baik nasional maupun internasional.
3. Potensi Ekonomi Energi Biomassa Indonesia
Ketergantungan banyak negara di dunia terhadap energi non terbarukan yaitu energi fosil merupakan tantangan tersendiri dalam jangka panjang. Demikian juga seperti Indonesia, masih sangat tergantung pada minyak bumi, gas, dan batu bara untuk kebutuhan energi utamanya. Hampir 90% total pemenuhan kebutuhan energi utamanya bergantung pada energi fosil [12]. Hal ini juga merupakan gambaran bahwa masih banyak yang harus dibenahi dalam rangka konversi dari pemanfaatan energi fosil menjadi energi terbarukan. Penggunaan yang masif terhadap energi non terbarukan juga berpengaruh negatif pada lingkungan hidup. Jika dipaksakan terus menerus pada pemanfaatan energi fosil, tanpa mendapatkan sumber cadangan baru, maka Indonesia akan kekurangan pasokan dalam jangka panjang. Disamping itu, pemakai energi non terbarukan secara terus menerus juga akan membebani biaya belanja negara yang berlebihan. Demikian juga, hal ini dapat berimplikasi pada gangguan pertumbuhan ekonomi nasional yang terhambat.
Kekayaan sumber hayati semacam biomassa dari berbagai spesies merupakan kekuatan Indonesia yang diperoleh dari berbagai sumber dari sektor pertanian, perkebunan dan hutan. Keberagaman spesies biomassa ini memiliki ciri khas yang dapat memberikan nilai ekonomi tersendiri bagi pengelolanya.
Kebutuhan dari hasil panen pertanian, perkebunan dan hutan secara umum masih dimanfaatkan menjadi sumber utama pangan dan turunannya [13][14]. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti sumber energi terbarukan masih belum menjadi pertimbangan penting untuk dikelola. Sebagian besar dari hasil pada sektor ini dijual langsung sebagai hasil tambahan bagi pengelolanya. Disamping itu, menjadi lebih mirisnya sisa dari limbah pada sektor tersebut dibiarkan percuma di alam terbuka. Hal ini menunjukkan masih belum memiliki tata kelola yang baik untuk memanfaatkan hasil sampingan seperti energi terbarukan. Dimana sesungguhnya, dari hasil ini masih memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih memberikan keuntungan lainnya.
Limbah biomassa yang berasal dari berbagai tanaman, antara lain tebu (ampas tebu, daun dan pucuk tebu), kelapa sawit (tandan buah kosong, cangkang, serat, dan limbah cair), kelapa (cangkang dan serat), karet (kayu karet), kayu (limbah kayu), beras (sekam padi), singkong (limbah singkong), tongkol jagung, daun jagung dan banyak lagi dari sumber biomassa dari berbagai ragam lainnya [15]. Sebagai gambaran bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa yang jika dikelola secara baik dapat memberikan sumber energi terbarukan 49,81 GW (gigawatt). Sementara itu, kapasitas terpasang sebesar 445 MW [16].
6489
Gambar 1. Potensi biomassa berdasarkan kelompoknya Sumber: [17]
Sementara itu, data Research Institute for Mining and Energy Economics, menunjukkan bahwa potensi biomassa dari kelompok limbah memberikan gambaran yaitu limbah padi (30,45%), jagung (5,36%), kayu (4,15%), sampah kota (6,41%), kotoran sapi (1,66%), kelapa sawit (36,29%), tebu (14,02%) dan karet (8,63%). Dilihat dari peluang nilai ekonomi terbesarnya limbah kelapa sawit merupakan limbah yang memiliki potensi ekonomi terbesarnya. Masih banyak lagi jenis sumber biomassa lainnya yang berasal dari berbagai limbah cair dan padat. Dilihat dari potensi ekonominya, sumber biomassa dari sektor pertanian, perkebunan dan hutan sungguh memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Jika dilihat dari luas areal pertanian, perkebunan dan hutan adalah sangat luas dan tersebar diseluruh provinsi di Indonesia.
Berarti jika dikalkulasikan jumlah tersebut menjadi pengembangan energi terbarukan, sangat memberikan peran yang sangat besar dimasa yang akan datang.
4. Kendala Pengembangan Potensi Ekonomi Energi Biomassa
Potensi sumber biomassa yang berlimpah menjadi modal dasar bagi pengembangan energi terbarukan. Namun, masih ditemui beberapa kendala dalam pengembangan energi terbarukan ini.
Diantaranya masih terjadi perselisihan lintas sektor seperti pertanian dan pangan, peternakan, energi dan industri. Kegiatan ini apabila tidak ditangani melalui koordinasi antar bidang cenderung menimbulkan berbagai masalah kedepannya.
Walaupun kekayaan hayati Indonesia melimpah dan memiliki sumber daya biomassa yang cukup besar. Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala utamanya yaitu dari sisi seperti pengelolaan dan pengangkutannya menjadi energi terbarukan masih menjadi tantangan terbesarnya. Tantangan terbesarnya lainnya, yaitu pada tata kelolanya menjadi produk yang diinginkan masih perlu menjadi perhatian pemerintah. Pengelolaan kepentingan tersebut seperti untuk keperluan pangan dan turunannya, untuk keperluan industri, komersial, pengolahan kimia dan lainnya masih berhadapan dengan banyak kepentingan [9]. Sebagai contoh pengolahan biofuel seperti CPO (Crude Palm Oil) menjadi stearin dari kelapa sawit.
Disisi lain, produk ini juga dibutuhkan pada industri lainnya seperti oleokimia, makanan, dan kosmetik.
Sulit untuk mengatasi masalah ini karena muncul berbagai kepentingan dari beberapa sektor tersebut.
Kendala lainnya yaitu belum adanya roadmap yang jelas terhadap pengembangan energi terbarukan dan langkah strategisnya. Hal ini belum mengarahkan pada bagaimana pengembangan dan pemanfaatan biomassa kedepannya. Roadmap yang jelas akan pengembangan energi terbarukan khususnya dari biomassa dapat menjadi penentu arah pengembangan kedepannya.
6490
Gambar: Proses pemurnian CPO (Crude Palm Oil) menjadi Olein dan Starin Sumber: [18]
Terkait pengembangan energi terbarukan dari biomassa, masih terdapat beberapa kendala yang dapat mempengaruhi adopsi dan penggunaan luas teknologi ini. Beberapa kendala umum dalam pengembangan energi terbarukan dari biomassa, diantaranya [19][20]:
1) Ketersediaan sumber daya biomassa yang terbatas: ketersediaan biomassa dapat terbatas karena faktor seperti ketersediaan lahan yang terbatas, persaingan dengan penggunaan lahan lainnya (seperti pertanian), dan akses terbatas ke biomassa dalam jumlah yang memadai. Hal ini dapat menjadi kendala dalam mencukupi permintaan energi biomassa secara berkelanjutan.
2) Logistik dan transportasi: biomassa seringkali memiliki kepadatan energi yang rendah dan berat yang tinggi, sehingga membutuhkan infrastruktur logistik dan transportasi yang efisien untuk memindahkan biomassa dari sumbernya ke lokasi konversi energi. Jarak antara sumber biomassa dan pabrik pengolahan dapat menjadi kendala dalam hal biaya transportasi dan efisiensi logistik.
3) Efisiensi konversi yang rendah: proses konversi biomassa menjadi energi seringkali memiliki efisiensi yang lebih rendah dibandingkan dengan sumber energi terbarukan lainnya seperti energi surya dan angin. Beberapa teknologi konversi biomassa seperti pembakaran biomassa tradisional juga dapat menghasilkan emisi polutan yang tinggi. Kendala ini memerlukan pengembangan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
4) Dampak lingkungan dan keberlanjutan: penggunaan biomassa untuk energi dapat memunculkan isu terkait dampak lingkungan dan keberlanjutan. Penggunaan biomassa yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan deforestasi, degradasi lahan, dan kerusakan ekosistem. Selain itu, proses pengolahan biomassa juga dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca dan polutan lainnya jika tidak dikelola dengan baik.
5) Kompetisi dengan penggunaan lain dari biomassa: biomassa juga memiliki potensi penggunaan alternatif seperti bahan baku industri, bahan baku kimia, dan pakan ternak. Kompetisi ini dapat mempengaruhi ketersediaan biomassa dan harga yang dapat mempengaruhi keberlanjutan dan ekonomi energi biomassa.
Agar dapat mengatasi beberapa kendala ini, perlu untuk melibatkan inovasi teknologi, kebijakan yang mendukung, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan analisis yang cermat dalam memilih sumber biomassa yang tepat untuk digunakan sebagai energi terbarukan.
6491
5. Roadmap Pengembangan Energi Terbarukan
Pentingnya roadmap terhadap pengembangan energi terbarukan sangat membantu langkah pemerintah dalam mengembangkan konsep energi terbarukan dimasa yang akan datang. Roadmap mendeskripsikan langkah penting yang harus dilakukan terkait pengembangan energi terbarukan.
Fungsi roadmap pengembangan energi terbarukan adalah untuk memberikan panduan strategis dan jangka panjang dalam mengembangkan sektor energi terbarukan. Roadmap ini menyediakan kerangka kerja yang sistematis untuk mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan dalam pengembangan energi terbarukan. Fungsi utama dari roadmap pengembangan energi terbarukan, diantaranya [21][22]:
1) Mengidentifikasi potensi dan sumber daya: Roadmap membantu dalam mengidentifikasi sumber daya energi terbarukan yang tersedia di setiap wilayah atau provinsi. Ini mencakup sumber daya seperti energi surya, energi angin, bioenergi, energi air, dan lain-lain. Dengan mengetahui potensi sumber daya yang ada, roadmap dapat membantu dalam merencanakan pengembangan yang tepat.
2) Menetapkan target dan tujuan: Roadmap membantu dalam menetapkan target dan tujuan jangka panjang yang berkaitan dengan penggunaan energi terbarukan. seperti, dapat menetapkan target peningkatan kapasitas energi terbarukan dalam beberapa tahun ke depan atau target pengurangan emisi gas rumah kaca melalui penggunaan energi terbarukan.
3) Mengidentifikasi kebijakan dan regulasi: Roadmap menyediakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi kebijakan dan regulasi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan. Ini meliputi insentif keuangan, kebijakan pengadaan listrik terbarukan, peraturan jaringan listrik, dan regulasi lainnya yang memfasilitasi pertumbuhan sektor energi terbarukan.
4) Merencanakan infrastruktur dan investasi: Roadmap membantu dalam merencanakan pengembangan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung energi terbarukan, seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga surya atau pembangkit listrik tenaga angin. Selain itu, roadmap juga membantu dalam mengidentifikasi kesempatan investasi dan pendanaan yang dapat mendorong pertumbuhan sektor energi terbarukan.
5) Mendorong kolaborasi dan kerjasama: Roadmap dapat menggalang kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga lainnya untuk mencapai tujuan pengembangan energi terbarukan. Ini melibatkan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan, transfer teknologi, dan pertukaran pengetahuan untuk mempercepat inovasi dan pertumbuhan sektor energi terbarukan.
Dengan adanya roadmap pengembangan energi terbarukan, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dapat memiliki panduan yang jelas dan terstruktur dalam mengembangkan energi terbarukan secara berkelanjutan dan efektif.
6. Kesimpulan
Pemanfaatan sumber energi dari biomassa dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan kontribusi pada pendapatan negara. Disamping itu, pengolahan limbah biomassa menjadi energi terbarukan juga memiliki potensi keuntungan dan nilai ekonomi yang tinggi. Peran pemerintah untuk mendorong penggunaan energi terbarukan merupakan salah satu cara mengejar target energi bauran energi tahun 2025 yaitu energi terbarukan sebesar 23%. Memang tidak mudah untuk mengejar target tersebut, mengingat saat ini baru dapat dicapai sekitar lebih dari 12 persen. Konsistensi dalam implementasi pengembangan energi terbarukan melalui pendekatan dari berbagai sumber energi terbarukan lainnya akan lebih realistis dalam mengejar target tersebut.
Pengelolaan konflik kepentingan dari berbagai sektor seperti pengolahan biofuel seperti CPO (Crude Palm Oil) menjadi stearin dari kelapa sawit. Disamping itu, produk ini juga masih dibutuhkan pada industri lainnya seperti oleokimia, makanan, dan kosmetik. Untuk mengatasi pada berbagai kepentingan maka diperlukan koordinasi antar tingkat kementerian, Lembaga terkait dan pemangku kepentingan terkait sumber biomassa tersebut. Pemerintah harus mengatur dan menyesuaikan kepentingan berbagai sektor yang tumpang tindih, seperti sumber pangan, kosmetik, dan sektor lainnya, serta energi dengan memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi terbarukan yang berkelanjutan.
Pentingnya roadmap terhadap pengembangan energi terbarukan karena sangat membantu langkah pemerintah dalam mengembangkan konsep energi terbarukan dimasa yang akan datang. Fungsi roadmap sangat penting dalam hal: mengidentifikasi potensi dan sumber daya, menetapkan target dan tujuan, mengidentifikasi kebijakan dan regulasi, merencanakan infrastruktur dan investasi, mendorong kolaborasi dan Kerjasama. Roadmap dapat membangun langkah strategis dan sinergisitas pengembangan energi terbarukan dimasa yang akan datang.
6492
7. Referensi
[1]. Yana, Syaifuddin, Muhammad Nizar, Irhamni, and Dewi Mulyati. 2022. “Biomass Waste as a Renewable Energy in Developing Bio-Based Economies in Indonesia: A Review.” Renewable and Sustainable Energy Reviews 160:112268. doi: https://doi.org/10.1016/j.rser.2022.112268.
[2]. J. Singh, “Overview of electric power potential of surplus agricultural biomass from economic, social, environmental and technical perspective—A case study of Punjab,” Renew. Sustain. Energy Rev., vol. 42, pp. 286–297, 2015, doi: https://doi.org/10.1016/j.rser.2014.10.015
[3]. Yana, S., Nizar, M., & Yulisma, A. (2021). Prospek Utama Pengembangan Energi Terbarukan Di Negara-Negara ASEAN. Jurnal Serambi Engineering, 6(2).
[4]. Juwita, J., Yana, S., Maksalmina, M., Mahdi, M., Fitriliana, F., Hanum, F., & Kasmaniar, K. (2023).
Peluang Ekspansi Energi Terbarukan Biomassa dengan Analisis SWOT. Jurnal Serambi Engineering, 8(1).
[5]. Kasmaniar, K., Yana, S., Nelly, N., Fitriliana, F., Susanti, S., Hanum, F., & Rahmatullah, A. (2023).
Pengembangan Energi Terbarukan Biomassa dari Sumber Pertanian, Perkebunan dan Hasil Hutan:
Kajian Pengembangan dan Kendalanya. Jurnal Serambi Engineering, 8(1).
[6]. Lipi.go.id, “http://lipi.go.id/publikasi/sumber-daya-biomassa-potensi-energi-indonesia-yang- terabaikan/16374,” 2014.
[7]. Syamsuddin, N., Yana, S., Nelly, N., Maryam, M., Fitriliana, F., & Arsyad, A. (2023). Permintaan Pasar untuk Produk dan Layanan Energi Terbarukan (Perspektif Daya Saing Energi Terbarukan Indonesia). Jurnal Serambi Engineering, 8(1).
[8]. Yana, S., Nelly, N., Radhiana, R., Ibrahim, N., Zubir, A. A., Zulfikar, T. M., & Yulisma, A. (2022).
Dampak Ekspansi Biomassa sebagai Energi Terbarukan: Kasus Energi Terbarukan Indonesia. Jurnal Serambi Engineering, 7(4).
[9]. Kementerian PPN-Bappenas (2015), “Kajian Pengembangan Bahan Bakar Nabati.
[10]. Arsyad, A., Yana, S., Radhiana, R., Ulfia, U., Fitriliana, F., & Juwita, J. (2023). Kendala Teknologi, Pendanaan dan Ketersediaan Bahan Baku Biomassa dalam Pengembangan Energi Terbarukan. Jurnal Serambi Engineering, 8(1).
[11]. Yana, S., Yulisma, A., & Zulfikar, T. M. (2022). Manfaat Sosial Ekonomi Energi Terbarukan: Kasus Negara-negara ASEAN. Jurnal Serambi Engineering, 7(1).
[12]. S. Mujiyanto and G. Tiess, “Secure energy supply in 2025: Indonesia’s need for an energy policy strategy,” Energy Policy, vol. 61, no. 5, pp. 31–41, 2013, doi: 10.1016/j.enpol.2013.05.119.
[13]. K. Anitha, L. V Verchot, S. Joseph, M. Herold, S. Manuri, and V. Avitabile, “A review of forest and tree plantation biomass equations in Indonesia,” Ann. For. Sci., vol. 72, no. 8, pp. 981–997, 2015, doi: 10.1007/s13595-015-0507-4.
[14]. Nukman and R. Sipahutar, “The Potential of Biomass from Wood, Leaves, and Grass as Renewable Energy Sources in South Sumatera, Indonesia,” Energy Sources, Part A Recover. Util. Environ. Eff., vol. 37, no. 24, pp. 2710–2715, Dec. 2015, doi: 10.1080/15567036.2012.738286.
[15]. Radhiana, R., Yana, S., Affan, M., Zainuddin, Z., Susanti, S., Kasmaniar, K., & Hanum, F. (2023).
Strategi Keberlanjutan Pembangunan Energi Terbarukan Jangka Panjang Indonesia: Kasus Biomassa Energi Terbarukan di Sektor Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Indonesia. Jurnal Serambi Engineering, 8(1).
[16]. Info Risiko Fiskal, “Ketahanan Energi : Idealitas versus Realitas,” 2014.
[17]. Research Institute for Mining and Energy Economics (2016). https://reforminer.com/potensi- biomassa-berdasarkan-kelompok-limbah/
[18]. Azhar Rizki (2016). Proses Proses pemurnian CPO (Crude Palm Oil) menjadi Olein dan Starin http://azharrizki.blogspot.com/2016/08/proses-proses-pemurnian-cpo-crude-palm.html
[19]. Pandey, A., (2019). Biomass as a Sustainable Energy Source for the Future: Fundamentals of Conversion Processes.
[20]. Junginger, M., (2016). Sustainable Biomass Supply Chains: A Holistic Analysis of Constraints, Opportunities, and Risks.
[21]. Kemp, J. (2020). The Renewable Energy Handbook: The Updated Comprehensive Guide to Renewable Energy and Independent Living.
[22]. Jones, R., & Plummer, P. (2013). Renewable Energy Finance: Powering the Future.