POTRET SOSIAL MASYARAKAT DESA DAN MASYARAKAT KOTA DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI
ARTIKEL ILMIAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
YOPI AHMAIS SAKINAH NPM 1208077
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2017
POTRET SOSIAL MASYARAKAT DESA DAN MASYARAKAT KOTA DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI
Oleh:
Yopi Ahmais Sakinah1, Iswadi Bahardur2, Samsiarni3
1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi pada permasalahan kehidupan sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan potret sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel dan kaitannya dengan realitas yang ada di tengah masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Data penelitian ini adalah teks-teks dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Teknik penganalisisan data yaitu menemukan data, menganalisis data, membahas data, menyimpulkan hasil penelitian, dan menulis laporan penelitian. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa masyarakat desa memiliki sikap homogenitas sosial, hubungan primer akrab, kontrol sosial erat, gotong royong baik, ikatan sosial ketat, magis religius, dan pola kehidupan sama. Pada masyarakat kota ditemukan pelapisan sosial ekonomi berbeda, individualisme, toleransi sosial yang kurang, jarak sosial, dan penilaian sosial berbeda.
Potret sosial masyarakat desa dan kota dalam novel memiliki kaitan yang erat dan nyata dengan realitas masyarakat sebenarnya.
Kata kunci : Potret sosial, masyarakat desa, masyarakat kota
THE POTRAIT OF SOCIAL LIFE OF RURAL AND URBAN SOCIETY ON BEKISAR MERAH NOVEL BY AHMAD TOHARI
By:
Yopi Ahmais Sakinah1, Iswadi Bahardur2, Samsiarni3
1) Student STKIP PGRI West Sumatra
2) 3) Lecturer Language Study Program and Literature Indonesia STKIP PGRI West Sumatra
ABSTRACT
This research examines the problem about tha potrait of rural and urban society in social life on Bekisar Merah novel by Ahmad Tohari. This research aimed to describe the social life potrait of rural and urban society. Since the data of this research is in words form, this research applies qualitative research. The data source of this research is statements. In collecting the data, it used reading and comprehend the novel, mark and inventari the data, then classifying the data. To analyze the data, the research find the data, analyzed the data, discuss the data, get the conclusion and write the research report. The result of this research about in the rural society, it was found that thay have homogenous attitudes among them, intimated primary relationship, close control social, good mutual cooperation, tight social bonds, magical religion, and the same pattern in life.
In urban society, it is found that social economic differences, individualism, lack of tolerance, discrepancy social and also different appraisal. The potrait social life of rural and urban society life on Bekisar Merah novel by Ahmad Tohari has a close relation and it is a fact in real life.
Key words: potrait social, rural society, urban society.
A. Pendahuluan
Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang hidup bersama dan memiliki tatanan kehidupan yang diikat oleh norma-norma dan adat-adat yang sama ditaati dalam suatu lingkungan. Masyarakat juga memiliki hubungan dan interaksi sosial antara sesama anggotanya.
Masyarakat dapat dibedakan menjadi masyarakat desa dan masyarakat kota. Pada dasarnya, masyarakat desa dan masyarakat kota adalah masyarakat yang sama-sama memiliki hubungan sosial dengan masyarakat banyak. Masyarakat desa dalam interaksinya lebih kepada sikap kebersamaan dan kekerabatan, sementara masyarakat kota lebih kepada keadaan yang individualisme. Masyarakat kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Salah satu novel yang menggambarkan potret sosial masyarakat desa dan kota adalah novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Dalam novel Bekisar Merah ini Ahmad Tohari berusaha menguak potret sosial yang berbeda antara masyarakat desa dan masyarakat kota yang digambarkan melalui tokoh Lasi dan tokoh lainnya. Pengarang menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang tidak berpendidikan, sedangkan masyarakat kota memiliki pendidikan sampai tingkat sarjana. Selain itu, pengarang juga menggambarkan tentang kehidupan masyarakat desa yang saling tolong-menolong dan memiliki adat istiadat yang kuat, sementara masyarakat kota lebih kepada sikap mementingkan kehidupan sendiri-sendiri dan sudah tidak lagi mempedulikan adat. Masyarakat desa mempedulikan setiap seluk-beluk kehidupan anggotanya.
Tentang apa pekerjaan dan bagaimana cara anggotanya menjalankan hidup juga menjadi perhatian khusus masyarakat desa. Namun pada masyarakat kota hal tersebut tidak menjadi persoalan, asalkan masyarakat itu memiliki harta banyak, maka ia akan lebih dihormati dan disegani.
Masyarakat tidak mempedulikan lagi bagaimana cara untuk mendapatkan harta tersebut.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini akan difokuskan pada potret sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potret sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan kaitannya dengan realitas yang ada di tengah masyarakat.
Ahmadi (2003:241) menjelaskan bahwa masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di mana ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebagai anggota masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.
Ahmadi (2003:228) juga menjelaskan bahwa masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Perhatian khusus masyarakat kota tidak terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan, dan perumahan, tetapi mempunyai perhatian lebih luas lagi. Orang-orang kota sudah memandang penggunaan kebutuhan hidup, artinya tidak hanya sekedarnya atau apa adanya. Hal itu disebabkan oleh karena pandangan warga kota sekitarnya.
Hartomo dan Aziz (1999:237-248) menjelaskan bahwa ciri-ciri masyarakat pedesaan yaitu homogenitas sosial, hubungan primer yang akrab, kontrol sosial yang ketat, gotong royong yang baik, ikatan sosial erat, magis religius, dan pola kehidupan dari bidang agraris. Ciri sosial masyarakat kota adalah memiliki pelapisan sosial ekonomi yang berbeda, individualisme, toleransi yang lemah, terdapat jarak sosial, dan penilaian sosial yang juga berbeda.
B. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Semi (2012:11), “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bukan mengutamakan kuantifikasi berdasarkan angka-angka, tetapi lebih mengutamakan penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris”. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang potret sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Ratna (2004:53) menyatakan bahwa, “Metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis”. Data dalam penelitian ini adalah teks-teks yang berhubungan dengan masalah potret sosial masyarakat desa dan masyarakat kota yang terefleksi dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Sumber data penelitian ini adalah novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Novel ini diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2013 (cetakan kedua) dengan jumlah 358 halaman. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dibantu dengan lembaran pencatatan data-data yang akan dimasukkan ke dalam tabel inventarisasi data.
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini, (1) menemukan data yang berhubungan dengan potret sosial masyarakat desa dan masyarakat kota yang terdapat dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, (2) menganalisis data, (3) pembahasan data, (4) menyimpulkan hasil temuan, dan (5) menulis laporan penelitian.
C. Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian ini ditemukan 7 ciri-ciri sosial masyarakat desa yaitu homogenitas sosial, hubungan primer, kontrol sosial, gotong royong, ikatan sosial, magis religius, dan pola kehidupan.
Pada penelitian ini ditemukan 2 data tentang homogenitas sosial, 6 data hubungan primer, 6 data kontrol sosial, 4 data gotong royong, 5 data ikatan sosial, 5 data magis religius, dan 3 data pola kehidupan. Dalam penelitian ini, data hubungan primer dan kontrol sosial lebih dominan terdapat pada masyarakat desa. Di dalam penelitian ini juga ditemukan 5 ciri-ciri sosial masyarakat kota yaitu pelapisan sosial ekonomi, individualisme, toleransi sosial, jarak sosial, dan penilaian sosial.
Pada penelitian ini ditemukan 9 data tentang pelapisan sosial ekonomi, 4 data individualisme, 4 data toleransi sosial, 2 data jarak sosial, dan 10 data penilaian sosial. Berdasarkan hal tersebut, data mengenai penilaian sosial lebih dominan terdapat pada masyarakat kota.
1. Potret Sosial Masyarakat Desa dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari
potret sosial masyarakat desa pada novel Bekisar Merah dilihat berdasarkan ciri-ciri masyaraakat itu sendiri, yaitu:
a. Homogenitas Sosial
Menurut Hartomo dan Aziz (1999:246-248) masyarakat desa pada umumnya terdiri dari satu atau beberapa kekerabatan saja, sehingga pola hidup, tingkah laku, maupun kebudayaan sama/homogen. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Selalu eling dan nyebut, adalah peringatan yang tak bosan disampaikan kepada para penyadap selagi mereka bekerja di ketinggian pohon kelapa. Darsa pun tak pernah melupakan azimat ini. Seperti semua penyadap, Darsa tahu apa akibat kelalaian yang dilakukan dalam pekerjaannya.” (Ahmad Tohari, 2013:13).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki sikap homogenitas sosial yaitu menganut kepercayaan yang samadiantara para penyadap nira.
Masyarakat yang sedang bekerja di ketinggian pohon kelapa tidak boleh melupakan azimat. Selalu eling dan nyebut adalah kepercayaan yang sama-sama dipercayai oleh para penyadap. Darsa merupakan salah satu masyarakat desa Karangsoga yang juga bekerja sebagai penyadap nira. Saat berada di ketinggian pohon kelapa, Darsa juga mengingat azimat yang sama dipercayai diantara para penyadap. Masyarakat desa sama-sama meyakini bahwa apabila para penyadap tidak eling dan nyebut saat menyadap nira kelapa, maka akan mengakibatkan kejadian yang buruk pada penyadap tersebut.
b. Hubungan Primer
Hartomo dan Aziz (1999:246-248) menjelaskan bahwa antara masyarakat desa, anggota masyarakat satu dengan yang lain saling mengenal secara intim. Pada masyarakat desa, masalah kebersamaan dan gotong royong juga sangat diutamakan. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Eyang Mus terbatuk lagi. Lelaki tua itu tahu bahwa dirinya adalah rujukan dan narasumber untuk dimintai pendapat.” (Ahmad Tohari, 2013:38).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat Karangsoga memiliki hubungan primer yang akrab. Keakraban terlihat pada saat masyarakat saling mengunjungi dan bermusyawarah untuk menyelesaikan suatu perkara yang sedang dialami oleh anggota masyarakat lain. Selalu ada orang yang dituakan untuk dijadikan rujukan. Di desa Karangsoga, Eyang Mus sebagai orang yang dituakan dan menjadi orang yang dimintai pendapat dalam mencari jalan keluar suatu masalah. Apabila terjadi permasalahan di desa, maka masyarakat akan mengunjungi Eyang Mus untuk meminta pendapat bahkan nasehat. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki hubungan primer yang akrab.
c. Kontrol Sosial
Hartomo dan Aziz (1999:246-248) menjelaskan bahwa kekurangan dari salah satu anggota masyarakat desa, adalah merupakan kewajiban anggota yang lain untuk menyoroti dan membenahi. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Wiryaji dan istrinya segera datang karena mendengar jerit Lasi.
Wiryaji adalah ayah tiri Lasi dan juga Paman Darsa.Menyusul kemudian tetangga-tetangga yang lebih jauh. Eyang Mus, orang yang dituakan di kampung itu dijemput di rumahnya dekat surau.
Seseorang disuruh segera memberitahu orangtua Darsa di desa sebelah.”(Ahmad Tohari, 2013:18).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat desa memiliki kontrol sosial yang ketat. Diantara sesama masyarakatnya saling mengetahui masalah yang terjadi pada anggotanya.
Masyarakat ikut merasakan dan berusaha membenahi masalah yang menimpa anggotanya. Seperti masalah yang dialami oleh Darsa. Darsa terjatuh dari ketinggian pohon kelapa, dan Mukri adalah orang pertama yang mengetahui hal tersebut. Ia berusaha menolong Darsa dan membawa Darsa pulang kerumah. Mengetahui hal tersebut, para tetangga baik dekat ataupun jauh mendatangi rumah Darsa dan Lasi. Dengan waktu yang cepat, masyarakat desa Karangsoga mengetahui musibah yang menimpa Darsa. Masyarakat juga berusaha menolong semampu mereka. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki kontrol sosial yang ketat diantara sesama masyarakatnya.
d. Gotong Royong
Hartomo dan Aziz (1999:246-248) menjelaskan bahwa sikap gotong royong juga terjadi sangat kuat pada masyarakat desa. Nilai-nilai gotong royong tumbuh dengan subur dan membudaya. Semua masalah kehidupan dilakukan secara gotong royong, baik dalam arti gotong royong murni maupun gotong royong timbal balik. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Orang-orang perempuan mengurus Darsa dan Lasi. Celana pendek Darsa yang basah dilepas hati-hati.Ada yang memaksa Darsa menenggak telur ayam mentah.” (Ahmad Tohari, 2013:18).
Berdasarkan kutipan di atas, dapat dilihat bahwa masyarakat desa Karangsoga saling bergotong royong untuk membantu anggota masyarakat yang sedang ditimpa musibah. Segala hal yang dapat membantu berusaha dilakukan oleh anggota masyarakatnya. Masyarakat saling bekerja sama dalam membenahi masalah. Musibah yang menimpa Darsa ikut dirasakan oleh masyarakat lainnya. Masyarakat tidak tinggal diam terhadap masalah tersebut. Masyarakat berusaha memberikan pertolongan semampu mereka. Darsa dan Lasi diurus oleh tetangga perempuan, dan tetangga lain memberikan obat untuk Darsa. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki sikap gotong royong yang baik.
Pada masyarakat desa Karangsoga, gotong royong terlihat pada saat Darsa sakit, masyarakat bergotong royong mengurus Darsa. Para tetangga perempuan bergotong royong mengurus Darsa dan Lasi. Tetangga juga memberikan obat kepada Darsa. Selain itu, disaat pohon kelapa Darsa harus ditebang, Lasi memberikan uang untuk biaya hidup Darsa dan keluarganya.
Sikap gotong royong tumbuh dengan tidak pandang bulu. Lasi adalah masyarakat asli desa Karangsoga. Meskipun ia telah pindah ke Jakarta, namun jiwa sosial nya tidak pudar. Ketika Eyang Mus meminta Lasi untuk menolong Kanjat dalam menjalankan proyeknya, Lasi diminta untuk mendanai proyek tersebut.
e. Ikatan Sosial
Hartomo dan Aziz menjelaskan bahwa setiap anggota masyarakat desa diikat dengan nilai-nilai adat dan kebudayaan secara ketat. Ada norma-norma dan aturan-aturan yang mengikat
masyarakat tersebut. Bagi anggota masyarakat yang melanggar aturan tersebut akan diberikan hukuman. Hukuman dapat berupa gunjingan dan kucilan. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Orang banyak mengatakan, Karangsoga akan hangat kembali oleh bisik-bisik, celoteh, dan gunjingan tentang Lasi seperti ketika dia masih gadis. Lasi akan menjadi bahan perbincangan, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Bahkan orang juga menduga cerita tentang asal-usul Lasi dan perkosaan yang dialami emaknya akan merebak lagi.” (Ahmad Tohari, 2013:24).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki ikatan sosial yang ketat. Lasi merupakan salah satu anggota masyarakat yang paling sering dikucilkan, bahkan dari ia gadis. Lasi merupakan perempuan yang cantik, yang berbeda dengan perempuan desa Karangsoga lainnya. Orang mengira kecantikan Lasi berasal dari hasil perkosaan emaknya yang dilakukan oleh tentara Jepang yang datang ke Indonesia. Perkosaan tersebut tidak bisa diterima oleh masyarakat Karangsoga, oleh karena itu, Lasi dan Ibunya selalu menjadi bahan gunjingan. Pemerkosaan merupakan hal yang melanggar aturan adat istiadat, sehingga masyarakat yang dianggap melakukannya akan diberikan hukuman.
f. Magis Religius
Hartomo dan Aziz (1999:246-248) menjelaskan bahwa pada masyarakat desa, setiap kehidupan sehari-hari dijiwai bahkan diarahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Dan hanya di surau Eyang Mus mereka bisa menemukan jalan untuk menyatakan hubungan yang mendalam antara jiwa mereka dan Sang Mahajiwa melalui cara yang mereka bisa. Mereka sembahyang malam bersama, kemudian melantunkan slawatan atau kadang suluksisingiran secara barungan; satu orang membaca dan yang lain menirukan bersama-sama di belakang.” (Ahmad Tohari,2013:168).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki sikap magis religius yang kuat. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selalu diutamakan dan dilakukan secara mendalam. Masyarakat desa Karangsoga melakukan ibadah sholat berjamaah di surau Eyang Mus. Di surau Eyang Mus tersebut, masyarakat melakukan pendekatan kepada Sang Pencipta. Masyarakat desa Karangsoga percaya bahwa apapun yang terjadi, merupakan ketentuan Sang Pencipta. Masyarakat mempercayai adanya Tuhan, sehingga mereka melakukan ibadah sholat dan ibadah-ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki sikap magis religius dengan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Masyarakat desa adalah masyarakat yang memiliki sikap magis religius yang tinggi.
Setiap jalan kehidupan, dihubungkan dengan Sang Maha Pencipta. Masyarakat desa sering sholat berjamaah di surau Eyang Mus. Selain sholat, masyarakat desa Karangsoga juga melakukan ibadah-ibadah lainnya.Surau Eyang Mus dijadikan tempat untuk berserah diri. Hubungan jiwa dengan Sang Mahajiwa dilakukan di surau tersebut. Masyarakat desa sangat percaya terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
g. Pola Kehidupan.
Dilihat dari pola kehidupannya, masyarakat desa bermata pencaharian di bidang agraris, baik pertanian, perkebunan, dan lain-lain. Pada umumnya, masyarakat hanya mampu melaksanakan salah satu bidang kehidupan saja, dikarenakan tidak adanya keahliaan di bidang lain. Di desa, pertanian adalah satu-satunya pekerjaan yang harus ditekuni dengan baik. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Sejak masa kanak-kanak Kanjat hidup di tengah para penyadap itu. Bahkan karena ayahnya, Pak Tir, adalah tengkulak gula, Kanjat akrab dengan hampir semua keluarga penyadap di Karangsoga; akrab dengan keluh kesah atau tawa mereka, akrab dengan mimpi-mimpi dan kegetiran mereka.” (Ahmad Tohari,2013:87).
Berdasarkan kutipan yang tergambar di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat desa Karangsoga memiliki pola kehidupan yang bergerak di bidang perkebunan. Kanjat yang sejak kanak-kanak hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai penyadap nira kelapa. Kehidupan sebagai penyadap nira sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat desa Karangsoga. Tergambar bahwa perekonomian masyarakatnya tidak mencukupi.
Dapat pula dikatakan bahwa masyarakat desa Karangsoga hidup dalam kemiskinan.
Pada umumnya, masyarakat desa Karangsoga bekerja sebagai penyadap nira kelapa.
Hasil pertanian kebun kelapa menjadi sumber kehidupan di Karangsoga. Kehidupan masyarakatnya tidak lain hanya bergantung kepada nira kelapa yang ada di setiap kebun milik masyarakat desa tersebut. Bahkan ketika Kanjat kanak-kanak, ia sudah sangat akrab dengan kehidupan para penyadap. Hanya ayahnya saja yang menjadi tengkulak gula, yang memiliki kehidupan yang lebih baik.
2. Potret Sosial Masyarakat Kota dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari Potret sosial masyarakat kota pada novel Bekisar Merah dilihat berdasarkan ciri-ciri masyarakat itu sendiri, yaitu:
a. Pelapisan Sosial Ekonomi
Hartomo dan Aziz (1999:237) menyatakan bahwa perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat menimbulkan suatu keadaan yang heterogen. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Lebih tepat dikatakan kamu calon nyonya rumah ini. Meskipun begitu aku sudah menganggap kamu nyonya rumah sepenuhnya. Jadi jangan canggung.Kamu sudah tahu tempatnya bila kamu memerlukan makanan dan minuman. Juga lemari pakaianmu sudah tersedia dengan isinya. Tetapi maaf, aku belum mendapat pembantu yang cocok. Di sini baru ada Pak Min, sopir, dan Pak Ujang, penjaga.”(Ahmad Tohari,2013:160).
Berdasarkan kutipan di atas, dapat dilihat bahwa masyarakat kota memiliki kesejahteraan hidup dan pekerjaan yang berbeda. Di antara masyarakatnya ada yang berperan sebagai nyonya rumah dan ada pula yang bekerja sebagai pembantu, sopir, dan penjaga rumah untuk melayani tuan-tuannya. Pada saat Lasi pindah ke Jakarta, karena kecantikannya ia dijadikan istri oleh Pak Han, salah satu orang terpandang di Jakarta. Di rumah barunya, Lasi diperlakukan dengan sangat istimewa. Lasi menjadi nyonya besar di rumah tersebut. Lasi dilayani oleh sopir untuk mengantarkan kemanapun ia pergi, dan ditemani oleh penjaga rumah. Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa terdapat lapisan sosial yang terjadi pada masyarakat kota. Lasi yang menjadi istri orang kaya secara otomatis menduduki lapisan sosial teratas, dan para pekerja di rumahnya menduduki lapisan bawah. Berdasarkan lapisan-lapisan tersebut, menggambarkan bahwa kesejahteraan hidup masyarakat juga berbeda. Seperti Pak Min sebagai sopir, dan Pak Ujang sebagai penjaga menggantungkan hidupnya dari gaji yang diterimanya dari Pak Han sebagai pemilik rumah.
b. Individualisme
Hartomo dan Aziz (1999:237) menyatakan bahwa masyarakat kota adalah masyarakat yang individualis. Sikap individualisme ini timbul karena perbedaan antara pendidikan dan status sosial. Sifat gotong royong sudah jarang ditemui di kota. Masyarakat kota lebih rentan menyelesaikan masalah sendiri tanpa harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan anggota masyarakat lainnya. Tingkat pendidikan warga kota yang tinggi menyebabkan warga kota mampu menyelesaikan masalah dengan perorangan. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Eh, kamu nggak ngerti juga? Dengar, Las. Aku juga sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu menjadi milik Pak Bambung. Kalau kamu butuh surat cerai dari Handarbeni dan surat kawin dari Bambung, semuanya akan diatur dan bisa terlaksana secepat yang kamu inginkan.”
“Jadi, saya sudah dicerai oleh Pak Handarbeni?” tanya Lasi lugu. Atau bodoh.”
“Memang sudah. Kalau kurang percaya, bicaralah sendiri. Sekarang dia di kantor. Ayo, bicaralah sendiri.” (Ahmad Tohari, 2013:276)
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat kota memiliki sikap yang individualisme. Segala persoalan diselesaikan sendiri tanpa jalan musyawarah. Hal tersebut menjadi mudah apabila masyarakat tersebut memiliki uang banyak. Hal itu dirasakan oleh Lasi ketika ia tinggal di Jakarta. Pada saat Lasi ingin dijadikan istri oleh Pak Bambung, ia diceraikan oleh Pak Han. Bahkan urusan cerai sekalipun, Pak Han tidak perlu bermusyawarah dengan Lasi.
Masalah surat cerai akan diselesaikan oleh Pak Han dengan kekuatan uang yang ia punya.
Masalah perceraian dan perkawinan tidak perlu ada musyawarah. Hal tersebut bisa terlaksana jika seseorang memiliki banyak uang. Hal tersebut menggambarkan bahwa sikap individualis dimiliki oleh masyarakat kota, dengan adanya uang, tidak perlu dilakukan musyawarah untuk suatu masalah. Semua akan mudah dan bisa diselesaikan sendiri-dendiri..
c. Toleransi Sosial
Hartomo dan Aziz (1999:237) menjelaskan bahwa masyarakat kota merupakan masyarakat yang memiliki toleransi yang lemah. Segala persoalan yang terjadi pada anggota masyarakat lain, tidak terlalu mengundang simpati. Hal ini dikarenakan masyarakat kota memiliki kesibukan sendiri-sendiri dan mengurangi perhatian terhadap sesamanya.
“Las, dokter bisa menggugurkan kandunganmu tanpa kamu harus merasakannya. Paling-paling kamu disuruh mengisap sesuatu dari hidung, lalu tidur. Begitu kamu bangun dokter sudah selesai.” (Ahmad Tohari, 2013:333)
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat kota kurang memiliki toleransi sosial. Seperti Lasi yang diminta untuk menggugurkan kandungannya. Perihal menggugurkan kandungan adalah hal yang dianggap mudah dan gampang oleh masyarakat kota. Lasi diminta untuk menggugurkan kandungannya ke dokter, namun sebernarnya Lasi tidak menginginkan hal tersebut. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat kota kurang memiliki toleransi. Segala hal yang diperbuatnya berdasarkan apa yang ia suka, tanpa harus memikirkan orang-orang disekelilingnya..
d. Jarak Sosial
Hartomo dan Aziz (1999:237) menjelaskan bahwa secara fisik masyarakat kota itu berdekatan, tetapi dari segi sosial berjauhan, hal tersebut dikarenakan perbedaan kebutuhan dan kepentingan. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Kunjungan Bu Lanting selalu menyenangkan Lasi karena perempuan gemuk itu satu-satunya teman akrabnya. Dengan tetangga kiri-kanan, Lasi belum pernah ngobrol, meskipun ia sudah satu tahun lebih hidup bersebelahan, satu hal yang tak kunjung bisa dimengerti dan terus tak disukainya.”
(Ahmad Tohari,2013:241).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat kota memiliki jarak sosial. Sangat berbeda dengan masyarakat desa yang saling kenal dan mengetahui. Sejak Lasi tinggal di Jakarta, semua tampak berbeda. Bahkan dengan tetanggapun ia tidak saling kenal. Lasi merasakan perbedaan pada saat ketika ia tinggal di desa. Di Jakarta, Lasi hanya mengenal beberapa orang saja, salah satunya Bu Lanting. Bu Lanting akrab dengan Lasi pun dikarenakan ada suatu maksud tertentu, yaitu menjual Lasi kepada orang yang memiliki harta. Di Jakarta, keakraban bukanlah sesuatu yang mudah terjadi diantara masyarakatnya, seperti Lasi yang tidak akrab dengan tetangga-tetangga. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat kota memiliki kepentingan yang berbeda, sehingga menyebabkan terjadinya jarak diantara sesama anggota. Berdasarkan hal tersebut, jarak sosial sangat jelas terlihat pada masyarakat kota. Jarak yang terjadi antar sesama masyarakat di kota, menyebabkan sikap tidak saling mengenal, bahkan antar tetangga sekalipun..
e. Penilaian Sosial
Hartomo dan Aziz (1999:237) menyatakan bahwa perbedaan status, kepentingan, dan situasi kondisi kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di kota. Perbedaan kondisi kehidupan memberikan penilaian yang berbeda di dalam masyarakat tersebut. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.
“Bu Lanting kemudian memanggil mereka yang bekerja di rumah itu: tiga pembantu lelaki, dua pembantu perempuan, dua tukang kebun, dan tiga sopir.Ini Ibu Lasi, tetapi kalian sebaiknya menyebut dia Nyonya
Muda.Jika kalian berharap kenaikan gaji dari Pak Bambung, maka layanilah Nyonya Muda sebaik-baiknya.” (Ahmad Tohari,2013:318).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa masyarakat kota memberikan penilaian tinggi terhadap orang yang dipandang lebih. Setelah diserahkan oleh Pak Han ke Pak Bambung, kedudukan Lasi semakin tinggi. Lasi difasilitasi rumah mewah lengkap dengan pembantu- pembantunya. Sebagai nyonya muda, Lasi diperlakukan dengan sebaik-baiknya dan ia juga lebih dihormati. Pembantu-pembantu yang berada di rumah tersebut, harus melayani Lasi dengan sebaik-baiknya. Masyarakat bawah seperti pembantu tersebut harus lebih menghormati masyarakat yang berada pada strata tertinggi seperti Lasi. Masyarakat yang memiliki harta banyak, akan lebih dihormati dan disegani. Itu terlihat ketika Lasi menjadi istri Pak Bambung yang memiliki peran penting di Jakarta. Berdasarkan hal tersebut, jelas terlihat bahwa masyarakat kota memiliki penilaian sosial tertentu terhadap anggota masyarakatnya.
3. Kaitan Antara Potret Sosial Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari dan Kaitannya dengan Realitas yang Ada Di Tengah Masyarakat.
Berdasarkan realitas yang ada, masyarakat desa memang merupakan masyarakat yang akrab. Diantara sesama anggotanya memiliki sistem kekerabatan yang erat dan saling tolong- menolong. Di desa, masyakatnya juga saling mengetahui permasalahan yang ada pada anggota.
Masyarakat desa pada umumnya bergerak di bidang agraris, namun pada masa sekarang, pekerjaan masyarakat desa juga sudah beragam. Ini dikarenakan tingkat pendidikan masyarakatnya yang juga sudah maju. Masyarakat desa sekarang banyak yang berurbanisasi guna untuk memperbaiki taraf hidup anggotanya.
Di dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini juga menggambarkan tentang sosial masyarakat desa seperti yang sebenarnya. Masyarakat desa di Karangsoga memiliki pola kehidupan yang homogen. Hubungan keakraban paling diutamakan, keakraban terjadi dengan wujud musyawarah diantara masyarakat. Masyarakat juga memiliki kontrol sosial yang ketat, setiap anggota masyarakat mengetahui permasalahan yang terjadi pada anggota lain. Masyarakat juga hidup secara bergotong royong dan diikat oleh aturan-aturan. Bagi masyarakat desa yang melanggar aturan maka akan diberi hukuman. Masyarakat desa Karangsoga memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara mendalam. Mereka tidak melupakan Sang Pencipta meskipun hidup dalam kesusahan yaitu sebagai penyadap nira kelapa. Pola hidup masyarakat desa digambarkan secara nyata di dalam novel tersebut. Hanya saja perbedaan yang tampak ialah dalam hal mata pencaharian. Mata pencaharian masyarakat desa Karangsoga di dalam novel masih dominan dalam bidang agraris, sementara pada masyarakat sebenarnya sudah bermata pencaharian beraneka ragam.
Masyarakat kota memang memiliki lapisan hidup yang berbeda, sehingga menyebabkan penilaian yang berbeda pula dari anggotanya. Contohnya di kota Jakarta, orang yang berharta dan berkedudukan tinggi akan lebih dihargai dan disegani, seperti Pak Bambung yang dihargai oleh masyarakat lapisan atas lainnya. Di kota Jakarta, masyarakat bersikap individualis, segala permasalahan tidak perlu musyawarah. Masyarakat juga memiliki sikap toleransi yang lemah.
Jarak sosial juga terjadi pada masyarakat kota. Digambarkan bahwa Lasi merasa tidak nyaman karena ia tidak mengenal dan tidak akrab dengan para tetangganya. Dilihat dari novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini, cara hidup masyarakat kota digambarkan secara gamblang oleh pengarang. Di dalam novel ini, masyarakat kota juga digambarkan kurang memiliki dan memegang erat nilai budaya. Realitas kehidupan sosial masyarakat kota, benar-benar dijelaskan di dalam novel tersebut.
4. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa potret sosial pada masyarakat desa dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini, ditemukan tujuh ciri- ciri sosial masyarakatnya. Pertama, homogenitas sosial pada masyarakat desa tergambar pada kepercayaan dan pekerjaan yang sama. Kedua, memiliki hubungan primer yang akrab antar sesama masyarakatnya. Ketiga, masyarakat desa memiliki kontrol sosial yang ketat, setiap
permasalahan yang terjadi di desa Karangsoga diketahui oleh seluruh masyarakatnya. Keempat, saling gotong royong dan memberikan bantuan kepada sesama anggota masyarakat. Kelima, kehidupan desa Karangsoga diikat oleh adat istiadat yang ketat. Keenam, memiliki kepercayaan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketujuh, memiliki pola kehidupan yang sama sebagai penyadap nira.
Potret sosial masyarakat kota ditemukan lima ciri-ciri. Pertama, masyarakat kota memiliki lapisan sosial ekonomi yang berbeda. Kedua, diantara masyarakatnya lebih bersikap individualisme. Ketiga, toleransi sosial yang kurang pada sesama masyarakat. Keempat, jarak sosial juga terjadi diantara masyarakatnya. Kelima, masyarakat kota juga memiliki penilaian sosial yang berbeda.
Novel Bekisar Merah ini merupakan gambaran tentang kehidupan nyata masyarakat pada tahun 1990-an. Segala peristiwa sosial dan pola kehidupan masyarakat desa dan masyarakat kota dalam kehidupan nyata digambarkan secara nyata pula di dalam novel tersebut. Pada kenyataannya, masyarakat desa merupakan masyarakat yang memiliki hubungan yang akrab, saling mengenal, saling mengetahui, dan hidup dalam bidang agraris. Di dalam novel juga digambarkan kehidupan masyarakat desa yang demikian. Antara masyarakat kota dalam kehidupan nyata dan masyarakat kota yang tergambar dalam novel juga memiliki kaitan yang erat.
Realitas tentang kota dijelaskan secara nyata pada novel.
2. Saran
Penelitian ini disarankan bagi pembaca, diharapkan dapat memberikan penilaian terhadap karya sastra dengan persepsi dan interpretasi masing-masing. Pembaca juga diharapkan lebih menambah referensi mengenai sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel. Bagi penulis, diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru mengenai sosial masyarakat desa dan masyarakat kota dalam novel. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat mengembangkan penelitian mengenai sosiologi sastra.
5. Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar Mata Kuliah Dasar Umum. Jakarta: Rineka Cipta
.
Hartomo dan Aziz, Arnicun. 2001. MKDU: Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Denpasar: Pustaka Pelajar.
Semi, M. Atar. 2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Tohari, Ahmad. 2013. Bekisar Merah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.