Hasil tangkapan dan pendapatan nelayan
menurun tingginya insiden penyakit dan
pencemaran air terutama di kalangan keluarga miskin dan di bawah $5 Ekosistem tepi sungai berada
dalam ancaman serius, termasuk menurunnya stok ikan
kualitas air sungai semakin memburuk
sebagian besar rumah tangga dan pabrik membuang air limbah langsung
ke sungai
tingginya jumlah limbah padat yang dibuang ke sungai
Tertundanya Proyek Rempang Eco City
Pecahnya konflik masyarakat dan pemilik
kepentingan
Ketidakseimbangan komunikasi dan pemahaman antar dua
belah pihak (pemerintah- masyarakat)
Kurangnya sosialisasi pemilik kepentingan dengan masyarakat
Masyarakat tidak mendapatkan ganti rugi yang
layak
Kompensasi yang tidak transparan
Perencanaan bisnis yang buruk
Ketidakjelasan bukti kepemilkan hak atas
tanah
BP Batam memiliki izin, sedangkan warga
merasa memiliki hak tinggal
Pengelolaan administrasi yang
buruk Kerugian investasi
MEG dan Xinyi Grup
Warga Tidak Setuju dengan
Relokasi Rumahnya
Pemerintah dapat melakukan konservasi alam dan
lingkungan, serta menerapkan
kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah dapat belajar dari kesalahan dan meningkatkan transparansi
dan akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek-proyek
pembangunan di masa mendatang.
Membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat Meningkatkan upaya
perlindungan hak asasi manusia dalam pelaksanaan proyek- proyek pembangunan.
BP Batam akan memberikan kompensasi
kepada warga yang menolak PSN di Rempang
dalam bentuk rumah hingga biaya hidup.
Relokasi warga rampung pada 28 September 2023 ini
yang mencakup 4 perkampungan, dimana 1 kampung di luar Rempang
untuk tower PT MEG.
BP Batam menegaskan akan tetap melanjutkan pembangunan PSN tersebut sesuai
rencana.
Masyarakat yang Pihak kepolisian akan
membantu proses verifikasi penduduk dengan Surat Keterangan Tanah (Alas Hak)
dari camat.
(BP) Batam memprioritaskan
merelokasi 4 perkampungan adat di
Rempang .
Rempang Eco City dari sisi pemerintah