Wacana Hadits dan Hukum Islam dalam Dialektika Kajian Kontemporer vi yang terdiri dari metode linguistik, metode sejarah, metode komparatif, metode induksi dan metode deduksi. Bagian kedua membahas hukum Islam dari bab enam yang membahas tentang metode kajian ilmiah hukum Islam.
PEDOMAN TRANSLITERASIPEDOMAN TRANSLITERASI
KRITIK HADIS DALAM PERSPEKTIF STUDI KONTEMPORER
Para ulama hadits telah mengembangkan prinsip-prinsip dasar kritik hadis (dira>yah al-h}adi>th) yang dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori: (i) yang terkait dengan sistem isnad dan (ii) yang terkait dengan meta hadits. Kedua, kritik hadis dalam disiplin ilmu khusus, yaitu ilmu al-jarh} wa al-ta'di>l.
HADIS NABI DI MATA ORIENTALIS
Goldziher mengklaim bahwa sebagian besar hadits yang terdapat dalam kitab-kitab kumpulan hadits mengandung 'semacam keraguan daripada reliabilitas'. Kelima, tidak hanya hadis-hadis yang diperdebatkan kebenarannya, tetapi juga ayat-ayat al-Qur'an yang mendukung dan membuktikan kebenaran hadis-hadis Nabi juga diperdebatkan.
METODE KRITIK HADIS
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengkritisi hadits, khususnya hadits yang bersifat evaluasi. Banyak ungkapan hadits (must}alah al-h}adi>th) yang dibuat dengan menggunakan metode induksi ini. Hal ini terlihat misalnya pada hadis-hadis bermasalah berupa adanya interupsi di tengah-tengah sanad yang disebut hadits munqat}i' dan hadits-hadits lainnya.
Hadis munqat}i' ialah hadis yang terputus di tengah sanad oleh seorang atau lebih perawi, tetapi tidak berturut-turut. Hadis mu'allaq ialah hadis yang diputuskan pada permulaan sanad oleh seorang atau lebih perawi. Hadis mursal ialah hadis yang diputuskan pada akhir sanad oleh seorang atau lebih perawi.
ORIENTALISTS CRITICISM
One of many areas of study conducted by the orientalists is the hadith of the Prophet. In the field of h}adi>th the Orientalist attitudes are closely linked to their attitudes and images of the Prophet Muhammad. Among the scholars of h}adi>th (al-muh}addithu>n), sunnah and h}adi>th are synonymous, but h}adi>th in general term used for everything reported from the Prophet after he was a prophet (bi'tha).
Based on his opinion, he concluded that most of the isna>d in the hadith books are engineering results of. Furthermore, to clarify the theory, Azami made a special study of the hadith of the Prophet included in the classical texts. This conclusion contradicts Schacht's conclusion about the reconstruction of the formation of the sanad and matn of a hadith.
ﷲا لﻮﺳر اﺪﻤﳏ ناو ﷲا ﻻا ﻪﻟا ﻻ نا ةدﺎﻬﺷ ﺲﲬ ﻰﻠﻋ مﻼﺳﻻا ﲎﺑ
Thus he believed that the writing of the h}adi>th began in the late second century after the Hijra. However, his skepticism is based on the absence of the oldest authentic evidence of h}adi>th materials originating from the generation of the Companions. He stated that the tadwi>n al-h}adi>th began in the early second century of the Hijra.
According to Goldziher, they also made false h}adi>th for permission for its writing.50. Thus, according to Goldziher and Schacht, sunnah or h}adi>th is not something that came from the Prophet, but the results. This opinion has been refuted by the h}adi>th scholars, as will be explained later.
THE CRITICISM OF H }}}} ADITH AND IT’S PROBATIVENESS
In this case, severe criticism is one thing, but its rejection is another. Some Muslims believe that all hadiths are valid, while others do not. H}adi>th scholars developed the basic principles of his criticism (dira>yah al-h}adi>th), which can be classified into two categories: criticism relating to the isna>d system and criticism relating to the matn (text).
Scholars of hadith tend to recognize the sanad as external, as well as evidence of its authenticity. Due to the above qualifications in addition to knowing the principles of criticism of hadith texts, a ciritic (na>kid al-ruwa>h) can analyze the validity and accuracy of hadith texts (matn). We use a valid h}adi>th (al-h}adi>th al-s}ah}i>h}) as evidence for doctrine or for legal rulings.
METODE KAJIAN KEILMUAN HUKUM ISLAM
Metode Deduksi-Koherensi
Metode deduktif-koheren - yang dalam kajian us}u>l fiqh dapat disamakan dengan metode istidla>l dan istinba>t} - bergerak dari yang umum ke yang khusus, dari konsep umum ke hal-hal yang khusus, lalu ditarik kesimpulan. Dengan munculnya ilmu pengetahuan berbasis masyarakat ilmiah, terdapat empat sumber ilmu (sebagai landasan penalaran), yaitu nash-nash Al-Qur'an, As-Sunnah, qiya>s dan ijma'. Metode deduksi dan koherensi ini dapat digunakan dalam kajian ilmiah hukum Islam dengan kaidah dan tata cara di atas.
Metode deduksi didasarkan pada dalil bahwa kebenaran hukum Islam sudah ada, yaitu dalam ketentuan Alquran atau hadis Nabi. Pendekatan dan metode di atas menghasilkan produk hukum Islam yang baik yang disepakati para pihak. Dengan demikian, yurisprudensi Islam epistemologis dapat dipelajari melalui pemikiran tentang dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi, yang dilakukan melalui ijtihad terhadap ayat-ayat atau hadits-hadits hukum, dengan metode istinbath tertentu, yang kemudian melahirkan produk hukum berupa fikih.
Metode Induksi-Korespondensi
Metode yang digunakan dalam kajian hukum Islam ini tidak persis sama dengan metode induksi-korespondensi ilmu pengetahuan pada umumnya, karena pernyataan umum sebagai generalisasi peristiwa tertentu tidak diperoleh dengan menarik kesimpulan dari data di lapangan, melainkan dikaitkan terlebih dahulu dengan teks-teks teks al-qur an atau hadits. Metode induksi ini dapat digunakan dalam ilmu hukum Islam sebagai disiplin ilmu yang dianalisis secara ilmiah. Melalui penelaahan terhadap berbagai materi keilmuan hukum Islam sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing, maka ditarik generalisasi yang kemudian dijadikan kesimpulan.
139 Dengan demikian, ilmu hukum Islam dapat diperoleh dengan mempelajari peristiwa-peristiwa hukum empiris sedikit demi sedikit, satu per satu, baik berupa sampel maupun populasi yang diteliti berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits, kemudian ketentuan hukum dijabarkan dalam bentuk kesimpulan gagasan-gagasan hukum. Pola pikir induktif dalam fikih Islam berbeda dengan pola pikir yang sama dalam ilmu pengetahuan umum. Jika dalam ilmu pengetahuan umum pencarian kebenaran diawali dengan fakta di lapangan kemudian ditarik kesimpulan dari berbagai fakta, maka dalam fikih kesimpulan tidak didasarkan pada “apa” fakta tersebut, tetapi bagaimana fakta itu ada secara hukum, sehingga kesimpulan tidak hanya didasarkan pada pernyataan fakta, tetapi pada pernyataan dalil tentang fakta tersebut, seperti pada dalil Al-Qur’an atau hadis Nabi.
Metode Ilmiah
Hukum Islam merupakan hasil kegiatan deduktif (istinbatiy) para ulama terhadap al-qur an dan hadits. Dengan demikian, tidak boleh timbul suasana ketimpangan antara hukum Islam dengan perkembangan masyarakat.” Dengan menggunakan metode keilmuan di atas, ilmu hukum Islam dapat dikembangkan dengan memasukkan teori, konsep, proposisi, norma hukum dan mengaitkannya dengan fakta empiris.
Penggunaan metode ilmiah tersebut dikarenakan keilmuan hukum Islam sebagai ilmu harus memenuhi standar keilmuan yang diukur dengan prosedur dan metode keilmuan. Kajian ilmiah hukum Islam berlangsung secara logis, rasional, sesuai dengan kaidah berpikir murni. Masalah-masalah yang dikaji ilmu hukum Islam dianalisis sedemikian rupa sehingga satu masalah secara eksplisit diklasifikasikan ke dalam masalah yang lain.
Metode Fenomenologis
Kebenaran hukum Islam secara empiris dirasakan dalam kaitannya dengan upaya manusia untuk memahami objek atau peristiwa. Kebenaran ilmiah hukum Islam, dilakukan dengan logika empiris, diawali dengan penalaran logis hukum Islam, yang kemudian dicari pembuktiannya di lapangan. Kebenaran ilmiah hukum Islam tidak hanya dikaji dari segi teori-teori yang melatarbelakanginya, tetapi juga dari segi nilai-nilai etika yang dikandungnya.
Jika dilihat dari sudut filsafat ilmu yang membagi kajian ilmu berdasarkan tiga kategori; ontologi, epistemologi dan aksiologi, fikih Islam tidak lepas dari aspek nilai, termasuk nilai etika. Melalui metode fenomenologi diharapkan kajian keilmuan hukum Islam dapat menjembatani kesenjangan antara positivisme logis dan etika Islam sebagaimana dikhawatirkan. Pada gambar di atas terlihat bahwa keilmuan hukum Islam di Fakultas Syariah dapat dikaji dengan menggunakan metode fenomenologis melalui pendekatan sensual empiris, logis empiris, etis empiris dan transendental.
Metode Struktural Fungsional
Analisis prosedural, yaitu analisis mata kuliah ilmu hukum Islam dengan kompetensinya masing-masing dengan rangkaian urutan pencapaiannya, tidak ada yang menjadi prasyarat kompetensi lainnya. Analisis hirarki, yaitu analisis mata kuliah keilmuan hukum Islam dimana satu kompetensi hanya dapat dipelajari jika kompetensi lainnya telah dipelajari dan dikuasai. Analisis ini dilakukan karena ada mata kuliah yang bergradasi, dimana satu mata kuliah menjadi prasyarat bagi mata kuliah lainnya.
Analisis klasifikasi dilakukan dengan mengelompokkan mata kuliah yang tidak saling bergantung satu sama lain. Analisis kombinasi, yaitu analisis mata kuliah dengan menggunakan analisis prosedural, analisis hirarki dan analisis klasifikasi secara bersamaan, atau gabungan dari ketiga jenis analisis tersebut untuk kajian mata kuliah keilmuan hukum Islam. Dengan kata lain, kompetensi yang ingin dicapai berupa informasi kognitif, afektif, psikomotor atau verbal yang terdapat dalam mata kuliah keilmuan hukum Islam diidentifikasi dan kompetensi mana yang ditempatkan pertama, kedua, dan seterusnya.
INTEGRASI HUKUM ISLAM DALAM SISTEM HUKUM
NASIONAL INDONESIA
Persoalannya kemudian dengan munculnya fenomena hukum Islam yang sebagian sudah menjadi hukum positif, apakah telah terjadi integrasi hukum Islam ke dalam sistem hukum nasional Indonesia. Menyimpang dari fakta di atas, hukum Islam harus menjadi bagian dari sistem hukum nasional, selalu mendukung tumbuhnya negara kesatuan yang kuat berwawasan kebangsaan, bukan sebaliknya. Banyak ahli hukum kita yang fobia terhadap hukum Islam jika dijadikan hukum positif, padahal mayoritas bangsa ini beragama Islam.
Alasan klasik yang sering muncul terkait penerapan syariat Islam dalam sistem hukum nasional di Indonesia adalah ketakutan akan terjadinya disintegrasi, karena Indonesia terdiri dari berbagai kelompok sosial-keagamaan dan politik. Hal ini terlihat dari segi isinya karena selama ini tidak ada yang unik dari langkah-langkah penyesuaian syariat Islam dengan perundang-undangan nasional. Jika hal ini terjadi, integrasi hukum Islam ke dalam sistem hukum nasional tidak akan mengalami kesulitan dan tidak terbatas pada undang-undang yang selama ini diatur di peradilan agama.
PERS DALAM WACANA HUKUM
Sistem kebebasan pers Indonesia merupakan bagian dari sistem kebebasan untuk “menyatakan pikiran secara lisan dan tulisan” sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 di atas. Secara material, secara aktif, kreatif, dan positif berperan serta dalam memelihara demokrasi ekonomi sesuai dengan ketentuan Pasal 33 UUD 1945, dalam pengelolaan korporasi. 40 Tahun 1999 menekankan kebebasan – sebagaimana undang-undang ini menyebut kebebasan pers – sebagai bentuk kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum (Bab II, Pasal 2).
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 antara lain disebutkan bahwa kemerdekaan pers merupakan perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kebebasan berpikir dan berpendapat sebagaimana dimaksud dalam § 28 Undang-Undang Dasar 1945 harus terjamin. Wartawan Indonesia, menurut Pasal 2 Kode Etik Jurnalistik, mempertimbangkan dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan apakah pantas atau tidak menyiarkan berita tertulis atau grafis yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, keyakinan, dan kepercayaan suatu kelompok yang dilindungi undang-undang. Tanggung jawab pers tercermin dalam pelaksanaan fungsi, kewajiban, hak, dan peran pers, sebagaimana tercantum dalam § 5 UU No.