PROFIL KONFORMITAS KELOMPOK TEMAN SEBAYA KELAS XI DI SMAN 1 BONJOL KABUPATEN PASAMAN
ARTIKEL
Oleh:
FAISAL AMRAN NPM. 11060008
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2016
PROFIL KONFORMITAS KELOMPOK TEMAN SEBAYA KELAS XI DI SMAN 1 BONJOL KABUPATEN PASAMAN
Oleh:
Faisal Amran*
Fifi Yasmi, S.Pd.I.,M.Pd**
Alfaiz, S.Psi.I.,M.Pd**
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This research is motivated by the finding of the number of students who similize their behavior towards the group so as to avoid disapproval. The purposes of this study are to see: 1) Form of conformity in the form of student's willingness (compliance), 2) Form of conformity in the form of student's acceptance at SMAN 1 Bonjol Pasaman district. This research is quantitative descriptive study. The study population is all students of class XI SMAN 1 Bonjol Pasaman district. The sampling technique is proportionate stratified random sampling which take as many as 144 people. The instrument used is a questionnaire. The data analysis technique used is percentages. Based on the results of the study found that: 1) Form of conformity in the form of student's willingness is in the high category, 2) Form of conformity in the form of student's acceptance is in the high category. The results of this study recommend the school to develop and enhance a good key role for the students.
Keywords: Conformity peer groups
PENDAHULUAN
Setiap manusia sebagai makhluk pribadi mengalami beberapa proses perkembangan dalam hidupnya, baik secara fisik maupun psikologis. Mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja sampai pada masa dewasa dan usia tua. Pada setiap masanya, manusia akan menemukan hal-hal baru dan pengalaman-pengalaman baru yang akan menuntunnya ke masa selanjutnya. Setiap tahap perkembangan memiliki serangkaian tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik.
Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada suatu tahap akan melancarkan ketercapaian tugas-tugas perkembangan pada tahap berikutnya.
Remaja merupakan salah satu tahap perkembangan yang akan ditempuh oleh manusia. Menurut Hurlock (Ali dan Asrori 2004:10) salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja adalah mampu membina hubungan baru dengan teman sejenis maupun teman yang berbeda jenis kelamin. Menurut Mappiare (Ali dan
Asrori 2004:9) bahwa usia yang berlangsung antara usia 12 tahun hingga 22 tahun yang dikatan remaja. Dalam ini, remaja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peserta didik yang duduk di bangku SMA.
Tujuan pendidikan nasional;
sebagaimana tercantum dalam Undang- undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II, Pasal 3, yang berbunyi sebagai berikut:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Masa SMA peserta didik berada pada masa transisi dari anak-anak menuju kehidupan
dewasa yang disebut remaja. Hal tersebut merupakan masa yang sulit dan bergejolak bagi mereka, karena pada masa itu memiliki pertumbuhan fisik yang sangat pesat dan secara psikologis peserta didik berada dalam pencarian identitas diri sehingga mereka cenderung untuk seperti halnya labil, ingin berada dalam kebebasan emosional dari orangtua dan mulai mengikat diri dalam suatu kelompok teman sebaya yang dikatakannya adalah segala-galanya. Kondisi inilah yang harus dimiliki supaya peserta didik memiliki iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta tanggung jawab sesuai dengan undang-undang pada paragraf sebelumnya.
Di sekolah peserta didik masih ditemukan berbagai bentuk pelanggaran dari akhlak mulia tersebut, seperti kenakalan remaja pada peserta didik, dengan bentuk pelanggaran norma-norma sosial.
“Perkembangan kehidupan sosial peserta didik ditandai dengan meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam hidup mereka. Sebagian besar waktu remaja d i h a b i s k a n u n t u k me l a k u k a n i n t e r a k s i s o s i a l d e n g a n t e ma n -t e ma n s e b a ya n ya” (Desmita 2009:229).
Menurut Kartono (2008:13)
“Kebanyakan peserta didik membentuk kelompok bermain yang beroperasi bersama- sama untuk mencari pengalaman baru yang menggairahkan dan melakukan eksperimen yang merangsang jiwa mereka”. Dari permainan lama kelamaan menjadi semakin liar dan tidak terkendali. Adapun penyebab dari rasa ingin tahu yang membuat peserta didik mencoba hal-hal baru. Hal positifnya adalah peserta didik bisa menjadi pengamat yang baik untuk mendapatkan pengetahuan tentang berinteraksi yang baik terhadap teman sebayanya. Sedangkan, hal negatif peserta didik berperilaku tidak sesuai dengan nilai ataupun aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat. Sesuai dengan pendapat Hurlock (1996:219) yang menyatakan bahwa
“Kelompok teman sebaya memberikan sebuah dunia, tempat remaja dapat melakukan sosialisasi dalam suasana dimana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang diletakkan oleh orang dewasa, melainkan oleh teman-teman seusianya”.
Hurlock (1996:217) menyatakan bahwa “Salah satu fenomena perilaku yang terjadi dalam hubungan antara seorang peserta didik dengan kelompok teman sebayanya adalah konformitas”. Karena adanya
kepentingan seorang peserta didik terhadap kelompok teman sebayanya, maka motivasi untuk konformitas terhadap nilai dan kebiasaan. Myers (Sarwono, 2001:160) konformitas merupakan suatu perubahan perilaku serta kepercayaan atau belief yang disebabkan oleh adanya tekanan kelompok yang dirasakan secara nyata atau hanya sebagai suatu imajinasi dari individu tersebut.
Lebih lanjut Myers (2005:252) menyatakan bahwa “Konformitas adalah perubahan tingkah laku atau kepercayaan agar selaras dengan orang lain”. Konformitas sebagai bentuk perilaku untuk menyesuaikan diri dengan kelompok dapat terjadi hanya sebagai perilaku yang tampak atau hanya permukaan saja, tetapi konformitas dapat pula diinternalisasikan oleh seseorang. Perilakunya dalam kelompok, pikiran, perasaan ataupun sikapnya mengarah setuju dan selaras dengan kelompoknya. Sesuai dengan pendapat Sarwono (2001:182) menjabarkan
“Konformitas sebagai bentuk perilaku sama dengan orang lain yang didorong oleh keinginan sendiri. Adanya konformitas dapat dilihat dari perubahan perilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang dibayangkan saja”.
Dasar utama dari konformitas adalah ketika peserta didik melakukan aktivitas yang mana terdapat keinginan kuat untuk melakukan sesuatu yang sama dengan yang lainnya, walaupun tindakan tersebut merupakan cara-cara menyimpang. Sesuai dengan pernyataan Santrock (2003:221) yang mengatakan bahwa “Konformitas teman sebaya muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka”. Lebih lanjut Camarena (Santrock, 2003:221) menyatakan bahwa konformitas teman sebaya pada peserta didik dapat menjadi positif dan menjadi negatif.
Konformitas pada peserta didik dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi peserta didik itu sendiri, misalnya dampak positif konformitas dalam belajar apabila peserta didik ikut dalam kelompok yang senang belajar bersama secara tidak langsung peserta didik melakukan konformitas dalam belajar. Konformitas pun dapat memberikan dampak negatif seperti minum-minuman beralkohol, merokok, pola hidup konsumtif.
Di dalam gaya hidup pun mereka dapat melakukan konformitas, peserta didik tidak malu untuk berpacaran di depan umum, peserta didik bermesraan dan berpelukan di
depan umum. Sesuai dengan pendapat Kotia (Sarwono, 2005:164) bahwa remaja biasanya memiliki standar norma tertentu yang sesuai dengan kelompok mereka. Sehingga untuk pelanggaran norma-norma yang berlaku tidak menjadi suatu persoalan karena mereka memiliki aturan norma yang berlaku di dalam kelompok yang tidak mereka langgar.
Bagi sebagian peserta didik yang bergabung dalam kelompok teman sebaya melakukan duplikasi tindakan dengan mengikuti cara berpakaian dan bertindak sama dengan teman-teman yang lebih dulu dalam kelompok adalah untuk penerimaan dari anggota. Meskipun pada dasarnya peserta didik yang menirukan gaya berpakaian dan tindakan-tindakan seniornya dalam kelompok tidak begitu paham akan esensi dari tindakan tersebut. Ini sesuai dengan pendapat Ali dan Asrori (2004:85) menyatakan bahwa dalam
“Hubungan sosial dengan kelompok teman sebaya peserta didik sering timbul dan berkembangnya rasa takut yang berlebihan sehingga peserta didik tidak berani mengambil inisiatif, tidak berani mengambil keputusan dan tidak berani memutuskan pilihan teman yang dianggapnya sesuai”.
Peserta didik perlu mendapat perhatian dari orangtua di rumah dan guru di lingkungan sekolah terutama pada guru BK/konselor sekolah terkait dengan konformitas peserta didik dalam kelompok teman sebaya. Melalui kelompok teman sebaya peserta didik belajar tentang dunia luar. Sesuai dengan pendapat tersebut menurut Prayitno (2013:158) bahwa
“Perubahan adalah arah sejatinya dari peristiwa belajar. Secara konkret hasil belajar salah satunya adalah dari yang tidak terbiasa menjadi terbiasa”. Hal tersebut, jika peserta didik terbiasa dalam meniru maka peserta didik akan tidak memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.
Fenomena di lapangan selama melakukan PPLBK di sekolah pada September 2014 sampai dengan Desember 2014 dan pengamatan ulang di lapangan pada hari senin tanggal 26 Oktober 2015 dan pada hari selasa tanggal 27 Oktober wawancara terhadap 3 orang guru BK/konselor sekolah yang ditemukan: peserta didik yang menyamakan perilakunya terhadap kelompok sehingga dapat terhindar dari celaan, memilih untuk tetap mengikuti aturan kelompok karena takut terasingankan oleh temannya, memilih untuk mengikuti aturan kelompok agar tidak dicemoohan teman sebaya, tidak percaya diri jika memiliki handphone yang tidak sama dengan terhadap kelompok, mengikuti apapun
yang dilakukan oleh kelompok tanpa mempedulikan pendapatnya sendiri seperti merokok, rela membolos sekolah dengan alasan mengikuti temannya, memiliki potongan rambut yang tidak sesuai dengan aturan sekolah, menyamakan cara berpakaian terhadap kelompok seperti pada peserta didik wanita berpakaian ketat, rok pendek dan peserta didik laki-laki seperti celana yang sengaja disobek dan diketatkan, beberapa peserta didik saat mengatur jadwal bimbingan kelompok peserta didik tidak hadir dalam kegiatan dengan alasan sebagian teman tidak dapat hadir sehingga memutuskan untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut.
Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti mencoba untuk meneliti permasalahan tentang “Profil Konformitas Kelompok Teman Sebaya Kelas XI di SMAN 1 Bonjol Kabupaten Pasaman”.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka batas penelitian ini untuk melihat.
1. Bentuk konformitas peserta didik yang berupa menurut/kerelaan (compliance).
2. Bentuk konformitas peserta didik yang berupa penerimaan (acceptance).
Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat dirumuskan “bagaimana profil konformitas kelompok teman sebaya peserta didik di SMAN 1 Bonjol?”
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Bentuk konformitas peserta didik yang berupa menurut/kerelaan (compliance).
2. Bentuk konformitas peserta didik yang berupa penerimaan (acceptance).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Yusuf ( 2007: 64 ) mengatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan secara detail.
Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMAN 1 Bonjol yang memperlihatkan perilaku konformitas kelompok teman sebaya di sekolah dengan jumlah 736 orang. Dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling dengan jumlah 144 orang.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data interval. Menurut Nazir (2009:131) data interval adalah suatu pemberian angka kepada setiap dari objek
yang mempunyai sifat-sifat ukuran ordinal dan ditambah satu sifat lain, yaitu jarak yang sama pada pengukuran interval memperlihatkan jarak yang sama dari ciri satu objek yang diukur.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah peserta didik yang dijadikan sampel penelitian ini tentang bentuk konformitas kelompok teman sebaya peserta didik berupa menurut/kerelaan (compliance) dan penerimaan (acceptance), sedangkan data sekunder diperoleh dari pihak sekolah, dengan meminta data-data seluruh peserta didik.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Yusuf (2007:252) angket adalah satu rangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan topik tertentu diberikan kepada sekelompok individu dengan maksud untuk memperoleh data. Untuk pengolahan data dilakukan dengan menggunakan rumus persentase. Menurut Sudijono (2010: 43) persentase dapat dihitung dengan rumus:
P = x 100%
Keterangan:
P : Persentase
f : Frekuensi Jawaban
N : Jumlah frekuensi atau banyaknya individu
100 : Bilangan tetap
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Profil Konformitas Kelompok Teman Sebaya Berkenaan Menurut/Kerelaan (Compliance)
Secara umum profil konformitas kelompok teman sebaya SMAN 1 Bonjol Pasamanberkenaan menurut/kerelaan (compliance) pada kriteria sangattinggi dengan persentase 5,56 terdapat 8 orang peserta didik, kriteria tinggi dengan persentase 63,89terdapat 92 orang peserta didik dankriteria sedang dengan persentase 30,56 terdapat 44 orang peserta didik mengungkapkan bahwa sebagian besar profil konformitas kelompok teman sebaya SMAN 1 Bonjol Pasamanberkenaan menurut/kerelaan (compliance)berada pada kriteria tinggi 63,89.
Konformitas teman sebaya berkenaan menurut/ kerelaan berada pada kategori tinggi hal ini terlihat bahwa sebagian besar peserta didik memiliki perilaku meniru yang dilakukan secara
terbuka walaupun hatinya tidak setuju.
Peserta didik melakukan hal tersebut dikarenakan adanya pengaruh sosial dari teman kelompok bahkan perilaku individu tersebut muncul disebabkan adanya tekanan dari teman kelompoknya sehingga peserta didik tersebut berperilaku sesuai tekanan kelompok. Hal ini juga disebabkan peserta didik memiliki rasa takut terhadap penyimpangan terhadap aturan yang dibuat dalam kelompok.
Sarwono (2001:173) menyatakan bahwa “Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum walaupun hatinya tidak setuju”. Kalau perilaku menurut ini adalah terhadap suatu perintah maka namanya adalah ketaatan (obedience), misalnya peserta didik yang mengikuti pakaian yang sesuai dengan aturan kelompoknya, sepatu yang sama dan atribut yang sama.
Selanjutnya Myers (2012:253)
“Compliance konformitas ini terjadi karena pengaruh sosial yang bersifat normatif”. Hal ini melibatkan perilaku kita sesuai dengan harapan orang lain. Bentuk konformitas ini dimana individu berperilaku sesuai dengan tekanan kelompok, sementara secara pribadi individu yang bersangkutan tidak menyetujui perilaku tersebut. Konformitas ini terjadi untuk diterima di dalam kelompok atau untuk menghindari penolakan.
Menurut Sears (Hartati, 2013:29) compliancedapat dipengaruhi oleh:
a. Rasa takut terhadap penyimpangan.
Rasa takut dianggap sebagai orang yang menyimpang, merupakan alasa utama terjadinya terjadinya konformitas compliance. Rasa takut ini diperkuat oleh anggapan kelompok terhadap perilaku menyimpang.
Penyimpangan yang terjadi dalam kelompok, dapat mengakibatkan seseorang menerima resiko yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan atau ditolak kelompok.
b. Kekompakkan kelompok
Semakin kuat ketertarikan individu terhadap kelompok, maka semakin kuat juga konformitas yang terjadi. Ketika anggota-anggota kelompok yang berkerja satu tujuan yang sama mereka cenderung untuk konform dibandingkan mereka tidak berada dalam satu kesatuan. Dan ketika rasa suka anggota kelompok yang satu
terhadap yang lain semakin besar, maka semakin besar pula harapan untuk memperoleh manfaat dari anggota kelompok dan kelompok tersebut semakin kompak.
Kekompakkan yang semakin tinggi akan mempertinggi konformitas.
c. Kesepakatan
Anggota kelompok dihadapkan pada keputusan kelompok yang bulat, akan merasa mendapat tekanan yang kuat untuk dapat menyesuaikan pandapat atau perilakunya. Namun bila satu orang saja yang tidak sependapat dengan anggota lainnya, tingkat konformitas dalam kelompok tersebut akan menurun. Hal ini terjadi pertama, karena pelanggaran kesepakatan yang berarti kemungkinan terdapat perbedaan pendapat atau penilaian antara anggota. Kedua, anggota yang tidak setuju dengan kelompok akan menimbulkan penolakan. Ketiga, berkurangnya kesepakatan terhadap kelompok mengurangi keyakinan anggota terhadap kelompok itu sendiri.
2. Profil Konformitas Kelompok Teman Sebaya Berkenaan Penerimaan (Accept)
Secara umum profil konformitas kelompok teman sebaya SMAN 1 Bonjol Pasamanberkenaan penerimaan (accept) yaitu kriteria tinggi dengan persentase 0,69 terdapat 1 orang peserta didik, kriteria tinggi dengan persentase 61,81 terdapat 89 orang peserta didik dan kriteria sedang dengan persentase 37,50 terdapat 54 orang peserta didik,hal ini mengungkapkan bahwa sebagian besar profil konformitas kelompok teman sebaya SMAN 1 Bonjol Pasamanberkenaan penerimaan (accept) berada pada kriteria tinggi 61,81.
Konformitas teman sebaya berkenaan penerimaan berada pada kategori tinggi hal ini mengungkapkan bahwa sebagian besar pesera didik memiliki perilaku meniru disebabkan karena kepercayaan kepada teman kelompok dan kepercayaan pada diri sendiri. Peserta didik memiliki keyakinan pada teman keolompok bahwa yang dilakukan dalam kelompok tersebut adalah benar.
Sarwono (2001:173) menyatakan bahwa ’Accept adalah konformitas yang disertai perilaku dan kepercayaan yang sesuai dengan tatanan sosial, misalnya berganti agama sesuai kepercayaan sendiri,
memenuhi ajakan teman-teman untuk membolos”.
Selanjutnya Myers (2012:253) menyatakan bahwa ”Acceptance terjadi karena pengaruh sosial yang bersifat informatif. Bentuk konformitas ini dimana perilaku dan keyakinan individu sesuai dengan tekanan kelompok”.
Menurut Sears (Hartati, 2013:27) acceptance dapat dipengaruhi oleh:
a. Kepercayaan terhadap kelompok Masalah utama apakah individu mempercayai informasi yang dimiliki kelompok atau tidak. Semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok, maka semakin besar kemungkinan untuk menyesuaikan atau mengikuti kelompok. Dengan kata lain, jika individu yang selalu berpendapat kelompoknya selalu benar maka individu tersebut akan mengikuti apapun yang dilakukan kelompoknya tanpa mempedulikan pendapatnya sendiri.
b. Kepercayaan terhadap diri sendiri Konformitas akan menurun jika individu memiliki kepercayaan diri sendiri. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri adalah tingkat penilaian individu terhadap kemampuan yang dimilikinya. Faktor lain adalah kesulitan, semakin sulit hal yang harus dihadapi, maka semakin rendah rasa percaya diri yang dimiliki individu.
Menurut Saputro dan Soeharto (2012) ciri-ciri remaja yang melakukan konformitas terhadap teman sebaya yaitu.
1) Remaja akan berperilaku sama atau sesuai dengan kelompok dan bersikap menerima serta mematuhi norma- norma yang ada dalam kelompok 2) Remajaakan lebih sering bertemu dan
berkumpul bersama dengan teman dalam kelompoknya daripada dengan orang di luar kelompok
3) Remaja akan menyepakati serta menyesuaikan pendapatnya sendiri dengan pendapat yang dianut oleh mayoritas anggota kelompok
4) Remaja akan lebih mementingkan perannya sebagai anggota dalam suatu kelompok daripada mengembangkan pola norma sendiri
5) Remaja akan mencari informasi tentang kelompoknya dengan tujuan supaya remaja dapat berperilaku secara benar dan tepat di dalam kelompoknya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan temuan hasil penelitian mengenai
“profil konformitas kelompok teman sebaya SMAN 1 Bonjol Pasaman”, dapat disimpulkan bahwa secara umum berada pada kategori sangat berperan. Sedangkan hasil penelitian berdasarkan sub variabel yang terkait dengan variabel dari penelitian ini adalah menurut/kerelaan (compliance) dan penerimaan (acceptance) dapat diketahui dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Profil konformitas kelompok teman sebaya berkenaan menurut/kerelaan (compliance) SMAN 1 Bonjol Kabupaten Pasaman, berada pada kategori tinggi. Berdasarkan indikator kekompakkan kelompok berada pada kategori tinggi, dan kesepakatan berada pada kategori tinggi.
2. Profil konformitas kelompok teman sebaya berkenaan penerimaan (accept) SMAN 1 Bonjol Kabupaten Pasaman, berada pada kategori tinggi. Berdasarkan indikator berkenaan dengan kepercayaan terhadap kelompok berada pada kategori tinggi dan kepercayaan terhadap diri sendiri berada pada kategori tinggi.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas maka dalam penelitian ini, peneliti ingin mengajukan berapa saran:
1. Peserta Didik
Diharapkan peserta didik yang memiliki perilaku konformitas dapat memutuskan segala sesuatu dengan hati, jika memiliki hambatan dalan pergaulan dalam menentukan sikap maka perlu dampingan orangtua dan guru, karena masa remaja adalah masa yang labil, masa di mana seseorang butuh dampingan dari orangtua agar dapat menjalani masa perkembangan yang baik menuju masa dewasa yang lebih baik.
2. Orangtua
Diharapkan orangtua yang kurang baik perannya dalam perkembangan remaja agar dapat menjalankan peran sebagai pendidik utama dan pertama dalam masa perkembangan remaja, dan agar remaja dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya dengan baik. Untuk orangtua yang sangat berperan diharapkan meningkatkan lagi perannya dalam membantu perkembangan remaja tersebut.
3. Pengelola program studi
Diharapkan kepada pengelola program studi bimbingan dan konseling agar dapat
dijadikan masukan dalam meningkatkan mutu pendidikan, untuk mengaplikasikan ilmu di lapangan dan sebagai masukan dalam mengembangkan mata kuliah yang berhubungan dengan judul peneliti.
4. Guru BK
Diharapkan kepada guru BK untuk dapat mengatasi prilaku konformitas kelompok teman sebaya di SMAN 1 Bonjol kabupaten Pasaman.
5. Peneliti selanjutnya
Agar dapat melanjutkan penelitian tentang kontribusi konformitas terhadap peserta didik.
KEPUSTAKAAN
Ali, Moh dan Asrori, Moh. 2004. Psikologi Remaja. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta Bumi.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik: Panduan bagi Orangtua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak SD, SMP, dan SMA. Jakarta:
Rosdakarya.
Hartati, Sih Utami. 2013. “Hubungan Bentuk Konformitas Teman Sebaya terhadap Tipe Perilaku Merokok pada Remaja Laki-Laki Usia Pertengahan di SMAN 97 Jakarta”. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Hurlock, E, B. 1996. Psikologi suatu Perkembangan Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Myers, David G. 2012. Psikologi Sosial.
Jakarta: SalembaHumanika.
Nazir, Moh. 2009. Metode Penelitian. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Santrock. J. W. 2003. Perkembangan Remaja.
Jakarta: Erlangga.
Saputro, Bayu Mardi dan Soeharto, Triana Noor Edwina Dewayani. 2012.
“Hubungan Antara Konformitas terhadap Teman Sebaya dengan Kecenderungan Kenakalan Pada Remaja”. Jurnal.Universitas Mercu BuanaYogyakarta. Vol 10 No 1.
Sarwono, Sarlito W. 2001. Psikologi Sosial:
Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: SalembaHumanika.
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:
Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.
Yusuf, A Muri .2007. Metodologi Penelitian.
Bonjol:UNP