DOI: 10.25273/linguista.v6i2.14693 Some rights reserved.
Profil minat baca siswa SMA atau Sederajat di Kabupaten Bangkalan
Naelur Rohmah1, Muhammad Busyro Karim1
1Universitas Trunojoyo Madura, Jalan Raya Telang Po Box 2 Kamal, Bangkalan, 0313011146, Indonesia
Email: [email protected]; [email protected]
Naskah diterima: 29/10/2022; Revisi: 29/11/2022; Disetujui: 28/12/2022
Abstrak
Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh minat baca. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan minat baca siswa di tingkatan SMA atau sederajat di Kabupaten Bangkalan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari 56 siswa dengan rincian 25 siswa jurusan IPA di SMAN 4 Bangkalan dan 31 siswa jurusan TKJ di SMKN 3 Bangkalan. Instrumen minat baca menggunakan angket minat baca yang terdiri dari aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, aspek kesadaran akan manfaat membaca, dan aspek frekuensi membaca. Instrumen angket minat baca termasuk dalam kategori valid dengan nilai reliabilitas Cronbach Alpha = 0,938, termasuk dalam kategori reliabel.
Angket minat baca dianalisis menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan dengan SPSS Versi 18. Simpulan hasil penelitian ini bahwa minat baca di tingkat sekolah menengah atas atau sederajat termasuk dalam kategori rendah. Aspek minat baca yang masih dalam kategori rendah adalah aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, dan aspek frekuensi membaca, sedangkan aspek kesadaran manfaat membaca yaitu mayoritas siswa termasuk dalam kategori sedang.
Kata Kunci: minat baca; sekolah menengah atas; bangkalan
The profile of students’ reading interests of senior high schools level in Bangkalan
Abstract
The reading interest is very important to improve student achievement. The purpose of this study is to describe the reading interest of students at the high school level or equivalent in Bangkalan Regency. The research method used was descriptive quantitative. The subjects of this study consisted of 56 students with details of 25 students majoring in science at SMAN 4 Bangkalan and 31 students majoring in TKj at SMKN 3 Bangkalan. The reading interest instrument used a reading interest questionnaire which consisted of aspects of reading pleasure, aspects of attention to reading, aspects of awareness of the benefits of reading, and aspects of reading frequency. Reading interest questionnaire instrument was included in the valid
category with a reliability value of Cronbach Alpha = 0.938, included in the reliable category. The reading interest questionnaire was analyzed into three categories, namely low, medium, and high. The data analysis of the research results was carried out using SPSS Version 18. The conclusion of this study is that reading interest at the high school level or equivalent is included in the low category. The aspects of reading interest are that there are still in the low category at aspects of reading pleasure, aspects of attention to reading, and aspects of reading frequency, while aspects of awareness of the benefits of reading, namely the majority of students are included in the medium category.
Keywords: the reading interest; Senior High School; Bangkalan
Pendahuluan
Membaca di zaman sekarang menjadi kebutuhan mendasar setiap individu. Menurut Basuki (1992) melalui membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan pengetahuan. Jika seseorang malas untuk membaca berarti pengetahuan dia terbatas. Ilmu pengetahuan dan wawasannya lainnya akan terkuak dan diperoleh seseorang apabila diawali dari minat baca. Semakin baik kemampuan membaca seseorang maka akan semakin tinggi minat bacanya.
Di tingkat Internasional, UNESCO menyebut Indonesia memiliki minat baca hanya 0,001%, yang berarti minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Dari fakta tersebut dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara yang masyarakatnya memiliki minat baca yang rendah. United Nations Development Program (UNDP) pada tahun 2014 melaporkan bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia berada pada peringkat 108 dari 187 negara. Hal tersebut menunjukan kualitas sumber daya manusia Indonesia berada di tingkat menengah. Salah satu faktor penyebab Indonesia belum menempati posisi atas adalah karena rendahnya kualitas pendidikan. Keadaan tersebut diperburuk dengan masih dominannya budaya tutur daripada budaya baca (Sudiana, 2020). Hasil survei dari Universitas Airlangga (Unair), Surabaya pada tahun 2019 menyatakan bahwa ada 9 kabupaten atau kota di Jawa Timur yang dijadikan objek penelitian, termasuk di Bangkalan. Bangkalan berada pada predikat terakhir dari 9 kabupaten/kota dengan indeks 2, 78, di bawah Pasuruan, Situbondo, dan Tuban kaitannya dengan minat baca ((Mandasari, 2019).
Sudiana (2020) memaparkan bahwa setiap kehidupan harus melibatkan kegiatan membaca. Kenyataannya, minat membaca masyarakat khususnya anak sebagai pelajar saat ini masih rendah. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan (Rachmananta, 2003) bahwa saat ini siswa yang memasuki jenjang pendidikan rendah dan menengah memiliki minat baca yang relatif rendah.
Rendahnya minat baca siswa akan berpengaruh pada kualitas kognitifnya (Musa, 2016).
Rendahnya minat baca bisa disebabkan karena mahalnya harga buku dan terbatasnya fasilitas perpustakaan (Triatma, 2016). Faktor lain yang mempengaruhi minat baca rendah juga dikarenakan pada saat ini siswa lebih menyukai membaca atau melihat media sosial di smartphone masing-masing,
Vol. 6 No. 2, Desember 2022, hal 144-155.
sehingga mengurangi keinginan masyarakat untuk membaca bahkan mengunjungi perpustakaan (Budiantoro, 2021). Rendahnya aktivitas membaca juga dipengaruhi oleh dominannya menonton televisi dan bermain game (Pranowo, 2018).
Rendahnya minat baca menentukan kualitas pendidikan, dimana kualitas pendidikan itu menentukan kualitas sumber daya manusia di setiap negara (Sudiana, 2020). Kegiatan membaca harusnya berperan penting dalam dunia pendidikan sebab tanpa membaca khazanah pengetahuan siswa akan kosong.
Ini akan berdampak pada kesiapan mereka bersaing dalam bidang keilmuan (Wulandari & Haryadi, 2020). Oleh karena itu, siswa di Indonesia harus mampu membangun minat baca dalam segi kehidupannya.
Minat baca menurut Dalman (2018) merupakan dorongan untuk memahami kata demi kata dan isi yang terkandung dalam teks bacaan tersebut, sehingga pembaca dapat memahami hal-hal yang dituangkan dalam bacaan tersebut. Senada dengan pernyataan Tarigan (1987) bahwa minat baca merupakan kemampuan seseorang berkomunikasi dengan diri sendiri untuk menangkap makna yang terkandung dalam tulisan sehingga memberikan pengalaman emosi akibat dari bentuk perhatian yang mendalam terhadap makna bacaan.
Siswa yang memiliki minat baca rendah, akan berdampak pada semangat belajar. Sebagaimana menurut Ruslan & Wibayanti (2019) minat baca dapat berpengaruh pada minat belajar siswa. Artinya, apabila siswa mempunyai minat baca yang tinggi dan atas dasar kemauannya sendiri maka siswa itu akan melakukan kegiatan membaca dengan sepenuh hati dan mencapai tujuan yang diinginkannya. Hal tersebut senada dengan pernyataan Wulandari (2020) bahwa minat baca seseorang sangat berpengaruh pada kualitas pengetahuan. Apabila minat baca tinggi maka informasi dan pengetahuan akan cepat dimiliki.
Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Metode ini bertujuan untuk mengetahui kondisi minat baca siswa melalui data kuantitatif yang diringkas dalam bentuk tabel atupun diagram. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA di SMAN 4 Bangkalan dan siswa XI TKJ SMKN 3 Bangkalan. Sampel penelitian ini adalah 1 kelas SMAN 4 pada jurusan IPA sebanyak 25 siswa dan 1 kelas SMKN 3 jurusan TKJ sebanyak 31 siswa.
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik angket yaitu siswa diminta memberikan tanggapan minat baca melalui angket dengan skala likert yaitu sangat sesuai, sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai. Instrumen angket minat baca telah valid dan reliabel dengan Cronbach Alpha = 0,938 diadopsi dari penelitian sebelumnya (Wulandari 2020). Minat baca yang diukur terdiri dari 4 aspek yaitu dari aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, aspek kesadaran akan manfaat membaca, dan aspek frekuensi membaca.
Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan dengan SPSS Versi 18 kemudian di analisis tingkat persentase tiap aspek sebagai dasar kategorisasi.
Kemudian mencari nilai rata-rata hitung pada setiap indikator sehingga dapat
diketahui tingkat kategorinya. Analisis minat baca peserta didik dikelompokkan ke dalam tiga kategori, di antaranya tinggi, sedang, dan rendah yang diadaptasi dari penelitian Sudijono (2015) sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kategori minat baca No. Interval Kategori
1. X > 82
% Tinggi
2. 63% < X
< 82%
Sedang 3. X < 63% Rendah
HASIL dan PEMBAHASAN
Angket minat baca dicetak kemudian dibagikan kepada 25 siswa SMAN 4 Bangakalan dan 31 siswa SMKN 3 Bangkalan. Peneliti memandu secara langsung dengan tujuan agar setiap pernyataan dalam angket minat baca dapat dipahami oleh siswa. Peneliti menegaskan kepada seluruh siswa untuk mengisi sesuai dengan kondisi sebenarnya. Adapun seluruh data pengisian angket oleh siswa dianalisis rata-rata seluruh aspek minat baca dan analisis 4 aspek minat baca yaitu dari aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, aspek kesadaran akan manfaat membaca, dan aspek frekuensi membaca.
1. Analisis Minat Baca
Seluruh aspek minat baca mulai dari aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, aspek kesadaran akan manfaat membaca, dan aspek frekuensi membaca. Adapun rata-rata seluruh aspek minat baca diringkas pada Tabel 2 dan pesebaran minat baca ditunjukkan pada Gambar 1.
Tabel 2. Analisis minat baca Siswa N Skor
Minimal
Skor Maksimal
Rentang Skor
Skor rata-
rata
Standar Deviasi
Persentase Kategori
SMA 25 26 67 41 46,48 2,5 58% Rendah
SMK 31 32 56 24 43,45 1,4 54% Rendah
Vol. 6 No. 2, Desember 2022, hal 144-155.
Gambar 1. Histogram Persebaran Tingkat Minat Baca SMA dan SMK Berdasarkan Tabel 2 diperoleh hasil bahwa sebanyak 25 siswa SMA skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 26 dan maksimal 67, rata-rata skor 46,48 dengan standar
deviasi
2,5, dan tingkat persentase diperoleh 58%sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Adapun sebanyak 31 siswa SMK skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 32 dan maksimal 56, rata-rata skor 43,45 dengan standar deviasi 1,4, dan tingkat persentase diperoleh 54%
sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa baik siswa SMA maupun SMK, kedua sekolah tersebut termasuk dalam kategori rendah dalam minat baca.
Adapun uraian secara rinci tingkat minat baca ditunjukkan pada Gambar 1. Tingkat persentase pada kategori rendah SMA sebesar 52% dan SMK sebesar 77%, kategori sedang SMA sebesar 40% dan SMK sebesar 23%, sedangkan kategori tinggi SMA sebesar 8% dan SMK sebesar 0%.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pada analisis minat baca baik SMA maupun SMK mayoritas berada pada kategori
rendah
.2. Analisis Setiap Aspek Minat Baca
Aspek minat baca terdapat 4 aspek yaitu dari aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, aspek kesadaran akan manfaat membaca, dan aspek frekuensi membaca. Deskripsi tiap aspek sebagaimana berikut.
a. Aspek Kesenangan Membaca
Aspek ini siswa perlu menjawab 6 pernyataan mulai dari perasaan puas, perasaaan semangat, perasaan bahagia, perasaan senang, prioritas membaca,
dan sering lupa waktu saat membaca. Adapun hasil pada aspek ini diringkas pada Tabel 3 dan Gambar 2.
Tabel 3. Analisis aspek kesenangan membaca Siswa N Skor
Minimal
Skor Maksimal
Rentang Skor
Skor rata-
rata
Standar
Deviasi Persentase Kategori
SMA 25 6 22 16 14,32 0,89 60% Rendah
SMK 31 10 22 12 14,13 0,48 59% Rendah
Gambar 2. Histogram Persebaran Tingkat Kesenangan Membaca SMA dan SMK Berdasarkan Tabel 3 diperoleh hasil bahwa sebanyak 25 siswa SMA skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 6 dan maksimal 22, rata-rata skor 14,32 dengan standar deviasi 0,89, dan tingkat persentase diperoleh 60%
sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Adapun sebanyak 31 siswa SMK skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 10 dan maksimal 22, rata-rata skor 14,13 dengan standar deviasi 0,48, dan tingkat persentase diperoleh 59%
sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa baik siswa SMA maupun SMK, kedua sekolah tersebut termasuk dalam kategori rendah dalam aspek kesenangan membaca.
Adapun uraian secara rinci pesebaran tingkat kesenangan membaca ditunjukkan pada Gambar 2. Tingkat persentase pada kategori rendah SMA sebesar 52% dan SMK sebesar 74%, kategori sedang SMA sebesar 36% dan SMK sebesar 23%, sedangkan kategori tinggi SMA sebesar 12% dan SMK sebesar 3%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pada analisis aspek kesenangan membaca baik SMA maupun SMK mayoritas berada pada kategori rendah.
Vol. 6 No. 2, Desember 2022, hal 144-155.
b. Aspek Perhatian terhadap membaca
Pada aspek ini siswa perlu memberikan jawaban 4 pernyataan mulai dari perhatian membeli buku, ketertarikan membaca, ketertarikan keperpustakaan, dan ketertarikan terhadap bahan bacaan. Adapun hasil pada aspek ini diringkas pada Tabel 4 dan Gambar 3.
Tabel 4. Analisis aspek perhatian terhadap membaca Siswa N Skor
Minimal
Skor Maksimal
Rentang Skor
Skor rata-
rata
Standar
Deviasi Persentase Kategori
SMA 25 4 13 9 8 0,54 50% Rendah
SMK 31 4 12 8 7,1 0,39 45% Rendah
Gambar 3. Histogram Persebaran Tingkat Perhatian terhadap Membaca
Berdasarkan Tabel 4 diperoleh hasil bahwa sebanyak 25 siswa SMA skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 4 dan maksimal 13, rata-rata skor 8 dengan standar deviasi 0,54, dan tingkat persentase diperoleh 50% sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Adapun sebanyak 31 siswa SMK skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 4 dan maksimal 12, rata-rata skor 7,1 dengan standar deviasi 0,39, dan tingkat persentase diperoleh 45% sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa baik siswa SMA maupun SMK, kedua sekolah tersebut termasuk dalam kategori rendah dalam aspek perhatian terhadap membaca.
Adapun uraian secara rinci pesebaran tingkat perhatian terhadap membaca ditunjukkan pada Gambar 3. Tingkat persentase pada kategori rendah SMA sebesar 88% dan SMK sebesar 90%, kategori sedang SMA sebesar 12% dan SMK sebesar 10%, sedangkan kategori tinggi SMA sebesar 0% dan SMK sebesar 0%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa pada analisis aspek perhatian terhadap membaca baik SMA maupun SMK mayoritas berada pada kategori rendah.
c. Aspek Kesadaran Manfaat Membaca
Pada aspek ini siswa perlu memberikan 7 pernyataan mulai dari keinginan sendiri membaca, memperluas wawasan, kesadaran manfaat membaca, mencari bahan bacaan, menambah kosakata, dan memahami pelajaran. Adapun hasil pada aspek ini diringkas pada Tabel 5 dan Gambar 4.
Tabel 5. Analisis aspek kesadaran manfaat membaca Siswa N Skor
Minimal
Skor Maksimal
Rentang Skor
Skor rata-
rata
Standar
Deviasi Persentase Kategori
SMA 25 11 25 14 18,36 0,84 66% Sedang
SMK 31 7 21 14 17,03 0,62 61% Rendah
Gambar 4. Histogram Persebaran Tingkat Kesadaran Manfaat Membaca
Berdasarkan Tabel 5 diperoleh hasil bahwa sebanyak 25 siswa SMA skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 11 dan maksimal 25, rata-rata skor 18,36 dengan standar deviasi 0,84, dan tingkat persentase diperoleh 66%
sehingga siswa termasuk dalam kategori sedang. Adapun sebanyak 31 siswa SMK skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 7 dan maksimal 21, rata-rata skor 17,03 dengan standar deviasi 0,62, dan tingkat persentase diperoleh 61%
sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa SMA dalam kategori sedang dalam aspek kesadaran manfaat membaca, sedangkan siswa SMK termasuk dalam kategori rendah dalam aspek kesadaran manfaat membaca.
Adapun uraian secara rinci pesebaran tingkat kesadaran manfaat membaca ditunjukkan pada Gambar 4. Tingkat persentase pada kategori
Vol. 6 No. 2, Desember 2022, hal 144-155.
rendah SMA sebesar 36% dan SMK sebesar 48%, kategori sedang SMA sebesar 44% dan SMK sebesar 52%, sedangkan kategori tinggi SMA sebesar 20% dan SMK sebesar 0%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pada analisis aspek kesadaran manfaat membaca baik SMA maupun SMK mayoritas berada pada kategori sedang.
d. Aspek Frekuensi Membaca
Pada aspek ini siswa perlu memberikan 3 pernyataan mulai dari membaca perhari, membaca perminggu, dan membaca diwaktu luang. Adapun hasil pada aspek ini diringkas pada Tabel 6 dan Gambar 5.
Tabel 6. Analisis aspek frekuensi membaca Siswa N Skor
Minimal
Skor Maksimal
Rentang Skor
Skor rata-
rata
Standar
Deviasi Persentase Kategori
SMA 25 3 12 9 5,8 0,53 48% Rendah
SMK 31 3 8 5 5,1 0,32 43% Rendah
Gambar 5. Histogram Persebaran Tingkat Frekuensi Membaca
Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa sebanyak 25 siswa SMA skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 3 dan maksimal 12, rata-rata skor 5,8 dengan standar deviasi 0,53, dan tingkat persentase diperoleh 48% sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Adapun sebanyak 31 siswa SMK skor minimal yang diperoleh siswa yaitu 3 dan maksimal 8, rata-rata skor 5,1 dengan standar deviasi 0,32, dan tingkat persentase diperoleh 43% sehingga siswa termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa baik siswa SMA maupun SMK, kedua sekolah tersebut termasuk dalam kategori rendah dalam aspek frekuensi membaca.
Adapun uraian secara rinci pesebaran tingkat frekuensi membaca ditunjukkan pada Gambar 5. Tingkat persentase pada kategori rendah SMA sebesar 72% dan SMK sebesar 87%, kategori sedang SMA sebesar 24% dan SMK sebesar 13%, sedangkan kategori tinggi SMA sebesar 4% dan SMK
sebesar 0%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pada analisis aspek frekuensi membaca baik SMA maupun SMK mayoritas berada pada kategori rendah.
Pembahasan
Analisis minat baca untuk siswa SMAN 4 Bangkalan pada jurusan IPA diperoleh melalui angket yang diberikan pada tanggal 20 September 2022.
Siswa SMKN 3 Bangkalan pada jurusan TKJ lebih awal yaitu pada tanggal 16 September 2022. Berdasarkan hasil analisis angket minat baca terdapat dua temuan utama yaitu baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan termasuk dalam kategori rendah dan aspek minat baca yang disukai siswa adalah kesadaran manfaat membaca. Secara rinci temuan tersebut diuraikan secara detail sebagaimana berikut.
Pertama rendahnya minat baca baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan. Persentase minat baca yang diperoleh untuk siswa SMAN 4 Bangkalan sebesar 58% sedangkan SMKN 3 Bangkalan 54% (Tabel 2). Hasil tersebut diperkuat dengan persebaran kategori minat baca yang menunjukkan bahwa baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan mayoritas berada pada kategori rendah (Gambar 1). Rendahnya minat baca dipengaruhi tiga aspek minat baca yaitu kesenangan membaca, perhatian terhadap membaca, dan frekuensi membaca.
Aspek kesenangan membaca baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan persentase rata-rata kelas termasuk dalam kategori rendah (Tabel 3), dan mayoritas persebaran kategori aspek kesenangan membaca termasuk dalam kategori rendah (Gambar 2). Sama halnya dengan aspek kesenangan membaca, pada aspek perhatian terhadap membaca baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan persentase rata-rata kelas termasuk dalam kategori rendah (Tabel 4), dan mayoritas persebaran kategori aspek perhatian membaca termasuk dalam kategori rendah (Gambar 3). Begitu halnya aspek frekuensi membaca baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan persentase rata-rata kelas termasuk dalam kategori rendah (Tabel 6), dan mayoritas persebaran kategori aspek frekuensi membaca termasuk dalam kategori rendah (Gambar 5).
Rendahnya minat baca mengkonfirmasi beberapa hasil penelitian.
Penelitian dengan teknik survei dari Unair tahun 2019 yang menunjukkan bahwa kabupaten Bangkalan sebagai kabupaten di Jawa Timur yang menduduki peringkat terendah dalam hal minat baca (Mandasari, 2019). Hasil tersebut juga mengkonfirmasi penelitian Siswati (2010) dengan subjek penelitian 92 mahasiswa semester 1 dengan kesimpulan bahwa waktu membaca siswa kurang lebih hanya mencapai 1 jam setiap hari.
Bahkan hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan sebelumnya, penelitian dilakukan oleh Wulandari dan Haryadi (2020) dengan subjek SMAN 1 Purworejo minat baca siswa mampu termasuk dalam kategori sedang. Pihak sekolah perlu segera menindaklanjuti temuan hasil penelitian ini, hal ini disebabkan minat baca berkorelasi terhadap prestasi belajar siswa (Mandasari,
Vol. 6 No. 2, Desember 2022, hal 144-155.
2019). Hal lain yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah adalah membiasakan membaca buku sebelum pembelajaran berlangsung (Elendiana, 2020). Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya siswa perlu diberi stimulus minat baca mulai dari lingkungan rumah, sosial, dan perpustakaan (Kasiyun, 2015).
Temuan kedua yaitu faktor yang disukai siswa adalah kesadaran manfaat membaca. Kategori minat baca yang diperoleh untuk siswa SMAN 4 Bangkalan adalah sedang, sedangkan SMKN 3 Bangkalan kategori rendah (Tabel 5). Namun persentase rerata minat baca antara SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan tidak jauh berbeda yaitu 66% dan 61% atau hanya terpaut 4 % (Tabel 5). Secara detail persebaran kategori kesadaran manfaat membaca yang menunjukkan bahwa baik siswa SMAN 4 Bangkalan maupun SMKN 3 Bangkalan mayoritas berada pada kategori sedang (Gambar 4).
Minat baca dapat termotivasi apabila ada manfaat atau keuntungan yang diperoleh. Hasil temuan ini mengkonfirmasi penelitian yang telah dilakukan oleh (Ruslan & Wibayanti, 2019)yaitu meningkatkan motivasi minat baca melalui memberi pemahaman dan mengadakan event atau perlombaan yang membuat siswa gemar membaca. Cara lain yang dapat meningkatkan motivasi minat baca melalui peningkatan kualitas sarana dan prasana (Elendiana, 2020).
Dengan demikian guru perlu mengadakan kegiatan pembelajaran yang menarik siswa agar motivasi membaca meningkat baik berupa kegiatan yang menyenangkan maupun kondisi lingkungan yang mendukung siswa untuk senang membaca.
KESIMPULAN
Simpulan hasil penelitian ini bahwa minat baca ditingkat sekolah menengah atas atau sederajat baik SMA mapun SMK di Bangkalan termasuk dalam kategori rendah. Aspek minat baca yang masih dalam kategori rendah baik siswa SMA maupun SMK yaitu aspek kesenangan membaca, aspek perhatian terhadap membaca, dan aspek frekuensi membaca. Sementara aspek minat baca yang masih disukai siswa SMA maupun SMK yaitu aspek kesadaran manfaat membaca yaitu mayoritas siswa termasuk dalam kategori sedang. Agar minat baca dapat lebih baik maka diperlukan peran orang tua, guru, dan fasilitas pendukung ruang baca, serta desain pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat baca siswa. Kelemahan penelitian ini adalah masih sedikitnya sampel yang diteliti sehingga belum sepenuhnya menggambarkan kondisi keseluruhan siswa di tempat penelitian. Ke depan perlu adanya penambahan sampel dan perlu adanya intervensi dari pihak sekolah untuk meningkatkan minat baca siswa
Daftar Pustaka
Basuki, S. (1992). Pengantar Ilmu Pengetahuan. Gramedia.
Budiantoro, W. (2021). Pandemi Covid-19 Berperan dalam Menurunnya Indeks Minat Baca Masyarakat Jawa Barat. Pikiran Rakyat.
https://galajabar.pikiran-rakyat.com
Dalman, H. (2018). Keterampilan Membaca. PT. Raja Grafindo.
Elendiana, M. (2020). Upaya meningkatkan minat baca siswa sekolah dasar.
Jurnal Pendidikan dan Konseling, 2(1), 54-60.
Kasiyun, S. (2015). Upaya meningkatkan minat baca sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa. Jurnal Pena Indonesia, 1(1), 79-95.
Mandasari, D. S. (2019). Hubungan Minat Baca di Perpustkaan Dengan
Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran IPS di SDN Pejagan 9 Bangkalan.
INVENTA: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 3(2), 186-191.
Musa, M. I. (2016). Dampak rendahnya minat baca dikalangan mahasiswa PGSD Lampeuneurut Banda Aceh serta cara meningkatkannya. Jurnal Pesona Dasar, 3(4).
Pranowo, P. (2018). Membangun Budaya Baca Melalui Membaca Level Akademik. . Pustaka Pelajar.
Rachmananta, D. (2003). Konferensi pers dalam rangka Hari Aksara Nasional (HAN) tahun 2003. Perpusnas. www.perpusnas.go.id
Ruslan, R., & Wibayanti, S. H. (2019). Pentingnya Meningkatkan Minat Baca Siswa. prosiding seminar nasional program pascasarjana universitas pgri palembang,
Sudiana, N. (2020). Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Sukasada Tahun Pelajaran 2017/2018 Melalui Gerakan Literasi Sekolah dengan Pocari dan Puding. Journal of Education Action
Research, 4(1), 10-16.
Tarigan, H. G. (1987). Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa.
Angkasa.
Triatma, I. N. (2016). Minat baca pada siswa kelas VI sekolah dasar negeri delegan 2 prambanan sleman Yogyakarta. E-Jurnal Skripsi Program Studi Teknologi Pendidikan, 5(6), 166-178.
Wulandari, T., & Haryadi, H. (2020). Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah terhadap Minat Baca dan Keterampilan Membaca Siswa SMA N 1
Purworejo. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(2), 92-97.