PENGARUH PENGUASAAN MATERI AQIDAH AKHLAK TERHADAP PERILAKU PESERTA DIDIK KELAS X DI MADRASAH ALIYAH TARBIYAH ISLAMIYAH KERKAP
KABUPATEN BENGKULU UTARA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri Bengkulu Untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Dalam Bidang Tarbiyah
OLEH :
EVI PUTRIANI
NIM: 1516510031PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU 2020
i
MOTTO
“Man Jadda Wa Jadda”
Barang siapa yang bersungguh - sungguh akan mendapatkannya.
“Berangkat Dengan Penuh Keyakinan, Berjalan Dengan Penuh Keikhlasan, Istiqomah Dalam Menghadapi Cobaan”
(By Evi Putriani)
PERSEMBAHAN
Dengan iringan rasa syukur dan doa kepada Mu Ya Allah SWT, melalui perjuangan, semangat dan motivasi, secara perlahan aku meraih cita – cita dan masa depan yang lebih baik, serta penuh ketulusan skripsi ini aku persembahkan untuk :
1. Suamiku tercinta (M.Toha) dan Kedua orang tuaku Bak (Alm. M. Hasan) dan Mak (Rasi’a) serta Bak mertua (Alm. Abu Bakar) dan Mak Mertua (Almh. Nur Jimah) yang sangat aku hormati, cintai dan sayangi, yang telah menyasihi dan membimbing serta mendoakanku di setiap langkahku, untuk melangkah maju menjadi orang yang lebih baik.
2. Kakak, Ayuk dan Adik-adikku serta anak-anakku (Hengki,Ami,Rindi,Hasri,Tiara,Erna,Dzaky dan Arif) yang kucintai dan kusayangi. Terima kasih atas doa, kelucuan dan senyuman manismu yang merupakan semangat dan harapan bagi Bunda.
3. Bapak Mukhlis, S.Pd, Bapak Drs. M. Rahmad, Ibu Darwilis, S.Ag dan Bapak Ibu Guru Beserta Staf TU Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara yang telah memberikan telah memberikan semangat dan dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.
4. Sahabat dan teman – teman kelas ARMA PAI B. terima kasih atas motivasi, semangat dan inspirasi.
5. Teman-teman seperjuangan angkatan 2015.
6. Agamaku dan Almamater Institut Agama Islam Negeri Bengkulu kebanggaanku.
ABSTRAK
Evi Putriani, 1516510031, 2019.”Pengaruh Penguasaan Materi Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara”. Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah,IAIN Bengkulu. Dengan Pembimbing : I.
Deni Febrini, M.Pd, II. Abdul Aziz Mustamin, M.Pd.i.
Kata Kunci : Materi Akidah Akhlak, Perilaku Peserta Didik.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sejauh mana peran dan pengaruh penguasaan materi peserta didik pada mata pelajaran Akidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik agar perilaku peserta didik tidak melenceng dari nilai nilai moral atau akhlak yang diajarkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada pengaruh antara penguasaan materi Akidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara ?. Tujuan Peneltian ini adalah Mengetahui pengaruh yang signifikan antara penguasaan materi Akidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Kuantitatif.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara. Kesimpulan Penelitian ini adalah Dalam proses pembelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara, mendapatkan 40 responden yang menjawab angket dengan kategori skor sedang dari 42 responden. Begitu juga keadaan perilaku peserta didik di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara, sebanyak 12 responden yang menjawab angket dengan kategori skor sedang dari 42 responden. Proses pembelajaran materi akidah akhlak di kategorikan cukup berpengaruh terhadap perilaku peserta didik di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara.
Dengan rumus r hitung sebesar 0,35 = 0,4 dan rumus r tabel pada signifikan 5%
sebesar 0,308. Dengan demikian nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (0,4 >
0,308), maka dapat disimpulkan Adanya (Ha) penguasaan materi akidah akhlak terhadap perilaku peserta didik kelas X di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara.
KATA PENGANTAR
ِميِحهرلا ِن َٰ مْحهرلا ِ هاللَّ ِمْسِب
Assalamua’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syukur alhamdulillah, Penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penguasaan Materi Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara”. Shalawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini banyak mendapat bimbingan, arahan, petunjuk serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. H . Sirajuddin M, M.Ag., M.H, Selaku Rektor Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, yang telah memfasilitasi selama proses perkuliahan berlangsung selama ini.
2. Dr. Zubaedi, M. Ag., M.Pd, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Tadris Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu beserta stafnya yang selalu mendorong keberhasilan penulis.
3. Ibu Nurlaili, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Tabiyah Fakultas Tabiyah dan Tadris Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, yang telah memberikan semangat kepada penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Adi Saputra, M.Pd selaku Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Tadris Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, yang telah memberikan support dan masukan-masukan dalam setiap kegiatan.
5. Ibu Deni Febrini, M.Pd selaku Pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan, mengoreksi dan memberikan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.
6. Bapak Abdul Aziz Mustamin, M.Pd.I selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan, mengkoreksi dan memberikan bimbingan dalam penulisan Skripsi ini.
7. Bapak Ahmad Irfan, S.Sos.I., M.Pd.I, Kepala perpustakaan dan seluruh Staf pegawai Perpustakaan IAIN Bengkulu yang telah membantu kelancaran penulis dalam menulis skripsi ini melalui peminjaman buku.
8. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan yang luas.
9. Bapak Muklis, S.Pd selaku Kepala beserta Guru Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara yang telah memberikan izin dan memberikan data untuk melakukan penelitian di sekolah ini.
10. Serta seluruh pihak yang ikut membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis hanya bias berdoa, semoga Allah SWT membalas kebaikan-kebaikan mereka dengan setimpal. Aamiin
Atas bantuan yang diberikan hingga terselesainya skripsi ini penulis ucapkan terima kasih, semoga amal baiknya dibalas oleh ALLAH SWT. Penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki Skripsi penulis ini.
Akhir kata dan dengan kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi yang sederhana dapat bermanfaat bagi Ilmu Pengetahuan Program Study Pendidikan Agama Islam, penulis sendiri maupun pembaca pada umumnya . Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 10
E. Tujuan Penelitian ... 10
F. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori ... 12
1. Mata Pelajaran Akidah Akhlak ... 12
a. Pengertian Mata Pelajaran Akidah Akhlak ... 13
b. Macam Akidah Akhlak ... 14
c. Tujuan Mata Pelajaran Akidah Akhlak ... 18
d. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Akidah Akhlak ... 21
e. Kurikulum Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Aliyah ... 22
f. Indikator Penguasaan Mata Pelajaran Akidah Akhlak ... 23
2. Perilaku Peserta Didik ... 24
a. Pengertian Perilaku Peserta Didik ... 24
b. Bentuk Perilaku Peserta Didik ... 25
c. Macam-Macam Perilaku Peserta Didik ... 30
d. Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Perilaku Peserta Didik ... 31
B. Kerangka Berfikir ... 33
C. Hipotesisi ... 34
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ... 35
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
C. Populasi dan Sampel ... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 37
E. Teknik Analisis Data ... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 43
1. Profil Madrasah Aliyah Tarbiya Islamiyah Kerkap ... 43
2. Pelaksanaan Penelitian ... 48
B. Pengujian Persyaratan Analisis Penelitian ... 48
1. Hasil Analisis Variabel X (Materi Akidah Akhlak) ... 48
2. Hasil Analisis Variabel Y (Perilaku Peserta Didik) ... 51
3. Pengaruh antara penguasaan materi akidah akhlak terhadap perilaku peserta didik ... 53
C. Pengujian Hipotesis ... 56
D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 58
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 59
B. Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel I. Sebaran Populasi Penelitian ... 35
Tabel II. Tingkatan dan skor Jawaban Responden ... 37
Tabel III. Daftar Nama Guru dan Tenaga Kependidikan ... 44
Tabel IV. Jumlah Peserta Didik ... 45
Tabel V. Tabulasi Skor Angket Variabel X ... 49
Tabel VI. Tabulasi Skor Angket Variabel Y ... 51
Tabel VII. Analisis Angket Korelasi Antara Variabel X dan Variabel Y ... 54
Tabel VIII. Interval Koefisien Korelasi ... 56
Tabel IX. Kategori Tingkat Hubungan Koefisiensi Determinasi ... 57
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar 1. Struktur Organisasi Madrasah Aliyah Tarbiyah Isalmiyah Kerkap Bengkulu Utara ... 47
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia, yaitu membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Pendidikan yang terjadi dalam masyarakat justru memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan peserta didik dikala ia berada di lingkungan masyarakat.
Salah satu fungsi pendidikan adalah proses pewaris nilai budaya masyarakat dari satu generasi kepada generasi berikutnya atau oleh pihak yang lebih tua kepada yang lebih muda.1
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan menciptakan proses metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam juga merupakan bagian strategi yang tersusun sesuai dengan metode pembelajar. Adapun fungsi metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh dan memberi latihan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap metode pembelajaran sesuai digunakan untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam mencapai tujuan pendidikan.
1 Ramayulis,Dasar-Dasar Kependidikan Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan,2015, hal.9.
Dalam Agama Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak memberikan penegasan mengenai ilmu pengetahuan baik secara nyata maupun secara tersamar, seperti yang disebut dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut :
Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa'illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-'ilma darajāt, wallāhu bimā ta'malụna khabīr Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Tetapi jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Surat Al- Mujadalah ayat 11)2
Surat Al-Mujadalah ayat 11 memiliki makna, sama-sama dari kelompok yang beriman maka Allah SWT akan masih meninggikan derat bagi mereka, ialah mereka yang berilmu pengetahuan. Orang berilmu pengetahuan berarti menguasai ilmu dan memilki kemampuan untuk mendapatkan dan menjelaskannya. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diperlukan antara lain adanya sarana tertentu, yakni yang disebut “berpikir”.
2 Departemen Agama, Mushaf Al-Qur’an Terjemah Edisi Tahun 2002 (Jakarta: Darus Sunnah,
2011), h. 544.
Jelasnya berpikir pada dasarnya merupakan suatu proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.3
Selanjutnya, berdasarkan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I pasal 1,
Pendidikan di definiskan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.4
Dalam pelaksanaan pendidikan oleh lembaga-lembaga pendidikan, khususnya pendidikan formal sering kita dengar adanya problem tingkah laku dari para peserta didik. Dalam hal ini problem tersebut disebabkan oleh faktor internal dari dalam diri peserta didik sendiri maupun faktor eksternal yang datang dari luar.
Manusia pada usia remaja masih perlu bimbingan dari orang dewasa serta jiwanya masih belum stabil. Mereka masih mengikuti apa yang terjadi di lingkungannya serta masih belum bisa memilih antara yang baik dan buruk untuk dirinya, kebanyakan mereka tidak berpikir apakah baik untuk mereka atau tidak, Melainkan apakah menyenangkan mereka atau tidak.
Akibat cara berfikir seperti itulah banyak dari mereka melakukan hal – hal negatif yang merusak dan menyesatkan artinya keluar dari norma – norma agama. Banyak contoh hal – hal negatif adalah merokok, tawuran, minum minuman keras, bolos sekolah dan membangkang pada dewan guru, selain dari perilaku itu, dalam berbicara juga sangat tidak mencerminkan
3Referensi: https://tafsirweb.com/10765-surat-al-mujadilah-ayat-11.html
4Republik Indonesia, “Undang-Undang R.I Nomor 20 Tahun 2003, “ tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2004, h. 2.
keagamaan, tidak adanya etika dan sopan santun.
Dalam firman Allah SWT, surat Ali Imran ayat 84.
Qul āmannā billāhi wa mā unzila 'alainā wa mā unzila 'alā ibrāhīma wa ismā'īla wa is-ḥāqa wa ya'qụba wal-asbāṭi wa mā ụtiya mụsā wa 'īsā wan nabiyyụna mir rabbihim lā nufarriqu baina aḥadim min-hum wa naḥnu lahụ muslimụn
Artinya:“Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada- Nyalah kami menyerahkan diri." (QS. Ali-Imran ayat 84)5
Ayat di atas menjelaskan tentang Iman, Islam dan Ihsan, dan di dalam Q.S Ali Imran ayat 84 dijelaskan juga bahwa Allah telah menurunkan al-Quran dan mengutuskan para Rasul untuk menjelaskan semua hal yang wajib diyakini oleh manusia.6
Secara tidak langsung, perilaku seperti itulah yang mencoreng nama pendidikan dimata masyarakat. Hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan ajaran agama islam, bahkan, bisa dikatakan merupakan kebalikan dari ajaran islam. Sedangkan sudah diketahui bahwa inti ajaran islam meliputi : masalah keimanan (Akidah), masalah keislaman (syari’ah) dan masalah ihsan (akhlak).
5 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, hal.48
6 Referensi: https://tafsirweb.com/1216-surat-ali-imran-ayat-84.html
Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan. Dengan demikian, akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal, berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia dan alam lingkungan.
Akhlak mempunyai pengaruh yang besar terhadap individu manusia, pendidikan akhlak merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan kepada setiap anak, guna mempersiapkan anak supaya menjadi manusia yang berakhlaqul karimah. Setiap manusia harus mempunyai akhlak yang baik untuk berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan masyarakat.
Akidah dan akhlak saling berhubungan, karena akhlak dalam pandangan Islam harus berpijak kepada keimanan. Iman tidak hanya disimpan di dalam hati, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seseorang akan merasa malu untuk melakukan kejahatan. Karena seperti ditegaskan oleh Nabi bahwa malu itu merupakan cabang dari pada keimanan. Sebaliknya, akhlak yang dipandang buruk adalah akhlak yang menyalahi prinsip-prinsip keimanan.
Di sekolah yang bernaung di bawah Kementerian Agama, Akidah akhlak merupakan sebuah mata pelajaran khusus yang wajib untuk dipelajari. Dengan tujuan agar peserta didik memiliki pengetahuan dan keyakinan yang benar terhadap hal-hal yang harus diimani. Serta mempunyai akhlak yang mulia, sopan santun dan menjadi muslim sejati yang mengikuti akhlaknya Rasulullah SAW.
Pendidikan Akidah dan akhlak merupakan dasar dari setiap pendidikan, juga merupakan pondasi serta benteng dari perkembangan zaman yang tidak lepas dari budaya luar yang menyesatkan melaui perang pemikiran (Ghazwul Fikr) yag terbukti telah merusak mental dan perilaku anak bangsa (generasi muda) kita. Pendidikan Akidah akhlak diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam tingkah laku terpuji pada kondisi zaman seperti sekarang ini.
Maka dari itu, pendidikan akidah akhlak mempunyai arti dan peranan penting dalam pembentukan tingkah laku peserta didik. Sebab dalam pendidikan Akidah akhlak ini peserta didik tidak hanya diarahkan kepada kebahagiaan hidup di dunia saja, tetapi juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pendidikan Akidah akhlak dapat dipandang sebagai suatu wadah untuk membina dan membentuk tingkah laku peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik).7
Bila ditinjau kembali pelaksanaan pembelajaran Akidah Akhlak di madrasah-madrasah dewasa ini sering kita temukan adanya kecenderungan hanya lebih menitik beratkan pada satu sisi saja (kognitif). Sedangkan pada sisi lain yang justru menjadi tujuan pokok pendidikan agama kurang diperhatikan.
7 Zaky Malik, Ahmad. Pengaruh Penguasaan Materi AKidah AKhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik di MAN 2 Model Makasar
Salah satu fakta yang menunjukkan akan hal tersebut adalah Pelajaran Akidah Akhlak yang diberikan di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap, hanya dua jam pelajaran dalam satu kali pertemuan dalam satu minggu. Dari dua jam pelajaran tersebut, belum tentu para peserta didik paham betul dengan apa yang telah disampaikan, apalagi pendidkan tersebut mempengaruhi perilaku peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung, bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi, belum tentu dari segi pengamalan peserta didik dapat melaksanakan dan mengaplikasikan materi yang telah didapatkan.
Namun kenyataannya, pelajaran Akidah Akhlak hanya sebagai mata pelajaran yang wajib untuk dipelajari saja, tanpa memahami dan menghayati apa pesan yang dibahas dan disampaikan didalam pelajaran tersebut, dan kurang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga banyak sekali hal yang terjadi, seperti kurangnya rasa hormat peserta didik terhadap gurunya, berbicara kotor, tidak disiplin, membuat keributan didalam kelas, berpakaian tidak rapi, suka keluar masuk kelas saat proses pembelajaran sedang berlangsung dan nilai yang kurang bagus didapatkan ketika ujian.
Keadaan seperti ini terjadi karena rapuhnya pondasi Akidah dan akhlak atau kurang berhasilnya dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda bangsa. Melihat kondisi tersebut, jelas bahwa materi pembelajaran tidak sejalan dengan kenyataan yang ada pada peserta didik, karena banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya hal tersebut.
Dalam hal ini penulis tertarik untuk meneliti dan mengetahui sejauh mana peran dan pengaruh penguasaan materi peserta didik pada mata pelajaran Akidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik. Sehingga hasil dari penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai acuan, motivasi atau sebagai kritikan agar pihak sekolah terutama guru bidang studi Akidah Akhlak untuk lebih memperdalam dan lebih menekankan transfer ilmunya, agar perilaku peserta didik tidak melenceng dari nilai nilai moral atau akhlak yang diajarkan. Berangkat dari permasalahan inilah penulis tertarik untuk mengambil judul skripsi yaitu: “Pengaruh Penguasaan Materi Akidah Akhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara “
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat teridentifikasi beberapa masalah yang berhubungan dengan proses pembelajaran mata pelajaran Akidah Akhlak dan hubungan dengan perilaku peserta didik Kelas X di Madrasah Aliyah Tabiyah Isalamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara, yaitu Masih terlihat perilaku peserta didik yang kurang baik terhadap guru yang sedang melaksanakan proses pembelajaran, antara lain :
1. Kurangnya rasa hormat peserta didik terhadap gurunya, 2. Berbicara kotor sesama peserta didik,
3. Berperilaku tidak disiplin,
4. Membuat keributan didalam kelas, 5. Berpakaian tidak rapi,
6. Suka keluar masuk kelas saat proses pembelajaran sedang berlangsung, dan
7. Nilai yang kurang bagus didapatkan ketika ujian.
C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan maka penulis hanya membatasi pada hal-hal berikut :
1. Penguasaan materi mata pelajaran Akidah Akhlak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Bab XII dengan materi menghindari Akhlak tercela.
2. Perilaku peserta didik kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara terhadap guru.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan dengan rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut :
Apakah ada pengaruh antara penguasaan materi Akidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara ?
E. Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh yang signifikan antara penguasaan materi Akidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik di kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis
Memberikan Memberikan informasi ilmiah kepada sekolah tentang betapa pentingnya pendidikan Agama Islam (Akidah Akhlak) dalam kaitannya dengan perilaku peserta didik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peserta didik
Meningkatkan kemampuan daya berpikir peserta didik dalam penguasaan materi sehingga dapat membentuk perilaku peserta didik yang lebih baik.
b. Bagi guru
Dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru pendidikan Agama Islam terkhusus bidang studi Akidah Akhlak agar mampu meningkatkan metode pembelajaran yang lebih efektif demi tercapainya tujuan pembelajaran.
c. Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan dan dapat mengetahui secara langsung pengalaman yang berharga dalam memperluas cakrawala pengetahuan melalui penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Mata pelajaran Akidah Akhlak
Pendidikan Akidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT dan meralisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasrkan Al-Qur‟an dan Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.8 Bersamaan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dan hubunganya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Peranan dan efektifitas pendidikan agama di madrasah sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat harus ditingkatkan, karena jika pendidikan Agam Islam (yang meliputi:
Akidah Akhlak, Qur‟an Hadits, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa arab) yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik.
Pendidikan atau mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah sebagai bagian integral dari pendidikan Agam Islam,
8 Tim Perumus Cipayung, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Pengelolaan Kurikulum Berbasis Madrasah (Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Untuk Madrasah), (Jakarta: Departemen Agama RI, 2003),Hal.1
memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.
Tetapi secara substansial mata pelajaran pelajaran Akidah Akhlak memiliki konstribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk memperaktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu setelah mempelajari materi yang ada didalam mata pelajaran Akidah Akhlak diharapkan peserta didik dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai salah satu pedoman kehidupannya.
a. Pengertian Mata Pelajaran Akidah Akhlak
Akidah berasal dari kata A’qada-Yu’qidu-A’qidah yang berarti tali pengikat sesuatu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.9
Dalam kajian Islam, Akidah berarti tali pengikat batin manusia dengan yang diyakininya sebagai Tuhan yang Esa yang patut disembah dan pencipta serta pengatur alam semesta ini.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Akidah adalah sesuatu yang dipercayai dan diyakini kebenarannya oleh manusia, sesuai dengan ajaran Islam yang berpedoman kepada Al-Quran dan Hadis.
9 Buku Siswa, Buku Peserta Didik Kelas VII-Akidah Akhlak, Jakarta:2014, Hal.5.
Secara Bahasa kata Akhlak berasal dari Bahasa Arab al- akhlak, yang merupakan bentuk jamak dari kata Khuluq atau al- akhlak yang berarti tabiat, budi pekerti dan kebiasaan. 10 Secara istilah, Akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang melahirkan perbuatan yang mudah tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Akhlak adalah suatu tingkah laku atau kebiasaan, yang harus dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan ajaran Islam yang berpedoman kepada Al-Quran dan Hadis.
Berdasarkan pengertian diatas, Akidah akhlak adalah sesuatu yang dipercayai dan diyakini kebenarannya oleh manusia dan tingkah laku atau kebiasaan, yang harus dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan ajaran Islam yang berpedoman kepada Al-Quran dan Hadis.
b. Macam – Macam Akhlak 1) Akhlak Mahmudah
Akhlak Al-karimah atau akhlak yang mulia sangat amat jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang mulia, yaitu:
a) Akhlak Terhadap Allah
10 Buku Siswa, Buku Peserta Didik Kelas X-Akidah Akhlak, 2014, Hal.32.
Akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji demikian Agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan menjangkau hakekatnya.
b) Akhlak terhadap Diri Sendiri
Akhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebgai ciptaan dan amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Contohnya : Menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian jiwa, hidup sederhana serta jujur dan hindarkan perbuatan yang tercela.
c) Akhlak terhadap sesama manusia
Manusia adalah makhluk social yang kelanjutan eksistensinya secara fungsional dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu, ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Islam menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, Karena ia berjasa dalam ikut serta mendewasaan kita, dan merupakan orang yang
paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukan dengan memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan dan menghargainya.
d) Akhlak terhadap lingkungan
Menjaga kelestarian lingkungan hidup dan tidak melakukan kerusakan di dalamnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Karena itu, siapapun orangnya, melakukan kerusakan hidup dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik sehingga orang munafik sekalipun tidak mau dituduh telah melakukan kerusakan di muka bumi ini meskipun ia sebenarnya telah melakukan kerusakan,Allah swt berfirman yang artinya :
Terjemahnya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,mereka menjawab Sesungguhnya kami orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari (Q.S. Al- Baqarah: 11-12). (Al-quran Digital).11
Jadi, manusia menyaksikan dan menyadari bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang
11 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, hal.4
tidak dapat terbilang dan karunia kenikmatan yang tidak bisa dihitung banyaknya, semua itu perlu disyukurinya dengan berupa berzikir dengan hatinya.
Sebaiknya dalam kehidupannya senantiasa berlaku hidup sopan dan santun menjaga jiwanya agar selalu bersih, dapt terhindar dari perbuatan dosa,maksiat, sebab jiwa adalah yang terpenting dan pertama yang harus dijaga dan dipelihara dari hal-hal yang dapat mengotori dan merusaknya. Karena manusia adalah makhluk sosial maka ia perlu menciptakan suasana yang baik, satu dengan yang lainnya saling berakhlak yang baik.
2) Akhlak Al-Mazmumah
Akhlak Al-mazmumah (akhlak yang tercela) adalah sebagai lawan atau kebalikan dari akhlak yang baik sebagaimana tersebut di atas. Dalam ajaran Islam tetap membicarakan secara terperinci dengan tujuan agar dapat dipahami dengan benar, dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya. Berdasarkan petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang tercela, di antaranya:
a) Berbohong
Berbohong Ialah memberikan atau menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
b) Takabur (sombong)
Takabur Ialah merasa atau mengaku dirinya besar, tinggi, mulia, melebihi orang lain. Pendek kata merasa dirinya lebih hebat.
c) Dengki
Dengki Ialah rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain.
d) Bakhil atau kikir
Ialah sukar baginya mengurangi sebagian dari apa yang dimilikinya itu untuk orang lain.
Sebagaimana diuraikan di atas maka akhlak dalam wujud pengamalannya di bedakan menjadi dua: akhlak terpuji dan akhlak yang tercela. Jika sesuai dengan perintah Allah dan rasul- Nya yang kemudian melahirkan perbuatan yang baik, maka itulah yang dinamakan akhlak yang terpuji, sedangkan jika ia sesuai dengan apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya dan melahirkan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka itulah yang dinamakan akhlak yang tercela.
c. Tujuan Mata Pelajaran Akidah Akhlak
Untuk mengembangkan aqidah akhlak bagi peserta didik atau remaja diperlukan modofikasi unsur-unsur moral dengan faktor-faktor budaya dimana anak tinggal. Program pengajaran moral seharusnya disesuaikan dengan karakteristik peserta didik,
adalah (a) Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; (b) Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluaraga; (c) Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkunga fisik dan sosial melalui aqidah akhlak; (d) Perbaikan kesalahan- kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan pengalaman ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari;
(e) Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif dari lingkunganya atau dari budaya asing yang akan di hadapinya sehari-hari; (f) Pengajaran tentang informasi dan pengetahuan keimanan dan akhlak, serta sistem dan fungsionalnya; (g) Penyaluran siswa untuk mendalami Aqidah akhlak ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi. 12
Pendidikan Aqidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT dan meralisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasrkan Al-Qur‟an dan Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.13
12 Moh,Rifa’I,Akhlak Seorang Muslim. Semarang ; Wicaksana. 2016 Hal.15
13 Buku Siswa, Buku Peserta DIdik Kelas VII- Akidah Akhlak. 2014 Hal.5
Diiringi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dan hubunganya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Peranan dan efektifitas pendidikan agama di madrasah sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat harus ditingkatkan, karena jika pendidikan Agam Islam (yang meliputi: Aqidah Akhlak, Qur‟an Hadits, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa arab) yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik.
Pendidikan atau mata pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah sebagai bagian integral dari pendidikan Agama Islam, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.14 Tetapi secara substansial mata pelajaran pelajaran Aqidah Akhlak memiliki konstribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk memperaktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi tujuan mata pelajaran akidah akhlak untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta
14 Jamisah,Nur.Efektifitas Pembelajaran Aqidah Akhlak, 2018. Hal.29
pengalaman siswa tentang aqidah dan akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan peribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi
d. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Akidah Akhlak
Ibnu Maskawaih menyebut ada tiga hal pokok yang dapat dipahami sebagai materi sebagai materi pendidikan akhlak, yaitu:
1) Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh.
2) Hal-hal yang wajib bagi jiwa.
3) Hal-hal yang wajib sebagai hubungannya dengan sesama manusia.
Sedangkan ruang lingkup Kurikulum Pendidikan Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah adalah sebagai berikut:
1) Aspek aqidah terdiri atas keimanan kepada sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah, keimanan kepada kitab Allah, Rasul Allah, sifat-sifat dan mukjizatnya dan hari akhir.
2) Aspek Akhlak terpuji yang terdiri dari atas khauf, taubat, tawadlu‟, ikhlas, bertauhid, inovatif, kreatif, percaya diri,
tekad yang kuat, ta‟aruf, ta‟awun, tafahum, tasamuh, jujur, adil, amanah, menepati janji dan bermusyawarah.
3) Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, munafik, namimah dan ghibah.
e. Kurikulum Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Aliyah
Kelas X, Semester 1
STANDAR
KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR 1. Memahami prinsip-
prinsip dan metode peningkatan kualitas
akidah
1.1 Menjelaskan prinsip-prinsip akidah 1.2 Menjelaskan metode-metode peningkatan kualitas akidah
1.3 Menerapkan prinsip-prinsip akidah dalam kehidupan
1.4 Menerapkan metode-metode peningkatan kualitas akidah dalam kehidupan
2. Memahami Tauhiid
2.1 Menjelaskan pengertian tauhiid dan istilah istilah lainnya
2.2 Menjelaskan macammacam tauhiid (uluuhiyah, rubuubiyah, mulkiyah, rahmaniyah dan lain-lain)
2.3 Menunjukkan perilaku orang yang ber- tauhiid
2.4 Menerapkan perilaku ber-tauhiid dalam kehidupan sehari-hari
STANDAR
KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
3. Memahami syirik dalam Islam
3.1 Menjelaskan pengertian syirik
3.2 Mengidentifikasi macam-macam syirik 3.3 Menunjukkan perilaku orang yang berbuat syirik
3.4 Menjelaskan akibat perbuatan syirik
3.5 Membiasakan diri menghindari hal-hal yang mengarah kepada perbuatan syirik dalam kehidupan sehari-hari
4. Memahami masalah akhlak dan metode peningkatan kualitas
akhlak
4.1 Menjelaskan pengertian akhlak
4.2 Menjelaskan induk-induk akhlak terpuji dan induk-induk akhlak tercela
4.3 Menjelaskan macam-macam metode peningkatan kualitas akhlak
4.4 Menerapkan metode-metode peningkatan kualitas akhlak dalam kehidupan
Kelas X, Semester 2 STANDAR
KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR 1. Meningkatkan
keimanan kepada Allah melalui sifat-
sifatnya dalam al- asma' al husna
1.1 Menguraikan 10 al-asma' al husna (al-Muqsith, al-Waarits, an-Naafi’, al-Baasith, al-Hafiidz, al- Walii, al-Waduud, ar-Raafi’, al-Mu’iz dan al- Afuww) Menunjukkan bukti kebenaran tanda- tanda kebesaran melalui sifat Allah dalam 10 Asmaul Husna (al-Muqsith, al-Waarits, an- Naafi’, al-Baasith, al-Hafiidz, al-Walii, al- Waduud, ar-Raafi’, al-Mu’iz dan al-Afuww) STANDAR
KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1.3 Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 al-asma' al husna (al-‘Aziiz, al-Ghafuur, al- Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uf, al-Barr, al- Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al- Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari 1.4 Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung
dalam 10 al-asma' al husna (al-Muqsith, al- Waarits, an-Naafi’, al-Baasith, al-Hafiidz, al- Walii, al-Waduud, ar-Raafi’, al-Mu’iz dan al- Afuww) dalam kehidupan sehari-hari
2. Membiasakan perilaku terpuji
2.1 Menjelaskan pengertian dan
pentingnya husnuzh-zhan dan bertaubat 2.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh
perilaku husnuzh-zhan dan bertaubat 2.3 Menunjukkan nilai-nilai positif
dari husnuzh-zhan dan bertaubat dalam fenomena kehidupan
2.4 Membiasakan perilaku husnuzh-zhan dan bertaubat
3. Menghindari perilaku tercela
3.1 Menjelaskan pengertian riya, aniaya dan diskriminasi
3.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan riya, aniaya dan diskriminasi 3.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat
perbuatan riya, aniaya, dan diskriminasi 3.4 Membiasakan diri menghindari hal-hal yang
mengarah pada perilaku riya, aniaya, dan diskriminasi
f. Indikator Penguasaan Mata Pelajaran Akidah Akhlak Indikator penguasaan mata pelajaran akidah akhlak pada materi Memahami masalah akhlak dan metode peningkatan kualitas akhlak, antara lain :
1. Siswa mampu menjelaskan pengertian akhlak,
2. Siswa mampu menjelaskan induk-induk akhlak terpuji dan induk-induk akhlak tercela,
3. Siswa mampu menjelaskan macam-macam metode peningkatan kualitas akhlak,
4. Siswa mampu menerapkan metode-metode peningkatan kualitas akhlak dalam kehidupan sehari-hari, Sekolah dan Lingkungan sekitar.15
2 Perilaku Perserta Didik
a. Pengertian Perilaku Peserta Didik
Manusia sebagai makhluk yang mulian karena perilakunya mempunyai kewajiban – kewajiban yang harus dipenuhi.
Kewajiban itu adalah menunaikan dan menjaga perilaku yang baik serta menjauhi perilaku yang buruk. Martabat manusia yang begitu tinggi dan mulia tersebut dapat jatuh dan merosot sampai ke taraf yang rendah-rendahnya, Allah SWT berfirman dalam surat At-Tin ayat 5 :
Artinya: Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).16
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.17
15 Pengembangan Pembelajaran Akidah Akhlak, Silabus Akidah Akhlak Kelas X, 2017. Hal 35
16 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, h.479.
17 Pusat Bahasa Departemen Nasional KBBI, Jakarta, 2007, Hal 859.
Perilaku adalah sebagai kelakuan atau perangai.18
Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah kelakuan atau tanggapan reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.
Sehingga yang dimaksud perilaku peserta didik, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas peserta didik dari peserta didik itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya.
Jadi, melalui uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku peserta didik adalah semua kegiatan atau aktifitas peserta didik, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar.
b. Bentuk Perilaku Peserta Didik
Dalam islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak orang lain dan hak masyarakat, sehingga tidak timbul pertentangan.
Semuanya harus bekerja sama dalam mengembangkan hukum- hukum Allah. Bentuk perilaku peserta didik yang harus dikembangkan19, sebagai berikut:
1) Menghormati orang lain
18 Poerwardarminto, Dalam Skripsi Mirawati,2012. Hal.22
19 Muhyiddin Abdusshomad, Etika Bergaul, hal. 31. Dalam HamzaYa’qub, Etika Islam, (Bandung:
Diponegoro,2013), hal. 95.
Untuk itu diperlukan sikap menghormati orang lain agar tercipta suatu keharmonisan dalam pergaulan maupun dalam bermasyarakat. Menghormati merupakan perilaku dimana seseorang dapat menempatkan dirinya dalam suasana maupun lingkungannya ketika ia dihadapkan dengan berbagai perbedaan.
Sikap saling menghormati banyak sekali manfaatnya dalam pergaulan. Tidak hanya menjamin kenyamanan dalam bergaul, sikap menghormati ini nantinya juga akan kembali kepada kita sendiri. Barangsiapa menghormati orang lain, sesungguhnya ia sedang menghormati dirinya sendiri.
2) Tolong-menolong (ProSosial)
Perilaku menolong adalah mengutamakan memberpertolongan kepada individu lain dengan mengabaikan hak-hak pribadi atau kepentingan sebagai individu.20
Tolong-menolong merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap manusia, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Agama Islam menyuruh umatnya untuk saling tolong menolong dan membantu sesamanya tanpa
20 Monks, F.J. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagian . Cet. 14.
(Yogyakarta: Gajah Mada University Press; 2002) . h. 374
membeda-bedakan golongan, karena dengan saling tolong- menolong dapat meringankan beban orang lain.
Apabila sejak dini seorang anak dibiasakan untuk hidup saling tolong menolong, maka pada masa dewasanya akan terbiasa untuk saling tolong menolong kepada orang lain.
3) Sopan Santun
Kesopanan disini merujuk pada kesediaan kemampuan raga dan pikiran untuk memelihara sikap, cara dan hal-hal yang dianggap layak dan baik dimata masyarakat. Melalui cara berpakaian, berperilaku, bersikap dan berpenampilan.
Orang yang sopan mencoba bertindak sebaik mungkin seperti yang bisa diterima dan dihargai masyarakat.21 Sopan santun adalah suatu kebiasaan seseorang dalam berbicara, bergaul, dan berperilaku.
Sopan santun hendaknya dimiliki oleh setiap anak dan peserta didik agar terhindar dari hal-hal yang negatif, seperti kerenggangan hubungan anak dengan orang tua karena anak tidak punya sopan santun. Aspek ini sangat penting karena mempengaruhi baik buruknya akhlak dan perilaku sosial seseorang.
21 James Julian M, The Accelerated Learning for Personality;Belajar Kepribadian, terj. Tom Wahyu, (Yogyakarta: Baca, 2008), hlm. 117.
Di antara perilaku yang berkaitan erat dengan sopan santun adalah:
a) Etika Berbicara
Di antara tata krama berbicara adalah memperhatikan apa yang bicarakan oleh orang lain dan bersikap ramah. Tata karma dalam berbicara adalah bersikapramah kepada orang yang diajak bicara pada saat dan sesudahnya termasuk etika yang baik agar mereka tidak jenuh di tengah-tengah pembicaraan.
b) Etika Bergurau
Salah satu tata krama bergurau adalah tidak berlebih-lebihan dalam bergurau dan bermain, karena hal itu dapat melupakan orang Islam dari kewajiban yaitu beribadah kepada Allah. Banyak bergurau juga dapat mematikan hati, mewariskan sikap bermusuhan, dan membuat anak kecil bersikap berani kepada orang dewasa.
c) Peka dan Peduli
Kepedulian tentunya harus bersumber dari hati yang tulus tanpa sebuah noda kepentingan. Disaat seseorang bersedia
membantu, menolong dan peduli pada orang lain namun berdiri dibalik sebuah kepentingan, maka sesungguhnya dia sedang terjebak dalam kepedulian tanpa hati nurani, sebuah kepedulian tanpa keikhlasan.22
d) Berterima Kasih
Gratitude atau perasaan berterima kasih adalah salah satu kualitas termurni manusia dan salah satu yang paling bisa diapresiasi.23 Perasaan yang berterima kasih adalah salah satu kualitas tertinggi manusia. Suatu masyarakat yang tidak mengenal rasa terima kasih adalah masyarakat yang tidak rasional.
Ungkapan terima kasih itu harus tetap dalam batas-batas yang wajar dan normal inilah yang menjadi esensi perilaku sosial.
Pada hakikatnya, perilaku sosial adalah setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain.
Dapat disimpulkan bahwa bentuk perilaku peserta didik yang baik harus memiliki kriteria menghormati orang lain, suka menolong, sopan santun, peka dan peduli serta suka berterima
22 Abdul Rahman Saleh, Psikologi; Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, (Jakarta:Kencana, 2009), h. 182.
23 James Julian M, The Accelerated Learning for Personality;Belajar Kepribadian, terj. Tom Wahyu, (Yogyakarta: Baca, 2008), hlm. 79.
kasih, biasanya juga mempunyai tingkat kecerdasan emosional yang tinggi. Karena pada hakikatnya antara tingkat kecerdasan emosional mempunyai hubungan yang erat dengan perilaku sosial seseorang.
Begitu pula jika perilaku peserta didik tidak baik, seperti kurangnya rasa hormat peserta didik terhadap gurunya, berbicara kotor sesama peserta didik, berperilaku tidak disiplin, membuat keributan didalam kelas, berpakaian tidak rapi, dan suka keluar masuk kelas saat proses pembelajaran sedang berlangsung, maka peserta didik tidak memiliki hubungan social dengan seseorang yang baik.
c. Macam-macam Perilaku Peserta Didik
Perilaku atau akhlak peserta didik menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia.
Dalam agama islam, secara garis besar perilaku dibedakan menjadi dua yaitu akhlak mahmudah atau perilaku baik dan akhlak madzmumah atau perilaku buruk.
Dalam pembahasan ini penulis membatasi hanya meninjau perilaku baik dan buruk terhadap guru pada saat proses pembelajaran di mata pelajaran akidah akhlak, misalnya menghormati guru, tidak menyontek, tidak ribut dan
memperhatikan pada saat guru menjelaskan serta melakasanakan tugas yang diberikan.
d. Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Perilaku Peserta Didik
Faktor yang mempengaruhi pembentukan atau perkembangan perilaku peserta didik antara lain guru, orang tua, sekolah dan lingkungan, yaitu :
1) Guru
Guru diartikan dengan pendidik yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya.24
Maka seorang pendidik atau guru memiliki tugas dan tanggungjawab untuk mengajar, mendidik, melatih para peserta didik agar menjadi individu yang berkualitas, baik dari sisi intelektual maupun akhlaknya.
2) Orang tua
Orang tua adalah seseorang
ayah dan ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Tugas orang tua melengkapi dan mempersiapkan anak menuju ke kedewasaan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang dapat
24 Urbayati,Nur. Ilmu Pendidikan Agama Islam, Bandung. 2000. Dalam Skripsi Mirawati, 2013:25
membantu anak dalam menjalani kehidupan. Dalam memberikan bimbingan dan pengarahan pada anak akan berbeda pada masing-masing orang tua kerena setiap keluarga memiliki kondisi-kondisi tertentu yang berbeda corak dan sifatnya antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
3) Sekolah
Sekolah adalah sekolah adalah lembaga pendidikan yang sifatnya formal, non formal, dan informal, dimana pendiriannya dilakukan oleh negara maupun swasta dengan tujuan untuk memberikan pengajaran, mengelola, dan mendidik para murid melalui bimbingan yang diberikan oleh para pendidik atau guru.
4) Lingkungan
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan kerangka teori yang dikemukkan di atas, maka dapat memahami dengan jelas betapa pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kardena pendidikan tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual saja, tapi generasi yang mempunyai akhlakul terpuji serta santun dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
Mata pelajaran Akidah Akhlak merupakan salah satu dari pendidikan agama islam yang di ajarkan di sekolah. Akidah menduduki tingkat yang paling tinggi dalam ajaran Islam, karena aqidah bertujuan menjadikan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna serta membedakannya dengan makhluk yang lain. Akidah dalam agama Islam tidak hanya membimbing ummat manusia dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia saja melainkan juga dengan sang khaliq dan makhluk lainnya.
Akhlak mempunyai pengaruh yang besar terhadap individu manusia, pendidikan akhlak merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan kepada setiap anak, guna mempersiapkan anak supaya menjadi manusia yang berakhlaqul karimah. Setiap manusia harus mempunyai akhlak yang baik untuk berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan masyarakat.
Penguasaan Materi Akidah Akhlak (Akhlak Tercela)
Variabel X
Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap
Variabel Y
Di sekolah yang bernaung di bawah Kementerian Agama, aqidah akhlak merupakan sebuah mata pelajaran khusus yang wajib untuk dipelajari. Dengan tujuan agar siswa memiliki pengetahuan dan keyakinan yang benar terhadap hal-hal yang harus diimani. Serta mempunyai akhlak yang mulia, sopan santun dan menjadi muslim sejati yang mengikuti akhlaknya Rasulullah SAW terutama bisa memperbaiki akhlak terhadap guru dan teman sekelas pada saat proses belajar berlangsung.
C. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan teoritis yang dikemukan, maka peneliti mengajukan pertanyaan, apakah ada Pengaruh Penguasaan Materi Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara? Maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :
Ho : Tidak Ada Pengaruh Penguasaan Materi Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara.
Ha : Ada Pengaruh Penguasaan Materi Aqidah Akhlak Terhadap Perilaku Peserta Didik Kelas X Di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian kuantitatif, artinya prosedur penelitian yang menghasilkan data, nilai-nilai ukurannya dapat dinyatakan dengan angka.
Menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diperoleh dengan metode statistika, maka datanya berupa data kuantitatif yaitu berupa angka-angka kemudian dari angka yang di peroleh akan di analisis lebih lanjut dalam analisis data dan interpretasi tentang arti data yang diperoleh.25
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu penguasaan materi Akidah Akhlak sebagai variabel independen (x) dan perilaku peserta didik sebagai variabel dependent (y). untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan penelitian, peneliti menggunakan angket atau instrument yang disusun berdasarkan variabel yang akan diteliti . dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan penelitian kuantitatif, jadi penelitian ini harus didasarkan pada penelitian obejektif. Untuk memperoleh hasil yang obyektif perlu diterapkan metode yang tepat, sebab sebab ketepatan metode berpengaruh besar terhadap hasil yang dicapai, dan karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, hasilnya juga dapat di peroleh dengan
25 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung, Alfabeta. 2011, Hal. 7
perhitungan statistika yaitu menggunakan rumus regresi linear sederhana, untuk menganalisis data yang diperoleh.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini di lakukan di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara dan penelitian ini di lakukan selama kurang lebih 1 bulan.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untu dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulan. 26
Berdasarkan batasan, maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa – siswi kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap, yang berjumlah 41 orang, dengan rincian sebagai berikut :
Tabel I
Sebaran populasi penelitian di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara
No Kelas Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 X X IPA 8 15 23
X IPS 1 13 16 29
X IPS 2 16 16 32
Total 37 47 84
26 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung, Alfabeta. 2011, Hal.80.
Sumber : Data TU Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. 27 Jadi sampel penelitian ini adalah kelas X Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap, maka menetapkan banyak sampel yang diambil 50% dengan teknik pengambilan sampel sistematis, yang dilakukan dengan pengambilan sampel menggunakan nomor ganjil. Jadi semua siswa kelas X berpeluang yang sama untuk menjadi sampel.
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa :
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik. Mengemukakan bahwa Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikhologis.28
Observasi ini dilakukan untuk memperoleh data informasi tentang lokasi atau tempat penelitian yaitu Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Kerkap Bengkulu Utara.
2. Angket
27 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung, Alfabeta. 2011, Hal.81.
28 Sutrisno, H. Dalam Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung, Alfabeta.
2011, Hal. 215.
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.29 Angket disebarkan kepada sejumlah siswa untuk mendapat data tentang pengaruh mata pelajaran Akidah Akhlak dengan perilaku peserta didik.
Dalam pengembangan instrument angket ini, peneliti menggunakan skala Likert, skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan pencapaian seseorang tentang fenomena alam.
Dengan skala Likert, variable yang akan di ukur dijabarkan menjadi indikator variabel kemudian di jadikan titik tolak untuk menyusun item instrumen yang dapat berupa pertanyaan. Jawaban setiap item mempunyai tingkatan dari sangat positif sampai sangat negatif, yang berupa kata-kata antara lain :
Tabel II
Tingkatan dan Skor Jawaban Responden
No Jawaban Skor Jawaban
1 Selalu 4
2 Sering 3
3 Kadang – Kadang 2
4 Tidak Pernah 1
Instrumen penelitian yang menggunaka Skala Likert dapat di buat dalam bentuk pilihan ganda. Untuk memudahkan untuk penyusunan instrumen penelitian, maka perlu digunakan kisi-kisi
29 Sujarweni, Wiratna. Metodologi Penelitian. Yogyakarta, Pustaka Baru Press. 2014,Hal 142.
intrumen yang diperlukan untuk mengukur motif berprestasi, sebagai berikut :
Kisi – kisi Instrumen penelitian Variabel X
(Penguasaan Materi Akidah Akhlak Tentang Akhlak Tercela)
No Indikator Item
1 Akhlaq 1
2 Macam – Macam Akhlaq 5-7
3
Cara Meningkatkan Kualitas Akhlaq
Melalui Perumpaan
Melalui Ibrah dan Mau’idhah 2-4, 8 9-10
Jumlah 10 Item
Variabel Y (Perilaku Peserta Didik)
No Indikator Item
1
Cara Meningkatkan Kualitas Akhlaq
Melalui Keteladaan
Melalui Latihan dan Pengalaman
13, 18 11-12, 19
2
Ciri - Ciri Akhlaq Islam
Kebaikan bersifat mutlak
Kebaikan bersifat menyeluruh
14, 20 15 3
Ciri - Ciri Akhlaq Islam
Kebaikan bersifat tetap
Kebaikan yang harus dipatuhi
17 13 , 18
Jumlah 10 Item
3. Dokumentasi
Dokumentasi berarti kumpulan barang tertulis yang dapat digunakan peneliti untuk melengkapi data yang berasal dari dokumen seperti buku, surat kabar, internet dan sumber lainnya. Dalam penelitian kuantitatif teknik ini berfungsi untuk menghimpun secara selektif bahan – bahan yang di pergunakan di dalam kerangka atau landasan teori untuk penyusunan hipotesis secara tajam. 30
E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini untuk menganalisis, peneliti menggunakana analisa statistic sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis permasalahan pertama yaitu proses pembelajaran mata pelajaran akidah akhlak.
2. Untuk menganalisis permasalahan Kedua yaitu perilaku peserta didik dalam penguasaan mata pelajaran akidah akhlak.
3. Untuk menganalisis permasalahan ketiga yaitu pengaruh penguasaan mata pelajaran akidah akhlak terhadap perilaku peserta didik.
Maka dari itu peneliti menggunakan rumus standar deviasi, langkah- langkah sebagai berikut :
a. Menghitung Masing – masing mean dari variabel dengan rumus:
Variabel x
(Materi Akidah Akhlak) Mx
30 Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta. 2014, Hal 181.
Keterangan :
Mx =Mean Variabel x
= Jumlah Skor Responden di kali banyak jumlah skor N = Jumlah Sampel
Variabel y
(Perilaku Peserta Didik) My
Keterangan :
My =Mean Variabel y
= Jumlah Skor Responden di kali banyak jumlah skor
N = Jumlah Sampel
b. Menghitung Standar Deviasi.
SDx
√
SDy
√
Keterangan :
SDx : Standar Deviasi (x) SDy : Standar Deviasi (y)