TINJAUAN HUKUM EKONOMI SYARIAH TERHADAP AKAD KERJASAMA PENGELOLAAN WISATA PUNCAK
RATU DI DESA TEBUL BARAT KECAMATAN PEGANTENAN KABUPATEN PAMEKASAN
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh:
YUDI HARTONO NIM: 18382041157
PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA SEPTEMBER 2024
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi berjudul “Implementasi Akad Mudharabah pada pengelolaan Wisata Puncak Ratu di desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan”
yang disusun oleh Yudi Hartono (18382041157) telah diperiksa dan setujui oleh pembimbing untuk diuji.
Pamekasan, 17 Februari 2025 Pembimbing
Prof. Dr. H. Erie Hariyanto, M.H NIP. 197905302002121001
HALAMAN PENGESAHAN
Proposal Skripsi berjudul “Implementasi Akad Mudharabah pada pengelolaan Wisata Puncak Ratu di desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan” yang disusun oleh Yudi Hartono (18382041157) ini telah diujikan dihadapan dewan penguji dalam rangka menyusun Proposal Skripsi.
Dewan Penguji Proposal Skripsi
Prof. Dr. H. Erie Hariyanto, M.H. (Pembimbing) ( ) M. Haris Hidayatullah, M.SEI. (Penguji) ( )
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN...i
HALAMAN PENGESAHAN... ii
M...ii
DAFTAR ISI... iii
A. Judul Penelitian... 1
B. Konteks Penelitian... 1
C. Fokus Penelitian...5
D. Tujuan Penelitian... 5
E. Kegunaan Penelitian...5
F. Definisi Istilah...6
G. Kajian Penelitian Terdahulu...8
H. Kajian Teori...10
1. Mudharabah... 10
2. Pariwisata Halal... 13
3. Wisata Puncak Ratu...18
I. Metode Penelitian...19
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian...19
2. Kehadiran Peneliti...20
3. Lokasi Penelitian...20
4. Sumber Data...21
5. Prosedur pengumpulan data...21
6. Analisis Data... 29
7. Pengecekan Keabsahan Data...31
8. Tahap-tahap penelitian...33
9. Sistematika Pembahasan...33
10. Outline Penelitian...34
J. Daftar Pustaka... 35
A. Judul Penelitian
Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Akad Kerjasama Pengelolaan Wisata Puncak Ratu di Desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan
B. Konteks Penelitian
Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang berkodrat hidup dalam masyarakat. Sebagai makhluk sosial, dalam hidupnya manusia memerlukan manusia-manusia lain yang bersama-sama hidup dalam masyarakat.
Dalam hidup bermasyarakat, manusia selalu berhubungan satu sama lain, disadari atau tidak, guna untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, berbagai cara dilakukan manusia agar bisa memenuhi kebutuhan hidup yang diinginkan.1 Salah satu cara yang dilakukan masyarakat ialah kerja sama bagi hasil (mudharabah).
Dalam konteks Hukum Ekonomi Syariah, setiap bentuk akad kerjasama harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Al-Qur'an, Hadits, dan kaidah- kaidah fiqih. Bentuk akad yang lazim dalam pengelolaan objek wisata melibatkan akad mudharabah (kerjasama bagi hasil antara pemodal dan pengelola) atau musyarakah (kerjasama dengan penyertaan modal dari kedua belah pihak). Prinsip- prinsip akad ini menekankan pada kejujuran, keterbukaan, serta keadilan dalam pembagian keuntungan dan risiko. Dengan demikian, akad yang dijalankan akan menghindari unsur gharar (ketidakjelasan), maysir (spekulasi), dan riba (bunga), yang dilarang dalam Islam.
Salah satunya muamalah yang diperbolehkan dalam Islam yaitu mudharabah.
Pada dasarnya, semua jenis muamalah ialah boleh (mubah), kecuali yang ditentukan lain oleh Al-Quran dan Hadist. Sebagaimana yang terdapat dalam hadist:
2
1 Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam), (Yogyakarta: UII Press, 2000), 11.
2 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Terj. Zaenal Abidin, Terjemah Bulughul Maram, (Jakarta: Pustaka Imam Adz-Dzahabi, 2007), 442-433.
Dari Hakim bin Hizam RA, bahwasanya dia pernah mensyaratkan kepada seseorang ketika dia memberinya modal untuk usaha (dengan cara bagi hasil),
“Janganlah kamu menggunakan modalku untuk barang bernyawa, janganlah kamu membawanya ke laut dan janganlah kamu membawanya di tengah air yang mengalir. Jika kamu melakukan salah satu di antara hal itu, maka kamulah yang menanggung modalku (jika terjadi kerusakan).” (Hadits riwayat ad-Daruquthni dan para perawinya terpercaya). Malik berkata di dalam Al-Muwatha, “Dari ‘Ala’
bin Abdurrahman bin Ya’qub, dari bapaknya, dari kakeknya, Bahwasanya dia pernah menjalankan modalnya Utsman dengan keuntungan dibagi dua.” (Hadits ini mauquf shahih).
Wahbah al-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menyebutkan bahwa mudharabah secara bahasa terambil dari kata ض رق berarti عطقلا (potongan), maksudnya pemilik harta memotong sebagian hartanya untuk diberikan kepada orang lain untuk digunakan sebgai modal usaha. Mudharabah juga terambil dari kata ةض ر اقملا yang berarti persamaan, yaitu adanya persamaan dalam hak menerima keuntungan.3 Secara terminologis mudharabah berarti sejumlah uang yang diberikan kepada seseorang kepada orang lain untuk modal usaha, apabila mendapat keuntungan maka dibagi dua, yaitu untuk pihak pemilik modal (sahibul mal) dan pelaku usaha (mudharib) dengan persentase atau jumlah sesuai dengan kesepakatan. Sementara apabila terjadi kerugian maka ditanggung oleh pemilik modal.4
Wilayah Indonesia membentang luas sejauh 5.200 kilometer di sepanjang garis khatulistiwa. Tak hanya mempunyai banyak pantai, Indonesia juga memiliki banyak perbukitan yang tersebar di berbagai daerah. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi tersebut adalah Pamekasan.
3 Imam Mustofa, Fiqh Muamalah Kontemporer, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2019), 150.
4 Imam Mustofa, Fiqh Muamalah Kontemporer, 150.
6 Data yang berkaitan dengan angka-angka didapat dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan Tahun 2016 yang diolah dan dibahasakan kembali oleh penulis. Lihat Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan, Pamekasan dalam Angka 2016 (Pamekasan: BPS Kab. Pamekasan, 2016), 1.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan, Statistik Daerah Kabupaten Pamekasan 2015 (Pamekasan: BPS Kab. Pamekasan, 2015), 1
Kabupaten Pamekasan merupakan salah satu diantara empat kabupatendi pulau Madura dengan luas 972,30 km2 Secara astronomis berada pada 6051’ – 7 031’
Lintang Selatan dan 113019’ - 113058’ Bujur Timur dengan ketinggian antara 6- 312 meter dari permukaan laut (dpl). Berdasarkan batas-batasnya, kabupaten Pamekasan berada di sebelah Utara Laut Jawa, batas selatan terdapat Selat Madura, sebelah Barat bersebelahan dengan Kabupaten Sampang dan bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Sumenep. 6
Objek wisata puncak ratu yang terletak di Desa Tebul Barat, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur itu, menawarkan kesegaran alam bagi pengunjungnya. Tempat ini udaranya masih cukup segar, jauh dari polusi dan hiruk pikuk kepadatan kendaraan seperti di kota.
Puncak Ratu juga menghadirkan sejumlah spot foto yang menarik. Pengunjung juga dapat menyaksikan keindahan perbukitan di wilayah utara Kabupaten Pamekasan dari Puncak Ratu ini. lokasinya tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau.
Perjalanan yang ditempuh hanya butuh waktu 30 hingga 40 menit dari Alun-Alun Arek Lancor Pamekasan ke arah utara Pamekasan. Sepanjang perjalanan menuju bukit indah itu, pengunjung akan dimanja dengan deretan pepohonan durian.
Sehingga wisatawan yang bekunjung bisa menikmati pemandangan yang indah sambil menikmati lezatnya durian khas Pamekasan. Sedangkan di lokasi, wisatawan akan dimanja oleh suasana hutan yang cantik. Pepohonan yang dikelilingi bunga-bunga indah dengan nuansa alam yang masih asri.
Seiring meningkatnya perkembangan Wisata puncak ratu membuat pengunjung semakin meningkat sehingga membuat wisata puncak ratu memiliki prospek ekonomi yang tinggi, sehingga memmbuat puncak ratu dapat menarik minat investor untuk ikut menanam modal untuk memperoleh hasil dari perkembangan dan kemajuan puncak ratu. Dalam pengelolaannya puncak ratu tidak hanya dikelola oleh pemilik tanah saja, akan tetapi ada investor yang menanam modal dalam pengeloaan puncak ratu tersebut.
Investor adalah setiap entitas atau orang yang menanamkan modal dengan harapan akan mendapatkan imbalan berbentuk uang. Aktivitas menanamkan modal tersebut dinamakan investasi. Penanam modal sangat bergantung dengan instrumen
keuangan yang berbeda-beda. Agar dapat mencapai tujuan keuangan dan meningkatkan jumlah imbalan. Hal itulah yang membuat puncak ratu tidak dikelola oleh satu orang pemilik tetapi ada 3 pihak yang menanam modal pada pengeloaan puncak ratu tersebut, sehingga dalam pemasukannya diberlakukan system bagi hasil.
Perjanjian Bagi hasil oleh 3 pihak tersebut dilakukan sejak tahun 2018 sampai sekarang, Perjanjian bagi hasil yang dilakukan antara Hasan Basri Sebagai pengelola lahan dengan Abd Bahar pemilik lahan dan juga Ahmad Fauzi Sebagai Sohibul Mal dilakukan secara tertulis dan dalam perjanjian tersebut jika terdapat keuntungan maka akan dibagi tiga yaitu 40, 30, dan 30 sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sedangkan apabila terjadi kerugian maka kerugian tersebut juga ditanggung bersama.5
Salah satu daya tarik utama Puncak Ratu adalah potensi ekonominya yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data yang diperoleh, rata-rata pendapatan harian Puncak Ratu mencapai 3 juta rupiah, bahkan bisa mencapai 10 juta rupiah pada hari Minggu. Angka ini menunjukkan bahwa pariwisata halal telah menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi masyarakat sekitar dan pemerintah daerah.
Dalam rangka menanggapi tantangan-tantangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi akad mudharabah dalam konteks wilayah wisata Puncah Ratu di Tebul Barat, Pegantenan, Pamekasan. Penelitian ini akan meneliti kerangka hukum mudharabah di Indonesia dan aplikasinya dalam industri pariwisata. Penelitian ini juga akan menganalisis tantangan dan peluang penerapan mudharabah di wilayah wisata Puncah Ratu dan memberikan rekomendasi untuk implementasinya.
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif, melibatkan wawancara dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemimpin masyarakat setempat, pejabat pemerintahan, dan pemain industri pariwisata. Penelitian ini juga akan menganalisis dokumen hukum yang relevan, termasuk Undang-Undang tentang Bank dan Keuangan Islam dan peraturan-peraturan lainnya.
5 Abd bahar, Pemilik Lahan Puncak Ratu, Wawancara Langsung (04 September 2024)
C. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, terdapat fokus penelitian atau masalah yang timbul, diantaranya:
1. Bagaimana Sistem kerja sama pengelolaan wisata Puncak Ratu di Desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten?
2. Bagaimana tinjauan hukum islam terhadap pengelolaan wisata puncak ratu di Desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, terdapat Tujuan penelitian yang timbul, diantaranya:
1. Untuk mengetahui Sistem kerja sama pengelolaan wisata Puncak Ratu di Desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten
2. Untuk mengetahui tinjauan hukum islam terhadap pengelolaan wisata puncak ratu di Desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten
E. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian merupakan sub pembahasan tentang pentingnya penelitian dilakukan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sekurang-kurangnya.
1. Bagi peneliti
Penelitian memiliki berbagai kegunaan penting bagi peneliti, yang dapat membantu mereka dalam memperluas pengetahuan, memberikan informasi pengetahuan baru, meningkatkan kredibilitas diri, mengasah ketajaman berpikir, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi, memberikan pengalaman diri, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui proses penelitian, peneliti dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dan mengembangkan kemampuan mereka dalam mengembangkan ilmu dan menerapkan metode yang baru. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lanjutan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas, sehingga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup.
2. Bagi Pengelola Puncak Ratu
Penelitian mengenai implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata Puncak Ratu akan memberikan manfaat yang signifikan bagi pengelola wisata. Melalui penelitian ini, pengelola dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep akad mudharabah dan mengevaluasi penerapannya dalam konteks bisnis wisata. Hasil penelitian akan membantu mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dalam sistem pengelolaan yang ada, sehingga dapat dilakukan perbaikan dan pengembangan strategi yang lebih baik. Selain itu, penelitian ini juga akan memberikan landasan yang kuat untuk pengambilan keputusan strategis, meningkatkan kinerja pengelolaan wisata, dan memperkuat citra Puncak Ratu sebagai destinasi wisata syariah yang menarik. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah tersebut.
3. Bagi IAIN Madura
Hasil penelitian ini dapat menambah perbendaharaan kepustakaan khususnya dalam ekonomi syariah di IAIN Madura, sebagai tambahan informasi dan wawasan bagi mahasiswa serta dapat pula dijadikan salah satu sember rujukan dalam melakukan penelitian selanjutnnya.
4. Bagi pembaca/Masyarakat
Penelitian ini dapat membantu masyarakat umum dalam memahami bagaimana hukum Islam dapat diterapkan dalam bisnis wisata. Hal ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengikuti prinsip-prinsip hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan.
F. Definisi Istilah
Judul penelitian ini “Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata puncak ratu di desa tebul barat kecamatan pegantenan kabupaten pamekasan”.
Demi jelasnya kata yang terkandung dalam penelitian ini penulis perlu mejabarkan satu persatu makna dari kata yang tersusun di judul tersebut agar mempermudah pembaca sebagai berikut:
1. Hukum Ekonomi Syariah
Hukum Ekonomi Syariah adalah salah satu cabang dari hukum Islam yang mengatur aspek-aspek ekonomi dan transaksi keuangan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Tujuan utama dari hukum ekonomi syariah adalah untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan kepentingan sosial, sehingga aktivitas ekonomi tidak hanya berfokus pada keuntungan semata, tetapi juga berorientasi pada kemaslahatan umat.6
2. Mudharabah
Al- mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara kedua belah pihak dimana pihak pertama (shohibul mal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.7 Mudharabah menurut ahli fiqih merupakan suatu perjanjian dimana seseorang memberikan hartanya kepada orang lain berdasarkan prinsip dagang dimana keuntungan yang diperoleh akan dibagi berdasarkan pembagian yang disetujui oleh para pihak.
3. Wisata Puncak Ratu
Wisata Puncak Ratu di Pamekasan dapat dianggap sebagai bagian dari pariwisata halal karena beberapa aspek yang mendukungnya. Pertama, lokasinya berada di Madura, yang dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduk Muslim dan budaya Islami yang kuat. Hal ini menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Fasilitas yang disediakan di Puncak Ratu juga mendukung pariwisata halal, seperti tersedianya tempat ibadah di sekitar daerah pariwisata dan warung makan yang menyajikan makanan halal. Aktivitas pariwisata yang ditawarkan
6 Muhammad Syakir Sula, Hukum Ekonomi Syariah dalam Transaksi Bisnis (Jakarta: Kencana, 2018), hlm. 45.
7 Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik. (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 95.
bersifat family-friendly dan sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti menikmati pemandangan alam, berfoto di spot-spot menarik, dan berkemah. Suasana alam yang asri dan sejuk mendukung kegiatan kontemplasi dan mendekatkan diri pada ciptaan Allah. Selain itu, pengelolaan pariwisata yang memperhatikan aspek keversihan dan kenyamanan pengunjung juga sesuai dengan prinsip-prinsip pariwisata halal. Meskipun tidak secara eksplisit dipromosikan sebagai destinasi wisata halal, Puncak Ratu Pamekasan memiliki karakteristik yang selaras dengan konsep pariwisata halal, menjadikannya cok untuk pariwisata Muslim yang mencari pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
4.
G. Kajian Penelitian Terdahulu
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memastikan dan memahami penelitianan terdahulu memiliki manfaat sebagai bangunan keilmuan terhadap studi kasus (permasalahan) yang akan diteliti serta dapat menguatkan dan menunjang penelitian yang akan dilakukan karna telah ada rujukan ilmiah yang memiliki relevansi yang kuat dan akurat.
1. Fuad Mahmudzen Marjuki, Renny Oktafia, Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan lahan wisata waduk tanjungan di desa tanjungan kabupaten mojokerto untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, sidoarjo, 2022, memiliki beberapa persamaan dan perbedaan yang signifikan. Kedua penelitian ini menggunakan akad mudharabah sebagai mekanisme pengelolaan aset wisata, dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, perbedaan lokasi, jenis aset, dan metode yang digunakan menunjukkan bahwa kedua penelitian ini memiliki konteks dan implikasi yang berbeda.
Perbedaannya Penelitian "Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata puncak ratu di desa tebul barat kecamatan pegantenan kabupaten pamekasan" berlokasi di Puncak Ratu, yang merupakan tempat wisata yang memiliki berbagai atraksi dan fasilitas. Sementara itu, penelitian "Implementasi
Akad Mudharabah Pada Pengelolaan Lahan Wisata Waduk Tanjungan Di Desa Tanjungan Kabupaten Mojokerto Untuk Meningkatan Perekonomian Masyarakat" berlokasi di Waduk Tanjungan, yang merupakan lahan wisata yang berupa waduk. Kedua penelitian ini menggunakan Maqashid Syariah sebagai indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi metode dan pendekatan yang digunakan mungkin berbeda.
2. Fitria Nurazizah Nailah Kamal, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Pantai Kelapa Warna (Studi Kasus di Desa Panyaungan Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak), Banten, 2023, Persamaannya adalah Kedua judul penelitian ini berfokus pada penerapan hukum Islam dalam pengelolaan wisata. Penelitian "Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Pantai Kelapa Warna" juga menyoroti penerapan hukum Islam dalam pengelolaan wisata, sementara "Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata puncak ratu" juga menggunakan hukum Islam sebagai dasar untuk mengimplementasikan akad mudharabah. Kedua judul penelitian ini mengimplementasikan akad mudharabah dalam pengelolaan wisata. Penelitian
"Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Pantai Kelapa Warna" juga menggunakan akad mudharabah dalam penerapannya, meskipun dalam konteks yang berbeda. Perbedaannya adalah, Penelitian "Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Pantai Kelapa Warna" berlokasi di Desa Panyaungan, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, dan menyoroti wisata pantai kelapa warna. Sementara "Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata puncak ratu" berlokasi di Desa Tebul Barat, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, dan menyoroti wisata Puncak Ratu.
Penelitian "Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Pantai Kelapa Warna" lebih menekankan pada penerapan bagi hasil dalam pengelolaan wisata pantai kelapa warna, sementara
"Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata puncak ratu"
lebih menekankan pada implementasi akad mudharabah dalam pengelolaan
wisata Puncak Ratu. Penelitian "Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Pantai Kelapa Warna" menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lapangan dan wawancara. Sementara
"Implementasi akad mudharabah pada pengelolaan wisata puncak ratu"
mungkin menggunakan metode yang serupa atau metode yang lebih berfokus pada implementasi praktis akad mudharabah.
3. Makhfudh Luthfiyah, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Bagi Hasil Dalam Pengelolaan Wisata Teropong Kota (Studi Pada Objek Wisata Teropong Kota di Desa Sumur Kumbang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan), Lampung, 2021, Persamaan utama adalah bahwa semua penelitian ini menggunakan akad mudharabah sebagai bentuk kerjasama ekonomi syariah.
Namun, penelitian ini memiliki perbedaan yang signifikan dalam objek penelitian, lokasi, tujuan, dan konteks hukum. Penelitian ini berfokus pada pengelolaan lahan wisata di Waduk Tanjungan, sedangkan penelitian lainnya berfokus pada pengelolaan warung, usaha kerajinan, dan bank syariah. Lokasi penelitian ini adalah di Desa Tanjungan, Kabupaten Mojokerto, yang berbeda dengan lokasi penelitian lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengelolaan lahan wisata, sedangkan penelitian lainnya memiliki tujuan yang lebih umum. Dari segi konteks hukum, penelitian ini meninjau implementasi akad mudharabah dari perspektif hukum Islam, yang mungkin lebih spesifik dibandingkan dengan penelitian lainnya yang lebih berfokus pada aspek ekonomi dan keuangan.
H. Kajian Teori 1. Mudharabah
a Pengertian Mudharabah
Mudharabah ialah akad antara dua pihak (orang) saling menanggung, salah satu pihak menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah ditentukan dari keuntungan, seperti setengah atau sepertiga dengan syarat-syarat yang
telah ditentukan. Mudharabah adalah suatu kerja sama antara kedua belah pihak, pihak pertama disebut sohibul maal. Pihak ini menyediakan sejumlah modal dan berperan pasif, dan pihak kedua disebut mudharib, yaitu pihak yang berperan kewiraswastaan dan manajemen untuk melakukan suatu usaha, dagang, industri, atau jasa dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Pada dasarnya mudharib adalah orang yang dipercaya untuk melakukan usaha, dia diminta dengan kepercayaan penuh dan bertanggung jawab atas kerugian yang diderita akibat kelalaian yang dilakukannya secara sengaja.8
Menurut Ghufron A. Mas’adi, mudharabah sendiri dalam pengertian fiqih muamalah adalah perserikatan antara modal (shahibul maal) pada satu pihak, dan pekerjaan (mudharib) pada pihak lain.
Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh pihak pemodal. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah yang perbedaan utama di antara keduanya terletak pada ada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelola hartanya.
Menurut Hanafiyah, mudharabah adalah memandang tujuan dua pihak yang berakad yang berserikat dalam keuntungan laba, karena harta diserahkan kepada yang lain dan yang lain punya jasa mengelola harta itu. Madzhab Hanafi mendefinisikan Mudharabah adalah akad atas suatu syarikat dalam keuntungan dengan modal harta dari satu pihak dan dengan pekerjan (usaha) dari pihak yang lain. Madzhab Maliki mendefinisikan Mudharabah adalah penyerahan uang dimuka oleh pemilik modal dalam jumlah uang yang ditentukan kepada seorang yang akan menjalankan usaha dengan uang itu dengan imbalan
8 M. Umer Chapra, Al Quran: Menuju System Moneter Yang Adil, (Yogyakarta; Dana Bakti Prima Yasa, 1997), 44.
sebagian dari keuntungannya. Madzhab Syafi`i mendefinisikan Mudharabah adalah suatu akad yang memuat penyerahan modal kepada orang lain untuk mengusahakannya dan keuntungannya dibagi antara mereka berdua. Sedangkan Madzhab Hambali mendefinisikan Mudharabah adalah penyerahan suatu barang atau sejenisnya dalam jumlah yang jelas dan tertentu kepada orang yang mengusahakannya dengan mendapatkan bagian tertentu dari keuntungannya.9
b Jenis-jenis Mudharabah
Secara umum, Mudharabah dibagi menjadi dua jenis:
mudharabah muthlaqah dan mudhrabah muqoyyadah.
1) Mudharabah Muthlaqah
Mudharabah muthlaqah adalahakad dalam bentuk kerjasama antara shohibul mal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.
Penerapan mudharabah muhlaqah dapat berupa tabungan.
Berdaasarkan prinsip ini tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana yang dihimpun. Karakteristiknya:
a) Bank wajib memberitahukan kepada dana mengenai nisbah dan tata cara pemberitahuan keuntungan dan atau pembagian keuntungan secara resiko yang dapat ditimbulkan dari penyimpanan dana, yang dicantumkan dalam akad.
b) Untuk tabungan mudharabah, bank dapat memberikan buku tabungan sebagai bukti penyimpanan, serta kartu ATM dan atau alat penarikan lainnya kepada penabung.
c) Tabungan mudharabah dapat diambil setiap saat oleh penabung dengan perjanjian yang disepakati, namun tidak diperkenankan mengalami saldo negatif
9 Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh Ala Madzahib al-Arba`ah, Juz III, Beirut : dan al-Fikr, 1990, 41.
2) Mudhrabah Muqoyyadah
Mudharabah muqoyyadah atau disebut juga dengan istialah restricted mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan jenis usaha, waktu, tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkn kecendrungan umum si sohibul mal dalam memasuki jenis dunia usaha. Jenis mudharabah ini merupakan simpanan husus dimana pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang diharus di patuhi oleh bank. Karakteristik jenis simpanan ini:
a) Pemilik dana wajib menetapkan syarat tertentu yang harus dilakukan oleh bank
b) Bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana mengenai nisbah dan tata cara pemberitahuan keuntungan
c) Sebagai bukti simpanan, Bank menerbitkan bukti simpanan khusus, bank wajib memisahkan dana dari rekening lain.
2. Pariwisata Halal
Berwisata adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seluruh umat manusia, dengan tujuan wisata tertentu. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan mengamanatkan bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata. Dengan demikian, kebutuhan wisata harus terukur sejak meninggalkan rumah hingga kembali dari kegiatan berwisata.Indonesia memiliki keragaman budaya dan keunikan yang menjadi daya tarik wisata. Oleh karena itu, pemerintah menempatkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan yang menopang sistem ekonomi nasional.
Perkembangan ekonomi syariah di beberapa dekade terakhir tidak hanya berdampak pada sektor keuangan maupun perbankan syariah, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas pasar pariwisata.Wisata syariah yang awalnya lebih merujuk pada perjalanan ibadah haji dan umrah kini mengalami perubahan paradigma. Tujuan religi dalam wisata syariah tidak lagi menjadi esensi utama, melainkan proses berwisata tersebut harus diintegrasikan dengan prinsip-prinsip syariah. Indonesia berhasil memperoleh penghargaan destinasi halal terbaik
dunia dan Lombok sebagai destinasi halal terbaik di Indonesia dari Global Muslim Travel Index pada tahun 2019. Kedepan, ekonomi dan pariwisata Indonesia akan berkembang tanpa melupakan nilai-nilai syiar Islam. Pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk memaksimalkan segala potensi destinasi wisata halal yang dikembangkan di dalam negeri. Dengan demikian, wisata syariah akan terus berkembang dan menjadi bagian integral dari pariwisata Indonesia.10
a Pengertian Pariwisata Halal
Mencari nafkah di tempat yang dikunjungi. Menurut Mulyadi (2012) pariwisata adalah suatu aktivitas yang ditandai dengan perubahan tempat tinggal sementara dari seseorang, di luar tempat tinggal tetapnya dengan suatu alasan apapun selain melakukan kegiatan yang bisa menghasilkan upah atau gaji. Tinjauan pengertian pariwisata dari esensi tujuan dan dorongan menurut Spillane (1982) yaitu kegiatan perjalanan yang bertujuan untuk mendapatkan kenikmatan, kepuasan, mengamati sesuatu, dan kesehatan, berolahraga ataupun beristirahat, dinas tugas dan berziarah. Pandangan lain dari Suwantoro (1997) mengatakan bahwa pada hakikatnya berpariwisata disebakan adanya dorongan berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain, seperti sekedar ingin tahu, menambah pengalaman atau belajar. Swarbrooke et al (2003) mempertegas makna pariwisata sebagai praktek atau teori dari kegiatan perjalanan dalam mendatangi objek tertentu untuk memperoleh kesenangan. Secara teknis pengertian pariwisata menurut UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menjelaskan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata
10 Fadhil Surur, Wisata Halal Konsep dan aplikasi, (samata; UPT Perpustakaan UIN Alauddin, 2020), 2
yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Pengertian pariwisata memiliki pemaknaan yang berbeda-beda oleh para ahli baik dengan berbagai sudut pandang, pemaknaan yang tidak terbatas dan sifatnya yang dinamis. Semuanya memiliki muatan tujuan yang sama, berdasarkan pada esensi perjalanan dengan meninggalkan tempat tinggal atau tempat bekerja dalam waktu dan tujuan tertentu.11
Wisatawan diartikan sebagai orang yang mendatangi negara yang bukan negaranya sendiri, dilatarbelangi dengan berbagai alasan apapun, sedangkan alasan untuk mendapatkan pekerjaan dengan memperoleh upah oleh negara yang dikunjungi bukan bagian dari pengertian tersebut (WTO, 2004 dalam Eridiana, 2008). Secara detail, Pendit (2003) mengklasifikasikan wisatawan menjadi empat kategori: setiap orang yang sedang melakukan kegiatan perjalanan dengan tujuan bersenang- senang, untuk kebutuhan pribadi atau untuk keperluan kesehatan dan sebagainya; orang-orang yang sedang melakukan kegiatan perjalanan dengan tujuan menghadiri pertemuan, perundingan, musyawarah atau utusan dinas dari badan atau organisasi (ilmu pengetahuan, olahraga, kegiatan organisasi, keagamaan dan lainnya); orang-orang yang sedang mengadakan kegiatan perjalanan dengan maksud bisnis atau usaha; dan pejabat pemerintah dan orang-orang militer beserta keluarganya yang diposisikan pada suatu negara lain hendaknya tidak dimasukkan dalam kategori ini, tetapi apabila mereka mengadakan perjalanan ke negara lain, maka hal ini dapat digolongkan sebagai wisatawan Menurut Gayatri
& Pitana (2005), wisatawan diklasifikasikan pada dua kelompok besar:
allocentric, berarti wisatawan yang memiliki keinginan mengunjungi destinasi yang belum diketahui, bersifat petualang (adventure) dan memanfaatkan sarana prasarana yang disediakan oleh masyarakat lokal.
Biasanya kelompok ini cenderung tidak menggunakan penyedia jasa wisata. Psychocentric, yaitu wisatawan yang hanya mau mengunjungi
11 Ibid. 3-4.
daerah tujuan wisata yang sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya sendiri. Mereka melakukan perjalanan wisata dengan program yang pasti, dan memanfaatkan fasilitas dengan standar internasional.12
b Jenis-jenis Pariwisata Halal
Jenis-jenis pariwisata halal (Halal Tourism) memiliki beberapa kategori yang berbeda, dengan setiap jenis memiliki tujuan dan persyaratan yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa jenis pariwisata halal dengan sumber referensi yang jelas:
1) Wisata Budaya:
Jenis wisata ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenal dan menikmati budaya lokal. Pariwisata halal yang berbasis budaya
mencakup berbagai aktivitas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah Islam.
2) Wisata Alam:
Wisata alam merupakan jenis pariwisata yang menekankan pada keindahan alam dan ekosistem. Pariwisata halal yang berbasis alam mencakup berbagai aktivitas yang tidak mengganggu keseimbangan alam dan sesuai dengan nilai-nilai syariah.
3) Wisata Ziarah:
Wisata ziarah adalah jenis pariwisata yang dilakukan dengan tujuan untuk berziarah ke tempat-tempat suci. Pariwisata halal yang berbasis ziarah mencakup berbagai aktivitas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah dan memungkinkan wisatawan untuk melakukan ibadah dengan lancar.
12 Ibid. 3-4.
4) Wisata Umrah dan Haji:
Wisata umrah dan haji adalah jenis pariwisata yang dilakukan dengan tujuan untuk melaksanakan ibadah umrah atau haji. Pariwisata halal yang berbasis umrah dan haji mencakup berbagai aktivitas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah dan memungkinkan wisatawan untuk melakukan ibadah dengan lancar.
5) Wisata Makanan dan Minuman Halal:
Wisata makanan dan minuman halal adalah jenis pariwisata yang menekankan pada ketersediaan makanan dan minuman yang halal.
Pariwisata halal yang berbasis makanan dan minuman halal mencakup berbagai aktivitas yang tidak mengandung unsur-unsur yang
bertentangan dengan syariah.
6) Wisata Akomodasi Halal:
Wisata akomodasi halal adalah jenis pariwisata yang menekankan pada ketersediaan akomodasi yang halal. Pariwisata halal yang berbasis akomodasi halal mencakup berbagai aktivitas yang tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan syariah, seperti hotel, restoran, dan resor yang halal.
7) Wisata Festival Halal:
Wisata festival halal adalah jenis pariwisata yang menekankan pada kegiatan festival yang sesuai dengan nilai-nilai syariah. Pariwisata halal yang berbasis festival halal mencakup berbagai aktivitas yang tidak bertentangan dengan syariah dan memungkinkan wisatawan untuk berpartisipasi dalam festival yang sesuai dengan nilai-nilai syariah.
8) Wisata Kesehatan dan Rekreasi Halal:
Wisata kesehatan dan rekreasi halal adalah jenis pariwisata yang menekankan pada kesehatan dan rekreasi yang sesuai dengan nilai-nilai
syariah. Pariwisata halal yang berbasis kesehatan dan rekreasi halal mencakup berbagai aktivitas yang tidak mengganggu kesehatan dan sesuai dengan nilai-nilai syariah.
9) Wisata Dakwah dan Ibadah:
Wisata dakwah dan ibadah adalah jenis pariwisata yang
menekankan pada kegiatan dakwah dan ibadah yang sesuai dengan nilai-nilai syariah. Pariwisata halal yang berbasis dakwah dan ibadah mencakup berbagai aktivitas yang tidak bertentangan dengan syariah dan memungkinkan wisatawan untuk melakukan ibadah dengan lancar.
10) Wisata Pendidikan dan Belajar:
Wisata pendidikan dan belajar adalah jenis pariwisata yang
menekankan pada kegiatan belajar dan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai syariah. Pariwisata halal yang berbasis pendidikan dan belajar mencakup berbagai aktivitas yang tidak bertentangan dengan syariah dan memungkinkan wisatawan untuk belajar dan
mengembangkan diri dengan sesuai dengan nilai-nilai syariah.
3. Wisata Puncak Ratu
Wisata Puncak Ratu di Pamekasan dapat dianggap sebagai bagian dari pariwisata halal karena beberapa aspek yang mendukungnya. Pertama, lokasinya berada di Madura, yang dikenal sebagai daerah dengan Mayoritas penduduk Muslim dan budaya Islami yang kuat. Hal ini menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Fasilitas yang disediakan di Puncak Ratu juga mendukung pariwisata halal, seperti tersedianya tempat ibadah di sekitar daerah pariwisata dan warung makan yang menyajikan makanan halal. Aktivitas pariwisata yang ditawarkan bersifat family-friendly dan sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti menikmati pemandangan alam, berfoto di spot-spot menarik, dan berkemah. Suasana alam yang asri dan sejuk mendukung kegiatan kontemplasi dan mendekatkan diri pada ciptaan Allah.
Selain itu, pengelolaan pariwisata yang memperhatikan aspek keversihan dan
kenyamanan pengunjung juga sesuai dengan prinsip-prinsip pariwisata halal.
Meskipun tidak secara eksplisit dipromosikan sebagai destinasi wisata halal, Puncak Ratu Pamekasan memiliki karakteristik yang selaras dengan konsep pariwisata halal, menjadikannya cok untuk pariwisata Muslim yang mencari pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Puncak Ratu Pamekasan adalah destinasi wisata alam di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Lokasinya berada di Desa Tebul Barat, Kecamatan Pegantenan, sekitar 10-20 km dari pusat kota. Tempat ini menawarkan pemandangan indah dari ketinggian 200 meter, udara sejuk, dan berbagai spot foto menarik seperti sarang burung dan rumah kayu. Tiket masuknya seharga Rp 10.000, dengan biaya parkir Rp 3.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Puncak Ratu juga menyediakan fasilitas untuk berkemah dan glamping, serta warung makan di sekitarnya.13
I. Metode Penelitian
Berdasarkan sumber-sumber yang diberikan, metode penelitian yang dapat digunakan untuk penelitian dengan judul “Analisis Hukum Islam Tentang Penerapan Akad Mudharabah Bagi Hasil pada Lahan Wisata Puncak Ratu (Studi Kasus di Desa Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan)” adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris kualitatif atau dengan istilah lain biasa disebut penelitian lapangan (field research). Penelitian hukum empiris kualitatif dapat dikatakan penelitian yang mana data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber langsung dari masyarakat sebagai sumber pertama, dengan melalui pengamatan (observasi), wawancara, ataupun penyebaran
13 https://jatim.nu.or.id/jujugan/indahnya-berwisata-hingga-camping-di-puncak-ratu-pamekasan- uhzzl (Diakses pada Tanggal 22 Juli 2024)
kuesioner.14 Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-legal, sosio-legal merupakan kajian terhadap hukum dengan menggunakan pendekatan ilmu hukum maupun ilmu sosial.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian yang menggunakan kualitatif, kehadiran peneliti dilapangan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan peneliti bertindak sebagai instrument utama sekaligus dalam rangka memperoleh data yang diperlukan oleh peneliti. Peneliti disini memiliki peran rangkap dalam penelitiannya, ia berperan sekaligus sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelopor hasil penelitiannya. Dalam penelitian kualitatif seorang peneliti tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Kehadiran peneliti sangat penting untuk mendapatkan informasi langsung dari informan yang mempunyai tujuan dari penelitian ini yaitu informasi tentang Pengaruh eksistensi kiyai pondok pesantren terhadap kontestasi politik pemilihan kepala desa ( studi kasus desa plakpak pegantenan Pamekasan ).
Buford junker dalam Lexy J. Moleong memberikan gambaran tentang peran peneliti sebagai pengamat, salah satunya adalah berperanserta secara lengkap. Pengamat dalam hal ini menjad anggota penuh dari kelompok yang diamatinya. Dengan demikian ia dapat memperoleh informasi apa saja yang dibutuhkannya.15 Disini peneliti berperan sebagai partisipan penuh atau berperan serta secara lengkap, artinya peneliti masuk secara total kedalam kelompok yang diamati, diteliti, terlibat dan mengalami impresi (kesan) yang sama dengan subjek penelitian.
3. Lokasi Penelitian
Dalam Lokasi penelitian merupakan objek yang sangat penting dari sebuah penelitian. Karena lokasi penelitian ini seseorang peneliti mendapat
14 Jonaedi Efendi, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Cimanggis: Prenamedia Group,
2018), 154.
15 Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif (Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2018), 176.
data-data dengan fokus penelitian dan tujuan penelitian yang telah ditentukan.
Lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak didesa Pegantenan Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan. Peneliti tertarik melakukan penelitian dilembaga ini karena untuk mengetahui eksistensi kiai pondok pesantren terhadap kontestasi politik pemilihan kepala desa ( studi kasus desa plakpak pegantenan Pamekasan ).
4. Sumber Data
Sumber Menurut Suharsimi Arikunto, yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.16 Adapun yang dijadikan sumber data adalah:
a. Data Primer
Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, seperti kiai pondok pesantren, calon kepala desa, tokoh masyarakat, dan pemilih di Desa Plakpak Pengantenan.
b. Data Skunder
Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, seperti arsip Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pamekasan, serta buku, jurnal, dan artikel yang relevan dengan topik penelitian
5. Prosedur pengumpulan data
Teknik Teknik pengumpulan data kualitatif merupakan pengumpulan data-data yang bersifat deskriptif yaitu data berupa gejala-gejala hasil wawancara atau observasi yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya seperti foto, dokumen, artefak, dan catatan-catatan lapangan saat penelitian. Dari semua teknik yang digunakan dalam pengumpulan data, kata-kata dan tindakan merupakan data utama, sedangkan data lainnya
16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik , (Jakarta: Pt Rineka Cipta, 2013), 129.
merupakan data pendukung. Oleh karenanya, dalam metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan dengan teknik; wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada pendekatan ini, peneliti dapat menggunakan berbagai pendekatan, apakah mengambil data secara terbuka atau diketahui oleh informan atau secara tertutup, tergantung pada kebutuhannya. Namun dari semua pendekatan yang digunakan, jelas bahwa penyajian data dalam penelitian dilakukan dengan cara sadar, terarah, sistematis dan bertujuan memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian.
Menurut Creswell dalam Amir Hamzah dalam penyajian data penelitian, peneliti harus membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata- kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang dialami.17 Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini yaitu Guru Bahasa Madura dan siswa sebagai narasumber.
a. Observasi
Nasution dalam Amir Hamzah menyatakan bahwa, observasi atau pengamatan adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda ruang angkasa) dapat diobservasi dengan jelas.18
Menurut Guba dan Lincloln dalam Amir Hamzah observasi merupakan kegiatan dengan menggunakan panca indera, bisa penglihatan, penciuman, atau pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian.
Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi
17 Amir Hamzah, Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development, (Malang: Literasi Nusantara, 2019), 149.
18 Ibid, 310.
atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.19
1) Observasi Partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. 20 2) Observasi terus terang atau tersamar
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Tetapi dalam satu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.
3) Observasi tak berstruktur
Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak berstruktur, karena fokus penelitian belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Kalau masalah penelitian sudah jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, maka observsi dapat dilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.
Observasi tidak bersruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasikan. Hal ini dilakukan
19Ibid, 151.
20 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2010), 310.
karena peneliti tidak tau secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrument yang telah baku, tetapi hanya rambu-rambu pengamatan.21
Jadi observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu observasi terus terang.
Penulis menjadi peneliti sepenuhnya, artinya peneliti tidak terlibat langsung, peneliti hanya mengamati saja tanpa harus berperan langsung dalam sebuah kegiatan.
b. Wawancara
Esterberg dalam Amir Hamzah mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur.
1) Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, pengumpulan data dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Supaya setiap pewawancara mempunyai keterampilan yang sama, maka diperlukan training kepada calon pewawancara. 22
Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrument sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul
21 Ibid, 313
22 Ibid, 319.
data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.
2) Wawancara semi terstruktur
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-depth interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.23
3) Wawancara tak berstruktur
Wawancara tidak berstruktur, adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis- garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. 24
Pada penelitian ini wawancara yang akan digunakan oleh peneliti yaitu wawancara semi terstruktur. Peneliti menyusun dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan dijadikan bahan untuk wawancara. Tujuannya adalah untuk dapat menghindari terjadinya kesalahan dalam memperoleh data, karena dalam wawancara semi terstrukrur ini masih bisa ada jawaban atau pertanyaan lain diluar dari pedoman wawancara yang sudah dibuat. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 3 unsur narasumber yaitu pengasuh pondok pesantren, kepala desa, calon kepala desa dan masyarakat pegantenan.
23 Ibid, 320.
24 Ibid. 321.
c. dokumentasi
Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cendera mata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa di pakai untuk menggali informasi yang terjadi dimasa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoritis untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekedar barang yang tidak bermakna.
Dokumen adalah sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan documenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, kliping, dokumen pemerintah atau swasta, data deserver dan flashdisk, data tersimpan diwebsite, dan lain-lain.25 Jadi dalam penelitian ini, peneliti dapat memperoleh data berdasarkan dokumentasi dari foto-foto berupa kegiatan dan foto sekolah dan arsip lainnya yang didapatkan pada saat penelitian.
Dari uraian diatas peneliti menyimpulkan bahwa dokumentasi adalah hasil atau bukti yang diperoleh oleh peneliti pada saat melakukan teknik wawancara atau observasi yang dapat berupa dokumen, foto, atau sebagainya dengan jumlah kurang lebih 6 orang, pengasuh pondok pesantren, kepala desa, calon kepala desa dan masyarakat pegantenan.. Pada penelitian ini, peneliti ingin memperoleh dokumentasi yang berkaitan dengan eksistensi kiai
25 Amir Hamzah, Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development, (Malang: Literasi Nusantara, 2019), 151.
pondok pesantren terhadap kontestasi politik pemilihan kepala desa ( studi kasus desa plakpak pegantenan Pamekasan ).
d. Triangulasi
Triangulasi pada hakikatnya merupakan pendekatan multimetode yang dilakukan peneliti pada saat mengumpulkan dan menganalisis data. Ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang. Memotret fenomena tunggal dari sudut pandang yang berbeda-beda akan memungkinkan diperoleh tingkat kebenaran yang handal. Karena itu, triangulasi ialah usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin apa yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data.26
Norman K. Denkin mendefinisikan triangulasi sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda. Sampai saat ini, konsep Denkin ini dipakai oleh para peneliti kualitatif di berbagai bidang. Menurutnya, triangulasi meliputi empat hal, yaitu: (1) triangulasi metode, (2) triangulasi antar-peneliti (jika penelitian dilakukan dengan kelompok), (3) triangulasi sumber data, dan (4) triangulasi teori.27
Penelitan ini menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber data (wawancara).
26 Mudjia Rahardjo, “Triangulasi Dalam Pemelitian Kualitatif”, Diakses Dari Https://Uin- Malang.Ac.Id/R/101001/Triangulasi-Dalam-Penelitian-Kualitatif.Html#:~:Text=Triangulasi
%20pada%20hakikatnya%20merupakan%20pendekatan,Didekati%20dari%20berbagai%20sudut
%20pandang , Pada Tanggal 22 Oktober 2023 Pukul 15.38 Wib.
27 Ibid.
Triangulasi metode adalah proses uji keabsahan data dengan cara mengonfirmasi data penelitian yang sudah diperoleh dengan metode yang berbeda. Tujuannya adalah untuk memberikan keyakinan pada peneliti bahwa data yang diperoleh sudah sah dan layak untuk diteruskan menjadi data penelitian yang akan dianalisis.
Cara yang dilakukan adalah dengan mengonfirmasi data yang diperoleh pertama kali dengan metode yang berbeda.28 Peneliti menggunakan semua teknik pengumpulan data untuk memperkuat keabsahan data yang diperoleh.
Triangulasi sumber adalah proses uji keabsahan data dengan cara mengonfirmasi data penelitian yang sudah diperoleh pada sumber yang berbeda. Tujuannya adalah untuk memberi keyakinan pada peneliti bahwa data tersebut memang sudah sah dan layak untuk menjadi data penelitian yang akan dianalisis. Cara yang dilakukan adalah dengan mengonfirmasi atau mewawancarai sumber atau pihak yang berbeda dengan sumber atau pihak yang pertama kali memberikan data.29 Dalam penelitian ini informan utama adalah pengasuh pondok pesantren, kepala desa, calon kepala desa dan masyarakat pegantenan.
Guna memperoleh data yang lebih absah maka peneliti juga mengonfirmasi pada informan lain yakni, semua calon kepala desa, perangkat desa, dan beberapa masyarakat desa pegantenan.
6. Analisis Data
Analisis Menurut L.R Gay dalam Amir Hamzah menganalisis data dalam penelitian kualitatif adalah meringkas data kedalam suatu cara yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan Bogdan dan Biklen dalam Amir Hamzah menyatakan bahwa “data analysis is the process of
28 Sigit Hermawan, Amirullah, “Metode Penelitian Bisnis Pendekatan Kuntitatif Dan Kualitatif”, (Malang, Media Nusa Creative, 2016). Hlm. 226.
29 Ibid. 225.
systematically searching and arranging the interview transcripts, fieldnotes, and others materials that you accumulate to increase uour own understanding of them and to anable you to present what you have discovered to oothers”. Analisi data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. 30
Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing/verification.
a) Data Reduction (Reduksi data)
Data yang diperoleh dilapangan dicatat secara teliti dan rinci. Untuk menghindari penumpukan data, maka dilakukan reduksi data, yaitu dengan merangkum, memilih hal pokok, menfokuskan pada hal penting, mencari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu sehingga memberikan gambaran yang lebih jelas dalam mempermudah untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Dalam mereduksi data, difokuskan pada temuan penelitian, oleh karena itu, hal yang tidak sesuai dengan teori yang melandasi fokus penelitian justru menjadi penting untuk dipehatikan dalam melakukan reduksi data.31 Pada tahap reduksi data peneliti akan mempertajam, mengurutkan, membuang, dan mengatur data yang pada akhirnya ditarik sebuah kesimpulan yang akan menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, secara langsung pada pihak/informan yang dibutuhkan.
b) Data Display (Penyajian data)
Setelah data direduksi, data disajikan dalam bentuk teks naratif dan matriks untuk memudahkan pengorganisasian dan penyusunan dalam pola hubungan. Dalam penyajian data terdapat enam hal yang dilakukan, yaitu
30Ibid, 153.
31 Ibid, 154.
1) contact summary sheet, membuat kertas kerja yang berisi serangkaian fokus penelitian atau pertanyaan penelitian dengan mengulas kembali hasil catatan lapangan dan menjawab singkat untuk mengembangkan kesimpulan,
2) codes and coding, adalah pengkodean seluruh catatan lapangan yang disusun berdasarkan pertanyaan penelitian. Kode-kode tersebut diorganisasi sedemikian rupa agar dikelompokkan berdasarkan segmen yang berhubungan dengan perntayaan yang telah dirumuskan,
3) pattern coding, pengkodean inferensial atau penjelasan, merupakan cara pengelompokkan kesimpulan kedalam bentuk yang lebih kecil berupa tema atau konstruk. Setelah itu data dimasukkan kedalam satuan analisis yang esensial,
4) memoing, bukan hanya merupakan data yang terhimpun dari penelitian, tetapi satu kesatuan yang saling terkait;
merepresentasikan suatu konsep yang utuh,
5) site analysis meeting, melakukan pertemuan dengan informan untuk menyimpulkan kondisi lapangan yang diarahkan oleh serangkaian pertanyaan yang diajukan kemudian dijawab dan dicatat selama pertemuan berlangsung,
6) interim site summary, berisi sintesis atau pengetahuan yang berhasil didapat dilapangan dengan memeriksa hal-hal yang mungkin luput dari penelitian, kilas balik temuan dan menentukan langkah penelitian selanjutnya. 32
Pada tahap penyajian data peneliti akan membatasi suatu penyajian sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan, dan pengambilan tindakan. Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan teks naratif agar memudahkan pembaca dalam memahami hasil penelitian yang dilakukan. Penyajian data ini
32 Amir Hamzah, Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development, (Malang: Literasi Nusantara, 2019), 155.
disusun setelah peneliti mengumpulkan data-data yang dirasa penting dan diuraikan dalam bentuk teks narasi dengan berurutan sesuai dengan strukturnya agar pembaca mudah memahami.
c) Coclusion Drawing (Penarikan kesimpulan dan verifikasi)
Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan berubah jika ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan data yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh kembali bukti-bukti yang valid dan konsisten dilapangan, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang shahih.33
Setelah melakukan reduksi data dan penyajian data, barulah peneliti akan mengambil kesimpulan dari data yang sudah disajikan. Kesimpulan pada tahap ini nantinya akan menjawab dari rumusan masalah.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang meamanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan ata sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak dugunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.
Untuk membuktikan data bisa dipertanggung jawabkan dalam penelitian ini, maka teknik yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur keabsahan data temuannya adalah sebagai berikut:
a) Perpanjangan keikutsertaan
Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal atau berada dilapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai.
Perpanjangan keikutsertaan sangat menentukan dalam pengumpulan data,
33 Ibid, 156.
keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat akan tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada pelatar penelitian, karena peneliti diharuskan menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat releven dengan permasalahan yang sedang diteliti.
Seperti halnya Peneliti mengamati, meninjau, memperhatikan dan meneliti fenoma-fenomena yang terjadi dalam eksistensi kiai pondok pesantren terhadap kontestasi politik pemilihan kepala desa ( studi kasus desa plakpak pegantenan Pamekasan ).
b) Meningkatkan ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.34 Dalam hal ini penelitian menelaah secara rinci untuk mendapatkan suatu yang pasti terkait dengan deskripsi data apa sudah akurat sesuai dengan yang diamati.
Untuk memperoleh data yang valid dalam pengecekan keabsahaan data ketekunan peneliti ini, peneliti menfokuskan sesuai dengan fokus penelitian yaitu eksistensi kiai pondok pesantren terhadap kontestasi politik pemilihan kepala desa ( studi kasus desa plakpak pegantenan Pamekasan ).
8. Tahap-tahap penelitian
Adapun tahap-tahap penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui objek penelitian secara sistematis sebagai berikut:
a) Pra-penelitian
Pada tahap pra-penelitian ini adalah segala hal yang perlu dipersiapkan, adapun hal yang harus dipersiapkan yaitu membuat judul, menyusun rancangan penelitian, membuat fokus penelitian, memilih lokasi penelitian,
34 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), 272.
mengurus surat izin, memilih lokasi penelitian, memilih informan dan mempersiapkan segala perlangkapan yang dibutuhkan saat penelitian.
b) Proses penelitian
Pada tahap ini memahami latar belakang, mempersiapkan diri secara fisik dan mental, melakukan penelitian dan langsung terjun kelapangan, mengumpulkan data dan menganalisis data.
c) Penyususnan laporan
menyusun laporan, penulis menyusun laporan sesuai dengan sistematika penulisan laporan hasil penelitian dengan mekanisme yang diambil penyusun laporan sesuai dengan penulisan karya tulis ilmiah (PPKI) Istitut agama islam negeri madura IAIN MADURA
9. Sistematika Pembahasan
Guna keteraturan penelitian dan upaya memberikan gambaran yang jelas tentang, maka peneliti mengadopsi pendekatan sistematika yang terstruktur.
Penelitian ini akan disusun menjadi serangkaian bab yang saling terkait. Di mana, masing-masing bab akan membahas aspek-aspek khusus yang tetap relevan dengan topik yang diteliti. Dengan demikian, melalui perumusan sistematika ini maka penelitian ini bisa menyajikan informasi secara teratur, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti alur pikir dan perkembangan konsep dari awal hingga akhir penelitian. Dengan mempertahankan hubungan yang konsisten antara bab satu dengan bab lainnya peneliti berharap untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang topik ini tanpa mengorbankan kerangka keseluruhan dari penelitian ini. Oleh sebab itu, melalui sistematika pembahasan ini maka penelitain ini akan dirumuskan menjadi lima bab sebagai berikut:
BAB I : Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah.
BAB II : Peneliti akan membahas tentang kajian terdahulu, dan kajian pustaka. Kajian pustaka yang dimaksud dalam bab ii ini merupakan konsep teoritis yang akan dijadikan
sebagai pisau bedah dalam penelitian ini.
BAB III : Bab ini berisi metode penelitian, jenis penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, dan pengecekan keabsahan data.
BAB IV : Bab ini berisi hasil penelitian yang disajikan secara mendalam tentang a). Untuk Mengetahui praktek kiyai dalam kontestasi pemilihan kepala desa, b). Untuk Mengetahui pengaruh kiyai terhadap kontestasi pemilihan kepala desa Di desa plakpak
BAB V Penutup, yakni kesimpulan dari berbagai uraian pada bab- bab sebelumnya. Pada bab ini berisi kesimpulan skripsi, sehingga pembaca dapat lebih mudah memahami pesan yang ingin peneliti sampaikan dalam skripsi ini, serta berisi saran-saran bagi peneliti berikutnya yang ingin melakukan pengembangan terhadap penelitian ini.
10. Outline Penelitian
Outline proposal penelitian ini tersusun dari beberapa daftar sementara sebagai berikut ini, antara lain:
1. Judul
2. Latar Belakang 3. Rumusan Masalah 4. Tujuan Penelitian 5. Manfaat Penelitian 6. Kajian Terdahulu 7. Kajian Teori 8. Metode Penelitian 9. Sistematika Pembahasan 10. Otline Penelitian
11. Daftar Pustaka
12. Lampiran J. Daftar Pustaka
Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam), (Yogyakarta: UII Press, 2000),
Syaikhu. Dkk, Fikih Muamalah: Memahami Konsep Dan Dialektika Kontemporer, (Yogyakarta: K-Media, 2020),
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Terj. Zaenal Abidin, Terjemah Bulughul Maram, (Jakarta: Pustaka Imam Adz-Dzahabi, 2007), Imam Mustofa, Fiqh Muamalah Kontemporer, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, Imam Mustofa, Fiqh Muamalah Kontemporer,
Data yang berkaitan dengan angka-angka didapat dari Badan Pusat Statistik Kabupaten
Pamekasan Tahun 2016 yang diolah dan dibahasakan kembali oleh penulis. Lihat Badan Pusat
Statistik Kabupaten Pamekasan, Pamekasan dalam Angka 2016 (Pamekasan: BPS Kab.
Pamekasan, 2016)
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pamekasan, Statistik Daerah Kabupaten Pamekasan 2015
(Pamekasan: BPS Kab. Pamekasan, 2015)
Abd bahar, Pemilik Lahan Puncak Ratu, Wawancara Langsung (04 September 2024.)
Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik. (Jakarta: Gema Insani Press, 2005)
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pariwisata_halal (diakses pada tanggal 22 Juli 2024)
M. Umer Chapra, Al Quran: Menuju System Moneter Yang Adil, (Yogyakarta; Dana Bakti Prima Yasa, 1997)
Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh Ala Madzahib al-Arba`ah, Juz III, Beirut : dan al-Fikr, Fadhil Surur, Wisata Halal Konsep dan aplikasi, (samata; UPT Perpustakaan UIN
Alauddin, 2020)
https://jatim.nu.or.id/jujugan/indahnya-berwisata-hingga-camping-di-puncak-ratu- pamekasan-uhzzl (Diakses pada Tanggal 22 Juli 2024)
Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif (Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2018)
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik , (Jakarta: Pt Rineka Cipta, 2013)
Amir Hamzah, Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development, (Malang: Literasi Nusantara, 2019)
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2010)
Amir Hamzah, Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development, (Malang: Literasi Nusantara, 2019)
Mudjia Rahardjo, “Triangulasi Dalam Pemelitian Kualitatif”, Diakses Dari Https://Uin-Malang.Ac.Id/R/101001/Triangulasi-Dalam-Penelitian-
Kualitatif.Html#:~:Text=Triangulasi%20pada%20hakikatnya
%20merupakan%20pendekatan,Didekati%20dari%20berbagai%20sudut
%20pandang , Pada Tanggal 22 Oktober 2023 Pukul 15.38 Wib.
Sigit Hermawan, Amirullah, “Metode Penelitian Bisnis Pendekatan Kuntitatif Dan Kualitatif”, (Malang, Media Nusa Creative, 2016)
Amir Hamzah, Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development, (Malang: Literasi Nusantara, 2019)
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016)