PROPOSAL PENELITIAN
MANAJEMEN MUTU TENAGA PENDIDIK PADA SEKOLAH PENGGERAK DI KOTA PALANGKARAYA
(SITUS SMAN 1 PALANGKARAYA DAN SMAN 6 PALANGKARAYA)
Oleh
Nama : Septina Wijayanti Nim : 2320111320051
PROGRAM STUDI MAGISTER
ADMINISTRASI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS LAMBUNG
MANGKURAT BANJARMASIN
2023
DAFTAR ISI
Daftar Isi………..i
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………..………. 1
B. Fokus Penelitian ……… 6
C. Rumusan Masalah……….. 7
C. Tujuan Penelitian……… 7
D. Manfaat Penelitian ……… 7
BAB II PEMBAHASAN A. Manajemen Pendidikan……….……… 9
B. Mutu Tenaga Pendidik……....………... 14
C. Program Sekolah Penggerak……….……….. 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Pendekatan dan Jenis Penelitian……… 17
B.Kehadiran Peneliti………. 18
C. Lokasi Penelitian ………. 18
D. Keinforman……….. 18
E. Prosedur Pengumpulan Data……… 19
F. Analisis Data………. 20
G. Pengecekan Keabsahan Temuan……….. 22
H. Tahap-Tahap Penelitian………. 22
Daftar Pustaka………ii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk bisa berproses dan berinteraksi di dunia luar dengan semua masyarakat sekitarnya. Pendidikan juga menjadi salah satu bekal terpenting di masa depan. Pendidikan menjadi salah satu hal pokok yang harus diperhatikan karena pendidikan mampu membentuk karakter pribadi setiap orang apabila sungguh-sungguh dalam menekuninya. Pendidikan adalah proses pembelajaran tentang akhlak, ilmu pengatahuan dan keterampilan yang menjadi kebiasaan turun-temurun sekelompok orang untuk melakukan pengajaran, pengamatan, pelatihan atau penelitian.
Pembukaan Undang- Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa “salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, etnis dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila”.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (1), juga menjelaskan bahwa “Pendidikan dipandang sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Secara langsung maupun tidak langsung pendidikan mampu memberikan kita ilmu pengetahuan baru, membentuk karakter pribadi yang lebih baik dan mempermudah kita meniti karir di masa depan.
Menurut Langeveld Pendidikan adalah “setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa”.
Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan yaitu “tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”.
Oleh karena itu dunia Pendidikan juga harus mempersiapkan diri dengan baik untuk mempersiapkan Pendidikan untuk anak. Dengan mempersiapkan visi, misi dan merencanakan strategi-strategi Pendidikan dengan baik sehingga Pendidikan di sekolah menjadi bermutu. Untuk memberikan jaminan terhadap mutu, maka lembaga Pendidikan dalam hal ini sekolah harus melalukan pengelolaan sekolah yang berorientasi pada mutu. Mutu pendidikan perlu dikelola dengan tertib dan kontinyu agar membawa hasil yang memuaskan. Maka diperlukan manajemen mutu pendidikan
Permendikbud No.28 Tahun 2016 pada pasal 1 menjelaskan bahwa Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah Pergub Kalimantan Tengah tahun 2012 Pasal 1 No. 29 menjelaskan bahwa “Standar mutu pendidikan adalah kriteria minimal tentang mutu penyelenggaraan pendidikan yang meliputi standar mutu pendidik/tenaga kependidikan, standar mutu isi, standar mutu proses, standar mutu kompetensi lulusan, standar mutu sarana dan prasarana, standar mutu pengelolaan, standar mutu pembiayaan, standar mutu penilaian pendidikan di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Tengah”
.
Dalam hal ini tenaga pendidik berperan penting dalam menentukan mutu Pendidikan. Seperti yang tertuang dalam Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022 Pasal 1 menjelaskan bahwa
“Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, pamong belajar, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”.
Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan mutu Pendidikan, sekolah juga harus mempersiapkan pendidik, tenaga kependidikan yang sesuai standar mutu, juga mempersiapkan para pendidik , tenaga kependidikan yang menguasai ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi agar ilmu dan teknologi yang semakin berkembang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan dan kualitas hidup. Dengan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang tinggi maka siswa juga akan memiliki kualitas mutu yang baik dengan demikian sekolah juga akan memiliki kualitas mutu yang tinggi juga.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan secara formal aspek guru atau tenaga pendidik mempunyai peranan penting dalam mewujudkannya, disamping aspek lainnya seperti
sarana/prasarana, kurikulum, siswa, manajemen, dan pengadaan buku. Pendidik atau guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti dari kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya. untuk meningkatkan kinerja guru salah satu komponen yang berperan adalah meningkatkan profesional guru yang bercirikan : menguasai tugas, peran dan kompetensinya, mempunyai komitmen yang tinggi terhadap profesinya, dan menganut paradigma belajar bukan saja di kelas tetapi juga bagi dirinya sendiri melakukan pendidikan berkelanjutan sepanjang masa.
Menurut catatan World Population Review dalam bidang Peringkat Pendidikan menurut negaranya, maka Indonesia pada tahun 2021 menempati urutan ke 54 dunia, kalah dari Malaysia bahkan Thailand yang menempati urutan ke 38 untuk Malaysia dan urutan ke 49 untuk Thailand.
Masih rendahnya peringkat Pendidikan di Indonesia tentu disebabkan oleh banyak faktor.
Diantaranya adalah faktor pendidik dan tenaga kependidikan. Dimana selama ini pendidikan kita hanya berpusat kepada guru. Murid sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan gagasannya dan daya kreatifnya. Akibatnya, murid mengalami kemandekan berkreatifitas, kemandekan berpikir dan tidak berkembangnya gagasan-gagasan karena pikiran mereka dibatasi oleh aturan aturan yang kaku. Penyebab rendahnya kualitas pendidikan Indonesia selanjutnya ialah sistem administrasi yang sangat banyak dan ribet. Guru diharuskan membuat silabus dan RPP sampai berpuluh-puluh halaman. Hal ini menyebabkan guru tidak fokus terhadap kegiatan belajar mengajar, tidak mendalami bidang keilmuannya, dan tidak mengevaluasi kegiatan belajarnya untuk merancang strategi pengajaran yang evektif. Guru justru terlalu disibukkan oleh kegiatan-kegiatan administratif dan formalitas. Selain itu juga tingkat kesejahteraan guru yang sangat rendah. Meski guru merupakan pahlawan tanpa pamrih, tidak seharusnya guru diberikan gaji yang tidak layak.
Melihat hal ini maka Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mencanangkan Program Sekolah Penggerak Untuk mewujudkan visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju, berdaulat, mandiri dan berkepribadian yang mencerminkan Pancasila, Program sekolah penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar secara holistic (menyeluruh) yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM (Sumber Daya Manusia) yang unggul dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru-guru.
Pada hari Senin, 1 Februari 2021, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim secara resmi meluncurkan Merdeka belajar episode 7: Program Sekolah Penggerak, secara daring.
Program ini bertujuan melahirkan siswa dengan profil pelajar Pancasila. Menteri Pendidikan selanjutnya menjelaskan bahwa Sistem pedidikan kita akan berujung pada profil pelajar Pancasila.
Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong-royong, Sejak Program Sekolah Penggerak diluncurkan pada tahun 2021 sampai saat ini tercatat dari 34 Provinsi di Indonesia sudah terdapat 14.237 sekolah dari tingkat dasar yaitu PAUD, SD, sampai kepada tingkat menengah yaitu SMP, SMA dan SLB yang sudah melaksanakan program sekolah penggerak. Dari jumlah tersebut terdapat 1.322 SMA yang sudah melaksanakan program sekolah penggerak dari berbagai Angkatan 1 pada tahun ajaran 2021/2022, angkatan 2 pada tahun ajaran 2022/2023 dan Angkatan 3 pada tahun ajaran 2023/2024.
Untuk di Provinsi Kalimantan Tengah sendiri terdapat 32 SMA yang sudah melaksanakan Program Sekolah Penggerak, 4 diantaranya adalah sekolah yang berada di kota Palangkaraya yakni SMAN 1 Palangkaraya, SMAN 6 Palangkaraya, SMAS Muhamadiah 1 Palangkaraya dan SMAS Purnama. Dua SMA Negeri tersebut yaitu SMAN 1 Palangkaraya dan SMAN 6 Palangkaraya merupakan Sekolah yang melaksanakan program sekolah Panggerak pada Angkatan ke 2, yaitu sejak tahun ajaran 2022/2023 sampai sekarang yang merupakan tahun ke 2 bagi sekolah tersebut sudah melaksanakan Program Sekolah Penggerak.
Melihat dari perkembangan program sekolah penggerak yang sudah dilaksanakan secara serius dalam dua tahun terakhir maka mutu pendidik dan tenaga kependidikan dalam hal ini terutama guru sangat diperlukan. Terlebih lagi sekolah yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak (PSP) secara otomatis melaksanakan Kurikulum Merdeka mulai dari tahun ajaran 2022/2023.
Kurikulum Merdeka yang merupakan kurikulum yang memiliki system yang berbeda dari kurikulum sebelumnya tentu memerlukan waktu untuk diperkenalkan dan dilaksanakan oleh para guru atau pendidik. Melihat Program sekolah Penggerak yang baru-baru ini gencar dilaksanakan oleh kedua SMA Negeri di Kota Palangkaraya maka pastilah seluruh pihak sekolah memiliki peranan penting untuk menjalankan program tersebut, terutama guru yang secara langsung mengimplementasikan kurikulum merdeka dalam proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran yang baru.
B. FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini berfokus pada manajemen mutu tenaga pendidik pada sekolah yang melaksanakan program sekolah penggerak (PSP) yaitu pada SMAN 1 Palangkaraya dan SMAN 6 Palangkaraya yang meliputi Perencanaan Pembelajaran, Pelaksanaan pembelajaran dan Penilaian selama proses pembelajaran dengan menggunakan kurikulum Merdeka yang secara otomatis dilaksanakan juga pada sekolah penggerak.
C. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa Program Sekolah Penggerak perlu dilaksanakan?
2. Apakah Sekolah yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak mengalami kesulitan dalam melaksanakan Program sekolah Penggerak ?
3. Apakah ada yang bisa ditonjolkan pada sekolah yang melaksanakan program sekolah penggerak?
4. Apakah tenaga pendidik pada sekolah pelaksana program sekolah penggerak mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran mereka?
5. Bagaimanakah Implementasi kurikulum merdeka yang dilaksanakan pada sekolah penggerak?
6. Bagaimana Prestasi yang diraih oleh sekolah selama melaksanakan Program Sekolah Penggerak?
D. TUJUAN PENELITIAN
Melihat dari rumusan masalah tersebut maka tujuan yang akan dicapai oleh peneliti adalah:
1. Mendeskrisikan alasan Program Sekolah Penggerak perlu untuk dilaksanakan
2. Mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh sekolah yang melaksanakan Program sekolah Penggerak
3. Deskripsi hal-hal yang bisa ditonjolkan pada sekolah yang melaksanakan program sekolah penggerak
4. Mendeskripikan peningkatan mutu tenaga pendidik pada sekolah pelaksana program sekolah penggerak dalam proses pembelajaran
5. Mendeskripikan Implementasi kurikulum merdeka yang dilaksanakan pada sekolah penggerak 6. Mendeskripsikan Prestasi yang diraih oleh sekolah selama melaksanakan Program Sekolah
Penggerak
E. MANFAAT PENELITIAN
Dengan penelitian ini, peneliti mengharapkan manfaat secara Teoritis juga secara Praktis, antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis , hasil yang ditemukan oleh peneliti dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan pemikiran tentang manajemen mutu pendidik dan tenaga kependidikan pada sekolah pelaksana Program Sekolah Penggerak sekaligus implementasi kurikulum merdeka oleh tenaga pendidik.
2. Manfaat Praktis
Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi sekolah-sekolah yang belum melaksanakan Program Sekolah Penggerak, juga bermanfaat bagi tenaga pendidik sebagai informasi dan rujukan tentang keberhasilan manajemen mutu pendidik dan tenaga kependidikan pada sekolah pelaksana Program Sekolah Penggerak di Kota Palangkaraya.
BAB 2
LANDASAN TEORI
A. Manajemen Pendidikan
1. Pengertian Manajemen Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, manajemen merupakan proses pengintegrasian, pengkoordinasian dan pemanfaatan semua potensi dan sumber daya yang ada dengan melibatkan secara menyeluruh semua komponen yang ada untuk mencapai tujuan. Begitu pula dengan manajemen pendidikan berbasis sekolah yang juga pada dasarnya merupakan sebuah proses atau usaha yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur dan mengelola semua sumber daya yang ada dalam suatu lembaga pendidikan secara efektif dan efisien.
Secara etimologi (menurut bahasa) kata manajemen dapat dilihat dalam kamus Bahasa Inggris-Indonesia berasal dari kata ”to manage” yang berarti ’menagatur, mengurus, melaksanakan dan mengelola dan memperlakukan. Menurut Mary Parker Follet mengatakan bahwa manajemen adalah seni dalam mengatur dan menyelesaikan suatu pekerjaan melalui orang lain.
Menurut James A.F. Stoner mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut George R. Terry dalam buku Hikmat, mengatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
Definisi lain dijelaskan bahwa manajemen adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Jadi, manajemen merupakan sebuah proses mengatur, mengelola dan pemanfaatan semua Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktif atau berhasil guna.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah kemampuan dalam mengelola sumberdaya manusia dan sumber daya lainnya secara sistematis dan bermula dari POAC yaitu mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing) menggerakkan
(actuating) dan pengawasan (controlling) itu sendiri. Jadi, manajemen pendidikan merupakan proses pengelolaan, pengintegrasian, pengkoordinasian dan pemanfaatan semua sumber daya yang ada dengan melibatkan secara menyeluruh elemen-elemen yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, manajemen lembaga Pendidikan adalah suatu proses usaha dalam mengatur dan mengelola lembaga pendidikan dengan cara memanfaatkan semua Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan atau menggerakkan (actuating) dan pengawasan (controling) dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan melakukan Kerjasama yang baik sehingga tujuan bersama dapat dicapai secara efektif, efesien, dan produktif atau berhasil guna.
2. Fungsi Manajemen Pendidikan
Fungsi manajemen dalam pendidikan tentu tidak bisa lepas dari fungsi manajemen secara umum. Adapun fungsi manajemen menurut George R Terry dalam buku Hikmat, antara lain, fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controling). Dalam pendidikan, fungsi-fungsi manajemen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan
Perencanaan adalah sebuah proses pertama ketika hendak melakukan pekerjaan, baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Menurut G.R.Terry dalam buku Yahrizal Abbas mengatakan bahwa perencanaan adalah kegiatan memilih dan menghubungkan sejumlah asumsi mengenai masa datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskana kegiatan- kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan dasar dari manajemen dilaksanakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan
c. Pelaksanaan
Pelaksanaan (Actuating) adalah penempatan semua anggota dari sebuah kelompok agar bekerja secara sadar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola organisasi.
Dalam pelaksanaan atau pengarahan ini terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang
diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan dan bimbingan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan.
Sedangkan metode pengarahan adalah system komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.
d. Pengawasan
Pengawasan adalah keseluruhan usaha atau upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
3. Komponen Manajemen Pendidikan
Manajemen lembaga pendidikan tidak lepas dari berbagai komponen-komponen yang mempengaruhinya. Artinya manajemen lembaga pendidikan merupakan suatu sistem yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Di bawah ini, diuraikan beberapa komponen manajemen lembaga pendidikan sebagai berikut:
a. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa pembelajaran (proses belajar mengajar) merupakan proses interaksi antara guru dengan peserta didik serta sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran dapat juga diartikan suatu upaya untuk mengarahkan timbulnya perilaku belajar pembelajar, atau dengan ungkapan lain upaya untuk membelajarkan pebelajar. Lebih lanjut Dimyati dan Mudjono dalam Sagala mendefenisikan pembelajaran adalah “kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar. Dalam proses belajar mengajar, guru dan anak didik memiliki posisi dan tugas serta tanggung jawab yang berbeda untuk mencapai tujuan, dimana guru bertugas dan bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik kearah kedewasaan dengan memberikan sejumlah pengetahuan dan bimbingan. Sedangkan anak didik dalam proses belajar mengajar perupaya dan berusaha untuk mencapai tujuan belajar dengan bantuan dan bimbingan dari guru. Proses belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan dan segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar
b. Pengelolaan Kurikulum
Kurikulun ini dijelaskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat. Jadi, kurikulum merupakan seperangkat mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa selama mengikuti proses
pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu. Untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, maka seluruh komponen-komponen pendidikan haruslah baik. Diantara komponen yang sangat penting yaitu adanya kurikulum yang dibuat oleh lembaga pendidikan sebagai sebuah pedoman dan arah dalam menciptakan proses pendidikan yang berkualitas. Kurikulum merupakan jalan yang mesti dilalui dan menjadi gambaran umum (miniature) dari proses pendidikan yang akan dilalui, dan tanpa ada kurikulum mustahil tercipta hasil pembelajaran yang berkualitas.
c. Pengelolaan Tenaga Pendidik
Pengelolaan tenaga pendidik dapat dilakukan dengan cara memanfaat dan menfungsikan sumua guru sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing Kaitannya dengan guru ini dijelaskan bahwa guru (tenaga pendidik) adalah orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing, dimana dia tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik secara profesional tetapi juga bertanggung jawab membentuk keperibadian (moral/akhlak) anak didik bernilai tinggi. Jadi, dapat dipahami bahwa guru sebagai tenaga pendidik merupakan orang yang memegang amanah dan tanggung jawab untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan peserta didik secara profesional, agar memilikipengetahuan, keterampilan dan budi pekerti yang luhur.
d. Pengelolaan fasilitas sarana dan prasarana
Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah/madrasah, mulai dari pengadan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemutakhirannya, terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah dll.
e. Pengelolaan Keuangan
Pengelolaan keuangan, terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh lembaga pendidikan secara transparan dan bertanggung jawab. Pemerintah telah memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah berupa Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Selain itu sekolah bisa juga memungut tambahan untuk biaya Pendidikan
kepada orang tua siswa, berupa Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) dan dana Komite yang besaran jumlahnya dirapatkan bersama manajemen sekolah dengan orang tua siswa.
f. Pengelolaan Siswa
Pengelolaan kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah.
Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Pengelolaan kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur serta menacapai tujuan pendidikan sekolah.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manajemen kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan siswa baru, kegiatan kemajuan belajar serta bimbingan dan pembinaan disiplin.
Menurut E. Mulyasa, tanggung jawab pimpinan lembaga pendidikan dalam mengelola bidang kesiswaan adalah: Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu, Penerimaan, orientasi, klasifikasi dan penunjukan siswa ke kelas dan program studi, Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar, Supervisi bagi siswa yang mempunyai kelainan, seperti pengajaran, perbaikan, dan pengajaran luar biasa, Pengendalian disiplin siswa, Program bimbingan dan penyuluhan, Program kesehatan dan keamanan, Penyesuaian pribadi, social dan emosional.
g. Evaluasi Pembelajaran
Lembaga pendidikan harus melakukan analisis kebutuhan mutu dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan mutu inilah kemudian kepala atau pimpinan lembaga pendidikan membuat rencana peningkatan mutu. Selain itu lembaga juga diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Menurut Oemar Hamalik, evaluasi pembelajaran diarahkan pada komponen sistem pembelajaran yang mencakup prilaku awal anak didik, kemampuan guru, kurikulum dan administrative.
Secara internal evaluasi dilakukan oleh lembaga untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya.
B. Mutu Tenaga Pendidik
1. Pengertian Mutu Tenaga Pendidik
Mutu adalah sifat yang terbaik dan tidak ada lagi yang melebihinya. Atau kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang disebut mutu relative. Mutu juga mengandung arti: (1) sifat terbaik itu tetap atau tahan lama, (2) tidak semua orang dapat memiliki, dan (3) eksklusif.
Mutu relative selalu berubah sesuai dengan perubahan pelanggan, dan sifat produk selalu berubah sesuai dengan keinginan masyarakat.
Mutu atau kualitas juga meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan dimana mutu merupakan kondisi yang selalu berubah seperti apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat mendatang.
Menurut Goesch dan Davis dalam buku Tjiptono menjelaskan bahwa mutu atau kualitas suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Tenaga pendidik sebagai pendidik yang membimbing dan mengarahkan anak didik hendaknya memiliki disiplin ilmu yang luas dan relevan dengan bidang keahliannya dan memiliki moral/budi pekerti yang luhur sebagai contoh bagi anak didik serta profesional dalam merencanakan dan melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran baik terhadap peserta didik maupun pengabdian terhadap masyarakat
C. Program Sekolah panggerak 1. Pengertian Sekolah Penggerak
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang baru, Nadiem Makarim, sejak menerbitkan surat edaran nomor 1 tahun 2020 tentang kebijakan merdeka belajar dalam penentuan kelulusan peserta didik menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan,
“Merdeka Belajar” atau “Kebebasan Belajar”. Konsep “Kebebasan Belajar”, yaitu membebaskan institusi pendidikan dan mendorong peserta didik untuk berinovasi dan mendorong pemikiran kreatif. Konsep ini kemudian diterima mengingat visi misi Pendidikan Indonesia ke depan demi terciptanya manuasia yang berkualitas dan mampu bersaing diberbagai bidang kehidupan (Sibagariang, Sihotang & Murniarti, 2021: 89).
Program Sekolah Penggerak adalah upaya untuk mewujudkan visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Program Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter,
diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Program Sekolah Penggerak (Kemendikbud, 2021)
Pemerintah melakukan pendampingan bagi sekolah penggerak. Yaitu:
a. Pendampingan konsultatif dan Asimetris
Program kemitraan antara Kemendikbud dan pemerintah daerah dimana Kemendikbud memberikan pendampingan implementasi Sekolah Penggerak. Kemdikbud melalui UPT di masing masing provinsi akan memberikan pendampingan bagi pemda provinsi dan kab/kota dalam perencanaan Program Sekolah Penggerak.
b. Penguatan SDM Sekolah
Penguatan Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Guru melalui program pelatihan dan pendampingan intensif (coaching) one to one dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemdikbud. Pelatihan untuk Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Guru terdiri dari; 1) Pelatihan implementasi pembelajaran dengan paradigma baru bagi kepala sekolah, pengawas, penilik, dan guru. 2) Pelatihan kepemimpinan pembelajaran bagi kepala sekolah, pengawas. Dilakukan 1 kali/tahun selama program. Latihan nasional untuk perwakilan guru. Sementara guru lain dilatih oleh in-house training.
c. Pembelajaran Dengan Paradikma Baru
Pembelajaran dengan paradigma baru dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang terdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan Global, Mandiri, Bergotong Royong, Bernalar Kritis dan Kreatif, ini merupakan profil belajar Pancasila.
d. Perencanaan Berbasis Program
Hasil laporan kondisi mutu Pendidikan digunakan sebagai bahan untuk refleksi diri.
Melihat hasil dari refleksi diri maka dibuat perencanaa program perbaikan, lalu pemerintah akan memberikan pendampingan melalui UPT atau dengan pelatihan dari ahli.
e. Digitalisasi Sekolah
Pemerintah sudah mempersiapkan program Merdeka Mengajar, Disini guru dapat belajar sendiri tentang kurikulum merdeka sesuai waktu yang dimiliki. Penggunaan berbagai platform digital dalam pembelajaran bertujuan mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang customized. Platform digital yang digunakan misalnya Canva, Quizizz dll.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mendapatkan deskripsi yang mendalam tentang manajemen mutu tenaga pendidik pada Sekolah Menengah Atas yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal, maka peneliti memerlukan metode penelitian yang dapat memahami proses manajemen mutu pada sekolah, mendeskripsikan Program Sekolah Penggerak serta berbagai kejadian, kegiatan dan interaksi yang terjadi pada sekolah yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak. Pada hasil akhirnya penelitian ini dapat mendeskripsikan kegiatan manajemen mutu tenaga pendidik pada sekolah yang mekasanakan Program Sekolah Penggerak.
Peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif karena pendekatan kualitatif sesuai dengan tujuan studi kasus yaitu meneliti secara mendalam dan bersifat menggambarkan makna atau interpretative.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian menggunakan studi multi situs sehingga dalam penelitian ini menghasilkan informasi yang detail dari dua tempat yang berbeda. Dimulai dengan situs yang pertama terlebih dahulu kemudian dilanjutkan situs kedua.
Langkah yang dilakukan yaitu (1) mengumpulkan data, (2) mencari isu kunci, yaitu peristiwa yang selalu berulang (3) mengklasifikasi data yang banyak memberikan kejadian tentang kategori focus dengan melihat adanya keberagaman dimensi dibawah kategori tersebut, (4) mengidentifikasi kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan semua kejadian yang ada pada data sambal terus mencari kejadian yang baru. (5) mengolah data dengan metode yang tepat untuk menemukan keberadaan proses social dasar dan hubungan-hubungannya, (6) melakukan teknik sampling, pengkodean dan menulis focus analisi pada kategori inti.
Berdasarkan temuan konseptual dari kedua subyek tersebut kemudian dilakukan analisis dengan melakukan komparasi dan pengembangan konseptual yang dihasulkan dari dua situs penelitian. Dengan melakukan langkah-langkah ini dapat ditemukan konseptual yang lebih mantap dan dapat diabstraksikan lebih mendalam tentang “Manajemen Mutu Tenaga Pendidik” pada kedua situs diatas.
Penelitian dengan menggunakan studi multi situs agar peneliti dapat mempelajari secara
mendalam mengenai unit social tertentu meliputi individu, kelompok, Lembaga dan masyarakat. Rancangan penelitian studi multi situs dilakukan karena peneliti ingin mengembangkan wawancara mendalam, observasi, dokumentasi serta triangulasi untuk menggambarkan manajemen mutu tenaga pendidik yang ada di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangkaraya dan Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Palangkaraya yang merupakan sekolah pelaksana Program Sekolah Penggerak.
B. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif bertindak sebagai instrument dan pengumpul data. Kehadiran peneliti mutlak dilakukan sebagai pengamat langsung pada lokasi penelitian di SMAN 1 Palangkaraya dan SMAN 6 Palangkaraya. Dalam penelitian ini peneliti terlibat langsung di lapangan untuk mendapatkan data dan mengumpulkan data, Sebagai instrument kunci, keterlibatan peneliti memungkinkan untuk menemukan makna dari subjek penelitian. Peneliti merupakan perencana, pengumpul dan penganalisis data sekaligus sebagai penulis dalam laporan hasil penelitian ini.
C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian atau situs dilaksanakan pada dua lembaga Pendidikan yaitu Sekolah Menengah Atas 1 Palangkaraya yang beralamat di Jl. A.IS Nasution no.2 Kecamatan Langkai, Kelurahan Pahandut, kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah dan Sekolah Menegah Atas 6 Palangkaraya yang beralamat di Jl. Cilik Riwut Km. 29,5 kelurahan Tumbang Tahai, kecamatan Bukit Batu, kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah.
Peneliti mengambil dua lembaga tersebut sebagai lokasi penelitian karena beberpa pertimbangan kekhasan, kemenarikan dan sesuai dengan topik penelitian ini yaitu sekolah pelaksana program sekolah penggerak dimana manajemen mutu tenaga pendidik sangat diperlukan.
D. Keinforman
Penentuan informan dalam penelitian ini didasarkan pada lima petunjuk Spradly (1979), yaitu : (1) Subjek yang cukup lama dan intensif menyatu dengan medan aktivitas yang menjadi sasaran penelitian. (2) Subjek yang masih aktif terlibat di lingkungan aktivitas yang menjadi sasaran penelitian, (3) Subjek yang masih mempunyai waktu untuk dimintai informasi oleh peneliti. (4) Subjek yang tidak mengemas informasi, tetapi relative memberikan informasi yang sebenarnya.
(5) Subjek yang tergolong asing bagi peneliti (Spradly 1980).
Para informan tersebut seperti kepala sekolah yang merupakan pihak pertama menerima tugas
dari kementrian Pendidikan kebudayaan riset dan teknologi untuk memanagemen sekolah yang dipimpinnya dalam melaksanakan program sekolah penggerak, wakil-wakil kepala sekolah yang membantu kepala sekolah dalam managemen sekolah, tenaga pendidik yang merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan pembelajaran, tenaga kependidikan yang merupakan pendukung terlaksananya program sekolah.
E. Prosedur Pengumpulan Data 1. Wawancara mendalam
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan kepada responden dan mencatat atau merekam jawaban-jawaban responden. Wawancara dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data. (Mahmud, 2011)
Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan teknik yaitu menetapkan kepada siapa wawancara dilakukan, menyiapkan pokok-pokok permasalahanyang akan menjadi bahan pembicaraan, mengawali dan membuka alur pembicaraan, melangsungkan alur pembicaraan, mengkonfirmasi ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya, menulis hasil wawancara kedalam catatan lapangan dan mengidentifikasi tindak lanjut wawancara yang diperoleh (Hadi, 2013)
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam kepada subyek data di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangkaraya dan Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Palangkaraya. Wawancara mendalam yang dilakukan adalah dengan melakukan pertemuan langsung secara berulang-ulang antara peneliti dan informan yang diarahkan pada tujuan penelitian.
Wawancara tidak terstruktur juga dilakukan dalam penelitian ini disebabkan adanya beberapa kelebihan dimana terkadang informan memberikan keterangan yang tidak terduga dan tidak muncul saat wawancara terarah sehingga bisa menambah informasi yang diperoleh terkait informasi yang akan diteliti.
Menurut Patton wawancara dapat dilakukan secara terstuktur yaitu peneliti telah mengetahui dengan asli tentang informasi apa yang akan diperoleh. Wawancara yang tidak terstruktur yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah terstruktus secara sistematis dan lengkap sebagai pengumpul data dan dapat dilakukan secara langsung (Sutopo, 2006)
2. Observasi Partisipan
Peneliti menggunakan teknik observasi partisipan yang dilakukan dengan cara melibatkan diri atau berinteraksi pada kegiatan yang dilakukan oleh subjek penelitian dalam lingkungannya, serta mengumpulkan data secara sistematik dalam sebuah catatan lapangan.
Langkah-langkah observasi dalam penelitian ini menyesuaikan pendapat Creswell (2012) yang meliputi: (1) menyeleksi situs data yang diobservasi (2) melihat situs yang diobservasi dengan membatasi catatan (3) mengidentifikasi siapa dan apa yang diobservasi dan menggunakan waktu yang tepat dalam observasi (4) menentukan peranan peneliti yaitu peran pasif (5) mempertimbangkan informasi penting yang dicatat selama observasi (6) mencatat secara deskriptif refleksi lapangan (7) memperjelas makna hasil observasi dengan meminta pertimbangan orang lain (8) membuat ringkasan data hasil observasi.
3. Dokumentasi
Penelitian ini menggunakan dokumentasi untuk mengumpulkan data-data secara langsung dari dokumen, arsip serta catatan lain yang dianggap perlu dalam penelitian ini.
Dokumentasi akan memberikan tambahan informasi dalam penelitian yang berkaitan dengan majaemen mutu tenaga pendidik. Peneliti memerlukan dokumen untuk mendukung data yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Adapun dokumen yang dimaksud adalah dokumen yang didapat dari responden seperti visi, misi, program sekolah, struktur kepengurusan sekolah, latar belakang sekolah, data jumlah guru, tim pelaksana program sekolah penggerak dll.
F. Analisis Data
Analisis data merupakan proses lanjutan dalam mencari dan mengatur secara sistematis hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dari lapangan yang telah dihimpun oleh peneliti.
1. Analisis Data Dalam Situs
Tahapan yang dilakukan dalam analisis data adalah:
a. Reduksi data
Mereduksi data berarti menyederhanakan data, memilih hal-hal pokok, memfokuskan hal-hal penting, mencari tema dan polanya dan embuang yang tidak perlu. Dalam mereduksi data peneliti akan memilih dan memilah data yang sesuai dengan focus
Verifikasi / penarikan kesimpulan Penyajian data
Reduksi data Pengumpulan
data
penelitian. Data yang pada awalnya berupa catatan hasil wawancara akan disederhanakan dalam bentuk poin-poin yang mudah dipahami.
b. Penyajian data
Setelah data direduksi, maka Langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dengan menyajikan data maka memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
Penyajian data membantu peneliti dalam mensistematiskan data dalam bentuk yang jelas untuk dapat dianalisa. Hal ini dilakukan dengan cara mengkaji data yang diperoleh kemudian membuat sistematis dokumen actual tentang manajemen mutu tenaga pendidik pada sekolah pelaksana Program Sekolah Penggerak yaitu Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Palangkaraya dan Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Palangkaraya
c. Penarikan kesimpulan
Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan. Peneliti melakukan penarikan kesimpulan awal yang bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.
2. Analisis Data Lintas Situs
Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan data dan juga memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs yang telah diteliti. Secara umum proses analisis data meliputi: (a) menyimpulkan proposisi berdasarkan hasil dari temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan proposisi situs ke dua. (b) membandingkan data dan memadukan temuan teoritik sementara dari masing-masing situs yang diteliti. (c) merumuskan simpulan-simpulan temuan teoritik berdasarkan analisis lintas situs.
Proposisi
Temuan penelitian lintas
situs Analisis lintas situs
Simpulan sementara situs 2 Simpulan sementara situs 1
Temuan situs 2 Temuan
situs 1
Situs 2 SMAN 6 Palangkaraya
Situs 1 SMAN 1 Palangkaraya
G. Pengecekan Keabsahan Temuan
Pengecekan keabsahan dan kesasihan data mutlak diperlukan dalam studi kualitatif. Menurut Lincoln dan Guba (1985) bahwa pelaksanaan pengecekan keabsahan data didasarkan pada empat kriteria yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), kepastian (confirmability)
H. Tahap-Tahap Penelitian
Penelitian yang dilakukan memerlukan langkah-langkah atau tahapan sebuah penelitian yang berisi rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir sebuah penelitian
Tahapan kegiatan penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut:
No Tahapan Kegiatan Langkah Operasional
1 Menentukan Topik a. Topik diambil dari kajian fenomena yang empiric
b. Menentukan focus penelitian c. Mengorganisir unit penelitian
d. Merancang berbagai pertanyaan inquiri 2 Pemilihan alat a. Memilih cara pengumpulan data
b. Menunjuk informan tiap unit c. Menyiapkan instrumen 3 Melakukan penelitian a. Memperoleh ijin penelitian
b. Menemui Informan c. Mengumpulkan data d. Merapikan data
4 Pengolahan data a. Mereduksi data
b. Mendisplay data c. Menganalisis data
5 Penyajian hasil Kesempilan, implikasi, rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, E (2023) “Implementasi Kurikulum Merdeka”. Jakarta : Bumi Aksara
Daryanto, Bambang Suryanto (2022) “Pembelajaran Abad 21”. Yogyakarta : Gava Media
Kemendikbudristek, Balai Penjamin Mutu Pendidikan Kalimatan Tangah “Rencana Strategis 2020 – 2024 Reviu Ke – 2” https://bpmpkalteng.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/Renstra-BPMP- Provinsi-Kalimantan-Tengah-2020-2024-Rev-2.pdf 21 November 2023
Perda Kalimantan Tengah No.10 Tahun 2012 “Tentang Penyelenggaraan Pendidikan”
https://jdih.kalteng.go.id/uploads/prokum-2013010215224742.pdf 21 November 2023
Wijayanto, Restu. Universitas Negeri Yogyakarta “Teori Pendidikan”
http://wisnucorner.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/1955/2015/10/WISNU- PRAWIJAYA_RESUME_V_TEORI-PENDIDIKAN.pdf 21 November 2023
Kemendibudristek, “Program Sekolah Penggerak” https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/ 22 November 2023
Kemendikbudristek “Luncurkan Program Sekolah Penggerak, Mendikbud ungkap empat tahapan transformasi sekolah” https://gurudikdas.kemdikbud.go.id/news/Luncurkan-Program-Sekolah- Penggerak,-Mendikbud-Ungkap-Empat-Tahapan-Transformasi-Sekolah- 22 November 2023
Kemendikbudristek “Lokasi Program Sekolah Penggerak” https://psp-
web.pauddikdasmen.kemdikbud.go.id/#/implementasi-psp 22 November 2023
World Population Review “Education Rankings by Country 2023”
https://worldpopulationreview.com/country-rankings/education-rankings-by-country 23 November 2023
Times Indonesia “ Merdeka Belajar Wujud Lompatan Sistem Pendidikan Indonesia yang
Revolusioner” https://timesindonesia.co.id/kopi-times/451759/merdeka-belajar-wujud-lompatan- sistem-pendidikan-indonesia-yang-revolusioner 23 November 2023
Permendikbudristek, No. 16 Tahun 2022 “Standar Proses Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah” file:///C:/Users/User/Downloads/Salinan
%20Permendikbudristek%20No%2016%20Tahun%202022%20ttg%20Standar%20Proses.pdf 27 November 2023 pukul: 20.50 wib
Permendikbud, Tahun 2016 No.28 “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah”
https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendikbud28-2016SPMPDasmen.pdf 28 November 2023 Pukul 17.00 wib
Pattilima, Sarlin, Tahun 2021. “Sekolah Penggerak Sebagai Upaca Pengkatan Kualitas Pendidikan”
https://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/PSNPD/article/view/1069/766 28 November 2023