MAKALAH PENGELOLAAN SANITASI
LINGKUNGAN DI PEMUKIMAN LAHAN BASAH
“PUNTUNG ROKOK PENYEBAB KEBAKARAN GAMBUT”
Disusun Oleh:
Anggun Wafiq Nurhaliza (10011282126053)
Fakultas Kesehatan Masyarakat Ilmu Kesehatan Masyarakat UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Tahun 2020/2021
2
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah dengan judul “Puntung rokok penyebab kebakaran gambut” ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa juga saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi nilai tugas dalam mata kuliah Pengelolaan Sanitasi Lingkungan di Pemukiman Lahan Basah. Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan agar menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman maka saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempuraan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca.
Palembang, 18 Februari 2023 Penyusun
3
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... 2
BAB I ... 4
PENDAHULUAN ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan ... 5
BAB II ... 6
PEMBAHASAN ... 6
2.1 Pengertian gambut, puntung rokok dan kebakaran ... 6
2.2 Penyebab kebakaran gambut ... 6
2.3 Hubungan puntung rokok dan kebakaran gambut ... 7
2.4 Dampak dari kebakaran gambut ... 9
2.5 Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran gambut ... 9
BAB III... 12
PENUTUP ... 12
3.1 Kesimpulan ... 12
3.2 Saran ... 12
Daftar Pustaka ... 13
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bencana kebakaran hutan dan lahan akhir-akhir ini sudah semakin mengganggu, baik ditinjau dari sudut pandang sosial maupun ekonomi. Pencemaran lingkungan tidak dapat dihindarkan, bahkan sudah mempengaruhi hubungan politik antar negara tetangga. Luas wilayah yang terbakar saat ini seolah mengingatkan semua pihak pada kejadian yang sama sekitar sepuluh tahun yang lalu. CIFOR (2006) melaporkan bahwa pada 1997/1998 sekitar 10 juta hektar hutan, semak belukar dan padang rumput terbakar, sebagian besar dibakar dengan sengaja. Di lain pihak, Setyanto dan Dermoredjo (2000) menyebutkan bahwa kebakaran hutan paling besar terjadi sebanyak lima kali dalam kurun waktu sekitar 30 tahun (1966- 1998), yakni tahun 1982/1983 (3,5 juta ha), 1987 (49.323 ha), 1991 (118.881 ha), 1994 (161.798 ha) dan 1997/1998 (383.870 ha).
Terdapat perbedaan data yang sangat mencolok antara kedua laporan tersebut diatas, namun tanpa meniadakan perlunya informasi tentang luas areal hutan dan lahan yang terbakar, satu hal yang sangat penting adalah bahwa kebakaran ini telah merugikan banyak pihak. Kondisi iklim memengaruhi sekitar 99 persen baik sengaja maupun tidak sengaja. Motif kebakaran buatan manusia adalah ekonomi (BNPB, 2013) (JICA, 2017). Kebakaran hutan dan rawa sering disebabkan oleh perbuatan manusia yang disengaja maupun tidak disengaja, dan sangat jarang disebabkan oleh bencana alam. (Rasyid, 2014).
Menurut Adinugroho et al (2005), kebakaran hutan/lahan di Indonesia dikendalikan oleh manusia, baik sengaja maupun lalai (modifikasi lahan, pembakaran vegetasi, pembuatan kanal, pemilikan lahan), sedangkan selebihnya disebabkan oleh manusia dan Alam (gejala El Nino, lava, awan panas, gunung berapi). Selama satu dekade terakhir, Indonesia berada di urutan ketiga dunia untuk polusi udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan, lebih dari peringkat ke- 25. Kebakaran gambut terbesar yang melanda Indonesia adalah kebakaran tahun 2015, dan banyak lahan basah yang mengalami kekeringan berkepanjangan.
Kemudian, kebakaran terjadi di daerah rawa tanpa sumber api yang jelas, baik dengan penyalaan maupun pembakaran spontan.
Argumentasi yang muncul dan juga sering disebutkan bahwa salah satu sumber apinya adalah puntung rokok yang dibuang secara sembarangan. Puntung rokok dari perokok yang seperti ini yang sering dibuang pada kondisi masih menyala dan dibuang secara sembarangan saja ke lingkungan sekitar yang sedang
5 dilintasinya. Lama waktu untuk api rokok tetap bertahan menyala walaupun tidak dihisap inilah yang akan memberikan kesempatannya untuk menyulut api kepada bahan lain yang bersentuhan dengannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan suatu pokok masalah yang kemudian disusun dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan gambut, puntung rokok dan kebakaran?
2. Apa penyebab terjadinya kebakaran gambut?
3. Apa hubungan puntung rokok dengan kebakaran gambut?
4. Apa dampak yang ditimbulkan dari kebakaran gambut?
5. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebakaran gambut?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian dari gambut, puntung rokok dan kebakaran.
2. Mengetahui penyebab terjadinya kebakaran gambut.
3. Mengetahui hubungan puntung rokok dengan kebakaran gambut.
4. Mengetahui apa saja dampak dari kebakaran gambut.
5. Mengetahui apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko kebakaran gambut.
6
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian gambut, puntung rokok dan kebakaran
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang setengah membusuk dan karenanya memiliki kandungan organik yang tinggi.
Tanah yang terbentuk sebagian besar di lahan basah ini dikenal sebagai gambut dalam bahasa Inggris, dan lahan gambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan nama berbeda seperti B. Moor, Moor, Musk, Pocosine, Moor dan lain-lain. Istilah gambut sendiri diambil dari bahasa daerah Banjar. Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Adapun jenis tanah gambut yaitu:
gambut sedimen, gambut berserat dan gambut kayu.
Puntung rokok adalah bagian sisa rokok yang tidak terbakar saat dihisap. Puntung rokok adalah bentuk paling sederhana dari sampah di sekitar kita. Puntung rokok menghasilkan lebih dari 766 juta kilogram limbah beracun setiap tahun. Setelah merokok, biasanya perokok hanya membuang putingnya sembarangan, tidak peduli puntungnya menyala atau tidak. Pakar kebakaran Universitas Indonesia (UI) Yulianto mengatakan, puntung rokok sebenarnya bisa menjadi salah satu penyebab kebakaran.
Kebakaran adalah suatu peristiwa dimana suatu material terbakar dari api atau reaksi pembakaran yang tidak terkendali sehingga menimbulkan kerugian material atau korban jiwa. Api juga dapat diartikan sebagai api yang tidak terkendali.
Karena itu, dapat disimpulkan bahwa reaksi berantai menghasilkan energi panas yang cukup untuk menyebar ke bahan bakar lain, menyebabkan bahan bakar tersebut ikut terbakar. Dalam hal ini api tidak dapat dilihat dari besar kecilnya api, tetapi jika apinya kecil dan tidak terkendali serta merugikan maka dapat juga digolongkan sebagai api. Jika api besar tetapi diinginkan dan dapat dikendalikan, itu tidak dapat diklasifikasikan sebagai api (Farha, 2010).
Kebakaran hutan adalah kebakaran yang dimulai di bawah permukaan bumi di rawa-rawa. Di Indonesia, kebakaran ini biasa terjadi di kawasan hutan dengan lahan gambut. Kebakaran hutan sulit dideteksi dan sulit dipadamkan dengan menggunakan metode tradisional. Masalahnya, tidak semua kebakaran menghasilkan asap yang dapat dilihat tanpa peralatan khusus (inframerah).
Perapian bisa beberapa meter di bawah tanah bahkan tanpa pasokan oksigen.
Kebakaran bawah tanah ini merupakan salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan (di atas tanah) yang terjadi secara rutin/berulang setiap tahun pada musim kemarau.
7 2.2 Penyebab kebakaran gambut
Hasil sementara penyebab kebakaran menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia disebabkan oleh penyebab langsung, yaitu:
1. Api digunakan untuk membuka lahan
Petani migran telah lama menggunakan api untuk mengolah tanah dan melakukannya karena mereka mengharapkan tanah bersih, mudah dikerjakan, bebas hama dan penyakit, dan menghasilkan abu yang kaya mineral. kelapa sawit, serta operasi industri dan non- kehutanan seperti sagu.
2. Api digunakan sebagai senjata dalam konflik tanah
Untuk melawan, beberapa petani yang terluka melakukan perlawanan, membakar tanaman perusahaan dan menderita korban yang tidak sedikit.
3. Api menyebar secara tidak sengaja
Karena kondisi lapangan yang tidak kondusif maka tidak sedikit api berasal dari lahan masyarakat yang kemudian masuk ke dalam lahan koporsi secara tidak sengaja (lalai) , seperti seorang pendaki yang sedang merokok dan sembarangan membuang puntung rokok yang menyala sembarangan.
4. Api yang berkaitan dengan ekstrasi sumber daya alam
Beberapa kegiatan terkait estraksi sumberdaya alam menggunakan api dalam aplikasinya di lapangan, seperti pemanen madu di pohon- pohon besar, pemanenan getah damar, dan lain sebagainya.
Sedangkan penyebab tidak langsung terdiri dari:
1. Penguasaan lahan
Untuk menyatakan penguasaan lahan yang diinginkannya maka tidak sedikit pihak-pihak yang ingin menguasai lahan tersebut dilakukannya dengan membakar dan lahan yang telah bersih tersebut kemudian dikuasainya
2. Alokasi penggunaan lahan
8 Untuk memudahkan dalam pengalokasian lahan sehingga dapat segera dilakukan maka digunakan api
3. Insentif/disinsentif keuangan
Insentif/disinsentif yang ambigu menyebabkan pelaku ekonomi melakukan pembakaran karena dianggap dapat menghemat biaya produksi dalam operasi lapangan yang memungkinkan terjadinya pembakaran.
4. Degradasi hutan dan lahan
Setelah hutan ditebang dan kayunya digunakan, langkah selanjutnya adalah mendaur ulang lahan yang telah dibuka melalui pembakaran.
5. Pengaruh perubahan karakteristik penduduk
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan akan papan, pangan, dan lain-lain juga meningkat, dan akibatnya, wilayah ini meluas, yang pada gilirannya membutuhkan lahan yang luas untuk hutan yang tersisa untuk menjadi ketergantungan mereka.
Singkatan digunakan dalam keadaan tertentu, yaitu api.
6. Lemahnya kapasitas kelembagaan.
Di sisi lain, pemadam kebakaran memiliki banyak instansi terkait, namun keberadaan instansi tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran yang terjadi karena berbagai permasalahan di sekitarnya, termasuk permasalahan internal. Selain itu, masalah penting yang harus diselesaikan adalah kurangnya dana yang cukup dan ketidakmampuan pejabat daerah untuk bergaul dengan pejabat senior.
2.3 Hubungan puntung rokok dan kebakaran gambut
Kebakaran gambut dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik sifat gambut maupun cuaca, yaitu: Kandungan air gambut, laju degradasi gambut, tinggi muka air dan curah hujan. Semakin tinggi kelembaban gambut, semakin rendah pembakarannya. Kebakaran gambut masih dapat menyala pada kadar air 119%, yang merupakan kadar air kritis untuk kebakaran gambut. Derajat dekomposisi gambut juga mempengaruhi daya bakar gambut, semakin matang gambut (jenis sapric) semakin sulit terbakar dibandingkan dengan jenis gambut belum matang (jenis berserat dan hemik). Tinggi muka air mempengaruhi kadar air gambut, sedangkan curah hujan mempengaruhi tinggi muka air rawa. Dikombinasikan
9 dengan kondisi panas dan kering. Sedikit saja terkena percikan api, maka kondisi ini sangat rawan dan menjadi pemicu kebakaran.
Prinsip pemantik api juga sama dengan prinsip penyalaan pada umumnya dalam beberapa tahapan, seperti pre-ignition, flaming, burning, glowing dan padam.
Ketika sebatang rokok dinyalakan, ia menyala, kemudian api menjadi batu bara (uap), terbakar, menyala (bersinar). Setelah dihisap, sisa rokok juga dibuang dalam bentuk puntung rokok. Beberapa puntung rokok dibuang sembarangan saat api menyala. Selama pembakaran, puntung rokok yang dibuang bertindak sebagai sumber panas atau nyala api yang dapat menyebarkan api ke bahan mudah terbakar yang disentuhnya. Penyebaran api puntung rokok juga harus diperhitungkan dalam teori "segitiga api" dari dudukan api (puntung rokok masih menyala), bahan bakar dan adanya angin/oksigen di udara. Ketika ketiga unsur ini berada dalam konsentrasi yang cukup, kebakaran akan terjadi (IFSTA, 1993 dan Siswoyo, 2007, Fatmawati, 2009). Menurut Rinumpoko (2017), karena suhu puntung rokok kurang dari 100 derajat Celcius dan dibutuhkan 285-325 derajat Celcius untuk menyala, suhu puntung rokok tidak cukup tinggi untuk menyebarkan tembakau. Sehingga banyak hal yang perlu dilakukan terkait merebaknya kebakaran tembakau, antara lain: jenis bahan bakar, kepadatan struktur bahan bakar dan adanya oksigen udara dan angin yang cukup.
Puntung rokok yang masih menyala dan dibuang sembarangan dituding sebagai penyebab terbentuknya gambut, dan bukti menunjukkan rawa-rawa sering dimulai di pinggir lalu lintas masyarakat. Ada berbagai jenis rokok dengan struktur yang berbeda. Struktur dan komposisi rokok ini mencirikan jenis nyala api rokok, sehingga ada rokok yang tetap menyala meski sudah lama tidak merokok, namun ada juga rokok yang apinya padam jika belum terbakar dalam beberapa saat.
Pengaturan waktu nyala rokok, meskipun tidak menyala, memberikan kesempatan untuk menyalakan bahan lain yang bersentuhan dengannya. Puntung rokok bersentuhan dengan bahan yang mudah terbakar dan menyebabkan kebakaran.
Sampah kering, gambut kering, dan kertas kering adalah bahan bakar yang mudah terurai di puntung rokok. Pada saat yang sama, puntung rokok yang dibuang sembarangan merupakan sumber api yang menyebarkan api seperti bahan bakar.
Pada saat yang sama udara dan angin adalah sumber oksigen. Puntung rokok yang menyentuh bahan bakar di luar dapat menyebabkan kebakaran di rawa-rawa.
2.4 Dampak dari kebakaran gambut
Kebakaran hutan tentunya berdampak pada manusia dan lingkungan, karena kebakaran hutan menghasilkan asap yang dapat meningkatkan pencemaran udara, membuat lingkungan menjadi tidak sehat, merusak ekosistem, mengurangi
10 keanekaragaman flora dan fauna, serta kebakaran hutan dan kebakaran hutan juga berdampak pada masyarakat, ekonomi, sosial dan kesehatan. Jika fenomena perusakan hutan dan lahan tidak ditangani oleh pemerintah, dampak negatifnya akan semakin besar.
Dampak kebakaran hutan dan lahan yang paling signifikan adalah adanya kepulan asap yang sangat mengganggu kesehatan masyarakat dan sistem transportasi sungai, darat, laut, dan udara. Secara seksis, dampak kebakaran ini berdampak pada sektor transportasi, kesehatan, ekonomi, ekologi dan sosial, termasuk citra bangsa di mata negara tetangga dan dunia (Hermawan, 2006). Diduga dampak kebakaran terhadap produksi sektor pertanian tidak akan terlalu besar, karena pembakaran dilakukan untuk penyiapan/pembersihan lahan, bukan pada saat penanaman, kecuali jika api menjalar tidak terkendali ke dalam produksi.
2.5 Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran gambut
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencegah kebakaran lahan adalah dengan membentuk tim pemadam kebakaran yang dilengkapi unit kendaraan dan pompa air. Upaya lainnya adalah dengan meningkatkan partisipasi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, di kota dan kota. Pemerintah juga mengedukasi dan mensosialisasikan masyarakat, dan masyarakat juga didorong untuk menerapkan tata kelola tanpa kewajiban dan pembakaran (Kementan, 2014).
Tujuan dari tindakan pencegahan ini adalah untuk mengurangi terjadinya kebakaran.Pencapaian tujuan negara terhadap proteksi kebakaran tidak lepas dari partisipasi masyarakat yang hidup dalam kesehatan. Partisipasi adalah kemauan individu untuk memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuannya untuk mensukseskan program yang bersangkutan (Mubyarto, 1984). Pentingnya pelibatan masyarakat karena mereka berperan sebagai pelaksana berbagai upaya pencegahan kebakaran yang dilaksanakan oleh pemerintah. Dengan pemikiran tersebut, pertanyaan besar dari penelitian ini adalah apakah seringnya kebakaran hutan disebabkan oleh rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pencegahan kebakaran rawa.
Salah satu capaian BPBD adalah mencegah kebakaran hutan dan lahan dengan penguatan masyarakat desa. Konsep pencegahan, yaitu:
1. Sebarkan peringatan dini melalui media lokal (cetak, radio) untuk mewaspadai kelompok masyarakat akan datangnya musim kemarau panjang yang dapat menyebabkan kebakaran.
11 2. Memantau aktivitas di seluruh negeri, terutama di daerah rawan
kebakaran, dengan patroli setiap hari.
3. Sebarkan informasi tentang pembakaran.
4. Persiapan, pelatihan dan pemulihan untuk semua responden dan masyarakat selama operasi pemadaman kebakaran.
5. Merencanakan penanggulangan bersama masyarakat, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan perusahaan sekitar hutan.
6. Pastikan peralatan pemadam kebakaran tersedia dan semua peralatan berfungsi dengan baik.
7. Kami memantau sumber air untuk rencana pemadaman.
8. Menyelenggarakan pertemuan dan komunikasi rutin antara masyarakat, dunia usaha, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan pemadam kebakaran.
9. Padamkan sesegera mungkin ketika ditemukan sumber api, meskipun kecil.
12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang setengah membusuk dan karenanya memiliki kandungan organik yang tinggi. Tanah yang terbentuk sebagian besar di lahan basah ini dikenal sebagai gambut. Puntung rokok adalah bagian sisa rokok yang tidak terbakar saat dihisap. Kebakaran adalah suatu peristiwa dimana suatu material terbakar dari api atau reaksi pembakaran yang tidak terkendali sehingga menimbulkan kerugian material atau korban jiwa. Kebakaran gambut masih dapat menyala pada kadar air 119%, yang merupakan kadar air kritis untuk kebakaran gambut. Sedikit saja terkena percikan api, maka kondisi ini sangat rawan dan menjadi pemicu kebakaran. Selama pembakaran, puntung rokok yang dibuang bertindak sebagai sumber panas atau nyala api yang dapat menyebarkan api ke bahan mudah terbakar yang disentuhnya. Ketika ketiga unsur ini berada dalam konsentrasi yang cukup, kebakaran akan terjadi. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencegah kebakaran lahan adalah dengan membentuk tim pemadam kebakaran yang dilengkapi unit kendaraan dan pompa air. Pencapaian tujuan negara terhadap proteksi kebakaran tidak lepas dari partisipasi masyarakat yang hidup dalam kesehatan.
3.2 Saran
Berdasarkan pada proses dan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka dapat disampaikan beberapa saran, sebagai berikut :
1. Setiap orang dilarang membuang puntung rokok yang menyala sembarangan ke daerah rawa-rawa yang mudah terbakar, terutama daerah gambut yang bersemak, dan memiliki alat/asbak sendiri untuk memastikan puntung rokok padam/tidak menyala.
2. Harus ada kesadaran dari masyarakat agar membuang sampah puntung rokok pada tempatnya.
3. Penyebaran puntung rokok perlu diteliti lebih lanjut dengan menganalisis kadar air masing-masing objek.
4. Analisis perambatan nyala puntung rokok sebaiknya diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang perambatan api dari rokok lainnya dalam skala yang lebih besar.
13
Daftar Pustaka
Rosalina, K., Dianita, A., & Elisabeth, E. (2019, November). Penyebab Kebakaran Hutan Dan Lahan Gambut Di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. In PROSIDING SEMINAR
NASIONAL ILMU SOSIAL, LINGKUNGAN DAN TATA RUANG (SEMNAS ISLT) MANAJEMEN BENCANA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 5.0.
Kentkhute, R., Rukmini, A. R., & Usup, A. (2022). ANALISIS
PENJALARAN API PUNTUNG ROKOK TERHADAP LAHAN GAMBUT. Jurnal Rekayasa Lingkungan, 22(2).
Arisanty, D. (2020). Kebakaran Lahan Gambut: Faktor Penyebab dan Mitigasinya.
Sawerah, S., Muljono, P., & Tjitropranoto, P. (2016). Partisipasi masyarakat dalam pencegahan kebakaran lahan gambut di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal penyuluhan, 12(1).
Novrianti, N., Puspasari, N., & Handayani, N. (2018). Sosialisasi
Pencegahan Kebakaran di Lahan Gambut Daerah Bereng Bengkel Kota Palangka Raya: Socialization of Fire Prevention in Peatland Daerah Bereng Bengkel Kota Palangka Raya. PengabdianMu:
Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2), 146-151.
Nurjanah, U., & Lestari, P. (2021). DAMPAK KEBAKARAN LAHAN GAMBUT BAGI MASYARAKAT DESA PEDAMARAN III KEC. PEDAMARAN KAB. OGAN KOMERING ILIR. E- Societas, 10(1).