• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberlangsungan Lahan Basah Gambut Bagi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keberlangsungan Lahan Basah Gambut Bagi"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Keberlangsungan Lahan Basah Gambut Bagi Kehidupan

Masyarakat Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan

Peatland Sustainability for Ogan Komering Ilir Societies

Nadya Rahmania

NIM : 20012681620002 Program Studi Ilmu Lingkungan

Pascasarjana Universitas Sriwijaya, Palembang ([email protected])

Abstrak

Tulisan ini mengkaji tentang permasalahan yang terjadi berkenaan dengan lahan gambut yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Permasalahan mengenai lahan gambut tak lepas kaitannya dari kebakaran hutan dan lahan yang mengancam kehidupan biodiversity penghuni lahan gambut. Kebakaran yang kerap kali terjadi seperti menjadi candu bagi penikmat kepentingan ekonomis guna memanfaatkan lahan gambut alami menjadi lahan gambut yang menghasilkan keuntungan. Terlepas dari sifat alaminya yang mudah terbakar, lahan gambut sering di eksploitasi kelompok-kelompok tertentu untuk menjadikan lahan gambut alami sebagai lahan perkebunan dengan membakar habis lahan untuk menghemat biaya. Dalam paper ini akan dibahas mengenai lahan gambut dan permasalahan yang terjadi di dalamnya, mengacu pada peristiwa kebakaran lahan gambut terparah di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Kata Kunci : Lahan Gambut, Kebakaran Hutan & Lahan, OKI, Sumsel.

1. Pendahuluan

Secara sederhana, pengertian lahan basah (dalam bahasa Inggris disebut

wetland) adalah setiap wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, tergenang air

yang dangkal, baik sebagian atau keseluruhannya. Genangan airnya bersifat

permanen (terus-menerus) atau musiman baik berupa air diam ataupun mengalir

baik berupa air tawar, air payau, maupun air asin dan terbentuk secara alami

ataupun buatan manusia. Lahan basah berbeda dengan perairan. Lahan basah

umumnya bercirikan tinggi muka air yang dangkal, dekat dengan permukaan tanah,

dan memiliki jenis tumbuhan yang khas. Yang termasuk ke dalam jenis lahan basah,

salah satunya adalah gambut.

Indonesia yang merupakan negara tropis memiliki lahan gambut terluas

(2)

2

tersebar terutama di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Dari luasan tersebut sekitar

7,2 juta hektar atau 35%-nya berada di Sumatera. Lahan gambut adalah bagian dari

sumber daya alam yang memiliki banyak fungsi antara lain sebagai sarana

pelestarian sumber daya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, habitat

keanekaragaman hayati dan pengendali iklim (melalui kemampuan lahan gambut

menyimpan karbon).

Penyebaran gambut di pulau Sumatera umumnya terdapat di sepanjang

pantai timur, yaitu di wilayah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, dan

Lampung. Di Sumatera Selatan, lahan gambut terluas terdapat di Kabupaten Ogan

Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin, yakni seluas ± 769 ribu hektar. Luas lahan

rawa termasuk gambut dan danau di Kabupaten OKI mencapai sekitar 75 persen

dari total luas wilayahnya.

2. Wilayah Administratif Ogan Komering Ilir (OKI)

Kabupaten Ogan Komering Ilir atau sering disingkat OKI yang

beribukotakan Kayu Agung, adalah salah satu Kabupaten di Sumatera Selatan yang

memiliki luas 19.023,47 Km² dan berpenduduk sekitar 700.000 jiwa. Pada Tahun

2005 Kabupaten ini memiliki 18 Kecamatan, yang terdiri atas 299 Desa/Kelurahan.

Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir terletak di bagian Timur Provinsi Sumatera Selatan yaitu tepatnya antara 104°20’ dan 106°00’ Bujur Timur dan 2°30’ sampai 4°15’ Lintang Selatan, luasnya mencapai 19.023,47 Km². Secara administrasi berbatasan dengan :

 Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang di sebelah

Utara

 Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan Provinsi Lampung di sebelah Selatan

 Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten OKU Timur di sebelah Barat, dan

Selat Bangka dan Laut Jawa di sebelah Timur

Sekitar 75% dari luas wilayah Kabupaten OKI merupakan bentangan rawa dan 25%

merupakan daratan. Daerah ini dialiri oleh banyak sungai dan memiliki wilayah

(3)

3

Wilayah OKI sebagian besar memperlihatkan tipologi ekologi rawa,

meskipun secara lokal dapat ditemukan dataran kering. Dengan demikian wilayah

OKI dapat dibedakan menjadi dataran lahan basah dengan topografi rendah

(lowland) dan dataran lahan kering yang memperlihatkan topografi lebih tinggi

(upland). Daerah lahan basah hampir meliputi 75 % wilayah OKI dan dapat

dijumpai di kawasan sebelah timur seperti Kecamatan Air Sugihan, Tulung

Selapan, Cengal, dan Kecamatan Sungai Menang. Sedangkan lahan kering dapat

terdapat di wilayah dengan topografi bergelombang, yaitu di Kecamatan Mesuji

Makmur, Lempuing dan Kecamatan Lempuing Jaya.

3. Permasalahan terkait Lahan Gambut di Wilayah OKI

Selain isu perubahan iklim, isu yang saat ini menjadi fokus internasional

adalah permasalahan kebakaran gambut. Masalah kebakaran hutan dan lahan

gambut di Indonesia saat ini semakin meningkat dan tentunya menimbulkan

dampak terhadap lingkungan hidup dan sosial ekonomi. Dampak kebakaran hutan

dan lahan menyebabkan asap yang memberikan kerugian ekonomi yang dapat

mencapai milyaran rupiah. Selain itu jumlah emisi karbon yang keluar pada saat

kebakaran terjadi dapat mencapai 13-40% dari total produksi emisi karbon dunia

sehingga menjadikan Indonesia sebagai penghasil polusi terbesar di dunia.

Faktor utama terjadinya kebakaran dapat digolongkan menjadi dua yaitu

adanya pemicu kebakaran dan kondisi pendukung. Pemicu kebakaran merupakan

faktor yang secara langsung mempengaruhi terjadinya penyulutan api. Pemicu

kebakaran ini dapat disebabkan oleh aktivitas manusia yang disengaja maupun yang

tidak disengaja atau kelalaian. Selain itu pemicu kebakaran juga dapat disebabkan

oleh faktor alam seperti petir dan gesekan-gesekan antara ranting-ranting daun yang

kering. Kemarau panjang juga salah satu faktor alam yang dapat memicu terjadinya

kebakaran hutan dan lahan.

Sumatera Selatan menjadi daerah yang berpotensi atau rawan terjadinya

kebakaran dalam skala luas yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Aktivitas-aktivitas tersebut seperti:

(4)

4

Penyiapan lahan ini kerap dilakukan oleh masyarakat ataupun

perusahaan. Penyiapan lahan dengan cara pembakaran masih seringkali

dilakukan karena cenderung lebih praktis, mudah dilakukan dengan

peralatan yang sederhana, dan tidak mengeluarkan biaya yang mahal serta

tenaga kerja yang digunakanpun tidak banyak. Masyarakat yang tinggal di

sekitar hutan rawa gambut sudah terbiasa dan secara turun-temurun

menggunakan api untuk menyiapkan lahan gambut sebagai lahan

perkebunan juga pertanian. Penyiapan lahan dengan cara tersebut dikenal

dengan sistem sonor. Pengendalian api yang tidak maksimal akan

menyebabkan pembakaran tidak terkontrol dan semakin meluas karena

lahan gambut menjadi sangat kering pada musim kemarau.

 Adanya konflik lahan

Konflik lahan juga menjadi motif pembakaran yang dilakukan oleh

manusia. Api seringkali digunakan oleh masyarakat lokal sebagai alat untuk

menjarah lahan tak bertuan. Konflik lahan juga seringkali terjadi antara

masyarakat lokal setempat dengan perusahaan sejenis HTI yang lahannya

saling berdekatan. Contoh kasusnya seperti di Dusun Talang Petai dan

dusun lainnya di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, OKI. Sejak

tahun 2009 masyarakat setempat tidak lagi dapat bersawah sonor (sistem

penanaman padi tradisional di areal rawa saat kemarau panjang), karena

lahan mereka yang sebelumnya digunakan, kini menjadi konsesi PT. Bumi

Mekar Hijau (BMH) yang tahun 2015 silam terbakar.

Permasalahan lainnya ialah status lahan gambut yang masih masuk

dalam kawasan hutan produksi (HP) seluas ± 300 hektare yang dinyatakan

pemerintah sebagai kawasan HP. Menurut masyarakat, lahan tersebut sudah

mereka kelola turun-temurun sejak awal tahun 1960-an jauh sebelum

pemerintah menetapkan lahan tersebut menjadi kawasan HP.

 Kelalaian manusia

Kelalaian manusia yang menggunakan api secara tidak bijaksana

kerap kali menjadi sumber terjadinya kebakaran besar. Membuang puntung

(5)

5

menyeluruh menyebabkan kebakaran semakin meluas akibatnya kebakaran

hutan dan lahan tak dapat lagi dikendalikan.

Selain kondisi pendukung, penyebab kebakaran hutan dan lahan

juga disebabkan oleh beberapa faktor pendukung antara lain kondisi iklim,

kondisi fisik lahan, dan sosial ekonomi budaya masyarakat sekitar. Kondisi

iklim yang kering dan panas menjadi pemicu kebakaran. Kebakaran rawan

terjadi pada musim kemarau dimana curah hujan sangat rendah dan

intensitas panas matahari tinggi. Kebakaran akan semakin tinggi jika

ditemukan adanya gejala El Nino. Kebakaran akan berkurang jika telah

masuk musim penghujan dimana intensitas panas akan menurun. Kondisi

fisik lahan dan hutan yang telah terdegradasi merupakan salah satu faktor

pemicu terjadinya kebakaran.

Hutan dan lahan yang terdegradasi terutama yang disebabkan oleh

eksploitasi kayu baik secara legal maupun illegal dan konversi untuk

perkebunan/HTI, persawahan dan transmigrasi. Di hutan yang terdegradasi

menjadi lebih rawan terhadap kebakaran, karena mudahnya penyulutan dan

penyebaran api. Selain itu, masyarakat cenderung menggunakan api sebagai

sarana dan cara murah dan cepat dalam berbagai aktivitas untuk menunjang

kebutuhan hidupnya seperti membuka ladang, berkebun, sawah sonor,

berburu dan mencari ikan. Di Sumatra Selatan, budaya penggunaan api

sudah lama diterapkan oleh masyarakat tradisional yang hidup di sekitar

hutan atau peladang berpindah.

4. Masa depan lahan gambut di OKI

Kebutuhan akan minyak kelapa sawit maupun kertas telah memicu

perluasan sektor perkebunan yang cepat di Indonesia. Saat ini Indonesia

merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Lahan-lahan

gambut di OKI paling banyak dimanfaatkan oleh HTI yang memproduksi

kertas. Saat ini kawasan lahan gambut Kabupaten OKI telah diusahakan

oleh tiga pemegang izin usaha hutan tanaman, yaitu PT. SBA Wood

Industries, PT. Bumi Andalas Permaii dan PT. Bumi Mekar Hijau yang

(6)

6

Makin berkurangnya lahan gambut di OKI akibat kebakaran tak

hanya memberikan kerugian bagi kehidupan manusia saja, tetapi berimbas

pula pada kehidupan makhluk hidup lainnya. Jika kebakaran terus saja

terjadi kedepannya, tentunya lahan gambut akan semakin banyak hilang,

ekosistem makin tak seimbang lalu bumi akan semakin tercemar.

Keberlangsungan lahan gambut semakin dipertanyakan.

Masyarakat OKI banyak yang menjadikan lahan gambut sebagai

mata perncaharian mereka. Ketergantungan akan lahan gambut terbukti

dengan banyaknya persawahan, perkebunan dan sumber ekonomi lainnya

milik warga. Keberadaan lahan gambut tentunya menjadi anugerah sendiri

bagi mereka dan jika lahan gambut semakin berkurang, tentunya akan

menjadi masalah bagi mereka juga jika ditinjau dari aspek sosial-ekonomi

dan budaya. Pengeringan lahan gambut dengan cara membuat kanal juga

masih dilakukan oleh masyarakat. Pengeringan gambut ini dikarenakan

jalan yang masyarakat buat selalu tergenang selama musim penghujan,

seperti yang terjadi di Dusun Talang Petai, Desa Ulak Kedondong,

Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI ini.

Usaha-usaha untuk menjaga lahan gambut saat ini telah banyak

dilakukan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mempertahankan

gambut dari degradasi yang makin parah, yakni dengan mencetuskan

moratorium gambut. Moratorium ini berisi kebijakan tentang penudaan

pemberian izin baru hutan alam dan lahan gambut yang berada di hutan

konservasi, hutan lindung, hutan produksi (hutan produksi terbatas, hutan

produksi tetap, hutan produk yang dapat dikonversi) dan areal penggunaan

lain untuk digunakan dalam sektor perkebunan. Akan tetapi moratorium ini

tidak berlaku untuk perpanjangan izin pemanfaatan hutan dan/atau

penggunaan kawasan hutan yang telah ada selama izin di bidang usaha

tersebut masih berlaku.

Moratorium ini dinilai menjadi salah satu usaha yang positif sebagai

langkah pelestarian gambut Indonesia yang memiliki peranan besar

terhadap ekosistem lahan basah dunia. Akan tetapi, menurut beberapa ahli

(7)

7

Dengan adanya moratorium, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam

bidang budidaya gambut akan terganggu, dan menyebabkan serapan tenaga

kerja serta perolehan devisa negara juga akan berkurang. Moratorium masih

menjadi sebuah perdebatan bagi pihak yang pro dan kontra.

Terlepas dari perdebatan terkait moratorium, upaya-upaya untuk

memperluas pencegahan kebakaran semata-mata bukan hanya dibebankan

pada pihak-pihak yang terlibat dalam penggunaan sumber daya gambut saja,

melainkan kontribusi semua elemen masyarakat juga dibutuhkan, karena

gambut merupakan sumber daya alam yang patut kita jaga kelestariannya.

Memberikan solusi alternatif selain pertanian berbasis api di lahan gambut

bagi para petani sangatlah dibutuhkan agar kedepannya para petani lebih

sadar akan kelebihan dan kekurangan lahan gambut. Edukasi juga perlu

dilakukan kepada para investor dan perusahaan-perusahaan yang

melakukan budidaya di lahan gambut, perlunya kesadaran akan

pemeliharaan gambut serta penyiapan lahan dengan cara sehat akan dapat

menjaga keberlangsungan lahan gambut yang kini mulai berkurang.

Usaha lain yang dapat kita lakukan untuk menjaga keberlangsungan

gambut ialah menghentikan penghancuran dengan cara melindungi hutan

dan lahan gambut di Indonesia (termasuk melakukan langkah-langkah cepat

untuk mencegah kebakaran). Menurut Greenpeace, melakukan perjanjian

antara para trader (perusahaan pembeli) dengan cara berkolaborasi dan

melakukan aksi bersama untuk memastikan jika ada perusahaan yang masih

menciptakan kondisi akan terjadinya kebakaran dan asap dengan cara

mengeringkan lahan gambut dan menghancurkan hutan agar dikeluarkan

dari pasar.

Usaha memperbaiki kerusakan hutan seperti hilangnya hutan karena

kebakaran dengan cara rehabilitasi masuk kedalam usaha untuk menjaga

dan mengembalikan kondisi hutan agar dapat berfungsi sebagaimana

mestinya. Upaya rehabilitasi harus memprioritaskan kawasan hutan gambut

yang rentan yang telah mengalami kebakaran hutan. Terakhir dengan cara

memberikan solusi kepada masyarakat untuk mengembangkan

(8)

8

termasuk memperbaiki hasil panen di kawasan perkebunan yang ada dan

mendukung pengembangan koperasi juga dapat dijadikan langkah efektif

menjaga perekonomian dan lingkungan.

5. Kesimpulan & Saran.

Paper ini telah memberikan gambaran tentang kondisi dan

permasalahan yang terjadi di lahan gambut terutama yang terjadi di daerah

OKI Sumatera Selatan. Permasalahan utama yang mengancam lahan

gambut adalah kebakaran yang tiap tahun melanda dan memberikan

kerugian besar bagi daerah maupun negara. Dibutuhkan langkah tegas

dalam menertibkan pihak-pihak yang mengeksploitasi gambut tanpa

memikirkan resikonya. Solusi moratorium dan restorasi gambut yang

diusulkan Pemerintah Pusat menjadi titik terang terjaminnya lahan gambut

untuk beberapa tahun mendatang terlepas dari pro dan kontranya.

Pemberian edukasi dengan pendekatan yang humanis kepada masyarakat

yang tinggal di areal gambut dan perusahaan-perusahaan yang melakukan

budidaya di lahan gambut hendaknya lebih digencarkan demi menjaga

keberlangsungan gambut untuk generasi kedepan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2016. http://www.mongabay.co.id/2016/06/29/mungkinkah-tahun-ini-gambut-di-oki-tidak-terbakar/. Diakses tanggal 20 November 2016.

Anonimb. 2016. http://www.gatra.com/nusantara/sumatera/219670-15-perusahaan-sawit-lakukan-pembakaran-lahan-gambut-di-oki. Diakses tanggal 20 November 2016.

Anonimc. 2016. http://economy.okezone.com/read/2016/06/28/320/1427264/ moratorium-gambut-dinilai-ganggu-kepastian-usaha. Diakses tanggal 20 November 2016.

Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Daerah Prov. Sumatera Selatan (BALITBANGNOVDA). Pengumpulan Data Kedalaman Gambut Kegiatan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Survei Lahan Gambut Kawasan Cetak Sawah Kec. Tanjung Lubuk OKI) http://balitbangnovda

(9)

9

Center of International Forestry Research (CIFOR). http://blog.cifor.org/

36963/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia?fnl=id. Diakses tanggal 21 November 2016.

Chokkalingam, U., Suyanto, Permana, P. R., Kurniawan, I., Mannes, J., Darmawan, A., Khususyiah, N., dan Susanto, R. H. 2002. Pengelolaan Api, Perubahan Sumberdaya Alam dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Masyarakat di Areal Rawa/Gambut – Sumatera Bagian Selatan. Prosiding Semiloka, ISBN 979-3361-49-2: 35-72.

Greenpeace . http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/releases/Larangan- Pembukaan-Gambut-Adalah-Langkah-Terbaik-Mengatasi-Perubahan-Iklim/. Diakses tanggal 21 November 2016.

Greenpeace. 2015. Indonesia Terbakar : Dalam Kepungan (Krisis kebakaran Indonesia adalah ujian bagi komitmen korporasi terhadap perlindungan hutan). Greenpeace International Ottho Heldringstraat 5 : 1066 AZ Amsterdam, The Netherlands.

Hooijer, A., Silvius, M., Wösten, H. and Page, S. 2006. PEAT-CO2, Assessment of CO2 Emissions from Drained Peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics report Q3943 (2006).

Leliana, N. H., Zulfikhar., Haasler, B. 2015. Laporan dan Modul Teknis Pemutakhiran Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2015. GIZ-Bioclime, ISBN: 978-602-741-644-4.

Martin, E., dan Winarno, B. 2010. Peran Parapihak dalam Pemanfaatan Lahan Gambut; Studi Kasus di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 7(2) : 81-95 hlm.

Rianawati, F., Asyari, M., Fatriyani dan Asysyifa. 2016. Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Pada Lahan Basah Di Kecamatan Gambut Provinsi Kalimantan Selatan. Seminar Nasional dan Gelar Produk: 1-10.

Taufik, M., Setiawan, B.I., Prasetyo, L.B., Pandjaitan, N.H., dan Suwarso. 2010. Peluang Untuk Mengurangi Bahaya Kebakaran di HTI Lahan Basah: Model Pendekatan Pengelolaan Air. J. Hidrosfer Indonesia, 5(2): 55-62 hlm.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil optimasi, diperoleh bahwa konsentrasi furfural cenderung meningkat pada saat temperatur dan waktu hidrolisa yang tinggi, karena adanya pembentukan asam

This study concentrated on the translation errors of bilingual monument. inscriptions in

Bunga mawar potong kiss yang tangkainya direndam dalam larutan pulsing yang dilanjutkan dengan perendaman dalam vial isi akuades yang dikemas dalam kotak karton berukuran

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada kepala pemasaran perusahaan PT Bumi Sriwijaya dapat diinformasikan bahwa perusahaan masih memiliki permasalahan pada bagian

Sebagai badan perundangan tertinggi, tiada batas syarak secara jelas dinyatakan yang menghadkan bidang kuasa Dewan Rakyat dan Dewan Negara dalam menjalankan tugasnya,

Di sisi lain, perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah ini perlu dibarengi dengan penyediaan sumber daya insani yang kompenten, handal, dan profesional dalam bidang ekonomi

Pada Bulan September Tahun 2013, PKH mulai aktif di Kabupaten Sukoharjo dan dapat diakses di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Sukoharjo sejumlah 12 kecamatan dan 128

Hubungan antara kedua variabel ini bersifat positif, yang berarti semakin tinggi tingkat problematic internet use , maka semakin tinggi pula tingkat