TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Teori Kasus
- Pengertian persalinan
- Jenis-jenis persalinan
- Tanda-tanda persalinan
- Fase-fase dalam Persalinan
- Faktor-faktor yang mempengaruhi Persalinan
- Mekanisme persalinan
Konsep Dasar Atonia Uteri
- Pengertian Atonia Uteri
- Etiologi Atonia Uteri
- Manifestasi Klinis Atonia Uteri
- Penangganan Atonia Uteri
Atonia uteri adalah penyebab umum perdarahan postpartum, yang didefinisikan sebagai penurunan/tidak adanya kontraksi uterus yang adekuat setelah pelepasan plasenta. Atonia uteri dapat disebabkan oleh distensi uterus yang berlebihan (polihidramnion, kembar, makrosomia), kelelahan (persalinan lama), atau ketidakmampuan berkontraksi akibat tokolitik atau anestesi umum. Pada perdarahan postpartum akibat atonia uteri, biasanya ditemukan nyeri tekan rahim dan perdarahan vagina.
Komplikasi yang dapat terjadi akibat perdarahan postpartum akibat atonia uteri antara lain syok hipovolemik bahkan kematian (Pakolo, I.K. 2019). Perdarahan postpartum disebabkan oleh 4T yaitu tonus (atonia uteri), jaringan (stasis plasenta dan bekuan darah), trauma (pecahnya jalan lahir), dan trombin (gangguan pembekuan darah). Faktor predisposisi terjadinya perdarahan postpartum akibat atonia uteri adalah regangan uterus yang berlebihan akibat kehamilan kembar, polihidramnion atau bayi terlalu besar, fibroid uterus, indikasi infus MgSO4, penggunaan oksitosin secara terus menerus, ekstraksi plasenta secara manual, pemberian anestesi dalam, usia ibu > 35 tahun, kelelahan akibat persalinan yang lama atau sulit, partus precipitatus, kehamilan grande-multipara, kondisi umum ibu buruk, tanda-tanda anemia, penyakit kronis, fibroid rahim yang mengganggu kontraksi rahim, korioamnionitis, dan riwayat atonia uteri sebelumnya (Alandra Rizhaqi, dkk 2023).
Manifestasi klinis perdarahan postpartum berdasarkan gejala fisik dan jumlah kehilangan darah dibedakan menjadi syok terkompensasi, syok ringan, sedang, dan berat. Derajat syok terkompensasi jika tekanan darah sistolik normal, tanda dan gejala jantung berdebar, pusing, takikardia, dan perkiraan kehilangan darah 500-1000 ml. Syok sedang jika tekanan darah sistolik 80-100 mmHg, tanda dan gejala lemas, berkeringat, takikardia dan perkiraan kehilangan darah ml.
Syok sedang jika tekanan darah sistolik 70–80 mmHg, tanda dan gejala gelisah, pucat, oliguria, dan perkiraan kehilangan darah 1500–2000 mL. Syok berat terjadi jika tekanan darah sistolik 50-70 mmHg, tanda dan gejala anuria serta penurunan kesadaran, dan perkiraan kehilangan darah 2000-3000 ml serta kesadaran pasien komposta mentis tidak mengalami syok (Jayanti, K.S. 2019) . ). Untuk mengurangi risiko perdarahan postpartum, pastikan plasenta telah lahir lengkap, jahit robekan perineum dan vagina, kaji tonus uterus setiap 15 hingga 30 menit, dan pijat, jika tonus tidak adekuat, ajari pasien untuk melakukan pijatan.
Obat prioritas kesehatan ibu dan anak”, termasuk obat uterotonika untuk pengobatan perdarahan nifas akibat atonia uteri. Kompresi bimanual ini dilanjutkan hingga dipastikan rahim berkontraksi dan perdarahan dapat dihentikan, hal ini dapat diuji dengan melepaskan tekanan pada rahim untuk sementara kemudian dilakukan penilaian konsistensi rahim dan jumlah perdarahan (Anggraeni Y. 2019 ). Tangan kanan diletakkan di atas perut pasien dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan ibu jari di depan dan sisa jari di belakang rahim (Kristianingsih, 2019).
TINJAUAN KASUS
Manajemen Asuhan KebidananPersalinan
- Pengkajian
- Diagnosa
- Perencanaan Tindakan
- Pelaksanaan Tindakan
- Evaluasi
Pembahasan
Nyeri pinggang yang menjalar hingga perut bagian bawah dan keluarnya lendir bercampur darah yang kita rasakan merupakan suatu hal yang fisiologis pada wanita bersalin, hal ini menjelaskan tentang tanda-tanda inpartum yaitu terjadinya persalinan yang menimbulkan nyeri pada pinggang yang menyebar ke perut bagian bawah dan mengeluarkan darah atau keluarnya lendir bercampur darah melalui vagina, yang berasal dari lendir saluran serviks, saat leher rahim mulai terbuka dan rata. Diagnosis ibu I G1P0A0 ditegakkan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan secara subyektif dan obyektif yaitu ibu S yang melahirkan dengan komplikasi atonia uteri. Perencanaan asuhan persalinan ditinjau dari 60 langkah asuhan kelahiran normal (APN) yang terbagi dalam 4 tahapan yaitu tahapan 1 (pembukaan leher rahim), II. tahap (pengusiran anak), III. tahap (pengusiran plasenta), tahap IV (kontrol).
Proses persalinan ibu pertama berlangsung 5 jam 30 menit, kala satu 5 jam, kala dua 10 menit, kala ketiga 5 menit. Menurut Lailiyana, dkk (2019), kala satu persalinan dimulai dari kontraksi rahim hingga mulut rahim terbuka hingga 10 cm. Hal ini sesuai dengan Jurnal Kebidanan Sumarni, (2023) yang menjelaskan tentang tanda dan gejala kala II yaitu ibu merasa ingin meremas saat kontraksi, terjadi peningkatan tekanan pada rektum dan vagina. Pada kala empat, ibu mengalami atonia uteri, yaitu rahim tidak berkontraksi dengan baik setelah plasenta terlepas, dan masalah serius yang ibu alami adalah pendarahan yang melebihi batas normal.
Menurut Masitha, S 2023, perdarahan postpartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia dan 70-75% kasus perdarahan postpartum disebabkan oleh atonia uteri. Perencanaannya, bidan memberikan suntikan ergometrin pada paha bagian luar 1/3 bokong ibu, kemudian menuangkan 2 tetes oksitosin ke dalam 500 cc cairan RL, dan juga memberikan misoprostol pada ibu. 2017, Misoprostol merupakan obat yang digunakan untuk induksi persalinan karena kemampuannya dalam mematangkan serviks dan menginduksi kontraksi miometrium, serta sebagai upaya mencegah dan mengobati perdarahan postpartum karena efeknya yang kuat sebagai uterotonika.
Oksitosin digunakan sebagai agen uterotonika untuk merangsang kontraksi ritmik miometrium dalam induksi persalinan cukup bulan atau aborsi tidak lengkap, pencegahan perdarahan postpartum, dan permulaan produksi ASI. Dalam bab ini tidak ada kesenjangan baik dalam teori maupun kasus, karena bidan telah mengambil tindakan yang tepat dan bekerja sama untuk memberikan pelayanan yang tepat. Pengobatan dengan KBI untuk atonia uteri merupakan pengobatan yang paling sering dilakukan dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, karena pengobatan awal ketika ditemukan kontraksi lembut rahim setelah pemijatan dan pengosongan kandung kemih adalah dengan melakukan KBI selama 5 menit dan pada kasus diperoleh di dekat kandung kemih. tingkat penelitian.
Jadi dalam hal ini KBI disusul KBE. Tingkat keberhasilannya tinggi dibandingkan pengobatan atonia uteri hanya dengan KBE. Berdasarkan kekhawatiran atonia uteri pada ibu I, maka tindakan KBI dan KBE tidak dilakukan oleh dokter spesialis kandungan; seharusnya dokter spesialis kandungan melakukan prosedur pengobatan atonia uteri. Pada kasus ibu I dengan atonia uteri, perawatan yang diberikan sesuai dengan teori dan kasus.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pembahasan ini didasarkan pada tinjauan teoritis dan kepedulian nyata di lapangan dengan pendekatan manajerial yang terbagi dalam 5 langkah yaitu penilaian, diagnosis atau masalah, rencana/intervensi, tindakan/implementasi dan evaluasi. Penulis memberikan asuhan kehamilan pada ibu I P1A0 yaitu berupa asesmen di praktek mandiri bidan Yulia Fonna dan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan dengan teknik dokumentasi SOAP.
Saran