PENDAHULUAN
Identifikasi masalah
Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu. Upaya guru dalam meningkatkan hafalan makna bacaan doa siswa dengan model pembelajaran kooperatif “Make a match” pada mata pelajaran PAI di kelas VIII Madresah Salafiyah Wustha A Wustha Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu.
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan Masalah
Manfaat Penelitian
Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan wawasan penggunaan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan hafalan makna bacaan doa bagi siswa kelas VIII Wustha A di MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu.
LANDASAN TEORI
Pengertian Implementasi
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif dapat mewujudkan kebutuhan siswa (student needs) dalam belajar berpikir, memecahkan masalah (problem solving) dan menghubungkan pengetahuan dengan keterampilan. Model pembelajaran TGT merupakan tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah digunakan dan mencakup semua siswa tanpa perbedaan status.
Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match
Dengan demikian, model pembelajaran make a match tampaknya tepat untuk meningkatkan hafalan makna bacaan sholat siswa, meningkatkan minat belajar yang menarik untuk diikuti siswa. Menurut saya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif make a match siswa lebih aktif dan antusias dalam belajar, hal ini jelas saya menggunakan model pembelajaran ini dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya, karena metode make a match itu sendiri artinya belajar sambil bermain. 55. 55 Wawancara dengan Ustadzah Istiqomatul Layli, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu, 27 April 2021.
60 Wawancara dengan Ustadzah Istiqomatul Layli, Sebagai Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu, pada tanggal 27 April 2021. 65 Wawancara dengan Ustadzah Istiqomatul Layli, Sebagai Guru Pendidikan Agama Islam (MSWPAI) Qomariyah Bengkulu Kota, pada 27 April 2021. Keterbatasan sarana dan prasarana membuat guru di MSW Hidayatul Qomariyah seringkali guru harus berinisiatif melakukan sendiri agar membentuk pembelajaran yang kondusif agar siswa tidak merasa bosan.
Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana yang kurang memadai akan membuat siswa mudah bosan. 67 Wawancara Ustadzah Istiqomatul Layli, Selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu, pada tanggal 27 April 2021. Dan tidak hanya dalam proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik duduk dengan nyaman karena kursi tidak tersedia dan memang sistem Islam pondok pesantren MSW Hidayatul Qomariyah yang masih mempertahankan sistem pembelajaran tradisional sangat edukatif.
Pengertian Hafalan Arti Bacaan Shalat
Penelitian yang Relavan
Kerangka Berpikir
Jenis Penelitian
Dari pernyataan di atas bahwa guru membiasakan siswanya membaca buku, diketahui bahwa pada akhir pembelajaran guru selalu menyebutkan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya agar siswa dapat belajar terlebih dahulu. Belajar kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran yang digunakan di Madrasah Salafiyah Wustha Hidayatul Qomariyah kota Bengkulu. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berkelompok selalu digunakan di MSW Hidayatul Qomariyah kota Bengkulu, baik dalam pembelajaran di pondok pesantren maupun dalam pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari wawancara informan, santri diwajibkan untuk menghafal setiap mata pelajaran, baik mata pelajaran pondok pesantren maupun mata pelajaran madrasahnya. Hambatan yang dihadapi guru dan siswa Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kota Madresah Salafiyah Wustha Hidayatul Qomariyah Bengkulu tahun pelajaran 2020/2021. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari wawancara dengan informan bahwa sarana dan prasarana yang ada kurang memadai, sehingga guru hanya bisa memberikan pelajaran kepada siswa dengan cara seadanya.
Penerapan model pembelajaran kooperatif make a match pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan hafalan makna bacaan sholat di kelas VIII Wustha A Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu dilaksanakan dengan cukup baik melalui beberapa langkah kegiatan pembelajaran yaitu tahap pendahuluan. kegiatan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Setting Tindakan
Subyek dan Informan Penelitian
Subjek penelitian kualitatif ini adalah orang-orang yang berhubungan langsung yang memberikan informasi tentang situasi dan kondisi yang melatarbelakangi objek penelitian. Dalam hal ini, penulis mengambil informan yang terdiri dari guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan tiga orang kelas VIII Madrasah Wustha A Madrasah Salafiyah Wustha Hidayatul Qomariah Kota Bengkulu.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada terwawancara oleh pewawancara 44 Sedangkan menurut Lexy J. Percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan pewawancara yang memberikan jawaban atas pernyataan tersebut 45 Informan dalam penelitian ini adalah MSW Hidayatul Qomariyah, guru mata pelajaran untuk mengetahui kendala apa saja yang terjadi dalam pembelajaran dan reaksi terkait kurikulum yang dipelajari peneliti. Sedangkan wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan metode make a match dengan tujuan agar siswa dapat dengan cepat dan mudah menghafalkan makna bacaan sholat pada materi Sholat Sunah Berjamaah dan Munfarid.
Teknik Keabsahan Data
Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara terus menerus yaitu sebelum memasuki lapangan, memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah menyelesaikan lapangan, untuk menguji hipotesis yang diajukan melalui penyajian data. Data yang terkumpul tidak sepenuhnya disajikan dalam laporan penelitian, penyajian data ini dilakukan untuk menunjukkan kepada pembaca data tentang kenyataan yang sebenarnya terjadi sesuai dengan fokus dan topik penelitian, oleh karena itu data disajikan dalam laporan penelitian. riset. tentu saja itu data yang terkait dengan topik, hanya diskusi yang harus disajikan. Data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak, oleh karena itu harus dicatat secara cermat dan detail.
Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan menanyakannya jika diperlukan. Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil reduksi dengan menyusun rangkaian naratif informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi, guna memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data terorganisir ini dijelaskan dengan cara yang bermakna seperti dalam bentuk narasi, grafik dan tabel.
Dalam penelitian, penyajian data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan pekerjaan selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sejarah MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu
Kemudian jumlah santri mencapai sekitar 17 anak dan pondok pesantren diresmikan pada tanggal 1 Muharram tahun 1425 H/2004. Ia juga mengajak Jama'ah dan masyarakat sekitar untuk memeriahkan berdirinya pondok pesantren tersebut. . Ia mengadopsi kata Hidayah karena ia merupakan alumni pesantren bernama Hidayatul Mubtadi-ien yang berada di Lirboy, Jawa Timur.
Kedua data itu ia gabungkan menjadi nama indah Pesantren Hidayatul Qomariyah. Waktu terus berjalan, alhamdulillah pondok pesantren Hidayatul Qomariyah sedikit demi sedikit mulai ditata dengan apik. Adapun pendidikan formal di pondok pesantren Hidayatul Qomariyah yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan formal yang sifatnya sama.
Dan semua itu diakui oleh pemerintah pusat, dan sistem pembelajaran dialihkan ke pesantren, yang utama tidak mengganggu aktivitas anak santri.
Letak Geografis
Namun program pemerintah ketiga yang tidak dicanangkan yaitu Ulya, maka kami kemudian membuka Pendidikan Formal bernama Madrasah Aliyah (MA) Swasta Hidayatul Qomariyah bagi siswa lulusan Pendidikan Wustho. Alhamdulillah MA Hidayatul Qomariyah sudah beberapa kali mengikuti Ujian Nasional dan mengeluarkan beberapa alumni MA Hidayatul Qomariyah dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah di Pondok Pesantren Hidayatul Qomariyah.
Visi Dan Misi MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu
Profil MSW Hidayatul Qomariyah Kota Bengkulu
Sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru terlebih dahulu harus menciptakan suasana atau kondisi awal pembelajaran efektif yang menyenangkan yang memungkinkan siswa. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada hari Selasa tanggal 27 April 2021 di MSW Hidayatul Qomariah, pada kegiatan awal guru memulai proses pembelajaran dengan menyapa dan menyapa siswa dengan menggunakan kata-kata penyemangat (yel-yel), kemudian guru mengecek siswa ketidakhadiran siswa dengan memanggil nama siswa satu per satu, dan guru juga membersihkan tempat duduk siswa untuk kebersihan kelas. Jadi siswa harus membaca materi untuk pertemuan selanjutnya dan pada dasarnya dalam penerapan model pembelajaran kooperatif Make A Match dengan materi sholat sunnah ini siswa diajak bermain sambil belajar, namun sebelum itu siswa harus menguasai terlebih dahulu materi tadi.
Melalui kerja kelompok, saya dapat melihat kekompakan, tanggung jawab dan kedisiplinan siswa itu sendiri. Pada saat kegiatan pendahuluan dilakukan, guru memulai proses pembelajaran dengan menyapa dan menyapa siswa serta memberikan motivasi agar mereka antusias mengikuti pembelajaran. Kemudian guru mengecek kehadiran siswa dengan memanggil nama siswa satu per satu, dan guru juga merapikan tempat duduk siswa hingga kebersihan kelas.
Guru memfasilitasi pengamatan siswa, melatih mereka memperhatikan (melihat, membaca dan mendengar) hal-hal penting dari mata pelajaran atau Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang pengamatan siswa yang kurang jelas atau yang dirasa kurang dipahami. Di akhir kegiatan, guru dan siswa mereview pelajaran yang telah dipelajari, dan siswa diberi kesempatan untuk bertanya kembali sebelum pelajaran berakhir.
Pengurusan MSW Hidayatu Qomariyah Kota Bengkulu
Rekapitulasi Data Guru Dan Siswa MSW Hidayatul
Sarana Dan Prasarana
Penyajian Hasil Penelitian
- Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Make A
- Upaya Guru Dalam Meningkatkan Hafalan Arti Bacaan
- Kendala Guru Dan Peserta Didik Dalam Pembelajaran
Pada kegiatan penutup, guru merangkum materi pelajaran bersama siswa, mengevaluasi atau merefleksi kegiatan yang konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam pembelajaran remedial bagi siswa yang belum memenuhi nilai ketuntasan. atau KKM - set standar, program pengayaan, dan. Kemudian saya juga mentransfer materi berikutnya yang akan dipelajari minggu depan agar siswa dapat belajar di asrama dan ketika mereka masuk siswa sudah mengetahui materi apa yang akan dipelajari.”57. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, guru masih belum dapat mengatur waktu mengajar secara maksimal, karena waktu yang diberikan pihak sekolah atau yayasan untuk mengajar sangat terbatas yaitu hanya 45 menit/mata pelajaran yang kurang lebih 1 artinya. jam, sedangkan siswa hanya mempelajari 2 mata pelajaran per hari dalam satu hari.
Sedangkan pada kurikulum 2013 (K13) siswa diharapkan lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator yang artinya hanya membimbing atau memfasilitasi. Saya dapat mengumpulkan materi dari sumber lain, seperti dari buku, dan sumber lain yang dapat saya jadikan referensi, yang kemudian akan saya bagikan informasinya kepada siswa. 65 Tahun 2013 tentang standar proses pendidikan, ciri kegiatan intinya adalah kegiatan inti yang menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran.
Jadi, dalam kegiatan akhir ini pendidik telah melakukan tahapan-tahapan kegiatan akhir dengan baik dan sistematis, mis. guru dan siswa menyelesaikan pelajaran yang telah dipelajarinya secara bersama-sama, guru memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok, melakukan perbaikan/pengayaan dan membuat RPP pada pertemuan selanjutnya. Pembiasaan membaca buku dilaksanakan oleh guru PAI sebelum pertemuan minggu berikutnya, dimana siswa diminta untuk membaca buku sebelum ada kelas PAI keesokan harinya. Selain itu membuat siswa mengantuk/tidur di kelas dan siswa asyik bercakap-cakap dengan teman disebelahnya, sehingga pembelajaran di kelas tidak berjalan dengan baik.