RABAB PASISIA DI KECAMATAN LINGGO SARI BAGANTI KABUPATEN PESISIR SELATAN
TAHUN 2005- 2013 Delva Yeni1
Zulfa2 Meri Erawati3
Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This thesis diccuss about Rabab Pasisia in District Pesisir Selatan 2005-2013, the development of science and modern music technology, give big effect to the society interest for traditional music art. It can be felt by after rabab is village Linggo Sari Baganti. Society interest to Rabab Pasisia art is lack but actually is not the reason that makes Rabab Pasisia eliminate in the art world. In addition some groups have an effort to develop Rabab Pasisia valuable with development of era and society sense.The method that use in this research is history. Method the first step use by the writer is collecting relevant information that come from written and oral sources. Written sources this are, document, arsip, and books that related with Rabab Pasisia in Linggo Sari Baganti District Pesisir Selatan. The second step comment sources are test and select to the data that collect to see the validity of the data. The data has been test validity will be interpret then make be a thesis.The result of this research show that one of groups from rabab putra linggo try to keep the district art as era development by creates traditional rabab be dj (disc jockey) rabab.
Keywords: Rabab Pasisia, Music Modern, Rabab Dj (Dics Jockey)
1Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
3Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Rabab Pasisia adalah satu ragam seni pertunjukan Minangkabau yang pada mulanya diapresiasikan oleh masyarakat Minangkabau di daerah Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.
Orang Minang sering juga menyebut Rabab Barua atau Rabab Pasisia gaya baru. Orang daerah Pesisir Selatan menamakan permainan Biola
Kesenian Rabab Pasisia awalnya dimainkan oleh seorang laki-laki. Alat yang digunakan hanya satu biola saja, sambil mengesek biola, Tukang Rabab juga sekaligus sebagai penyanyi atau pengantar cerita(bakaba). Sesuai dengan tuntutan zaman tukang rabab Pesisir Selatan telah mengembangkan kreasi musik tradisional ini baik segi peralatan maupun pemainnya. Peralatan Rabab Pasisia telah bertambah dengan peralatan lain seperti gendang, giring-giring dan penyanyinya sudah ada wanita
Alat musik tradisional Rabab selalu berkembang dengan baik dan merupakan primadona hiburan bagi masyarakat di Pesisir Selatan khususnya dan Sumatera Barat umumnya.
Seiring dengan kemajuan teknologi, kesenian Rabab Pasisia berpengaruh dalam dunia hiburan. Masyarakat dewasa ini terutama anak muda beranggapan bahwa Rabab Pasisia yang dianggap membosankan, karena pengaruh budaya pop zaman modernisasi menyebabkan masyarakat lebih cendrung menikmati kesenian musik pop, jazz, rock, dangdut dan sebagainya. Berkurang peminat rabab jelas nampak pada tahun 2005 dipicu oleh perekonomian masyarakat Pesisir Selatan sudah mulai membaik dari tahun sebelumnya. Jadi masyarakat lebih tertarik menggunakan hiburan moderen seperti orgen tunggal dengan harga yang mahal selain itu masyarakat juga menilai mewahnya suatu acara resepsi pernikahan tergantung pada hiburan yang digunakan
Berdasarkan hal di atas, penulisan kesenian rabab pasisia di kecamatan linggo sari baganti kabupaten pesisir selatan 2005-2013 ini menarik dan layak untuk diteliti, karena di Kecamatan Linggo Sari Baganti ada beberapa grup tukang rabab masih tetap mempertahankan kesenian Rabab Pasisia dengan mengkreasikan Rabab dengan alat orgen sesuai dengan selera masyarakat. Upaya yang dilakukan ini mendapat perhatian dari oleh banyak masyarakat terutama anak muda.
Batasan penelitian ini adalah batasan spasial dari penelitian ini adalah di daerah Linggo Sari Baganti. Hal ini didasari daerah tersebut peminat Rabab masih bertahan karena ada beberapa tukang Rabab Pasisia mencoba memvariasikan Rabab Pasisia sesuai dengan perkembangan zaman dan
sesuai dengan selera masyarakat. Sedangkan batasan temporalnya tahun 2005-2013.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
a. Apa motivasi grup Rabab Putra Linggo mengkreasikan Rabab Pasisia menjadi Rabab Dj (Disc Jokey) di Kecamatan Linggo Sari Baganti?
b. Bagaimana perkembangan pertunjukan Rabab Pasisia di Kecamatan Linggo Sari Baganti yang di kelola oleh Grup Rabab Putra Linggo?
c. Apa fungsi yang terkandung pada tema Rabab Pasisia di Kecamatan Linggo Sari Baganti?
d. Apakah makna historis dari kehadiran Rabab Dj (Disc Jokey) tersebut di Kecamatan Linggo Sari Baganti?
Tujuan penelitian ini adalah :
a. Menjelaskan motivasi grup putra linggo dalam mengkreasikan Rabab Pasisia menjadi Rabab Dj (Disc Jokey) di Kecamatan Linggo Sari Baganti
b. Menjelaskan perkembangan pertunjukan Rabab Pasisia di Kecamatan Linggo Sari Baganti yang dikelola oleh Grup Putra Linggo.
c. fungsi yang terkandung pada Rabab Pasisia di Kecamatan Linggo Sari Baganti.
d. Untuk mengetahui makna historis dari kehadiran Rabab Dj (Disc Jokey) tersebut di kecamatan Linggo Sari Baganti.
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka penelitian ini berguna untuk:
a. Penelitian ini dapat menambah serta memperkaya pengetahuan penulis tentang perkembangan hiburan masyarakat dari hiburan Rabab tradisional hingga menjadi Rabab moderen.
b. Memberi sumbangan pada khasanah ilmu sosial dan budaya terutama mengenai sejarah sosial dan budaya dan sebagai bahan bacaan dalam bentuk sumbangan historis pengetahuan dan informasi yang diperlukan dalam penelitian selanjudnya.
c. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah, supaya lebih memperhatikan kehidupan sosial dan budaya seni tradisional masyarakat Pesisir Selatan yang ditengah hantaman pengaruh musik moderen.
Studi yang relevan diantaranya: Febrinaldi skripsi, menulis tentang “Perubahan Tradisional Rabab Di Daerah Muaralabuh, Kecamatan Sungai Pagu,Kabupaten Solok Selatan Sumatra Barat”Herza
Netti skripsi, menulis tentang “Pergeseran Kesenian Musik Tradisional ke Hiburan Musik Orgen Tunggal dalam Baralek di desa Tanjung Sabar Pariaman Utara”. Risa Pebriani skripsi, penelitian ini berjudul
“Studi Deskriptif Bentuk Pertunjukkan Rabab Pasisia pada pesta perkawinan di Pekonina Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan”
Kesenian Rabab Pasisia berkembang di tengah- tengah masyarakat didaerah Pekonina Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan.
Metode Penelitian
Tahap pertama Heuristik yaitu pengumpulkan data data, baik data primer maupun data sekunder. Dalam memperoleh data primer dilakukan wawancara dengan beberapa informan salah satunya tukang rabab, mantan tukang rabab kemudian wawancara dengan masyarakat Pesisir Selatan yang mengerti dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan hiburan Rabab Pasisia. Wawancara yang dilakukan melalui dua cara yaitu wawancara berstruktur yakni menyiapkan pertanyaan sesuai dengan masalah-masalah penelitian. Kemudian wawancara tidak berstruktur yaitu pertanyaan tidak dipersiapkan lebih dalam, hal ini di lakukan untuk melengkapi data yang di butuhkan
Tahap kedua dalam metode sejarah adalah kritik sumber. Kritik dilakukan dengan dua cara, yaitu kritik interen dan ekstern. Kritik intern adalah untuk mencari kredibilitas sumber seperti, berasal dari mana, siapa dan menulis apa. Sedangkan kritik eksteren adalah tujuan mencari apakah data yang diperoleh otentik atau tidak.
Tahap ketiga dalam metodologi sejarah yaitu interpretasi. Interpretasi merupakan proses pengaitan atau menghubungkan antara satu fakta dengan fakta yang lainnya sehingga menjadi satu kesatuan pengertian. Dalam proses interpretasi penelitian ini didukung oleh wawasan teoritis sebagaimana yang terdapat di kerangka analisis.
Ditahap interpretasi ini, seseorang penulis atau sejarahwan yang baik itu harus bisa subjektif mungkin dalam menentukan permasalahan.
Tahap terakhir dalam metodologi sejarah adalah Historiografi yaitu penyajian hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah. Penulisan laporan kembali dari sumber-sumber dan data-data yang telah diuji melelui tahap-tahap diatas maka penulisan ini dapat mengungkapkan permasalahan yang dirumuskan sebelumnya. Historiografi dalam penelitian ini merupakan konstruksi atau penyusunan sebuah fakta sejarah secara sistematis, utuh, komunikatif yang akhirnya menjadi suatu karya sejarah.
Perkembangan Rabab Di Pesisir Selatan
Kesenian rabab sudah lama tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Pesisir Selatan karena sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Pesisir Selatan. Aceh telah menguasai seluruh wilayah Minangkabau dan mengenalkan hiburan musik geseknya kepada masyarakat Pesisir lebih dikenal dengan Rabab, namun setelah kedatangan bangsa Eropa di Pesisir Selatan pada abad ke-17 daerah ini mulai dikuasai oleh Belanda dan mendirikan benteng pertahan di Pulau Cingkuak Tahun 1664.
Semenjak kedatangan bangsa Eropa ke Pesisir Selatan hiburan rabab lebih dikenal istilah Babiola karena terjadi akulturasi alat musik rabab yang berasal dari pengaruh budaya Aceh dengan alat musik Biola yang dibawa oleh bangsa Eropa. Cara memainkan Rabab pasisia (babiola) dapat dilihat dari segi bentuk pertunjukannya, seperti yang telah ditulis sebelumnya bahwa Rabab Pasisia awalnya hanya dimainkan oleh seorang laki-laki alat musik hanya satu Biola saja, sambilkan mengesek Biola tukang rabab juga sekaligus bernyanyi atau bercerita (bakaba). Sedangkan posisi memainkannya Rabab ditegakkan di bawah dekat kaki pemusik yang duduk bersila di atas kasur.
Rabab Pasisia adalah alat musik gesek yang mengiringi lagu dan cerita berfungsi sebagai sarana hiburan disuatu acara seperti pesta perkawinan, khitanan dan alek nagari agar dapat menghibur penonton. Bahkan ada dibeberapa acara baralek pertunjukan kesenian rabab hanya ditampilakan untuk menemani ibu-ibu memasak didapur. Selain menghibur rabab juga berfungsi sebagai penyampaian pesan-pesan serta mengandung nilai- nilai pendidikan
Pertunjukan Rabab Pasisia berlansung pada malam hari dimulai setelah sholat isya sekitar jam 21.00 malam sampai jam 5.00 pagi. Pertunjukan berlangsung hingga larut malam sampai pagi dini hari merupakan alasan yang menyebabkan tidak ada penyanyi atau pedendang kaum perempuan dalam pertunjukan Rabab Pasisia. Selain itu masyarakat yang tinggal di Pesisir Selatan berasal dari suku Minangkabau. Jadi kentalnya hukum adat membuat perempuan tidak berdaya dan tidak baik pandangan seseorang terhadap seorang perempuan yang keluar malam, tetapi lambat laun pergeseran nilai-nilat adat dan budayapun terjadi. Musiknya identik dengan musik yang mendayu-dayu sehingga menyentuh perasaan orang yang mendengarkan, dan dilengkapi dengan bernyayi sambil bercerita (bakaba)
agar pertunjukan rabab dapat berlangsung dengan sempurna ada beberapa perangkat pertunjukan rabab yang harus diperhatikan yaitu alat musik, kostum, tempat penyajian rabab, lirik lagu
Rabab Pasisia dahulunya disajikan di dalam rumah atau paule rumah di atas kasur beralaskan tikar dengan meteri lagu yang telah ditentukan berdasar kan pembagian waktu yang telah penulis jelaskan sebelumnya. Tukang rabab duduk bersila menghadap penonton namun seiring dengan kemajuan teknologi dan hadirnya musik Rabab Dj disajikan di atas pentas yang bermakna agar telihat lebih moderen
Kasenian Rabab Pasisia lebih banyak menceritakan tentang kesusahan hidup seseorang ” parasaian iduik “.Selain musik Rabab yang dapat menyentuh perasaan, lagu rabab juga banyak mengandung sindiran, nasehat. Biasanya nasehat atau sindiran yang disampaikan tukang rabab biasa menyinggung para penonton . Hal ini yang membuat Rabab Pasisia hanya diminati oleh kaum tua–tua saja, namun anak muda lebih cendrung menikmati hiburan moderen.
Kurangnya peminat Rabab Pasisia namun tidak membuat Rabab Pasisia menjadi mundur atau menghilang dalam dunia hiburan masyakarakat Pesisir Selatan khususnya Linggo Sari Baganti.
Tetapi para seniman rabab “tukang biola” selalu mengembangkan musik rababnya sesuai dengan perkembangan zaman, seperti diungkapkan oleh Joni salah seorang anggota tukang Rabab Dj. Rabab Pasisia yang terdapat di Linggo Sari Baganti selalu mengalami perkembangan dan pembaharuan seperti penambahan pemain perempuan dan alat musik iringan. Penambahan musik iringan Rabab Pasisia oleh Joni salah seorang anggota rabab pada tahun 2005 setelah membentuk grup tetap, seperti peneliti temukan di lapangan sebagai berikut:
No Nama Jenis kelamin Tugas
1 Joni Laki-kai Tukang gesek
rabab
2 Siap Laki-laki Gendang duo
3 Teti Perempuan Gendang
4 Lila Perempuan Giring–giring Grup tersebut diberi nama Grup Putra Linggo. Asal nama grup rabab ini adalah diambil dari nama daerah tempat tinggal sipemain rabab yaitu didareah Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan. Alat musik tambahan terdiri dari gendang ,giring-giring dan gendang duo.
Saat pertunjukan berlangsung musik igingan ini mulai mengiringi Rabab Pasisia”biola”
ketika acara Raun Sabalik, setelah dilakukan pembukaan salam oleh tukang gesek rabab secara tunggal. Mereka menyebutnya dengan istilah ”lagu pasambahan.” Biasanya pertunjukan ini dapat dijumpai pada acara pengangkatan penghulu, pesta pekawinan, khitanan, namun ada juga digunakan sebagai penyambutan tamu dalam acara nagari
seperti penyambutan tamu ketika acara buru babi.
Tempat pertunjukan rabab pasisia” babiola “tidak mengenal pangung tapi dilakukan dalam rungan rumah, namun ada juga yang dilakukan dipauleh rumah tergantung kepada tuan rumah yang menyediakan.
Alat yang digunakan grup Rabab Putra Linggo masih berbentuk tradisional tentunya yang menyaksikan rabab saat pertunjukan hanya orang tua- tua saja sadangkan anak muda lebih memilih menyaksikan hiburan moderen seperti orgen tunggal, menonton tv, dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi dibidang musik, maka timbullah motivasi Grup Rabab Putra Linggo untuk mengkreasikan rababnya menjadi rabab dj (disc jokey) pada tahun 2013 menganti alat musik iringan sesuai dengan perkembangan zaman dan selerah masyarakat.
Perubahan alat musik iringan yang terjadi pada musik Rabab Pasisia tidak lagi memakai gendang, giring-giring dan gendang dua tetapi alat yang dipakai sebagai musik iringan rabab pasisia musik moderen seperti mengunakan keyboard, speker.
Makna Histori Rabab
1). Makna Kearifan Lokal Kesenian Rabab
Rabab Pasisia merupakan salah satu kesenian musik yang terdapat di Pesisir Selatan.
Kesenian ini memiliki ciri dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan kesenian daerah yang terdapat di Sumatera Barat, yaitu bermusik sambil bakaba (bercerita) didalam kaba yang terdapat pada Rabab Pasisia menceritakan tentang kisah hidup. Lagu Rabab Pasisia dibawakan dalam bentuk kaba dalam mengiringi musik rabab ini dapat dilihat dari segi irama musiknya mendayu-dayu bermakna melambangkan kesedihan, karena dari sejarah kehidupan masyarakat Pesisir Selatan telah lama dijajah baik bangsa dalam maupun bangsa luar.
Untuk itu dengan kesenian rabablah dapat menghibur dan menyampaikan perasaan yang sedih. Hadirnya musik moderen dapat menghibur masyarakat namun tidak membuat Rabab Pasisia diabaikan keberadaannya karena masyarakat khususnya pemain Rabab Pasisia tetap mempertahankan keberadaan musik daerahnya dengan cara memvariasikan sesuai dengan perkembangan zaman yaitu rabab aliran Dj (Disc Jokey) tetapi tidak menghilangkan keaslianya bermakna sebagai hiburan semata.
Hadirnya musik moderen dapat menghibur masyarakat namun tidak membuat Rabab Pasisia diabaikan keberadaannya karena masyarakat khususnya pemain Rabab Pasisia tetap mempertahankan keberadaan musik daerahnya dengan cara memvariasikan sesuai dengan perkembangan zaman yaitu rabab aliran Dj (Disc
Jokey) tetapi tidak menghilangkan keaslianya bermakna sebagai hiburan semata.
2).Makna Informatif
Kesenian Musik Rabab Pasisia dan lirik lagu yang mengiringinya dalam bentuk kaba atau cerita disampaikan biasanya berupa infomasi baik berupa cerita pahlawan, nasehat dan pesan-pesan moral karena penonton rabab terdiri dari berbagai lapisan masyakatat baik anak-anak, anak muda dan orang tua. Untuk itu musik Rabab Pasisia dan Rabab Dj (Disc Jokey) bukan hanya bermakna sebagai hiburan tetapi juga bermakna sebagai penyampain kisah yang terjadi sekarang maupun masa lampau.
Seperti cuplikan berbalas pantun percintaan terlihat dalam lirik lagu berikut ini:
…Raba’a pasa sungai tunu Kapasa nak hari tinggi Mukin lah garak di nan Satu Dapek batamu kito kini Manyasa ka hulu duo Marapalam tagonang gonang Manyasa raso badan basuo Sajak batamu dara ndak sanang Layang- layang tabang malayang Inggok diranting kayu aro Dima darah ka namua sanang Iyo di pandang lengah juo Satu balainyo rang kambang Kapasa mambali lad Lah laje uda di tangan urang Manga kok caliak uda tajam juo…
Dalam Bahasa Indonesia
….Rabu pasar sungai tunu Kepasar hari sudah tinggi
Mukin sudah takdir oleh yang satu Dapat bertemu kita sekarang Mencuci ke hulu dua
Marapalam tergenang- genang Menyesal rasa badan bertemu Sejak bertemu darah tidak senang Layang layang terbang melayang Hinggap diranting kayu aro bagaimana darah mau senang dia dipandang cuek saja sabtu pasarnya orang kambang ke pasar membeli cabe
sudah jelas kakak ditangan orang mengapa penglihatan kakak seperti itu..
Perubahan yang terjadi pada kesenian tradisonal rabab yang di kelolah oleh Grup Rabab Putra Linggo ternyata bukan saja dari alat musik dan iramanya tetapi dari segi pementasan dan pemain anggotanya juga mengalami perubahan. Pada awalnya anggota grup rabab yang dibentuk tahun 2005 hanya beranggota 4 orang, namun kehadiran musik Rabab Aliran Dj membuat anggota rabab bertambah menjadi 5 orang seperti peniliti temukan di lapangan sebagai berikut:
No Nama Jenis kelamin Tugas
1 Joni Laki-kai Tukang gesek
rabab dan penyanyi
2 Siap Laki-laki Penyanyi
3 Teti Perempuan Penyanyi
4 Lila Perempuan Penyanyi
5 Rusman Laki laki Tukang
keyboard KESIMPULAN
Kesenian Rabab Pasisia merupakan bagian dari pada seni pertunjukan rakyat, maka kesenian Rabab Pasisia sampai saat ini terus saja tumbuh dan berkembang dalam kalangan masyarakat Pesisir Selatan khususnya Linggo Sari Baganti. Perkembagan yang terdapat pada kesenian rabab yang terdapat di kecamatan Linggo Sari Baganti bukan saja pada alat musik pengiringnya saja, tetapi irama lagunya juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain itu tempat pementasan Rabab Pasisia juga mengalami perkembangan yang dulunya dilakukan dalam dulunya dalam rumah dan dipaule rumah. Namun rabab dj saat dilakukan pertunjukan nya di atas pentas yang telah disediakan oleh tuan rumah. Saat pertunjukan Rabab Pasisia yang berjumlah empat orang dua laki laki dan dua perempuan namun pada kesenian Rabab Dj pemain Rabab Dj bertambah satu orang yang bertugas sebagai tukang kaybord.
DAFTAR PUSTAKA A. Arsip
Laporan Pelaksanaan Kegiatan Pekan Seni Dan Budaya Kabupaten Pesisir Tahun 2013 Data Badan Pusat Statistik (BPS) .Pesisir Selatan .Tahun 2005-2009
B. Buku
Bahari, Nooryan. 2008. Kritik Seni. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Dudung, Abdurrrahman. 2007. Metodologi Penelitian Sejarah, Jokjakarta: Ar–Ruz Media
Dhavida, Usria Dkk, 1997. Kesenian Rabab Pasisir.
Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat.
Padang
Dhavida, Usria, 2005. Pesona Nada Pulau Andalas, Alat Musik Tradisional Sumatera. Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat. Padang Helius, Sjamsuddin, 2012. Metodologi Sejarah, Jakarta: Ombak.
M. D. Mansoer, 1970. Sejarah Minangkabau, Jakarta: Bhratara.
Moh muttakin. 2008. Seni musik klasik jilit 1. Jakarta:
Diktorat.
Nirwan, Tadjudin 1984. Pendidikan Seni Musik 1 Bandung: Angkasa
Syailendra. 2000. Musik Tradisi. Padang: Jurusan Sendratasik.
C. Karya ilmiah/ skripsi
Febrinaldi. 2010. “Perubahan Tradisional Rabab Di Daerah Muaralabuh, Kecamatan Sungai Pagu,Kabupaten Solok Selatan Sumatra Barat”Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Herza Netti. 2010. “Pergeseran Kesenian Musik Tradisional Ke Hiburan Musik Orgen Tunggal Dalam Baralek Di Desa Tanjung Sabar Pariaman Utara”Skripsi. Padang : UNP Sumatera Barat.
Risa Pebriani. 2013. “Studi Deskriptif Bentuk Pertunjukkan Rabab Pasisia Pada Pesta Perkawinan Di Pekonina Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan””Skripsi.
Padang : UNP Sumatera Barat.
Nora Fitri. Kesenian Talempong Pacik Dalam Kehidupan Masyarakat Pitalau. Skripsi.
FBSS: UNP Sumatera Barat