2020061056 – Muhammad Lutfizaldi Desain Komunikasi Visual
Radio di Indonesia
(1950's)
Kelahiran radio siaran di Indonesia berawal dari kekhawatiran pemerintah Belanda yang memaksa mereka untuk menghadirkan radio siaran di Indonesia. Pada 16 Juni 1925 didirikan radio siaran pertama dengan nama Batanaische Radio Vereeniging (BRV) di Batavia (sekarang Jakarta). Semua stasiun radio di Indonesia semasa penjajahan Belanda berstatus swasta. di Indonesia, radio siaran awalnya lebih mengutamakan fungsinya sebagai penyebar informasi.
Sejarah
Pada tahun 1934 terbentuk juga radio bernama Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM). Selain itu lahir juga pemancar radio amatir yang didirikan di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa oleh Belanda yaitu Vereniging Van Radio Amateurs Voor Bandoeng en Omsteeken (PMY) tahun 1926, Radio Vereniging Makassar tahun 1928, Amateurs Radio Omroep Padang (AROP) tahun 1938, Algemeent Radio Vereniging Oost Jawa (ARVO) tahun 1925.
Sejarah
Menyerahnya Belanda terhadap Jepang membuat semua perkumpulan radio swasta dihapuskan mengikuti struktur pemerintahan militer Jepang yang membagi wilayah Indonesia menjadi tiga bagian. Di dalam pemerintahan militer Jepang, isi siaran radio dipengaruhi oleh suasana perang dan usaha- usaha untuk memenangkan perang.
Kebudayaan dan bahasa Jepang hanya satu- satunya kebudayaan asing yang boleh disiarkan dalam radio, sedangkan bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantarnya.
Sejarah
Latar Belakang Peristiwa
Peristiwa jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 14 Agustus 1945 membuat kaisar Jepang memutuskan untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita kekalahan Jepang secara diam-diam berhasil ditangkap melalui siaran- siaran radio gelap milik penduduk atau pemuda gerakan bawah tanah.
Akibatnya, muncul langkah awal bagi bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan dengan cara menyiarkan berita tersebut melalui pemancar gelap yang dikenal dengan nama Radio Indonesia Merdeka.
Latar Belakang Peristiwa
Sejak saat itu radio siaran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Pada tanggal 11 September 1945 didirikan radio siaran di Indonesia yaitu Radio Republik Indonesia.
Seiring berjalannya waktu radio tak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan atau informasi, melainkan juga sebagai media hiburan. Berbagai format acara disajikan untuk menghibur pendengar, mulai dari sandiwara radio, ragam siaran musik, dan lain sebagainya.
Dampak Industri, Sosial Politik, dan Budaya.
Pada akhir tahun 1945 muncul organisasi PRAI (Persatoean Radio Amatir Indonesia). Banyak amatir radio muda yang membuat sendiri perangkat radio transceiver untuk berkomunikasi antar Pulau Jawa dan Sumatera tempat pemerintahan sementara RI berada. Amatir radio juga banyak berperan sebagai radio laskar. Pada tahun 1950 amatir Indonesia membentuk PARI (Persatuan Amatir Radio Indonesia).
Namun pada tahun 1952 pemerintah mulai mengeluarkan ketentuan bahwa pemancar radio amatir dilarang bersiar kecuali pemancar radio milik pemerintah. Pembekuan tersebut diperkuat dengan UU No. 5 tahun 1964 yang mengenakan sanksi terhadap mereka yang memiliki radio pemancar tanpa seizin pihak yang berwenang.
Dampak Industri, Sosial Politik, dan Budaya.
Hal itu dikarenakan situasi negara sedang tidak menguntungkan karena munculnya berbagai pemberontakan. Timbul kekhawatiran Pemerintah terhadap amatir radio yang akan dimanfaatkan oleh kaum pemberontak.
Lalu berlanjut pada masa Orde Baru siaran radio banyak diisi dengan materi hiburan. Hal ini terjadi karena pemerintah cukup banyak membatasi materi siaran sehingga memberikan kesan bahwa Radio Republik Indonesia merupakan pajangan tangan pemerintah Orde Baru.
Semua stasiun radio swasta diwajibkan untuk terhubung dengan program siaran berita yang dikelolah oleh Radio Republik Indonesia dalam menyiarkan informasi. Oleh karena itu, program berita hanya diproduks lembaga pemerintahan.
Dampak Industri, Sosial Politik, dan Budaya.
Nugroho dan Herlina dalam Atmadja dan Ariani (2018: 129) mencatat radio siaran tidak semata-mata berjaya karena fungsi hiburan, melainkan juga terkait dengan gaya hidup dimana pada masa itu. Ia mencatat situasi dimana radio transistor warna warni menjadi gaya hidup anak muda, yang dapat dibawa kemana pun sambil pacaran.
Contoh Kasus
Pada tahun 1952 terjadi sebuah peristiwa yang mengakibatkan kerusuhan di Istana Merdeka sehingga banyak bermunculan pemberontakan.
Demi menghilangkan ke kekhawatiran pemerintah terhadap siaran-siaran yang dapat dimanfaatkan oleh para pemberontak dikeluarkanlah maklumat yang berisi “Hanya pemancar radio milik pemerintah yang boleh mengudara, dan perorangan tidak dibenarkan memiliki pemancar radio“.
Dampak dari maklumat tersebut mengakibatkan semua organisasi radio amatir menjadi dibekukan.
Kasus ini membuat masyarakat Bersama mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tahun 1966 yang berjuang untuk menumbangkan kezaliman Orde Lama tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
https://orari.or.id/sejarah-orari/
https://tirto.id/sejarah-hari-radio-nasional-lahirnya-rri-tanggal-11-september-ehSH
https://penyiaran.polimedia.ac.id/2019/02/25/artikel1/
https://nasional.kompas.com/read/2018/10/17/12410771/peristiwa-17-oktober-1952-ketika-tank -dan-meriam-mengarah-ke-istana?page=all
https://historia.id/politik/articles/moncong-meriam-menodong-istana-vxY4P
https://anri.sikn.go.id/index.php/gedung-radio-republik-indonesia