• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAGAM BAHASA PEDAGANG PASAR MARE KABUPATEN BONE

N/A
N/A
Gemilang Makmur .P

Academic year: 2023

Membagikan "RAGAM BAHASA PEDAGANG PASAR MARE KABUPATEN BONE"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Kajian Pustaka

Menurut hasil penelitian ini, ragam bahasa yang diucapkan masyarakat menurut lingkungannya akan mempengaruhi tindak tutur. Sosiolinguistik memberikan pedoman dalam berkomunikasi dengan menyarankan bahasa, varian bahasa, atau gaya bahasa apa yang sebaiknya kita gunakan ketika berbicara dengan orang tertentu. Keanekaragaman linguistik adalah variasi bahasa menurut penggunaannya, yang berbeda-beda menurut topik, hubungan antara pelaku, dan media pengungkapannya.

Dengan menguasai berbagai bahasa, penutur bahasa dapat dengan mudah mengungkapkan gagasannya dengan memilih ragam bahasa yang ada sesuai dengan kebutuhannya. A. Bahasa Indonesia yang mempunyai wilayah penggunaan yang sangat luas dan latar belakang penuturnya yang beragam, telah melahirkan sejumlah ragam bahasa. Adanya ragam bahasa yang berbeda tersebut sesuai dengan fungsi, kedudukan, dan lingkungan yang berbeda pula. Ragam bahasa tersebut pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu ragam lisan dan ragam tulis. Kedua varietas ini berbeda. Dari segi bahasa, ragam bahasa baku mengacu pada ragam bahasa yang “berkualitas”, yang lebih dihargai oleh penggunanya dibandingkan ragam bahasa lainnya.

Ragam bahasa Indonesia lisan dan tulisan ditandai dengan adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang norma dan kaidahnya sebagian didasarkan pada kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Beragamnya bahasa yang digunakan dalam suatu keluarga atau persahabatan antara dua orang dekat dengan sendirinya dapat merupakan suatu keberagaman sosial. Selain itu, keberagaman sosial seringkali dikaitkan dengan tinggi rendahnya status sosial lingkungan sosial yang bersangkutan. Berdasarkan topik pembicaraannya, ragam bahasa dibedakan menjadi: . keragaman politik, keragaman hukum, keragaman pendidikan, keragaman jurnalistik, keragaman sastra, dan sebagainya.

Keberagaman sosial dapat diartikan sebagai suatu jenis bahasa yang norma dan aturannya sebagian didasarkan pada kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil di masyarakat. Ragam fungsional, sering juga disebut ragam okupasional, adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan suatu profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Bahasa jurnalistik merupakan salah satu varian bahasa yang digunakan oleh dunia surat kabar (press world = media massa cetak).

Jenis bahasa informal ini digunakan ketika kita berada dalam situasi yang tidak biasa. Pernyataan mengenai keterbatasan ragam bahasa beku ini sebagai ragam bahasa prosa tulis dan gaya bahasa yang tidak dikenal masyarakat. Keberagaman bisnis adalah bahasa berbeda yang cocok untuk diskusi dan pertemuan sekolah atau

Kerangka Teori

Sedangkan tata bahasa orang tua lebih rapi dan santun, meskipun bahasanya informal. Atau Anda juga dapat melihat bahwa ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua, mereka akan lebih sopan dibandingkan ketika berbicara dengan teman sebayanya. Penggunaan bahasa tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial karena sistem sosial berkaitan erat dengan sistem budaya dalam suatu masyarakat tutur tertentu.

Kerangka Pikir

METODOLOGI PENELITIAN

  • Desain Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Fokus Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Alat Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Batasan Istilah

Data penelitian ini berupa tuturan yang digunakan atau dihasilkan oleh pedagang pasar ketika menawarkan barang yang mengandung bahasa berbeda. Teknik sensus dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan data yang banyak, dalam hal ini penggunaan bahasa yang berbeda-beda di lingkungan pasar Mare Kabupaten Bone sebagai sumber datanya. Terakhir, hasil analisis data berbagai bahasa pedagang pasar disusun secara sistematis, sehingga memudahkan dalam mendeskripsikan penggunaan berbagai bahasa dalam kaitannya dengan kajian sosiolinguistik.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, hasil penelitian yang disajikan pada bab IV antara lain mengenai ragam bahasa yang digunakan oleh para pedagang pasar di Mare Kabupaten Bone. Penelitian pada artikel ini dilakukan pada bulan Mei 2017, tujuan penelitian adalah para pedagang dan pembeli di pasar-pasar yang ada di kabupaten tersebut. . Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberapa ragam bahasa yang peneliti temukan pada bahasa pedagang pasar Mare Kab. Dalam penelitian ini peneliti menemukan beragam dialek bahasa pedagang pasar Mare, di Kabupaten Bone, yang diucapkan oleh penjual dan pembeli di lingkungan pasar Mare.

Pada kawasan pasar Mare digunakan logat Bugis, dialek Bugis mempengaruhi ragam bahasa yang ada di pasar Mare. Beragam bahasa santai mudah ditemukan di pasar Mare. Percakapan dapat mengalir tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu, sehingga pada gaya komunikasi verbal santai penutur tidak terjadi kekakuan dalam berbicara. Jadi ragam bahasa para pedagang di pasar termasuk dalam hal ini, karena pedagang pada saat menjual barangnya jelas tidak menggunakan bahasa yang formal, melainkan menggunakan bahasa yang cukup dimengerti oleh penjual dan pembeli.

Menurut peneliti, faktor pendidikan juga berpengaruh dalam faktor yang mempengaruhi keragaman bahasa di pasar Mare. Berdasarkan analisis dan pembahasan pada Bab IV maka dapat disimpulkan bahwa penelitian yang disajikan meliputi ragam bahasa yang ada di pasar Mare Kabupaten Bone yaitu ragam bahasa pergaulan, ragam dialek, ragam santai, dan ragam bisnis. Sedangkan faktor yang mempengaruhi ragam bahasa di pasar Mare adalah faktor waktu, faktor tempat, faktor sosial budaya, faktor yang menarik perhatian pembeli, faktor situasional, faktor umur dan jenis kelamin, faktor sosial dan faktor pendidikan.

Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap ragam bahasa yang digunakan oleh pedagang pasar yang bersifat referensial.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Bot adalah ekspresi bahasa yang digunakan antara orang-orang yang memiliki status sosial yang sama dan mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Penggunaan berbagai bahasa yang ada di pasaran juga mencakup kontak bahasa dan perkembangan kebahasaan yang terjadi karena beberapa bahasa telah mengalami kontak bahasa dalam jangka waktu yang relatif lama. Bahasa dalam lingkungan sosial suatu masyarakat berbeda dengan masyarakat lainnya. Adanya kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang digunakan berbeda-beda. Keanekaragaman bahasa ini timbul akibat adanya kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi konteks sosialnya.

Oleh karena itu, keberagaman bahasa tidak muncul dari kaidah-kaidah bahasa, melainkan dari kaidah-kaidah sosial yang berbeda. Mare Kab.Bone yang penelitiannya berfokus pada tuturan antara pedagang dan pembeli, mencakup berbagai bahasa pedagang pasar. Konteks: Narasi peristiwa antara seorang pedagang bernama Wati dan seorang pembeli Andi Ida yang berkomunikasi untuk menawarkan barang.

Andi Ida : “Ie ndi, ku sappararangi baju anureta.” Kak, aku sedang mencari baju untuk keponakanmu). Konteks: Kejadian dari cerita antara pembeli dan penjual bernama Ati dan Juhe yang sedang melakukan transaksi pembelian ubi jalar. Konteks: Narasi peristiwa seputar penjual kosmetik bernama Indah dan Fitri berbincang dan membeli alat rias.

Mungkin anda punya banyak uang karena sudah berjualan di pasaran dan sudah mempunyai banyak langganan). Indah: "Dari segi uang, kamu tidak punya banyak, tapi kalau soal langganan, yang jelas orang-orang cantik itu menjual." Kalau uang mungkin tidak banyak, tapi kalau langganan jelas banyak karena yang jualan cantik-cantik).

Konteks : Acara Pidato yang berlangsung di penjual barang natal (berbagai penjual termasuk kipas angin) Penjual : Beli kipas ban, beli kipas angin dan dapat angin gratis.

Pembahasan

Keberagaman bahasa pedagang pasar di Kecamatan Mare Kabupaten Bone dalam interaksinya pada umumnya menggunakan ragam bahasa lisan karena dalam konteks komunikasi antara penutur dan mitra tutur yaitu pedagang dan pembeli, saat berkomunikasi dipengaruhi oleh intonasi, tekanan, nada, ritme dan jeda. Tutur kata seseorang mencerminkan masyarakat dimana ia berbicara, oleh karena itu tuturan erat kaitannya dengan norma dan nilai sosial budaya masyarakatnya. Dengan demikian, dapat diartikan sebagai ragam bahasa yang sebagian norma dan aturannya didasarkan pada kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat, seperti dalam lingkungan pasar. Beragamnya bahasa pergaulan yang terjadi di kalangan pedagang pasar Mare terjadi karena faktor sosial budaya dan lingkungan. Keberagaman sosial ini umumnya terjadi di lingkungan pasar, karena di lingkungan pasar banyak terdapat masyarakat yang mempunyai status sosial dan tutur kata yang berbeda-beda, sehingga keberagaman sosial biasanya muncul di pasar, khususnya di Pasar Mare Kabupaten Bone.

Di alun-alun Mara terdapat beberapa suku bugis dengan beberapa dialek, ada dialek bugis sinjai, bone timur, ada juga penutur enrekang bahkan ada yang berbahasa jawa. Berbagai dialek mudah ditemukan di lingkungan pasar Mara, karena pasar ini memiliki lokasi yang strategis dan menjadi tempat bertemunya banyak orang dari berbagai daerah yang mencari nafkah dengan membawa dialek mereka. Namun dalam pernyataan terbarunya, ia kembali menjawab dengan bahasa santai, “(Tidak harus gratis kalau tidak saya bangkrut)”.

Berkenaan dengan percakapan dan perbincangan di atas dengan menggunakan ragam bahasa santai di Pasar Mare Kabupaten Bone, hal ini dikarenakan hubungan antara penutur dan lawan bicaranya sudah menjadi hubungan yang akrab, jika berbicara maka akan terpancar nilai keakraban. yang menjadikan keberagaman bahasa juga termasuk dalam pasar Mare, keberagaman bahasa biasa. Ragam bisnis adalah ragam bahasa yang cocok untuk diskusi dan pertemuan sekolah atau diskusi yang berorientasi pada produksi dan hasil. Ketika mereka menjual barangnya, mereka mengucapkan kata-kata yang berbeda untuk menampilkan bahasa yang berbeda guna menciptakan proses interaksi antara penjual dan pembeli.

Sulit untuk menghilangkan kebiasaan lama menggunakan kata-kata saat menawarkan barang, karena ini adalah ciri khas para pedagang di pasar Mare. Dari tradisi ini yang diwariskan secara turun temurun oleh para pedagang pasar, akan menjadi sosial budaya di Pasar Mare Kabupaten Bone. Faktor situasional mempengaruhi penggunaan bahasa, terutama ragam bahasa, misalnya pada saat situasi pasar sedang ramai, pedagang yang menjual produknya menggunakan kata-kata yang berulang-ulang dan suara yang keras agar pelanggan mengenali barang yang dijual.

Anak kecil biasanya lebih mudah berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dibandingkan dengan suku Bugis yang banyak ditemui di lingkungan pasar Mara. Penjual lansia memulai percakapan menggunakan bahasa Indonesia non-standar dengan kalimat. Keberagaman bahasa para pedagang di pasar Mare juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial, yaitu dilihat dari aspek ekonomi barang yang dijualnya, dan selain dari aspek ekonomi barang yang dijual, tempat penjualannya juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial. juga merupakan faktor sosial. dalam penelitian ini Pedagang di Pasar Mare yang menjual pakaian dan peralatan dapur mempunyai bahasa yang berbeda dengan pedagang yang menjual aksesoris dan kebutuhan pokok.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Saran

Konteks: Narasi peristiwa antara seorang pedagang bernama Wati dan seorang pembeli Andi Ida yang berinteraksi untuk menawarkan barangnya.

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana tingkat tutur pemakaian bahasa Jawa yang digunakan penjual dan pembeli oleh pedagang di pasar senin kamis (PSK) Pekalongan.. Apakah faktor penentu penggunaan ragam

Penelitian ini adalah sebuah penelitian yang membahas jenis ragam bahasa yang dipakai oleh tiga pedagang yang berada di pasar KMGD Tebuireng Jombang yakni pedagang

Berdasarkan rumusan masalah diuraikan hal-hal yang berakaitan dengan: (1) Bagaimanakah ragam bahasa yang digunakan Pedagang Pasar Oti Sindue Tobata, (2) Faktor

(3) Jenis tindak tutur ilokusi yaitu asertif, direktif, komisif dan ekspresif. Dalam komunikasi antara penjual dan pembeli di pasar Pemangkat Kabupaten Sambas tidak

Suhardi (dalam Kushartati, 2005:58) mengungkapkan bahwa, masyarakat yang bertemu dan hidup bersama menimbulkan adanya kontak bahasa, ciri yang menonjol yaitu

(3) Jenis tindak tutur ilokusi yaitu asertif, direktif, komisif dan ekspresif. Dalam komunikasi antara penjual dan pembeli di pasar Pemangkat Kabupaten Sambas tidak

Peneliti juga menemukan beberapa pengaruh tindak tutur ilokusi yang dituturkan pedagang pakaian jadi dewasa di Pasar Baru Dharmasraya terhadap calon pembeli yaitu

Dalam komunikasi tersebut terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan kata dari bahasa lain yang dilakukan oleh pembeli (O1). Pada kalimat berbahasa Jawa ragam ngoko