Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, buku pedoman pelaksanaan Laporan Pelaksanaan Pemerintahan Daerah (Reviu LPPD) ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyusunan LPPD diharapkan dapat dengan mudah diakses dan dimanfaatkan oleh semua pihak terkait, dengan fokus pada hasil yaitu sejauh mana kinerja organisasi bermanfaat bagi masyarakat dan mampu mengidentifikasi dan menghadirkan alternatif perbaikan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan kota di masa depan. Pada kesempatan yang baik ini, kami ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam penyelesaian penyusunan Pedoman Pelaksanaan Reviu LPPD.
READING
COPY
PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH
Urusan pemerintahan wajib yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dibagi atas urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Pembagian tugas pemerintahan rangkap antara pemerintah pusat dan daerah provinsi, serta daerah kabupaten/kota sebagaimana tersebut di atas didasarkan pada prinsip akuntabilitas, efisiensi dan eksternalitas, serta kepentingan strategis nasional.
Penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang kehutanan, kelautan, energi, dan sumber daya mineral dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kepala daerah wajib memberikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) kepada pemerintah dan memberikan Laporan Pernyataan Pertanggungjawaban (LKPJ) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang telah diaudit. Artinya, pemerintah daerah selain urusan dalam negerinya sendiri, juga mengurus urusan pemerintah pusat yang ditugaskan kepadanya.
Pengertian Kinerja Pemerintah Daerah
Tekanan visi daerah boleh berbeda, tetapi perbedaan itu harus tetap dalam lingkup pencapaian visi daerah yang tertuang dalam RPJPD. Keberhasilan kepala daerah dalam mencapai visi yang dijanjikan pada dasarnya dibangun di atas keberhasilan kepala SKPD. Berdasarkan hal tersebut, kita dapat mengukur kinerja kepala SKPD berdasarkan kontribusi kepala SKPD dalam mewujudkan visi kepala daerah.
Arti Penting Kinerja organisasi Pemerintah Daerah
Pentingnya kinerja Pemda bagi donatur 1) Sebagai bahan evaluasi, apa tujuan pemberian donasi, . seperti yang diharapkan. Dilihat dari objek pekerjaannya dan siapa yang bertanggung jawab, penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dibedakan menjadi:
Kinerja Kebijakan
Jadi, semakin banyak masalah, semakin banyak peraturan daerah yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Selain itu, untuk membuat peraturan daerah yang efektif dalam memecahkan masalah diperlukan kajian penelitian yang mendalam untuk mengidentifikasi akar masalah dan kemudian menyusunnya dalam bentuk naskah akademik. Sebagaimana diketahui, banyak pemerintah daerah yang menyusun peraturan daerah yang ternyata tidak efektif dalam artian tidak dapat menyelesaikan masalah.
Kinerja Program
Jika suatu kebijakan sudah benar, maka masalahnya tinggal bagaimana mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan benar, karena kebijakan yang benar dengan implementasi yang salah tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan menimbulkan masalah baru yang tidak kita duga sebelumnya. Jika kebijakan yang ditetapkan sudah benar, maka tanggung jawab beralih kepada pelaksana kebijakan.
Kinerja Kegiatan
Dalam lingkungan organisasi perangkat daerah, informasi kinerja menggambarkan tingkat pencapaian hasil organisasi perangkat daerah terkait dengan visi dan misi organisasi serta dampak positif dan negatif dari implementasi kebijakan perangkat daerah yang diterimanya. . Melalui informasi kinerja ini akan dimungkinkan untuk mengambil langkah dan tindakan yang diperlukan untuk suatu kebijakan, menyelaraskan berbagai program/kegiatan utama, bahan untuk penyusunan rencana, menemukan tingkat pencapaian misi hingga memutuskan tindakan yang diperlukan untuk perbaikan. kinerja masa depan. Bagi manajemen pemerintah daerah, informasi kinerja merupakan instrumen untuk menilai kemajuan yang telah dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Informasi Kinerja Ekonomi
Dalam organisasi unit bisnis, kinerja keuangan ditunjukkan dengan kemampuannya menghasilkan kas atau aset likuid, yang direpresentasikan dalam bentuk perolehan laba dari aktivitas unit bisnis. Profitabilitas diperlukan untuk menilai potensi sumber daya keuangan yang terkendali di masa depan. Informasi kinerja keuangan akan sangat berguna dalam memprediksi kapasitas unit bisnis untuk menghasilkan arus kas dari sumber daya yang tersedia.
Informasi Kinerja Manajemen
Ada beberapa dimensi yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi atau mengukur kinerja pemerintah daerah, yaitu:
Dimensi Keuangan
Dimensi Kepuasan Masyarakat Daerah
Keunggulan dalam penyelenggaraan pelayanan publik merupakan tolok ukur yang dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah daerah untuk menguji tingkat kepuasan masyarakat. Tingkat kepuasan masyarakat tentunya sangat bervariasi tergantung pada tingkat harapan terhadap pelayanan yang akan diberikan. Hasil survei akan memberikan informasi seberapa besar indeks kepuasan masyarakat (IKM) yang telah dicapai.
Dimensi operasi Kegiatan
Berdasarkan hal tersebut, menjadi tanggung jawab pimpinan unit organisasi di lingkungan pemerintah daerah untuk terus mencari informasi tentang tingkat pelayanan yang diharapkan masyarakat dan meresponnya dalam bentuk tindakan nyata. Berdasarkan informasi tentang tingkat pelayanan yang diharapkan tersebut kemudian disusun Standar Mutu Pelayanan (SPM) yang sekurang-kurangnya harus dikomunikasikan kepada masyarakat. Untuk menguji sejauh mana kepuasan masyarakat sesuai dengan kualitas pelayanan yang diberikan, perlu dilakukan survei kepuasan untuk setiap jenis pelayanan minimal satu tahun sekali.
Dimensi Kepuasan Para Pegawai
Melalui informasi kegiatan operasional, dapat diketahui berbagai kegiatan mana yang memberikan nilai tambah pada layanan dan kegiatan mana yang tidak memberikan nilai tambah pada produk/jasa.
Dimensi Kepuasan Para Pemangku Kepentingan
Atas dasar itu, variabel mana yang harus diperhatikan dalam pengukuran kinerja, disesuaikan dengan kebutuhan informasi kinerja pemangku kepentingan. Jika hal ini dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, maka pihak yang berkepentingan juga akan merasa puas, karena kebutuhan informasi yang diperlukan telah terjawab dengan baik oleh pemerintah daerah.
Dimensi Waktu
Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri sebagai unsur pengawasan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Dalam Negeri bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah yang menjadi kewenangannya. Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri adalah APIP (Alat Pengawasan Intern Pemerintah) di lingkungan Kementerian Dalam Negeri yang bertugas melakukan pembinaan dan pengawasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah provinsi. Selain tugas konsultatif formal yang dilakukan, Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri juga memberikan perangkat atau panduan kepada inspektorat provinsi/kabupaten/kota dalam melakukan kajian terhadap dokumen perencanaan.
BPKP
Peran APIP dalam penugasan konsultasi Peran lain yang dapat dilakukan APIP adalah dalam penugasan konsultasi. Pada saat menyiapkan rencana tahunan, fungsi audit internal harus menentukan anggaran tahunan yang dialokasikan untuk penugasan konsultasi. Ruang lingkup materi yang disepakati dalam konsultasi singkat adalah tata cara review dokumen perencanaan anggaran tahunan daerah yang meliputi RKPD, KUA, PPAS, RKA-SKPD.
LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (LPPD)
LPPD adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (PRKZH) yang disampaikan oleh kepala daerah kepada pemerintah pusat. Peraturan Pemerintah nomor 13 Tahun 2019 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah mengamanatkan pemerintah daerah untuk menyusun laporan pelaksanaan pemerintahan daerah untuk 1 (satu) tahun anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang disampaikan oleh kepala daerah pada pemerintah pusat. Penyusunan LPPD merupakan kewajiban pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2019 tentang Pelaporan dan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
REVIU LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (RLPPD)
Tahap Perencanaan Reviu
Perencanaan reviu LPPD diawali dengan masuknya kegiatan reviu LPPD dalam Annual Oversight Work Program (AWP). Siapkan surat tugas yang menjelaskan komposisi tim, tujuan review, lokasi dan jadwal waktu untuk melakukan review.
Tahap Pelaksanaan Reviu
Kajian LPPD dilakukan sesuai dengan PKR yang ditetapkan pada tahap perencanaan dan persiapan kajian LPPD. Pengamatan terhadap data pendukung dilakukan dengan cara memverifikasi dan memvalidasi sumber data, ketepatan perhitungan dan kebenaran yang meliputi IKK pada:. Hasil pelaksanaan review dituangkan dalam Kertas Kerja Review (KKR) dan direview secara bertahap oleh ketua tim dan pengawas/pengawas teknis.
Hasil review yang telah disetujui oleh tim review ditandatangani oleh masing-masing pimpinan SKPD kemudian dikirim ke tim penyusun LPPD untuk input data. Data pendukung yang belum disetujui dikembalikan ke SKPD untuk diperbaiki dan tim review mencatatnya di CHR.
Tahap Pelaporan Reviu
Data tidak memenuhi persyaratan data dasar jika tidak ada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, data tidak tersedia dari lembaga yang ditetapkan sebagai sumber data, metode dan teknik pengumpulan dan analisis data tidak dapat dijelaskan.
Tahapan pelaksanaan reviu diawali dengan penyusunan reviu berupa penyusunan Kertas Kerja Reviu (KKR), yang meliputi: Langkah Kerja Reviu (LKR), dan pelaksanaan langkah kerja reviu berupa verifikasi dan validasi data dasar pada elemen data dari setiap indikator kinerja utama. Setelah mempersiapkan review, langkah selanjutnya adalah melakukan review sesuai Program Kerja Review (PKR) berupa pengujian kesesuaian materi dan sistem LPPD serta verifikasi dan validasi mengenai sumber data, akurasi perhitungan dan kebenarannya, yang dapat diuraikan sebagai berikut. Langkah terakhir dalam merencanakan reviu adalah membuat Program Kerja Reviu (PKR) sebagai pedoman agar pelaksanaan reviu dapat lebih terarah.
Periksa isi IKK pada lampiran, apakah unsur data yang disajikan pada pembilang dan penyebut disertai dengan data yang sah dari ZPD penanggung jawab data. Apakah unsur data yang dimasukkan pada pembilang dan penyebut jumlah bukti pendukung sesuai dengan jumlah yang dimasukkan. Jika ditemukan pengisian elemen data yang tidak seimbang/tidak wajar, klarifikasi/konfirmasi kepada ZPD yang bertanggung jawab atas data tersebut.
Jika ada ketidaksesuaian pengisian elemen data dengan dokumentasi terlampir, klarifikasi/konfirmasi dengan OPD penanggung jawab data. 2. Periksa isi IKK pada lampiran, apakah unsur data yang disajikan pada pembilang dan penyebut sudah lengkap dengan data yang valid dari OPD penanggung jawab data. 3. Mencocokkan unsur data yang dimasukkan pada pembilang dan penyebut jumlah dokumen pendukung dengan jumlah yang dimasukkan.
6. Apabila ditemukan pengisian elemen data yang tidak seimbang/tidak wajar, lakukan klarifikasi/konfirmasi kepada OPD penanggung jawab data. 7. Jika ada ketidaksesuaian pengisian elemen data dengan dokumentasi terlampir, lakukan klarifikasi/verifikasi data kepada OPD. 4. Apabila ditemukan pengisian elemen data yang tidak seimbang/tidak wajar, lakukan klarifikasi/konfirmasi kepada OPD penanggung jawab data.
5. Apabila terdapat ketidaksesuaian pengisian elemen data dengan dokumen pendukung yang dilampirkan, mohon klarifikasi/konfirmasi kepada OPD penanggung jawab data.
Pelaksanaan langkah Kerja Reviu (lKR)
4 - 6 tahun Fotokopi daftar rinci jumlah anak usia 4-6 tahun yang ditandatangani oleh pejabat terkait (minimal sekitar) 2 Warga yang. Fotokopi daftar rinci penduduk berumur 15 tahun ke atas yang ditandatangani oleh pejabat terkait (minimal per kecamatan) 3 Angka Partisipasi. Fotokopi daftar rinci jumlah siswa usia 7-12 tahun yang ditandatangani oleh pejabat terkait (minimal kecamatan) 4 Tingkat partisipasi.
Fotokopi daftar rinci jumlah siswa usia 13-15 tahun yang ditandatangani oleh pejabat yang bersangkutan (minimal per kecamatan) 5 Angka Partisipasi. Fotokopi daftar rincian jumlah siswa usia 16-18 tahun yang ditandatangani oleh pejabat yang bersangkutan (minimal per kecamatan) 6 Hitungan Putus Sekolah. Fotokopi daftar rincian jumlah siswa pada jenjang tertinggi pada jenjang SD/MI pada tahun ajaran sebelumnya.
Fotokopi Daftar Rincian Jumlah Pencari Kerja yang diposkan pada tahun 20XX di Kabupaten/Kota Jumlah Pencari Kerja. Fotokopi daftar jumlah pencari kerja yang memfotokopi daftar tahun 20XX di kabupaten/kota 49 Peraturan Ketahanan. Fotokopi daftar detail luas tanah yang bersertifikat tahun 20XX setiap kabupaten/kota (milik pemerintah daerah).