REFLEKSI SINGKAT: KORUPSI BANSOS DARI TEORI POLITIK KARTEL
Kasus:
Pada 6 Desember 2020, KPK menetapkan Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara sebagai tersangka kasus dugaan suap bantuan sosial penanganan pandemi Covid-19 untuk
wilayah Jabodetabek tahun 2020. Total uang suap yang diterima oleh Juliari menurut KPK adalah sebesar Rp 17 miliar. Seluruh uang tersebut diduga digunakan oleh Juliari untuk keperluan pribadi. Juliari kemudian divonis 12 tahun penjara dan denda Rp 500 juta oleh majelis hakim
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
Kasus ini membuktikan sekali lagi bahwa di Indonesia jabatan publik masih dimanfaatkan sebagai sumber mengisi pundi-pundi ekonomi, dengan cara yang tidak selalu legal. Baik untuk pribadi maupun pihak-pihak dalam partai politik
(Selain Juliari, kasus korupsi bansos melibatkan nama lain dalam PDIP, yakni Akhmat Suyuti, Ketua DPC PDIP Kab. Kendal dan Ketua Komisi A DPRD Kendal,
Munawir).
1
REFLEKSI SINGKAT: KORUPSI BANSOS DARI TEORI POLITIK KARTEL
2
Pertanyaan menarik, mengapa tidak ada rute politik untuk menindaklanjuti kasus ini (seperti pansus di DPR)? Hal ini mungkin menunjukan solidaritas antar-anggota kartel sebagaimana ditunjukan Ambardi (semua punya “dosa” sehingga lebih baik
menjaga stabilitas politik, dan cukup hukum yang bekerja). Bahkan kursi Mensos tetap menjadi hak PDIP. Tetapi penjelasan lain bisa diambil dari Slater, yakni bahwa hal ini diakibatkan oleh kegagalan oposisi. Seperti diketahui, pasca pemilu 2019 Presiden Jokowi mendistribusikan kekuasaan dengan gaya resiprositas, yang merangkul semua partai asal mendukung pemerintahannya, termasuk partai yang menantangnya dalam pemilu. Kini hampir semua partai ada dalam 1 kubu.
Kasus korupsi bansos sebenarnya mirip dengan kasus-kasus yang dikutip Kuskridho Ambardi (terutama kasus Bank Bali) ketika menjelaskan politik kartel di Indonesia, dimana akses ke dana non-bujeter menjadi inti persoalan. Kali ini alur yang terjadi
adalah mensos melakukan penunjukan langsung rekanan dalam proyek pengadaan bansos dengan menerima fee. Sebenarnya, fee tersebut ialah transformasi dari dana non-bujeter.