• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

Konstruksi dan pengelolaan lingkungan adalah kegiatan pembangunan untuk merencanakan, melaksanakan, memulihkan, mengembangkan atau memelihara bangunan dan lingkungannya. MATERIAL BANGUNAN DAN RENCANA LINGKUNGAN Pasal 3. 1) Materi Rencana Tata Ruang dan Lingkungan yang terpenting adalah:

KETENTUAN UMUM

  • Maksud
  • Tujuan
  • Manfaat
  • Kedudukan Dokumen RTBL
  • Kawasan Perencanaan

Sebagai dokumen pedoman umum yang bersifat menyeluruh dan memiliki kepastian hukum mengenai perencanaan bangunan gedung dan lingkungan hidup pada suatu kawasan tertentu, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Sarana dan Aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan.

Diagram 1: Kedudukan RTBL dalam Pengendalian Bangunan Gedung dan Lingkungan
Diagram 1: Kedudukan RTBL dalam Pengendalian Bangunan Gedung dan Lingkungan

PROGRAM BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

  • Pengertian
  • Manfaat
  • Komponen-komponen Analisis
  • Prinsip-prinsip Analisis
  • Hasil Analisis
  • Prinsip Utama
  • Tahapan Perencanaan Partisipatif
  • Bentuk-bentuk Partisipasi Masyarakat
  • Proses Partisipasi Masyarakat
  • Komponen Dasar Perancangan
  • Kriteria Penyusunan Komponen Dasar Perancangan a. Kriteria Penetapan Isi dari Visi Pembangunan

Sebagai pemrakarsa program, pemerintah kota mengajukan proposal awal tentang kemungkinan penataan bangunan dan lingkungan setempat. Konsep Perancangan Struktur Bangunan Gedung dan Lingkungan, yaitu suatu gagasan dasar rancangan dalam skala makro, berdasarkan intervensi rancangan struktur bangunan dan lingkungan yang akan diwujudkan dalam kawasan rencana, terkait dengan tata ruang yang berintegrasi dengan lingkungan secara luas. masuk akal, dan melalui semua komponen desain di area yang ada untuk diintegrasikan.

RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANGAN

Komponen Rancangan

Penetapan peruntukan mengantisipasi rencana kegiatan interaksi sosial dengan tetap mengacu pada perencanaan fisik wilayah; iv) Penetapan kualitas ruang yang menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, sehat dan menarik, berwawasan ekologis dan tanggap terhadap tuntutan ekonomi dan sosial. Penetapan persentase pembagian jenis penggunaan lahan mikro yang akan dikelola dan dikuasai oleh pemerintah daerah, meliputi ruang terbuka hijau, kawasan milik jalan (Damija), dan fasilitas umum. i) daya dukung dan karakter kawasan; a) Estetika, karakter dan citra daerah. i) Menetapkan kontrol peruntukan yang mendukung karakter pembeda suatu kawasan yang telah ada atau yang akan didirikan; ii) Penetapan pengaruh dari ideologi, nilai-nilai sosial budaya lokal, misalnya bangunan masjid dengan peruntukan fasilitas umum berorientasi pada pusat lingkungan/kawasan. -asas-asas pengendalian manajemen gedung:. i) Penetapan desain petak/blok lingkungan yang paling optimal dan efisien secara spesifik dan khas, terkait dengan pemenuhan aspek fungsional, visual dan kualitas lingkungan; ii) Penentuan dan penggambaran berbagai bentuk dan ukuran blok, plot, dan sebagian besar bangunan. sesuai di berbagai sub-wilayah dengan tetap mengupayakan keseimbangan, keterkaitan dan integrasi di antara mereka.

Penentuan desain yang memenuhi kenyamanan pengguna dan pejalan kaki, kenyamanan sirkulasi udara dan sinar matahari, serta klimatologi. i) Penetapan pedoman ekspresi arsitektural yang memperkaya dan mengembangkan arsitektur Indonesia; ii) Penciptaan ruang wilayah/lingkungan yang bermakna dan terkait dengan identitas lokal, bersifat non-figuratif, dan berkorelasi dengan perilaku/budaya budaya, nilai sejarah dan kehidupan khas lokal; iii) Menentukan langgam/pedoman gaya arsitektur yang mengacu pada kontekstualitas. lingkungan, terutama yang sudah memiliki gaya tertentu atau bahkan di area yang sedang dipugar; iv) Penetapan pedoman insentif bagi bangunan yang menerapkan karakteristik bentuk bangunan tertentu yang secara khusus memiliki nilai tambah tertentu, misalnya bangunan dengan konsep arsitektur hijau dan arsitektur tradisional. lingkungan hidup, yaitu: Penciptaan karakter lingkungan yang tanggap dan merupakan bagian integral dari karakter lingkungan hidup yang ada. lingkungan, yaitu: Penetapan kepadatan rumpun bangunan/kavling/blok di kawasan rencana yang memperhatikan daya dukung lingkungan, namun dapat meningkatkan karakter kawasan. i) Menentukan ukuran komponen tata letak bangunan tertentu (misalnya konfigurasi petak dan orientasi bangunan) yang merespon topografi dengan menentukan kepadatan minimum dan ukuran petak yang dapat ditampung, serta meminimalkan perubahan ekstrim (cut-fill ); ii) Membatasi luasan kawasan hijau khusus; iii) Pembatasan yang menanggapi masalah topografi dan kelestarian lingkungan dengan meminimalkan penyebaran area terbangun dan trotoar serta memodifikasi pengaturan kontur yang ada. Rencana sistem sirkulasi yang jelas dan mudah dipahami mengenai sistem interkoneksi antara jaringan jalan utama, jalan sekunder dan jalan lokal menurut kelas/hierarki jalan. i) Meningkatkan keterkaitan antara sistem sirkulasi di kawasan rencana dengan sistem sirkulasi di kawasan sekitarnya; ii) Terciptanya sistem peredaran darah yang semudah mungkin diakses oleh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan lanjut usia (difabel), memperkaya karakter dan integrasi sosial penggunanya; iii) Lebih banyak koneksi dan pemisahan yang jelas antara berbagai moda transportasi (pejalan kaki, sepeda, angkutan umum, kendaraan pribadi dan dinas); iv) Perbaikan sistem koneksi yang lebih berorientasi pada pejalan kaki. i) Perencanaan kawasan yang memadukan sirkulasi eksternal dan internal dari/ke/dalam kawasan/blok atau subblok; ii) Menciptakan kawasan yang memenuhi kebutuhan semua orang, termasuk penyandang disabilitas. a) Dimensi sirkulasi dan standar aksesibilitas. Pengadaan elemen pendukung kegiatan seperti street furniture berupa lampu penerangan, pemilihan material paving, dll. i) Meningkatkan nilai tanah dan kapasitas tanah dengan meningkatkan tingkat akses ke dan di dalam kawasan; ii) Meningkatkan hubungan fungsional antara berbagai jenis subdivisi di kawasan; iii) Meningkatkan penyesuaian desain/pengembangan sesuai karakteristik lokal.

Pembagian tipe ruang terbuka yang berbeda sesuai dengan tipologi kebutuhan fungsi/. definisi, sirkulasi dan elemen desain lainnya. i) Terciptanya integrasi spasial sosial untuk semua pengguna (termasuk penyandang disabilitas dan lanjut usia) di berbagai ruang terbuka regional yang ada; ii) Penciptaan ruang publik yang dapat diakses publik secara terbuka (sejauh mungkin) untuk memperkaya karakter dan integrasi sosial pengguna ruang kota. i) Penciptaan ruang yang dapat menyesuaikan dan mengadopsi berbagai kegiatan interaksi sosial terencana, dan tetap mengacu pada ketentuan rencana tata ruang wilayah; ii) Menentukan kualitas ruang yang menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, sehat dan menarik, serta pengetahuan ekologi. Menentukan kualitas ruang melalui penyediaan lingkungan yang aman, nyaman, sehat dan menarik, serta kesadaran ekologis. g) Skala dan dimensi bentukan ruang. Penentuan infrastruktur dan sistem pelayanan yang tepat sesuai dengan jenis peraturan lingkungan yang ditetapkan di wilayah perencanaan.

Ketentuan Dasar Implementasi Rancangan

Pedoman Perancangan merupakan penjelasan lebih rinci dari Rencana Umum yang telah ditetapkan sebelumnya berupa penjabaran materi pokok melalui pengembangan komponen rancangan kawasan untuk bangunan, kelompok bangunan, unsur prasarana kawasan, kavling dan blok, termasuk pedoman ketentuan visual yang rinci. untuk kualitas minimum tata letak bangunan dan lingkungan. Memberikan arahan secara ringkas dan sistematis untuk pelaksanaan ketentuan dasar dan ketentuan rinci dari desain setiap bangunan, kavling, subblok dan blok pengembangan dalam dimensi yang terukur. Memberikan gambaran simulasi bangunan spasial (3 dimensi) sebagai model implementasi semua rencana tata letak bangunan dan lingkungan di setiap tapak, sub-blok dan blok.

Memfasilitasi pengembangan desain untuk setiap petak/sub blok sesuai dengan visi dan arah karakter lingkungan yang telah ditentukan. Mempermudah pengelolaan dan pengendalian kawasan sesuai dengan visi dan arah karakter lingkungan yang telah ditetapkan. Tercapainya intervensi desain kawasan yang berdampak positif, terarah dan terukur terhadap kawasan yang direncanakan.

Prinsip-prinsip Pengembangan Rancangan

Merujuk pada peraturan perundang-undangan: penetapan pedoman rinci yang selalu mengacu pada peraturan tata ruang dan bangunan yang berlaku. Yaitu peraturan yang disusun menurut peraturan tata kota dan bangunan daerah atau peraturan khusus pembangunan daerah yang bersifat mengikat sesuai dengan Visi Pembangunan yang ditetapkan. Kewenangan pelaksanaan Peraturan Wajib ini sebagian dapat dilaksanakan pada tingkat tertinggi yaitu Gubernur/Walikota/Bupati sebagai kepala daerah, sedangkan sebagian lainnya dapat dilaksanakan pada tingkat kepala dinas teknis setempat. . melayani. a) Semua aturan harus diikuti, dengan otoritas. pelaksanaan pada tingkat tertinggi seperti Gubernur/Walikota/Bupati adalah: ii) Luas Tanah dan Batas Tanah; iii) Koefisien Dasar Bangunan (KDB);. iv) Koefisien lantai bangunan (KLB);.

Oleh karena itu, ragam aturan dalam aturan pelengkap dapat bervariasi tergantung pada kebutuhan spesifik daerah, misalnya: Aturan ini disusun berdasarkan prinsip umum perjanjian bangunan dan teknik lingkungan dengan tujuan untuk menciptakan desain kawasan dengan indikasi untuk penampilan bangunan berkualitas tinggi dan lingkungan. Aturan-aturan ini bersifat mengikat dan dianjurkan untuk dipatuhi. Kewenangan pelaksanaan Aturan Rekomendasi Induk dapat dilakukan pada tingkat Kepala dinas teknis setempat.

Ini adalah aturan-aturan yang disusun berdasarkan kesepakatan desain yang disesuaikan dengan visi kawasan dan stakeholder terkait sehingga bersifat mengikat dan direkomendasikan untuk dipatuhi atau dipatuhi. a) Kualitas lingkungan, termasuk fungsi organisasi,. kaitannya dengan fungsi, sirkulasi pejalan kaki mikro dan sirkulasi moda transportasi.

RENCANA INVESTASI

Bentuk kerjasama operasi (KSO) mengenai pola investasi dapat berupa: Build, Operate and Transfer (BOT), Build Own, Operate and Transfer (BOOT) dan Build Own and Operate (BOO). Pada prinsipnya kerjasama operasional model ini dapat dilaksanakan oleh 3 (tiga) pihak yaitu pemerintah, swasta dan/atau masyarakat (penduduk kawasan). Durasi kontrak harus cukup untuk melunasi hutang dan memberi investor pengembalian yang disesuaikan dengan risiko.

Penjaminan kolaboratif terkait dengan minimalisasi risiko pembangunan, risiko pembangunan lingkungan, risiko kredit pembiayaan, risiko operasional, risiko politik dan risiko akibat kondisi pasar, serta memperhitungkan bantuan negara. Kontrak harus dengan jelas menyebutkan bagaimana proses pengalihan harta itu berlangsung dan keharusan pihak swasta menyiapkan fasilitas yang akan diserahkan.

KETENTUAN PENGENDALIAN RENCANA

Penetapan persyaratan teknis untuk setiap aspek (fisik, sosial dan ekonomi), perencanaan pelaksanaan dan pengawasan di lapangan.

PEDOMAN PENGENDALIAN PELAKSANAAN

  • Aspek-aspek Pengendalian
  • Kriteria dan Pertimbangan Pengendalian
  • Tujuan Pengelolaan Kawasan
  • Lingkup Pengelolaan
  • Aset Properti yang Dikelola
  • Pelaku Pengelolaan
  • Aspek-aspek Pengelolaan
  • Sistematika Pedoman Pengelolaan

Pedoman Pengelolaan Kawasan merupakan perangkat pengelolaan yang memuat kewajiban, hak, wewenang, kelembagaan, dan mekanisme untuk mengendalikan dan mengatur keinginan berbagai pihak yang berkepentingan, secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Pengelolaan tapak meliputi kegiatan pemeliharaan terhadap investasi fisik yang dibangun beserta segala aspek non fisik yang terkandung di dalamnya, kegiatan penjaminan, pengelolaan operasional, eksploitasi, rehabilitasi/renovasi dan pelayanan aset properti lingkungan/lokasi. Jenis aset properti yang dikelola dapat berupa aset sumber daya alam, bangunan fisik, tanah, lansekap dan tata ruang hijau, aset cagar budaya dan sejarah serta infrastruktur kawasan, baik yang merupakan aset bersama dengan kepemilikan publik lokal, atau milik pribadi. aset yang akan dikuasai dan dimanfaatkan.pengembangan sesuai dengan RTBL yang telah disepakati.

Kewenangan pelaksanaan pengelolaan kawasan dilakukan oleh Pihak Pengelola Kawasan yang anggota dan programnya disusun berdasarkan kesepakatan antara masyarakat (pemilik tanah/bangunan), swasta (pengembang/investor/penyewa), pemerintah daerah dan pelaku pembangunan lainnya , juga di luar area pengguna/pengguna/penyewa. Dalam kasus pengelolaan dengan kompleksitas tinggi, pengelola diperbolehkan untuk mendelegasikan atau mengalihdayakannya secara profesional kepada lembaga/pihak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Semua kavling di lingkungan binaan yang dibangun harus dapat digunakan, dikelola dan dipelihara sesuai dengan ketentuan pedoman pengelolaan kawasan.

Pertimbangan lain seperti usia bangunan atau aset properti dan risiko investasi harus diperhitungkan pada tahap desain lokasi.

PEMBINAAN PELAKSANAAN

Mengidentifikasi kemungkinan lokasi dan menetapkan garis lingkungan pada kawasan strategis nasional dan kawasan prioritas nasional yang memerlukan penyusunan RTBL; Memberikan saran teknis penyusunan RTBL yang disusun oleh dan berdasarkan permintaan dari pemerintah provinsi/kabupaten/kota, masyarakat dan/atau dunia usaha; Memfasilitasi pelaksanaan public hearing dan memberikan rekomendasi tim ahli konstruksi dalam proses penyusunan RTBL di kawasan strategis nasional dan kawasan prioritas nasional;

Melaksanakan kegiatan pembangunan fisik sesuai dengan dokumen RTBL yang menjadi kewenangan pemerintah secara terpadu lintas sektor, baik yang dilakukan oleh pemerintah sendiri maupun melalui pelaksanaan tugas pembantuan; fasilitasi pengembangan lembaga khusus yang bertanggung jawab untuk mensosialisasikan, mendorong, melaksanakan dan mengendalikan pelaksanaan RTBL, serta dalam pengelolaan lingkungan di kawasan strategis nasional dan kawasan prioritas nasional; Dan. Melakukan pengawasan teknis dalam penetapan lokasi pengelolaan lingkungan/lahan, penyusunan RTBL, penetapan peraturan gubernur/bupati/walikota, pelaksanaan dan pemanfaatan pembangunan, pengelolaan kawasan dan peninjauan RTBL.

KETENTUAN PENUTUP

Demikian laporan ini disusun dengan penuh tanggung jawab agar rancangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum ini dapat diproses lebih lanjut berdasarkan kesimpulan yang telah disepakati.

Gambar

Diagram 1: Kedudukan RTBL dalam Pengendalian Bangunan Gedung dan Lingkungan
Diagram 2: Struktur dan Sistematika Dokumen RTBL

Referensi

Dokumen terkait

 Khairy urges Selangor to buck up, use supply Tuesday, 29 Jun 2021 NATION --:-- AD TANJONG KARANG: With over 300,000 doses of the Covid-19 vaccine yet to be dispensed, Selangor