Resume Materi Ujian Komprehensif Pendidikan Agama islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN IB Padang – 2024
Oleh : Sarifatul Aini (2014010138)
1. Dasar-dasar Kependidikan
a. Pengertian Pendidikan dan komponennya 1) Pengertian Pendidikan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik”, dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran
“kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini awalnya berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode metode tertentu, sehingga orang memeroleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pengertian yang luas, pendidikan ialah seluruh tahapan pengembangan kemampuan dan perilaku-perilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan.
2) Komponennya:
a) Peserta didik
Peserta didik memiliki status sebagai subjek yakni didik.
b) Orang yang membimbing atau Pendidik
Pendidik merupakan seseorang yang memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran utamanya yaitu peserta didik.
c) Interaksi antar peserta didik dengan pendidik atau Interaksi edukatif
Interaksi edukatif merupakan sebuah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan para pendidiknya secara terarah terhadap tujuan pendidikan.
d) Materi atau Isi Pendidikan
Pada sistem pendidikan sekolah materi diramu ke dalam kurikulum yang akan di sajikan sebagai sebuah sarana pencapaian tujuan. Materi tersebut mencakup materi inti maupun muatan lokal.
e) Konteks yang membawa dampak terhadap pendidikan
Konteks yang membawa dampak terhadap pendidikan ini mencakup:
– Alat dan metode pendidikan adalah dua sisi dari satu mata uang. Alat dan metode tersebut diartikan sebagai segala sesuatu yang dilaksanakan maupun di tiadakan secara sengaja guna mencapai tujuan pendidikan.
– Tempat peristiwa bimbingan terjadi atau lingkungan pendidikan.
b. Aliran Pendidikan (Empirisme, nativisme, naturalism, konvergensi, konstruktivisme) 1) Nativisme (teori yang berorentasi pada biologis)
Aliran nativisme berasal dari kata natus (lahir); nativis (pembawaan) yang ajarannya memandang manusia (anak munusia) sejak lahir telah membawa sesuatu kekuatan yang disebut potensi (dasar). Aliran nativisme ini, bertolak dari leibnitzion tradition yang menekankan kemampuan dalam dari anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak dalam proses pembelajaran. dengan kata lain, bahwa aliran nativisme berpandangan segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu itu semata- mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan, misalnya: kalau ayahnya pintar, maka kemungkinan besar anaknya juga pintar.
Para penganut aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan.
yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri.
Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkmbangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa jika anak memiliki pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya apabila mempunyai pembawaan baik, maka dia menjadi orang yang baik. Pembawaan buruk dan pembawaan baik ini tidak dapat diubah dari kekuatan luar.
2) Empirisme (teori lingkungan)
Aliran empirisme bertentangan dengan paham aliran nativisme, empirisme (empiri:
pengalaman), yang mengakui adanya pembawaan atau potensinya di bawah lahir manusia.
Dengan kata lain, bahwa anak manusia itu lahir dalam keadaan suci dalam pengertian anak bersih tidak membawa apa-apa. Karena itu, aliran ini berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik besar pengaruhnya pada faktor lingkungan.
Dalam teori belajar belajar mengajar, maka aliran empirisme bertolak dari locked tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.
3) Naturalism
Aliran naturalism mempunyai kesamaan dengan aliran nativisme. Pada aliran naturalism mengganggap bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaannya sendiri- sendiri baik minat, kemampuan, sifat, tingkah laku, watak dan lain-lain, yang semua itu akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami. Aliran naturalisme ini merupakan teori yang menerima nature (alam) sebagai realitas. Nature dalam filsafat mempunyai arti dunia fisik yang dilihat oleh manusia, atau sistem total dari fenomina ruang dan waktu.
Naturalism menurut Jean Jaquest Rousseau adalah semua anak manusia adalah baik pada waktu dilahirkan yaitu sejak dari tangan sang pencipta tetapi akhirnya rusak sewaktu ditangan manusia.
4) Konvergensi
Dari kata konvergen, artinya bersifat menuju satu titik pertemuan. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat, keturunan) maupun lingkungan, kedua- duanya memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan atau disposisi telah ada pada masing-masing individu, yang kemudian karena pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan untuk perkembangannya, maka kemungkinan itu lalu menjadi kenyataaan. Akan tetapi, bakat saja tanpa pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan tersebut, tidak cukup yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan tersebut, tidak cukup misalnya tiap anak manusia yang normal mempunyai bakal untuk berdiri di atas kedua kakinya, akan tetapi bakat sebagai kemungkinan ini tidak akan menjadi kenyataan, jika anak tersebut tidak hidup dalam lingkungan masyarakt manusia.
5) Konstruktivisme
Di dalam teori konstruktivisme, pembelajaran bukanlah sebuah proses mentransfer ilmu, tapi perlu dibangun atau constructed sendiri oleh peserta didiknya. Dengan begitu, pusat pembelajaran harus bisa dilakukan secara mandiri oleh para peserta didik. Guru ataupun pendidik yang ada di dalam teori konstruktivisme hanya berperan sebagai fasilitator saja
c. Inovasi Pendidikan (pengertian, pentingnya, aspek) 1) Pengertian
Inovasi secara etimologis berasal dari bahasa Latin innovation. Ini berarti pembaruan atau perubahan. Kata kerja innovo berarti memperbarui dan mengubah. Inovasi adalah perubahan baru
untuk perbaikan, berbeda dari perubahan sebelumnya, atau perubahan sebelumnya yang disengaja, dan direncanakan.
Inovasi pendidikan adalah ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan
2) Pentingnya
Inovasi pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan dan memenuhi kebutuhan dunia modern. Berikut adalah beberapa alasan mengapa inovasi pendidikan sangat penting:
a) Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Inovasi dapat membawa perubahan positif dalam metode pengajaran dan pembelajaran, membantu menciptakan lingkungan yang lebih
interaktif, menarik, dan efektif. Penggunaan teknologi, metode pembelajaran berbasis proyek, dan strategi pengajaran yang inovatif dapat meningkatkan pemahaman siswa.
b) Persiapan untuk Dunia Kerja: Dengan perubahan cepat dalam dunia kerja dan munculnya pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan yang berbeda, inovasi pendidikan
memainkan peran penting dalam mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan ini.
Pembelajaran berorientasi pada keterampilan, pengembangan kemampuan kreatif, pemecahan masalah, dan kritis sangat penting.
c) Keterlibatan Siswa: Inovasi dalam pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dengan menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan relevan. Metode pengajaran yang dinamis dan interaktif dapat membantu meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran, sehingga meningkatkan retensi pengetahuan.
d) Kemajuan Teknologi dan Perubahan Sosial: Inovasi pendidikan sangat diperlukan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Pendidikan yang inovatif dapat membantu menciptakan kurikulum yang relevan, mengintegrasikan teknologi canggih dalam proses pembelajaran, dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi realitas yang terus berubah.
e) Peningkatan Akses Pendidikan: Inovasi juga dapat membantu meningkatkan aksesibilitas pendidikan. Penggunaan teknologi seperti pembelajaran daring dapat memberikan akses pendidikan kepada orang-orang yang mungkin terbatas oleh jarak, keterbatasan fisik, atau keterbatasan sumber daya.
f) Peningkatan Efisiensi Sistem Pendidikan: Inovasi dapat membantu meningkatkan efisiensi sistem pendidikan dengan memanfaatkan teknologi untuk pengelolaan data, evaluasi, dan pengukuran kinerja. Ini dapat membantu pihak terkait mengambil keputusan yang lebih baik untuk perbaikan sistem secara keseluruhan.
g) Mengembangkan Kreativitas dan Inovasi Siswa: Pendidikan yang inovatif mendorong siswa untuk menjadi kreatif, berpikir kritis, dan memiliki inisiatif. Ini penting untuk menghasilkan individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan untuk beradaptasi dan berinovasi dalam berbagai konteks.
Dengan menerapkan inovasi dalam pendidikan, kita dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang relevan, dinamis, dan siap menghadapi perubahan yang terus-menerus dalam masyarakat dan dunia kerja.
3) Aspek
Inovasi pendidikan melibatkan berbagai aspek yang mencakup perubahan dalam metode pengajaran, kurikulum, teknologi, manajemen pendidikan, dan banyak lagi.
a) Metode Pengajaran dan Pembelajaran:
Pendekatan Berbasis Proyek: Memberikan siswa proyek atau tugas nyata yang memungkinkan mereka menerapkan pengetahuan dalam konteks praktis.
Pembelajaran Kolaboratif: Mendorong kerja kelompok dan kolaborasi antara siswa untuk mempromosikan keterlibatan dan pemahaman yang lebih baik.
Pembelajaran Berbasis Keterampilan: Fokus pada pengembangan keterampilan kritis seperti pemecahan masalah, berpikir kreatif, komunikasi, dan kerjasama.
b) Teknologi dalam Pendidikan:
Pembelajaran Daring (E-Learning): Memanfaatkan platform online untuk memberikan pembelajaran yang fleksibel dan dapat diakses dari mana saja.
Pemanfaatan Aplikasi Pendidikan: Menggunakan aplikasi mobile atau perangkat lunak edukatif untuk meningkatkan interaksi dan keterlibatan siswa.
Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR): Memanfaatkan teknologi ini untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang immersif.
c) Kurikulum yang Relevan:
Pembelajaran Berbasis Hasil: Fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran yang konkret dan terukur.
Inklusi Materi Baru: Menambahkan materi pembelajaran yang mencakup tren terkini, perkembangan ilmiah, dan isu-isu global.
Pendidikan Multidisiplin: Menyatukan berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang holistik.
d) Evaluasi dan Pemantauan:
Pemantauan Kinerja Berkelanjutan: Menggunakan data dan analisis untuk memantau kemajuan siswa dan menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan.
Evaluasi Formatif: Memberikan umpan balik secara terus-menerus selama proses pembelajaran untuk membantu perbaikan segera.
e) Manajemen Pendidikan:
Kepemimpinan Inovatif: Pemimpin pendidikan yang mendukung inovasi, memfasilitasi perubahan, dan memberikan dukungan bagi pendidik.
Manajemen Rantai Pasokan Pendidikan: Menerapkan praktik manajemen untuk memastikan sumber daya, proses, dan data dikelola dengan efisien.
f) Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat:
Komunikasi Terbuka: Membangun saluran komunikasi yang terbuka antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Partisipasi Orang Tua dalam Pembelajaran: Mendorong keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran dan perkembangan anak.
g) Keseimbangan Keterampilan Tradisional dan Kontemporer:
Pembelajaran Keterampilan Abad ke-21: Fokus pada pengembangan keterampilan seperti literasi digital, keterampilan komunikasi, kritis, dan kolaboratif.
Mempertahankan Nilai-nilai Tradisional: Menyelaraskan inovasi dengan nilai-nilai etika, moral, dan budaya yang dihormati dalam masyarakat.
Inovasi pendidikan melibatkan pendekatan holistik yang memperhitungkan berbagai aspek untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang relevan, efektif, dan adaptif.
2. Ilmu Pendidikan Islam
a. Konsep dasar Pendidikan Islam 1) Al-qur’an
2) Hadis
b. Pendidik dalam pendidikan Islam (syarat. Tanggung jawab) 1) Syarat pendidik dalam islam
Adapun syarat-syarat pendidik atau guru yang utama dalam pendidikan Islam adalah : a) Muslim / muslimah
b) Berakhlakul karimah c) Sehat jasmani dan rohani
d) Mampu atau kompeten, baik penguasaan materi maupun metode e) Peduli terhadap murid dan lingkungan
f) Memiliki sikap terbuka terhadap ijtihad, dan lain-lain.
2) Tanggaung jawab pendidik dalam islam
c. Peserta didik (hakikat, kebutuhan, pertumbuhan, perkembangan) 1) Hakikat peserta didik
a) Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang b) Peserta didik adalah bertanggung atas pendidikan nya sendiri c) Peserta didik adalah pribadi yang memiliki potensi
d) Peserta didik memerlukan pembinaan yang individual dan melakukan yang manusiaw e) Peserta didik pada dasarnya merupakan insane yang aktif menghadapi lingkungan.
2) Kebutuhan peserta didik a) Kebutuhan jasmani
b) Kebutuhan akan rasa aman c) Kebutuhan akan kasih sayang
d) Kebutuhan akan penghargaan dan Harga Diri e) Kebutuhan Aktualisasi Diri
3) Pertumbuhan pesrta didik
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi- fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam perjalanan waktu tertentu.
Pertumbuhan adalah peningkatan fisik pada tubuh peserta didik seperti ketinggian, berat badan, dan ukuran kepala. Pertumbuhan biasanya diukur dengan menggunakan grafik pertumbuhan yang menunjukkan perbandingan antara tinggi dan berat badan peserta didik dengan usia mereka.
4) Perkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didik dalam konteks pendidikan sangat penting diperhatikan karena akan mempengaruhi efektivitas pembelajaran dan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Perkembangan peserta didik dalam pembelajaran mencakup kemampuan untuk memahami, mengingat, mengolah, dan menggunakan informasi yang diterima dalam pembelajaran.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan peserta didik dalam konteks pendidikan antara lain:
a) Pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan.
Penting untuk memahami tahap-tahap perkembangan peserta didik dan menyediakan pembelajaran yang sesuai dengan tahap tersebut agar peserta didik dapat mengembangkan potensi secara maksimal.
b) Pengembangan keterampilan social
Peserta didik perlu dibekali keterampilan sosial seperti bekerjasama, berkomunikasi, dan mengelola konflik. Keterampilan sosial ini penting untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial di masyarakat.
c) Pengembangan kreativitas dan inovasi
Penting untuk memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran agar mereka dapat menjadi individu yang kreatif dan berinovasi.
d) Pengembangan karakter dan moral
Selain pengembangan intelektual, penting juga untuk membentuk karakter dan moral peserta didik agar mereka menjadi individu yang berkarakter dan beretika dalam kehidupan.
e) Pendekatan yang holistic
Dalam mengoptimalkan perkembangan peserta didik, perlu menggunakan pendekatan yang holistik yang memperhatikan aspek fisik, sosial, emosional, dan intelektual peserta didik.
f) Peran aktif orang tua
Orang tua memiliki peran penting dalam perkembangan peserta didik, oleh karena itu perlu melibatkan orang tua dalam proses pendidikan dan memberikan informasi yang cukup mengenai perkembangan peserta didik.
3. Profesi Keguruan
a. Profesi, Profesional, Profesionalisme, Profesionalitas, Profesionalisasi Perbedaan antara semua istilah tersebut, sebagai berikut:
1) Profesi:
Suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para anggotanya 2) Profesional:
Menunjukan penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya dan menunjuk pada orang itu sendiri.
3) Profesionalisme:
Menunjuk pada (a)derajat penampilan seseorang sebagai personal tinggi, rendah, sedang, (b)sikap komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan standar yang paling ideal dari kode profesinya
4) Profesionalisasi:
Menunjuk seseorang sebagai profesional. pada proses menjadikan seseorang profesional 5) Profesionalitas menunjuk pada kualitas atau sikap pribadi individu terhadap suatu pekerjaan
Secara terminologi, profesi dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental.
Ada tiga pilar pokok yang ditunjukkan untuk suatu profesi, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik
b. Kompetensi Guru (Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Profesional) 1) Pedagogik
Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangandan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didikuntuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2) Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
3) Social
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul
secaraefektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
4) Professional
Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas danmendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di
sekolahdansubstansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur danmetodologi keilmuannya
c. Kode etik Guru
Kode etik bisa dimaknai sebagi suatu bentuk aturan tertulis yang secara sistematis dibuat berdasarkan prinsip-prinsip etika dan moral yang berlaku dapat digunakan sebagai alat untuk memutuskan tindakan, perbuatan, atau perkataan yang dianggap menyimpang dari ketentuan.
1) Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila
2) Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional
3) Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan
4) Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
5) Guru memelihara hubungan baik dengan orangtua siswa dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan
6) Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7) Guru memelihara hubungan seprofesi,semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial.
8) Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdiannya.
9) Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan 4. Micro Teaching
a. Pengertian
Secara etimologis, micro teaching berasal dari dua kata yaitu micro berarti kecil, terbatas, sempit dan teaching berarti pembelajaran. Secara terminologis, micro teaching didefinisikan dengan redaksi yang berbeda-beda, namun memiliki subtansi makna yang sama. Pada intinya micro teaching berarti suatu metode latihan yang dirancang sedemikian rupa untuk memperbaiki keterampilan mengajar calon guru dan atau mengembangkan pengalaman profesional guru khususnya keterampilan mengajar dengan cara menyederhanakan atau memperkecil aspek pembelajaran seperti jumlah murid, waktu, fokus bahan ajar dan membatasi penerapan keterampilan mengajar tertentu, sehingga dapat diidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan pada diri guru/calon guru secara akurat.
b. Karakteristik Micro Teaching
Pembelajaran mikro berlangsung dalam bentuk sesungguhnya, hanya saja diselenggarakan dalam bentuk mikro (kecil) dengan karakteristik sebagai berikut:
1) Jumlah siswa berkisar antara 5 – 10 orang 2) Waktu mengajar terbatas sekitar 10-15 menit 3) Latihan terpusat pada keterampilan dasar mengajar.
4) Menampilkan hanya 1 atau 2 keterampilan dasar mengajar, yang merupakan bagian dari keterampilan mengajar yang kompleks.
5) Membatasi fokus atau ruang lingkup materi pelajaran sesuai dengan ketersediaan waktu.
6) Ditinjau dari praktikan, calon guru/pendidik akan belajar bagaimana melakukan pembelajaran, sedangkan teman yang jadi siswa akan dapat mengamati bagaimana gaya mengajar temannya serta dapat menilai tepat dan tidaknya keterampilan dasar pembelajaran yang dilakukan, seperti penggunaan metode dan strategi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penilaian, dst.
7) Pembelajaran mikro adalah pembelajaran yang sebenarnya. Praktikan harus membuat rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, mengelola kelas dan menyiapkan perangkat pembelajaran lainnya yang dapat mendukung proses peembelajaran.
8) Pembelajaran mikro bukanlah simulasi. Karena itu, teman sejawat, tidak diperlakukan sebagaimana siswa didik akan tetapi mereka tetap menjadi teman yang sebenarnya dengan kedudukan sebagai siswa. Hal ini untuk menghindari perilaku teman sejawat yang dibuat-buat yang mengakibatkan tidak terkondisinya proses pembelajaran antar teman sejawat.
9) Pembelajaran diharapkan dapat direkam sehingga hasil rekaman tersebut dapat dijadikan bahan diskusi antar guru/calon guru untuk dikoreksi dan diberikan masukan (feedback) guna perbaikan atas kekurangan praktikan.
c. Tujuan Micro Teaching Tujuan Umum
Menurut Rostiyah, tujuan micro teaching adalah untuk mempersiapkan calon guru menghadapi pekerjaan mengajar sepenuhnya di muka kelas dengan memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai guru profesional.
1) Bagi siswa calon guru
a) Memberikan pengalaman belajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar mengajar secara terpisah.
b) Calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya sebelum mereka terjun ke kelas yang sebenarnya.
c) Memberikan kemungkinan bagi calon guru untuk menguasai beberapa keterampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana keterampilan itu diterapkan, sehingga calon guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
2) Bagi guru
a) Memberikan penyegaran dalam program pendidikan
b) Guru mendapatkan pengalaman belajar mengajar yang bersifat individual demi perkembangan profesinya.
c) Mengembangkan sikap terbuka bagi guru terhadap pembaharuan yang berlangsung di pranata pendidikan.
Tujuan Khusus
Secara khusus micro teaching memiliki tujuan agar:
1) Calon guru mampu menganalisis tingkah laku pembelajaran kawannya dan dirinya sendiri.
2) Calon guru mampu melaksanakan berbagai jenis keterampilan dalam proses pembelajaran.
3) Calon guru mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, produktif, dan efisien.
4) Calon guru mampu bertindak profesional.
d. Keterampilan Dasar Mengajar
Keterampilan dasar mengajar yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran 2) Keterampilan menjelaskan
3) Keterampilan bertanya (dasar, lanjut) 4) Keterampilan mengadakan variasi 5) Keterampilan memberikan penguatan 6) Keterampilan mengelola kelas
7) Keterampilan membelajarkan kelompok kecil dan perorangan
8) Keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil