• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME PANCASILA SEBAGAI PENGEMBANGAN ILMU

N/A
N/A
Mahesi Putri Senggali

Academic year: 2024

Membagikan "RESUME PANCASILA SEBAGAI PENGEMBANGAN ILMU "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME PANCASILA SEBAGAI PENGEMBANGAN ILMU

Mahesi Putri Senggali 205030100111085

Abstrak

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang tidak dibarengi dengan dasar-dasar Pancasila yang kuat justru akan menjadi aspek penghancur bangsa, terutama dari segi moralitas dan mentalitas.

Perubahan dan perkembangan tekhnologi yang terlampau pesat menyebabkan terlalu mudahnya informasi dari seluruh penjuru dunia masuk ke dalam bangsa Indonesia.

Segala kemudahan dalam berinteraksi juga semakin tidak dapat dibendung lagi.

Pemahaman Pancasila sejak usia dini merupakan antisipasi awal dalam membangun filter bagi perkembangan dan kemajuan iptek yang terlampau pesat, sehingga moral dan mental anak bangsa tidak mengalami degradasi di tengah terjadinya proses perubahan.

I. PENDAHULUAN

Sejak dulu, Ilmu Pengetahuan mempunyai posisi penting dalam aktivitas berpikir manusia. Istilah Ilmu Pengetahuan terdiri dari dua gabungan kata berbeda makna, Ilmu dan Pengetahuan. Segala sesuatu yang kita ketahui merupakan definisi pengetahuan, sedangkan ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode tertentu. Sikap kritis dan cerdas yang dianut manusia dalam menyikapi berbagai kejadian di sekitarnya berbanding lurus dengan pesatnya perkembangan ilmu

pengetahuan. Namun dalam

perkembangannya, muncul gejala

dehumanisasi atau kemunduran manusia.

Ini karena tidak peduli apakah itu teori atau material, produk yang dihasilkan manusia memiliki nilai yang lebih besar daripada penggagasnya. Oleh karena itu, peran Pancasila harus diperkuat agar negara Indonesia tidak masuk dalam daftar

pembangunan keilmuan, dan

perkembangan keilmuan masih jauh dari nilai kemanusiaan.

Koesnadi Hardjasoemantri, yang menyatakan bahwa Pancasila merupakan pegangan dan pedoman dalam usaha ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sebagai asas dan pendirian hidup, sebagai suatu pangkal sudut pandangan dari subjek ilmu pengetahuan dan juga menjadi objek ilmu pengetahuan atau hal yang diselidiki (Koesnadi, 1987: xii). Penggunaan istilah

“asas dan pendirian hidup” mengacu pada sikap dan pedoman yang menjadi rambu normatif dalam tindakan dan pengambilan keputusan ilmiah. Pancasila merupakan gagasan penting dari kebudayaan Indonesia yang artinya nilai tersebut memang bercampur dengan sistem nilai negara Indonesia itu sendiri. Menurut Daoed Joesoef, konsep pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pengetahuan merupakan pedoman dan pertimbangan nilai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, Pancasila memiliki metode observasi tertentu dan memiliki kriteria tertentu dalam evaluasi untuk menuntunnya dalam mempertimbangkan gejala, prediksi, dan rekomendasi tertentu terkait dengan

(2)

langkah-langkah yang sebenarnya (Joesoef, 1987: 1, 15).

Saat ini ilmu empiris mendapatkan tempatnya yang sentral dalam kehidupan manusia karena dengan teknologi modern yang dikembangkannya dapat memenuhi kebutuhan praktis hidup manusia. Ilmu empiris tersebut tumbuh dan berkembang dengan cepat melebihi ritme pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia.

Ironisnya tidak diimbangi kesiapan mentalitas sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia.

Teknologi telah merambah ke berbagai macam kehidupan manusia dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan tenaga kerja, termasuk perubahan pola pikir dan budaya manusia, bahkan kelangsungan hidup alami manusia sendiri.

Situasi ini terlihat misalnya saat masih kecil gunakan berbagai alat permainan teknisi seperti playstation, mereka keinginan nyata sudah bisa terwujud itu bisa menjadi sifat sosial hanya dengan bermain alat permainan itu sendiri. Mereka tidak mengerti kehidupan memanipulasi teknologi untuk menjadi manusia individualis, ada banyak masalah disebabkan oleh teknologi disaksikan, meski ada manfaat nyata teknologi tidak bisa disangkal. Problematika keilmuan dapat diantisipasi dengan merumuskan kerangka dasar nilai bagi pengembangan ilmu. Kerangka dasar nilai ini harus menggambarkan suatu sistem filosofi kehidupan yang dijadikan prinsip kehidupan masyarakat, yang sudah mengakar dan membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu nilai-nilai Pancasila.

Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu, artinya kelima sila Pancasila merupakan pegangan dan pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa terminologi yang dikemukakan para pakar untuk menggambarkan peran Pancasila sebagai rujukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, antara lain Pancasila sebagai intellectual bastion 241 (Sofian Effendi); Pancasila sebagai common denominator values (Muladi);

Pentingnya Pancasila sebagai paradigma keilmuan Pancasila sebagai landasan nilai pengembangan keilmuan siswa terletak pada pembuktian peran Pancasila sebagai simbol normatif perkembangan keilmuan di Indonesia. Selain itu, pembangunan iptek di Indonesia harus berakar pada budaya bangsa Indonesia dan membutuhkan peran serta masyarakat yang lebih luas.

II. PEMBAHASAN

Beberapa Aspek Penting dalam Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan itu

mengandung dua aspek, yaitu aspek fenomenal dan aspek struktural. Aspek fenomenal menunjukkan bahwa ilmu

pengetahuan mewujudkan /

memanifestasikan dalam bentuk masyarakat, proses, dan produk.

Sebagai masyarakat, ilmu pengetahuan memanifestasikan dirinya sebagai masyarakat atau kelompok elit, yang menganut prinsip-prinsip ilmiah dalam kehidupan sehari-hari, menurut paradigma Merton, yang disebut universalisme, komunisme, dan skeptisisme terorganisir dan terarah.

(3)

Sebagai suatu proses, sains memanifestasikan dirinya sebagai aktivitas kelompok elit dalam upaya menggali dan mengembangkan pengetahuan melalui penelitian, eksperimen, inspeksi, seminar, dan kongres. Sebagai produk, ilmu pengetahuan merupakan hasil kegiatan kelompok elit berupa teori, doktrin, paradigma, dan penemuan lainnya yang disebarluaskan melalui karya-karya terbitan dan kemudian diteruskan ke masyarakat internasional.

Aspek struktural menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan di dalamnya terdapat unsur- unsur sebagai berikut:

1). Sasaran yang dijadikan obyek untuk diketahui, 2). Obyek sasaran ini terusmenerus dipertanyakan dengan suatu cara (metode) tertentu tanpa mengenal titik henti. Suatu paradoks bahwa ilmu pengetahuan yang akan terus berkembang justru muncul permasalahan - permasalahan baru yang mendorong untuk terus menerus mempertanyakannya, 3). Ada alasan dan motivasi mengapa gegenstand itu terus- menerus dipertanyakan dan 4).

Jawaban-jawaban yang diperoleh kemudian disusun dalam suatu kesatuan sistem.

Pilar-Pilar Penyangga bagi Eksistensi Ilmu Pengetahuan

Pengembangan ilmu selalu dihadapkan pada persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1). Pilar ontologi (ontology) Selalu menyangkut problematika tentang keberadaan (eksistensi): a).

Aspek kuantitas: Apakah yang ada itu tunggal, dual atau plural (monisme, dualisme, pluralisme), b). Aspek kualitas (mutu, sifat) : bagaimana

batasan, sifat, mutu dari sesuatu (mekanisme, teleologisme, vitalisme dan organisme). Pengalaman ontologis dapat memberikan landasan bagi penyusunan asumsi, dasar-dasar teoritis, dan membantu terciptanya komunikasi interdisipliner dan multidisipliner.

Membantu pemetaan masalah, kenyataan, batas-batas ilmu dan kemungkinan kombinasi antar ilmu.

2). Pilar epistemologi (epistemology)

Selalu menyangkut

problematika tentang sumber pengetahuan, sumber kebenaran, cara memperoleh kebenaran, kriteria kebenaran, proses, sarana, dasardasar kebenaran, sistem, prosedur, dan strategi. Pengalaman epistemologis dapat memberikan sumbangan bagi kita:

a). sarana legitimasi bagi ilmu / menentukan keabsahan disiplin ilmu tertentu; b). memberi kerangka acuan metodologis pengembangan ilmu; c).

mengembangkan ketrampilan proses;

d). mengembangkan daya kreatif dan inovatif.

3). Pilar aksiologi (axiology) Selalu berkaitan dengan problematika pertimbangan nilai (etis, moral, religius) dalam setiap penemuan, penerapan atau pengembangan ilmu.

Pengalaman aksiologis dapat memberikan dasar dan arah pengembangan ilmu, mengembangkan etos keilmuan seorang profesional dan ilmuwan.

Prinsip-Prinsip Berfikir Ilmiah:

1). Obyektif : Cara memandang masalah apa adanya,terlepas dari faktor- faktor subyektif (misalnya : perasaan, keinginan, emosi, sistem keyakinan, otorita), 2). Rasional : Menggunakan akal sehat yang dapat dipahami dan

(4)

diterima oleh orang lain. Mencoba melepaskan unsur perasaan, emosi, sistem keyakinan dan otorita, 3). Logis : Berpikir dengan menggunakan asas logika /runtut / konsisten, implikatif.

Tidak mengandung unsur pemikiran yang kontradiktif. Setiap pemikiran logis selalu rasional, begitu sebaliknya yang rasional pasti logis, 4).

Metodologis : Selalu menggunakan cara dan metode keilmuan yang khas dalam setiap berpikir dan bertindak (misalnya:

induktif, dekutif, sintesis, hermeneutik, intuitif), 5). Sistematis : Setiap cara berpikir dan bertindak menggunakan tahapan langkah prioritas yang jelas dan saling terkait satu sama lain. Memiliki target dan arah tujuan yang jelas.

Pancasila, Nilai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dan Tujuan

Nasional Bangsa Indonesia

Pancasila mengandung hal-hal yang vital bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini dan masa depan sangat pesat, di satu sisi semakin menyentuh esensi kehidupan dan materi, di sisi lain menyentuh ruang dan angkasa yang luas, serta semakin masuk dan mempengaruhi semua aspek kehidupan dan institusi budaya.

Padahal, pembangunan keilmuan tanpa kaidah-kaidah Pancasila yang kuat justru akan menjadi salah satu aspek kehancuran bangsa, terutama dalam hal moralitas dan mentalitas.

Negara Indonesia adalah negara yang sedang berkembang. Dalam proses perbaikan semua aspek kehidupan, baik itu sosial, politik, ekonomi, ilmiah, dan budaya. Pemerintah pusat dan daerah senantiasa mendorong

pembangunan sarana dan prasarana, berharap negara Indonesia tidak ketinggalan dari negara lain.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kemajuan pendidikan di Indonesia tanpa disadari mulai melupakan esensi tujuan yang harus selalu diperhatikan. Kalaupun tujuan ini secara jelas dituangkan dalam dasar ideologi Pancasila, perkembangan ilmu pengetahuan harus berbudaya.

Tercantum dalam perintah kedua, dikatakan "manusia yang adil dan beradab". Demi keadilan, kehidupan beradab dan kehidupan moral, perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan harus diwujudkan.

Dengan segala fasilitas yang tersedia, hendaknya mendukung peningkatan harkat dan martabat bangsa Indonesia, bukan sebagai sarana untuk menekan atau melakukan tindak pidana dan penipuan terhadap sumber daya manusia yang berwawasan keilmuan.

Di sinilah pentingnya Pancasila dalam setiap hati anak bangsa Indonesia agar

tidak menyalahgunakan

perkembangan dan kemajuan iptek dalam kehidupan masyarakat.

Dasar-dasar Pancasila dijadikan sebagai tameng untuk penangkal hal yang buruk dalam perkembangan iptek. Lima sila yang terdapat dalam Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang merupakan suatu rumusan kompleks dan menyeluruh dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian diharapkan dapat tercipta kehidupan masyarakat yang adil, beradab dan sejahtera, serta menyeluruh di setiap elemen lapisan masyarakat.

(5)

Sistem Etika Pembangunan dalam Pancasila

Pancasila merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsipnya dan harus menjadi sumber nilai, kerangka ideologis, dan prinsip moral bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai negara yang berpandangan hidup Pancasila, maka pengembangan ilmu pengetahuan harus berdasarkan paradigma Pancasila tidak berlebihan.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengimplementasikan ilmu pengetahuan, menciptakan, perimbangan antara rasional dan irrasional antara akal, rasa dan kehendak. Berdasarkan sila pertama ini ilmu pengetahuan tidak hanya memikirkan apa yang ditemukan, dibuktikan dan diciptakan tetapi juga mempertimbangkan maksud dan akibatnya kepada kerugian dan keuntungan manusia dan sekitarnya.

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan dasar-dasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan haruslah secara beradab. Iptek adalah bagian dari proses budaya manusia yang beradab dan bermoral. Oleh karena itu, pembangunan ilmu pengetahuan harus berdasarkan kepada usaha-usaha mencapai kesejahteraan umat manusia.

Sila persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia bahwa rasa nasionalisme bangsa Indonesia akibat dari sumbangan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, persatuan dan

kesatuan bangsa dapat terwujud dan terpelihara, persaudaraan dan pesahabatan antar daerah di berbagai daerah terjalin karena tidak lepas dari faktor kemajuan ilmu pengetahuan.

Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan, mendasari pengembangan iptek secara demokratis. Setiap ilmuwan haruslah

memiliki kebebasan untuk

mengembangkan iptek. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, setiap ilmuwan harus menghormati kebebasan orang lain dan memilki sikap yang tebuka.

Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mengimplementasikan pengembangan ilmu pengetahuan haruslah menjaga keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan. Hal ini mengandung makna keseimbangan keadilan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan msyarakat bangsa dan negara serta manusia dengan alam lingkungannya.

Hubungan Antara Pancasila dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Selain memiliki kekayaan alam yang menakjubkan, Indonesia juga sangat kaya akan suku bangsa, budaya, agama, bahasa, ras dan etnis golongan.

Sebagai akibat keanekaragaman tersebut Indonesia mengandung potensi kerawanan yang sangat tinggi pula, hal tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik sosial.

(6)

Kemajemukan bangsa Indonesia memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dan dapat menimbulkan konflik etnis kultural. Arus globalisasi yang mengandung berbagai nilai dan budaya dapat melahirkan sikap pro dan kontra warga masyarakat yang menyebabkan konflik tata nilai.

Oleh karena itu. kemajuan dan perkembangan iptek sangat diperlukan dalam upaya mempertahankan segala kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia serta menjawab segala tantangan zaman. Dengan penguasaan iptek kita dapat tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sesuai dengan sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia.

Ilmu pengetahuan dan Pancasila memiliki hubungan yang kohesif. Ilmu pengetahuan diperlukan dalam pengamalan Pancasila sila ketiga dalam menjaga persatuan Indonesia.

Di lain sisi, Bangsa Indonesia harus tetap menggunakan dasardasar nilai Pancasila sebagai pedoman dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan agar kita dapat tidak terjebak dan tepat sasaran mencapai tujuan bangsa.

Peran Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Ilmu pengetahuan adalah suatu kesatuan fenomena yang diketahui dan dipahami secara logis, rasional, obyektif, dan induktif-empiris dalam pikiran manusia. Ketika ilmu pengetahuan itu diterapkan dan diwujudkan secara konkrit untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, ia disebut teknologi. Contohnya, biologi adalah ilmu pengetahuan.

Ketika digunakan untuk menjadikan buah durian menjadi semakin besar dengan biji yang semakin keci-kecil, ia adalah teknologi (bioteknologi).

Elektronika adalah ilmu pengetahuan.

Ketika digunakan di dalam alat-alat, sehingga antara orang-orang yang berjarak ribuan kilometer bisa saling berbicara, ia menjadi teknologi telekomunikasi.

Suatu pengetahuan dapat disebut ilmu, jika pengetahuan dan cara kerjanya memenuhi norma-norma ilmiah. Norma-norma ilmiah tersebut adalah (1) mempunyai dasar pembenaran; (2) bersifat sistematik;

dan (3) bersifat intersubyektif.

Pengetahuan ilmiah dikatakan mempunyai dasar pembenaran jika segenap pengaturan cara kerja ilmiah diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang sebesar mungkin.

Setiap pernyataan ilmiah harus harus didasarkan atas pemahaman yang dapat dibenarkan secara apriori dan tangkapan empiris yang telah dikaji secara ilmiah secukupnya.

Permasalahannya bukan agar orang dapat mengetahui segalanya, tetapi agar orang dapat melakukan verfikasi serta pembenaran terhadap isi pengetahuan tersebut. Bersifat sistematik berati terdapat sistem di dalam susunan dan cara memperoleh pengetahuan yang dimaksud.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kini bukan lagi sekedar sarana bagi kehidupan umat manusia, tetapi telah menjadi sesuatu yang substansial. Iptek telah menjadi bagian dari harga diri (prestige) dan mitos, yang akan menjamin survival

(7)

suatu bangsa, prasyarat (prerequisite) untuk mencapai kemajuan (progress) dan kedigdayaan (power) yang dibutuhkan dalam hubungan antar sesama bangsa. Dalam kedudukannya yang substansif tersebut, Iptek telah menyentuh semua segi dan sendi kehidupan secara ekstensif, dan pada gilirannya mengubah budaya manusia secara intensif (Ditjen Dikti, 2013:

118).

Iptek telah menjadi kekuatan, baik dalam arti positif maupun negatif, bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Metode observasi, eksperimentasi, dan komparasi yang dipelopori Francis Bacon (1651-1626) telah semakin mendorong pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.

Battle cry-nya Francis Bacon yang menyerukan bahwa “Knowledge is Power” bukan sekedar mitos, melainkan sudah menjadi etos, telah melahirkan corak dan sikap pandang manusia yang meyakini kemampuan rasionalitasnya untuk menguasai dan meramalkan masa depan, dan dengan optimismenya menguasai, berinovasi secara kreatif untuk membuka rahasia- rahasia alam (Ditjen Dikti, 2013: 115).

III. PENUTUP

Kesimpulan Kerangka dasar pengembangan ilmu pengetahuan

harus dirumuskan dengan

memperhatikan problematika yang terjadi pada pengetahuan. Kerangka dasar ini adalah prinsip kehidupan yang sudah membudaya sebagai prinsip kehidupan dalam masyarakat yaitu nilai-nilai Pancasila.

Kekuatan bangunan ilmu terletak pada sejumlah pilar-pilarnya, yaitu pilar ontologi, epistemologi dan aksiologi. Prinsip-Prinsip Berfikir Ilmiah meliputi: Obyektif, Rasional, Logis, Metodologis, dan Sistematis.

Iptek dan Pancasila memiliki hubungan yang kohesif. iptek diperlukan dalam pengamalan Pancasila sila ketiga dalam menjaga persatuan Indonesia. Bangsa Indonesia harus tetap menggunakan Pancasila

sebagai pedoman dalam

mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi agar dapat mencapai tujuan bangsa.

Perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi yang dibawa oleh kebudayaan manusia harus dilandasi oleh nilai-nilai sakral, kemanusiaan, persatuan, masyarakat dan keadilan. Prinsip Pancasila merupakan satu kesatuan yang sistematis, yang harus menjadi sistem moral dan moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Perkembangan ilmu

pengetahuan harus menjaga keseimbangan antara rasionalitas dan irasionalitas, dan antara rasionalitas, rasa dan kemauan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya memperhatikan apa yang ditemukan, dibuktikan, dan diciptakan, tetapi juga harus

mempertimbangkan apakah

berbahaya bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Perintah pertama ini menempatkan manusia di alam semesta bukan sebagai pusat,

(8)

tetapi sebagai bagian sistematis dari alam yang di olah manusia.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Nilai kemanusiaan

memberikan dasar-dasar moralitas

bahwa manusia dalam

mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah beradab demi kesejahteraan umat manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus diabdikan untuk peningkatan harkat dan martabat manusia, bukan menjadikan manusia sebagai makhluk yang angkuh dan sombong akibat memiliki ilmu pengetauan dan teknologi.

3. Persatuan Indonesia

Nilai persatuan Indonesia memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia akan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi persatuan dan kesatuan bangsa bangsa dapat terwujud dan terpelihara. Oleh karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi harus dapat dikembangkan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hendaknya diarahkan demi kesejahteraan umum manusia termasuk di dalamnya kesejahteraan bangsa Indonesia dan rasa nasionalismenya.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawa-ratan/Perwakilan

Nilai kerakyatan mendasari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara demokratis, yang artinya setiap ilmuwan haruslah memiliki kebebasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Berdasrkan nilai keadilan, mengimplementasikan

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi kesimbangan dan keadilan dalam kehidupan manusia, yaitu keseimbangan dan keadilan dalam hubungan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan penciptanya, dan manusia dengan lingkungan di mana mereka berada.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Susilawati, N. 2019. Menerapkan Pancasila Sebagai Nilai Dasar Pengembangan Ilmu

Pengetahuan Untuk Mencapai Tujuan Nasional Bangsa Indonesia. Jambi.

Kaelan. 2003. Pendidikan Pancasila.

Paradigma. Yogyakarta.

Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. 2016. Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila. Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi Republik Indonesia.

Jakarta.

Iriyanto, W. 2009. Bahan Kuliah Filsafat Ilmu. Program Pasca

(9)

Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang

Widjaja, H.A.W. 2002. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Pancasila. Raja Grafindo

Persada. Jakarta.

http://abiummi.com/6-aspek- pentingpendidikan- dalam- islam/ diakses pada: Senin 10 Oktober 2016 pukul: 22.53 http://xerma.blogspot.com/2013/09/k

onsep -dasar-berfikir-ilmiah- dengan.htm

Effendi , Sofian.2015.”Pancasila Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Kuntowijoyo.2014.”Pancasila Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu Pengetahuan”.

Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen diterjemahkan oleh Drs.

Soejono Soemargono, 1990.

Pengantar Filsafat Ilmu. PT.

Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta

Franz Magnis-Suseno, 1992, Filsafat-Kebudayaan-Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

H.M. Tama Sembiring, Prof., Drs., SH, MM., dkk, Manur

Pasaribu, SH., dan H. Chairul Alam, Drs., MM., 2012.

Filsafat dan Pendidikan Pancasila. Yatama Printing, Jakarta.

Saswinadi Sasmojo dkk (eds.), 1991.

Menerawang Masa Depan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni. Penerbit ITB, Bandung

(10)

MENERAPKAN PANCASILA SEBAGAI NILAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN UNTUK MENCAPAI

TUJUAN NASIONAL BANGSA INDONESIA

Applying Pancasila as A Basis of Development of Knowledge Science to Achieve The National Objective of The Indonesian Nation

SUSILAWATI N BPSDM Provinsi Jambi

Jl H. agus Salim No. 19 Kota Baru Kota Jambi email: [email protected]

Diterima: 09 November 2019; di revisi: 26 November 2019 Disetujui : 10 Desember 2019 https://doi.org/10.37250/newkiki.v3i2.42

ABSTRACT

The development of Science and Technology that is not accompanied by a strong foundation of Pancasila will actually be an aspect of the nation's destruction, especially in terms of morality and mentality. Changes and technological developments that are too fast causing too easy information from all corners of the world into the Indonesian nation. All the conveniences in interacting are also increasingly unstoppable. Pancasila understanding from an early age is an initial anticipation in building a filter for the development and progress of science and technology that is too fast, so that the morals and mentality of the nation's children do not experience degradation in the midst of the process of change.

Keyword : Applying Pancasila, Science

ABSTRAK

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang tidak dibarengi dengan dasar-dasar Pancasila yang kuat justru akan menjadi aspek penghancur bangsa, terutama dari segi moralitas dan mentalitas. Perubahan dan perkembangan tekhnologi yang terlampau pesat menyebabkan terlalu mudahnya informasi dari seluruh penjuru dunia masuk ke dalam bangsa Indonesia. Segala kemudahan dalam berinteraksi juga semakin tidak dapat dibendung lagi. Pemahaman Pancasila sejak usia dini merupakan antisipasi awal dalam membangun filter bagi perkembangan dan kemajuan iptek yang terlampau pesat, sehingga moral dan mental anak bangsa tidak mengalami degradasi di tengah terjadinya proses perubahan.

Kata kunci : Pengamalan Pancasila, Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Andaikan para ilmuwan dalam pengembangan ilmu konsisten terhadap janji awalnya ditemukan ilmu, untuk mencerdaskan manusia, memartabatkan manusia dan menyejahterakan manusia, maka pengembangan ilmu yang didasarkan pada kaedah keilmuan tidak perlu menimbulkan ketegangan antara ilmu dan teknologi dengan masyarakat. Fakta yang kita saksikan saat ini ilmu empiris mendapatkan tempatnya yang sentral dalam kehidupan manusia karena dengan teknologi modern yang dikembangkannya dapat memenuhi kebutuhan praktis hidup manusia.

Ilmu empiris tersebut tumbuh dan berkembang dengan cepat melebihi ritme pertumbuhan dan perkembangan peradaban

manusia. Ironisnya tidak diimbangi kesiapan mentalitas sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia.

Teknologi telah merambah berbagai bidang kehidupan manusia secara ekstensif dan mempengaruhi sendi kehidupan manusia secara intensif, termasuk merubah pola pikir dan budaya manusia, bahkan nyaris menggoyahkan eksistensi kodrati manusia itu sendiri. Kondisi ini terlihat ketika misalnya, anak-anak sekarang dengan alat- alat permainan yang serba teknologis seperti playstation, mereka sudah dapat terpenuhi hasrat hakekat kodrat sosialnya hanya dengan memainkan alat permainan tersebut secara sendirian. Mereka tidak sadar dengan kehidupan yang termanipulasi teknologi menjadi manusia individualis.Masih terdapat

(11)

banyak persoalan akibat teknologi yang dapat disaksikan, meskipun secara nyata manfaat teknologi tidak dapat dipungkiri.

Problematika keilmuan dapat segera diantisipasi dengan merumuskan kerangka dasar nilai bagi pengembangan ilmu.

Kerangka dasar nilai ini harus menggambarkan suatu sistem filosofi kehidupan yang dijadikan prinsip kehidupan masyarakat, yang sudah mengakar dan membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu nilai-nilai Pancasila.

Beberapa Aspek Penting dalam Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan itu mengandung dua aspek, yaitu aspek fenomenal dan aspek struktural. Aspek fenomenal menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan mewujudkan / memanifestasikan dalam bentuk masyarakat, proses, dan produk. Sebagai masyarakat, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai suatu masyarakat atau kelompok elit yang dalam kehidupan kesehariannya begitu mematuhi kaedah-kaedah ilmiah yang

menurut paradigma Merton

disebutuniversalisme, komunalisme, dan skepsisme yang teratur dan terarah. Sebagai proses, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai aktivitas atau kegiatan kelompok elit tersebut dalam upayanya untuk menggali dan mengembangkan ilmu melalui penelitian, eksperimen, ekspedisi, seminar, kongres. Sebagai produk, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai hasil kegiatan kelompok elit tadi berupa teori, ajaran, paradigma, temuan-temuan lain sebagaimana disebarluaskan melalui karyakarya publikasi yang kemudian diwariskan kepada masyarakat dunia.

Aspek struktural menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan di dalamnya terdapat unsur- unsur sebagai berikut: 1). Sasaran yang dijadikan obyek untuk diketahui, 2). Obyek sasaran ini terusmenerus dipertanyakan dengan suatu cara (metode) tertentu tanpa

mengenal titik henti. Suatu paradoks bahwa ilmu pengetahuan yang akan terus berkembang justru muncul permasalahan - permasalahan baru yang mendorong untuk terus menerus mempertanyakannya, 3). Ada alasan dan motivasi mengapa gegenstand itu terus- menerus dipertanyakan dan 4).

Jawaban-jawaban yang diperoleh kemudian disusun dalam suatu kesatuan sistem.

Dengan Renaissance dan Aufklaerung ini, mentalitas manusia barat mempercayai akan kemampuan rasio yang menjadikan mereka optimis, bahwa segala sesuatu dapat diketahui, diramalkan, dan dikuasai. Melalui optimisme ini, mereka selalu berpetualang untuk melakukan penelitian secara kreatif dan inovatif. Di dalam Islam, ada 6 aspek penting dalam pendidikan yaitu:

1. Aspek pendidikan ketuhanan.

Dengan mengenal Allah Swt. sebagai Tuhan dan Pencipta, pribadi manusia dapat menyadari bahwa segala yang dipelajari adalah ciptaan-Nya. Dengan bekal itu pula, dalam proses mempelajari ilmu pengetahuan dan menguak fenoma alam, bukan kesombongan yang muncul dalam diri, melainkan kesadaran akan kebesaran-Nya serta kedekatan kita dengan-Nya.

2. Aspek pendidikan akhlak.

Aspek pendidikan akhlak termasuk dalam aspek penting pendidikan dalam Islam.

Akhlak yang baik akan mencerminkan pribadi yang selalu melakukan segala sesuatu sesuai dengan batas ajaran Islam dan jauh dari perbuatan yang merugikan orang lain.

3. Aspek pendidikan akal dan ilmu pengetahuan.

Aspek pendidikan akal dan ilmu pengetahuan menjadi aspek yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan.

Dengan akal dan ilmu pengetahuan, potensi diri untuk berkembang dan berprestasi dalam dunia profesi tertentu dapat dicapai.

4. Aspek pendidikan fisik.

(12)

Aspek pendidikan fisik berhubungan dengan potensi jasmani. Dengan fisik yang sehat, potensi diri untuk melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.

5. Aspek Pendidikan Kejiwaan.

Aspek pendidikan kejiwaan menjadi salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam pendidikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pikiran positif dan semangat muncul dari jiwa sehat yang dapat dipentuk dalam proses belajar mengajar.

6. Aspek pendidikan keindahan.

Aspek pendidikan keindahan tidak hanya terbatas pada sesuatu yang enak untuk dilihat, tetapi aspek ini juga menjadi salah satu aspek dalam pendidikan. Keindahan dalam berbahasa dan bertutur kata menjadi aspek yang selalu ditunjukkan dalam penyampaian ilmu dari zaman Nabi Muhammad SAW. hingga saat ini.

Pilar-Pilar Penyangga bagi Eksistensi Ilmu Pengetahuan

Pengembangan ilmu selalu dihadapkan pada persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1). Pilar ontologi (ontology) Selalu menyangkut problematika tentang keberadaan (eksistensi): a). Aspek kuantitas:

Apakah yang ada itu tunggal, dual atau plural (monisme, dualisme, pluralisme), b).

Aspek kualitas (mutu, sifat) : bagaimana batasan, sifat, mutu dari sesuatu (mekanisme, teleologisme, vitalisme dan organisme). Pengalaman ontologis dapat memberikan landasan bagi penyusunan asumsi, dasar-dasar teoritis, dan membantu terciptanya komunikasi interdisipliner dan multidisipliner. Membantu pemetaan masalah, kenyataan, batas-batas ilmu dan kemungkinan kombinasi antar ilmu.

2). Pilar epistemologi (epistemology) Selalu menyangkut problematika tentang sumber pengetahuan, sumber kebenaran, cara memperoleh kebenaran, kriteria kebenaran,

proses, sarana, dasardasar kebenaran, sistem, prosedur, dan strategi. Pengalaman epistemologis dapat memberikan sumbangan bagi kita: a). sarana legitimasi bagi ilmu / menentukan keabsahan disiplin ilmu tertentu; b). memberi kerangka acuan metodologis pengembangan ilmu; c).

mengembangkan ketrampilan proses; d).

mengembangkan daya kreatif dan inovatif.

3). Pilar aksiologi (axiology) Selalu berkaitan dengan problematika pertimbangan nilai (etis, moral, religius) dalam setiap penemuan, penerapan atau pengembangan ilmu. Pengalaman aksiologis dapat memberikan dasar dan arah pengembangan ilmu, mengembangkan etos keilmuan seorang profesional dan ilmuwan.

Prinsip-Prinsip Berfikir Ilmiah: 1).

Obyektif : Cara memandang masalah apa adanya,terlepas dari faktor-faktor subyektif (misalnya : perasaan, keinginan, emosi, sistem keyakinan, otorita), 2). Rasional : Menggunakan akal sehat yang dapatdipahami dan diterima oleh orang lain.

Mencoba melepaskan unsur perasaan, emosi, sistem keyakinan dan otorita, 3).

Logis : Berpikir dengan menggunakan asas logika /runtut / konsisten, implikatif. Tidak mengandung unsur pemikiran yang kontradiktif. Setiap pemikiran logis selalu rasional, begitu sebaliknya yang rasional pasti logis, 4). Metodologis : Selalu menggunakan cara dan metode keilmuan yang khas dalam setiap berpikir dan bertindak (misalnya: induktif, dekutif, sintesis, hermeneutik, intuitif), 5). Sistematis : Setiap cara berpikir dan bertindakmenggunakan tahapan langkah prioritas yang jelas dansaling terkait satu sama lain. Memiliki target dan arah tujuan yang jelas.

Pancasila, Nilai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dan Tujuan Nasional Bangsa Indonesia

(13)

Pancasila mengandung hal-hal yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini dan di masa yang akan datang sangat cepat, makin menyentuh inti hayati dan materi di satu pihak, serta menggapai angkasa luas dan luar angkasa di lain pihak, lagi pula memasuki dan mempengaruhi makin dalam segala aspek kehidupan dan institusi budaya.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang tidak dibarengi dengan dasar-dasar Pancasila yang kuat justru akan menjadi aspek penghancur bangsa, terutama dari segi moralitas dan mentalitas.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang. Dalam proses perbaikan dari segala segi kehidupan, baik dalam segi sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan serta budaya. Pembangunan demi pembangunan sarana dan prasarana selalu digalakkan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dengan harapan agar bangsa Indonesia tidak tertinggal dengan bangsa lain.

Kemajuan pendidikan di Indonesia yang sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, tanpa disadari mulai melupakan hakekat tujuan yang senantiasa harus diperhatikan. Padahal tujuan ini tercantum jelas dalam landasan ideologi Pancasila bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan haruslah secara beradab.

Tercantum dalam sila kedua yang berbunyi

”Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya diwujudkan untuk keadilan dan kehidupan yang beradab serta bermoral. Dengan segala fasilitas dan kemudahan yang ada seharusnya mendukung untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia, bukannya sebagai alat menindas atau berbuat kejahatan serta kecurangan bagi sumberdaya manusia yang memegang penguasaan ilmu

pengetahuan. Di sinilah pentingnya Pancasila dalam setiap hati nurani anak

bangsa Indonesia agar tidak

menyalahgunakan perkembangan dan kemajuan iptek dalam kehidupan masyarakat. Penyalahgunaan itu dapat berupa menyebarkan sms fiktif yang isinya menjatuhkan atau memberikan berita miring tentang orang tersebut dikarenakan dendam pribadi ataupun sakit hati. Fenomena lain yang sangat mengkhawatirkan adalah mudahnya mengakses video dan gambar porno dari internet. Oleh karena itu, tanpa dibarengi pengawasan dari orang tua yang ketat serta kekuatan iman dan taqwa, perkembangan iptek justru menjadi malapetaka bagi generasi penerus bangsa.

Peristiwa tersebut tidak akan terjadi apabila masing-masing individu yang memegang teguh Pancasila. Pemahaman Pancasila sejak usia dini merupakan antisipasi awal dalam membangun filter bagi perkembangan dan kemajuan iptek yang terlampau pesat, sehingga moral dan mental anak bangsa tidak mengalami degradasi di tengah terjadinya proses perubahan. Dasar-dasar Pancasila dijadikan sebagai tameng untuk penangkal hal yang buruk dalam perkembangan iptek. Lima sila yang terdapat dalam Pancasila mengandung nilai- nilai luhur yang merupakan suatu rumusan kompleks dan menyeluruh dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian diharapkan dapat tercipta kehidupan masyarakat yang adil, beradab dan sejahtera, serta menyeluruh di setiap elemen lapisan masyarakat.

Sistem Etika Pembangunan dalam Pancasila

Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila- silanya harus merupakan sumber nilai, kerangka fikir serta azas moralitas bagi pembangunan iptek. Sebagai bangsa yang memiliki pandangan hidup Pancasila, maka

(14)

tidak berlebihan apabila pengembangan ilmu pengetahuan harus didasarkan atas paradigma Pancasila.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengimplementasikan ilmu pengetahuan, menciptakan, perimbangan antara rasional dan irrasional antara akal, rasa dan kehendak. Berdasarkan sila pertama ini ilmu pengetahuan tidak hanya memikirkan apa yang ditemukan, dibuktikan dan diciptakan tetapi juga mempertimbangkan maksud dan akibatnya kepada kerugian dan keuntungan manusia dan sekitarnya.

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan dasar-dasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan haruslah secara beradab. Iptek adalah bagian dari proses budaya manusia yang beradab dan bermoral. Oleh karena itu, pembangunan ilmu pengetahuan harus berdasarkan kepada usaha-usaha mencapai kesejahteraan umat manusia.

Sila persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia bahwa rasa nasionalisme bangsa Indonesia akibat dari sumbangan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud dan terpelihara, persaudaraan dan pesahabatan antar daerah di berbagai daerah terjalin karena tidak lepas dari faktor kemajuan ilmu pengetahuan.

Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan, mendasari pengembangan iptek secara demokratis. Setiap ilmuwan haruslah memiliki kebebasan untuk mengembangkan iptek. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, setiap ilmuwan harus menghormati kebebasan orang lain dan memilki sikap yang tebuka.

Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mengimplementasikan pengembangan ilmu pengetahuan haruslah menjaga keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan. Hal ini mengandung makna keseimbangan keadilan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan msyarakat bangsa dan negara serta manusia dengan alam lingkungannya.

\

Hubungan Antara Pancasila dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Selain memiliki kekayaan alam yang menakjubkan, Indonesia juga sangat kaya akan suku bangsa, budaya, agama, bahasa, ras dan etnis golongan. Sebagai akibat keanekaragaman tersebut Indonesia mengandung potensi kerawanan yang sangat tinggi pula, hal tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi timbulnya konflik sosial. Kemajemukan bangsa Indonesia memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dan dapat menimbulkan konflik etnis kultural. Arus globalisasi yang mengandung berbagai nilai dan budaya dapat melahirkan sikap pro dan kontra warga masyarakat yang menyebabkan konflik tata nilai. Oleh karena itu. kemajuan dan perkembangan iptek sangat diperlukan dalam upaya mempertahankan segala kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia serta menjawab segala tantangan zaman. Dengan penguasaan iptek kita dapat tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sesuai dengan sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia. Ilmu pengetahuan dan Pancasila memiliki hubungan yang kohesif.

Ilmu pengetahuan diperlukan dalam pengamalan Pancasila sila ketiga dalam menjaga persatuan Indonesia. Di lain sisi, Bangsa Indonesia harus tetap menggunakan dasardasar nilai Pancasila sebagai pedoman dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan

(15)

agar kita dapat tidak terjebak dan tepat sasaran mencapai tujuan bangsa.

Kesimpulan

Kerangka dasar pengembangan ilmu pengetahuan harus dirumuskan dengan memperhatikan problema yang terjadi pada pengetahuan. Kerangka dasar ini adalah prinsip kehidupan yang sudah membudaya sebagai prinsip kehidupan dalam masyarakat yaitu nilai-nilai Pancasila. Kekuatan bangunan ilmu terletak pada sejumlah pilar- pilarnya, yaitu pilar ontologi, epistemologi dan aksiologi. Prinsip-Prinsip Berfikir Ilmiah meliputi: Obyektif, Rasional, Logis, Metodologis, dan Sistematis. Iptek dan Pancasila memiliki hubungan yang kohesif.

iptek diperlukan dalam pengamalan Pancasila sila ketiga dalam menjaga persatuan Indonesia. Bangsa Indonesia harus tetap menggunakan Pancasila sebagai pedoman dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi agar dapat mencapai tujuan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan. 2003. Pendidikan Pancasila.

Paradigma. Yogyakarta.

Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. 2016. Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila.

Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi Republik Indonesia. Jakarta.

Iriyanto, W. 2009. Bahan Kuliah Filsafat Ilmu. Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang Widjaja, H.A.W. 2002. Pedoman

Pelaksanaan Pendidikan Pancasila.

Raja Grafindo Persada. Jakarta.

http://abiummi.com/6-aspek-

pentingpendidikan- dalam-islam/

diakses pada: Senin 10 Oktober 2016 pukul: 22.53

http://xerma.blogspot.com/2013/09/konsep -dasar-berfikir-ilmiah-dengan.htm

Referensi

Dokumen terkait

2 bahwa setiap iptek yang dikembangkan di Indonesia harus menyertakan nilai-nilai pancasila sebagai faktor internal pengembangan iptek itu sendiri.. 3 bahwa nilai-nilai

Pentingnya Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi khususnya bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diharapkan dapat

Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai terapannya telah merambah berbagai bidang kehidupan manusia secara ekstensif dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia

Nilai keadilan yang berarti keadilan dalam kehidupan sosial haruslah meliputi seluruh rakyat indonesia, persamaan hak dalam berbagai hak yang dilandasi dengan hak dan kewajiban

Nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa,Kemanusiaan

Dengan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan.. sosial dalam

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Selain menjadi dasar negara Indonesia Pancasila juga menjadi jiwa bangsa yang artinya Pancasila sudah benar-benar hal yang tidak dapat

Sila kelima; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah keadilan yang ber- Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan bearadab, yang berpersatuan Indonesia, yang