RESUME PRESENTASI
Review Jurnal Kelompok 1 : Perakitan Varietas Jeruk tanpa Biji melalui Pemuliaan Tanaman Konvensional dan Nonkonvensional
Latar Belakang
Menurut Sajid, dkk. (2013) karakter seedless merupakan salah satu kriteria penting dalam industri jeruk internasional. Bahkan karakter seedless ini dinilai lebih penting daripada karakter manis secara komersial. Hal ini dibuktikan dengan kasus jeruk mandari yang memiliki rasa manis cukup tinggi mengalami permasalahan pemasaran. Oleh karena itu, diperlukan adanya teknologi yang dapat meningkatkan pembentukan jeruk seedless. Persentase buah menghasilkan buah seedless hanyalah <0,02%. Perkembangan buah seedless bergantung pada ketidakseimbangan jumlah kromosom triploid yang menyebabkan tidak berkembangnya biji sehingga diperlukan pengetahuan mengenai perakitan tanaman triploid baik secara konvensional dan in konvensional.
Metode
KONVENSIONAL IN KONVENSIONAL
Persilangan :
1. Diploid-Diploid 2. Persilangan Diploid-
Tetraploid
Pemanfaatan Bioteknologi : 1. In vitro
2. Kultur endospermae 3. Mutase
4. Hibridisasi somatic 5. Pemuliaan molekuler Nama : Rianne Safitri
NPM : 150510210162 Kelas : D
Dosen Pengampu : : Erni Suminar, SP., MSi.
Hasil Dan Pembahasan
Beberapa teknik atau metode yang digunakan dalam pembuatan buah jeruk seedless, diantaranya adalah :
1. Persilangan seksual diploid-diploid
Persilangan ini akan menghasilkan tanaman menjadi triploid. Biji jeruk triploid juga berukuran 1/6 atau 1/3 biji jeruk diploid.
2. Persilangan seksual antara tetua diploid dan tetraploid
Salah satu cara lain untuk mneghasilkan tanaman triploid adalah dengan mengyilangkan tanaman diploid dengan tetraploid.
3. Kultur in vitro,
Dapat meliputi kultur embrio, kultur endosperma, mutagenesis, hibridisasi somatikdan pemuliaan molekuler
a. Kultur endosperma, merupakan teknik yang relatif murah dan muda, dimana jaringan endosperma yang telah diisolasikan untuk mendapatkan karakter seedless.
b. Mutasi
Mutase dapat dilakukan dengan mutagen fisik, kimia, dna biologi.
Salah satu hasil jeruk ialah jeruk seedless lemon Kutdiken (C. limon (L.) Buró. f) yang berhasil diinduksi pembentukan buah seedless yang stabil. Kestabilan ini memerlukan waktu yang panjang dan pengujian secara bertahap.
c. Hibridisasi somatic
Hibridisasi somatic dilakukan dengan pendekatan fusi protoplasma.
karakter seedless pada jeruk dilakukan dengan melibatkan gen barnase suicide yang ditargetkan pada integumen biji/embrio jeruk ponkam dengan promoter spesifik tapetum, sehingga embrio menjadi gugur.
Kesulitan yang dihadapi dalam pembuatan jeruk seedless dapat diatasi dengan manipulasi teknik persilangan yang meliputi lingkungan, aplikasi ZPT, pemilihan tetua yang tepat, dan penyelamatan embrio. Manipulasi yang dilakukan melalui in vitro dinilai lebih mudah dan sederhana. Selain itu, kultur endosperma dinilai menjadi yang paling efisien dalam segregasi yang rendah sehingga peluang progeni menyerupai tetua jauh lebih tinggi.
Kesimpulan
Terdapat berbagai macam teknik untuk menghasilkan buah jeruk seedless baik secara konvensional maupun in konvensinal. Setiap teknik tersebut memiliki kelebihan juga kekurangan. Namun, banyaknya teknik ini pula dapat memberikan fleksibilitas bagi produsen untuk memiliki teknik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Review Jurnal Kelompok 4 : Metode Konvensional dan Inkonvesional dalam Pengembangan Kultivar Baru Tanaman Gandum
Latar Belakang
Indonesia memiliki konsumsi yang besar terhadap gandum. Namun, sayangnya negera kita masih melalukan impor. Pada tahun 2021, impor yang dilakukan mencapai 11 juta ton. Beberapa varietas unggul gandum yang berada di Indonesia, dapat meliputi Nias &Timor (1993), Selayar (2003), Dewata (2004), Guri-1 &2 (2013), Guri-3 Agritan sampai 5 & Guri-6 Unand (2014). Pengembangan kultivar gandum dapat dilakukan baik secara konvensinal maupun in konvensional.
Metode
Hasil Dan Pembahasan
Hasil penelitian pada metode introduksi menunjukan bahwa genotype tidak berpengaruh nyata pad ajumlah anakan. Sementara itu, genotype e berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, umur bunga, umur panen, karakter komponen
KONVENSIONAL IN KONVENSIONAL
Metode Introduk
si
Metode shuttle Breeding
Metode Mutasi Iradiasi Sinar
Gama
Metode Transgenik
Seleksi 1 : Memilih
karakter unggul
Seleksi 2 : Didasarkan pada cekaman lingkungan
Seleksi 3 : Mengembalikan individu pada lingkungan optimal
tanaman transgenic digunakan untuk mengetahui genotipe gandum yang responsif untuk ditransformasi, kombinasi ZPT dalam media regenerasi yang paling efektif untuk meregenerasikan kalus gandum setelah ditransformasi, dan efisiensi transformasinya. Pada metode mutasi, tidak hanya ada dampak positif seperti perbaikan tanaman, namun terdapat pula dampak negative berupa gangguan seluler metabolism.
Kesimpulan
Terdapat berbagai macam teknik untuk menghasilkan buah jeruk seedless baik secara konvensional maupun in konvensinal. Setiap teknik tersebut memiliki kelebihan juga kekurangan. Namun, banyaknya teknik ini pula dapat memberikan fleksibilitas bagi produsen untuk memiliki teknik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Review Jurnal Kelompok 6 : Pemuliaan Kentang Produk Rekyasan Genetik Tahan Terhadap Penyakit Busuk Daun ((Phytophthora Infestans) dan Aman Pangan Di Indonesia
Latar Belakang
Phytophthora infestans merupakan salah satu penyakit busuk yang menyerang berbagai tanaman, salah satunya kentang. Hal inlah yang menjadi dasar pembuatan Kentang produk rekayasa genetik (PGR) varietas Katahadin event SP951. Katahdin adalah varietas kentang komersial yang berasal dari AS, yang telah dimanfaatkan sejak tahun 1932.
Metode
Metode perakitan ini dilakukan dengan menyisipkan gen RB (tahan jamur P.
infestans) yang diisolasi dari kentang liar (Solanum bulbocastanum) ke beberapa varietas kentang, seperti Atlantic dan Granola. Kentang yang sudah memiliki gen tersebut akan diuji efikasinya terhadap P. infestans.
Hasil Dan Pembahasan
Penyisipan gen ini menghasilkan dua belas galur yang tahan terhadap P. infestans.
Hasil ini berbeda nyata dengan galur non-PRG.
Kesimpulan
Perakitan kentang PGR tahan P. infestans menunjukan keberhasilan, dimana hasilnya berbeda nyata dengan non-PGR. Kemudian, tanaman kentang PRG tahan P. infestans dapat mengurangi 50% aplikasi fungisida.