Penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh TERAPI INTEGRASI SENSORI TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA ANAK DENGAN KECERDASAN SEDANG”. Post-test setiap sesi terapi 53 Grafik 6 Perbandingan kemampuan berbicara Sy, Ab, Fa dan Bi Pada.
PENDAHULUAN
Pengertian Kemampuan Berbicara
Pidato adalah suatu bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata untuk menyampaikan makna. Tan (2010) menambahkan bahwa berbicara adalah memproduksi dan mengatur kata-kata yang diucapkan secara teratur sehingga dapat dipahami oleh lawan bicaranya.
Karakteristik Kemampuan Bicara Anak
Dari definisi di atas peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan berbicara adalah kesanggupan, kesanggupan menyampaikan pikiran, gagasan, harapan dan pengetahuan dalam bentuk kata-kata yang bermakna kepada orang lain, sehingga apa yang disampaikan anak dapat dimengerti oleh orang lain. Dari uraian di atas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa terdapat beberapa ciri kemampuan berbicara anak, yaitu tuturan yang berpusat pada diri sendiri (egosentris) dan tuturan yang berpusat pada orang lain (sosialisasi).
Aspek-aspek Kemampuan Berbicara Anak
Seorang anak yang terkadang berbicara sendiri dengan cukup keras, bahkan saat berada di antara teman-temannya. Beberapa anak yang duduk bersama dapat berbicara secara mandiri tanpa ada niat untuk berhubungan dengan teman lainnya. Anak saling berbicara dan menanggapi apa yang dikatakan temannya, meskipun terkadang masih ditemukan kesalahan dalam komunikasi (Saparno, 2011).
Menurut Soehartono (2005), tujuan merangsang minat berbicara anak adalah agar anak berani mengungkapkan apa yang menjadi perhatiannya sesuai dengan aktivitasnya sehari-hari. Suhartono (2005) menambahkan bahwa kata-kata yang diucapkan biasanya sederhana, mudah diucapkan dan mempunyai makna konkrit. Kosakata yang paling umum digunakan adalah kosakata umum, seperti kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan.
Kosakata yang lebih luas diperoleh tidak hanya ketika mempelajari kata-kata baru, tetapi juga ketika mempelajari arti kata-kata baru untuk kata-kata lama. Pembentukan kalimat merupakan penggabungan kata menjadi kalimat yang benar tata bahasanya dan dapat dipahami orang lain. Dari uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa aspek keterampilan berbicara anak mencakup empat hal, yaitu minat berbicara, pengucapan, pengembangan kosakata, dan pembentukan kalimat.
Tahapan Perkembangan Bicara Anak
12 bulan Mulai memahami maksud perkataan ibu dan mulai menirukan kata yang terdiri dari dua atau tiga suku kata. 13-15 bulan Ia sudah memiliki sekitar empat sampai tujuh kosa kata, kalimat yang dapat ditransfer oleh anak, yang lain dapat memahaminya kurang dari 20%. 22-24 bulan Memiliki lebih dari 50 kosakata, dapat mengucapkan dua hingga tiga frasa, sekitar 60-70% ucapan anak dapat dipahami oleh orang lain.
Usia 2-2,5 tahun Terdapat hingga 400 kosakata, yang meliputi kata benda, frasa dua hingga tiga kata, penggunaan kata ganti, sekitar 75% ucapan anak dapat dipahami oleh orang lain. 2,5-3 tahun Mengetahui umur dan jenis kelamin, menyebutkan tiga benda dengan benar, mengucapkan kalimat tiga sampai lima kata, sekitar 80-90%. 3-4 tahun Mengucapkan kalimat enam sampai tujuh kata, bertanya, berbicara, berbagi pengalaman, bercerita, hampir seluruh ucapan anak dapat dipahami oleh orang lain.
4-5 tahun Mengucapkan kalimat enam hingga delapan kata, mengetahui nama empat warna, mengucapkan nilai mata uang dengan benar.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Bicara Anak
Terapi Sensori Integrasi
- Pengertian Terapi Sensori Integrasi
- Elemen-elemen Inti Terapi Sensori Integrasi
- Manfaat Terapi Sensori Integrasi
Setelah menjelaskan pengertian terapi, maka untuk menunjang pengertian terapi integrasi sensorik maka perlu diberikan pengertian tentang integrasi sensorik. Integrasi sensorik adalah proses mengenali, memodifikasi, dan membedakan sensasi dari sistem sensorik untuk menghasilkan perilaku adaptif. Pada tahun 1972, Ayres memaparkan model perkembangan manusia yang dikenal dengan teori integrasi sensorik (SI).
Ayres (1979) mendefinisikan integrasi sensorik sebagai proses neurologis individu dalam mengorganisasikan sensasi-sensasi dari dalam dirinya dan dari lingkungan sekitarnya yang dapat digunakan secara efektif di lingkungannya. Integrasi sensorik merupakan teori yang menjelaskan proses biologis di otak untuk memproses informasi sensorik yang berbeda dan menggunakannya dengan baik (Mirza, 2008). Proses ini memungkinkan kita untuk bertindak berdasarkan pengalaman dan merupakan landasan kemampuan akademik dan perilaku sosial (Nanaholic, 2012).
Dari definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa terapi integrasi sensorik merupakan upaya untuk mengaktifkan, memulihkan dan mengoptimalkan proses neurologis individu melalui sistem sensorik sehingga individu dapat memberikan respon yang tepat terhadap lingkungannya. Elemen inti Menggambarkan sikap dan perilaku terapis Memberikan stimulasi sensorik Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami berbagai pengalaman sensorik, yang meliputi sentuhan, vestibular, proprioseptif, visual, pendengaran, dan pengecapan. Bimbingan pengorganisasian diri Mendukung dan membimbing anak untuk mengatur perilaku secara mandiri, memilih dan merencanakan perilaku yang sesuai dengan kemampuan anak, mengajak anak berinisiatif, mengembangkan ide dan merencanakan kegiatan.
Retardasi Mental
- Definisi Retardasi Mental
- Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Retardasi Mental
- Kriteria Diagnostik Retardasi Mental
- Klasifikasi Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu keadaan yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang dalam belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atau kemampuan yang dianggap normal (Soetjiningsih, 1995). Retardasi mental adalah suatu kondisi kurangnya kecerdasan (abnormal) sejak perkembangan (sejak lahir atau sejak masa kanak-kanak) atau suatu kondisi kurangnya kecerdasan sehingga kemampuan sosial dan kerja seseorang terganggu (Maramis dalam Sunaryo, 2002). Dalam Pedoman Klasifikasi Diagnosa Gangguan Jiwa III (PPDGJ III, 2013) ditambahkan bahwa retardasi mental adalah perkembangan mental yang terhenti dan tidak lengkap, yang terutama ditandai dengan keterbatasan kemampuan kognitif, motorik, sosial, dan berbicara.
Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa retardasi mental adalah suatu kelainan yang ditandai dengan kurangnya fungsi intelektual yang menyebabkan terbatasnya kemampuan kognitif, kemampuan berbicara, kemampuan sosial/interpersonal, kemandirian dan pekerjaan yang terjadi sebelum usia 18 tahun. Gangguan fungsi adaptif setidaknya mencakup dua kemampuan, yaitu keterampilan komunikasi, perawatan diri, keterampilan sosial/interpersonal, kemandirian, fungsi akademik, dan pekerjaan. Penyesuaian sosial mereka hampir mirip dengan remaja normal, namun mereka lebih rendah dalam hal imajinasi, kreativitas dan penilaian.
Mereka juga dapat dilatih untuk melakukan tugas-tugas sederhana, sedangkan untuk hal lain yang lebih kompleks mereka sangat bergantung pada bantuan orang lain. Mereka sering disebut “retarded on life support”, yaitu kelompok lemah mental yang membutuhkan bantuan penuh untuk bertahan hidup. Mereka biasanya memiliki cacat fisik yang parah dan kelainan pada sistem saraf pusat sehingga pertumbuhannya sangat terhambat.
Pengaruh Terapi Sensori Integrasi terhadap Kemampuan Berbicara pada Anak Retardasi Mental
Terdapat dampak serius akibat keterlambatan bicara pada anak, oleh karena itu perlu dipikirkan pendekatan yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berbicara anak tunagrahita agar potensinya dapat berkembang sesuai kebutuhan dan kemampuannya, yaitu Terapi Sensori Integrasi. Teori integrasi sensorik (SI) menjelaskan bagaimana otak menerima dan memproses rangsangan atau masukan sensorik dari lingkungan (Ayres, 1998). Hal ini sejalan dengan Aram (Soetjiningsih, 1995) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara anak adalah sistem input.
Menurut Ayres (1998), kemampuan mengolah atau mengatur masukan yang diterima atau input sensorik disebut dengan sensory processory. Berdasarkan data di lapangan, terdapat beberapa anak tunagrahita yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan berbicaranya setelah menjalani terapi integrasi sensorik di KIDCARE Children's Therapy Center. Hal ini didukung oleh pernyataan Delphie (2009) bahwa pengorganisasian informasi melalui sensor (taktil, proprioseptif, vestibular, gustatory, visual dan auditory) sangat berguna dalam menghasilkan respon yang bermakna.
Artinya sistem pengorganisasian informasi melalui indra sangat penting dalam proses pemerolehan bahasa anak. Sementara itu, Shellenberger & Williams (dalam Etty, 2011) menekankan pentingnya menggabungkan terapi gerak dan sensorik pada anak dengan gangguan bicara dan bahasa. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, dapat kita simpulkan bahwa pendekatan integrasi sensorik berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berbicara anak tunagrahita.
Kerangka Konsep
HIPOTESIS
Rancangan Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Identifikasi Variabel
Definisi Operasional
Kegiatan yang ditawarkan antara lain : merangkak dan melompat, maju, mundur dan kanan kiri. Kemampuan berbicara yang dimaksud adalah kemampuan anak mengucapkan kata-kata yang bermakna sehingga apa yang diucapkan anak dapat dimengerti oleh orang lain. Kemampuan berbicara diukur berdasarkan salah satu aspek kemampuan berbicara yang diungkapkan oleh Hurlock (1978), yaitu aspek pengembangan kosakata.
Perkembangan kosakata dilihat dari banyaknya kata yang mampu diucapkan anak pada kartu bergambar yang disediakan terapis. Kelompok tunagrahita dalam penelitian ini adalah anak usia 6 sampai 12 tahun yang termasuk dalam kelompok tunagrahita sedang. Dalam DSM IV (dalam Wilkins & William, 1999), anak yang dikategorikan tunagrahita dianggap mampu untuk dilatih.
Subjek Penelitian
Teknik Pengambilan Subjek
Metode Pengumpul Data
Validitas dan Reliabilitas
- Validitas Alat Ukur
- Reliabilitas Alat Ukur
Setelah aspek-aspek yang akan diukur ditentukan, peneliti mengkonstruksi item-item yang akan digunakan sebagai alat pengukuran. Pemilihan item dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi secara manual menggunakan Koefisien Korelasi Biserial Titik. Menurut Arikunt (2008), semakin tinggi koefisien korelasi maka instrumen tersebut akan semakin valid.
Secara umum, jika koefisien korelasi lebih besar dari 0,3 maka item instrumen tersebut valid. Reliabilitas merupakan suatu alat ukur yang menunjukkan konsistensi alat ukur yang bersangkutan bila diterapkan berkali-kali dan pada kesempatan yang berbeda (Hadi, 2000). Keandalan antar penilai digunakan untuk menilai konsistensi dua penilai dalam menilai kinerja individu terhadap daftar periksa yang menyediakan data nominal.
Semakin banyak kesamaan antara hasil penilaian penilai yang satu dengan penilai lainnya, maka semakin tinggi pula koefisien reliabilitas yang dihasilkan.
Prosedur Penelitian
Peneliti melakukan pengukuran variabel terikat yang pertama dengan menggunakan lembar observasi yang mengacu pada aspek kemampuan berbicara yang diungkapkan oleh Hurlock (1978) yaitu pengembangan kosakata. Pada tahap ini, selama 12 kali pertemuan, peneliti memanipulasi subjek penelitian berupa terapi Sensory Integration. Peneliti melakukan pengukuran variabel dependen yang kedua dengan menggunakan lembar observasi yang sama dengan pengukuran pertama pada subjek penelitian yang mendapat perlakuan terapi Sensory Integration.
Teknik Analisis Data
Seminarpaper “Terapi Integrasi Sensorik pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme”, dipresentasikan pada Kongres Nasional Autisme I, Hotel Sahid.
MODUL TERAPI SENSORI INTEGRASI
PROPRIOCEPTIVE (SISTEM KERJA OTOT DAN SENDI) 2. VESTIBULAR (KESEIMBANGAN)
TACTILE (SISTEM PERABAAN) 4. VISUAL (SISTEM PENGLIHATAN)
Pengertian Terapi Sensori Integrasi
Manfaat Terapi Sensori Integrasi
Informasi Sensorik (Sensory Information), antara lain
Ayres (1979) menyatakan bahwa sistem vestibular dan proprioseptif merupakan dua sistem khusus dan Ayres menyebutnya “The Hidden Sense”. Masukan proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi atau meregang, serta bagaimana sendi ditekuk, diluruskan, ditarik atau dikompresi. Melalui informasi tersebut, individu dapat mengetahui dan mengenali bagian tubuhnya serta bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak.
Ayres (1979) menyebut sistem vestibular sebagai “pusat bisnis” karena semua sistem sensorik terhubung ke sistem ini. Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam kaitannya dengan gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (gerakan dipercepat atau diperlambat), gerakan mata (okulomotor), tingkat kewaspadaan (tingkat gairah) dan emosi.