DRAF SKRIPSI
TINGKAT KERUSAKAN OLEH SERANGGA HAMA PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI MATANI, DESA PENFUI TIMUR, KECAMATAN KUPANG TENGAH, KABUPATEN
KUPANG
Oleh
HERMAN YOSEP ALANG NIM. 1904060110
KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN RISET DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS NUSA CENDANA
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI MINAT PERLINDUNGAN TANAMAN
KUPANG 2024
DRAF SKRIPSI
TINGKAT KERUSAKAN OLEH SERANGGA HAMA PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI MATANI, DESA PENFUI TIMUR, KECAMATAN KUPANG TENGAH, KABUPATEN
KUPANG
Oleh :
HERMAN YOSEP ALANG NIM. 1904060110
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Melaksanakan Penelitian pada Pendidikan Strata Satu Fakultas Pertanian
Universitas Nusa Cendana
KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN RISET DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS NUSA CENDANA
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI MINAT PERLINDUNGAN TANAMAN
KUPANG 2024
ii
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
JUDUL SKRIPSI : TINGKAT KERUSAKAN OLEH SERANGGA HAMA PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI MATANI, DESA PENFUI TIMUR, KECAMATAN KUPANG TENGAH,
KABUPATEN KUPANG
NAMA : HERMAN YOSEP ALANG
NIM : 1904060110
PROGRAM STUDI : AGROTEKNOLOGI
MINAT : PERLINDUNGAN TANAMAN
Disetujui oleh
Pembimbing I, Pembimbing II,
Ir. Titik Sri Harini, MP Rika Ludji, SP., M.Si NIP. 19650520 199003 2 001 NIP. 19750627 200501 2 002
Tanggal Persetujuan :
iii
Menyetujui, Mengetahui,
Dekan, Koordinator Prodi Agroteknologi,
Dr. Ir. Muhammad.S.M.Nur, M,Si Don. H. Kadja SP,M,Sc NIP. 19650628 198803 1 001 NIP. 19810723 2005011 002
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
JUDUL SKRIPSI : TINGKAT KERUSAKAN OLEH SERANGGA
HAMA PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI MATANI, DESA PENFUI TIMUR, KECAMATAN KUPANG TENGAH,
KABUPATEN KUPANG
NAMA : HERMAN YOSEP ALANG
NIM : 1904060110
PROGRAM STUDI : AGROTEKNOLOGI
MINAT : PERLINDUNGAN TANAMAN
Tim Penguji
Dosen Penguji I, Dosen Penguji II,
Ir. Titik Sri Harini, MP Rika Ludji, SP., M.Si NIP. 19650520 199003 2 001 NIP. 19750627 200501 2 002
Dosen Penguji III
Yasinta Letek Kleden , SP., M.S c NIP.19800318 200501 2 001
Tanggal Lulus:
iv
PERNYATAAN SKRIPSI BEBAS PLAGIAT
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Kupang, Penulis,
Herman Yosep Alang 1904060110
v
PERUNTUKAN Skripsi ini saya persembahkan kepada
1. Orang tua tercinta Bapak Silfanus Ras dan Mama Monika Siman, Kakak Nardi Lada, setra Adik Jel.
2. Almamater tercinta Program Studi Agroteknologi, Minat Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana
vi
RINGKASAN
TINGKAT KERUSAKAN OLEH SERANGGA HAMA PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI MATANI, DESA PENFUI TIMUR, KECAMATAN KUPANG TENGAH, KABUPATEN
KUPANG Oleh:
Herman Yosep Alang Dibimbing Oleh:
Ir. Titik Sri Harini, MP dan Rika Ludji, SP., M.Si Minat Perlindungan Tanaman Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana
Penelitian ini telah dilaksanakan di Matani, DesaPenfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupateng Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dari bulan September sampai Desember 2023. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerusakan oleh serangga hama pada beberapa varietas tanaman jagung.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan jarak tanam 80×20 cm (populasi 2.400 tanaman) dan terdiri atas empat perlakuan varietas yaitu Bisi-2, Betras, Arumba dan Srikandi yang diulang sebanyak empat kali dengan luas petak setiap perlakuan yaitu 5×2 m. Parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu: Jenis-jenis serangga hama, Gejala kerusakan dan Intensitas kerusakan.
Pengamatan serangga hama yang ditemukan menyerang tanaman jagung yaitu: penggerek batang jagung (Ostrinia furrnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), ulat grayak (Spodoptera frugiperda). Rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama Spodoptera frugiperda, pada beberapa varietas tanaman jagung relatif sama yakti 10,72% - 30,09%. serangan hama Spodoptera frugiperda yang cukup berat pada beberapa varietas tanaman jagung dengan rerata mencapai 30,09% yaitu terdapat pada varietas Arumba. Sedangkan intensitas kerusakan sedang terdapat pada varietas Bisi 2 dengan rerata intensitas 10,72%. Rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama Ostrinia furnacalis pada varietas Arumba mencapai 14,06% namun, secara umum masih tergolong sedang. Sedangakan intensitas kerusakan ringan terdapat pada varietas Bisi 2 dengan rerata intensitas mencapai 9,38%. Rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama H. armigera pada semua varietas jagung relatif sama yakni berkisar antara 1,09%-3,83%.
namun, secara umum masih tergolong ringan. Hal ini disebabkan larva Helicoverpa armigera yang ditemukan sedikit dan kemampuan makan masih sangat rendah dan diduga larva yang semakin banyak di areal tanaman maka tingkat kerusakan semakin tinggi, begitu pun sebaliknya.
vii
Kata kunci : Tingkat Kerusakan, Serangga Hama, Tanaman Jagung SUMMARY
This research was conducted in Matani, East Penfui Village, Central Kupang Subdistrict, Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province, from September to December 2023. The purpose of this study was to determine the level of damage by insect pests on several varieties of corn plants. The design used in this study was a group randomized design (RAK) with a spacing of 80×20 cm (population of 2,400 plants) and consisted of four treatment varieties namely Bisi-2, Betras, Arumba and Srikandi which were repeated four times with a plot area of 5×2 m for each treatment. The parameters observed in this study were:
Types of insect pests, Symptoms of damage and Intensity of damage.
Observations of insect pests found attacking corn plants are: corn stalk borer (Ostrinia furrnacalis), cob borer (Helicoverpa armigera), armyworm (Spodoptera frugiperda). The cumulative average intensity of damage to corn plants caused by insect pests Spodoptera frugiperda, on several varieties of corn plants is relatively the same yakti 10.72% - 30.09%. Spodoptera frugiperda pest attacks are quite heavy on several varieties of corn plants with an average of 30.09%, which is found in the Arumba variety. While the intensity of moderate damage is found in the Bisi 2 variety with an average intensity of 10.72%. The cumulative average intensity of damage to maize plants caused by the insect pest Ostrinia furnacalis in the Arumba variety reached 14.06% but, in general, it is still classified as moderate. While the intensity of light damage is found in the Bisi 2 variety with an average intensity of 9.38%. The cumulative average intensity of damage to maize plants caused by H. armigera on all maize varieties was relatively the same, ranging from 1.09%-3.83%. However, in general it is still classified as mild. This is due to the small number of Helicoverpa armigera larvae found and their low feeding ability, and it is suspected that the more larvae in the plant area, the higher the level of damage, and vice versa.
Keywords: Damage Level, Insect Pests, Maize Crops
viii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul : “Tingkat Kerusakan oleh Serangga Hama pada Beberapa Varietas Tanaman Jagung (Zea mays L.) Di Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang”. Penulisan skripsi ini, tidak terlepas dari bimbingan, dukungan dan motivasi dari berbagai pihak, oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Titik Sri Harini, MP sebagai pembimbing I dan Rika Ludji, SP., M.Si sebagai pembimbing II yang selalu meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu, mengarahkan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Yasinta Letek Kleden, SP., M.Sc sebagai penguji atas kritik, saran dan koreksi yang diberikan untuk kesempurnaan skripsi ini.
3. Orang tua tercinta Bapak Silfanus Ras dan Mama Monika Siman, Kakak Nardi Lada, setra Adik Jel yang selalu mendampingi, memotivasi serta mendoakan penulis.
4. Dr. Ir. Muhammad S. M. Nur, M.Si sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang
5. Don H. Kadja SP, M.Sc sebagai Koordinator Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana.
6. Ir. Titik Sri Harini, MP sebagai dosen Pembimbing Akademik
ix
7. Orang-orang terkasih Floviana, Lodovikus, Elin, dan Indri, yang dengan caranya masing-masing telah membantu penulis.
8. Teman-teman Agroteknologi V, serta rekan-rekan angkatan 2019 yang saling membantu serta semua pihak yang telah membantu, memberikan dukungan serta motivasi, dan mendoakan penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.
Kupang,
Herman Yosep Alang NIM. 1904060110
x
RIWAYAT HIDUP
xi
DAFTAR ISI
Halaman xii
Penulis bernama Herman Yosep Alang, dilahirkan di Mulu, pada tanggal 21 Mei 2000, anak dari Bapak Silfanus Ras dan Mama Monika Siman. Penulis merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Penulis menempuh pendidikan dimulai dari Pendidikan Sekolah Dasar di SDK Teong dan tamat padatahun 2013. Pada tahun yang sama Penulis melanjutkan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 6 Runus dan tamat pada tahun 2016. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan Pendidikan Selokah Menengah Kejuruan di SMK Negeri 1 Borong dan tamat pada tahun 2019. Pada tahun yang sama Penulis diterima sebagai mahasiswa di Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana melalui jalur seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan sampai dengan penulisan skripsi ini penulis masih terdaftar sebagai mahasiswa S1 di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana.
LEMBAR JUDUL... i
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI...ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI...iii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME...iv
PERUNTUKAN...vi
RINGKASAN...vii
SUMMARY... viii
KATA PENGANTAR...x
RIWAYAT HIDUP...xi
DAFTAR ISI... xii
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR GAMBAR...xv
DAFTAR LAMPIRAN...xvi
I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...1
1.2 Tujuan... 2
1.3 Manfaat... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jenis-jenis Serangga Hama pada Tanaman Jagung...3
2.1.1 Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis) ...3
2.1.2 Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera)...7
2.1.3 Ulat Grayak (Spodoptera furgiperda)...10
2.2 Gambaran Umum Tanaman Jagung (Zea mays L.)...14
2.2.1 Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)...14
2.2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung (Zea mays L)...17
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian...19
3.2 Alat dan Bahan... 19
3.3 Rancangan Penelitian...19
3.4 Prosedur Kerja...19
3.5 Identifikasi serangga hama...20
3.6 Variabel pengamatan ...21 xiii
3.7 Analisis Data...21
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis-Jenis Serangga Hama pada Lokasi Penelitian...24
4.2 Ciri-Ciri dan Morfologi Serangga Hama dan Gejala Kerusakan Tanaman Jagung... 25
4.2.1 Ciri dan Morfologi Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)....25
4.2.2 Gejala Kerusakan yang disebabkan oleh Ostrinia furnacalis...25
4.2.3 Ciri dan Morfologi Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera)...26
4.2.4 Gejala Kerusakan yang disebabkan oleh Helicoverpa armigera...27
4.2.5 Ciri dan Morfologi Ulat Grayak (Spodoptera furgiperda) ...28
4.2.6 Gejala Kerusakan yang disebabkan oleh (Spodoptera furgiperda)...28
4.3 Intensitas Kerusakan...29
4.3.1 Kumulatif Intensitas Kerusakan yang disebabkan oleh Spodoptera frugiperda...30
4.3.2 Kumulatif Intensitas Kerusakan yang disebabkan oleh Ostrinia furnacalis...31
4.3.3 Kumulatif Intensitas Kerusakan yang disebabkan oleh Helicoverpa armigera... 32
V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...34
5.2 Saran... 35
DAFTAR PUSTAKA... 36
LAMPIRAN...47
DAFTAR TABEL
xiv
No Teks Halaman 1. Jenis-Jenis Serangga Hama yang ditemukan pada beberapa Varietas
tanaman jagung... 24 2. Intensitas Kerusakan (%) yang disebabkan oleh Spodoptera frugiperda...31 3. Intensitas Kerusakan (%) yang disebabkan oleh Ostrinia furnacalis...32 4. Intensitas Kerusakan (%) yang disebabkan oleh Helicoverpa armigera....33
DAFTAR GAMBAR
xv
No Teks Halaman
1. Telur Ostrinia furnacalis...4
2. Larva Ostrinia furnacalis...4
3. Pupa Ostrinia furnacalis (a. Betina, b. Jantan)...5
4. Imago Ostrinia furnacalis... 6
5. Gejala Kerusakan oleh Ostrinia furnacalis...6
6. Telur Helicoverpa armigera...8
7. Larva Helicoverpa armigera...9
8. Gejala Kerusakan oleh Helicoverpa armigera...9
9. Pupa Helicoverpa armigera...9
10. Imago/ngengat Helicoverpa armigera...10
17. Telur Spodoptera frugiperda...11
18. Larva Spodoptera frugiperda...12
19. Pupa Spodoptera frugiperda...12
20. Imago Spodoptera frugiperda... 13
21. Gejala Kerusakan oleh Spodoptera frugiperda...13
22. Tanaman Jagung...14
23 Denah Penelitian...23
DAFTAR LAMPIRAN
xvi
No Teks Halaman
1. Data Kerusakan Tanaman akibat Ulat grayak...42
2. Data Kerusakan Tanaman akibat Penggerek Patang...43
3. Data Kerusakan Tanaman akibat Penggerek Tongkol...45
4. Tahap-tahap pelaksanaan Penelitian...47
I. PENDAHULUAN xvii
1.1 Latar belakang
Salah satu faktor yang sering menjadi kendala dalam peningkatan produktivitas tanaman jagung adalah serangan OPT. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (2016) dan Adnan (2011), terdapat beberapa jenis serangga hama pada tanaman jagung yaitu penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), belalang kembara (Locusta migratoria), lalat bibit (Atherigona exigua), ulat tanah (Agrotis ipsilon), dan ulat grayak (Spodoptera frugiperda).
Menurut Remedy (2015), di Indonesia jagung merupakan komoditas pangan yang sangat penting setelah padi. Dalam usaha peningkatkan produksi jagung penggunaan varietas unggul memegang peranan penting. Selain itu jagung berperan sebagai bahan pangan, bahan dasar industri, dan lain-lain. Jagung juga memiliki nilai gizi tidak kalah penting dibandingkan dengan beras. Selanjutnya menurut Wisnu (2016), jagung cukup memadai untuk dijadikan pangan pengganti beras atau dicampur dengan beras. Keunggulan jagung dibandingkan komoditas pangan lain adalah kandungan gizinya lebih tinggi dari beras, sumber daya alam Indonesia juga sangat mendukung untuk pembudidayaannya, harganya lebih murah dan tersedianya teknologi budidaya hingga pengolahan. Menurut Siswadi (2013), pemilihan varietas jagung dimaksudkan untuk memperoleh varietas unggul yang dapat memberi hasil yang besar bagi petani.
Berbagai strategi untuk mengurangi serangan hama pada tanaman jagung antara lain penggunaan varietas tahan dan budidaya yang optimal. Strategi ini ramah lingkungan, mudah dan murah serta dapat menekan resiko terjadinya resisten hama sasaran (Subiadi dan Sipi, 2018).
xviii
Di Kabupaten Kupang khususnya di Matani, Desa Penfui Timur belum ada informasi tentang tingkat kerusakan oleh serangan serangga hama pada beberapa varietas tanaman jagung. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang.“Tingkat Kerusakan oleh Serangga Hama pada Beberapa Varietas Tanaman Jagung di Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang”.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerusakan oleh serangga hama pada beberapa varietas tanaman jagung.
1.3 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan bagi para petani serta pihak-pihak yang membutuhkan mengenai tingkat serangan serangga hama pada beberapa varietas tanaman jagung.
xix
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jenis-jenia Serangga Hama pada Tanaman Jagung 2.1.1 Penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) a. Klasifikasi Hama
Klasifikasi penggerek batang jagung menurut Pratama et al., (2015) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Pyralidae Genus : Ostrinia
Spesies : Ostrinia furnacalis.
b. Morfologi dan Biologi Hama
Telur penggerek batang berukuran 0,90 mm. Telur diletakkan secara berkelompok di bagian bawah daun, bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda (Gambar 1). Puncak peletakan telur penggerek batang terjadi pada saat terbentuknya bunga jantan dan berakhir pada saat pematanganbiji. Sekitar 29,27% kelompok telur diletakkan di atas permukaan daun dan 70,73% di bawah permukaan daun, masing-masing pada daun ke- 4, 5, 6, 7, dan 8 dari bawah. Stadium telur berlangsung 3−4 hari. Jumlah telur yang diletakkan oleh seekor ngengat betina berkisar antara 80−140 butir/hari, bergantung padaumur tanaman dan bagian tanaman yang dimakan larva (Pangumpia et al., 2019).
xx
Gambar 1. Telur Ostrinia furnacalis (Sumber :Pangumpia et al., 2019)
Larva yang baru menetas berwarna putih bening dengan caput berwarna hitam. Larva instar pertama langsung berpencar ke bagian tanamanyang disukai.Larva terdiri atas lima instar dengan ukuran yang berbeda-beda. Larva instar I memiliki panjang 1-3 mm dengan rata-rata1,40 mm larva instar II 3,50−5 mm dengan rata-rata 4,30 mm larva instar III 7−12 mm dengan rata-rata 9,10 mm larva instar IV 13−20 mm dengan rata-rata 17,20 mm dan larva instar V 16−24 mm dengan rata-rata 21,50 mm. Rata-rata panjang larva instar terakhir adalah 21,50 mm. Larva berwarna kristal keputihan, cerah dan bertanda titik hitam pada setiap segmen abdomen (Gambar 2). Umur pupa 6-9 hari, pupa terbentuk di dalam batang dengan lama stadium bervariasi 7−9 hari. Pupa yang baru terbentuk berwarna krem, kemudian berubah menjadi kuning kecokelatan dan menjelang ngengat keluar berwarna cokelat tua (Pangumpia et al., 2019).
Gambar 2. Larva Ostrinia furnacalis (Sumber :Pangumpia et al., 2019)
xxi
Menurut Rahayu (2014), ukuran pupa betina lebih besar dari pupa jantan.
Pupa jantan dapat dibedakan dari pupa betina, yaitu pada ruas terakhir abdomen pupa betina terdapat celah yang berasal dari satu titik, sedangkan pada pupa jantan terdapat celah yang bentuknya agak bulat (Gambar 3). Lama hidup ngengat antara 2−7 hari. Ngengat jantan dapat dibedakan dengan ngengat betina dari ukurannya. Ngengat betina lebih besar daripada ngengat jantan dan warna sayap jantan lebih terang daripada betina(Gambar 4). Ruas terakhir abdomen ngengat betina juga berbeda dengan ruas terakhir abdomen ngengat jantan (Pangumpia et al., 2019).
a b
Gambar 3. Pupa Ostrinia furnacalis (a. Betina, b. Jantan) (Sumber : Syafruddin, 2011)
Ngengat aktif pada malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun. Umur imago atau ngengat dewasa 7-11 hari. Telur berwarna putih diletakkan berkelompok. Satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir. Seekor ngengat betina mampu meletakkan 602-817 butir telur. Telur menetas 3-4 hari.
Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur diletakkan pada permukaan bagian bawah daun, terutama pada daun ke 5-6. Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan. Dalam mencari makan, larva berpindah-pindah tempat. Larva muda makan pada bagian alur
xxii
bunga jantan. Setelah instar lanjut larva menggerek batang. Larva akan menjadi pupa setelah 17-30 hari (Susmawati, 2014).
Gambar 4. Imago Ostrinia furnacalis (Sumber : Syafruddin, 2011) c. Gejala Kerusakan
Gejala kerusakan yang disebabkan oleh penggerek batang jagung yaitu adanya lubang gerekan disertai kotoran penggerek batang jagung berupa serbuk yang keluar dari lubang gerekan tersebut (Gambar 5). Indikator penting dan lebih cepat dalam hubungannya dengan kehilangan hasil adalah jumlah lubang pada tanaman dibanding jumlah larva atau pupa. Gerekan yang dilakukan penggerek batang jagung akan mengurangi pergerakan air dari tanah ke bagian atas daun karena rusaknya jaringan tanaman (Heryana, 2013).
Gambar 5. Gejala Kerusakan oleh Ostrinia furnacalis (Sumber : Syafruddin, 2011)
xxiii
2.1.2 Penggerek tongkol (Helicoverpa armigera) a. Klasifikasi Hama
Klasifikasi penggerek tongkol jagung menurut Tay et al., (2013) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Noctuidae Genus : Helicoverpa
Spesies : Helicoverpa armigera
Secara umum serangga ordo Lepidoptera mempunyai 4 buah sayap yang bersisik. Selain sayap, ordo ini mempunyai badan dan kaki yang bersisik.
Lepidoptera berkembang secara holometabola, yaitu dalam perkembangannya larva akan berubah menjadi pupa dan pupa akan berubah menjadi kupu-kupu.
Larva dan serangga famili Noctuidae makan pada waktu malam hari. Larvanya mempunyai bulu yang jarang, agak pendek dan kaku. Sedangkan ngengatnya berukuran besar dengan sayap yang lebar (Pomari-Fernandes et al., 2015).
b. Morfologi dan Biologi Hama
Helicoverpa armigera merupakan serangga yang perkembangbiakannya mengalami metamorfosis sempurna, karena proses perkembangbiakannya terdiri dari empat stadia hidup, yaitu telur, larva, pupa dan imago. Pada umumnya, ngengat betina meletakkan telur pada bagian tanaman yang banyak rambut- rambutnya, seperti pucuk, batang, kelopak bunga dan tangkai bunga. Hal ini
xxiv
mengikuti karakter ngengat betina yang lebih menyukai bertelur pada permulaan yang berambut dan kasar. Telur Helicoverpa armigera berwarna kuning muda dan berbentuk setengah bulat seperti kubah (Gambar 6). Telur akan berubah warna menjadi abu-abu dan akhirnya menjadi hitam ketika akan menetas. Lama masa pra-peneluran sekitar 1 hari dan masa peneluran mencapai 10 hari. Produksi telur tertinggi saat umur ngengat 3 hari (40,56 butir). Lama stadia telur imago berkisar antara 2-4 hari (Karim et al., 2013).
Gambar 6. Telur Helicoverpa armigera (Sumber : Karim et al., 2013)
Larva yang baru menetas biasanya akan memakan jambul tongkol, kemudian membuat lubang masuk ke dalam tongkol (Gambar 8). Larva akan meninggalkan kotoran pada tongkol dan akan menciptakan iklim yang cocok untuk pertumbuhan jamur yang menghasilkan mikotoksin sehingga tongkol menjadi rusak (Gambar 7). Larva yang baru keluar dari telur setelah menetas berbentuk silinder dan tubuhnya berwarna kuning pucat. Larva Helicoverpa armigera mempunyai enam instar. Instar 1 biasanya berlangsung selama 3 hari, instar 2 selama 4 hari, instar 3 selama 2,5 hari, instar 4 selama 3,4 hari, instar 5 selama 3,6 hari dan instar 6 selama 7,8 hari (Agustin, 2014).
xxv
Gambar 7. Larva Helicoverpa armigera Gambar 8. Gejala Kerusakan oleh (Sumber :Agustin, 2014) Helicoverpa armigera
(Sumber :Agustin. 2014)
Larva ini bersifat kanibal sehingga jarang dijumpai lebih dari 2 larva dalam satu tongkol. Larva instar terakhir akan meninggalkan tongkol dan membentuk pupa dalam tanah tetapi ada juga yang berpupa didalam tongkol (Grzywacz et al., 2011) Memasuki fase pre-pupa yaitu masah dalam bentuk larva, namun hanya aktifitas makan yang berkurang larva kelihatan lemah dan pucat larva cenderung membenamkan diri dalam pasir atau tanah dan menghasilkan glandula untuk konstruksi selubung tubuhnya lama fase pre-pupa ini antara 2-4 hari. Pada saat fase pupa, Helicoverpa armigera berada dalam tanah dengan warna cokelat kekuningan maupun cokelat kemerahan (Gambar 9) dan yang tua berwarna cokelat gelap dengan panjang 15-22 mm dan lebar 4-6 mm Stadia pupa berkisar antara 11-16 hari (Kaur et al., 2014).
Gambar 9. Pupa Helicoverpa armigera (Sumber :Kaur et al., 2014)
Serangga dewasa berupa kupu ngengat yang aktif pada malam hari dan terbang cukup jauh (Trubus, 2010) Ngengat Helicoverpa armigeru memiliki sayap depan berwarna cokelat dan terdapat satu bintik hitam (Gambar 10). Sayap
xxvi
belakang bagian tepi berwarna hitam, sedangkan pangkal sayapnya berwarna putih kecokelatan antara ngengat jantan dan betina dapat dibedakan pada pola bercak sayapnya ngengat betina memiliki pola bercak pirang tua (merah).
Sedangkan pada ngengat jantan terdapat pola bercak yang berwarna kehijauan pada ujung sayapnya. Lama hidup ngengat berkisar antara 2-18 hari (Czepaket al., 2013) Panjang tubuh ngengat berkisar 18 mm dan rentangan sayapnya 30-40 mm.
Ngengat betina mampu mentaskan telur antara 200-2000 sel total perkembangan sejak dari telur sampai dewasa bertelur 11-47 hari (Srinivasan, 2010).
Gambar 10. Imago/ngengat Helicoverpa armigera (Sumber : Kaur et al., 2014)
2.1.3 Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda).
a. Klasifikasi Hama
Klasifikasi ulat grayak (Spodoptera frugiperda) menurut Tora (2019) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Noctuidae Genus : Spodoptera
Spesies : Spodoptera frugiperda xxvii
b. Morfologi dan Biologi Hama
Hama Spodpotera frugiperda memiliki garis berwarna cerah di sub dorsal tubuh, garis berwarna pucat di dorsal tubuh, garis tebal seperti pita di bagian lateral tubuh, dan pada segmen terakhir abdomen terdapat 4 titik hitam membentuk segi empat, tidak memiliki tonjolan halus pada integumen tubuh, memiliki struktur garis yang lebar pada bagian tepi tubuh. Pada bagian kepala terdapat garis membentuk huruf Y terbalik, yang membedakannya dengan jenis Spodoptera litura dan siklus hidup hama ini berlangsung selama 1 bulan (Kementrian Pertanian – Direktorat Jendral Petanian, 2019).
Ngengat betina meletakan telur pada permukaan atau bawa daun jagung.Telur dari Spodoptera frugiperda memiliki bentuk bulat dengan warna kuning kecoklatan, dengan ukuran 0,475 mm (Gambar 11). kisaran waktu untuk menetas yaitu 1-2 hari dengan suhu rata-rata 27,55°C dengan kelembapan udara rata-rata 54%. Telur yang kemudia akan menetas berwarna kehitaman yang menandakan embrio telah matang. Telur diletakan secara secara kelompok yang berkisar 200-300 (Nurfauziah, 2020).
Gambar 11. Telur Spodoptera frugiperda (Sumber : Amalia et al., 2022)
Larva Spodopters frugiperda awal berwarna hijau pucat atau krem dan akan berubah warna menjadi semakin pekat pada instar akhir. Pada instar 3 ciri khas Spodoptera frugiperda sudah terlihat jelas, dan semakin jelas pada instar 4
xxviii
(Gambar 12). Pupa berwarna cokelat gelap biasanya berada di permukaan tanah, masa berpupa berlangsung selama 12-14 hari sebelum tahap dewasa muncul (Gambar 13) (Hardiyanti, 2012).
Gambar 12. Larva Spodoptera frugiperda (Sumber : Hardiyanti, 2012)
Imago atau ngengat, memiliki bentangan sayap selebar 3-4 cm, sayap bagian depan berwarna cokelat gelap, sedangkan sayap belakang berwarna putih keabuan. Ngengat hidup 2-3 minggu sebelum mati. Ngengat betina dalam satu siklus hidupnya mampu bertelur hingga 1000 telur (Nonci et al, 2019).
Gambar 13. Pupa Spodoptera frugiperda (Sumber : Sano, 2013)
Stadia imago berkisar antara 5,76 ± 1, 88 hari. Imago jantan dan betina dapat dibedakan dengan karakter pada sayap depan (Gambar 14). Pada sayap depan serangga dewasa jantan Spodoptera frugiperda terdapat spot berbentuk oval dan bercak seperti ginjal serta garis hitam seperti jam pasir pada ujung sayap (Sano,2013).
xxix
Gambar 14. Imago Spodoptera frugiperda (Sumber : Mahajan, 2014)
c. Gejala Kerusakan
Spodoptera frugiperda merusak tanaman jagung dengan cara larva mengerek dan. Larva instar 1 awalnya memakan jaringan daun dan meninggalkan lapisan epidermis yang transparan. Larva instar 2 dan 3 membuat lubang gerekan pada daun dan memakan daun dari tepi hingga ke bagian dalam (Gambar 19). Larva Spodoptera frugiperda mempunyai sifat kanibal sehingga larva yang ditemukan pada satu tanaman jagung antara 1-2 larva. Perilaku kanibal dimiliki oleh larva instar 2 dan 3. Larva instar akhir dapat menyebabkan kerusakan berat yang seringkali hanya menyisakan tulang daun dan batang tanaman jagung (Mahajan, 2014).
Gambar 15. Gejala Kerusakan oleh Spodoptera frugiperda (Sumber : Mahajan, 2014)
xxx
2.2 Gambaran Umum Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn (Bilman, 2011).Tana man jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman rumput-rumputan dan berbiji tunggal (monokotil). Jagung merupakan tanaman rumput kuat, sedikit berumpun dengan batang kasar dan tingginya berkisar 0,6-3 m (Gambar 16) Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan musiman dengan umur ± 3 bulan (Nuridayanti, 2011).
Gambar 16. Tanaman Jagung (Sumber: Bilman, 2011) 2.2.1 Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays L.) a. Akar
Tanaman jagung berakar serabut dan memiliki sistem perakaran yang terdiri dari tiga bagian yaitu akar seminal, akar adventif, dan akar penyangga atau kait.Akar seminal adalah akar yang tumbuh ke bawah pada saat akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Saat plumula muncul ke permukaan tanah pertumbuhan akar seminal akan melambat dan akan berhenti pertumbuhan akar seminal pada saat tanaman berumur 10-18 hari setelah berkecambah. Akar
xxxi
adventif adalah akar yang tumbuh keatas secara berurutan dari tiap buku antara 7- 10 buku yang berasal perkembangan dari buku di ujung mesokotil. Akar adventif akan berkembang menjadi serabut dan tebal. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Akar penyangga atau kait adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah, akar penyangga berperan untuk menjaga agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air. Faktor yang mempengaruhi perkembangan akar jagung berdasar kedalaman dan penyebarannya adalah varietas, pengolahan tanah, fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah dan pemupukan (Subekti, et al., 2012).
b. Batang
Batang tanaman jagung tidak bercabang dan terdiri atas ruas-ruas. Ruas- ruas bagian atas berbentuk silindris, sedangkan bagian bawah berbentuk bulat pipih yang terdiri dari sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang akan berkembang menjadi tongkol. Batang jagung memiliki tiga komponen jaringan utama yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam lingkaran batang dengan kepadatan bundles yang tinggi namun mendekati pusat batang kepadatan bundles akan berkurang. Penyebab batang tanaman jagung tahan rebah dikarenakan konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi dibawah epidermis. Genotipe jagung yang mempunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler (Purba, 2011). Menurut Subekti et al. (2012) pada batang jagung terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga berbentuk roset, dari buku ruas
xxxii
muncul pelepah daun yang membungkus ruas tanaman jagung. Batang jagung tidak banyak mengandung lignin namun batang jagung cukup kokoh.
c. Daun
Daun tanaman jagung memiliki panjang yang bervariasi antara 30-150 cm dan lebar 4-15 cm. daun muncul dari buku-buku batang, sedangkan pelepah menyelubungi ruas batang untuk memperkuat batang dan ibu tulang daun yang sangat keras. Tepi helaian daun tanaman jagung pada umumnya halus atau rata.
Daun tanaman jagung berbentuk memanjang merupakan banun pita (ligulatus), ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer). Tanaman jagung memiliki helai daun, sudut daun, bentuk ujung daun yang beragam dan terdapat dua tipe daun jagung, yaitu tegak (erect) dan menggantung (pendant) Terdapat ligula diantara pelepah daun dan helai daun. Ibu tulang daun sejajar dengan tulang daun.
Jagung memiliki stomata berbentuk memanjang (halter). Setiap stomata dikelilingi sel epidermis berbentuk kipas yang berperan penting dalam respon tanaman dalam deficit air pada sel-sel daun (Subekti et al., 2012).
d. Bunga
Tanaman jagung termasuk tanaman berumah satu (monoecious) yaitu dimana bunga jantan dan bunga betina terpisah dalam satu tanaman. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh (aplikal) di ujung tanaman. Bunga betina berkembang dari pertengahan batang (Purba, 2011).Tanaman jagung memiliki bunga jantan (staminate) terbentuk pada ujung batang, sedangkan bunga betina (pistilate) terletak pada pertengahan batang. Tanaman jagung termasuk penyerbukan silang dikarenakan sifatnya yang protrandy dan bunga jantan dan bunga betina terpisah (Sulaiman et al., 2018).
xxxiii
e. Buah
Buah jagung terdiri dari tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna, dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Umumnya buah jagung tersusun dalam barisan yang melekat secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 baris biji Syafruddin (2011).
2.2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung (Zea mays L) a. Iklim
Tanaman jagung dapat tumbuh baik pada daerah yang beriklim sedang hingga daerah beriklim subtropis.Tanaman jagung menghendaki penyinaran matahari yang penuh dan suhu yang diinginkan berkisar 21-34°C akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum 23-27°C (Budiman, 2016). Tanaman jagung membutuhkan sinar matahari penuh, suhu optimum antara 26°C-30°C, curah hujan yang dikehendaki 8-200 mm/bulan dengan curah hujan yang optimal adalah 1200-1500 mm/tahun. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya maka akan menjadi terhambat (Iskandar, 2013).
b. Tanah
Menurut Raihan (2010), tanaman jagung dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan memiliki tingkat keasaman pH tanah antara 5,5-7,5 dengan pH optimal yang diinginkan berkisar 5,5-6,5. Menurut Wirosoedarmo et al., (2011).
Tanaman jagung menghendaki tanah kaya unsur hara. Tanaman jagung membutuhkan unsur hara terutama nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak.
xxxiv
Tanaman jagung yang banyak ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah hingga daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 mdpl. Daerah dengan ketinggian antara 0-600 mdpl merupakan ketinggian yang optimal bagi pertumbuhan tanaman jagung (Budiman, 2016).
xxxv
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dari bulan September sampai Desember 2023.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yangdigunakan dalam penelitian ini yaitu alat tulis, kamera, meteran, sekop/cangkul, sabit/parang, ember. Bahan yang digunakan yaitu air, dan benih jagung (Bisi-2, Betras, Arumba, Srikandi).
3.3 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm (populasi 2.400 tanaman) dan terdiri atas empat perlakuan varietas yaitu Bisi-2, Betras, Arumba dan Srikandi yang diulangi sebanyak empat kali (Gambar 17). Dengan luas petak setiap perlakuan yaitu 5×2 m.
3.4 Prosedur Kerja
Adapun beberapa tahap pelaksanaan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1. Survei lokasi penelitian
Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan survei lokasi penelitian di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menentukan tempat pengambilan sampel.
xxxvi
2. Persiapan lahan
Lahan dibersihkan dari semak atau rumput dan sisa tumbuhan produksi sebelumnya yang tumbuh pada lahan yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Pembersihan lahan ini dilakukan dengan pembabatan, pencabuatan dan pembakaran sisa-sisa tanaman, lalau tanah diolah dengan pengolahan tanah sempurnadengan menggunakan cangkul atau sekop.
Selanjutnya pembuatan petakan dengan jumlah petakan 16 petak, setiap petak berukuran 5×2 m, setelah itu pembuatan larikan atau jalur tanam.
3. Penanaman dan Pemeliharaan
Setelah persiapan lahan selesai langkah selanjutnya adalah penanama, dengan menanam tiga biji jagung perlubang tanam, dan melakukan pemeliharaan tanaman jagung yang meliputi penyiangan gulma serta penyiraman, yang dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore.
4. Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap minggu mulai 14 HST sampai menjelang panen. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati secara langsung jenis-jenis serangga hama, gejala kerusakan, intensitas kerusakan pada beberpa varietas tanaman jagung serta menghitung dan mencatat jumlah tanaman yang terserang pada setiap ulangan.
3.5 Identifikasi Serangga Hama
Serangga hama yang ditemukan di lapangan difoto dan diidentifikasi dengan mengacu pada buku kunci determinasi serangga hama dan literatur- literatur yang berhubungan dengan identifikasi serangga hama.
xxxvii
3.6 Variabel pengamatan
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Jenis-jenis serangga hama
2. Gejala kerusakan
3. Intensitas kerusakan oleh masing-masing hama 3.7 Analisis Data
Data hasil pengamatan di lapangan untuk gejala kerusakan dan jenis-jenis serangga hama pada tanaman jagung dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk foto, dan dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA)
Untuk menghitung intensitas kerusakan, menggunakan rumus intensitas kerusakan tidak mutlak (Bagariang et al., 2020).
IK = ∑
Keterangan :
IK : Intensitas kerusakan tidak mutlak (%)
n : jumlah bagian tanaman/tanaman yang diamati pada skala kerusakan tertentu
v : skala kerusakan serangan oleh OPT N : jumlah tanaman keseluruhan yang diamati z : skala kerusakan tertinggi
Nilai skala kerusakan untuk tiap kerusakan tidak mutlak yaitu antara lain : 0= Tidak ada kerusakan
1= Terdapat kerusakan 0,1-20%
3 = Terdapat kerusakan 21-40%
xxxviii
5 = Terdapat kerusakan 41-60%
7 = Terdapat kerusakan 61-80%
9 = Terdapat kerusakan 81-100%
Untuk hama yang menimbulkan gejala kerusakan mutlak, dapat menggunakan rumus:
Keterangan:
IK: Intensitas kerusakan mutlak (%)
a : Banyaknya contoh (akar, batang, daun, buah) yang rusak mutlak b : Banyaknya contoh yang tidak rusak (sehat)
xxxix
5m 2m
B1
B2
B3
B4
Gambar 17. Denah Penelitian Keterangan:
B : Blok/Ulangan U1 : Varietas Betras U2 : Varietas Bisi-2 U3 : Varietas Srikandi U4 : Varietas Arumba
xl
U1 U4 U3 U2
U2 U3 U1 U4
U4 U2 U3 U1
U3 U1 U4 U2
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis-jenis Serangga Hama pada Lokasi Penelitian
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan ditemukan beberapa serangga hama pada empat varietas tanaman jagung. Dari berbagai jenis serangga hama yang ditemukan tersebut data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Jenis-jenis Serangga Hama yang Ditemukan pada beberapa Varietas Tanaman Jagung
No Varietas Ordo Famili Spesies
1. Bisi-2 Lepidoptera Pyralidae Noctuidae Noctuidae
Ostrinia furnacalis Helicoverpa armigera Spodoptera frugiperda 2. Betras Lepidoptera Pyralidae
Noctuidae Noctuidae
Ostrinia furnacalis Helicoverpa armigera Spodoptera frugiperda 3. Arumba Lepidoptera Pyralidae
Noctuidae Noctuidae
Ostrinia furnacalis Helicoverpa armigera Spodoptera frugiperda 4. Srikandi Lepidoptera Pyralidae
Noctuidae Noctuidae
Ostrinia furnacalis Helicoverpa armigera Spodoptera frugiperda
xli
4.2. Ciri-ciri Morfologi Serangga Hama dan Gejala Kerusakan Tanaman 4.2.1. Ciri dan Morfologi Ostrinia furnacalis
Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan larva penggerek batang jagung (O. furnacalis) dengan ciri-ciri larva berwarna putih kristal yang cerah (Gambar 18a), dan pada setiap sekmen tubuh terdapat dua bulatan besar yang berwarna hitam yang ditumbuhi bulu halus dan kepala berwarna hitam (Gambar 18). Hal ini sesuai dengan laporan Permadi et al. (2019), yang menyatakan bahwa kepala Ostrinia furnacalis berwarna hitam. Tubuh larva Ostrinia furnacalis berwarna kristal keputihan, cerah dan bertanda titik hitam pada setiap sekmen abdomen.
Pada setiap titik hitam terdapat rambut halus seperti benang (Maya et al., 2021).
(a) (b)
Gambar 18. Larva Ostrinia furnacalis: a, Hasil penelitian; b. Larva Ostrinia furnacalis Berdasarkan Literatur (Pangumpia et al., 2019)
4.2.2 Gejala Kerusakan yang disebabkan oleh Ostrinia furnacalis
Berdasarkan hasil pengamatan gejala kerusakan tanaman jagung oleh Ostrinia furnacalis pada instar awal ditandai dengan adanya lubang pada daun tanaman jagung yang mempunyai ciri khas tersendiri seperti lubang-lubang kecil pada daun tanaman jagung yang ditunjukan pada (Gambar 19a), dan adanya lubang bekas gerekan pada batang akibat serangan larva instar lanjut dan di setiap bekas gerekan meninggalkan serbuk sisa hasil gerekan, tanaman jagung yang
xlii
terserang menjadi rusak kemudian patah sehingga aliran makanan terhambat (Gambar 19).
a. (b) (c)
Gambar 19. Gejala Kerusakan yang Disebabkan oleh O. furnacalis: a,b :Hasil Penelitian; c. Gejala Kerusakan yang Disebabkan oleh Ostrinia furnacalis Berdasarkan literatur (Syafruddin, 2011)
Pangumpia et al. (2018) menyatakan bahwa larva instar I, II, dan III akan menimbulkan kerusakan pada daun dan bunga jantan, dan pada saat memasuki fase pertumbuhan generatif larva instar IV dan V akan mulai menyerang batang.
Batang tanaman jagung yang terserang biasanya patah-patah kemudian tanaman mati karena terhentinya translokasi hara dari akar tanaman ke daun. Kehilangan hasil terbesar ketika kerusakan terjadi pada fase reproduktif.
4.2.3 Ciri dan Morfologi Helicoverpa armigera
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwalarva Helicoverpa armigera memiliki warna tubuh cokelat kehitaman (Gambar 20a), terdapat bulu- bulu halus pada tubuhnya, dan terdapat garis pucat memanjang pada sisi tubuh kanan dan kiri (Gambar 20b), kepala berwarna cokelat muda dengan tipe kepala hypognathous dan mempunyai mulut tipe penggigit-pengunyah (Gambar 20a).
Hal ini dilaporkan juga oleh Baliadi dan Tengkano (2018), bahwa tubuh larva sedikit berbulu, larva mempunyai ciri garis memanjang pucat pada kedua sisi badanya.Warna larva tua bervariasi hijau kekuning-kuningan, hijau cokelat atau agak hitam kecokelatan (Gambar 20b).
xliii
(a) (b) (c)
Gambar 20. Larva Helicoverpa armigera: a,b :Hasil penelitian; c. Larva Helicoverpa armigera Berdasarkan Literatur (Agustin, 2014) 4.2.4 Gejala Kerusakan yang disebabkan oleh Helicoverpa armigera
Berdasarkan hasil pengamatan gejala kerusakan yang disebabkan oleh penggerek tongkol jagung yaitu adanya bekas gerekan di bagian jambul tongkol kemudian larva membuat lubang masuk ke dalam tongkol dan memakan biji jagung (Gambar 21).
(a) (b)
Gambar 21. Gejala yang Disebabkan oleh Helicoverpa armigera: a, :Hasil Penelitian; b. Gejala Kerusakan Disebabkan oleh Helicoverpa
armigera Berdasarkan literatur (Agustin, 2014)
Menurut Sarwono et al. (2003) gejala serangan oleh larva Helicoverpa armigera dimulai pada saat pembentukan kucup bunga dan buah muda. Larva yang masuk kedalam buah muda, menggerek tongkol dan memakan biji jagung.
Helicoverpa armigera yang tidak berhasil masuk ke dalam tongkol jagung akan merusak daun jagung yang masih muda (Agustin, 2014)
xliv
4.2.5 Ciri dan Morfologi Spodoptera frugiperda
Berdasarkan pengamatan di lapangan larva Spodoptera frugiperda memiliki tubuh berwarna cokelat dengan adanya bintik-bintik kecil berwarna hitam pada permukaan tubuh, pada bagian kepala berwarna hitam kecokelatan, terdapat bentuk huruf Y terbalik pada bagian kepala (Gambar 22a). Mempunyai tipe alat mulut penggigit-pengunyah dan kepala tipe hypognathous (Gambar 22).
(a) (b)
Gambar 22. Larva Spodoptera frugiperda: a, :Hasil penelitian; b. Larva Spodoptera frugiperda Berdasarkan literatur (Hardiyanti, 2012) Menurut Nociet al., (2019) larva muda berwarna pucat, kemudian menjadi cokelat hingga hijau muda dan berubah menjadi lebih gelap pada saat perkembagan akhir. Pada larva Spodoptera frugiperda akan tampak empat titik hitam yang membentuk persegi di sekmen kedua dari sekmen terahkir, setiap titik hitam memiliki rambut pendek. Kepala berwarna gelap, terdapat bentuk huruf Y terbalik berwarna terang di bagian depan kepala dengan tipe kepala hypognathous.
Serangga Ordo Lepidoptera memiliki mulut tipe pengisap pada fase imago dan mulut tipe pengigit-pengunyah pada fase larva.
4.2.6 Gejala Kerusakan yang disebabkan oleh Spodoptera frugiperda
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui terlihat pada daun muda terdapat gigitan larva muda yang biasanya membekas berwarna putih atau teransparan pada daun jagung yang masih muda kemudian larva tersebut masuk kedalam daun tanaman jagung yang masih menggulung dan memakan daun tersebut hingga
xlv
tanaman tidak bisa melakukan pembentukan daun muda, dan terdapat kotoran yang menyerupai serbuk gergaji di sekitar gerekannya (Gambar 23a).
(a) (b)
Gambar 23.Gejala Kerusakan yang Disebabkan oleh S. frugiperda: a. :Hasil Penenlitian; b. Gejala Kerusakan yang Disebabkan S. frugiperda
Berdasarkan literatur (Mahajan, 2014)
Menurut Capinera, (2018) gejala kerusakan yang disebabkan oleh Spodoptera frugiperda ditandai adanya bekas gerekan dengan meninggalkan serbuk yang menyerupai serbuk gergaji pada permukaan atas daun, atau di sekitar pucuk tanaman jagung (Gambar 23). Pada awalnya, larva akan memakan jarigan daun dari satu sisi, kemudian setelah menjadi instar 2 dan 3, larva akan membuat lubang dengan memakan bagian pinggir daun menuju tengah. Larva yang sudah menuju instar akhir akan menyebakan tanaman menjadi gundul, karena hanya menyisakan tulang rusuk dan tangkainya, atau penampilan tanaman jagung menjadi rusak.
4.3 Intensitas Kerusakan
Pengamatan terhadap intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangan nama O. furnacalis, H. armigera, S. frugiperda dilakukan sebanyak 12 kali dengan interval waktu satu minggu satu kali pengamatan pada setiap 16 petak pengamatan. Rerata kumulatif intensitas kerursakan (%) oleh serangga hama S. frugiperda O. furnacalis, H. armigera pada tanaman jagung dapat di lihat pada Tabel 2,3 dan 4.
xlvi
4.3.1 Kumulatif Intensitas Kerusakan yang disebabkan oleh Spodoptera frugiperda
Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama Spodoptera frugiperda, pada beberapa varietas tanaman jagung relatif sama yakti 3,94% - 8,62%. Dari data yang ada pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa serangan hama Spodoptera frugiperda yang tertinggi pada beberapa varietas tanaman jagung dengan rerata mencapai 8,62% yaitu terdapat pada varietas Arumba. Pada varietas Arumba serangan hama Spodoptera frugiperda mengalami peningkatan serangan dari ulangan I sampe ulangan iv pada minggu ke-12. Hal ini diduga karena di lapangan larva Spodoptera frugiperda mempunyai tingkat makan yang paling tinggi dibandingkan serangga hama lainnya pada beberapa varietas tanaman jagung sehingga dapat menyebabkan intensitas kerusakan selalu mengalami peningkatan. Menurut Sari (2020), Spodoptera frugiperda memiliki tingkat kerusakan 10 kali lipat dibanding spesies Spodoptera sp. lainya dalam memakan tanaman. Untuk spesies Spodoptera sp. lainya banyak makan di waktu malam hari saja sedangkan pada siang harinya tidur dan sembunyi, berdeda dengan Spodoptera frugiperda selalu makan tanaman jagung disepanjang waktu siang dan malam hari tidak berhenti. Sedangkan intensitas kerusakan sedang terdapat pada varietas Bisi 2 dengan rerata intensitas 10,72%. Hal ini karena pada varietas Bisi 2 ditemukan hanya sedikit larva S. frugiperda dan kemampuan makan masih sangat rendah. Hal ini diduga bahwa varietas Bisi 2 memiliki sifat morfologi yang tidak disukai oleh hama S. frugiperda. Menurut Aqil, et al. (2012) morfologi jagung varietas Bisi 2 yaitu batang jagung tinggi dan tegap, warna batang hijau, daun jagung panjang, lebar dan terkulai, warna daun hijau cerah,
xlvii
tahan kerebahan, kedudukan tongkol di tengah-tengah batang, kelobot menutup tongkol dengan baik dan trikoma pada bisi 2 lebih rapat atau padat sehingga tidak disukai oleh serangga hama.
Tabel 2 Kumulatif Intensitas Kerusakan (%) yang disebabkan oleh Spodoptera frugiperda
Perlakuan Kelompok Total Perlakuan Rerata
Perlakuan
I II III IV
U1(Betras) 6,02 3,70 0,00 6,02 15,74 3,94a
U2(Bisi 2) 5,56 7,64 4,63 7,87 25,69 6,42a
U3(Serikandi) 2,08 7,64 7,56 5,32 22,61 5,65a
U4(Arumba) 6,48 8,80 9,03 10,19 34,50 8,62a
Total Kelompok 20,14 27,78 21,22 29,40 98,54
Rerata Kelompok 5,03 6,94 5,30 7,35 6,16
4.3.2 Kumulatif Intensitas Kerusakan yang disebabkan oleh Ostrinia furnacalis
Rerata kumulatif intensitas kerusakan akibat serangan Ostrinia furnacalis pada beberapa varietas tanaman jagung mengalami peningkatan serangan dari ulangan I sampe ulangan iv pada minggu ke-12. Dari data pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa serangan pada varietas Arumba dan Serikandi sama-sama mencapai 4,69 % namun, secara umum masih tergolong ringan. Kerusakan pada varietas Arumba dan Serikandi oleh O. furnacalis disebabkan karena banyak terdapat larva O. furnacalis pada varietas Arumba dan Serikandi dan memiliki kemampuan makan yang sangat besar. Faktor lain diduga, O. furnacalis menemukan inang yang sesuai dan cocok sebagai pakan untuk kehidupan dan perkembangbiakan secara optimal. Menurut Jumar (2000), makanan merupakan sumber gizi yang digunakan oleh serangga hama untuk hidup dan berkembang. Jika makanan tersedia dengan kualitas dan kuantitas yang cukup maka larva serangga hama akan naik dengan cepat. Sedangakan intensitas kerusakan ringan terdapat pada varietas Bisi 2 dengan rerata intensitas mencapai 9,38%. Hal ini karena pada varietas Bisi
xlviii
2 ditemukan sedikit larva O. furnacalis dan kemampuan makan masih sangat rendah dan diduga bahwa varietas Bisi 2 memiliki sifat morfologi yang tidak disukai oleh hama. Hal ini sejalan pendapat Aqil at al (2012) pada Tabel 5 bahwa morfologi jagung varietas Bisi 2 yaitu batang jagung tinggi dan tegap, warna batang hijau, daun jagung panjang, lebar dan terkulai, warna daun hijau cerah, tahan kerebahan, kedudukan tongkol di tengah-tengah batang, kelobot menutup tongkol dengan baik dan trikoma pada bisi 2 lebih rapat atau padat sehingga tidak disukai oleh serangga hama.
Tabel 3 Kumulatif Intensitas Kerusakan (%) yang disebabkan oleh Ostrinia furnacalis
Perlakuan Kelompok Total
Perlakuan Rerata Perlakuan
I II III IV
U1(Betras) 4,17 2,08 4,17 4,17 14,58 3,65a
U2(Bisi 2) 4,17 4,17 0,00 4,17 12,50 3,13a
U3(Serikandi) 2,08 6,25 6,25 4,17 18,75 4,69a
U4(Arumba) 4,17 4,17 4,17 6,25 18,75 4,69a
Total Kelompok 14,58 16,67 14,58 18,75 64,58
Rerata
Kelompok 3,65 4,17 3,65 4,69 4,04
4.3.3 Kumulatif Intensitas Kerusakan yang disebabkan oleh Helicoverpa armigera
Rerata kumulatif intensitas kerusakan akibat serangan Helicoverpa armigera pada beberapa varietas tanaman jagung mengalami peningkatan serangan dari ulangan I sampe ulangan iv pada minggu ke-12. Dari data pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa serangan oleh H. armigera pada semua varietas jagung relatif sama yakni berkisar antara 1,09%-3,29%. namun, secara umum masih tergolong ringan. Hal ini disebabkan larva Helicoverpa armigera yang ditemukan sedikit dan kemampuan makan masih sangat rendah dan diduga larva yang semakin banyak di areal tanaman maka tingkat kerusakan semakin tinggi,
xlix
begitu pun sebaliknya. Larva yang semakin berkurang atau sedikit dapat mengurangi intensitas kerusakan pada tanaman jagung. Hal ini sejalan dengan pendapat Rondonuwu (2007) yang menyatakan bahwa intensitas kerusakan pada umumnya mengikuti keadaan organisme penyebab kerusakan. Makin tinggi organisme pengganggu tanaman maka kerusakan yang ditimbulkan juga semakin besar.
Tabel 4 Kumulatif Intensitas Kerusakan (%) yang disebabkan oleh Helicoverpa armigera
Perlakuan Kelompok Total
Perlakuan
Rerata Perlakuan
I II III IV
U1(Betras) 0,00 2,13 2,17 4,35 8,65 2,16
U2(Bisi 2) 2,17 2,17 0,00 0,00 4,35 1,09
U3(Serikandi) 0,00 2,22 4,44 2,17 8,84 2,21
U4(Arumba) 2,17 4,35 2,17 4,44 13,14 3,29
Total Kelompok 4,35 10,87 8,79 10,97 34,98
Rerata Kelompok 1,09 2,72 2,20 2,74 2,19
l
V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
1. Di temukan serangga hama yang menyerang tanaman jagung yaitu penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), pengerek tongkol (Helicoverpa armigera), ulat grayak (Spodoptera frugiperda)
2. Rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama Spodoptera frugiperda, pada beberapa varietas tanaman jagung relatif sama yakti 10,72% - 30,09%. serangan hama Spodoptera frugiperda yang cukup berat pada beberapa varietas tanaman jagung dengan rerata mencapai 30,09% yaitu terdapat pada varietas Arumba. Sedangkan intensitas kerusakan sedang terdapat pada varietas Bisi 2 dengan rerata intensitas 10,72%.
3. Rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama Ostrinia furnacalis pada varietas Arumba mencapai 14,06% namun, secara umum masih tergolong sedang. Sedangakan intensitas kerusakan ringan terdapat pada varietas Bisi 2 dengan rerata intensitas mencapai 9,38%.
4. Rerata kumulatif intensitas kerusakan tanaman jagung yang disebabkan oleh serangga hama H. armigera pada semua varietas jagung relatif sama yakni berkisar antara 1,09%-3,83%. namun, secara umum masih tergolong ringan. Hal ini disebabkan larva Helicoverpa armigera yang ditemukan sedikit dan kemampuan makan masih sangat rendah dan diduga larva yang
li
semakin banyak di areal tanaman maka tingkat kerusakan semakin tinggi, begitu pun sebaliknya.
5.2 Saran
Disarankan untuk penelitian selanjutnya yaitu pemantauan sejak dini terhadap beberapa hama pada tanaman jagung agar dapat dilakukan tindakan pengendalian untuk menekan kerusakan tanaman.
lii
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, A.M. 2011. Manajemen Musuh Alami Hama Utama Tanaman Jagung.
Seminar nasional serelia 2011. Balai Penelitian Tanaman Serelia.
Amalia, R. P., Sugiarto, S., & Surjana, T. 2022. Pengaruh Esktrak Daun Sirsak (Anonna Muricata L.) Terhadap Mortalitas dan Intensitas Serangan Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda) Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.).
Jurnal Iliah Wahana Pendidikan, 8(June), 176–186.
Agustin. (2014). Morfologi dan perkembangan larva Helicoverpa armigera pada berbagai stadium instar. Jurnal Entomologi Indonesia, 8(2), 55-63.
Bilman, 2011. Analisis Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.), Pergeseran Komposisi Gulma pada Beberapa Jarak Tanam.
Budiman, H. 2016. Budidaya Jagung Organik Varietas Baru yang Kian Diburu.
Pustaka Baru Press, Yogyakarta.
Baliadi, Y., & Tengkano, W. (2018). Ulat Pemakan Polong Helicoverpa Armigera Hubner: Biologi, Perubahan Status Dan Pengendaliannya Pada Tanaman Kedelai. Bul. Plawija, 16, 37–50.
Czepak, Cecilia, Karina Cordeiro Albernaz, Lucia Madalena Vivan, Humberto Oliveira Guimaraes dan Tiago Carvalhais. 2013. First Reported Occurrence of Helicoverpa armigera (Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae). Journal of Peq., Agropec., Goiania. 43(1): 110-113.
Capinera, J, L. (2018). Fall armyworm, Spodoptera frugiperda (J.E. Smith). UF/
IFAS Exension, availabel online at http://entnemdept.ufl.edu/creatures/
filed/fall _armyworm.htm (Diakses Oktober 2021)
liii
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2018). Laporan Tingkat Kerusakan Tanaman. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Grzywacz D, Rabindra RJ, Brown M, Jones KA, Parnell M. 2011. The Helicoverpa armigera NPV Manual Production. FAO.
Hardiyanti, 2012. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Heryana, R. 2013. Penggerek Batang Jagung Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Crambidae): Tingkat Serangan di Wilayah Bogor dan Siklus Hidupnya di Laboratorium [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Iskandar, D. 2013. Budidaya Tanaman Jagung. Suka Abadi. Yogyakarta. 96 hal.
Karim, A.I., Iswati, R. dan Zakaria, F., 2013. Tingkat Serangan Hama Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera Hubner) pada Jagung Varietas Bisi-2 dan Lokal Motorokiki. http: helic/2473-2466-1-PB.pdf. (diakses 26 Januari 2016).
Kaur B, Gupta VK, Jindal V. 2014. Molecular filogenetic analysis of Indian strains of Helicoverpa armigera (Hear NPV). Indian Journal of Biotechnology 13:186−194.
Kementerian Pertanian – Direktorat Jenderal Pertanian. (2019). Profil dan Siklus Hidup Spodoptera frugiperda. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Maghfiroh. A., dan D.K. Binawati. 2012. Pengendalian Hama Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Pada Tanaman Jagung Dengan Bioinsektisida Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura). Jurnal 06 (2) :23-26.
Mahajan, R, T. 2014. Preferensi Spodoptera frugiperda. Terhadap Beberapa Pakan. Jurnal Pertanian dan Biologi-Universitas Medan Area. 1(1). Hlm:
29-30.
liv
Maruapey, A. 2011. Pengaruh Jarak Tanam dan Jenis Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan Gulma dan Hasil Jagung Manis. Seminar Nasional Serealia.
Yogyakarta. Hal: 103–12.
Maya, Ramadhan, T. H., & Hendarti, I. (2021). Biologi Ostrinia furnacalis (Lepid optera: Pyralidae) yang Dipelihara dengan Pakan Buatan di Laboratorium.
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian, 10(1), 1–14.
Nonci, N., Kalgutny, Hary, S., Mirsam, H., Muis, A., Azrai, M., dan Aqil, M.
2019. Pengenalan Fall Armyworm (Spodoptera furgiperda J.E. Smith) Hama Baru pada Tanaman Jagung di Indonesia. In Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Serealia(Vol.73).
Nonci, N., Suryani, L., & Wardana, I. 2019. Studi Siklus Hidup dan Karakteristik Ngengat Imago spodoptera frugiperda.Penerbit Entomologi Indonesia.Yogyakarta.
Nuridayanti, 2011. Uji Toksisitas Akut Ekstrak Air Rambut Jagung (Zea mays L).
Nurfauziah, A. 2020. Studi Perkembangan Embrio dan Penetasan Telur Serangga.
Bandung: Penerbit Biologi Nusantara.
Oktarina, R. G. (2017). Status Resistensi Hama Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda.) Asal Karangploso Malang Terhadap Insektisida Sintetis Abamektin. Skripsi, 3(3), 69–70.
Pajrin, I., Setiawati, W., & Sutanto, A. 2013. Pengendalian lalat bibit pada tanaman jagung. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pajrin, J, J., Panggesso dan Rosmini. 2013 "Uji Ketahanan Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Terhadap Intensitas Serangan Atherigona exigua."
Agrotekbis, vol. 1, no. 2.
Pangumpia, I., Pelealu, J., & Kaligis, J. B. (2019). Serangan Hama Penggerek Batang Ostrinia furnacalis guenee (Lepidoptera: Pyralidae) Pada Varietas Jagung di Kabupaten Minahasa Selatan. Cocos, 1(5), 1–8.
lv
Pomari-Fernandes, Freitas, B. and Sosa-Gomez., 2015. Helicoverpa armigera:
current status and future perspectives in Brazil. Current Agicultural Science and Technology, 21(1), pp. 1–7.
Pramesti, 2019. Mekanisme Ketahanan Varietas Jagung Terhadap Serangan Atherigona exigua. Risalah Seminar Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor. 186-189.
Pramesti. (2019). Morfologi larva dan telur spesies (Atherigona exgua). Jurnal Entomologi Tropis, 5(2), 45-52.
Pratama, S. A., J. B. Kaligis, dan J. Rimbing. 2015. Populasi dan Presentase Serangan Hama Penggerek Batang (Ostrinia furncalis Guenee) Pada Tanaman Jagung Manis (Zea mays) di Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon. Agrotek, 1(5): 1-12.
Permadi, Agung, M., Harahap, & Qorry Hilmiyah. (2019). Tingkat Dan Pola Distribusi Infestasi Penggerek Batang Jagung Ostrinia Furnacalis (Lepidoptera: Crambidae) Di Padangsidimpuan. BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan), 6(1), 25. https://doi.org/10.31289/
biolink.v6i1.2093.
Purba, 2011. Tropical maize morphology. Intropical maize: improvement and production. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Rome. p 13 – 20.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2016. Pedoman Umum PTT Jagung. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Rahayu T. 2014. Pembiakan Massal Dengan Pakan Buatan Untuk Memperoleh Ostrinia furnacalis Dengan Kebugaran Lebih Tinggi [skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah Mada.
Raihan, H.S. 2010. Pemupukan NPK dan Ameliorasi Lahan Pasang Surut Sulfat Masam Berdasarkan Nilai Uji Tanah Untuk Tanaman Jagung. Jurnal Ilmu
lvi