• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana penunjangan yang dimaksud adalah dalam bentuk aset tetap yang terdiri dari tanah, bangunan, peralatan, mesin-mesin serta kendaraan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Sarana penunjangan yang dimaksud adalah dalam bentuk aset tetap yang terdiri dari tanah, bangunan, peralatan, mesin-mesin serta kendaraan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perusahaan dapat di artikan sebagai organisasi yang didirikan sesorang atau beberapa orang yang melakukan suatu kegiatan produksi atau distribusi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi manusia. Perusahaan biasanya di pimpin suatu owner atau beberapa owner dalam kepemilikan perusaaan. Dalam suatu kegiatan perusahaan akan selalu memiliki tujuan memperoleh laba semaksimal mungkin dengan cara menekan pengeluaran dan memperbesar pendapatan. Di dalam perusahaan bukan hanya mengontrol pemasukan dan pengeluaran namun perusahaan harus memastikan pencatatan dan perhitungan setiap transaksi perusahaan sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Dengan perkembanga ekonomi yang semakin meningkat serta banyaknya pesaing antara perusahaan satu dengan yang semakin ketat mendorong manajemen suatu perusahaan untuk bertindak efesien dan efektif dalam mengolah perusahaan (Kusuma, 2020).

Tujuan utama dari didirikannya perusahan adalah untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya, maka untuk mencapai tujuan tersebut perusahaan memerlukan sarana penunjangan untuk melancarkan aktivitas perusahaan. Sarana penunjangan yang dimaksud adalah dalam bentuk aset tetap yang terdiri dari tanah, bangunan, peralatan, mesin-mesin serta kendaraan.

(2)

Laporan keuangan ialah suatu kegiatan pemaparan berurut dari posisi keuangan dan kemampuan kerja sebuah instansi. Sasaran utama laporan keuangan ialah memberikan penerangan perihal posisi keuangan, kapabilitas keuangan, dan arus kas yang digunakan sebagai acuan oleh para penggunaan laporan keuangan dalam pengambilan penentuan pemanfaatan keuangan, SDA, SDM serta waktu bagi instansi atau entitas. Laporan keuangan juga memberi informasi akuntansi seberti informasi operasi yang berhubungan dengan pengeluaran (pembelian barang yang diperlukan. pengajian karyawan, sistem penjualan, dan lain sebagainya), informasi manajemen keuangan (bagaimana pelaku usaha sebagainya), informasi manajemen keuangan (bagaimana pelaku usaha merencanakan dan mengendalikan usaha) serta informasi keungan yang mengandung neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan (Purba & Khadijah 2020). Meurut Diana & setiawati (2017) untuk mencapai tujuan dari sebuah laporan keuangan, informasi tersebut harus menyajikan data mengenai instansi berupa Aset, Liabilitas, Ekuitas, Pendapatan, dan tanggung jawab terhitung juga dengan profit dan deficit yang diperoleh, keikutsertaan dari penyeluruhan oleh pemilik sesuai dengan kapasitasnya sebagai owner. Pada proses pembuatan laporan keuangan instansi atau entitas aset yang dimiliki oleh instansi atau entitas merupakan satu dari sekian bagian yang wajib diperhatikan.

Ikatan Akuntansi Indonesia ((IAI), 2017), menjabarkan aset sebagai sumber daya yang dikelolah sebuah instansi atau entitas tertentu sebagai akibat dari kegiatan yang dilakukan pada periode dahulu serta dapat mendatangkan profit untuk instansi atau entitas pada periode mendatang yang diharapkan dapat

(3)

memajukan perusahaan. Aset merupakan bagian fundamental baik untuk usaha kecil hingga badan usaha yang kapasitasnya besar. Pada umumnya aset kelompokan menjadi 2 (dua) golongan berupa aset lancer dan aset tidak lancer, kemudian aset tidak lancer digolongkan lagi kedalam 3 (tiga) jenis yaitu aset tetap berwujud, aset tetap tidak berwujud, serta investasi jangka panjang. Pada perjalanannya aset tetap sangat penting dalam kegiatan operasional serta besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk mendapatkan suatu aset tetap, karena hal itu diperlukan penerapan-penerapan akuntansi aset tetap yang tepat utuk setiap aset tetap yang terdaftar. Penerapan-penerapan aset tetap yang diperlukan meliputi pengindikasian aset tetap hingga penyajian aset kedalam laporan keuangan sebagai sebuah sajian data bagi golongan-golongan yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan.

Aset tetap merupakan suatau saranan penunjang untuk terlaksananya operasional perusahaan dalam menghasilkan laba atau keuangan yang akan diraih.

Tanpa aset tetap dalam sebuah perusahaan, semua rencana serta pelaksanaan operasional sebuah perusahaan akan mengalami kesulitan untuk dijalankan.

Dengan demikian, perusahaan wajib menyajikan aset tetap sebagai komponen yang sangat penting untuk dilaporkan dalam suatu laporan keuangan sebagai informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Mengingat pentingnya peran aset tetap dan besarnya dana yang dibutuhkan untuk memperoleh aset tetap tersebut, maka dibutuhkan suatu perlakuan akuntansi yang baik dan benar terhadap setiap aset tetap yang dimiliki perusahaan, yang mencakup penentuan selama aset tetap digunakan dan penyajian aset dalam laporan keuangan.

(4)

PT. Sementasi Indonusa Batam merupakan salah satu perusahaan kontruksi yang ada di Indonesia yang berpusat di Komplek Jodoh Square, Jl. Raja Ali Haji Blok E Lantai 2 No. 63, Sei Jodoh Batam, Provinsi Kepulauan Riau. PT. Sementasi Indonusa Batam sebagai salah satu badan usaha berpengalaman yang mengerjakan proyek nasional dalam bidang kontruksi. Sesuai SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan pasal 3 Anggaran dasar perusahaan, maksud dan tujuan perusahaan ialah menyelenggarakan usaha bidang perdagangan umum, jasa, pemborongan umum, pengembangan dan lainnya. Untuk mengembangkan perusahaan maka diperlukan laporan keuangan yang handal untuk mencapai visi misi perusahaan.

PT. Sementasi Indonusa Batam memiliki beberapa aset tetap yaiu, tanah &

bangunan (kantor), peralatan & perabotan proyek (excavator, stamper, camera, pesawat telepon, dll), inventaris kantor (meja tulis, kursi, komputer, printer, lemari, dll). Namun pada saat pengakuan awal, aset tetap diukur sebesar biaya perolehan yang dapat diukur secara handal, karena ada dokumen atau pencatatan atas perolehan aset tetap.

PT. Sementasi Indonusa Batam juga belum menerapkan penyusutan dalam nilai aset yang diperoleh, sehingga aset tetap yang diperoleh oleh perusahaan sebesar harga perolehannya saja dan nilai tersebut tidak pernah berkurang karena tidak diadakannya penyusutan atas aset yang dimiliki, penyusutan aset tetap pada nilai buku akhir sudah habis tetapi perusahaan masih mencatat dalam neraca, dan dari sisi ekonomis perusahaan mencatat semua tarif penyusutan sebesar 25%.

(5)

Dalam penyajian, PT. Sementasi Indonusa Batam mengungkapkan nama nama aset tetap, tahun perolehan, dan tarif pada lampiran aset tetap. Pada tarif penyusutan peralatan proyek, perabotan proyek, perabotan kantor dan peralatan kantor semua tarif penyusutan sebesar 25% dan pada bangunan perusahaan membuat tariff 0%.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Desti Widyaningsih (2020) meneliti mengenai Analisis Penerapan Akuntansi Aset Tetap Terhadap Laporan Keuangan Berdasarkan SAK-ETAP Bab 15 Pada CV. Mutiara Bonggol di Lunuklinggau. Persamaan penelitian ini dengan Penelitian Desti Widyaningsih (2020) adalah sama-sama meneliti faktor yang mempengaruhi akuntansi aset tetap.

Perbedaan dengan penelitian Desti Widyaningsih (2020) adalah teknik pengumpulan data yang digunakan.

Dari latar belakang permasalahan dan penelitian tersebut, maka penulis tertarik melakukan penlitian dengan judul “Analisis Akuntansi Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik) Pada PT. Sementasi Idonusa Batam”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang dapat didentifikasi dalam penelitian ini adalah perusahaan belum menerapkan penyusutan dalam nilai aset yang diperoleh, sehingga aset tetap yang diperoleh oleh perusahaan sebesar harga perolehannya saja dan nilai tersebut tidak pernah berkurang karena

(6)

tidak diadakannya penyusutan atas aset yang dimiliki dan perusahaan belum mengungkapkan umur manfaat yang sesuai dengan direktorat jendral pajakan.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telaah diuraikan, maka penulis merumuskan permasalahan dalam penelitihan ini, yaitu :

1. Apakah pengakuan harga perolehan aset tetap PT. Sementasi Indonusa Batam telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)?

2. Apakah penyusutan aset tetap PT. Sementasi Indonusa Batam telah sesuai dengan Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)?

3. Apakah pengungkapan aset tetap PT. Sementasi Indonusa Batam telah sesuai dengan Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)?

1.4 Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Penelitian ini hanya berfokus pada PT. Sementasi Idonusa yang berada di Kota Batam.

2. Penelitian ini berfokus untuk membandingkan kesesuaian Akuntansi Aset Tetap pada periode 2021 yang dibuat PT. Sementasi Idonusa Batam dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

(7)

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitihan ini bertujuan untuk memahami pengetahuan yang telah dipelajari dengan melihat penerapannya dalam praktik yang sebenarnya. Adapun tujuan pembahasan ini adalah :

1. Untuk mengetahui apakah pengakuan harga perolehan aset tetap PT. Sementasi Indonusa Batam telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)?

2. Untuk mengetahui apakah penyusutan aset tetap PT. Sementasi Indonusa Batam telah sesuai dengan Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)?

3. Untuk mengetahui apakah pengungkapan aset tetap PT. Sementasi Indonusa Batam telah sesuai dengan Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)?

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kontribusi sebagai berikut :

1. Bagi peneliti

Penelitian ini dapat membantu peneliti untuk mengetahui serta memahami mengenai permasalahan yang sering terjadi dalam mempraktikkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) di setiap perusahaan, sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Maritim Raja Ali Haji.

(8)

2. Bagi PT. Sementasi Indonusa Batam

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan terkait dengan penerapan akuntansi aset tetap dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam penerapan akuntansi aset tetap sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

3. Bagi akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan teori mengenai penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) terhadap laporan keuangan akuntansi aset tetap.

4. Bagi penelitian selanjutnya

Penelitian ini sebagai sumbangan pemikiran serta sebagai bahan informasi yang dapat digunakan sebagai penelaah lebih lanjut maupun bahan pengembangan.

1.7 Sistematika Penelitian

Adapun gambaran mengenai isi dari penelitian ini dibuat sistematika sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan gambaran singkat dari isi penelitian yang dibahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penelitian.

(9)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi teori inti maupun teori pendukung, kerangka pemikiran dan penelitian-penelitian terdahulu.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan terkait objek dan ruang lingkup penelitian, metode penelitian, lokasi dan waktu penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil analisis dan pembahasan mengenai permasalahan dalam skripsi ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab penutup dari penulisan skripsi ini, berisikan kesimpulan yang ditarik oleh peneliti dan memberikan saran yang diharapkan berguna bagi pemilik usaha serta pihak terkait lainnya

(10)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengertian Aset Tetap

Pada dasarnya aset tetap memiliki makna arti yang sama, meskipun banyak cara orang mengungkapkan aset tetap dengan istilah yang berbeda-beda, perbedaan tersebut disesuaikan dengan cara memandang aset tetap itu oleh badan organisasi atau perusahaan yang menggunakannya.

Aset tetap adalah istilah yang digunakan dalam akuntansi untuk aset dan property yang tidak dapat dengan mudah diubah menjadi uang tunai. Ini dapat dibandingkan dengan aset lancar seperti kas atau rekening bank, yang digambarkan sebagai aset likuid. Dalam kebanyakan kasus, hanya aset berwujud yang disebut sebagai aset tetap. Aktiva tetap biasanya mencakup barang-barang seperti tanah dan bangunan, kendaraan bermotor, furniture, peralatan kantor, komputer, perlengkapan, seta pabrik dan mesin. Ini hanya sering menerima perlakuan pajak yang menguntungkan (tunjangan depresiasi) atas aset jangka pendek (Dolok Saribu, Ardian dan Bonifasius H. Tambunan, 2021).

Aset tetap adalah sumber daya yang memiliki empat karakteristik yaitu, berwujud atau memiliki ujud (bentuk atau ukuran tertentu), digunakan dalam operasi perusahaan, mempunyai masa manfaat jangka panjang dan tidak dimaksudkan untuk dijual belikan. Aset semacam ini biasanya memiliki masa pemakaian yang lama dan diharapkan dapat memberi manfaat pada perusahaan

(11)

selama bertahun-tahun, manfaat yang diberikan aset tetap umumnya semakin menurun, kecuali manfaat yang diberikan oleh tanah (Jusup, 2015).

Pengertian aset tetap menurut Ikantan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam SAK-ETAP Aset tetap adalah aset berwujud yang:

a. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administrasi.

b. Diharapkan untuk digunakan lebih dari satu periode.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa aset tetap adalah semua aktiva berbentuk fisik yang dimiliki dan digunakan dalam operasi normal perusahaan, yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, serta mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi (satu tahun) dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali.

2.1.2 Pengakuan Aset Tetap

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik Bab 15 (IAI, 2016) menyatakan entitas harus menerapkan kriteria pengakuan dalam menentukan pengakuan aset tetap. Oleh karena itu, entitas harus mengakui biaya perolehan aset tetap sebagai aset tetap jika:

a. Kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari atau dalam entitas; dan

b. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur andal.

Tanah dan bangunan adalah aset yang dapat dipisahkan dan harus dicatat secara terpisah, meskipun tanah dan bangunan tersebut diperoleh secara bersamaan.

(12)

Pegukuran pada saat pengakuan awal, aset tetap harus diukur sebesar biaya perolehan (SAK ETAP, 2009).

Kriteria pengakuan aset tetap berlaku untuk pada saat pengakuan awal dan setelah pengakuan aset tetap. Menurut PSAK No. 16 revisi (IAI, 2015) entitas mengevaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap seluruh biaya perolehan aset tetap pada saat terjadinya. Biaya tersebut termasuk biaya awal untuk memperoleh atau mengkontruksi aset tetap dan biaya selanjutnya timbul untuk menambah, mengganti bagian atau memperbaikinya. Setiap perusahaan memiliki batas diatas biaya yang dikapitalisasi dan dibawah biaya yang dibebankan (Kusuma,2020).

Menurut PSAP No 07 dalam PP 71 tahun 2010 menyatakan bahwa aset tetap dapat diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan handal. Untuk dapat diakui sebagai aset hanya jika mempunyai kriteria:

1. Berwujud

2. Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan 3. Biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara andal

4. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasionl normal entitas 5. Diperoleh atau di bangun dengan maksud untuk digunakan

Menurut Mustaim (2013) menyatakan manfaat ekonomi masa depan yang berwujud dalam aset tetap adalah potensi dari aset tetap memberikan sumbangan kepada perusahaan. Potensi tersebut dapat berbentuk suatu yang produktif dan merupakan bagian dari aktivitas operasional perusahaan, atau berbentuk suatu yang

(13)

dapat diubah menjadi kas atau berbentuk kemampuan untuk mengurangi pengeluaran kas, seperti penurunan biaya akibat penggunaan proses produksi alternative.

2.1.3 Pengukuran Aset Tetap

Pada saat pengakuan awal, aset tetap harus diukur sebagai biaya perolehan.

Unsur biaya perolehan aset tetap menurut Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik Bab 15 (IAI, 2016) meliputi:

(a) Harga beli, termasuk biaya hukum dan broke, bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh di kreditkan, setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lainnya;

(b) Biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan manajemen.

(c) Estimasi awal biaya pembongkaran aset, biaya pemindahan aset dan biaya restorasi lokasi. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset tersebut diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu bukan untuk menghasilkan persediaan.

Biaya-biaya berikut ini bukan merupakan biaya perolehan aset tetap dan harus diakui sebagai beban ketikan terjadi:

(1) Biaya pembukuan fasilitas baru;

(2) Biaya pengenalan produk atau jasa baru (termasuk biaya aktivitas iklan dan promosi);

(14)

(3) Biaya penyelenggaran bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan baru (termasuk biaya pelatihan staf);

(4) Biaya administrasi dan overhead umum lainnya.

Pendapatan dan beban yang terkait dengan kegiatan incidental selama masa konstruksi atau pengembangan aset tetap diakui dalam laporan laba rugi jika operasional tersebut tidak diperlukan untuk membawa aset tetap ke lokasi dan kondisi operasi yang dimaksud.

Menurut Tri Wahyu dan Juan (2013) menyatakan bahwa untuk pengukuran nilai wajar. Setelah pengakuan aset tetap, aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal dicatat pada jumlah revaluasin, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurang akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai setelah tanggal revaluasi. Revaluasi dilakukan dengan teratur dan cukup umum agar dapat dipastikan bahwa jumlah yang tercatat tidak berbeda secara material dengan jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada akhir periode pelaporan.

2.1.4 Pengeluaran Setelah Pengakuan Awal Aset Tetap

Menurut Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik Bab 15 (IAI, 2016), Pengeluaran setelah pengakuan awal seuatu aset tetap yang memperpanjang umur manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada jumlah tercatat aset tetap tersebut.

(15)

Pengeluaran setelah pengakuan awal aset hanya diakui sebagai suatu aset jika pengeluaran meningkatkan kondisi aset melebihi standar kinerja semula.

Contoh peningkatan yang menghasilkan peningkatan manfaat keekonomian masa yang akan datang mencakup:

(a) Modifikasi suatu pos sarana pabrik untuk memperpanjang usia manfaatnya, termasuk suatu peningkatan kapasitasnya

(b) Peningkatan kemampuan mesin untuk mencapai peningkatan besar dalam kualitas keluaran

(c) Penerapan proses produksi baru yang memungkinkan suatu pengeluaran besar biaya operasi.

2.1.5 Penyusutan Aset Tetap

SAK-ETAP Bab 15 (IAI, 2016) menjelaskan bahwa beban penyustan harus diakui dalam laporan laba rugi, kecuali bab ini mensyaratkan biaya tersebut merupakan bagian biaya perolehan suatu aset.

Entitas harus mengalokasikan jumlah aset yang dapat disesuaikan secara sistematis selama umur manfaat. Penyusutan dimulai ketika suatu aset tersedia untuk digunakan, misalnya aset berada di lokasi dan kondisi yang diperlukan sehingga mampu beroperasi sebagaimana maksud manajemen. Penyusutan dihentikan ketika aset dihentikan pengakuannya. Penyusutan tidak dihentikan ketika aset tidak digunakan atau dihentikan penggunaan aktifnya, kecuali aset tersebut telah disusutkan secara penuh. Namun, dalam metode penyusutan berdasar

(16)

penggunaan (usage method of depreciation), beban penyusutan menjadi nol ketika tidak ada produksi.

Menurut SAK ETAP (IAI, 2016) penyusutan adalah alokasi sistematis dari jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaat. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Metode Penyusutan dapat dikelompokan menurut kriteria.

1. Metode Garis Lurus (straight line method)

Metode garis lurus adalah metode ini menghubungkan alokasi biaya dengan berlalunya waktu dan mengakui pembebanan periode yang sama sepanjang umur aktiva. Dengan menggunakan metode garis lurus, besarnya beban penyusutan periodic dapat dihitung sebagai berikut:

Beban penyusutan = Biaya perolehan − nilai sisa Umur ekonomis (tahun)

Sumber: Munthe, Inge Lengga Sari (2016).

2. Metode Saldo Menurun (diminishing balance method)

Metode saldo menurun menghasilkan pembebanan yang menurun setiap akhir periode. Beban penyusutan pada periode awal sangat besar. Kemungkinan akan menurun seiring bertambahnya periode. Metode ini digunakan dengan asumsi bahwa pada saat awal pemakaian, aktivitas yang bisa dihasilkan aset masih banyak. Semakin lama periodenya, maka aktivitas yang tidak dihasilkan cenderung menurun. Pada saat awal periode juga biaya pemeliharaan masih

(17)

tidak besar. Semakin tua umur aset, maka semakin besar juga pemeliharaannya.

Metode saldo menurun ada 2 metode yaitu:

a. Metode saldo menurun ganda (double declining method)

Meode saldo menurun ganda adalah metode yang menggunakan tingkat (rate) yaitu dua kali dari garis lurus untuk menghitung beban penyusutan.

Di metode ini jumlah yang dapat disusutkan adalah hanya perolehan ast saja. Berarti dalam perhitungannya tidak memakai nilai sisa. Berikut pengerjaannya.

1. Hitung Rate

Rate = 2 × 100 %

𝑈𝑚𝑢𝑟 𝑒𝑘𝑜𝑛𝑜𝑚𝑖𝑠

Sumber: Munthe, Inge Lengga Sari (2016).

2. Hitung beban penyusutan untuk setiap periode, yaitu = Rate × Jumlah tercatat aset (pada periode itu)

3. Bila jumlah tercatat aset sudah mendekati nilai sisa, proses ini dihentikan

b. Metode jumlah angka tahun (sum of the years digits)

Dalam metode jumlah angka tahun, beban penyusutan periode awal besar kemudian akan menurun, dengan menggunakan jumlah angka tahun sebagai pembagiannya. Jumlah yang disusutkan adalah biaya perolehan di kurangi nilai sisa. Sehingga nilai terakhir adalah sebesar nilai sisa aset.

Berikut pengerjaannya.

1. Jumlah angka di umur ekonimis. Kemudian angka itu menjadi pembagi.

Jumlah angka tahun = n (n +1)

2

(18)

2. Menghitung beban penyusutan di periode pertama, adalah dengan angka terakhir di umur ekonomis dibagi dengan angka kemudian dikalikan dengan jumlah yang disusutkan.

3. Metode jumlah unit (sum of the unit method)

Aktiva yang diharapkan dapat memberikan jasa dalam bentuk hasil unit produksi tertentu. Metode ini memerlukan suatu estimasi mengenai total output yang dapat dihasilkan aktiva.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.

Apabila wajib pajak melakukan penilaian kembali aktiva, maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali aktiva tersebut. Untuk menghitung peyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta bersujud ditetapkan sebagai berikut:

Table 2.1

Tabel Tarif dan Masa Manfaat Penyusutan Fiscal Kelompok Harta

Berwujud

Masa Manfaat

Tarif – Metode Garis Lurus

Tarif – Metode Saldo Menurun

I. Bukan Bangunan

Kelompok 1 4 tahun 25% 50%

Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%

Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%

(19)

Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

II. Bangunan

Tidak Permanan 10 tahun 10%

Permanan 20 tahun 5%

Sumber: Direktorat Jendral Pajakan (2021).

Ketentuan lebih lanjut mengenai penyustan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam bidang usaha tertentu diatur dengan Pereturan menteri Keuangan.

Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas. Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan.

2.1.6 Pengungkapan Aset Tetap

Menurut Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Bab 15 (IAI, 2016), Entitas harus mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap:

(a) Dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto;

(b) Metode peyusutan yang digunakan;

(c) Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;

(20)

(d) Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agrerat dengan akumulasi kerugian penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan

(e) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang yang menunjukan:

(1) Penambahan;

(2) Pelepasan;

(3) Kerugian penurunan nilai yang diakui atau dipulihkan dalam laporan laba rugi sesuai dengan Bab 22 penurunan nilai aset;

(4) Penyusutan;

(5) Perubahan lainnya.

Entitas juga harus mengungkapkan:

(a) Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, dan aset tetap yang dijaminkan untuk utang;

(b) Jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap.

2.2 Penelitian Terdahulu

Table 2.2 Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti Judul Penelitian Hasil 1 Sari Oktarina

(2021)

Analisis Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP dalam Rangka Penyajian Laporan Keuangan Pada PT. Prima Prosindo Palembang.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa PT. Prima Prosindo belum melakukan perhitungan yang tepat atas harga perolehan aset tetap yang dimiliki perusahaan berdasarkan Standar Akuntabilitas Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

(21)

2 Desti

Widyaningsih (2020)

Analisis Penerapan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan ETAP BAB 15 Pada CV. Mutiara

Bonggol di Lubuklinggau

Hasil penelitian menunjukkan penerapan akuntansi atas aset tatap oleh perusahaan tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Bab 15 seperti dalam hal pencatatan pengakuan awal, biaya perolehan, penyusutan.

3 Nimas Diana Sarah

Kusuma (2020)

Analisis Perhitungn Aset Tetap

Menggunakan Standar Keuangan Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik pada PT.

Untung Bersama Indonesia Gresik

Hasil dari penelitian yang dilakukan untuk perhitungan penusutan aset tetap PT. Untung Bersama Indonesia sudah sesuai Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik Bab 15. Dengan demikian perusahaan disarankan lebih mengontrol fisik aset tetap dengan kartu aset tetap.

4 Wahyuni (2019)

Analisi Penerapan Akuntansi Aset Tetap Berdasarkan PSAK no 16 pada PT. Asam Jawa Medan.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa PT. Asam Jawa Medan belum sepenuhnya melakukan kesesuaiannya dengan PSAK No 16 terkait dalam penyajian aset tetap.

5 Mulyani Rande Samben Abdul Gafur (2018)

Analisis Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

Hasil penelitian menunjukan perlakuan akuntansi atas aset tetap pada PT. Indo Jaya Mahakama masih belum sesuai dengan standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas Bab 15

6 Hasnan Asman (2018)

Perlakuan Akuntansi Aset Tetap pada STIKes MEGA REZKY

MAKASSAR

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan cara memperoleh fakta-fakta mengenai kebijakan perlakuan akuntansi tetap. Perlakuan Akuntansi Aset Tetap pada STIKes Mega Rezky Makssar bahwa kebijakan perusahaan dalam perlakuan akuntansi aset tetap masih belum sesuai dengan PSAK No 16.

(22)

2.3 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian-penelitian sebelumnya, maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah peneliti memilih PT. Sementasi Indonusa Batam sebagai objek penelitian, kemudian melakukan proses pengumpulan data dan informasi terkait aset tetap yang ada pada perusahaan.

Setelah data terkumpul, peneliti melakukan proses analisis terhadap harga perolehan aset tetap. Lalu peneliti melakukan prosos analisis sistem penyusutan aset tetap yang ada di perusahaan. Setelah itu peneliti melakukan proses pengungkapan aset tetap yang ada di perusahaan. Selanjutnya, peneliti menampilkan hasil analisis sebagai kesimpulan. Berdasarkan pemikiran diatas, kerangka konseptual penulis bila digambarkan dalam bentuk skema adalah sebagai berikut:

Mulai

Memilih PT.

Sementasi Indonusa Batam

Mengumpulkan Data Aset Tetap

Pengimputan Data Aset Tetap

Melakukan Analisis Harga Perolehan

Aset Tetap

Referensi

Dokumen terkait

The roles of English co-teachers entail impacts on English teaching-learning activity, such as creating the efficiency of English teaching-learning activity by preparing the

As for the observation sheet using 10 core competence on pedagogical competence, namely mastering the characteristics of students, mastering learning theories and educational principles