• Tidak ada hasil yang ditemukan

SDN 1 NAMPIREJO BATANGHARI TAHUN PELAJARAN 2015/2016

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan " SDN 1 NAMPIREJO BATANGHARI TAHUN PELAJARAN 2015/2016"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

Maksudnya: Dan bagi orang-orang yang meminta-minta, janganlah kamu mencela mereka, dan kerana karunia Tuhanmu, maka hendaklah kamu khabarkan.

Latar Belakang Masalah

Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKN disebabkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran, siswa belum memiliki kesadaran untuk benar-benar serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran Numbered head together (NHT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kerjasama antar siswa pada mata pelajaran.

Identifikasi Masalah

Rumusan Masalah

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran PKN pasca penerapan model Numbered Head Together (NHT) pada siswa Kelas V di SDN 1 Nampirejo Batanghari tahun pelajaran 2015/2016. Bagi siswa yaitu sebagai pendorong untuk lebih meningkatkan hasil belajar yang semakin meningkat pada mata pelajaran PKn.

Penelitian yang relevan

Pengertian Model Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menekankan kerjasama kelompok dalam proses belajar mengajar. Mengacu pada pengertian model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Rusman dan Agus, bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem pembelajaran yang mengutamakan tujuan dan keberhasilan kelompok.

Model Pembelajaran Cooperative Lerningtipe Numbered Heads Together (NHT)

Adapun langkah-langkah pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) di kelas, guru menggunakan struktur empat tahapan sebagai berikut. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, peneliti menerapkan langkah-langkah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads-together sebagai berikut.

Hasil Belajar

Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai berikut. a) Faktor lingkungan. Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan.

Hipotesis Tindakan

Definisi Operasional Variabel

Guru membagi kelas menjadi 4-6 kelompok dan memberikan nomor kepada setiap siswa dalam kelompok tersebut. Guru memanggil siswa sesuai nomor yang diinginkan guru, kemudian siswa yang nomornya dipanggil maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusi bersama kelompoknya. Variabel terikat adalah “variabel yang dipengaruhi atau hasil akibat adanya variabel bebas”.28 Berdasarkan pengertian tersebut maka variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar. 27Ibid, hlm. 66-67.

Hasil belajar adalah prestasi belajar siswa secara keseluruhan, yang merupakan indikator kompetensi dasar dan derajat perubahan tingkah laku yang bersangkutan. Untuk indikator hasil belajar yang diukur, pencapaian hasil belajar ranah kognitif peserta didik sesuai dengan teori taksonomi Bloom. Berdasarkan indikator yang telah ditetapkan, hasil belajar siswa tercapai jika nilai siswa di atas KKM yaitu 75.

Setting Lokasi

Subjek Penelitian

Prosedur tindakan

Artinya masalah yang akan diteliti merupakan masalah faktual yang terjadi di kelas, dan penting untuk dipelajari serta bermanfaat dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Menentukan topik dan sub topik yang akan dipelajari, sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam RPP dan Silabus. Sebelum mengakhiri pelajaran, guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan dari materi yang dipelajari.

Kegiatan ke-3 adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti (baik oleh orang lain maupun oleh peneliti itu sendiri). Refleksi adalah kegiatan mengulang apa yang telah dilakukan 30 Berdasarkan hasil refleksi, guru dapat mencatat berbagai kekurangan yang harus diperbaiki, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan u-plan. Dan pada dasarnya pelaksanaan siklus II adalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus tersebut.

Teknik Pengumpulan Data

Oleh karena itu, hasil observasi dijadikan sebagai bahan refleksi dan hasil refleksi pada siklus I akan dijadikan acuan untuk perbaikan pembelajaran pada siklus II. Observasi adalah pengalaman dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala yang terjadi pada objek penelitian.31 Metode observasi digunakan oleh guru yang juga peneliti dan pengamat sebagai kolaborator untuk mengamati siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT). Tes ini digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan hasil belajar siswa terkait dengan mata pelajaran yang telah dipelajari siswa dengan standar prestasi belajar yang sesuai dengan KKM pada mata pelajaran PKN.

Melalui metode ini peneliti mempelajari tentang kurikulum, standar kompetensi, dan kompetensi inti di sekolah yang akan dipelajarinya.

Instrumen Penelitian

Lembar observasi

Instrumen tes hasil belajar siswa

Teknik Analisis Data

Indikator Keberhasilan

Hasil Penelitian

Deskripsi Lokasi Penelitian

Meningkatkan peran serta seluruh warga sekolah dan masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah d. Program kerja sekolah. a) Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan bermakna. Proses belajar mengajar di SDN 1 Nampirejo Batanghari tidak terlepas dari dukungan tenaga pendidik dan pendampingan pengelola administrasi. Kondisi jumlah guru dan pegawai sebanyak 13 orang dimana jumlah guru dan pegawai telah memenuhi kebutuhan tenaga dalam melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran.

Deskripsi data Penelitian a. Kondisi awal

Hasil survey pendahuluan yang dilakukan peneliti di SDN 1 Nampirejo Batanghari terhadap hasil belajar PKn Kelas V di SDN 1 Nampirejo Batanghari belum optimal. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang digunakan sekolah adalah 75, ada siswa yang mendapat nilai ≥75, sebanyak 10 siswa yang tuntas dan siswa yang mendapat nilai <75, sebanyak 11 siswa dinyatakan tidak tuntas, diharapkan kesempurnaan pembelajaran dapat mencapai 75% dari jumlah siswa. Penelitian berlangsung secara kerjasama yaitu peneliti sebagai guru yang melaksanakan proses pembelajaran dan bekerjasama dengan guru PKn sebagai observer.

Tujuan dilakukannya penelitian tindakan kelas (CSRI) adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 1 Nampirejo Batanghari pada pelajaran Kewarganegaraan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Heads Counted Together (NHT). Dalam pembelajaran ini dilaksanakan 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, sedangkan setiap pertemuannya adalah 2 jam pengajaran (2 x 35 menit).

Perencanaan Pembelajaran

Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap eksplorasi, guru meminta siswa untuk membuka teks sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Pada tahap proses, guru menjelaskan aturan pelaksanaan model pembelajaran Cooperative Learning Numbered Headed Together (NHT). Pada tahap konfirmasi, guru mengevaluasi hasil presentasi yang disampaikan oleh masing-masing kelompok dan melengkapi jawaban atas pertanyaan yang diberikan.

Kemudian guru memberikan motivasi kepada siswa agar siswa lebih antusias dari pertemuan pertama, setelah itu guru menginformasikan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah siswa mempelajari materi tersebut. Pada tahap eksplorasi, guru menjelaskan materi dan mencatat bagian-bagian penting dari materi tersebut di papan tulis, siswa didorong untuk mencatatnya. Pada tahap konfirmasi, guru menilai hasil presentasi yang disampaikan oleh masing-masing kelompok dan mengisi jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Hasil Observasi/ Pengamatan Siklus 1

Untuk indikator perhatian terhadap penjelasan guru pada pertemuan pertama persentasenya 50% dan pada pertemuan kedua persentasenya naik menjadi 53,5% dengan hasil rata-rata 51,7%. Untuk indikator kedua yaitu siswa yang bertanya pada saat berdiskusi persentase pada pertemuan pertama 52,3%, pada pertemuan kedua naik menjadi 57,1% dengan hasil rata-rata 54,7%. Untuk indikator ketiga yaitu siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan soal yang diberikan, persentasenya pada pertemuan pertama 55,9%, pertemuan kedua persentasenya 53,5% dengan hasil rata-rata 54,5%.

Pada indikator keempat yaitu siswa yang mempresentasikan hasil diskusinya, pada pertemuan pertama persentasenya 53,5%, pada pertemuan kedua persentasenya naik menjadi 57,1% dengan hasil rata-rata 55,3%. Pada indikator kelima yaitu siswa yang mengemukakan pendapat, pada pertemuan pertama persentasenya 61,9%, pada pertemuan kedua persentasenya 64,2% dengan hasil rata-rata 63%. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Mei 2016, selama 2 jam (2 x 35 menit) dengan jumlah siswa 21 orang dan materi “Prosedur pengambilan keputusan bersama”.

Hasil Observasi/Pengamatan Siklus II

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbereh Head Together (NHT) meningkat pada setiap sesinya. Berdasarkan perhitungan dengan melihat masing-masing penilaian terhadap kriteria kegiatan yang diamati, diperoleh hasil kegiatan guru pada pertemuan 1 dan 2 pada pertemuan II. siklus secara keseluruhan memperoleh skor rata-rata 80,22 dengan kriteria baik c) Data hasil kegiatan pembelajaran Siklus II menggunakan model pembelajaran kolaboratif Numbered Head Together (NHT). Proses pembelajaran di II. Siklus kegiatan pembelajaran atau aktivitas siswa diamati pada lembar observasi yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini, dan untuk semua rinciannya ada pada lampiran. Hal ini berdasarkan tabel bahwa rata-rata siklus I sebesar 55,9% meningkat menjadi 75,11% pada siklus II. d) Hasil belajar II. siklus dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT).

Evaluasi hasil belajar siswa dapat dilihat berdasarkan siklus II yaitu melihat rata-rata pre test dan post test yang diberikan guru kepada siswa kelas V dengan jumlah siswa 21 orang. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa 61,9% siswa yang menyelesaikan kegiatan pre-test dan 76,2% kegiatan post-test, yaitu hasil belajar siswa meningkat sebesar 14,3% selama proses pembelajaran di siklus II. Dari siklus II dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II sudah mencapai tujuan yang ditentukan karena siswa mampu mencapai KKM < 75 dan telah mencapai 80.

Pembahasan

Pada tanggal 1 dan 2 pada siklus untuk indikator perhatian terhadap penjelasan guru sebesar 51,78% pada I. dan 51,78% pada II. 68,48% dengan peningkatan sebesar 16,67%. Mengenai indikator pertama, tujuan yang diinginkan tercapai yaitu rata-rata aktivitas siswa meningkat dari I. menjadi II. materi dan menjadikan pembelajaran lebih efektif, bermakna, sehingga siswa lebih aktif dalam setiap proses pembelajaran. Dalam I. dan II. siklus, siswa mengajukan pertanyaan selama diskusi di I. 54,76% dan di II. 71,4% dengan peningkatan sebesar 16,6%.

Pada siklus II diketahui bahwa tingkat ketuntasan hasil belajar siswa pada pre test rata-rata 76,1 dan persentase 61,6. Penggunaan model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN 1 Nampirejo Batanghari. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikemukakan bahwa model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa Kelas V SDN 1 Nampirejo Batanghari Lampung Timur.

Kesimpulan

Hasil observasi aktivitas belajar guru dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif Numbered Head Together (NHT) menunjukkan peningkatan rata-rata aktivitas belajar guru pada siklus I sebesar 73,86 dan pada siklus II. siklus 79,77. Penggunaan model pembelajaran kolaboratif Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, terlihat dari rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 55,9 dan pada siklus II sebesar 75,11. Penggunaan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran PKn siswa kelas V SDN 1 Nampirejo, dibuktikan dengan rata-rata persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 47,6% dan menjadi 76,1% pada siklus II dengan peningkatan sebesar 28,58%.

Saran

Diharapkan penggunaan metode diskusi dapat dijadikan sebagai alternatif baru yang membawa pemikiran dan informasi khususnya bagi guru IPS untuk meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar dengan penalaran. Siswa harus dapat berkolaborasi, memotivasi dan membantu teman memecahkan masalah. Agar pihak sekolah dapat lebih memberikan motivasi kepada guru kelas pada umumnya, dan guru IPS pada khususnya yang akan menerapkan model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran.

Kepala sekolah hendaknya memberikan sosialisasi dan motivasi kepada guru tentang pentingnya model yang mengarah pada penerapan pembelajaran aktif, seperti model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT) dalam proses belajar mengajar di kelas. Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Belajar, Jakarta; Rineka Cipta , 2004 Ervianti Sukardi, skripsi, TT, Metro: STAIN Jurai Siwo, 2011. Iqbal Hasan, Bahan Dasar Statistika, Jakarta: Bumi Aksara, 2003 Rusman, Model Pembelajaran, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, .

Referensi

Dokumen terkait

Theoretical Linguistics focuses on the examination of the structure of English in all its manifestations (phonetics, phonology, morphology, syntax, grammar at large). Other

English language teaching research shows great interest in integrative and instrumental motivation; however, no research has been carried out on these two