MAKALAH
Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Makalah
“ FIQIH I ”
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU FIQIH
DOSEN PENGAMPU : Drs.Sofwan, M.Ag
DI SUSUN OLEH 1.ARKAT
2.WIDAYANI
PROGRAM STUDY PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) SERANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya meskipun dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.Harapan kami semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman, juga membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga untuk kedepannya kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini dengan lebih baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah Yang Maha Kuasa senantiasa meridhai segala usaha kita, aamiin.
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I. PENDAHULUAN...4
A. Latar Belakang ...4
B. Rumusan Masalah...4
C. Tujuan...4
BAB II. PEMBAHASAN...5
A. Pengertian Fiqih...5
B. Sejarah dan Perkembanngan Ilmu Fiih...6
BAB III. PENUTUP...8
A. Kesimpulan...8 B. Saran 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANGIlmu fiqih adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan umat islam. Fiqih termasuk ilmu yang muncul pada masa awal berkembang agama islam. Secara esensial, fiqih sudah ada pada masa Nabi SAW, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Karena Semua persoalan keagamaan yang muncul waktu itu, langsung ditanyakan kepada Nabi SAW. Maka seketika itu solusi permasalahan bisa terobati, dengan bersumber pada Al Qur'an dan sunnah.
Sepeninggal Nabi SAW. Ilmu fiqh ini mulai berkembang. seiring dengan timbulnya permasalahan- permasalahan yang muncul dari zaman kezaman. Permasalahan semakin berkembang dan tidak semua permasalahan yang ada, terdapat di dalam nash, namun membutuhkan sebuah hukum melalui jalan istimbat Setiap satu permesalahan memiliki ratusan solusi yang berbeda dari setiap ulama Generasi penerus Nabi Muhammad SAW tidak hanya berhenti pada masa Khulafa 'urrosyidin, namun masih diteruskan oleh para tabi'in dan ulama' sholihin hingga sampai pada zaman kita sekarang ini. Pada zaman kita ini, para ulama (Fuqoha) mulai bermunculan dan memiliki ijtihad yang berda-beda.
Tulisan ini bertujuan untuk mengklasifikasi secara periodik perkembangan ilmu fiqh, namun akan didahului oleh pengertian dari ilmu fiqh kemudian dilanjutkan dengan sejarah perkembangannya mulai dari periode Rasulallah SAW, periode sahabat, periode tadwin, dan yang terakhir periode taqlid.
B. RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana pengertian Fiqih?
2.Bagaimana sejarah perkembangan fiqih pada masa Rosulullah, sahabat dan tabi’in?
3.Bagaimana metode sahabat dan tabi’in dalam mengenal hukum?
C. TUJUAN .
1.Untuk mengetahui Pengertian Fiqih
2.sejarah perkembangan fiqih pada masa Rosulullah, sahabat dan tabi’in 3.Untuk mengetahui metode sahabat dan tabi’in dalam mengenal hukum
4
BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN FIQIH
Fiqh هقف secara bahasa artinya pemahaman yang benar tentang apa yang diharapkan. Hadis berikut menggunakan kata fikih sesuai makna bahasanya.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa umat ini akan tegak di atas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah.
Secara istilah, fikih artinya pengetahuan tentang hukum-hukum syariat praktis berdasarkan sebuah dalil-dalil secara rincinya.Yang dimaksud pengetahua mencakup ilmu pasti dan dugaan. Hukum-hukum syariat ada yang diketahui secara pasti dari dalil yang meyakinkan dan ada yang diketahui secara dugaan.
Masalah-masalah ijtihad yang menjadi bahan perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah masalah dugaan karena jika diketahui secara yakin, maka pasti tidak ada perbedaan pendapat.
Ilmu fiqih adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan umat islam. Fiqih termasuk ilmu yang muncul pada masa awal berkembang agama islam. Secara esensial, fiqih sudah ada pada masa Nabi SAW, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Karena Semua persoalan keagamaan yang muncul waktu itu, langsung ditanyakan kepada Nabi SAW. Maka seketika itu solusi permasalahan bisa terobati, dengan bersumber pada Al Qur'an dan sunnah.
Dari definisi Imam Jalaludin Al-Mahali mencontohkan diantaranya mengetahui hukum wajib dalam niat wudhu,hukum sunnah pada sholat witir,niatmalam hari untuk berpuasa Ramadhan adalah syarat wajib, dan lain sebagainya.Semua hukum tersebutdikeahui dengan jalan ijtihadoleh para ulama.
B. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU FIQIH
Periode pertama adalah pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup.Pada dasarnya,hukum atas suatu perbuatan sudah terbentuk sejak zaman Rasulallah,sejak pertama islam hadir,karena islam sendiri sejak awal sudah bermutan manusia.Pada periode ini,Rasullah lah yang menjadi rujukan fatwa umat islam.Hukum-hukum fiqih saat itu terdiri dari hukum Allah dan Rasul-Nya dengan acuan Al-Qur’an dan as-sunnah.
Jadi tidak mungkin terjadi selisih pendapat saat itu.Karena memang hanya ada satu pemegang otoritas hukum,yaitu Rasulallah saw.
Periode berikutnya (kedua) adalah pada masa sahabat Nabi. Rasulullah sudah tidak ada.
Bagaimanapun, problematika sosial akan terus berkembang dan, tentu, hukum Islam tidak bisa lepas dari hal ini. Pada periode ini banyak persoalan-persoalan agama muncul yang tidak ditemui pada saat Nabi hidup hidup.
Otomatis, para sahabat melakukan ijtihad, memutuskan perkara, memberikan fatwa, menetapkan hukum syari’at, dengan tetap mengacu pada hukum periode pertama. Sehingga produk hukum pada saat itu terdiri dari hukum Allah dan Rasul-Nya, serta fatwa sahabat dan keputusannya yang bersumber dari Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijtihad sahabat. Pada periode ini ini juga belum ada kodifikasi fiqih secara khusus.
Periode ketiga, yaitu periode tabi’in, tabi’ tabi’in, dan para imam mujtahid (abad kedua dan ketiga Hijriyah). Pada periode ini bukan hanya periodisasi yang menjadi faktor perkembangan hukum fiqih semakin kompleks, tetapi juga karena semakin luasnya kekuasaan Islam dan banyaknya pemeluk Islam dari penjuru dunia dengan pluralitas sosio kultur dan geografis.
Tentu, masalah yang dihadapi umat Muslim, terutama para imam mujtahid, lebih serius. Pada akhirnya, semua itu mendorong para imam mujtahid untuk memperluas medan ijtihad dan menetapkan hukum syara’ atas semua peristiwa yurisprudensi Islam serta membuka bahasan dan pandangan baru bagi mereka. Ketetapan hukum pada pada periode sebelumnya tetap menjadi acuan periode ini.
Pada periode ketiga ini, hukum-hukum fiqih terdiri dari hukum Allah dan rasul-Nya, fatwa dan putusan para sahabat, fatwa imam mujtahid dan hasil ijtihad mereka, yang bersumber dari al-Qur’an, hadits, ijtihad para sahabat, dan ijtihad para imam mujtahid. Barulah pada periode ini terjadi kodifikasi hukum Islam yang dipelopori oleh Imam Malik bin Anas (w. 795 M) dalam kitabnya yang berjudul Al- Muwattha atas permintaan Khalifah al-Manshur (w. 775 M) (khalifah kedua Bani Abbasiyah). Kitab ini
6
berisi hadits-hadits dan fatwa para sahabat, tabi’in, serta tabi’ tabi’in yang valid (sahih) menurut Imam Malik. Kitab ini dijadikan landasan hukum fiqih oleh penduduk Hijaz.
Berikutnya, Abu Yusuf (w. 798 M), pengikut mazhab Imam Abu Hanifah (w. 797 M), menyusun beberapa kitab fiqih yang kemudian menjadi rujukan negeri Irak. Disusul oleh Imam Muhammad bin al- Hasan as-Syaibani (w. 189 H), yang juga pengikut mazhab Imam Abu Hanifah, menyusun kitab Zahir ar- Riwayah as-Sittah yang kemudian dikomentari oleh Imam Syamsul A’immah al-Sarkhusy (w. 490 H) dengan kitabnya Al-Mabsuth, yang menjadi rujukan fiqih mazhab Hanafi.
Setelah itu disusul oleh Muhammad bin Idris as-Syafi’ (w. 820 M) atau yang dikenal dengan Imam Syafi’ menulis kitab fiqih yang diberi judul Al-Umm di Mseir. Kitab ini menjadi pijakan dalam fikih mazhabSyafi’i.
BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN
Sumber pembuatan hukum pada masa Nabi adalah wahyu Al-Qur’an, Sunnah Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapannya yang bisa merupakan suatu ilham (intuitif dari Allah)dan bisa merupakan ijtihad Nabi. Posisi Nabi pada waktu itu adalah sebagai pemimpin umat, pemberi keputusan hukum, dan mufti (pemberi fatwa). Sumber penetapan hukum (Fiqh) yang diambil Rasulullah yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah.
Sahabat adalah generasi teladan terdekat dengan kehidupan Rasulullah. Mereka mendapat ajaran langsung dari al-Qur’an dan bimbingan lansung dari Rasulullah. Pada masa ini, Syari’at Islam lah yang menjadi pedoman untuk mengatur kehidupan mereka dan sumber untuk menetapkan hukum berupa al-Qur’an, al-Sunnah dan ijtihad sahabat yang mereka sebut dengan nama al-ra’y.
B.
SaranTerimakasih telah membaca dan memahami makalah kami, jika ada penulisan kata yang kurang tepat dan menyinggung perasaan, kami mohon maaf karena manusia tidak jauh dari kesalahan dan kami menerima kritik terhadap kelompok kami.
8