Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat, rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Penelitian Kearsipan yang bertajuk. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siti Maimunah, S.Ag., M.Hum, selaku dosen Mata Kuliah Penelitian Kearsipan yang memberikan tugas ini sehingga dapat menambah ilmu di program studi ini.
Latar Belakang
Masjid ini sudah puluhan tahun tidak digunakan dan hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan peti mati. Kegiatan utama di masjid ini adalah salat lima waktu, salat Jumat, salat Tarawih, dan salat Idul Fitri. Dalam perkembangannya berbagai kegiatan diselenggarakan di Masjid Sela, yaitu kajian tafsir Al-Quran setiap Selasa pagi setelah Subuh, Kamis Kliwon sore digunakan untuk pengajian Aisyiyah, serta tadarus Al-Quran. Quran setiap malam jumat yaitu jumat pertama dan ketiga setiap bulannya.
Pada artikel kali ini kami akan menjelaskan sejarah Masjid Sela Panembahan dari awal pembangunannya hingga setelah digunakan kembali. Kemudian mengenai salah satu kegiatan yang berlangsung di masjid tersebut, yaitu kajian tafsir Al-Qur'an yang rutin dilakukan setiap hari Selasa setelah Subuh, dan arsitektur bangunan Masjid Sela. Sumber tertulis berupa arsip, sedangkan sumber tidak tertulis merupakan hasil wawancara dengan salah satu pengurus masjid.
Rumusan Masalah
Tujuan
Sejarah Berdirinya Masjid Selo Yogyakarta
Masjid Sela terletak di Desa Panembahan, Kraton Kemantren, Kota Yogyakarta atau sekitar 1,9 km dari titik nol Yogyakarta. Untuk mengetahui lokasi masjid, terdapat tanda bertuliskan "Masjid Sela" Panembahan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I di samping pintu gerbang gang menuju masjid. Konon dahulu kala jika ingin masuk ke Masjid Sela dari keraton harus menuju ke arah selatan dari Plengkung Wijilan.
Kemudian, bangunan keraton sedikit demi sedikit mulai berubah fungsinya menjadi kawasan pemukiman, dan hanya tersisa Masjid Sela. Proses pemanfaatan kembali Masjid Sela diawali dengan surat dari masyarakat ke pihak istana yang intinya meminta izin penggunaan kembali bangunan tersebut. 34; “Istana mengizinkan dengan syarat, keno dakoso nagu ora keno owah-owah (boleh dipakai, tapi tidak boleh diubah bangunannya),” kata Pak Narwi yang merupakan salah satu pengurus Masjid Sela.
Bangunan Masjid Sela masih sama sejak didirikan hingga saat ini, tidak pernah mengalami perubahan, hanya saja diperbarui warnanya agar terlihat lebih segar, dan juga diperluas oleh warga sekitar dengan menambahkan beranda di sisi kanan dan kiri. masjid, sehingga dapat menampung banyak jamaah. Warga sadar bahwa Masjid Sela merupakan bagian sejarah Keraton Yogyakarta yang perlu dilindungi.6.
Perkembangan Kegiatan di Masjid Selo Yogyakarta
Tidak ada yang berani mengubah bangunan tersebut, karena warga sekitar telah bersumpah untuk tetap menjaga masjid sebagai tempat ibadah. Begitu pula di Panembahan, Masjid Selo juga ditutup dan masyarakat setempat diimbau untuk salat di rumah. 8 Mujahidin Nur, “Peran MUI dan Lembaga Fatwa Dunia Dalam Mengatasi Covid-19,” MUI digital, 2021, https://mui.or.id/opini/31115/peran-mui-dan-anggaran-fatwa - dunia-dalam manajemen -covid-19/.
Dalam penelitian ini jika menjelaskan Al-Qur'an dengan metode mulut ke mulut, biasanya setiap pertemuan menjelaskan Al-Qur'an sampai batas 'Ain 9. Seperti yang kita ketahui bersama, Aisyiyah merupakan salah satu organisasi yang otonom. Muhammadiyah yang dipimpin oleh perempuan. Pengajian ini biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan, dimana masyarakat sekitar menunggu waktu berbuka sambil melakukan kajian sebelum berbuka.
Arsitektur Masjid Selo Yogyakarta
Masa pembangunan Taman Sari berdekatan dengan berdirinya Masjid Selo dan HB I saat itu menunjuk seorang arsitek asal Portugis untuk memintanya membuatkan bangunan tersebut. Namun, bangunan tersebut sebenarnya terbuat dari batu bata yang disatukan dengan mortar. 14 Atapnya juga sebagian terbuat dari batu bata, dengan elemen luar atapnya yang menonjolkan adanya cornice, bubungan palsu, dan lampu kilat yang dilengkapi dengan pola, yang disebut.
Sketsa rencana pembangunan masjid di Selo (Sumber: Marcel Bonneff). Sumber: File Pribadi) Dulunya terdapat kolam berbentuk U yang mengelilingi masjid di Selo, namun setelah dipugar oleh masyarakat setempat, kolam tersebut dihilangkan, kecuali sebelum penambahan bangunan di sisi kanan dan kiri masjid. Masjid di Selo memang hanya mampu menampung sekitar 30 jamaah, namun setelah dibangun bangunan, serambi kanan dan kiri baru yang digunakan sebagai tempat salat dan kegiatan lainnya mampu menampung sekitar 150 jamaah. Lantai masjid yang semula terbuat dari lantai padat atau diplester kini telah digantikan oleh keramik.16. Pekarangan, bagian kolam yang diisi dan dijadikan pekarangan, batasnya adalah pagar dari masjid Selo.
Renovasi yang dilakukan tidak hanya terkesan mengubah bentuk utama aslinya, namun renovasi tersebut justru membuat ibadah di Masjid Selo semakin menyenangkan. Hal ini terbukti dengan banyaknya masyarakat lokal yang dapat ditampung di masjid serta meningkatnya aktivitas yang dilakukan di masjid seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kesimpulan
Saran
Melihat sejarah Masjid Selo di Panembahan dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I." Tribun Jogja, 2022. https://jogja.tribunnews.com view-histori-masjid-selo-di-panembahan-dibangun - era-sri-sultan-buwono.Artikel yang dimuat di surat kabar Belanda tentang pembangunan Jamia Selo oleh HB I. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan artikel.Arsip dalam bahasa Indonesia yang benar, sehingga dapat dipahami dan hampir semuanya mematuhi EYD.
Namun dalam arsip tersebut terdapat kata-kata yang tidak sesuai atau tidak baku, yaitu kata “Infaq” yang seharusnya menjadi “Infaq” dan kata “Salat” yang seharusnya menjadi “Salat” menurut KBBI. Spanduk yang tercetak menyatakan Masjid Selo tidak menyelenggarakan Buka Puasa dan Idul Fitri sesuai dengan voucher pembagian sembako dan hasil wawancara dengan takmir Masjid Selo. Namun dalam arsip tersebut terdapat kata-kata yang tidak sesuai atau tidak baku, yaitu kata “Infaq” yang menurut KBBI seharusnya “Infaq”.
Buku iuran dan infaq masjid Selo sesuai dengan hasil wawancara dengan takmir masjid Selo bahwa sumber dana utama masjid Selo adalah infaq. Piagam penghargaan atas peran serta dan pengabdiannya dalam pelestarian cagar budaya ini selaras dengan Masjid Selo yang merupakan masjid kuno peninggalan Keraton Yogyakarta yang terletak di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta. Arsip menggunakan bahasa Indonesia yang baik sesuai dengan aturan EYD dan tanda baca yang digunakan baik.
Kwitansi pembelian tangga besi pada tanggal 7 April 2020 ini logis karena sesuai dengan pernyataan salah satu pengurus masjid bahwa jika pembelian tangga besi itu benar, faktanya di Selo ada tangga besi. Masjid . . Berdasarkan langkah-langkah yang terdapat dalam kritik eksternal dan internal, arsip di atas dinyatakan asli dan kredibel, sehingga sangat mungkin dapat digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Arsipnya tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik sesuai aturan EYD, namun tanda baca yang digunakan baik.
Dokumen yang menyatakan salat Idul Fitri dilaksanakan di Masjid Selo pada 13 Mei 2021 masuk akal karena sesuai dengan fatwa MUI tentang pelaksanaan salat Idul Fitri dan wawancara dengan takmir masjid. Arsip tersebut memperlihatkan bentuk fisik kertas jadwal khatib shalat Jumat di Masjid Sela Panembahan tahun 2019. Arsip tersebut berisi jadwal khatib shalat Jumat di Masjid Selo Yogyakarta tahun 2021.
Arsip tersebut menunjukkan bentuk fisik raport kartu pendidikan al-Quran bagi santri di Masjid Sela Panembahan tahun 2022. Arsip tersebut berisi raport pendidikan al-Quran setiap santri di Masjid Selo Yogyakarta tahun 2022. e) Kesimpulan. Berdasarkan langkah-langkah yang terdapat dalam kritik eksternal dan internal, arsip di atas dinyatakan asli dan otentik, sehingga sangat memungkinkan untuk digunakan dalam penulisan karya ilmiah.
Arsip ini merupakan stiker Sertifikasi Arah Kiblat Masjid Selo yang dibuat oleh Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kota Yogyakarta.