MAKALAH
SEJARAH MASUKNYA MUHAMMADIYAH DI KABUPATEN DONGGALA/PALU SULAWESI TENGAH
Dosen pengampuh :
DI SUSUN OLEH Rita Tamrin
C01423123
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatdan karunia-Nya dantidak lupa shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi MuhammadSAW. Sehingga penulisdapat menyelesaikan makalah ini
Walaupun makalah ini masih banyak terdapat banyak kekurangan, kami sangat mengharapkan kepada para pembaca untuk menyampaikan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kebaikan dan kesempurnaan makalah selanjutnya.Semoga makalah ini dapat selalu bermanfaat bagi pembaca dan atas kekurangan dalammakalah ini kami mohon maaf. Terakhir tidak lupa kami mengucapkan terima kasih
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...3
C. Tujuan... 3
BAB II ... 4
PEMBAHASAN...4
A. Sejarah Muhammadiyah...4
B. Sejarah masuknya Muhammadiyah ke Sulawesi tengah...4
C. Sejarah masuknya Muhammadiyah ke Kab. Donggala/Palu...8
BAB III... 13
PENUTUP... 13
A. Kesimpulan... 13
B. Saran...13
DAFTAR PUSTAKA...14
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Muhammadiyah adalah salah satu gerakan pembaharuan Islam di Indonesia yang dimulai pada permulaan abad ke 20. Dimana pada saat itu, adalah masa di Timur Tengah mengalami perubahanperubahan yang dibawakan seperti para tokoh: Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaludin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho. .(Fitriana, 2014)
Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 dengan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. K.H. Ahmad Dahlan merupakan salah satu dari 12 ketib (Khatib, penyampai khotbah Jum’at) di Masjid Agung Yogyakarta, menerima gaji yang kecil, gulden per bulan dari kas sultan. Dia tinggal di Kampung Kauman Yogyakarta, memberi pelajaran agama dirumahnya sendiri dan terlibat dalam perdagangan batik, selainmenjalankan tugas-tugas resminya di Masjid Agung Yogyakarta. Dia melakukan perjalanan jauh di Jawa untuk tujuan keagamaan dan komersial. Pendidikannya hanya dalam bidang Agana, yang dierolehnya dari ayahnya sendiri, K.H. Abubakar yang juga seorang ketib, dan dari berbagai guru agama(kiai/ulama) disejumlah pondk pesantren di Jawa. Dalam beberapa tahunia dua kali naik haji ke Mekkah.(Agus Miswanto, 2012)
K.H. Ahmad Dahlan bukanlah seorang sarjana ataupun penulis. Dia tidak meninggalkan buku maupun artikel. Namun, jelas sekali bahwa ia adalah seorang pendidik dan organisator par excellent. Menurut seorang penulis biografi Dahlan, ia adalah “manusia amaliah alih-alih manusia ilmiah”. Pelajaran agama, yang ia berikan di rumahnya, menarik minat sejumlah anak muda Kauman. Ketika Budi Utomo (BU), organisasi priayi muda berorientasi nasionalis didirikan pada 1908, ia bergabung ke dalamnya bersama sejumlah murid dan rekan sejawatnya. Dahlan dengan segera terpilih menjabat di dewan pimpinannya sebagai komisioner dan penasihat keagamaan. Ia juga bergabung dengan Syariat Islam (SI), sebuah organisasi masa politik yang bsecara luas berlandaskan Islam, dari masa
pendiriannya di Surakarta pada 1911. Sedang pada 1914, ia juga mendapat posisi sebagai penasihat keagamaan bagi organisasi teersebut (Agus Miswanto, 2012)
K.H. Ahmad Dahlan dalam mendirikan organisasi Muhammadiyah mempunyai maksud dan tujuan yang mulia dimana tertera dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal satu disebutkan : Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar Berasaskan Islam dan Bersumber pada AlQur’an dan Hadits. Sudah jelas bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang sudah pasti menjunjung dan menegakkan Islam di Indonesia dengan pemikiran pembaharuanya dan modernisasinya yang bertujuan jelas tercantum dalam anggaran dasarnya yang berbunyi : menegakkan dan menjujung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. . (Fitriana, 2014)
Secara umum faktor pendorong kelahiran Muhammadiyah bermula dari beberapa kegelisahan dan keprihatinan socialreligius, dan moral. Kegelisahan social ini terjadi disebabkan oleh suasana kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan umat. Kegelisahan religius muncul karena melihat praktik keagamaan yang mekanistik tanpa terlihat kaitannya dengan perilaku social dan positif disamping sarat dengan takhayul, bid’ah dan khurafat.Kegelisahan moral disebabkan oleh kaburnya batas antara baik dan buruk, pantas dan tidak pantas.
Sebagai organisasi pembaru, Muhammadiyah memiliki karakteristik yang khas yakni pola pembaruan yang dilakukan melalui penataan organisasi yang rapi dan terencana. Pokok-pokok pemikiran Muhammadiyah diaplikasikan dalam kehidupan amal usaha, baik pada bidang garap keagamaan, pendidikan, maupun kemasyarakatan. Usaha-usaha Muhammadiyah yang menonjol sejak awal kehadirannya di bumi Nusantara ini adalah kegiatan-kegiatan dakwah yang langsung menyentuh kepentingan nyata masyarakat, yang terdiri atas kegiatan pendidikan, social, ekonomi, dan kesehatan. Jumlah amal usaha Muhammadiyah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pertambahan amalusaha yang secara
kuantitatif ini di imbangi oleh usaha-usaha peningkatan kualitatif agar mampu berkembang secara lebih baik di masa mendatang.
Dalam keberhasilannya di atas tidak kalah penting dari peran sebuah Cabang dan Ranting. Maka perjuangan semacam ini menarik untuk dibahas dalam penelitian kali ini. Karena keberadaan Muhammadiyah di Indonesia tidak lepas dengan perkembangannya hingga sampai kepelosok Nusantara termasuk di Kabupaten Buol Sulawesi tengah.(Fitriana, 2014).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah masuknya organisasi islam Muhammadiyah ke Sulawesi tengah?
2. Bagaiaman sejarah masuknya organisasi islam Muhammadiyah ke kabupaten Buol.
C. Tujuan
1. Mengetahui sejarah masuknya organisasi islam Muhammadiyah ke Sulawesi tangah
2. Mengetahui sejarah masuknya organisasi islam Muhammadiyah ke kabupaten Buol
BAB II PEMBAHASAN A. Sejara Muhammadiyah
Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 dengan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. K.H. Ahmad Dahlan merupakan salah satu dari 12 ketib (Khatib, penyampai khotbah Jum’at) di Masjid Agung Yogyakarta, menerima gaji yang kecil, gulden per bulan dari kas sultan. Dia tinggal di Kampung Kauman Yogyakarta, memberi pelajaran agama dirumahnya sendiri dan terlibat dalam perdagangan batik, selainmenjalankan tugas-tugas resminya di Masjid Agung Yogyakarta. Dia melakukan perjalanan jauh di Jawa untuk tujuan keagamaan dan komersial. Pendidikannya hanya dalam bidang Agana, yang dierolehnya dari ayahnya sendiri, K.H. Abubakar yang juga seorang ketib, dan dari berbagai guru agama(kiai/ulama) disejumlah pondk pesantren di Jawa. Dalam beberapa tahunia dua kali naik haji ke Mekkah.(Agus Miswanto, 2012).
K.H. Ahmad Dahlan dalam mendirikan organisasi Muhammadiyah mempunyai maksud dan tujuan yang mulia dimana tertera dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal satu disebutkan : Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar Berasaskan Islam dan Bersumber pada AlQur’an dan Hadits. Sudah jelas bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang sudah pasti menjunjung dan menegakkan Islam di Indonesia dengan pemikiran pembaharuanya dan modernisasinya yang bertujuan jelas tercantum dalam anggaran dasarnya yang berbunyi : menegakkan dan menjujung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. . (Fitriana, 2014)
B. Sejarah Masuknya Muhammadiyah ke Sulawesi Tengah.
Masuknya Muhammadiyah di Sulawesi Tengah, dibawa oleh seorang tokoh besar nasional, Buya Hamka mantan ketua PP Muhammadiyah seorang ulama besar asal Padang Sumatera Barat. Buya Hamka adalah seorang ulama,
politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. Hamka adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah.
Mungkin tidak banyak tahu, jika masuknya Muhammadiyah di Sulawesi Tengah, dibawa oleh seorang tokoh besar nasional, Buya Hamka mantan ketua PP Muhammadiyah seorang ulama besar asal Padang Sumatera Barat. Buya Hamka adalah seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. Hamka adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Dialah yang memperkenalkan dakwah Muhammadiyah tepatnya pada 1930 silam. Menurut Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah Syamsudin Hi Halid, saat itu, Buya Hamka masih menjadi koordinator Muhammadiyah wilayah Indonesia Timur.
Di Sulawesi Tengah, daerah yang menjadi basis gerakan dakwah adalah Desa Wani – Kabupaten Donggala yang masuk dari arah Gorontalo. Kala itu para mubalig dari Jokya menyelenggarakan pendidikan sebagai media dakwah.
Menjelang tahun 1960-an datang gelombang warga Minang yang di tanah kelahirannya telah menjadi pengikut Muhammadiyah. Salah satu dari warga Minang itu bahkan menjadi kepala kantor Urusan Agama di Kabupaten Donggala.
Kemudian ada juga tokoh dari Provinsi tetangga Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Bugis) yang membawa Muhammadiyah ke Sulawesi Tengah. Dalam perkembangannya, gerakan yang dikenal dengan pemberantasan tahyul, bid’ah dan khurafat pada tahun 70-an seolah mendapat angin segar, walau resistensi dari internal umat Islam sendiri cukup terasa. Mereka yang datang dari Gorontalo dan Sulsel berhasil membuat wajah Muhammadiyah lebih familiar terhadap warga.
Perlahan dan pasti, gerakan ini akhirnya bisa diterima oleh warga.
Kemudian ada juga tokoh dari Provinsi tetangga Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Bugis) yang membawa Muhammadiyah ke Sulawesi Tengah. Dalam perkembangannya, gerakan yang dikenal dengan pemberantasan tahyul, bid’ah
dan khurafat pada tahun 70-an seolah mendapat angin segar, walau resistensi dari internal umat Islam sendiri cukup terasa. Mereka yang datang dari Gorontalo dan Sulsel berhasil membuat wajah Muhammadiyah lebih familiar terhadap warga.
Perlahan dan pasti, gerakan ini akhirnya bisa diterima oleh warga. Syamsudin Halid mengatakan, metode penyebaran gerakan yang dikenal dengan pembaharuannya ini ada dua macam. Ada yang sembari berdagang namun ada pula yang datang khusus untuk menyampaikan misi Muhammadiyah di bidang pembaharuan.
Harus diakui katanya, pada saat itu tantangan Muhammadiyah memang cukup berat. Dakwah yang disampaikan selalu dihalang-halangi, karena misi yang dibawa dianggap menggusur tradisi dan kepercayaan yang sebelumnya telah melembaga di dalam masyarakat. Salah satunya adalah perlawanan terhadap pelaksanaan salat Id di lapangan terbuka.
Saat itu warga masih salat Id di masjid. ‘’Ketika Muhammadiyah menawarkan salat di lapangan, semua protes. Kita bahkan dikawal sama aparat karena menjaga jangan sampai ada warga dari luar yang masuk memprotes. Seru juga saat itu,’’ ujarnya mengenang. Namun lama kelamaan karena dakwah yang disampaikan Muhammadiyah karena selalu dilandasi dalil-dalil yang kuat, semua orang akhirnya bisa menerima untuk salat Id di lapangan. Salah satu kunci keberhasilan dakwah saat itu adalah dakwah dari rumah ke rumah.
Secara fisik kemajuan amal usaha Muhamadiyah cukup menggembirakan.
Saat ini pesantren, perguruan tinggi dan sekolah-sekolah Muhammadiyah sudah bertebaran di berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Masih menurut Syamsudin Halid momentum 100 tahun kehadiran Muhammadiyah di Indonesia, bisa dilakukan untuk mengintropeksi dirinya sejauhmana perannya dalam menggemleng akidah umat. Ini sesuai dengan tujuan utama Muhammadiyah yakni mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah harus terus dilakukan.
18 November 1912, Muhammadiyah lahir di panggung dakwah tanah air.
Hadir sebelum bayi Indonesia lahir, membuat gerakan ini menjadi pemain penting dalam mengawal dan membentuk moral bangsa. Gerakan Islam modernis yang didirikan KH Ahmad Dahlan alias Muhammad Darwis di kota santri di Kauman Yogyakarta ini, akhirnya merambah juga ke Sulawesi Tengah. Tak butuh waktu lama bagi Muhamadiyah yang dibesut di Kauman Yogyakarta itu hadir di panggung dakwah di Sulawesi Tengah. Delapan belas tahun kemudian atau tahun 1930, gerakan ini pun masuk di Sulawesi Tengah.
Mungkin tidak banyak yang tahu. Jika masuknya Muhammadiyah di Bumi Tadulako dibawa oleh seorang tokoh besar nasional, Buya Hamka mantan Ketua PP Muhammadiyah seorang ulama besar asal Padang – Sumatera Barat. Buya Hamka adalah seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. Hamka adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981.
Dialah yang memperkenalkan dakwah Muhammadiyah tepatnya pada 1930 silam. Menurut mantan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah Syamsudin Hi Halid, saat itu, Buya Hamka masih menjadi koordinator Muhammadiyah wilayah Indonesia Timur. Memang belum ada pembagian wilayah secara geografis Indonesia Timur, Indonesia Tengah dan Indonesia Barat.
Bahkan nama Indonesia masih dikenal dengan Hindia Belanda. Namun Hamka dipercaya bertanggungjawab terhadap wilayah yang hari ini dikenal sebagai kawasan Indonesia Timur.
Dalam kapasitasnya itu, Buya Hamka masuk ke Sulawesi Tengah menyampaikan dakwah pembaharuan. Ia mendakwahkan Muhamadiyah, saat cara beragama nyaris di seluruh Indonesia masih kental dengan unsur kepercayaan lokal. Perlahan dan pasti, tokoh masyarakat mulai menerima ajaran pembaharuan yang ditawarkan Muhamadiyah melalui Buya Hamka tersebut. Namun dinamika gerakan Muhamadiyah di Sulawesi Tengah, benar-benar menggeliat menjelang
tahun 1960-an. Ini ditandai dengan datangnya gelombang warga Minang yang di tanah kelahirannya telah menjadi pengikut Muhammadiyah. Bahkan Halid menyebut, salah satu dari warga Minang itu menjadi kepala kantor Urusan Agama di Kabupaten Donggala.
Di Sulawesi Tengah, daerah yang menjadi basis gerakan dakwah Muhamadiyah pada 1960-an adalah Desa Wani – Kabupaten Donggala. Kala itu para mubalig dari Jokya menyelenggarakan pendidikan sebagai media dakwah.
Pada perkembangannya kemudian, ada juga tokoh dari provinsi tetangga Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Bugis) yang membawa Muhammadiyah ke Sulawesi Tengah. Hingga akhirnya, gerakan yang dikenal dengan pemberantasan tahyul, bid’ah dan khurafat pada tahun 70-an semakin mengepakkan sayap dakwahnya. Walau demikian resistensi dari internal umat Islam sendiri cukup terasa. Kedatangan pendakwah Gorontalo dan Sulawesi Selatan menurutnya, berhasil membuat wajah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah lebih familiar . Ini karena, warga Bugis cukup banyak tak hanya di Desa Wani, melainkan di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah. Hal ini makin memudahkan jalannya dakwah. ”Perlahan dan pasti, gerakan ini akhirnya bisa diterima oleh warga,”
urainya.
C. Sejarah Masuknya Muhammadiyah Ke Donggala/Palu
Menurut Apipah bahwa Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam terbesar dan tersebar di wilayah Indonesia yang mana menembus ke seluruh pelosok wilayah Nusantara dan penyebarannya tersebut telah sampai pula di Kabupaten Donggala, khusunya di Kecamatan Banawa. Bahkan juga menembus dunia Islam untuk mendirikan cabang-cabangnya (Apipah, 2016:
33). Masuknya Muhammadiyah pertama kali di Sulawesi, yaitu dipelopori oleh Haji Abdullah. Dia adalah seorang pemuka agama dan terkenal ahli pidato dalam bahasa Bugis yang tiada tandingannya. Dia adalah seorang Ulama tua yang saleh dan keras kemauannya, serta seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab. Beliau amat benci kepada kafir Belanda. Beliau
menginginkan berdirinya satu pemerintahan Islam, satu daulat Islam yang merdeka.
Tahun 1928 Masehi, M. Junus Anis diutus pimpinan pusat Muhammadiyah ke Sulawesi. Kemudian atas permintaan Muhammadiyah daerah itu, khususnya K. H. Abdullah. Berdasarkan permintaan tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1932 mengutus HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amarullah) ke Sulawesi. Setelah Kongres Muhammadiyah ke- 21 tahun 1932 di Makassar (Ujung Pandang), HAMKA bersama keluarganya tinggal di Kota itu untuk mengembangkan Muhammadiyah hingga awal tahun 1932. Semangat Muhammadiyah dan semangat “kaum muda” di Sumatera Barat dikembangkan HAMKA di Makassar (Apipah, 2016: 33).
Menurut seorang Informan yang diwawancarai oleh Apipah bahwa masuknya Muhammadiyah di Donggala oleh salah seorang tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Sumatera Barat, yaitu Abdul Malik Karim Amarullah. HAMKA pada masa itu termasuk salah seorang pengurus pusat Muhammadiyah, sehingga beliau ditugaskan untuk mengembangkan organisasi tersebut di Sulawesi Tengah, khususnya Donggala. Oleh karena itu, HAMKA disebut-sebut sebagai pelatak dasar keberadaan Muhammadiyah di Donggala. Kedatangan HAMKA ke Donggala pada tahun 1932 menggunakan kapal yang mengangkut barang-barang dagangan untuk dijual di Donggala (Apipah, 2016: 33).
Pada bulan Pebruari 1932, Inisiatif M.B. Lacanda (orang Donggala) Putra seorang Kepala Kampung Donggala melakukan rapat untuk mendirikan Sekolah Muhammadiyah. Pendiri Muhammadiyah di Donggala adalah anggota-anggota SI Lama, disinyalir oleh Belanda bahwa anggotanya adalah
“pelaku kerusuhan komunistahun 1926-1927.” Pada bulan Maret 1932, Achmad Marzoeki (Saudara Lacanda) berangkat ke Makassar melakukan
hubungan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah (Haliadi, 2016: 2); (ANRI, nomor 36).
Muhammadiyah Donggala didirikan pada tanggal 4 Juli 1934.
Ketika peresmian organisasi tersebut, Buya Hamka mengundang pemuka- pemuka Muhammadiyah dari Yogyakarta, dan Konsul Muhammadiyah dari Makassar untuk mengahadiri peresmian tersebut. Adapun susunan pengurus pimpinan cabang Muhammadiyah Donggala periode tahun 1934- 1936, periode 1936-1938, periode 1938-1940, periode 1940-1942, dan membawahi tiga ranting, yaitu: M. B. Lacanda, sedangkan Sekretaris dan Bendaharanya tidak diketahui namanya dengan jelas
Selama Menjabat sebagai pipimpinan pertama Muhammadiyah donggala/palu M.B Lacanda memiliki peran penting dalam pembangunan di beberapa bidang seperti :
1. Bidang pendidikan
Madrasah ibtida’iyah Muhammadiyah
Sekolah dasar Muhammadiyah
Sekolah menengah pertama Muhammadiyah
Pondok pesantren Muhammadiyah 2. Bidang Kesehatan
Puskesmas Muhammadiyah
Rumah sakit Muhammadiyah 3. Bidang Keagamaan
Masjid agung Muhammadiyah
Musholla-musholla di sekitar 4. Bidang Sosial
Yayasan social Muhammadiyah
Panti asuhan Muhammadiyah
Badan kesejahtraan social Muhammadiyah (BKS) 5. Lainnya
Cabang Muhammadiyah di kabupaten-kabupaten sekitar
Majelis-majelis Muhammadiyah
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) terjadi kekosongan pengurus, karena pada waktu itu semua organisasi dilarang oleh pemerintah Jepang (Haliadi, 2016:5). Selama dua periode kepengurusan, yaitu periode 1947-1950 dan periode 1950-1953, Pengurus Cabang Muhammadiyah Donggala dipimpin oleh Labujade sebagai Ketua; Lamanongka sebagai Sekretaris; dan Yahya Yasan sebagai Bendahara. Kemudian, selama lima periode kepengurusan, yakni tahun 1953-1955, periode 1955-1957, periode 1957-1959, periode 1959-1961, dan periode 1961-1962 pengusrus cabang dipimpin oleh Lagama Borahima sebagai Ketua, Abdullah Nento sebagai Wakil Ketua; Ahmad Yahya sebagai Sekretaris; bendahara adalah Yahya Yasan, serta Hafid Thalib dan Muhsen Rifai sebagai Anggota. Selama dua periode berikutnya (1964-1966, dan 1966-1968) dipimpin oleh Anwar Jamal (Ketua), AhmadYahya (Wakil Ketua), Safri Lamanongka (Sekretaris), Yahya Yasan (Bendahara), dan Ibrahim Pagessa, H. Umar Thalib, serta M. Tahir Lamakarate sebagai anggota (Syamsuddin H. Chalid, tanpa tahun terbit).
Kemudian periode 1968-1983 (1968-1970, 1970-1972, 1972-1974, 1974- 1976, 1976-1978, 1978-1980, dan 1980-1983), Muhammadiyah Donggala dipimpin oleh Hafid Thalib sebagai Ketua, Sudiarto sebagai Wakil Ketua, Safri Lamanongka sebagai Sekretaris, Saripuddin sebagai Bendahara, Andi Cella Nurdin dan M. Tahir Lamakarateng sebagai anggota. Dalam periode tahun 1983-1987 serta periode 1987-1991, Muhammadiyah Donggala dipimpin oleh Safri Lamanongka sebagai Ketua, Hatta H. Lebo sebagai Wakil Ketua, Sudiarto sebagai Sekretaris, Saripuddin sebagai Bendahara, Andi Cella Nurdin, M Tahir Lamakarateng, dan H. Umar Thalib sebagai Anggota.
Gerakan Muhammadiyah di Donggala umumnya terlihat dari sisi pendidikan yang dimaksudkan untuk mendidik anak-anak pribumi yang
tidak mendapatkan kesempatan bersekolah di sekolah-sekolah pemerintah.Sekolah-sekolah tersebut di atas (sekolah Muhammadiyah) pada waktu itu setiap kali pertemuan membimbing muridnya sangat terbatas jumlahnya, yaitu berkisar antara 30-35 orang yang diasuh oleh seorang guru (Haliadi, 2016: 6). Hal ini disebabkan oleh dua kenyataan, yakni jumlah murid yang belajar (dalam setiap pertemuan) tidak tetap jumlahnya. Artinya, keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendukung sepenuhnya dan adanya konfrontasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kedua, pada masa awal berkembangnya Muhammadiyah telah berkembang pula sekolah bersendikan Islam yang dibangun oleh Perguruan Islam Alkhairaat.
Pada masa pendudukan Jepang, jumlah murid yang sekolah semakin berkurang, yakni hanya berkisar antara 25-30 orang saja, dan diasuh oleh seorangguru. Tempat belajar biasanya dipusatkan pada sebuah masjid dengan jumlah pendidik sebanyak tiga orang. Pada masa ini, organisasi Muhammadiyah hampir saja bubar. Namun pengurus Muhammadiyah Donggala melakukan dua cara dalam melaksanakan pendidikan, yaitu pendidikan dilaksanakan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi (Apipah, 2016: 40-44).
BAB III PENUTUP 3. 1. Kesimpulan
Muhammadiyah, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, merupakan gerakan Islam modernis yang berfokus pada pembaharuan keagamaan, pendidikan, dan sosial. Gerakan ini bertujuan menegakkan ajaran Islam yang murni berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis, serta menghapus takhayul, bid'ah, dan khurafat.
Penyebaran Muhammadiyah ke Sulawesi Tengah dimulai pada 1930 oleh Buya Hamka, seorang ulama besar dari Sumatera Barat. Beliau menggunakan pendekatan pendidikan dan dakwah berbasis rumah ke rumah untuk mengatasi resistensi masyarakat. Dakwah Muhammadiyah di Donggala, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal dan nasional, termasuk M.B. Lacanda, berhasil mendirikan sekolah Muhammadiyah dan memperluas pengaruhnya melalui amal usaha di bidang pendidikan dan sosial.
3. 2. Saran
Penulisan sejarah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah,termasuk di setiap kabupatennya, sebaiknya lebih terperinci untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang dinamika lokal dan kontribusi tokoh-tokoh daerah
DAFTAR PUSTAKA
Syamsuddin H. Chalid, “Sejarah Perkembangan Muhammadiyah di Sulawesi Tengah”. Manuskrip tidak diterbitkan.
Apipah, “Dinamika Muhammadiyah di Donggala 1934-1991”, Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTAD Palu, tidak diterbitkan, 2002
Nurhayati Nainggolan, Sejarah Pendidikan Daerah Sulawesi Tengah, Jakarta:
Depdikbud, 1986/1987
Pengangkatan Guru-Guru Pribumi di Donggala,” Besluit, 29 Jun 1908, dalam: Koleksi Algemeen Secretarie (1892-1941), Kotak: Inlanders Hooden en Politieke Bewegingen, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), nomor:34.
Haliadi dan Syamsuri, Sejarah Islam di Lembah Palu, Yogyakarta: Q Media, 2015. Haliadi, Sejarah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah 1932-1939, disampaikan pada Diskusi Ba’da Subuh oleh Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah, pada tanggal 26 Juni 2016
Ritonga, S., Setiawan, M. A., Syaputra, G., Permadi, A. S., Estimurti, E. S., Harahap, R. R., ... & Siahaan, S. (2024). AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN.
Ardhanari, V. M. L. (2022). Perkembangan Pendidikan Dasar Muhammadiyah di Kudus Tahun 2005-2014..
Mufti, A. (2022). Sejarah dan Perkembangan Muhammadiyah di Kabupaten Boyolali Tahun 1965-1998.
https://jumpa.kemenag.go.id/index.php/jmt/article/view/170